Proyek 100 Posting 2021


Semalem gue iseng ngitungin, selama hampir 17 tahun ngeblog, berapa sih posting blog yang udah gue buat?

Total sejak Agustus 2004, ternyata gue udah nulis sekitar 1.000 posting. Kalo dirata-rata selama 17 tahun, maka per tahunnya gue udah nulis sekitar 58 posting, atau lebih dari sekali seminggu.

Lumayan?

Ntar dulu.

Dari jumlah itu, gue cuma sangat produktif di tahun-tahun awal ngeblog, antara 2004 sampe 2007 dengan puncaknya di tahun 2006 gue nulis 147 posting dalam setahun. Artinya gue nyaris nulis 3 posting per minggu! Tapi data beberapa tahun belakangan sangat mengenaskan.

Sejak tahun 2014 gue nulis nggak sampe 20 posting per tahun. Agak lumayan tahun 2017, 18 posting. Memang tahun 2015 gue bikin blog baru yang akan gue pake khusus untuk ngebahas segala jenis tontonan, namanya Nonton Deh! Tapi sampe sekarang blog itu juga baru berisi 27 posting. Paling parah tahun 2020 kemarin, setahun gue cuma nulis 5 posting di blog ini, plus 3 posting di Nonton Deh. Total cuma 8! Film Star Wars aja sampe 9 jilid, masa gue timbang cuma nulis doang, ngaku diri blogger, setahun cuma sanggup bikin 8?

Memang, kualitas sebuah blog nggak dinilai dari berapa banyak tulisan yang ada di dalamnya, tapi gue sendiri yang suka menyebut diri sebagai blogger malu hati juga kalo cuma sanggup bikin 8 posting setahun.

Maka hari ini, mumpung gue baru meluncurkan 1 blog baru lagi khusus untuk ngebahas asuransi, gue mencanangkan target sebelum 31 Desember 2021 jam 23.59 udah posting minimum 100 tulisan yang tersebar di ketiga blog gue. Posting ini akan gue pin di halaman depan blog dan akan gue update berkala setiap kali gue abis bikin posting baru. Punya request tema posting yang ingin kalian baca? Silakan tulis di kolom komentar ya!

Daftar 100 posting di tahun 2021

  1. Persiapan Pensiun? Mendingan PerCEPATan pensiun – Mbot’s HQ
    tentang cita-cita gue bisa pensiun dini dengan berbisnis asuransi
  2. Cakar Monyet – Mbot’s HQ
    tentang merelakan sesuatu yang udah pergi dan nggak akan mungkin kembali seutuhnya
  3. Antara Asuransi dan Tutup Tumbler – Proteksi Terbaik
    tentang realita bahwa risiko, sekalipun nggak pernah kita inginkan terjadi, bisa menimpa kapan aja

Cakar Monyet


Dalam kurun waktu seminggu terakhir, 2 kejadian melintas di sekitar gue.

Kejadian pertama berskala nasional, tentang dua anak muda yang konon putus hubungan secara nggak baik, dan bikin kata ‘ghosting‘ jadi trending topic di Twitter. Kenapa pake konon, karena kita belum (dan mungkin nggak perlu, karena bukan urusan kita) denger cerita lengkap dari kedua belah pihak, jadi apakah beneran terjadi ghosting atau enggak biarin aja hanya mereka yang tau.

Kejadian kedua terjadi dalam lingkup lebih kecil, tentang seorang kenalan yang lagi mencoba memperkarakan perusahaan tempat kerjanya karena, menurut dia, udah merampas hak kerjanya secara tidak sah.

Kedua kejadian ini mengingatkan gue pada sebuah cerita pendek yang judul aslinya “The Monkey’s Paw”, karya W.W. Jacobs yang terbit tahun 1902. Gue baca terjemahannya dalam bentuk sisipan majalah Femina dengan judul “Cakar Monyet”, lupa tahun berapa, yang jelas berhasil bikin gue susah tidur beberapa hari sesudahnya.

Begini ceritanya:

Read the full post »

Persiapan Pensiun? Mendingan PerCEPATan Pensiun…


“Kerajinan amat sih Gung, udah punya kerjaan kantor, istri udah Diamond di Oriflame, kok masih nyoba bisnis lagi. Gaji kurang?”

Ini pertanyaan yang entah berapa kali gue denger saat orang tau bahwa gue, yang udah setua ini, lagi merintis bisnis pribadi.

Dan terus terang gue harus menjawab, IYA. Kurang. Pake banget, malah.

Hah? Seboros itu kehidupan gue?

Read the full post »

Bila Anak Susah Makan


Lagi nunggu di bandara, di sebelah gue ada ibu-ibu nyuapin anaknya. Seperti biasa, anaknya ngeles-ngeles mulu nggak mau disuapin.

Ibunya mencoba membujuk, “Eh ayo makan nasi dulu biar nanti di pesawat tidurnya enak.”

(Sekarang gue tau kenapa bule pada pecicilan di pesawat, rupanya mereka nggak bisa tidur enak karena sebelum naik pesawat nggak makan nasi)

Anaknya masih aja susah disuapin. Akhirnya ibunya ganti jurus, sekarang pake ngancem.

“Eh kalo makannya nggak pinter nanti dimarahin om lho!”

Gue celingukan.

Gue satu-satunya yang masuk kategori om-om di sekitar mereka.

“Ni om, ada anak kecil nggak mau makan ni om!”

Ini satu kebiasaan yang menurut gue membingungkan sekaligus mengkhawatirkan: apabila anak susah makan,ndilaporkan oada om-om terdekat.

Setidaknya ada 2 potensi masalah yang mungkin terjadi ak8bat kebiasaan aneh ini:

Pertama:
Pihak ibu nggak bisa memprediksi apa tindakan yang akan dilakukan si om menindaklanjuti laporan tersebut.

Gimana kalo tau-tau omnya bereaksi, “OH ANAKNYA SUSAH MAKAN YA BU?! BAIK KALAU BEGITU AKAN SAYA PROSES DI POS!”

Mau gitu, Bu? Mau? Heh?

Kedua:
Bayangkan bila kebiasaan ini terbawa sampai dewasa, yaitu apabila susah makan, segera lapor om-om terdekat…

Foto: situasi di ruang tunggu bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali

Kenapa Kalian Sebaiknya Punya Sambilan dengan Gabung Perusahaan Penjualan Langsung Berjenjang, Wahai Orang Kantoran


sumber foto: burst.com

Sebagai orang yang udah lama (banget) jadi pegawai kantoran, mungkin inilah saran terbaik yang bisa gue tawarkan kepada kalian, sesama pegawai kantoran, khususnya yang baru mulai ngantor: bergabunglah menjadi mitra perusahaan penjualan langsung berjenjang, seperti MLM, atau asuransi. Biar nggak pegel ngetiknya gue ringkas jadi PPLB yak.

Alasan utamanya, tentu aja karena kalian perlu tabungan banyak untuk persiapan pensiun. Sekitar 90% pekerja kantoran nggak siap secara finansial untuk pensiun, dan sebenernya hal ini bisa diatasi kalau sejak awal punya sumber pendapatan tambahan selain gaji dari kantor.

Tapi kenapa gue spesifik menyarankan jadi mitra PPLB? Apa bedanya dengan merintis bisnis sendiri?

Ini alasannya:

Read the full post »

Asiknya Terbang Pake ‘Cashback’ dari Asuransi Keterlambatan


Akhir Februari, gue ada kerjaan hari Minggu di Solo. Berhubung cuma perlu beberapa jam doang di Solo, gue memutuskan untuk nggak nginep. Berangkat naik kereta Sabtu malam, sampe Solo Minggu pagi, kerjaan akan beres sekitar jam 14.00. Karena Seninnya masih harus ngantor, maka untuk pulang mau nggak mau harus naik pesawat. Di sinilah timbul ‘sedikit’ masalah.

Read the full post »

Pijat Urut Saat Keseleo, Kenapa Diketawain Sih?


Buat kalian yang udah baca blog ini sejak awal pasti tau bahwa gue punya 6 keponakan. Dulu sering gue cetitain keajaiban ulah mereka masing-masing, kalo mau baca -baca lagi silakan klik tag keponakan.

Lima belas tahun telah berlalu sejak posting pertama di blog ini terbit, anak-anak gila itu sekarang udah dewasa, dan udah pada ngantor, termasuk Dian (cowok, nama lengkapnya Rahadian).

Read the full post »

Celeb Online Minta Endorse Senilai 1 Miliar, Masuk Akal Gak?


Dua hari lalu rame di Twitter tentang celeb online yang minta sebuah biro wisata untuk mengongkosi dia dan rombongannya (20 orang) jalan2 ke US. Berikut hitungan gue apakah permintaan itu masuk akal secara bisnis atau enggak.

Gue pake hitungan konservatif aja ya, biaya ke US, kalau lagi low season, 2 minggu, dengan sharing kamar hotel 1 kamar berdua, maka minimum per orang akan perlu ongkos 50 juta. Ini belum termasuk makan siang dan malam serta transportasi selama di US ya.

Dengan jumlah rombongan 20 orang, maka biro wisata yang sedianya akan mengongkosi dia harus mengeluarkan duit minimum 1 miliar. Apakah jumlah ini gede?

Tergantung.

Read the full post »

Momen Pengubah Hidup


Kalo lagi nonton film, kadang gue suka skeptis kalo ngelihat adegan seseorang yang hidupnya berubah total hanya karena omongan orang lain. Misalnya, ada atlet yang males latihan, dimotivasi pelatihnya, langsung bangkit semangatnya dan jadi juara. Anak bengal nggak tahu diri, diomelin orang tua, langsung insyaf dan besoknya jadi ketua karang taruna. Preman suka mabuk-mabukan, diceramahin Pak Kiai, langsung sadar dan ujug-ujug jadi pimpinan koperasi.

Ya pokoknya gitu-gitu deh, kebayang kan.

Hari ini, di sebuah sesi ngobrol-ngobrol dengan dua orang teman lama, gue baru sadar: ternyata gue sendiri pernah mengalaminya. Sebuah pesan yang disampaikan secara sangat datar nyaris tanpa ekspresi, telah berhasil mengubah total cara gue memandang, dan menyikapi hidup.

Kita balik ke akhir tahun 1991.

Read the full post »

Pentingnya Keterampilan Ngomong sambil Bermuka Lempeng


komunikasi efektif

Kalau gue boleh mengusulkan sebuah pelatihan wajib untuk seluruh rakyat Indonesia, itu adalah Pelatihan Ngomong Sambil Bermuka Lempeng.

Idih, pelatihan apaan tuh?

Pelatihan Ngomong sambil Bermuka Lempeng (PNSBL) akan mendidik peserta untuk membicarakan masalah yang dirasa mengganggu secara langsung dengan mempertahankan muka lempeng, menjelaskan duduk permasalahan secara jelas dalam intonasi santai, nggak pake nyolot, nggak pake ngegas, nggak pake nyindir, nggak pake drama, dan yang terpenting: nggak pake medsos.

Kenapa ini penting? Berikut beberapa contoh:

Read the full post »

Hikmah Colokan Berkaki Tiga


Weekend kemarin, gue, dengan sangat telatnya, baru pertama kali dalam hidup menginjak negeri Singapura. Semua benda yang kayaknya akan berguna udah gue bawa, kecuali satu, yang baru gue sadari saat temen gue nanya sesaat setelah mendarat, “Bawa converter colokan kaki tiga, kan?”

Read the full post »

Ingin Hidup Seperti Raja? Ini Triknya.


Andaikan gue dapet 5.000 perak tiap kali denger seorang suami curhat bertemakan salah satu topik berikut, mungkin sekarang gue udah jadi juragan kos-kosan:

  • “Istri gue ampun bawelnya, gue cuma dandanin motor dikit aja udah ribut.”
  • “Sejak kawin, jangan harap deh bisa belanja buat hobi, kalo nggak mau tidur di sofa.”
  • “Kalo ada obyekan, harus pinter-pinter ngumpetin duitnya biar majikan (=istri) nggak ikutan minta jatah.”

Sebelum ngerasain sendiri kehidupan perkawinan, curhat-curhat sejenis bikin gue mikir, “kawin = sengsara”. Tapi setelah ngerasain 14 tahun perkawinan, rasanya gue udah lumayan memenuhi syarat untuk bilang bahwa kesengsaraan para suami dalam sebuah perkawinan biasanya terjadi karena salah konsep.

Read the full post »

Abang Gojek yang Bersyukur Keluarganya Batal Makan Enak


Seperti biasa, hari ini gue pulang kantor naik Gojek dan kebetulan dapet Abang Gojek yang doyan ngobrol. Tadinya gue suka males ketemu Abang Gojek tipe ini, tapi berdasarkan beberapa pengalaman empiris gue berkesimpulan lebih baik ketemu Abang Gojek yang doyan ngobrol daripada yang doyan ngebut sambil naik trotoar. Biasanya yang doyan ngobrol bawa motornya lebih pelan karena bawa motor sambil ngobrol menuntut konsentrasi lebih kan.

Topik obrolan berawal dari pembayaran pake Gopay, lalu gue sempet berkomentar, “Sebenernya kalo customer GoFood bayar pake GoPay lebih menguntungkan buat driver karena nggak ada risiko kita jauh2 nganter ternyata orderannya gak dibayar karena customernya cuma iseng kan Pak?”

“Betul Pak, dan saya ngalamin sendiri, order di-cancel pas saya udah bayar di kasir. Mana jumlahnya 200 ribu, lagi. Langsung lemes, saya.”

“Wah, gimana ceritanya kok bisa gitu Pak?”

Read the full post »

Pertemanan Plastik


“…kalo kumpulan temen-temen aku dulu, sukanya operasi plastik.”

Seperti biasa, sore menjelang jam pulang kantor diisi dengan acara ngobrol nggak penting. Topik hari itu adalah tentang kebiasaan unik yang sering dilakukan bareng temen-temen, ketika Ami (bukan nama sebenarnya) melontarkan pernyataan mengejutkan itu. Ami nampak agak salting ketika semua orang mendadak berhenti ngomong dan menatap dia dengan tatapan heran.

“Eh… kenapa? Memangnya temen-temen kalian dulu nggak ada yang suka operasi plastik juga?”

Semua orang menggeleng. Ami nampak kurang nyaman.

“Sebentar… yang dimaksud ‘sukanya operasi plastik’ itu… gimana ya?” tanya gue.

Read the full post »

Hidup Mapan Adalah…


Sofitel Nusa Dua Bali

Definisi gue tentang “hidup mapan” adalah kalo gue bisa melakukan berbagai hal yang gue sukai tanpa harus mikir biayanya berapa.

Nggak usah punya mobil mewah, Jakarta macet.
Nggak usah punya rumah gede, capek ngepelnya.
Nggak usah punya tas mahal, malah jadi sasaran begal.

Hidup mapan adalah: Read the full post »

<span>%d</span> blogger menyukai ini: