McAfee: Antivirus Nggak Tahu Diri


mcafee_logo

Laptop yang gue pake sekarang emang bukan laptop supercepat, tapi ketika untuk start up aja butuh waktu sampe 30 menit sendiri, gue curiga ada yang salah. Tadinya gue kira yang bikin lelet adalah semua aplikasi yang operasinya selalu terkonek dengan internet, seperti Adobe Creative Cloud, Google Drive, atau Dropbox, maka gue matiin semuanya. Tetep aja lemot.

Tersangka berikutnya adalah harddisk bermasalah, tapi gue cek baik-baik aja. Kirain file registry ada yang error, tapi udah discan dan semua normal. Baru hari ini gue kepikiran untuk melakukan hal yang harusnya gue lakukan duluan: pencet ctrl+alt+del dan ngecek task manager. Dari situlah ketangkep siapa biang keladinya.

(lebih…)

Iklan

Biar Rezeki Nggak Dipatok Ayam


Lagi di Bandung, dalam rangka nganterin Ida mau ngasih training di Oriflame nanti jam 11 siang.

“Yah, tapi projectornya ketinggalan di Jakarta nih,” kata Ida.

“Trus gimana, bisa pinjem ke seseorang nggak di sini?”

“Nggak ada. Ya udah deh nggak usah pake slide presentasi juga nggak apa-apa.”

Sebagai yang bertugas mendesain slide presentasi, tentunya gue agak kurang ridho kalo hasil karya gue kurang dimanfaatkan secara optimal.

Tapi… Kan ada Google.

Googling dengan keyword “sewa projector Bandung”, dua nama teratas mengklaim menyediakan layanan 24 jam. Jadi gue nggak merasa bersalah mengontak jam setengah 7 pagi.

Dua-duanya gue kontak via WA.

Ini hasilnya:

Yang kiri, sampe posting ini ditulis (jam 8) belum nyahut juga. Yang kanan, udah selesai transaksi sama gue, projectornya udah di tangan gue, siap pakai.

Buat kalian yang butuh projector dadakan di Bandung, bisa kontak 085642205160. Lokasinya di gang Pancasila, sebelah Baltos. Bisa sekalian sewa layarnya di sana.

Pesan moralnya: makanya bangun pagi, biar rezeki nggak dipatok ayam.

[review-buku] Papomics


Apa sih yang bikin seseorang tertarik menyomot sebuah buku di rak toko buku?

Sebagai penggemar warna merah dan gambar kartun, kedua elemen ini jadi elemen yang paling berpengaruh. Itulah sebabnya gue tertarik sama cover buku ini:

Papomics-Cover

Ditambah lagi dengan temanya tentang para bapak, membuat gue merasakan adanya keterikatan batin. Gue comot satu, gue buka-buka… lho, kok ceritanya ada yang gue kenal?

(lebih…)

[review] Jalanan


 

poster_jalanan

Andaikan ada orang khilaf ngemodalin gue bikin film dokumenter tentang kehidupan pengamen jalanan Jakarta, maka kemungkinan besar hasilnya akan jadi sebagai berikut:

  • diiringi lagu sedih, kalau bisa solo piano
  • ada suara narator. Pilih naratornya yang bersuara ngebass kayak narator iklan rokok
  • ada banyak adegan-adegan memilukan, semisal dikejar-kejar kamtib, gitarnya rusak masuk got, pengamennya dipukulin, dsb
  • ada wawancara testimoni pengamen yang bersangkutan, dengan ekspresi sedih meratapi nasib dan/atau mengutuk ketidakadilan kehidupan ibu kota

Untunglah bukan gue pembuat film ini, sebab kalo iya hasilnya nggak akan sekeren ini.

(lebih…)

[review] Comic 8


 

Comic-8-Banner.jpg

Entah udah berapa tahun lewat sejak gue ngakak sepuas ini gara-gara nonton film Indonesia.

“Comic 8” bercerita tentang 8 perampok bank yang ‘kebetulan’ merampok bank yang sama di hari yang sama. ‘Kebetulan’? Huh, kedengerannya kayak tipikal film Indonesia banget, ya?

Entar dulu.

(lebih…)

[review] Man of Steel


man-of-steel-poster

Kalo gue diminta untuk menyimpulkan film “Man of Steel” (selanjutnya gue singkat MoS) dalam satu kata, maka kata yang gue pilih adalah: NEKAD.

(lebih…)

Buku Keren: Generasi 90an


 

buku90an

Ini buku wajib punya banget buat kalian yang ngerasain dekade 90-an (ya, yang dimulai lebih dari 20 tahun lalu – gimana, merasa tua sekarang?)

(lebih…)

[review] Test Pack: You’re My Baby


“Bukunya lebih keren daripada filmnya!” biasanya gitu komentar orang setelah nonton film yang diangkat dari buku. Ada banyak faktor yang bikin komentar kayak gini muncul, salah satunya adalah: film berusaha menyamai bukunya 100% plek. Padahal dimensi waktu di buku seringkali jauh lebih panjang dari yang bisa ditampung dalam durasi sebuah film. Akibatnya alur film jadi terasa aneh saking banyaknya hal yang ingin ditampilin.

Untungnya, film ini berhasil lolos dari jebakan itu.

(lebih…)

[review] Mencoba Sukses


Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
192 halaman

Buat penggemar karya Adhitya Mulya mungkin rada pangling dengan buku yang satu ini. Pertama: tampilannya. Sejak “Jomblo” sampe bukunya yang terakhir “Catatan Mahasiswa Gila”, kecuali buku adaptasi film seperti d’Bijis atau yang kolaborasi seperti “Traveler’s Tale Belok Kanan: Barcelona!” Adhit konsisten menggunakan cover warna kuning. Konon katanya, karena kuning adalah warna komedi.

Kali ini, walaupun tetap bertema komedi, Adhit mencoba penampilan lain. Covernya digarap dengan gaya fotografis buku catatan. Kelihatannya, mencoba menggambarkan benda yang memegang peran penting dalam cerita ini, yaitu (catatan) naskah film.

Dan itu, menjadi faktor ke dua yang membuat pembaca setianya mungkin akan ‘pangling’ dengan karyanya yang satu ini.

(lebih…)

[review] The Cabin in the Woods


cabin in the woods poster“You Think You Know the Story”

Begitulah ‘tantangan’ film ini yang tertulis sebagai tagline. Dan waktu film dimulai, penonton memang digiring untuk mikir gitu. Lima orang anak muda, pergi kemping ke tempat terpencil yang dari penampakannya aja udah sangat mencurigakan, dan akhirnya dikejar-kejar monster. Tokoh-tokohnya pun ‘klasik’ banget. Ada Curt (Chris Hemsworth), si atlet, Holden (Jesse Williams), si lelaki baik-baik, Jules (Anna Hutchison) si binal, Marty (Fran Kranz) si teler, dan Dana (Kristen Connolly) si perawan lugu. Bahkan ada kakek tua menyeramkan yang mencegat mereka menjelang sampai ke lokasi, memperingatkan agar mereka jangan lanjut. Ini klasik banget. Inget nenek tua di film Jelangkung yang ngomong berulang-ulang “Ulah ka kenca, ulah ka kenca…” Atau buat kalian yang cukup sial sehingga terjebak nonton Terowongan Casablanca juga mungkin inget akan kemunculan bapak cebol yang (sok) misterius di tengah hutan gelap.

Tapi apa iya, film ini sestandar kelihatannya?

(lebih…)

[Review] Step by Step to Stand Up Comedy


Penulis: Greg Dean
Penerjemah: Ernest Prakasa
Penerbit: Bukune
295 halaman

Di acara Stand Up Comedy Kompas TV season I, Akbar pernah membawakan sebuah joke yang buat gue berkesan banget. Akbar membuka penampilannya dengan ngomong gini:

(lebih…)

Mission Impossible: Ghost Protocol


Mission Impossible: Ghost ProtocolWalaupun ngefans sama serial TV-nya, selama ini gue kurang sreg sama versi bioskopnya Mission Impossible. Kayaknya semua (kecuali yang nomer 2) berusaha terlalu keras bikin cerita njelimet yang penuh intrik. Mungkin maksudnya biar nggak terlalu cemen amat kayak di serial TV-nya. Sedangkan yang nomer 2, berhubung sutradaranya sutradara spesialis film silat, jadinya malah lebih mirip film action Hong Kong. Yang selalu ada adegan orang nembak sambil lompat ke samping gitu deh.

Untunglah film MI yang ini nggak kayak gitu. Lucunya, Brad Bird sang sutradara justru baru pertama kali ini menyutradarai film orang – karena sebelumnya lebih sering bikin film animasi! Salah satu film buatannya adalah Ratatouille yang gue puja-puji setengah mati di review yang ini. Selain itu dia juga pernah menyutradarai The Incredibles, film animasi Pixar yang sukses secara kualitas maupun finansial.

Salah satu langkah ‘berani’ Brad Bird dalam membuat MI: Ghost Protocol ini adalah memasukkan tokoh Benji yang diperankan oleh Simon Pegg. Buat yang belum kenal sama Simon Pegg, dia adalah mantan stand-up comedian Inggris yang hampir selalu kebagian peran-peran sinting. Ciri khasnya adalah nge-joke dengan tampang lempeng khas Inggris tapi kocak banget. Buat yang penasaran ngeliat kayak apa kesintingan Simon Pegg, gue sarankan nonton Shaun of the Dead atau Hot Fuzz – lu akan ngerti apa yang gue maksud. Film terbarunya yang beredar di Indonesia adalah The Adventure of Tintin – Simon adalah pengisi suara salah satu detektif kembar Thompson and Thomson.

Ada komedian di tengah film Mission Impossible yang biasanya penuh instrik njelikmet? Nggak salah?

Ternyata enggak karena Simon berhasil bikin film ini jadi hiburan yang utuh. Sejak awal penonton udah diajak tegang dengan adegan-adegan action yang seru, dan syukurlah kali ini jalinan intriknya nggak terlalu bikin migren, plus ada si Simon dengan segala ulahnya yang kocak. Tokoh Ethan (Tom Cruise) tetap jadi tokoh paling ‘HERI’ (HEboh sendiRI)di film ini – dan memang udah jadi sumber keluhan para fan sejak film pertama karena seharusnya yang menonjol dari MI adalah kerja kelompok – tapi ya mau gimana lagi, namanya juga juragan (Tom jadi produser di seluruh film MI versi bioskop).Tapi nggak percuma lah Tom mendominasi layar film ini, karena kesediaannya melakukan beberapa adegan berbahaya tanpa stuntman – termasuk adegan gelantungan di gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Adegan manjat gedung ini sekaligus jadi salah satu aspek baru dalam tradisi film-film MI, yaitu kecanggihan teknologi dan rencana detil bisa aja berantakan sewaktu-waktu. Beda dengan yang di serial TV-nya di mana alat-alat canggih pendukungnya nggak pernah gagal dan rencananya selalu berjalan mulus, di film ini digambarkan para anggota IMF (Impossible Mission Force, bukan International Monetary Fund) harus kreatif berimprovisasi mengatasi kondisi yang melenceng dari rencana – antara lain gara-gara alatnya ngadat.

Tapi senekad-nekadnya Tom Cruise gelantungan, selucu-lucunya Simon Pegg ngebanyol, filmnya akan garing tanpa kehadiran tokoh cewek penyejuk mata. Fungsi vital tersebut diserahkan kepada Paula Patton – yang walaupun dari segi umur udah mulai masuk kategori ‘matang pohon’ tapi tetap mampu tampil prima. Menurut gue kehadirannya sangat positif dan sejalan sekali dengan semangat olah raga yang belakangan ini gencar gue kampanyekan. Silakan cek dan nilai sendiri, apakah sosoknya memenuhi syarat sebagai anggota IMF:

Akhir kata, sebuah film yang menghibur dan menyenangkan untuk ditonton. Gue rekomendasikan banget!

The Fighter


The Fighter Movie PosterCerita film ini berdasarkan kehidupan petinju Micky Ward, yang praktis cuma gue kenal kiprahnya dari game PS Fight Night. Yang menarik gue untuk nonton justru karena sebagai petinju, Micky Ward nggak kondang-kondang amat. Malah di Fight Night statistiknya nggak bagus-bagus amat. Setelah nonton filmnya, baru gue tau bahwa memang yang mau “dijual” bukanlah adegan tinju-tinjuannya.

Film dibuka dengan penggambaran bahwa Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah petinju yang rada telat memulai karirnya – karena di umur yang udah kepala tiga baru bertanding tiga kali dan kalah melulu. Dia dilatih oleh Dicky Ecklund (Christian Bale) kakak tirinya yang mantan petinju tapi sekarang udah jadi pengangguran pecandu narkoba. Selain kakak beradik ini, ada juga tokoh Alice (Melissa Leo) ibu Micky dan Dicky yang bertindak sebagai manager Micky, dan Charlene (Amy Adams) pramusaji bar yang kemudian pacaran dengan Micky.

Konflik mulai dibangun saat digambarkan Dicky terkesan asal-asalah melatih adiknya – maklum namanya juga orang teler – dan lagi-lagi membuat Micky kalah. Micky yang pada dasarnya kurang PeDe makin minder dengan kekalahannya itu. Charlene sebagai pacar terus memotivasi Micky, apalagi dengan adanya seorang promotor kaya yang bersedia membiayai Micky berlatih secara lebih profesional. Micky dihadapkan pada dilema: kalau ingin mengembangkan karirnya maka dia harus ‘tega’ meninggalkan manajemen keluarganya yang kacau balau itu. Di sisi lain, Dicky dengan caranya sendiri juga berusaha mendukung karir tinju adiknya dan ingin adiknya tetap berada di bawah manajemen keluarga.

Buat yang belum nonton film ini, gue sarankan mengatur ekspektasinya dulu. Film ini bukan film action, jadi jangan harap akan banyak adegan pukul-pukulan dramatis ala film Rocky. Malah mungkin porsi adegan tinju di film ini nggak sampe 10%. Yang jadi kekuatan film ini bukanlah adegan tinjunya, tapi penggambaran konflik berlapis yang meliputi para tokohnya. Micky: rendah diri, sayang keluarga tapi juga ingin karir tinjunya maju. Dicky: penderita post-power syndrome yang hidup di masa lalu, doyan mengulang-ulang kenangan manis waktu sempat menjatuhkan Sugar Ray Leonard tapi nggak berani menghadapi kenyataan, sayang keluarga, sayang adik, tapi pendek akal dan tukang bikin onar. Alice: ibu yang diam-diam pilih kasih pada anaknya, dan Charlene: pengidap rendah diri yang menemukan semangatnya pada orang lain. Saat terjadi perdebatan antar tokoh, dialog-dialognya terasa hidup karena masing-masing tokoh mengeluarkan argumen yang kuat mencerminkan sudut pandangnya. Selain itu, penggambaran tokohnya juga sangat manusiawi; nggak ada yang 100% jahat atau 100% baik.

Seperti dugaan gue, Christian Bale berhasil memenangkan Oscar dari perannya di film ini. Untuk memerankan seorang pecandu narkoba, Bale menurunkan berat secara ekstrim sampe tampangnya kayak orang sakit. Salah satu temen gue berkomentar, “Ya iyalah, dia kan dibayar mahal.” Nggak juga, ternyata. Sebagai film yang awalnya dianggap nggak akan terlalu sukses secara komersial, film ini nggak punya anggaran yang terlalu leluasa untuk menggaji para pemainnya. Bale ‘hanya’ dibayar 250.000 dolar saja. Bandingkan dengan waktu dia memainkan Batman – Dark Knight: bayarannya 38 juta dollar! Dari segi pemilihan pemain dan tata rias, film ini memang jeli. Coba liat dandanan Alice si ibu yang digambarkan agak sedikit kampungan, dan Ida pun berkomentar tega soal Charlene, “Hebat ya milih pemerannya, realistik, nggak milih pemeran yang cantik-cantik amat dan langsing-langsing amat…”

Faktor lain yang membuat film ini enak ditonton, bagi gue, adalah pemilihan tokoh Micky Ward sendiri. Dia adalah petinju yang cukup sukses, sempet jadi juara dunia, tapi nggak banyak orang kenal namanya dan tau cerita hidupnya. Maksud gue, beda dengan kalo kita nonton film tentang Muhammad Ali atau Mike Tyson; mungkin udah nggak akan terlalu seru lagi karena kita udah tau endingnya akan gimana. Film ini tetep mampu membuat penonton harap-harap cemas apakah tokoh utamanya akan memenangkan pertandingan.

Kesimpulannya: sebuah film sederhana yang menyajikan hubungan keluarga secara sangat realistis, dan tentunya menarik!

===

Kalo mau baca posting-posting terbaru gue soal film, silakan klik Nonton Deh!

Despicable Me


despicable me movie posterBerhubung nontonnya juga udah telat, review ini pun sangat telat kalo dibandingkan review2 gue lainnya. Tapi atas permintaan dari seorang pembaca, ya sud lah gue tulis.

Ide cerita film ini sebenernya sangat standar, dan udah cukup sering diangkat di film-film lainnya: seseorang ‘berhati batu’ akhirnya luluh oleh kepolosan dan ketulusan anak-anak. Sebut aja film-film seperti “Kindergarten Cop”, “Three Man and a Baby”, The Pacifier, bahkan yang agak baru “The Hangover” juga sempet menyenggol tema yang sama. Selain itu, kebetulan tokoh utama film ini juga seorang ‘penjahat super’, mirip tema cerita “Megamind” yang sama-sama dirilis tahun 2010. Apakah berarti “Megamind” menjiplak “Despicable Me”? Rasanya sih kecil kemungkinannya ya, karena selisih kemunculan kedua film ini hanya beberapa bulan aja.

Tokoh utama film “Despicable Me” adalah seorang penjahat super bernama Gru (disuarakan oleh Steve Carrell – Date Night dan Get Smart). Tentunya ‘penjahat’ dalam konteks film animasi ya gitu deh, lebih banyak bloonnya daripada seremnya.

Gru digambarkan sebagai sosok anti sosial yang menyebalkan, tega bikin nangis anak orang dan nggak sungkan menggunakan senjata canggih hanya untuk nyerobot antrian di resto cepat saji.

Pada suatu hari, Gru yang merasa dirinya adalah “The Greatest Criminal Mind in the World” ini panas hati karena ada seseorang yang berhasil mencuri piramid. Padahal prestasi terbesarnya baru mencuri TV raksasa di stadion dan replika patung Liberty di Las Vegas. Gru lantas berambisi mencuri benda yang lebih spektakuler dari piramid, yaitu bulan!

Untuk menjalankan rencananya, Gru membutuhkan senjata pengerut yang mampu mengecilkan ukuran bulan menjadi sebesar bola tennis. Sayangnya, senjata pengerut itu ada di tangan Vector, ‘penjahat super’ lainnya.

Sementara itu, nggak jauh dari rumah Gru dan Vector, ada panti asuhan yang dihuni 3 kakak beradik Margo, Edith, dan Agnes. Pemilik panti yang berotak dagang tulen memanfaatkan tenaga mereka untuk jualan kue kering. Pada suatu hari, mereka bertiga lewat di depan rumah Vector dan berhasil menjual beberapa kotak kue. Melihat kejadian ini, Gru jadi dapat ide untuk memanfaatkan mereka bertiga sebagai pembuka jalan mencuri senjata pengerut.

Komentar gue:
Seperti yang gue bilang di awal, film ini sebenernya mengangkat ide cerita yang terhitung ‘basi’. Untungnya, ide ini bisa dikembangkan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Kalo menurut pendapat gue, kekuatannya terletak pada rancangan bentuk dan gerak para karakternya yang sangat ‘hidup’. Yang bikin gue sangat terkesan adalah penokohan ketiga anak yatim piatu penjual kue. Margo yang paling tua nampak paling serius dan protektif terhadap adik-adiknya, Edith si nomor dua nampak pembangkang (sesuai teorinya Alfred Adler :-)) dan Agnes si bungsu nampak super kelincahan, sibuk mengeksplorasi sana-sini penuh rasa ingin tahu. Selain itu juga ada Kyle, anjing peliharaan Gru yang galak, jelek, nggak jelas rasnya apa, tapi takut setengah mati sama Agnes!

Dari semuanya, tentu aja yang paling sering memicu tawa gue adalah ulah para ‘minion’, makhluk-makhluk kuning peliharaan Gru yang tingkahnya lucu-lucu udik. Hint: adegan waktu Gru dan dua minionnya lagi mengendap-endap di lorong ventilasi udara itu kocak buanget!

Kesimpulan akhir: film yang nggak terlalu orisinal, tapi dikemas secara baik dan menghibur. Nggak rugi juga untuk dikoleksi DVD originalnya 🙂

Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia


Buku ini mengajak pembaca untuk membahas berbagai hal yang jorok-jorok secara ilmiah. Mulai dari upil, dahak, tinja, jerawat, ketombe, sampe kutu dan kecoa. Dari gaya bahasanya, kayaknya buku ini ditujukan buat anak-anak SD kelas 4 ke atas, tapi buat gue tetep menarik dan memberikan banyak pengetahuan baru 🙂

Misalnya, ternyata Raja Prancis Louis XIV gemar menemui bawahannya sambil… BAB! Bukan cuma itu, raja yang satu ini juga bukan main joroknya sehingga secara sangat santai sering membiarkan bajunya ternoda tinja. akibatnya para bawahannya terpaksa menutup muka dengan sapu tangan yang dibubuhi minyak wangi saat menghadap. Di masa pemerintahannya, industri parfum Prancis berkembang pesat.

Fakta baru lainnya yang baru gue ketahui dari buku ini adalah, gas Indol yang muncul dalam perut sebagai hasil pencernaan protein ternyata merupakan bahan dasar parfum. Bedanya, yang muncul dalam perut telah bersenyawa dengan skatol, sedangkan yang digunakan untuk bikin parfum hanya Indol aja.

Buku ini cocok banget buat yang doyan membahas hal-hal jorok, apalagi ilustrasi kartunnya juga sedikit hiperbola sehingga membuat topik yang udah jorok-jorok itu nampak semakin jorok.

Kalaupun ada yang bisa gue pandang sebagai kelemahan dari buku ini adalah, di beberapa bagian kalimatnya terasa kurang nyambung, mungkin akibat proses penerjemahan dan penyuntingan yang kurang rapi, atau gara-gara informasi kontekstual yang mungkin cuma dipahami di negara asal buku ini (Korea).

Misalnya, di halaman 39 ada sub-bab yang dibuka dengan kalimat kurang jelas sebagai berikut:

“Ada anak kecil yang menunggu di depan toilet sampai Pendeta selesai buang air. Nama toilet yang muncul pada saat iklan minuman laktobasilus di Korea itu adalah House. Hoise sebagai ‘pemecah kegelisahan’ adalah kakus, kamar kecil, atau toilet…dst”

Apakah maksudnya di Korea ada minuman laktobasilus bermerk House dengan slogan ‘pemecah kegelisahan’, atau gimana sih? Bagian sini gue rada kurang mudeng.

143 halaman
Bhuana Ilmu Populer (BIP) – 2009
judul asli: “The Dirtiest Science in the World”

  • Komentar Terbaru

    mbot pada bsmr = belajar sampe mati…
    Irene Yunita pada bsmr = belajar sampe mati…
    Nurizza Firdaus pada siapa yang sering kesetrum sep…
    Nurizza Firdaus pada siapa yang sering kesetrum sep…
    arifinlaneaz pada Obrolan Bisnis Misterius
    Risma Budiyani pada Kirimkan email ke si mbot, sel…
    Prasetyo Wardoyo pada siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    Josea Agx pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    mbot pada Hidup Mapan Adalah…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.434 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: