Iklan

Saldo Gopay Ilang: Salah Gue? Salah Temen-Temen Gue?


Maling gopay

Di hari Minggu yang damai sentosa ini, sepagian gue cuma di rumah aja berdua Rafi, karena emaknya lagi ada acara Oriflame di Surabaya. Baru mulai beranjak keluar rumah sekitar jam 9 pagi, itu pun jalan kaki ke stasiun trus naik commuter line. Informasi ini penting gue sampaikan di awal sebagai penekanan bahwa beneran sepagian ini gue sama sekali nggak buka-buka aplikasi gojek, apalagi memanfaatkan layanannya.

Makanya gue heran banget saat siangan gue buka gojek, iseng-iseng lihat history, dan menemukan bahwa hari ini gue pergi ke SMPN 223, di mana pun lah itu.

(lebih…)

Iklan

jadi, apa gunanya beli BB resmi?


Sekitar 2 minggu yang lalu BB Gemini 8520 gue ngadat. Tombol powernya nggak berespon kalo dipencet. Efek sampingnya, kalo gue pake nelepon maka gue nggak akan bisa mengakhiri panggilan telepon itu kalo lawan bicaranya nggak nutup duluan. Akibatnya kalo dipake nelepon dan yang dipanggil nggak ngangkat, maka gue harus bengong nunggu dulu sampe muncul nada sibuk karena panggilan gagal.

Selain kerusakan pada tombol power, gue juga merasa tombol huruf H-nya rada keras dibandingkan tombol-tombol lainnya. Maka gue pikir, sekalian aja gue bawa ke tempat service untuk dua keluhan ini.

Karena BB gue ini adalah BB Telkomsel versi resmi yang gue beli pas launching di Grand Indonesia beberapa bulan yang lalu, maka pergilah gue ke Malifax, perusahaan importir sekaligus penyedia jasa service resmi untuk BB-nya Telkomsel. Kebetulan lokasinya di Graha Aktiva Kuningan deket sama kantor gue, tinggal jalan kaki nyampe.

Gue mulai merasakan ada yang aneh pada saat penyerahan unit, khususnya pada klausul mengenai void garansi. Berdasarkan penjelasan petugasnya dan tulisan di bon tanda terimanya, disebutkan bahwa “apabila klaim kerusakan ternyata akibat kelalaian pemilik, maka pengguna wajib membayar biaya USD 50 dan unitnya dikembalikan tanpa diperbaiki.”

Ini aneh banget, karena kalo gue bandingkan dengan persyaratan di service center Sony Ericsson, misalnya, bila kerusakan ternyata akibat kelalaian pemilik, maka pemilik akan dikenai biaya perbaikan dan penggantian spare part seperti biasa. Sedangkan ini, biaya USD 50-nya belum termasuk perbaikan, cuma buat ngecek doang! Kata petugasnya, biaya ini adalah untuk mengirimkan unit gue ke RIM untuk didiagnosa secara lengkap.

Berhubung gue yakin 100% bahwa gue tidak pernah melalaikan BB gue dalam bentuk apapun, rajin dikasih makan setiap hari dan nggak pernah diajak ujan-ujanan, maka gue teken lah perjanjian aneh tersebut.

Gue juga minta dikasih unit pengganti selama unit gue direparasi, dan dengan alasan mereka nggak punya unit Gemini untuk dipinjamkan (katanya importir resmi?) maka baru keesokan harinya gue dipinjemin sebuah BB seri 8320. Btw, handset pinjeman itu ternyata masih berisi data-data orang yang pernah dipinjami sebelum gue, termasuk address book, contact di BBM sampe e-mail push-nya pun masih konek! Untung gue orang baik-baik, kalo enggak gue bisa mengacak-acak kehidupan orang itu dengan sangat leluasa berbekal data yang ada di handheldnya. Pesan moral: buat yang abis dipinjemin BB oleh tukang service, jangan lupa lakukan prosedur wipe handheld untuk menghapus data kalian dari unit itu. Kalo nggak tau caranya bisa baca petunjuknya di sini.

Sampe di titik ini mungkin kalian bisa menebak apa hasil diagnosa seharga USD 50 itu… yak, betul aja, beberapa hari kemudian gue dapet email dari Malifax yang mengabarkan bahwa garansi gue void karena kerusakannya akibat kesalahan gue yaitu “unitnya kena cairan”. Artinya gue harus bayar USD 50 yang kalo dikurs berdasarkan kurs Malifax sama dengan 450 ribu rupiah dan disertai himbauan agar gue segera datang kembali ke kantor mereka untuk mengembalikan unit pinjeman dan mengambil kembali unit gue yang belum diapa-apain itu.

Gue reply e-mail itu dengan bilang, kalo gue hanya akan ambil kembali unit gue bila dua keluhannya (tombol power macet dan tombol H keras) udah diberesin. Dijawab lagi oleh petugasnya bahwa untuk itu mereka bisa “membantu” dengan mengirimkan unit gue kepada rekanan service mereka, tentunya dengan tambahan biaya di luar yang USD 50 tadi. Karena udah tanggung dan gue ingin BB gue cepet beres lagi seperti sedia kala, maka gue setujui penawaran tersebut.

Tadi siang, tibalah saat yang berbahagia bagi gue untuk mengambil kembali si Gemini gue yang abis diopname. Unit pinjeman gue pulangin, Gemini gue terima dan gue tes… OK, tombol power beres. Tapi… kok tombol H-nya masih keras? Selain itu ada kejutan lainnya yaitu semua data gue hilang!

Waktu gue tanyakan kedua keanehan ini kepada petugasnya, maka jawabannya adalah:

  1. Di klausul tanda terima udah tertulis bahwa ada resiko data hilang saat diservis, tapi dia bersedia berbaik hati untuk mencarikan backupnya; ‘barangkali’ sebelum memutuskan untuk mengoprek BB gue dia mendapatkan secercah ilham untuk memback-up datanya.
  2. Dia sama sekali tidak merasakan keanehan apapun pada tombol H, sekalipun di jarak kurang dari 30 cm dari kedua bola matanya telah gue peragakan betapa tombol H itu butuh tenaga yang jauh lebih besar untuk menekannya dibandingkan tombol-tombol lainnya. Biasanya setelah gue demonstrasikan bahwa tombol H-nya keras, petugas akan mengambil unit gue, menekan keras-keras tombol H dan bilang, “kalo buat saya sih nggak papa ya pak…” Ngomong-ngomong, waktu penyerahan unit dulu kebetulan gue juga barengan dengan seorang ibu yang komplen karena BB-nya mengeluarkan suara berdenging saat dipake menelepon. Ibu itu mencoba menelepon, mendapatkan suara denging, lalu mengoper ke mbak petugas agar dia turut mendengarkan dan dijawab oleh mbak petugas dengan, “kalo di saya sih nggak denger suara aneh apapun ya bu…” Hear no evil, see no evil, feel no malfunction button – mungkin itu motto yang harus dihafal oleh setiap calon karyawan Malifax.

Dengan dua jawaban sakti tadi, maka si mbak petugas memberikan pilihan pada gue yang intinya adalah:

  1. kembali meninggalkan unit gue untuk ‘diperiksa ulang’ oleh teknisi, tapi tanpa dapet unit pengganti karena pemberian unit pengganti hanya untuk kerusakan yang dicover garansi sementara garansi gue kan udah void akibat cairan misterius, atau…
  2. bayar USD 50 + Rp 375 ribu dan segera pulang.

Tentunya gue memilih opsi ke dua, karena gue harus segera pulang untuk nulis posting ini.

Jadi, kalo boleh gue simpulkan dari pengalaman gue di atas, maka yang gue dapet dari membeli BB resmi Telkomsel adalah:

  1. Bila unit gue mengalami kerusakan, maka gue berkesempatan mengikuti ‘Russian Roulette’ dengan peluang 50:50 – kalo lo beruntung lo dapet servis gratis, kalo apes bayar USD 50.
  2. Terhindar dari kebiasaan konsumtif. Maksudnya, kalo reparasi BB gak resmi di mal Ambas, misalnya, pulangnya bisa kena goda beli barang-barang lain yang enggak guna. Sementara kantor Malifax kan terletak di gedung perkantoran yang minim godaan konsumtif.
  3. Kalo beruntung bisa dapet kenalan dari hasil ngoprek data pribadi orang yang pernah make unit BB pengganti

Kesimpulannya, kalo mau beli BB, belilah BB yang resmi di Ambas.

[being nice for dummies] #0012: kejutan istimewa dari Planet Sports


Kalo lo mau beli sepatu di toko, dan sepatu yang lo pilih nggak tersedia ukurannya, apa yang biasanya dilakukan penjaga tokonya?

Kalo dia sekedar bilang, “Maaf, ukurannya nggak ada” mungkin lo akan maklum.

Kalo dia bilang “Maaf, ukurannya nggak ada. Berminat dengan model yang ini, barangkali?” lo mungkin akan sedikit terkesan dengan upaya si penjaga toko untuk membantu.

Tapi yang gue dan Ida alami kemarin bener-bener jauh melebihi ekspektasi kami atas pelayanan toko sepatu manapun yang pernah kami kunjungi.

Ceritanya, kemarin gue dan Ida jalan-jalan ke Grand Indonesia, refreshing dikit mumpung dapur kotakkue.com lagi libur. Niat awalnya sih cuma mau cuci mata, tapi akhirnya jadi ngiler waktu liat tulisan “discount” tergantung-gantung di toko Planet Sports. Ida lantas inget pernah ngincer sepatu merk Skechers beberapa waktu yang lalu. Kamipun mampir.

Pilih punya pilih, Ida akhirnya naksir sepasang sepatu tipe casual, dan minta dibawain nomor 37 kepada Mbak Pramuniaga. Si Mbak Pramuniaga yang belakangan kami tau bernama Mbak Dhayu kemudian membawakan – bukan cuma satu – tapi 3 (tiga) kotak sepatu bernomor 37 berlainan model. Maksudnya, biar pembeli bisa lebih leluasa milih sepatu yang dirasa paling cocok. Di sini Ida udah mulai terkesan dengan semangat proaktif Mbak Dhayu.

Dari ketiga model yang disodorkan, Ida memilih sepatu warna krem bermotif bunga-bunga kecil. Tapi… “Lho, mbak, ini kok ada noda di ujungnya, ada yang masih baru nggak?” tanya Ida.

“Wah sayangnya model ini tinggal satu-satunya… Sebentar ya Bu, saya coba bersihin dulu di belakang,” katanya. Abis ngomong gitu dia pergi ke belakang menenteng sepatu pilihan Ida. Beberapa menit kemudian dia balik dengan tampang menyesal, “Bu, saya udah coba bersihin, tapi nodanya nggak mau hilang…maaf ya Bu… Ibu mau model lainnya?”

“Nggak mau, maunya yang itu aja… di toko lain ada nggak?”

“Sebentar ya Bu, saya coba telepon ke toko kami yang lain di Plaza Indonesia ya, siapa tau mereka masih punya stok sepatu ini.” Mbak Dhayu mencoba menelepon, tapi ternyata di cabang sana sepatu itu juga udah nggak tersedia.

“Ibu, mohon maaf sekali… ternyata di cabang lainnya juga nggak ada…” kata Mbak Dhayu.

“Yaaah….”

sepatu

Bisa nemuin nodanya di mana?

“Iya, sayang sekali ya Bu…”

“Tapi… hmmm… ya udah deh kalo gitu, saya beli yang ini aja,” kata Ida.

Mbak Dhayu yang lagi sibuk membereskan kotak-kotak sepatu ternganga kaget. “Hah? Ibu mau? Tapi kan… sepatunya kotor gini, Bu… nggak papa?”

“Nggak papa deh, abis saya maunya yang ini. Lagian nodanya juga nggak terlalu keliatan kok.”

“Mohon maaf sekali ya bu, soalnya ini tinggal satu-satunya…”

“Iya, nggak papa,” kata Ida.

Di titik ini gue udah amat sangat terkesan dengan kesungguhan Mbak Dhayu melayani pembeli. Dia udah berusaha ngebersihin noda, nyariin ke toko lain, dan nampak bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik buat pembeli. Gue bisik-bisik ke Ida, “Luar biasa nih servisnya, oke banget… kasih tip gih…”

Ida juga terkesan banget, tapi dia ngerasa sungkan dan serba salah untuk ngasih tip. “Gimana ngasihnya, ntar diliat temen-temennya malah nggak enak lho..”

“Ya udah ntar abis bayar kita belaga liat-liat sepatu lainnya, nunggu sepi trus kasih tip ke dia… kan bisa.”

Tapi ternyata waktu mau bayar di kasir, kejutan lainnya menanti.

Kasirnya bilang, “Ibu, ini Dhayu merasa bersalah sekali karena sepatu yang ibu beli ada cacatnya, oleh karena itu ibu mendapat discount khusus sebesar sekian persen, yang diambil dari jatah discount karyawan milik Dhayu…”

Jadi rupanya para pegawai toko Planet Sports punya jatah discount khusus untuk karyawan. Setau gue, discount ini hanya bisa digunakan secara terbatas. Wajar aja kalo dibatasi, sebab kalo nggak ntar para pegawainya pada rame-rame jual sepatu di rumahnya masing-masing, kan? Toh dengan fasilitas discount yang sebenarnya terbatas itu, Mbak Dhayu merelakannya untuk digunakan oleh pembeli, yang bukan siapa-siapanya, bukan saudara, bukan temen, hanya karena dia mau memberikan pelayanan terbaik! Dan fakta bahwa ada noda nempel di sepatu itu kan sama sekali bukan kesalahan dia, lho. Orang dia bawa sepatu dari gudang, masih dalam kotak, tau-tau setelah dibuka ada nodanya. Gue dan Ida sampe speechless mendapat pelayanan seperti itu.

“Mbak, nggak usah begitu, istri saya juga nggak keberatan kok dengan noda itu, toh nggak terlalu kelihatan juga. Ntar kalo Mbak sendiri mau beli sepatu di sini gimana dong, jatah discountnya udah kita pake?”

“Nggak papa Pak, soalnya saya nggak enak banget, sepatu yang Ibu beli ada cacatnya…”

Seumur-umur belum pernah gue nemuin tingkat pelayanan setinggi ini di toko sepatu manapun. Yang lebih luar biasa lagi, ini dilakukan atas inisiatif seorang pegawai biasa, bukan supervisor apalagi owner.

Pulang dari toko itu, gue dan Ida nggak bisa berhenti ngomongin soal betapa luar biasanya pelayanan yang diberikan Mbak Dhayu. “Kalo begini urusannya, mending dibuatin kue aja deh, DCC Special! Besok pagi kita ke sini lagi ya suami, anterin kue!”

***

kueTadi pagi, gue, Ida dan Eriq yang seperti biasa selalu ngintil kemanapun kami pergi, dateng lagi ke Grand Indonesia dengan membawa sekotak DCC Special buat Mbak Dhayu. Di toko yang masih sepi pengunjung itu kami bertiga berbaris masuk. Kotak kue di tangan Ida, kamera siap di tangan gue dan Eriq. Kami langsung menemukan Mbak Dhayu lagi bertugas di bagian sepatu wanita.

Ida langsung menyodorkan kue sambil bilang, “Mbak Dhayu, saya sangat terkesan dengan bantuan Mbak Dhayu kemarin… jadi, ini saya bawakan kue untuk Mbak, terima kasih ya Mbak…”

Sekarang giliran Mbak Dhayu yang speechless. “Waduh ibu, nggak papa bu, itu kan barangnya udah reject sekali… saya… juga terkesan sekali ini…dapat kue begini…”

Eriq langsung mulai beraksi menjepretkan kamera, tapi karena umumnya di dalam toko kita nggak bisa seenaknya motret, maka buru-buru gue ajak Mbak Dhayu untuk berfoto bareng di depan toko. Jepret-jepret-jepret… beres, dan sebelum dia sepenuhnya sadar apa yang telah terjadi, kami langsung pamit pulang 🙂

***

Buat para boss di PT.Mitra Adi Perkasa, pemilik jaringan Planet Sports, gue berharap ada apreasiasi lebih buat orang-orang seperti Mbak Dhayu. Dia membuktikan bahwa apapun pekerjaan kita, kalo dikerjakan dengan sepenuh hati dan nggak males berbuat lebih, maka efeknya juga akan sangat
luar biasa. Saat memberikan pelayanan ke Ida, gue yakin Mbak Dhayu nggak akan menyangka perbuatannya akan diketahui oleh ratusan orang lewat tulisan ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi rekan-rekannya di Planet Sports, atau para pekerja di manapun, untuk nggak tanggung-tanggung saat bekerja. Lucunya, saat kita main ‘hitung-hitungan’ di pekerjaan, maka yang kita terima biasanya jauh di bawah hitungan. Tapi sebaliknya, saat kita berhenti berhitung dan rela berbuat lebih, biasanya yang kita dapet malah jauh melebihi harapan!

Semoga Mbak Dhayu makin sukses, dan buat kalian yang berencana beli sepatu dalam waktu dekat, gue rekomendasikan beli di Planet Sports Grand Indonesia dan jangan lupa cari Mbak Dhayu ya!

**posting ini juga gue kirimkan ke beberapa alamat e-mail yang gue temukan di situs PT. Mitra Adi Perkasa. Mudah-mudahan ada respon positif dari para boss di sana untuk Mbak Dhayu.

***Buat yang gemar copy-paste, untuk posting yang satu ini gue merelakan kalian meng-copy-paste sepuasnya, sekalipun nggak disebut sumbernya juga nggak papa.Silakan sebar luaskan cerita ini, gue ikhlasin deh 🙂

Epilog:

Setahun kemudian, Ida berkunjung lagi ke toko sepatu itu, sekedar ingin tahu gimana kabar Mbak Dhayu. Ternyata yang terjadi kemudian sangat mengejutkan! Baca lengkapnya di posting Ida yang ini.

RS Stella Maris, Makassar


W

aktu pertama kali dikabarin Ibu sakit di Makassar dan dirawat di RS setempat, pertanyaan pertama gue adalah, “Butuh berapa lama sebelum kondisi ibu cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?”

Pikiran gue: rumah sakit di seberang pulau, pasti serba terbatas dan asal-asalan. Daripada ngambil resiko yang nggak perlu, kan mending ibu dirawat di RS di Jakarta yang lebih ‘genah’. Keraguan gue makin menebal waktu ngeliat sendiri fisik bangunan rumah sakitnya. Bangunan kuno bekas peninggalan jaman belanda dengan pilar-pilar gede plus patung raksasa ala gothic – ini RS pasti penuh demit.

Patung gothic di depan RS

Eh taunya…never, ever judge a hospital from its statue.

Poin positif pertama buat kekompakan tim dokternya.
Berhubung ibu gue punya diabetes, tentunya dokter yang menangani adalah seorang internis. Setelah memeriksa ibu, dokter membuat dugaan penyebab penyakit ibu. Dugaan pak dokter ada infeksi di sendi tangan dan kaki ibu, menyebabkan demam dan sakit pada seluruh persendian. “Tapi untuk pastinya, biar saya konsultasikan dulu dengan rekanan saya yang ahli bedah”
Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue ketemu dokter yang nggak sok tau. Banyak dokter yang bersikap seperti para dewa maha tau. Sekalipun jelas-jelas penyakit pasien berada di luar kompetensinya, masih aja nggak mau ngerujuk ke dokter lain. Sedangkan di sini, tim dokternya kompak dan saling menghargai bidang keahlian masing-masing. Sebelum ngambil tindakan yang kiranya akan berdampak bagi penanganan dokter lainnya, mereka akan saling berkomunikasi dulu.

Poin positif ke dua gue berikan untuk kelengkapan informasinya. Dengan kedatangan gue, berarti si dokter menghadapi 3 anak ibu yang bawel melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar penyakit ibu. Kenapa penyakit ibu seperti akut, tiba-tiba muncul dan memburuk? Apa pemicunya? Kalo memang ada sejak dulu, kenapa baru sekarang muncul? Apa itu radang sendi? Apa itu osteoporosis? Apa hubungannya dengan diabetes ibu? Kenapa bengkak di daerah tertentu sakit bila disentuh, sementara di daerah lainnya enggak? Seluruh pertanyaan itu dijawab oleh dokter dengan sabar. Malah dokternya bersedia berlama-lama menjelaskan istilah-istilah kedokteran dengan bahasa awam, dan ini dilakukan oleh semua dokter yang memeriksa ibu, bukan cuma dokter tertentu aja.

Poin positif ke tiga: para susternya. Yang jadi perhatian gue mulai dari hal sederhana aja: gimana suster merespon pertanyaan dari pasien. Kadang gue atau kakak gue menanyakan sesuatu yang nggak bisa dijawab langsung oleh para suster. Mereka akan bilang, “Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke dokternya” lantas pergi sebentar dan nggak lama kemudian udah balik membawa jawaban. Sedangkan yang gue temukan di sejumlah RS Jakarta, kalo susternya bilang “sebentar ya, nanti saya tanyakan” atau “habis ini akan saya kerjakan” itu artinya dia sebentar lagi mau ganti shift dan udah males ngerjain apa-apa lagi.

Minus pointnya ya terletak pada kondisi gedungnya itu. Sebagai gambaran aja nih, di ruang ronsen ada poster yang memuat posisi-posisi anggota tubuh diperagakan oleh model, yang gue yakin modelnya pasti udah meninggal saking tuanya tuh poster. Mesin ronsennya juga kayaknya buatan jaman sebelum Gestapu, serta kondisi toilet umum (yang ada di luar kamar pasien) mirip TKP kasus pembunuhan bayi. Andaikan tim dokter dan perawat di sana dikasih gedung yang lebih canggih dan modern, gue akan dengan senang hati ngasih 5 bintang untuk RS ini.

Makassar trip hari 1: Mi, Ji, Toh, keluar!


Minggu ini diawali dengan berita kurang menyenangkan dari kakak gue yang tinggal di Makassar: ibu gue masuk RS! Sejak kakak gue pindah ke Makassar, Ibu memang sering mondar-mandir ke sana sebagai variasi kalo lagi bosen di Jakarta. Pas lagi di sana, tau-tau sakit. Masuk RS, lagi. Cukup kaget juga gue dengernya, mengingat selama ini Ibu termasuk manula yang sehat dan nggak bisa diem. Waktu masih di Jakarta, kalo siang-siang iseng nggak ada kerjaan, suka ngajak Lis – asistennya urusan sapu-menyapu – makan gado-gado di Plaza Indonesia. Atau kalo obatnya abis suka pergi sendiri naik taksi ke Pasar Baru. Selain itu ikut pengajian dua kali seminggu di dua tempat yang berbeda.

Memang kadang Ibu suka mengeluh persendiannya sakit dan kaku, tapi dia punya dokter langganan yang punya suntikan manjur. Tiap kali disuntik sama dokter itu, sakitnya hilang. Tapi hanya tahan sekitar sebulan. Makanya Ibu rutin berobat ke dokter itu sebulan sekali.

Denger kabar Ibu sakit, kakak gue yang tinggal di Jakarta langsung berangkat ke Makassar. Ida juga jadi rewel ngajakin segera pergi ke sana.
“Akunya jadi sedih denger Ibu sakit…” kata Ida sambil bercucuran air mata. “Kamu pasti nggak sedih ya?”

Menurut gue, kalo semua orang panik dan sedih saat ada orang sakit, nanti nggak ada yang bisa mikir dengan kepala dingin – urusan malah akan jadi kacau semua. Daripada sedih nggak ada gunanya, mending gue ekstra lembur ngeberesin semua kerjaan kantor biar bisa minta cuti hari Kamis.

Waktu dapet kabar dari kakak gue, pertanyaan pertama gue adalah, “Kapan kondisi Ibu bisa cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?” Senewen gue mikir Ibu sakit di seberang pulau yang mungkin kualitas dokternya masih kurang jelas. Kakak gue jawab belum tau. Pokoknya sekarang Ibu nggak bisa jalan. Boro-boro jalan, kesenggol bantal aja seluruh sendinya sakit-sakit. Selain itu, Ibu juga demam cukup tinggi, sampe 390 C.

Kamis, 11 Mei 2006

Gue dan Ida berangkat ke Makassar naik penerbangan Batavia Air pertama jam 5 pagi. On time, jam 5 teng take-off dan sampe Makassar jam 8 waktu setempat. Langsung dijemput sama Pak Aswadi, supir kantornya ipar gue, dan dibawa ke RS tempat Ibu dirawat. Namanya RS Stella Maris.

Reaksi pertama gue waktu ngeliat bentuknya RS Stella Maris ini adalah: makin nggak sabar ngebawa Ibu pulang ke Jakarta. Gimana enggak, gedungnya gedung tua peninggalan Belanda. Lift cuma dua, itu juga ditempelin pengumuman “khusus untuk pasien dan petugas”. Pantesan waktu demam tinggi Ibu sempet ngeliat ‘makhluk-makhluk ajaib’ berkeliaran di kamarnya. Mungkin para penunggu lama gedung spooky ini kali, pikir gue.

Tapi ternyata belakangan terbukti gue terlalu underestimate RS tua ini. Pelayanan kesehatan di sana OK banget: dokternya ramah dan komunikatif, perawatnya juga helpful banget. Untuk lengkapnya, bisa dibaca di review.

Hari itu Ibu dironsen seluruh persendiannya. Gue ikutan ke kamar ronsen dengan tujuan bantuin para perawat dan petugasnya nggeser-geser badan Ibu supaya pas dengan posisi mesin ronsennya. Di situlah gue semakin menyadari betapa kayanya budaya Indonesia. Nggak usah jauh-jauh mikirin tarian dan nyanyian daerah, yang gue maksud di sini jauh lebih umum dan ‘sehari-hari’, yaitu intonasi.

Korslet komunikasi pertama terjadi waktu petugas ruang ronsen menyambut kedatangan Ibu dengan kalimat mengejutkan: “Ibu ini habis jatuh!”
“Heh? Kapan?” tanya gue kaget. Setahu gue Ibu nggak pake acara jatuh kok.
“Bukan, Ibu ini habis jatuh! Kenapa lututnya bengkak!!”
Gue mikir sebentar. Kayaknya ada yang salah nih. Setelah mikir dulu, baru gue ngeh, bahwa ternyata si mas-mas petugas ronsen itu NANYA, sementara dari intonasi nadanya gue kirain dia NGASIH TAU. Jadi sebenernya dia mau ngomong, “Apakah Ibu ini habis jatuh? Kok lututnya bengkak?” gitu loooh… Huh, dasar guenya yang telmi.

Waktu mau bayar obat di apotek, kakak gue juga mengalami korslet yang sama. Berhubung kakak gue nggak bawa duit tunai di dompetnya, dia nanya apakah di sini bisa pake debit card. Kata petugas apoteknya, “Di sini tidak bisa debit!”
“Kalo credit card bisa nggak?”
“Credit card bisa! Tapi Ibu KELUAR SAJA DULU SANA!”
“Hah, kenapa saya diusir?”
“Sebab kalau pake credit card nanti Ibu ada kena charge 3%, lebih baik Ibu pergi cari ATM saja dulu di luar sana!”
Ternyata maksudnya, “Di sini sih kalo mau pake credit card bisa-bisa aja, tapi kena charge 3%. Kan sayang. Mendingan Ibu ambil cash aja dulu di ATM, ntar balik lagi ke sini.”

Logat dan intonasi ala Makassar ini juga jadi bahan obrolan favorit gue dan kakak-kakak gue dengan para suster.
“Suster, suster, ajarin dong kapan harus pake ‘MI‘, kapan harus pake ‘JI‘,” kata kakak gue. FYI, orang Makassar tuh punya sejumlah kata-kata pelengkap yang sulit dicari terjemahannya, tapi perlu untuk melengkapi kalimat biar ‘afdol’. Jadi fungsinya mirip dengan ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’ -nya logat Jakarta. Kalo nggak salah inilah yang namanya ‘partikel’, ya? Contoh penggunaannya antara lah, “Sudah MI!” atau “Sudah JI!”. Tadinya gue kira penggunaan MI dan JI ini dibedakan tergantung jenis kelamin lawan bicara, tapi ternyata enggak juga.

Kalo udah ditanyain gini, paling para suster itu cuma ketawa-ketawa kegelian, mungkin sambil mikir ‘nih tamu-tamu dari Jawa norak bener sih, liat orang Makassar ngomong aja heran’.

“Itu susah ditentukan, Ibu. Ibu harus ada sering-sering bicara dengan orang Makassar, baru nanti lama-lama Ibu bisa sendiri TOH?” ‘Toh’ ini juga salah satu celetukan favorit mereka, dan dengan kampungnya kakak-kakak gue pada kesenengan membeo-beo, “Iya TOH suster?”

Kadang kami coba-coba niru gaya bicara mereka, seperti “Suster, apa ini sudah ada waktunya untuk suster ambil Ibu saya punya tensi, TOH?”
Yang dijawab “Sudahlah Ibu, saya jadi pusing…”

Malam itu gue cuma ngendon di kamar RS. Selain karena tujuan utama dateng ke sini untuk ngejagain Ibu, juga karena hilang selera jalan-jalan ngeliat matahari terik banget.

Bersambung ke bagian kedua

Respon Ilfeel dari Blue Bird


Semalem, gue dan Ida naik taksi dari rumah ke BEJ dalam rangka mau naik Cititrans menuju Bandung. seperti biasa, taksi yang kami pilih adalah grup Blue Bird, salah satu Pusaka-something gitu deh. Dan oh betapa kami teramat sangat impressed oleh supirnya.

Nggak ada yang berlebihan sebenernya dari perilaku sang supir. Semuanya sebenernya perilaku standar seorang penjual jasa kepada customernya, tapi ironisnya justru perilaku seperti ini yang jarang kami temukan – termasuk dari supir-supir Blue Bird yang konon pilihan itu.

Waktu kami masuk, pak supir menyapa “selamat malam” sambil tersenyum dengan tulus. Bawa mobilnya enak, dalam arti memainkan pedal rem dan gas tidak seperti lagi mengoperasikan mesin jahit. Saat memasuki Jalan Sudirman dan lalu lintas super macet tidak menggerutu. Waktu Ida bilang, “Waduh pak, kita harus sampe sana jam 8, bisa keuber nggak ya kira-kira?” pak supir menjawab masih dengan tersenyum dengan intonasi yang terkendali “Insya Allah ibu, saya akan usahakan”. Sesampai di tujuan, pak supir memilih tempat berhenti yang sedekat mungkin dengan pintu masuk. Saat kami turun, pak supir berulang kali mengingatkan agar jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Saat melihat kami bergegas turun karena nggak ingin membuat dia berhenti dalam posisi nanggung terlalu lama, pak supir justru menenangkan, “Pelan-pelan saja bapak, ibu, mohon diperiksa kembali bawaannya.”

Very – very – very impressive.

Saking impressednya, gue langsung mencatat nomor body dan nama supirnya, yaitu SE 1465 dengan Bapak Adamo Chairy. Terus gue pikir, perilaku seperti ini harus dihargai. Jangan cuma kalo brengsek kita komplen, tapi pelayanan yang bagus juga berhak dapet pengakuan. Maka gue menghubungi customer service Blue Bird 7971245.

“Blue Bird selamat malam”
“Malam mbak… begini, saya mau melaporkan, saya ini baru naik taksi blue bird nomor se 1465 dengan supir bapak Adamo Chairy…”
“ya…” si mbak terdengar pasrah menyiapkan diri mendengar komplen berapi-api – tapi kecele denger omongan gue selanjutnya.
“Saya mau bilang, saya terkesan sekali dengan supirnya, sangat sopan, pelayanannya sangat memuaskan. Mohon dicatat mbak!”
“Baik pak… nomornya se 1465, supirnya Adamo Chairy ya?”
“Betul mbak”
Dan you know what…. respon si mbak customer service berikutnya bener-bener bikin ilfeel:

“Tapi Pak… ini nggak ada hadiahnya lho…”
=heh?=

 

Siyal bener, jadi dia kira gue nelepon muji-muji service blue bird mengharapkan hadiah, gitu? Gile bener. Asliiii… bikin ilfeel. Emang sih mbak, sampe hari ini gue masih Melayu tulen, tapi otak gue nggak se-Melayu itu amat kok, jangan kuatir. Maka berikutnya gue bilang sama dia, dengan antusiasme yang udah berkurang 95%
“Oh saya nggak minta hadiah kok mbak. Cuma saya pikir pelayanan sebagus ini perlu dicatat biar bisa jadi teladan bagi supir blue bird lainnya. terima kasih. selamat malam.”
Damn.



Update:

Sesuai saran dari reply para pengunjung di bawah ini, maka gue mengirimkan e-mail ke manajemen BB dengan alamat businessdev@bluebirdgroup.com. E-mail yang gue kirimkan berbunyi:

From: Agung Nugroho
Sent: Monday, February 27, 2006 10:10 PM
To: Noni Purnomo
Subject: taksi bluebird group nomor se 1465

DH,

saya hendak menyampaikan pengalaman saya menumpang taksi blue bird nomor pintu se 1465 dengan pengemudi bp. adamo chairy. saya naik tanggal 24 feb 06 sekitar jam 7 malam dari menteng menuju BEJ. kesan-kesan saya, beliau menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan memuaskan. mohon sampaikan salam dan penghargaan saya kepada beliau. sikap beliau sangat positif untuk dicontoh para pengemudi blue bird lainnya. pengalaman saya juga saya tulis di weblog saya dengan link http://mbot.multiply.com/journal/item/199

terima kasih sebelumnya

 

Gue sengaja cuma mencantumkan link tanpa menyebut-nyebut soal respon dari si mbak CS, kepingin tau apakah orang yang menerima e-mail gue merasa perlu untuk mengklik link-nya atau sekedar ngirim reply basa-basi asal. Ternyata reply yang gue terima adalah sbb:

From: Bayu Kristiadi
To: si.mbot
Date: Mar 1, 2006 6:11 PM
Subject: RE: Taksi Blue Bird Group nomor SE 1465

Yth. Bapak Agung Nugroho,

Pertama-tama kami atas nama manajemen Blue Bird Group memohon maaf atas komentar yang kurang santun dari petugas customer service kami, masalah ini menjadi perhatian khusus bagi departemen kami untuk diperbaiki, sehingga kedepannya tidak terulang lagi.

Informasi pujian untuk pengemudi SE 1465 Bapak Adamo Chairy telah kami terima, kami merasa bersyukur dan bangga memiliki pengemudi seperti Bapak Adamo Chairy ini. Secara otomatis e-mail compliment ini akan menjadi kredit point positif bagi beliau untuk menuju ke jenjang pengemudi teladan Blue Bird Group. Selain itu informasi pujian ini juga akan kami sampaikan kepada khalayak pengemudi kami lainnya agar menjadi contoh untuk diteladani.

Bapak Agung, sekali lagi kami memohon maaf atas masalah yang telah terjadi, dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian serta masukan yang telah diberikan.

Hormat kami,

Bayu Kristiadi
Customer Service Manager
Blue Birg Group

 

Artinya si penerima e-mail udah baca posting ini. Maka gue pun mengirimkan balasan:

From: Agung Nugroho
To: Bayu Kristiadi
Date: Mar 1, 2006 11:34 PM
Subject: Re: Taksi Blue Bird Group nomor SE 1465

Yth. Bapak Bayu K,

Terima kasih atas reponnya. Saya menganggap masalah yang terjadi hanyalah kesilapan individual saja yang kini sudah terselesaikan.

Semoga Blue Bird mampu untuk terus mempertahankan kualitas pelayanan terbaik, seperti yang telah diberikan oleh Bp. Adamo Chairy.

Salam,
Agung

 

Kesimpulannya: kirim e-mail lebih baik daripada nelepon CS. Jadi buat kalian yang menemukan pengalaman positif tentang pelayanan Blue Bird, kirim e-mail aja. Paling enggak kita secara nggak langsung telah memberikan reward bagi kemajuan karir pengemudi ybs. Semakin banyak pengemudi yang merasakan dampak positif dari pelayanan yang diberikannya, akan semakin memotivasi pengemudi lainnya untuk memberikan pelayanan yang sama. Pada akhirnya, customer juga yang diuntungkan.

Iklan
  • Komentar Terbaru

    riezal bintan pada job value: solusi keadilan unt…
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    Nita Prihartini pada Momen Pengubah Hidup
    Momen Pengubah Hidup… pada bsmr = belajar sampe mati…
    Crystal House pada siapa yang sering kesetrum sep…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 692 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: