Manusia Ibarat Kertas…


kertas-lecek

Bukan, bukan.

Gue bukan mau bilang manusia ibarat kertas putih polos, lahir tak bernoda, siap dibentuk menjadi apa aja.

Bukan yang itu.

Tapi pagi ini gue baru dapet inspirasi, bahwa jenis-jenis manusia itu banyak yang bisa diibaratkan seperti kertas.

Ada manusia yang seperti KERTAS TISU: selalu siap membantu, khususnya dalam keadaan-keadaan darurat seperti ada cairan yang muncul tak selayaknya. Nggak pernah pilih-pilih urusan, semua masalah akan dia coba beresin sebisa mungkin. Tapi sayangnya, manusia-manusia jenis ini jarang diingat di luar keadaan darurat. Kalau urusan udah beres, dia dibuang. Kasihan…

Sebaliknya, ada juga manusia yang seperti KERTAS BERHARGA: kurang jelas manfaatnya, buat kipas-kipas sayang, buat ngelap apa lagi. Jarang kelihatan juga, tapi selalu menuntut diperlakukan istimewa karena kalo sampe ilang bikin panik dan repot.

Yang sering mengecoh adalah manusia jenis KERTAS KADO: kalo baru kenal nampak seru dan menarik, tapi setelah dilihat isinya seringkali mengecewakan.

Ada juga manusia yang selalu siap beralih fungsi, yaitu jenis KERTAS ULANGAN: setelah menunaikan tugas sebagai sarana mencerdaskan bangsa, dia rela beralih fungsi sebagai bungkus gorengan. Nggak mengeluh, nggak menuntut, yang selalu mengutamakan faedah.

Yang kasihan adalah manusia jenis KERTAS SELEBARAN: jumlahnya paling banyak, ada di mana-mana, tapi jarang ada yang memperhatikan. Kadang belum dibaca juga udah masuk tong sampah.

Tapi yang paling ngeselin adalah manusia jenis KERTAS BAKPAO: udah bentuknya nggak menarik, nggak jelas fungsinya, dilepasnya susah, kadang suka ikut-ikutan masuk mulut, padahal nggak diinginkan!

(Posting ini terinspirasi gara-gara lagi asik sarapan bapau, kertasnya kemakan)

 

Gambar gue pinjem dari sini

 

 

 

Kenapa Orang Tersinggung?


sepatu-tersinggung

Belakangan ini, gue lagi nemu banyak banget orang tersinggung. Kadang, tersinggungnya untuk urusan yang nggak terlintas di benak gue sebelumnya.

Misal:

“Gue kesel banget sama si X… masa pas kemarin ke rumah gue, dia kipas-kipas melulu! Ya deh gue tau rumah gue panas nggak pake AC, nggak kayak rumah dia, gedongan!”

Atau:

“Gue lagi bawa mobil, trus gue lihat si Z lagi di halte. Gue tawarin nebeng, eh dia nggak mau! Kurang ajar banget, masa dia lebih milih naik angkot daripada mobil gue?!”

Atau yang paling aneh:

“Gue kemarin di angkot ketemu sama Si Y. Nggak sopan banget dia, masa sepanjang jalan dia tidur, nggak ada basa-basinya banget! Harusnya kan udah tau ada gue, dia ngobrol atau apa kek!”

(lebih…)

Tipe Kepribadian Orang Berdasarkan Cara #makanTahu


Ujug-ujug aja gue mendapat inspirasi yang luar biasa ini.

Ya: ternyata jenis kepribadian orang bisa dinilai dari caranya makan tahu! Ini dia contoh-contohnya:

(lebih…)

Memperkenalkan: Tradisi Yell Guys


Setiap komunitas pasti punya sebuah tradisi yang jadi ciri khas.

Untuk para mahasiswa Psikologi UI, tradisi itu bernama Yell Guys.

(lebih…)

[2012-003] Mau gampang? Ya jangan mikir yang susah!


Alkisah, tersebutlah sebuah tes intelegensi bernama IST – singkatan dari Intelligenz Struktur Test, yang disusun oleh psikolog Jerman bernama Rudolf Amthauerpada tahun 1953. Tes ini terdiri atas 9 subtes yang masing-masing mengukur aspek intelegensi yang berbeda-beda. Mulai dari kemampuan analisis verbal, logika numerik, sampai daya ingat. Dan dari ke sembilan subtes ini, ada satu yang bikin gue, sebagai psikolog, benci banget: subtes ke 8 tentang kemampuan ruang.

Lah gimana nggak stress: tugas gue kan menjelaskan cara pengerjaan tes supaya pesertanya bisa ngerjain sesuai aturan. Kalo pesertanya salah ngerti, mereka salah ngerjain, akibatnya hasil tes jeblok. Padahal psikotes kan biasanya terkait dengan masa depan mereka – karena untuk keperluan seleksi pegawai atau sekolah. Artinya, kemampuan gue menjelaskan tes berdampak pada masa depan para peserta. Dan sialnya kok ya si Rudolf Amthauer ini bikin tes susah amat!
Subtes 8 dari IST bentuknya kurang lebih kayak gini nih:
tes kemampuan ruang
Ada 5 buah kubus yang tiap sisinya punya simbol berbeda. Tugas peserta menentukan kubus di setiap nomor adalah kubus yang mana dari 5 pilihan jawaban yang tersedia, apakah kubus A, kubus B, kubus C, kubus D atau kubus E. Tentunya kubus di setiap nomor soal sudah mengalami perputaran sedemikian rupa sehingga posisinya beda dengan kubus di pilihan jawaban. Artinya peserta harus membayangkan kubus-kubus itu berputar dan berguling dalam benaknya, sebelum bisa menentukan jawaban yang benar.
Kalopun kubusnya beneran ada di depan mata pun nggak mudah membayangkan penampakannya saat posisinya berubah. Lha ini kubusnya hanya dalam bentuk gambar 2 dimensi, jelas makin susah!
Karena tahu subtes ini nggak gampang dipahami, maka menjelang subtes ke 8 gue biasanya bilang,
“…perhatikan baik-baik ya, subtes berikut ini sangat rumit. Awas, jangan sampai salah…”
Tapi udah dibilangin gitu pun orang masih aja kesulitan. Boro-boro menentukan kubus dalam soal, baru sampe pilihan jawabannya aja mereka udah bingung. Biasanya mereka sulit melihat bahwa 5 pilihan jawaban itu memang 5 kubus yang berbeda. Dikiranya itu 1 kubus yang ditampilkan dalam 5 variasi posisi. Hasilnya gue harus nerangin berkali-kali, itu pun dengan diiringi protes dan keluh kesah para peserta yang menganggap tes ini nggak masuk akal.
Nah, setelah bertahun-tahun kerja di bidang yang nggak berhubungan sama psikotes dan terbebas dari hantu IST, baru-baru ini gue dapet obyekan ngetes, dan coba tebak tes apa yang harus gue bawakan… yak, tentu aja IST.
Menjelang tes gue berpikir keras gimana caranya biar subtes 8 nggak jadi masalah. Dan akhirnya gue dapet ide: mengubah pengantarnya!
Kalo dulu gue membawakan subtes 8 dengan peringatan bahwa tes ini akan sulit, kali ini gue coba pendekatan lain. Gue bilang,
“Setelah mengerjakan tes yang susah-susah tadi, sekarang saya akan mengajak Anda sekalian bermain balok. Pasti waktu kecil semuanya pernah main balok, kan? Nah, artinya Anda pasti bisa mengerjakan subtes berikut!”
Selebihnya instruksi gue sama persis seperti yang dulu-dulu, cuma pembukaannya aja yang gue bedain. Eh ajaib, ternyata para pesertanya nggak mengalami kesulitan sama sekali! Cukup diterangin satu kali, mereka bisa mengerjakan soal-soal latihan dengan bener. Rupanya, menyamakan subtes 8 dengan permainan balok masa kecil bikin peserta berpikir tes ini adalah permainan yang fun dan mudah, jadi nggak menakutkan lagi.
Pesan moralnya? Mindset itu penting banget. Kalo lu ngerjain sesuatu yang sebelumnya lu anggap susah, maka lu akan kesusahan. Sebaliknya, kalo lu anggap pekerjaan itu mudah, maka lu juga akan mengerjakannya dengan mudah 🙂

tes sidik jari, benarkah mengukur intelegensi?


Sidik Jari
“Bener nggak sih, berdasarkan hasil scan sidik jari kita bisa mengetahui potensi kecerdasan seseorang?”


Pertanyaan sejenis udah beberapa kali ditujukan kepada gue. Berhubung selama beberapa tahun terakhir kerjaan gue lumayan jauh dari dunia psikologi, maka gue cuma bisa jawab, “Entah ya… yang jelas sih di kampus psikologi dulu nggak pernah ada pelajaran yang menghubungkan antara sidik jari dan kecerdasan”.

Eh kebetulan malem ini BB group temen-temen alumnus psikologi lagi rame ngomongin si Fingerprint Test ini (selanjutnya gue tulis FPT). Maka penasaran gue atas FPT ini terbangkitkan lagi, dan mulailah gue menjelajahi google.com untuk menemukan jawabannya.

Ini hasil penemuan gue:

Klaim para penyedia jasa FPT

FPT mampu mengukur:

  • Potential Learning Power
  • Kemampuan otak kiri dan kanan
  • Komposisi Kecerdasan: Logika Matematika, Logika Bahasa, Spasial-Visual, Musik, Kinestetik, Intrapersonal, Interpersonal dan Naturalistik.
  • Komposisi kemampuan berpikir vertikal, horizontal dan abstrak
  • Alokasi gaya belajar: Visual, Auditory, Touch
  • Conscious dan Subconscious.

Dasar teoritisnya adalah bahwa sidik jari terbentuk saat janin berusia 23 minggu dalam kandungan, di periode yang sama dengan pembentukan sejumlah organ vital pada manusia. Karena terbentuk di periode yang sama, maka sidik jari mampu menggambarkan potensi dasar manusia.

FPT didasarkan pada ilmu bernama Dermatoglyphics (yang kalo diterjemahkan dari bahasa latin berarti “ukiran pada kulit). Dermatoglyphics tidak berhubungan dengan Palmistry (ilmu ramal garis tangan). Palmistry adalah psudoscience (ilmu boongan, tidak mengikuti kaidah ilmiah) sedangkan dermatoglyphics didasarkan pada riset ilmiah. Buktinya adalah, pada anak-anak yang menderita down syndrome (salah satu jenis sindroma keterbelakangan mental), ada pola sidik jari yang khas. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pola sidik jari juga mampu meramalkan aspek-aspek lainnya dalam intelegensi manusia.

FPT mampu mengidentifikasi kecerdasan seseorang berdasarkan 8 ranah Multiple Intelligence yang dicetuskan oleh ilmuwan Howard Gardner.

Gue juga menemukan salah satu MPer yang memposting hasil laporan FPT atas anaknya di sini (link mati), dan bagaimana dia kemudian menerapkan pola pendidikan yang disesuaikan (link mati) dengan laporan FPT tersebut.

Pendapat kontra FPT

Di milis nakita, ada tanggapan yang cukup panas dari seseorang bernama Adi D Adinugroho, MA, Ph.D, yang ternyata adalah seorang MPer (link mati), menanggapi heboh orang-orang soal FPT. Lengkapnya bisa dibaca di sini (link mati), tapi gue kutip sebagian jawabannya:

“Kalau lihat info yang diattached koq ngoprek teori multiple intelligences. ..weeh ya piye ya ngejawabnya hehehe..wong landasan dasar pemahamannya ttg intelligence sudah ngawur hehehe capeek deeey …daku ogah ngoprek MI lagi ah..bosyen bin eneg..hehehe. Sama aja ini dengan aliran ngeramal garis tangan itu loh…hehehe. ..personally ya saya sih bilang itu metode pepesan kosong. Karena nggak ada riset EBP yang membuktikan adanya keterkaitan antara garis tangan dengan kemampuan anak untuk belajar, intelegensi, apa lagi untuk prediksi kondisi kekhususan.. .edun aja…ngapain dong kalau gitu ada beragam bidang ilmu kedokteran, psikologi dan pendidikan kalau emang semua bisa dilihat dari garis tangan…mending berguru sama mbah Marijan aja mesisan…gitu. ..=). Jangan dicampur campur antara EBP dan Non EBP ntar bisa mumet dhewe.”

MPer lain bernama Julia Van Tiel juga pernah memposting hal yang sama, dan ditanggapi oleh Bu Adi tersebut di sini (link mati). Serunya, kayaknya ada seorang ‘penjual’ FPT yang coba-coba membela FPT di jurnal tersebut, tapi menggunakan cara yang salah yaitu dengan bikin account nggak jelas. Wah, tanggapannya malah makin sadis!

Intinya, kalo gue simpulkan dari berbagai narasumber di web tentang FPT dan Dermatoglyphics ini, maka faktanya adalah:

Howard Gardner, sang pencetus teori Multiple Intelligence sendiri belum pernah mengembangkan alat untuk mengidentifikasi 8 ranah intelegensi yang ada dalam teorinya itu. Artinya, dia belum menetapkan standar yang terukur, seperti apa orang dengan kecerdasan musikal, intrapersonal, interpersonal, dll. Nah, kalau yang punya teori sendiri belum menetapkan standar pengukurannya, bagaimana mungkin ada pihak lain yang mengklaim bahwa dagangannya mampu mengukur teorinya Howard Gardner?

Sedangkan kalo menurut analisis bego-begoan dari gue, kalaulah memang bener FPT ini mampu mengukur potensi dasar seseorang, artinya potensi yang dibawa seseorang sejak lahir, maka tes ini nggak ada gunanya dan sangat besar kemungkinan ngelesnya.

Nggak ada gunanya, karena perkembangan kemampuan aktual seseorang adalah hasil perpaduan antara potensi dasar seseorang dengan hasil pembelajaran yang diterimanya seumur hidup. Biarpun seseorang dilahirkan dengan potensi talenta musik setinggi langit, tapi kalo dia dibesarkan dalam lingkungan yang sama sekali nggak pernah memberikannya pengayaan pengalaman di bidang musik, ya dia nggak akan bisa jadi musisi ulung. Pengaruh lingkungan (meliputi gaya pendidikan orang tua, stimulus, kualitas pendidikan di sekolah, dsb dsb) punya pengaruh yang besar, kalo nggak bisa dibilang dominan, dalam pembentukan kemampuan aktual seseorang. .Jadi, buat apa pusing soal potensi?

Besar kemungkinan ngelesnya, karena kalo ternyata hasil tesnya bertolak belakang dengan kondisi si anak (misalnya laporan menyebutkan kemampuan musikalnya tinggi padahal kenyataannya si anak bacain pancasila aja fals) maka si penyedia layanan FPT bisa dengan santainya ngeles: “Oh itu karena pola pendidikan yang diterima anak Anda selama ini kurang tepat”. Sebaliknya, kalo ternyata tepat, maka mereka bisa mengklaim, “tuh, bener kan, alat tes kami memang akurat!”

Kesimpulan akhirnya, sampe detik ini gue sih masih belum rela ya, keluarin duit sampe 1,5 juta perak untuk ngerasain dites menggunakan FPT. Bagaimana dengan kalian?

Posting blog lainnya yang juga skeptis terhadap FPT bisa dibaca di sini(link mati).

Gambar sidik jari gue pinjem dari sini

shutter island


shutter_island_movie_posterSinopsis:
Berseting di tahun 1954, petugas U.S. Marshal Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo), pergi ke RS Ashecliff di Shutter Island untuk menyelidiki seorang pasien yang hilang secara misterius. RS Ashecliff adalah rumah sakit khusus bagi para pelaku kriminal yang sangat berbahaya namun secara hukum nggak bisa ditahan di penjara biasa karena “kejahatan” mereka dilakukan akibat adanya gangguan jiwa.

Pasien yang hilang bernama Rachel Solando. Kamarnya terkunci dari luar, nggak ada tanda-tanda kerusakan pada pintu ataupun jendela, bahkan sepatunya juga masih tersimpan rapi di kamar. Padahal, kondisi alam Shutter Island yang didominasi batu karang sangat ganas, hampir mustahil orang bisa bertahan tanpa peralatan yang cukup – apalagi tanpa alas kaki.

Teddy Daniels curiga ada sesuatu yang nggak beres dilakukan oleh pihak RS kepada para pasien di sana. Repotnya, setelah badai besar menghantam pulau itu, praktis Teddy putus kontak dengan dunia luar dan hanya dapat mengandalkan Chuck, seorang rekan yang boleh dibilang masih belum terlalu jelas jati dirinya.

Komentar:
Kalo menurut gue, untuk bisa menikmati film ini kita perlu menyetel ekspektasi ke taraf yang tepat. Beberapa orang yang gue denger kecewa dengan SI rupanya berharap akan ada banyak adegan action dan tembak-tembakan, sehingga ketika ternyata nggak terpenuhi mereka memvonis SI sebagai film jelek. Ya memang, film ini didominasi oleh dialog-dialog yang cukup ruwet, apalagi ketika semakin lama kasus hilangnya Rachel bukannya semakin jelas malah semakin aneh. Martin Scrosese, sutradara kawakan yang pernah membuat film-film legendaris seperti Raging Bull dan Cape Fear menurut gue berhasil menggiring penonton untuk mempertanyakan banyak hal hingga bisa ikut merasakan paranoia Teddy Daniel yang makin lama makin parah. Leonardo DiCaprio bermain cukup meyakinkan membawakan peran yang keliatannya cukup menguras mental. Yang gue suka dari aktingnya adalah terlihat perubahan gradual yang cukup meyakinkan, dari sosok US Marshall yang awalnya penuh percaya diri bergeser menjadi sosok yang penuh ketakutan dan merasa tersudut di akhir film.

Dari banyak film yang mengaku-aku sebagai “psychological thriller“, hanya sedikit yang layak mendapat stempel itu karena kebanyakan hanya menjadikan kelainan psikologis sebagai penjelasan gampang mengapa tokoh penjahatnya berkeliaran membunuhi orang. Sedangkan film SI ini, menurut gue cukup berhasil mengupas bagaimana isi benak seorang penderita kelainan jiwa, mulai dari paranoia, halusinasi, hingga amnesia selektif. Hebatnya, aspek-aspek itu tersusun rapi hingga akhirnya terkuak menjadi ending yang sangat mengejutkan di akhir film, hingga beberapa saat setelah penjelasan diberikan gue masih sempet bingung bertanya-tanya: “loh jadi, yang bener yang mana nih?”

Kalaupun ada sedikit kekurangan yang mengganggu, adalah ‘males’-nya Martin Scorsese menyewa penggubah musik khusus untuk film ini sehingga di beberapa adegan musik latarnya lumayan bikin senewen. Yang paling ‘gengges’ adalah adegan waktu Teddy baru mendarat di Shutter Island, musiknya heboh sendiri tanpa adegan yang sebanding di layar. Selebihnya, gue sangat merekomendasikan film ini buat penonton yang mau sedikit repot untuk ikutan mikir mengurai teka-teki hilangnya seorang pasien di pulau yang terisolasi.

Poster film gue pinjem dari wikipedia

Posting terkait film lainnya bisa diklik di blog Nonton Deh ya!

Dementor


dementorBuat para penggemar serial Harry Potter pasti tau tentang Dementor. Digambarkan oleh tokoh Lupin bahwa Dementor adalah…

Dementors are among the foulest creatures that walk this earth. They infest the darkest, filthiest places, they glory in decay and despair, they drain peace, hope, and happiness out of the air around them… Get too near a Dementor and every good feeling, every happy memory will be sucked out of you. If it can, the Dementor will feed on you long enough to reduce you to something like itself…soul-less and evil. You will be left with nothing but the worst experiences of your life.” [harry potter wikia]

Atau dengan kata lain, Dementor punya kemampuan menyedot semangat hidup manusia sampe bisa jadi putus asa.

Belakangan ini, gue menemukan bahwa ternyata Dementor bukan cuma ada dalam fiksi. Repotnya, Dementor di dunia nyata lebih sulit dikenali. Kalo di cerita Harry Potter Dementor muncul dalam sosok yang mengerikan, berkulit kelabu dengan jari-jari kurus seperti kerangka, di dunia nyata mereka tampil seperti orang biasa. Mereka bisa aja duduk di sebelah lo di kantin, berdiri di belakang lo waktu ngantri karcis busway, atau yang lebih serem lagi: duduk di balik pintu bertuliskan “BOSS”.

Persis seperti dalam cerita Harry Potter, berdekatan dengan para Dementor bisa bikin lo tiba-tiba merasa suram, putus asa, hidup tiada guna, negara serasa mau bangkrut, kiamat seakan minggu depan, kerja kayak nggak ada gunanya, dsb dsb. Pada stadium lanjutan, infeksi Dementor bisa mengakibatkan timbulnya rasa curiga kalo orang lain berhasil, sirik kalo liat orang lain senang, bahkan terasa dorongan ingin nyabot sukses orang. Dengan kata lain, Dementor itu menular, dan dampak penularannya sangat merugikan. Hati-hati!

Kenapa kita sebaiknya jangan sampe ketularan jadi Dementor?
Karena nggak ada orang yang seneng denger keluhan, termasuk diri kita sendiri. Semakin banyak lo mengeluh, semakin lo benci sama diri sendiri. Semakin lo benci sama diri sendiri, lo semakin yakin bahwa diri lo nggak berguna. Semakin lo yakin diri lo nggak berguna, semakin tertutup jalan untuk hidup lebih baik.

Kenali Dementor sejak dini
Penampilan boleh nipu, tapi Dementor sejati nggak pernah bisa menyembunyikan sifat aslinya. Ciri-ciri yang paling gampang dikenali adalah:

1. Frekuensi curhat yang sangat tinggi, dengan topik masalah pribadi yang seolah penting banget untuk diketahui semua orang, dan nggak ada solusinya.

Yang paling mengganggu dari kebiasaan Dementor yang satu ini adalah, mereka bisa bikin sebuah acara ngumpul yang tadinya ‘seru’ dan ‘hore’ jadi ngedrop dengan curhatan-curhatannya.

Contoh:
“Eh si X baru beli HP lho!” kata seseorang
“Oh ya, apa merknya?” sambut yang lain antusias
“Sony Ericsson, kalo nggak salah”
“SE?! Wah siap-siap aja tuh, kan batrenya cepet bocor. Nih gue pake SE baru sebentar udah rese gini batrenya… blablabla… mana harga jualnya cepet jatuh… blablabla… mau beli lagi nggak ada duit… blablabla… apa-apa sekarang mahal… blablabla… gaji nggak naik-naik…”
Pokoknya begitu si Dementor angkat bicara, semua yang hadir tiba-tiba merasa suntuk, lesu, nggak bergairah. Atau dengan kata lain, ya itu tadi: ngedrop.

2. Dementor selalu mampu melihat sisi jelek dari segala sesuatu, nggak peduli sebagus apapun keadaannya.

Kalo mau dibilang sebagai ‘bakat’, memang kemampuan Dementor yang satu ini nggak dimiliki kebanyakan orang. Saat semua orang terkagum-kagum atas kehebatan sesuatu, para Dementor dengan kejelian yang luar biasa selalu mampu menemukan celanya.

Contoh:
“Gue kemarin ketemu sama suaminya Ibu X. Ya ampun, orangnya ganteng sekali ya… udah gitu keliatannya baik, lagi.”
“Iya, gue juga pernah ketemu. Dia juga setia, lho…”
“Jangan lupa, pinter pulak. Kalo nggak salah dia lulusan terbaik waktu kuliah dulu.”
“Pantesan karirnya juga bagus, ya. Sekarang posisinya udah lumayan tinggi, kan?”
“…kalo tidur pasti ngorok kaya babi,” kata sang Dementor merusak suasana.

3.Dementor senang membandingkan diri dengan lawan bicara, sedemikian rupa sehingga dirinya terdengar jauh lebih apes, dan akhirnya lawan bicara menjadi sungkan.

Contoh:
“Hai, gue denger abis pindah rumah ya?”
“Iya nih, biasa… pinjeman dari kantor…”
“Ih enak ya, kantornya ngasih pinjemen rumah.. gue dong masih ngontrak mulu…”
“Oh…”
“Mana gaji nggak naik-naik, buat bayar kontrakan aja udah ngepas, gimana mau nabung buat beli rumah?”
“Ehm… tapi…”
“Udah mana sekarang BBM naik, apa-apa ikut naik, makin cekak aja deh rasanya… Kalo elu kan enak, gaji gede, fasilitas banyak…”
“Eh… permisi dulu ya, mau gantung diri dulu bentar boleh?”

4. Dementor gemar mematikan semangat orang lain.

Seperti pasukan pemadam kebakaran ngeliat api, semakin besar apinya, semakin giat upayanya untuk memadamkan.

Contoh:
“Gue mau coba bisnis baru nih!”
“Bisnis apa?”
“Jualan baju anak-anak”
“Yahhh… hari gini jualan baju! Nggak liat tuh, di ITC yang jualan baju udah segambreng?”
“…tapi koleksi gue unik-unik lho! Lain daripada yang lain deh!”
“Alaaah… unik kaya apa sih, paling sebentar lagi juga pasaran. Liatin aja!”
“Euh… gue juga berencana ngikutin perkembangan tren lho…”
“Emangnya lu kira gampang? Gue pernah tuh, coba jualan baju kayak elu. Awalnya semangat, eh terakhirnya malah rugi. Mana barang dagangan dibawa kabur orang…”
dst dst dst.

Kiat menghadapi Dementor
Cara paling aman adalah: jangan dideketin. Begitu seseorang yang ada di dekat lo menunjukkan ciri-ciri seorang Dementor, segeralah jauh-jauh. Cari alasan apa aja, bilang mau beli rokok ke Ujung Kulon kek, mau nguras sumur kek, terserah. Yang penting jangan deket-deket mereka. Ingat, Dementor itu sangat menular!

Checklist Dementor
Sedangkan bagi kalian yang selama ini telah menjadi Dementor tapi nggak menyadarinya, coba teliti daftar berikut. Kalo kalian merasa setuju dengan 5 pernyataan atau lebih, hati-hati, kalian sedang menjelma menjadi Dementor. Segeralah minta pertolongan profesional, sebelum terlambat.

  • Sebagian besar orang lebih beruntung dari gue
  • Nggak ada orang yang bisa hidup layak d
    engan gaji sekecil gue
  • Semakin lama, kondisi perekonomian semakin buruk. Gue nggak tau bulan depan masih bisa hidup atau enggak
  • Gue nggak tau gue ingin jadi apa
  • Gue benci sama kantor gue, tapi kalo gue resign nanti nggak ada kantor lain yang mau nerima
  • Naik pangkat? Jangan ah. Ntar kalo gagal gimana?
  • Tentu aja dia naik pangkat. Rajin jilat pantat, pasti.
  • Dari dulu memang gue ditakdirkan apes
  • Gue nggak pinter, makanya nggak bisa sukses kayak orang lain
  • Orang tua gue asal-asalan nyekolahin gue, makanya gue jadi kaya gini sekarang
  • Gue nggak kebayang gimana caranya biar bisa hidup lebih baik
  • Orang emang gampang kasih nasehat. Mereka belum ngerasain susahnya hidup gue, sih.
  • Percuma gue kerja keras, toh tiap bulan gajinya cuma segitu-segitu aja
  • Orang lain enak punya duit buat refreshing. Gue boro-boro refreshing, makan aja susah. Makanya harap maklum kalo gue stress.
  • Gue udah ketuaan untuk nyoba hal baru
  • Kenapa sih nggak ada orang yang ngertiin gue
  • Orang lain enak, punya orang tua kaya buat minjem duit kalo butuh. Giliran gue, yang ada emak gue nodong mulu buat beli beras
  • Kalo ada orang baik sama gue, pasti ada maunya
  • Boss muji gue? Pasti dia salah orang.
  • “7 Habits”-nya Steven Covey? Itu kan buatan Amerika, mana bisa berlaku di sini
  • Luna Maya aja masih ngejomblo, apalagi gue yang jelek begini
  • Emang dunia makin parah. Kucing aja makin hari makin kurang ajar.

Pesan bagi para Dementor
Tema utama hidup kalian adalah: merasa diri sebagai orang paling apes sedunia. Padahal sekarang penduduk dunia ada 6.7 miliar orang. Jadi, lo harus mengalahkan keapesannya 6.699.999.999 orang. Itu nggak gampang, lho. Apa iya lo sehebat itu?

Gambar dementor gue pinjem dari sini

FAQ tentang Psikolog dan Psikologi


 

Di depan kampus psikologi UI

Sebenernya udah lama niat untuk bikin posting ini, tapi membaca sejumlah reply di posting berseri tentang psikotes, kayaknya inilah waktu yang tepat. Ini adalah jawaban yang biasanya gue berikan atas pertanyaan orang seputar psikolog dan psikologi.

Tentang Gelar dan Profesi

Apa sih bedanya psikolog dengan psikiater?

Psikolog adalah lulusan fakultas psikologi yang udah menyelesaikan pendidikan profesi psikolog. Sedangkan psikiater adalah dokter yang mengambil spesialisasi psikiatri. Jadi kalo ada dokter spesialis penyakit dalam (internis), dokter spesialis kebidanan (obs-gin), nah ada juga dokter yang spesialis menangani masalah kejiwaan, yaitu psikiater.

Lantas apa perbedaan masalah yang ditangani oleh psikolog dan psikiater?

Psikolog, menangani masalah yang berkaitan dengan aspek psikologis (kejiwaan), misalnya stress, rumah tagga yang kurang harmonis, masalah disiplin anak, dll. Psikiater, menangani masalah yang bersifat fisik / faali, misalnya gangguan jiwa akibat adanya kelainan pada otak / neurotransmitter, atau gangguan kejiwaan akibat penyalahgunaan obat. Sebagai dokter, psikiater juga berhak memberikan obat resep, sementara psikolog enggak.

Dokter gue panggil ‘dok’. Kalo ke psikolog gue musti panggil apa dong?

Ya tergantung siapa namanya.

Apa bedanya psikolog dengan sarjana psikologi?

Sarjana psikologi adalah orang yang berhasil menamatkan pendidikan di fakultas psikologi. Untuk menjadi ‘psikolog’, dia butuh minimal 2 tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikan profesi plus tentunya beberapa puluh juta perak untuk ongkos kuliah. Orang yang udah menamatkan pendidikan profesi dianggap memenuhi kualifikasi untuk melakukan kegiatan psikodiagnostik (psikotes dan sejenisnya).

Artinya, kalo udah lulus jadi psikolog, langsung boleh buka praktek?

Nggak, harus dia punya SRIP (Surat Rekomendasi Ijin Praktek) dulu. Untuk bisa dapet SRIP, seorang psikolog harus lulus tes khusus dan punya NPWP.

Tentang Kuliah di Fakultas Psikologi

Gue / adik gue / saudara gue tertarik masuk fakultas psikologi. Kira-kira orang kaya dia cocok nggak ya kuliah di sana?

Yang jelas orang yang sangat tertarik mengetahui lebih lanjut tentang sisi kejiwaan orang lain. Selain itu kemampuan memahami konsep-konsep verbal, misalnya gemar utak-atik definisi, juga akan sangat membantu.

Gue / adik gue / saudara gue paling anti sama segala hal yang berbau hitung-hitungan / angka, makanya dia mau masuk fakultas psikologi aja.

Oh jangan salah, bobot hitung-hitungan di psikologi juga lumayan lho! Di jaman gue kuliah dulu aja, Statistik kebagian porsi sampai 7 SKS. Belum lagi mata kuliah lain yang yang berkaitan dengan metodologi skala dan kuesioner – itu juga main itung-itungan banget. Kalo orangnya bener-bener anti sama hitung-hitungan, fakultas Psikologi bukan tempat pelarian yang tepat.

Kalo kuliah di psikologi, diajarin seks ya? => Thanks to beberapa majalah bergambar cewek seksi yang memajang nama ‘majalah psikologi populer’ serta beberapa film beradegan telanjang yang menyebut diri ‘psychological thriller’, pertanyaan semacam ini sempet naik daun di era 90-an. Biasanya diajukan sambil cengar-cengir mupeng.

Ya, sebagian (kecil) mata kuliah di psikologi membahas tentang perilaku seksual, tapi secara umum kami lebih banyak membahas masalah seksual sambil cengengesan di kantin, seperti umumnya mahasiswa fakultas-fakultas lain.

Tentang Baca Membaca Karakter

Elo kan psikolog, bisa ‘baca’ gue dong.

Bisa, kalo elonya memang bersedia untuk ‘dibaca’.

Loh, artinya kalo seseorang nggak bersedia untuk ‘dibaca’, maka psikolog juga nggak mampu untuk ‘membaca’nya?

Ya. Apalagi kalo orangnya lebih pinter dari psikolognya.

Kita udah ngobrol-ngobrol gini, pastinya elo udah bisa ngebaca ya, gue orangnya kaya apa…

Wah, enggak tuh.

Loh, kenapa?

Elo juga bisa baca abjad, kan? Apakah artinya elo akan baca semua tulisan yang lewat di depan mata lo?

Ya enggak juga sih. Pastinya gue cuma baca yang penting / menarik aja.

Ya, sama. Gue juga gitu: kalo nggak ada perlunya, ngapain gue baca-bacain elu? FYI, para psikolog nggak berkeliaran kesana – kemari dan keisengan ‘ngebacain’ semua orang. Kami juga punya beberapa pilihan kegiatan lain yang lebih menarik kok.

Gue / temen gue / saudara gue punya kebiasaan yang aneh deh, masa dia suka begini nih: [mendeskripsikan sebuah perilaku yang dinilai aneh]. Nah, orang kaya gitu tuh istilah psikologinya apa sih? Udah termasuk ‘gila’ belum?

Memberikan pernyataan ‘istilah psikologi’ untuk sebuah perilaku manusia itu namanya labelling. Yang namanya labelling itu harus dilakukan dengan cermat melalui tes, observasi dan wawancara langsung – dan hanya untuk tujuan yang jelas. Istilah ‘gila’ nggak pernah digunakan dalam konteks psikologi sebagai bidang ilmu, karena itu bukanlah terminologi ilmiah. Yang ada hanyalah klasifikasi dan istilah yang spesifik, misalnya ‘Gangguan Paranoid’.

Tentang Psikolog sebagai Individu

Psikolog kan katanya bisa membantu menyelesaikan masalah orang. Tapi kenapa giliran dirinya sendiri punya masalah, dia tetep butuh bantuan orang lain?

Analoginya seperti sikat. Gunanya kan untuk membersihkan kotoran. Tapi kalo sikat itu kotor, dia nggak bisa membersihkan dirinya sendiri. Sama dengan psikolog. Psikolog bekerja menggunakan pikirannya untuk menganalisa masalah yang ada di diri orang lain. Kalo pikirannya lagi terganggu, ya dia nggak akan bisa menggunakannya untuk membantu siapapun termasuk dirinya sendiri.

Psikolog katanya belajar untuk memahami orang lain. Tapi kenapa ada psikolog yang sok tau / sok pinter sendiri / galak / sinting?

Karena psikolog juga manusia dan sifat dasar manusia nggak otomatis berubah dengan pengetahuan yang dipelajari.

Tentang Psikotes

Besok gue mau ikutan psikotes nih. Ada tips nggak?

Tidur yang cukup, sebelum berangkat jangan lupa sarapan, dan jangan telat. Jangan lupa bawa alat tulis yang lengkap dan berdoa yang khusyuk sebelum mulai. Dengerin perintah dari petugasnya baik-baik, kalo ada pertanyaan tanyakan sebelum tes dimulai karena biasanya waktu tesnya mepet banget.

Ehm, maksud gue… minta bocoran kunci jawabannya, dodol.

Nggak bisa.

Pelit.

Ntar dulu, ada alasannya:

  1. Soal psikotes itu ada banyak banget macamnya. Gue kan nggak akan tau, besok yang mau keluar soal yang mana. Sedangkan kalo gue kasih kunci untuk semua tesnya, artinya lo harus bawa setumpuk buku yang masing-masing setebel bantal. Belum sempet nyontek juga waktunya udah keburu abis.
  2. Ada beberapa tes yang memang nggak ada kunci jawabannya, karena hasil tesnya sangat tergantung pada cara pengerjaan lo di kelas.
  3. Untuk tes kepribadian, nggak ada jawaban yang benar atau salah. Yang ada hanyalah jawaban yang sesuai atau nggak sesuai dengan tipe kepribadian di jabatan yang mau elu lamar. Gue nggak tau orang dengan kepribadian seperti apa yang dicari oleh perusahaan yang lo lamar, jadi gimana gue mau ngasih bocoran?
  4. Untuk menyusun sebuah alat tes butuh waktu dan tenaga yang nggak sedikit. Rancangan tes itu harus diuji coba berulang kali ke banyak responden, kadang sampe ribuan orang. Gue menghargai usaha yang nggak gampang itu dengan nggak membocorkan kunci jawabannya.
  5. Gue terikat kode etik psikologi untuk nggak membocorkan jawaban tes.
  6. Gue udah menghabiskan 7 tahun mondar – mandir dari rumah ke Depok, sempit-sempitan di KRL, kepanasan, kehausan, di kelas kengantukan denger dosen ngoceh, begadang sampe thypus untuk bikin makalah dan laporan, itupun hanya untuk dicela-cela sama dosen… jadi gimana ya, rada kurang rela aja gitu kalo sekarang harus ngasih gitu aja ilmu gue ke elu. Ya, untuk poin yang terakhir ini gue rela dikatain pelit. Tapi seandainya lo ngerasain jadi mahasiswa psikologi, lo akan mengerti kenapa.

Biarin ajalah kalo lo nggak mau ngasih. Toh gue liat di toko buku banyak dijual buku latihan psikotes.

Terserah kalo di luar sana ada psikolog yang gemar bocor-bocorin kunci psikotes, yang penting gue enggak. FYI, nggak semua buku yang dijual di toko memuat jawaban psikotes yang akurat. Sebagian hanya sekedar memirip-miripkan dengan jawaban psikotes yang asli. Artinya, kalo elo ikutin jawaban di buku itu mentah-mentah, malah akan rugi. Udahlah, PD aja dengan kemampuan sendiri kenapa sih?

Gue denger kalo ikutan psikotes kita akan disuruh nggambar. Gue sumpah nggak bisa nggambar sama sekali, gimana dong? Pasti nggak lulus ya?

Tes gambar di psikologi nggak dinilai dari keindahannya, jadi nggak ada hubungannya dengan keahlian ber-seni rupa. Buat aja gambar terbagus yang elo bisa.

Rata-rata psikolog kan udah tau kunci jawaban psikotes. Trus gimana caranya menyeleksi para psikolog untuk sebuah lowongan kerja?

Bisa dengan pake alat psikotes yang bener-bener baru dan belum dipakai secara luas. Tapi cara yang terbaik adalah lewat wawancara mendalam, misalnya Competence Based Interview.

Foto: gue, di depan kampus psikologi

Pengakuan: pengalaman gue dengan PSK dan Supertetra


Gue adalah orang yang percaya bahwa pengetahuan bisa datang dari mana aja. Tapi kadang, ada peristiwa di mana pengetahuan yang kita serap harus diteliti lebih lanjut. Bukan karena “salah” atau “nggak benar”, tapi karena ada “sisi lain” yang mungkin “perlu dipertimbangkan”. Mungkin pengalaman gue di bawah ini bisa sedikit memperjelas apa yang gue maksud 🙂

Sekitar tahun 1995, gue memulai sebuah program yang oleh anak-anak psikologi (UI?) disebut stage (dilafalkan: stasye) atau stasis – program praktek setelah 3.5 tahun sebelumnya cuma belajar teori doang. Kalo nggak salah sekarang program ini udah nggak ada, karena di fak. Psikologi jaman sekarang pendidikan akademis udah dipisah dengan pendidikan profesi.

Waktu itu gue lagi menjalani stasis di jurusan Psikologi Klinis. Salah satu tugas gue adalah mewawancarai para penghuni panti “M”, sebuah panti yang dikelola pemerintah, berlokasi di Jakarta Timur, yang menampung.. perempuan2 (yang dicurigai) sebagai PSK! Kenapa gue tulis ‘yang dicurigai’? Karena cukup banyak juga penghuni panti ini yang salah tangkap. Mereka masuk ke sini krn kemalaman di jalan, kepergok sama patroli Polisi Pamong Praja, kena garuk dan terperangkap di sini. Jadi kalo sekarang orang ribut soal razia perempuan malam2 di Tangerang, sebenernya praktek sejenis udah ada sejak lama di Jakarta. Masalahnya memang sulit membuktikan dan menarik garis tegas apakah seseorang itu PSK atau bukan. Jadinya ya… para petugas di sana tutup mata dan kuping aja, pokoknya kalo sampe kena garuk ya artinya mereka PSK. Titik.

Klien yang gue tangani di sana kita sebut aja bernama Nani. Berdasarkan hasil wawancara, dia ini sih kayaknya “beneran”, bukan salah garuk. Dengan polosnya dia menceritakan pengalaman pertamanya berkenalan dengan profesi yang sekarang, termasuk tarif yang biasa diterima. Dia biasanya beroperasi di sebuah hotel kecil di bilangan Pasar Baru.

Selama proses wawancara yang memakan waktu beberapa minggu itu, Nani sering mengeluh sakit. Katanya, dia udah lama menderita sejenis “infeksi perut”.

“Mas, bisa tolongin bawain obat buat saya nggak? Saya kan nggak boleh keluar dari sini, jadi nggak bisa beli obat. Tolong mas, sakit sekali,” kata Nani kalo sedang kumat.

“Memang biasanya minum obat apa sih?”

“Saya biasanya minum Supertetra Mas. Obatnya murah kok, tapi manjur. Kalo udah minum itu biasanya sakitnya hilang.”

Gue, tentu aja nggak tega melihat klien gue menderita. Lagian obat sebutir dua butir cuma berapa sih harganya, pikir gue. Tapi daripada salah, gue konsultasikan dulu dengan pembimbing gue dan ternyata ditolak mentah-mentah.

“Jangan! Di sana kita hanya bertugas mewawancarai mereka, nggak boleh lebih dari itu. Kalau sampe ketahuan mahasiswa sini membantu mereka dalam bentuk apapun, bisa2 ijin kita dicabut, nggak boleh praktek lagi di sana.”

Ya sudah, dengan sangat menyesal gue sampaikan berita tersebut kepada Nani walaupun dalam hati nggak tega ngeliat dia melintir-melintir kesakitan gitu.

Setelah proses wawancara selesai, tiba waktunya untuk bikin laporan. Laporan yang harus gue bikin lumayan tebel karena mencakup berbagai aspek psikologis sang klien. Lumayan stress juga bikinnya karena deadlinenya mepet banget. Ditambah lagi karena belum ada media penyimpanan online seperti Dropbox, yang bisa memudahkan kerja kita. Eh udah kondisinya kaya gitu, ‘musibah’ menimpa gue.

Gara-garanya ibu baru beli alat potong sayuran bernama SuperSlicer yang waktu itu lagi ngetop diiklanin di TV Media. Di tivi gue liat alat itu canggih banget, bisa motong aneka sayuran dengan gampang saking tajemnya. Dasar iseng, begitu liat ibu punya SuperSlicer diem2 gue nyomot sepotong timun busuk dan nyoba keampuhan alat itu. Sret-sret-sret, timun yang berukuran cukup besar itu terpotong dengan cepet dan gampang sekali, saking gampangnya sampe tau-tau SRET! Loh… kok jempol gue sakit? Loh, kok berdarah? Lha… ternyata jempol kanan gue ikutan teriris! Lumayan gede juga lukanya, ada secuil jempol gue tertinggal di alat itu. Darahnya ngalir keluar kayak dipompa sampe netes2 di lantai.

Dengan peralatan P3K seadanya gue obati luka itu sampe beberapa hari kemudian gue ngerasa badan gue makin nggak sehat. Gue demam, mata berkunang-kunang, pusing, jempol gue membengkak dan terasa nyut-nyutan. Padahal saat itu gue harus ngetik karena deadline nggak bisa ditawar-tawar. Gue udah coba obatin luka itu dengan cairan Betadine dan Sulfanilamide, bubuk pembersih luka, tapi nggak ada perbaikan. Kayaknya gue kena infeksi, karena sekarang bukan cuma jempol doang yang bengkak melainkan merambat sampe ke siku. Tangan kanan gue jadi segede tangan Popeye gitu. Sakitnya setengah mati. Melek pusing, tidur gelisah, serba salah.

Saat itulah gue teringat pada Nani dan obat Supertetranya. “Kata Nani, dia sakit infeksi dan sembuh kalo minum Supertetra. Hmm.. mungkin sebaiknya gue juga minum itu aja biar cepet sembuh dan bisa ngetik lagi,” pikir gue. Maka gue pergi ke apotik, beli Supertetra.

Gue inget waktu itu mas-mas penjaga apotik sempet nanya, “Mau beli Supertetra? Udah biasa pake?”
“Udah!” jawab gue sok yakin. Gue beli satu papan.

Sampe rumah, gue minum tuh obat. Bentuknya kaplet gitu, gede banget. Kurang lebih 2 kali ukuran kaplet Enervon-C deh. Abis minum Supertetra, gue tidur.

Tidur gue waktu itu gelisah banget, mimpi yang aneh2 dan serem2 termasuk mimpi kejeblos. Pernah kan mimpi kaya gitu? Serasa lagi kejeblos sampe kebangun? Sepanjang malam keringat mengucur sampe sprei gue basah kuyup.

Paginya gue bangun, dan… hei! Badan rasanya enak banget! Segar bugar, bengkak gue langsung kempes, dan tentu aja bisa ngetik laporan lagi. Dalam hati gue bersyukur dan berterima kasih atas pengetahuan dari Nani ini.

Beberapa bulan kemudian, kalo gak salah pas Lebaran, rumah rame dikunjungi sanak saudara. Ada salah seorang saudara gue yang dulunya kuliah di FISIP, jurusan Anthropologi. Gue ngobrol sama dia ngalor-ngidul termasuk pengalaman gue ketemu Nani, kena infeksi dan minum Supertetra.

Denger cerita gue dia ngakak nggak berenti-berenti.

“Tau nggak sih gung, Supertetra itu obat apa?”

“Obat infeksi, kalo kata klien gue sih…” jawab gue bingung.

“Iya memang dia obat infeksi. Dia itu sebenernya antibiotika dosis tinggi yang terkenal untuk mengobati… Sifilis dan G.O. !!!

Whuaaa.. gubraks… pantesan mas-mas penjaga apotik menatap gue dengan pandangan aneh gitu waktu gue beli Supertetra. Mungkin dia pikir, “kasihan sekali anak ini, masih muda gini udah ‘kena'” Huhuhuhu… siyal. Saudara gue itu cerita, dia dulu juga pernah kuliah praktek di lingkungan PSK, dan dari sana dia dapet pengetahuan tentang Supertetra ini. Bedanya, pengetahuan yang dia terima jauh lengkap dari gue!

Jadi anak-anak, pesan moralnya:

“seraplah pengetahuan dari lingkungan sebanyak-banyaknya, tapi jangan lupa bersikap kritis.”

Sekian.

Phobia vs Takut, apa bedanya?


Mencoba menjawab pertanyaan Soraya di journal yang ini, inilah penjelasan setau-taunya gue mengenai phobia. Kalo ada yang salah, mohon dikoreksi ya.

Menurut definisi di kumpulan definisinya google, phobia adalah:

…an uncontrollable, irrational, and persistent fear of a specific object, situation, or activity.(dari www.montefiore.org)
…an obsessive, persistent, unrealistic fear of an external object or situation.(dari www.dphilpotlaw.com)

Jadi intinya terletak di segi irrasional / unrealisticnya, phobia adalah rasa takut yang tidak rasional atas sesuatu yang spesifik.

Yang dimaksud dengan tidak rasional di sini adalah:

Dalam kasus phobia, rasa takut dipicu oleh stimulus yang tidak benar-benar menakutkan / mengancam keselamatan diri. Sedangkan kalau stimulus tersebut memang benar-benar berbahaya / mengancam, namanya bukan phobia lagi melainkan rasa takut yang wajar.

phobia adalah rasa takut yang tidak rasional atas sesuatu yang spesifik

Contoh:

Kalau misalnya kita lagi jalan-jalan di taman yang indah, menikmati kicau burung, matahari bersinar, dan bunga-bunga bermekaran, tiba-tiba anjing dobberman segede mesin jahit menyeruak dari balik dedaunan, menggonggong sambil bercucuran air liur, matanya bersinar buas, lantas doi mulai berlari ke arah kita, yang mana mengakibatkan kita lari lintang pukang sampai lupa mempertimbangkan harga diri dan martabat, sedemikian rupa sehingga belakangan menemukan bahwa celana menjadi basah di luar kontrol, itu namanya takut yang wajar. Obyeknya betul-betul ada, dan membahayakan diri kita.

Tapi kalau kita lagi baik-baik nonton tivi di rumah, lantas di tivi muncul film tentang anjing dobberman dan sebagai akibatnya kita merasa ketakutan setengah mati sedemikian rupa sehingga celana menjadi basah di luar kontrol, itu namanya phobia. Obyeknya di sini hanyalah gambar / film tentang anjing yang secara rasional tidak mungkin menyakiti / melukai kita, tapi kita merasakan ketakutan seperti sedang benar-benar terancam nyawanya.

Nah, karena perbedaan antara phobia dan rasa takut biasa hanyalah wajar / tidaknya si obyek untuk ditakuti, kadang orang suka keliru membedakan keduanya. Misalnya, orang lagi desak2an ngantri tiket kereta api menjelang mudik lebaran, di mana 3/4 penduduk Jakarta pada tumplek di Gambir (1/4 sisanya tumplek di Kampung Rambutan) sehingga boro-boro melangkah, buat napas aja susah, lantas jadi cemas takut kecopetan, takut keinjek-injek, takut dilabain sama orang sebelah, terus mikir, “wah jangan2 gue agoraphobia (phobia keramaian) nih.” => Ini bukanlah phobia karena:

  1. Obyek rasa takutnya (kecopetan, keinjek-injek, dan dilabain) memang wajar / mungkin terjadi, dan sedikit banyak memang cukup mengancam keselamatan kita.
  2. Obyek rasa takutnya tidak spesifik pada keramaiannya, melainkan pada berbagai kemungkinan yang dapat terjadi sebagai akibat dari keramaian tersebut. Yang namanya namanya agoraphobia tuh kalo penderitanya merasa panik setiap ada keramaian; nggak peduli ramai karena ngantri tiket, nonton konser, resepsi kawinan, atau Jakarta Fair. Pokoknya kalo ada kerumunan sejumlah besar orang dia akan merasa panik dan nggak bisa ditenangkan dengan pendekatan rasional.

Contoh:

Penderita Agoraphobia (PA): “Ya ampuuuun… banyak banget orang sih di sini, gue nggak kuat nih, gue takut, panik, dengkul gue gemetar, keringat dingin gue mengucur!!”

Temannya Penderita Agoraphobia nan Sabar dan Baik Hati (TPAnSdBH): “Apanya yang ditakutkan sih, lihat dong, semua orang nampak baik, nggak ada yang berniat mencelakakan elu di sini… tenang ya, sabar… nyebut… nyebut…”

PA: “Gue tahu, tapi tetep aja gue takut di sini…yuk, kita keluar aja dari sini…! Udah nggak kuat lagi nih…”

TPAnSdBH: “Ya nggak bisa gitu dong, lo harus tetep di sini….”

PA: “Ngga bisaaaa… ngga bisaaaa… gue mau pergi dari siniiii….banyak oraaangggg… gue nggak kuaaaat….!” (histeris)

TPAnSdBH: “Gini ya, gue bilangin baik2 nih. Pertama: nggak perlu teriak-teriak kayak gitu, elu jadi diliatin orang karena ini pesta resepsi pernikahan. Kedua: sangat nggak wajar kalo elu pergi dari sini karena elu pengantennya! Sekarang udah diem jangan banyak cingcong!”

Dulu, phobia diberi nama berdasarkan obyek spesifiknya. Phobia kucing ada namanya sendiri, phobia tikus ada namanya sendiri, phobia tempat tertutup ada namanya sendiri, dst. Lama-lama listnya jadi panjang dan kayaknya orang jadi pegel sendiri ngasih nama2 latin untuk phobia2 tsb, sehingga mulai di DSM III-R (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders jilid III-Revised = buku panduannya para psikolog untuk mengklasifikasi gangguan. Kalo gak salah sekarang udah terbit yang jilid IV), phobia digolongkan ke dalam 3 kategori saja yaitu:

Lama-lama listnya jadi panjang dan kayaknya orang jadi pegel sendiri ngasih nama2 latin untuk phobia2 tsb
  1. Agoraphobia
    Seperti udah dijelaskan, ini phobia pada keramaian.
  2. Social Phobia
    Kalo yang ini, phobia pada segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Bedakan dengan agoraphobia ya, kalo agoraphobia rasa takutnya lebih pada kerumunan / crowd sebagai satu kesatuan. Sedangkan kalo social phobia ini ketakutannya lebih pada konsekuensi2 negatif yang mungkin timbul akibat interaksi dengan orang lain. Contoh: takut untuk bicara di depan umum, takut untuk dikritik, takut untuk dihina / direndahkan, dsb.
  3. Simple Phobia
    Sedangkan yang ini adalah phobia2 aneh2 yang selama ini dikenal orang seperti phobia serangga, karet gelang, tikus, anjing, kucing, dsb.

Kembali ke pertanyaan Soraya, dengan demikian disimpulkan kalo timbul rasa was-was saat motor kesayangan dipake orang, itu tidak termasuk dalam phobia, melainkan rasa cemas biasa. Lain ceritanya kalo saat motor dipinjem sebentar buat ke warung trus Soraya nggak bisa berhenti berpikir, “Wah jangan2 motor gue keserempet yah? Jangan2 ketabrak truk? Jangan2 nyemplung got? Jangan2 bannya kempes? Jangan2 ketimpa pohon rubuh? Jangan2 dicuri? Jangan2 kesrempet trus oleng trus ngusruk ke pom bensin trus meledak?” dan seterusnya sehingga nggak bisa mikir / ngerjain yang lain, baru bisa dikategorikan sebagai gangguan obsesi. Tapi itu lain lagi ceritanya, dan nggak akan gue bahas di sini.

Semoga cukup menjawab pertanyaan Soraya, dan oh iya satu lagi: Psychology / Psikologi itu adalah disiplin ilmunya, sedangkan orangnya adalah Psychologist / Psikolog. Sama seperti Sosiolog untuk disiplin ilmu Sosiologi dan Anthropolog untuk disiplin ilmu Anthropologi. Jadi pertanyaan yang benar adalah “Any psychologIST who can explain this?” Ini perlu gue jelaskan juga karena memang masih cukup banyak orang yang keliru menyebut orang2 seperti gue sebagai ‘psikologi’.

“Buka dong sayang…” (insiden di depan Menara Kadin)


hi-istock-zipping-8col

Sore tadi, sekitar jam 1/2 7 gue lagi lewat di jembatan penyeberangan depan menara Kadin dalam rangka mau pulang. Tiba-tiba ada seorang mbak-mbak dari arah berlawanan mendatangi gue,
“Mas… Mas… tolongin dong Mas…”
Waduh, ada apa nih, pikir gue. Kalo harus ngelawan copet gue lagi agak kurang enak badan (bukan berarti kalo lagi enak badan sanggup).
“Kenapa Mbak?”
“Itu tuh Mas, di bawah jembatan situ ada exhibitionist, saya sih tadi nggak sempet ngeliat jelas (trus kenapa, nyesel? kikikik…wlEmoticon-smile.png), tapi kayaknya iya deh Mas…itu tuh orangnya yang naik motor… tolong dong Mas…”
“Trus saya harus ngapain, Mbak?” tanya gue dengan sabar, considering dia toh nggak akan lewat situ lagi, anyway.
“Ya Mas usir kek gimana gitu Mas… ngganggu lingkungan aja tuh orang… ih sebel….” habis itu si mbak melanjutkan perjalanan menyeberangi jembatan.

Gue turun jembatan, celingukan. Bener, ada orang nangkring di atas motornya, nggak jauh dari jembatan itu. Posisi gue waktu itu ada di belakangnya, jadi gue nggak bisa ngeliat jelas dia lagi ngapain. Yang jelas dia memang bukan tukang ojek, karena:

  1. Dia nggak bergerombol bersama tukang ojek lainnya.
  2. Dia nggak menawar-nawarkan jasa ojek kepada orang yang baru turun bis.
  3. Dia pake helm (sementara tukang ojek umumnya nunggu ketemu polisi dulu baru mau pake helm)

Gue mikiiir, aja… apa yang harus gue lakukan terhadap si kunyuk satu ini tanpa hrs menimbulkan kehebohan yang tidak perlu, ya?
….
….
….
(mikir)
….
….
….
wlEmoticon-winkingsmile.png dapet ide.

Gue berjalan mendekati dia, dan sekarang memposisikan diri di depannya. Si kunyuk awalnya nggak memperhatikan kehadiran gue, karena gue ngeliatin jalan belaga nunggu bis (padahal kan gue nunggu Kopaja).

Lama-lama gue mulai ngeliatin dia. Dia ngeliatin gue. Kami berpandangan. Gue tersenyum ramah. Dia nggak tau ngapain, yang keliatan cuma matanya doang karena ketutupan helm.

Gue mengalihkan pandangan, sedikit agak turun, sehingga sekarang menatap tepat ke… selangkangannya. FYI, si kunyuk ini make jaket kedodoran, dengan kedua tangan menangkup daerah situ. Kelihatannya kalo ada korban mendekat, baru dia beraksi menggelar “pertunjukan”. Dia mulai menatap gue curiga. Gue mengangguk kecil, sambil terus tersenyum dengan sedikit ekspresi mupeng. Dia mulai gelisah. Cngngngngngk… dia menstarter motor, beringsut beberapa meter ke depan. Sekarang posisinya kembali membelakangi gue.

Gue berjalan santai, sekarang kembali ada di depannya. Kembali main liat-liatan. Dia ngeliatin gue, sementara gue ngeliatin “itu”-nya. Dia celingukan. Nggak ada orang lain deket situ, cuma kami berdua. Dia mulai nampak khawatir. Apes bener, mungkin gitu pikirnya. Nangkring di sini nungguin mbak2, eh adanya malah ni homo gendut gila.

Akhirnya setelah beberapa menit si kunyuk memutuskan untuk lebih mengutamakan keselamatan diri daripada kenikmatan sesaat dan meluncur pergi.

Mission accomplished.

***

Buat yang belum familiar dengan exhibitionism, definisinya adalah:
The compulsive act of exposing the genitals, often in public, or to a specific person, for the purpose of sexual arousal and gratification.
sumber: www.ifsha.org/glossary.htm

…atau bahasa gampangnya, exhibitionist adalah orang yang demen pamer2 “barang”-nya seolah benda tersebut sedemikian indah dan pentingnya untuk dilihat sama orang lain, untuk kemudian mendapatkan kepuasan seksual dari kegiatan tersebut.

Kelainan ini bisa diderita baik oleh laki-laki maupun perempuan, tapi berkat tidak-adilnya dunia, para exhibitionist laki-laki lah yang lebih banyak menjadi buah bibir sehingga kesannya seolah-olah ini penyakit khusus kaum lelaki. Secara tidak langsung ini juga membuktikan bahwa kaum laki-laki lebih mampu bersifat toleran, tidak judgmental, tidak gumunan atau kagetan atas segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya.

Contoh perbedaan reaksi antara perempuan dan laki-laki dalam menghadapi kaum exhibitionist.

Perempuan
“…….” (seorang exhibitionist laki-laki memamerkan barangnya)
“AAAAWWWW… IIIIHHHHH…. JIJIIIIIIIIKKKKK…!!!! Gila kali tuh orang ya!!???” seorang korban perempuan akan menjerit-jerit histeris.

Laki-laki
“…….” (seorang exhibitionist perempuan memamerkan barangnya)
“Bentar… bentar mbak, saya nyalain rokok dulu… yak teruskan…” seorang korban laki-laki akan bersikap sabar, tawakal, dan bijaksana.

Sekedar tips bagi para perempuan kalo suatu kali ketemu sama makhluk jenis ini:
JANGAN menunjukkan ekspresi kaget, jijik, atau terintimidasi. Ini justru makin bikin pelakunya kesenengan. Makin kaget korbannya, makin tinggi rangsangan seksual yang dirasakan seorang exhibitionist. Tetap tenang, atau kalo ada nyali boleh juga niru reaksi salah satu temen gue,
“Yaelah Mas, barang segitu aja dipamer-pamerin, kecil tuh Mas, keciiil! Kesiaaaaan deh lu!”

Selamat mencoba.

eh iya, btw, nomor motornya si kunyuk itu tadi adalah B 8037 X motornya motor bebek warna item. next time kalo ketemu di jalan silakan dikempesin.

Gambar gue pinjem dari sini

%d blogger menyukai ini: