Asiknya Terbang Pake ‘Cashback’ dari Asuransi Keterlambatan


Akhir Februari, gue ada kerjaan hari Minggu di Solo. Berhubung cuma perlu beberapa jam doang di Solo, gue memutuskan untuk nggak nginep. Berangkat naik kereta Sabtu malam, sampe Solo Minggu pagi, kerjaan akan beres sekitar jam 14.00. Karena Seninnya masih harus ngantor, maka untuk pulang mau nggak mau harus naik pesawat. Di sinilah timbul ‘sedikit’ masalah.

Read the full post »

Pijat Urut Saat Keseleo, Kenapa Diketawain Sih?


Buat kalian yang udah baca blog ini sejak awal pasti tau bahwa gue punya 6 keponakan. Dulu sering gue cetitain keajaiban ulah mereka masing-masing, kalo mau baca -baca lagi silakan klik tag keponakan.

Lima belas tahun telah berlalu sejak posting pertama di blog ini terbit, anak-anak gila itu sekarang udah dewasa, dan udah pada ngantor, termasuk Dian (cowok, nama lengkapnya Rahadian).

Read the full post »

Celeb Online Minta Endorse Senilai 1 Miliar, Masuk Akal Gak?


Dua hari lalu rame di Twitter tentang celeb online yang minta sebuah biro wisata untuk mengongkosi dia dan rombongannya (20 orang) jalan2 ke US. Berikut hitungan gue apakah permintaan itu masuk akal secara bisnis atau enggak.

Gue pake hitungan konservatif aja ya, biaya ke US, kalau lagi low season, 2 minggu, dengan sharing kamar hotel 1 kamar berdua, maka minimum per orang akan perlu ongkos 50 juta. Ini belum termasuk makan siang dan malam serta transportasi selama di US ya.

Dengan jumlah rombongan 20 orang, maka biro wisata yang sedianya akan mengongkosi dia harus mengeluarkan duit minimum 1 miliar. Apakah jumlah ini gede?

Tergantung.

Read the full post »

Momen Pengubah Hidup


Kalo lagi nonton film, kadang gue suka skeptis kalo ngelihat adegan seseorang yang hidupnya berubah total hanya karena omongan orang lain. Misalnya, ada atlet yang males latihan, dimotivasi pelatihnya, langsung bangkit semangatnya dan jadi juara. Anak bengal nggak tahu diri, diomelin orang tua, langsung insyaf dan besoknya jadi ketua karang taruna. Preman suka mabuk-mabukan, diceramahin Pak Kiai, langsung sadar dan ujug-ujug jadi pimpinan koperasi.

Ya pokoknya gitu-gitu deh, kebayang kan.

Hari ini, di sebuah sesi ngobrol-ngobrol dengan dua orang teman lama, gue baru sadar: ternyata gue sendiri pernah mengalaminya. Sebuah pesan yang disampaikan secara sangat datar nyaris tanpa ekspresi, telah berhasil mengubah total cara gue memandang, dan menyikapi hidup.

Kita balik ke akhir tahun 1991.

Read the full post »

Pentingnya Keterampilan Ngomong sambil Bermuka Lempeng


komunikasi efektif

Kalau gue boleh mengusulkan sebuah pelatihan wajib untuk seluruh rakyat Indonesia, itu adalah Pelatihan Ngomong Sambil Bermuka Lempeng.

Idih, pelatihan apaan tuh?

Pelatihan Ngomong sambil Bermuka Lempeng (PNSBL) akan mendidik peserta untuk membicarakan masalah yang dirasa mengganggu secara langsung dengan mempertahankan muka lempeng, menjelaskan duduk permasalahan secara jelas dalam intonasi santai, nggak pake nyolot, nggak pake ngegas, nggak pake nyindir, nggak pake drama, dan yang terpenting: nggak pake medsos.

Kenapa ini penting? Berikut beberapa contoh:

Read the full post »

Hikmah Colokan Berkaki Tiga


Weekend kemarin, gue, dengan sangat telatnya, baru pertama kali dalam hidup menginjak negeri Singapura. Semua benda yang kayaknya akan berguna udah gue bawa, kecuali satu, yang baru gue sadari saat temen gue nanya sesaat setelah mendarat, “Bawa converter colokan kaki tiga, kan?”

Read the full post »

Ingin Hidup Seperti Raja? Ini Triknya.


Andaikan gue dapet 5.000 perak tiap kali denger seorang suami curhat bertemakan salah satu topik berikut, mungkin sekarang gue udah jadi juragan kos-kosan:

  • “Istri gue ampun bawelnya, gue cuma dandanin motor dikit aja udah ribut.”
  • “Sejak kawin, jangan harap deh bisa belanja buat hobi, kalo nggak mau tidur di sofa.”
  • “Kalo ada obyekan, harus pinter-pinter ngumpetin duitnya biar majikan (=istri) nggak ikutan minta jatah.”

Sebelum ngerasain sendiri kehidupan perkawinan, curhat-curhat sejenis bikin gue mikir, “kawin = sengsara”. Tapi setelah ngerasain 14 tahun perkawinan, rasanya gue udah lumayan memenuhi syarat untuk bilang bahwa kesengsaraan para suami dalam sebuah perkawinan biasanya terjadi karena salah konsep.

Read the full post »

Abang Gojek yang Bersyukur Keluarganya Batal Makan Enak


Seperti biasa, hari ini gue pulang kantor naik Gojek dan kebetulan dapet Abang Gojek yang doyan ngobrol. Tadinya gue suka males ketemu Abang Gojek tipe ini, tapi berdasarkan beberapa pengalaman empiris gue berkesimpulan lebih baik ketemu Abang Gojek yang doyan ngobrol daripada yang doyan ngebut sambil naik trotoar. Biasanya yang doyan ngobrol bawa motornya lebih pelan karena bawa motor sambil ngobrol menuntut konsentrasi lebih kan.

Topik obrolan berawal dari pembayaran pake Gopay, lalu gue sempet berkomentar, “Sebenernya kalo customer GoFood bayar pake GoPay lebih menguntungkan buat driver karena nggak ada risiko kita jauh2 nganter ternyata orderannya gak dibayar karena customernya cuma iseng kan Pak?”

“Betul Pak, dan saya ngalamin sendiri, order di-cancel pas saya udah bayar di kasir. Mana jumlahnya 200 ribu, lagi. Langsung lemes, saya.”

“Wah, gimana ceritanya kok bisa gitu Pak?”

Read the full post »

Pertemanan Plastik


“…kalo kumpulan temen-temen aku dulu, sukanya operasi plastik.”

Seperti biasa, sore menjelang jam pulang kantor diisi dengan acara ngobrol nggak penting. Topik hari itu adalah tentang kebiasaan unik yang sering dilakukan bareng temen-temen, ketika Ami (bukan nama sebenarnya) melontarkan pernyataan mengejutkan itu. Ami nampak agak salting ketika semua orang mendadak berhenti ngomong dan menatap dia dengan tatapan heran.

“Eh… kenapa? Memangnya temen-temen kalian dulu nggak ada yang suka operasi plastik juga?”

Semua orang menggeleng. Ami nampak kurang nyaman.

“Sebentar… yang dimaksud ‘sukanya operasi plastik’ itu… gimana ya?” tanya gue.

Read the full post »

Hidup Mapan Adalah…


Sofitel Nusa Dua Bali

Definisi gue tentang “hidup mapan” adalah kalo gue bisa melakukan berbagai hal yang gue sukai tanpa harus mikir biayanya berapa.

Nggak usah punya mobil mewah, Jakarta macet.
Nggak usah punya rumah gede, capek ngepelnya.
Nggak usah punya tas mahal, malah jadi sasaran begal.

Hidup mapan adalah: Read the full post »

Obrolan Bisnis Misterius


bisnis_misterius

Mbak2 di meja sebelah lagi nelepon, kayaknya ngobrolin bisnis.
“Kalau saya sarankan, lbh baik ibu ambil tipe 28 aja. Soalnya kalo tipe 31 susah jualnya lagi. Kecuali kalo ibu emang mau piara…”

Gue tertarik denger kata2 ‘piara’. Bisnis apa sih ini?

Read the full post »

Milih Caleg lebih Tepat Pake JariUngu, Begini Caranya


Sumber

“Gue mau golput aja deh. Percuma, calegnya NGGAK ADA YANG BENER.”

Eh, nanti dulu.

Golput memang hak semua orang. Tapi sebelum bisa ngomong “CALEGNYA NGGAK ADA YANG BENER” lu punya tanggung jawab untuk NGECEK kelayakan semua caleg yang bisa dipilih. Kalo setelah lu cek memang nggak ada yang bener, baru lu bisa bilang “CALEGNYA NGGAK ADA YANG BENER”.

Tapi kan jumlah calegnya ada ratusan ribu orang, gimana ngeceknya?
Read the full post »

[Menuju Langsing] Ngakunya Cinta, Tapi Kok… (04)


Selama ini gue selalu merasa, dan mengaku, sebagai pecinta makanan.

Buktinya, kegiatan akhir pekan gue selalu melibatkan acara makan di luar. Kalo jalan-jalan ke luar kota, selalu nyari makanan khas setempat.  Kalo temen-temen gue butuh referensi tempat makan yang enak, pasti nanyanya ke gue.

Sampe belakangan ini gue mulai membandingkan diri dengan para pecinta lain, yang bukan makanan.

Pecinta film, misalnya.

Read the full post »

[Menuju Langsing] Berdamai dengan Makanan (03)


Sumber

Gue, dan mungkin ribuan orang lain yang bobotnya berada di sisi kanan layar timbangan, punya hubungan cinta tapi benci dengan makanan. Kami sangat doyan makan, tapi akibat dari kedoyanan yang teramat sangat itu membuat kami menderita. Pihak yang kami salahkan sebagai biang keladi? Tentu aja makanannya. Pihak yang menghibur kami kalau lagi kesal? Ya makanan juga. Begitu aja terus, terjebak dalam lingkaran setan tiada akhir.

Atau mungkin kalian lebih akrab dengan skenario berikut: makanan terbagi menjadi makanan jahat dan makanan baik. Kalau kita makan makanan yang “jahat” maka kita harus “dihukum” dengan melaparkan diri sesudahnya, atau dengan olah raga sebagai “penebus dosa“. Kalo yang dimakan adalah makanan “baik“, bebas mau makan seberapa banyak pun. Dijadiin cemilan juga boleh.

Sounds familiar?

Lalu gue menemukan video ini:

Selanjutnya…

[Menuju Langsing] Ketika Perut Nggak Lagi Bisa Diandalkan (02)


 

orang makan pasta
sumber

Setelah beberapa hari menjalani intermittent fasting, gue merasakan sebuah keajaiban, suatu mukjizat, yang belum pernah gue rasakan sebelumnya:

Gue cepet kenyang.

Ini kondisi yang aneh dan cukup meresahkan. Soalnya gini:

Selengkapnya…

%d blogger menyukai ini: