Kalau Kucing Lu Cuek, Mungkin Ini Penyebabnya


Beberapa bulan yang lalu, Rafi (lagi-lagi) nemu seekor kucing liar yang memutuskan untuk bersarang di rumah gue. Berhubung warna bulunya coklat, maka kucing itu dia kasih nama… *drum rolls*… Choco. Ini dia penampakannya:

Choco si kucing

Sama seperti waktu punya piaraan si belek dulu, Rafi sayang sekali sama si Choco ini. Sampai tibalah saatnya… musim kawin.

(lebih…)

Iklan

Tantangan Manis untuk Rafi


Hari ini, dalam sebuah meeting tentang website intranet, omongan mengarah ke blog.

“Agung memangnya suka ngeblog ya?”

“Oh iya!” jawab gue yakin. “Tapi… udah lama nggak di-update…” sambung gue pelan.

Parah memang, blog ini udah berbulan-bulan nggak di-update. Padahal ngakunya blogger.

Maka dalam rangka Hari Blogger Nasional, gue persembahkan posting baru buat kalian semua, para pembaca blog ini. Kalo masih ada.

Selamat Hari Blogger!

===

Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali sama segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya gue dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis. (lebih…)

Pelajaran Hidup dari Monopoli


monopoli

Sebelum masuk SD, Rafi udah menemukan, dan memutuskan, bahwa hobinya adalah menggambar. Di satu sisi itu bagus, karena banyak orang yang sampe tua bangka juga nggak tahu hobinya apaan. Selain itu, menekuni hobi menggambar nampak jauh lebih jelas manfaatnya ketimbang main Angry Birds. 

Jeleknya, dia lantas menganggap pelajaran sekolah, khususnya aritmatika, nggak penting. 

(lebih…)

Goodybag Gedebug


Sebenernya udah ingin nulis posting yang ini sejak 4 tahun lalu*, tapi ternyata… prokrastinasi kadang mencapai tingkat yang nggak terduga.

 

Waktu itu tahun 2011. Rafi masih TK. Seperti biasa, tugas gue setiap hari Sabtu siang adalah naik sepeda menjemput Rafi di sekolah. Nggak terlalu jauh sih, cuma sekitar 800 meter.

Sesampainya di sekolah Rafi…

“Ayo Bapak, kita ke KFC,” kata Rafi.

“Loh, kok ke KFC? Kita pulang, makan di rumah!”

“Temenku ada yang ulang tahun, Bapak. Ini undangannya.”

Sempet terpikir untuk pulang dulu naro sepeda, baru naik bajaj ke KFC. Tapi.. ah, KFC-nya nggak terlalu jauh kok. Cuma sekitar 1,5 KM dari sekolah. Apa sih susahnya genjot boncengin bocah seberat 26 kilo sejauh itu?

[BELAKANGAN GUE SADARI INI ADALAH SEBUAH KESALAHAN FATAL] (lebih…)

8 Pelajaran dari Si Belek


Buat yang suka ngikutin status FB-nya Ida, pasti tau bahwa Rafi punya kucing yang gue kasih nama Si Belek. Ternyata dari kegiatan sesederhana memelihara kucing, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh Rafi. Berikut 8 di antaranya: (lebih…)

Dongeng Anti Klimaks


ugly duckling

Ilustrasinya milik blogger ini

Semalem Rafi minta didongengin lagi, dan kali ini gue memilih dongeng populer “Anak Itik yang Buruk Rupa” dari HC Andersen.

Gue ceritain lah kisah hidup menyedihkan Si Anak Itik yang di-bully itik-itik lainnya hingga akhirnya dia tumbuh besar dan menjadi seekor angsa.

Dan inilah pertanyaan Rafi: (lebih…)

…dan Iron Man pun Berteman dengan Dudung


Udah nonton Iron Man 3?

Mungkin nggak semua orang suka, tapi pasti semua orang setuju bahwa film itu akan sangat memukau bagi bocah berumur 6 tahun.

Dalam hal ini adalah Rafi.

Setelah bapaknya (dalam hal ini gue) secara sangat salah mengiyakan permintaannya untuk nonton Iron Man 3 sampe 2 kali, Rafi nggak bisa berhenti membahas segala aspek film itu mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi.

(lebih…)

Impossible Conversation


Iseng-iseng nyalain TV, ada film “Due Date” (Robert Downey, Jr. & Zach Galifianakis). Lagi tengah-tengah nonton, muncullah Rafi.

“Bapak! Ini film Iron Man ya?” katanya sambil menunjuk Robert Downey, Jr. yang lagi muncul di layar.

“Bukan. Ini film lain.”

“Tapi itu ada Tony Stark!” katanya keukeuh.

“Jadi begini, ya. Orang itu nama benerannya bukan Tony Stark. Dia itu namanya Robert. Pekerjaannya main film. Kalau dia lagi main film Iron Man, namanya jadi Tony Stark. Tapi di film ini, namanya Peter,” gue mengerahkan kemampuan untuk berusaha menjelaskan.

“Oooo gitu,” kata Rafi sambil manggut-manggut.

Lima menit berlalu dalam kedamaian, sampe akhirnya dia angkat bicara lagi.

“Bapak… tapi si Peter ini mirip sekali ya dengan Tony Stark…”

“Arrgh! Gimana sih Rafi, tadi kan sudah bapak jelaskan! Dia memang yang jadi Tony Stark di film Iron Man, tapi di film ini namanya Peter. Kan filmnya berbeda.”

“Oh, gitu…” jawab Rafi kurang meyakinkan.

Lima menit lagi berlalu, akhirnya dia bangkit dari duduk dan ngeloyor ke kamar sambil bilang, “Bapak benar. Setelah diperhatikan, dia nggak terlalu mirip kok dengan Tony Stark…”

*Bapaknya ngemil boneka Iron Man*

Pentingnya Casting


Kalo abis nonton film bagus, biasanya orang muji bintang filmnya, atau sutradaranya. Jarang banget yang muji castingnya. Padahal casting, alias proses pemilihan pemeran, gede banget perannya untuk membuat sebuah film nampak bagus atau jelek. Minimal, nampak pas atau aneh.

Misalnya aktor berikut ini:

(lebih…)

[2012-006] Tamu Kejutan


Hari ini, salah satu temen kantor gue ulang tahun. Temen-temennya lantas bikin kejutan buat dia, dengan menghadirkan istrinya.

Gue cerita sama Ida.
“Kalo kamu yang ulang tahun, inginnya dihadirkan siapa?” tanya Ida sambil main mata.
“Boleh pilih siapa aja, nih?”
“Iya.”
“Mmm… Farah Quinn?”
Eh, Ida langsung madep tembok. Entah kenapa.

[2012-005] Serba Random


Di tengah malam ini, ujug-ujug ingin ngemil yang ringan – ringan aja. Maka pergilah gue ke depan pasar, tempat mangkalnya abang ketoprak edisi nocturnal (karena spesialis jualan mulai jam 20.00 – 02.00). Ketopraknya dibungkus, gue jalan lagi pulang. Lewat depan tukang rokok. Tukang rokoknya pelihara kelinci, yang entah kenapa malam ini dilepas. Mungkin biar kelincinya nggak suntuk. Kelincinya gede banget, mungkin nyaris segede kambing balita. Eh, tapi kambing mah 4 tahun juga udah bisa beranak ya? Ya nggak segede itu sih, tapi pokoknya gede lah, kelinci itu.

Liat gue lewat, dia mulai membuntuti. Abis itu dia motong langkah gue, dari kiri melintas ke kanan. Gue berhenti. Dia berhenti, ngeliatin gue. Kupingnya goyang-goyang. Gue jalan lagi. Eh dia begitu lagi. Motong dari kiri langsung kanan. Gue ngeri dia keinjek, kan nggak enak sama tukang rokoknya.

 

“Bang, sori kelincinya keinjek.”
“KURANG GEDE GIMANA KELINCI SAYA KOK BISA KEINJEK, PAK!?”

 

Susah jelasinnya.

 

Maka gue berhati-hati jalan. Gue berhenti lagi. Dia berhenti juga. Gue jalan, dia begitu lagi. Gue bingung gimana harus bersikap. Kalo dikejar anjing, orang maklum kalo gue lari. Tapi ini dikejar kelinci. Gue nggak perlu lari, sih. Tapi tuh kelinci ganggu. Dibilang nggak terganggu, jelas gue terganggu. Tapi kayaknya masih kurang kuat alasan untuk terganggu. Karena dia hanya seekor kelinci.

 

Gue jalan makin jauh dari kios rokok itu, si kelinci masih ngikutin. Gue mulai senewen. Takut dituduh nyolong kelinci orang. Gue berhenti, dan ngeliat ke arah kios rokok – berharap majikan si kelinci berbuat sesuatu atas perilaku aneh peliharaannya. Ngomong-ngomong, untuk seorang tukang rokok, kenapa sih dia harus melihara kelinci? Kenapa mesti kelinci? Kenapa nggak kucing yang tiap 5 menit lewat 3 ekor?

 

Nggak lama kemudian, harapan gue terkabul. Tukang rokok itu manggil kelincinya.

 

“Whoi, ssst JOKO! Sini! Hei! Joko! Sini!”

 

Kelincinya ternyata bernama Joko.

 

Sebuah nama yang random untuk seekor kelinci. Se-random pengalaman gue diuber kelinci. Banyak pertanyaan di benak gue. Kenapa nama kelinci itu harus Joko? Kenapa si Joko harus nguber gue? Apakah dia tertarik dengan bau ketoprak yang gue bawa? Sejak kapan kelinci doyan ketoprak?

 

Ah sudahlah. Selamat malam semuanya.

[2012-002] Kejamnya Oknum Pencari Kesempatan dalam Kesempitan


Jadi malam ini BB gue ilang di Plaza Semanggi.

Nyebelin, tapi memang udah waktunya ganti sih: udah 2 kali turun mesin karena kena air, dan udah sangat lemot. Jadi ya biarin lah.
Sampe rumah Ida menyambut dengan sejuta pertanyaan. Setelah semuanya gue jawab, gue bilang, “Hmmm… BB berikutnya apa ya? Torch II bagus kali ya…”
“Mau langsung beli lagi?” tanya Ida.
“Kepinginnya sih.”
“Kenapa nggak pake BBku aja?”
“Hah? BB lama kamu yang trackball-nya udah macet itu?”
“Bukan. Pake aja BB yang ini, yang aku pake sekarang.”
“Lho trus nanti kamu pake apa?” tanya gue yang udah siap-siap terharu atas pengorbanan seorang istri.
“Tentunya akan dibelikan yang baru oleh suami… jadi suami pake yang bekas aku, aku pake yang baru… bagus kan idenya?”
Kejamnya dunia. Saat lagi kesusahan, ada aja oknum mencari kesempatan untuk mendapatkan BB baru.
Nih dia nih oknumnya, berpose dengan BB yang dia tawar-tawarin itu.
ida dan bb

Mau tes mental? Melayatlah bersama seorang bocah 4 tahun


Bepergian bersama bocah 4 tahun ke tempat-tempat yang situasinya nggak dirancang khusus untuk bocah 4 tahun itu seperti bawa balon ke tengah hutan kaktus.

Semalem, gue, Ida dan Rafi lagi ngumpul di rumah ibu gue. Menjelang tengah malam, sebuah kabar duka datang: sepupu gue meninggal karena kanker otak. Daripada menunda sampe besok takutnya malah nggak sempet, kami bertiga memutuskan untuk layat malam itu juga. Cuma masalahnya, kalo harus memulangkan bocah kecil keriting ini dulu, akan buang-buang waktu. Padahal udah lewat tengah malam. Maka apa boleh buat, gue beranikan mengambil segala risiko yang mungkin terjadi dengan mengajaknya ikut melayat.

(lebih…)

siapa bilang kerja di rumah itu enak?


Karena gue adalah seorang pegawai yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan (ehm), gue berencana menghabiskan hari Minggu siang untuk menyelesaikan sebuah tugas mengedit video training. Tapi kayaknya, gue memilih hari yang salah.

Hari ini, Ida harus pergi sesiangan karena ada janji ketemu dengan beberapa calon downline oriflamenya. Sedangkan kedua orang mbak asisten rumah tangga sejak kemarin udah minta ijin untuk pergi jalan-jalan ke bonbin Ragunan. Tinggal gue berdua dengan Rafi si bocah keriting di rumah.

Sebelum mulai gue berpesan kepada Rafi, “Rafi, bapak mau kerja ketik-ketik di komputer. Rafi nonton Playhouse Disney aja ya, mau?”
“Iya bapak,” jawabnya manis.
Lima menit kemudian dia menyatroni gue di kamar kerja.

“Bapak, ini piala apa?”
“Itu piala dari bunda.”
“Kenapa bunda kasih piala ke bapak?”
“Karena bunda sayang sama bapak.”
“Trus, pialanya buat apa?”
“Ya ditaro aja di situ. Udah sana, Rafi nonton Playhouse ya.”

Dia pergi, dan lima menit kemudian datang lagi.
“Bapak, ini piala apa?”

Pikir-pikir, seharusnya perusahaan-perusahaan asuransi atau kartu kredit mempekerjakan bocah-bocah balita untuk jadi tenaga sales. Mereka punya kemampuan luar biasa untuk nanya hal yang sama berulang-ulang, tanpa sedikitpun ada tanda-tanda sungkan atau bosan.

“Rafi, sekarang bapak mau kerja ketik-ketik. Rafi main sendiri ya.”
“Iya bapak. Tapi… Rafi kehausan. Mau minum air putih, bapak.”
“Itu di meja ada air putih.”
“Nggak mau, itu air putihnya udah lama, udah kotor.”
Maka pergilah gue mengambilkan air putih.

Baru lima menit masa tenang berlalu, kembali terdengar langkah kaki-kaki empuk itu mengendap-endap di belakang gue.
“Kenapa lagi, Rafi?”
“Rafi ingin menggambar, bapak. Minta kertas.”
Gue bangun lagi, ngambil kertas.

Baru semenit duduk…
“Bapak, ini piala apa?”

OK, ini video nggak akan mungkin beres kalo bocah ini nggak dibungkam. Playhouse Disney kurang mujarab, maka satu-satunya cara adalah: tidur siang.

“Rafi, gimana kalo sekarang Rafi tidur dulu. Nanti kalo Rafi udah tidur, kita pergi ke rumah eyang. Mau?”
“Mau! Mau! Tapi sekarang Rafi diceritain Bapak dulu?”
“Iya.”
Maka pergilah kami ke kamar. Setelah ritual rutin cuci kaki dan pipis dulu, gue membacakan buku cerita Thomas si kereta. Nggak tanggung-tanggung, 6 buku sekaligus gue bacain. Ada cerita Thomas mengantar ikan, Toby mengantar susu, James mengantar batu bara, dan lain-lain.

Setelah selesai membacakan 6 buku, gue bilang, “Nah, udah diceritain Bapak, sekarang Rafi tidur ya.”
“Mau dipijetin dulu, Bapak.”
Dasar bocah ajaib, kecil-kecil doyan pijet. Sambil tidur-tiduran gue pijetin punggungnya, dan… lama-lama kok ikutan ngantuk ya…

Sial, GUE KETIDURAN! Begitu bangun gue nyari HP untuk ngeliat jam, damn, udah jam setengah 6 sore! Gue noleh ke sebelah, si bocah nampak masih pules tidur. Lega. Masih ada waktu untuk kerja tanpa gangguan. Buru-buru gue berdiri untuk nerusin ngedit video.Tapi, paaas baru mau buka pintu kamar terdengar suara di belakang gue, “Bapak… Rafi udah tidur, sekarang kita pergi ke rumah eyang ya?”

Hmm… siapa bilang kerja di rumah itu enak?

demi anak naik panggung…


Setelah melalui malam yang penuh ketidakpastian (maksudnya nggak pasti akan nyanyi lagu macam apa anak kecil keriting ini – ceritanya bisa dibaca di sini) maka keesokan harinya berangkatlah kami bertiga: gue, Ida dan Rafi ke sekolah.

Memang dasar sekolahan jadul, pengemasan acara pertunjukan ini pun dilakukan secara sangat jadu; Mulai dari tata panggung yang berhiaskan tulisan-tulisan dari kertas perak, deretan sofa di bagian depan buat tempat para VIP, dan… jumlah sambutannya.

Bayangin situasinya deh: ruangan aula yang nggak terlalu besar, tanpa AC, cuma ada 2 kipas angin besar di langit-langit yang imbas anginnya nyaris nggak terasa, diisi ratusan orangtua murid yang antusias ingin ngelihat anaknya tampil di panggung, ada lampu sorot untuk kamera video, trus isi acaranya sambutan, sambutan, sambutan. Mulai dari kepala sekolah, ketua yayasan, ketua POMG, panitia, pimpinan wilayah yayasan… #$%#!!&%!!!

Dah gitu mending kalo pada nyadar, atau minimal berempati pada para hadirin yang udah pada meleleh dibekap hawa sauna, sambutannya panjang-panjang aja gitu. Gue ngebayangin seandainya gue jadi salah satu pejabat teras yang didaulat ngasih sambutan dalam kondisi seperti itu, maka sambutan gue akan berbunyi,

“Bapak dan ibu hadirin sekalian, terima kasih atas kehadirannya. Mari kita saksikan pertunjukan dari anak-anak kita. Sekian.”

Sedangkan ini, ada seorang ibu yang entah ketua apa dengan cerianya memberikan sambutan sebagai berikut:

“…kalau boleh saya kilas balik pada berdirinya sekolah kita di tahun seribu sebilan ratus enampuluh sekian… blablabla… waktu itu kepala sekolahnya adalah… blablabla… dan kebetulan beliau hadir di sini… yak, ibu, silakan brdiri ibu (awas aja lu kalo ikutan ngasih sambutan, batin gue)… blablabla… satu yang tak pernah hilang dari ingatan saya adalah lagu mars sekolah kita, dan saya akan nyanyikan sekarang…”

Trus doi beneran loh, nyanyi tuh lagu mars di podium sambutan, satu lagu utuh, sementara nggak sampe 2 meter di depannya anak-anak yang mau manggung udah mulai memasuki fase chaos akibat bosen dan kepanasan. Rafi sendiri sebenernya tergolong anak yang cukup tabah menjalani kondisi-kondisi yang kurang menyenangkan. Bahkan dia bisa bertahan naik KRL yang penuh sesak tanpa rewel sedikitpun. Tapi rupanya kali ini udah di luar batas toleransinya sehingga akhirnya dia rewel minta minum dan minta keluar.

Udah gitu, entah kenapa pertunjukan dari anak-anak kelompok bermain yang secara materi paling sederhana dan secara waktu paling singkat serta paling nggak penting justru ditaro di urutan paling akhir dari agenda. Di urutan awal diisi oleh anak-anak TK yang udah lebih banyak kebisaannya, ada yang unjuk kebolehan main angklung, main drama dalam bahasa Inggris, sampe demonstrasi sholat berjamaah segala.

Gue juga rada kurang mudeng dengan apa yang terlintas di benak para guru yang menyiapkan pertunjukan sholat berjamaah itu: bukannya dipilihin surat yang pendek-pendek aja biar cepet selesai, ini enggak lho. Trus setelah selesai sholat, anak-anak itu main drama singkat dengan dialog sebagai berikut:
“Teman-teman, rasanya ada yang kurang ya, kalau habis sholat belum berdoa…”
“Iya betul, betul”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita sekarang berdoa bersama, setuju?”
“ENGGAAAAK” <== yang ini jeritan hati gue yang tengah kepanasan, tapi sayangnya skenario anak-anak itu berkata lain. Maka berdoalah mereka, panjaaaang sekali.

Setelah melewati kurun waktu yang rasanya seperti berjam-jam, akhirnya tibalah giliran Rafi dan teman-temannya naik panggung. Trus gimana, apakah dia bisa hafal lagunya? Dan pertanyaan yang lebih penting, bagaimanakah lirik lagu yang sebenarnya?

Silakan disimak di video berikut:

Epilog:

Sore harinya, saat lagi main-main di kamar, iseng-iseng gue tanya ke Rafi, “Rafi tadi di sekolah nyanyi lagu apa hayo?”

Dan menyanyilah dia secara lengkap dan runut, lagu yang dari kemarin cuma dia hafal 3 bait itu. Ck, bukan dari kemarin lu apalnya, bocah!

  • Komentar Terbaru

    OGC 2017: Sail Off!… di OGC 2017: Ship Sweet Ship…
    Tjetje [binibule.com… di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
    mbot di OGC 2017: Ship Sweet Ship…
    enkoos di OGC 2017: Ship Sweet Ship…
    OGC2017: Kapal Raksa… di OGC 2017: Ship Sweet Ship…
    mbot di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
    OGC 2017: Ship Sweet… di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
    Tjetje [binibule.com… di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
    mbot di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
    enkoos di OGC2017: Kapal Raksasa Itu, da…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.230 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Jepret!

    Terjadi error saat mengambil gambar dari Instagram. Upaya akan diulangi beberapa menit lagi.

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda. Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke s […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: