Aktivitas di Tanggal Cantik yang Nggak Bakal Terlupa


Entah kenapa, orang suka mengaitkan “tanggal cantik”, alias tanggal yang angkanya menunjukkan urutan yang simetris atau bisa dimaknai lebih, dengan kegiatan yang istimewa. Katanya, “karena momennya istimewa, nggak akan terulang lagi.”

Lha padahal kan mau tanggalnya cantik maupun demek, momennya sama-sama nggak bakal terulang lagi. Baik tanggal cantik 20 Januari 2001 (20012001) maupun tanggal ‘acak’ 16 Februari 2008 (16022008), misalnya, masing-masing cuma akan terjadi sekali, toh. Belum pernah ada tanggal diulang karena angkanya terlalu acak.

(lebih…)

Titik Terdekat ke Who Wants to be A Millionaire


Who Wants to be a Millionaire.

Salah satu impian terbesar gue adalah main dalam kuis ini. Buat orang yang seneng ngumpulin aneka pengetahuan kurang berguna seperti gue, kayaknya hanya kuis seperti itulah satu-satunya ajang untuk membuktikan bahwa pengetahuan yang kurang berguna pun bisa juga berguna.

Waktu itu pendaftaran pesertanya bisa lewat telepon dan sms. Gue ratusan kali nelepon dan kirim SMS – sekalipun tarifnya premium.

(lebih…)

ini dia untungnya punya istri ikutan oriflame


Beberapa minggu yang lalu, Dewi, seorang temen kuliah yang entah udah berapa tahun nggak ketemu tiba2 nelepon gue. “Gung, mau nggak jadi responden untuk survey gue?”
“Survey tentang apa?”
“Tentang krisis global”
“Tunggu… tunggu… lo mau bikin survey tentang krisis global, trus milih gue sebagai responden? Nggak salah? Emangnya ngerti apa gue tentang urusan ekonomi makro gitu?”
“Ini umum aja kok Gung, justru kita mau liat pendapat orang yang awam soal ekonomi.”
“Oh gitu. Ya udah terserah deh. Pokoknya jangan nyesel ya kalo ternyata gue bego banget. Bentuk surveynya gimana, focused group discussion gitu?”
“Bukan, jadi nanti gue kirimin CD, lo dengerin, trus nanti gue tanya-tanyain via telepon.”

Sampe di titik ini gue yakin sebagian besar pembaca udah bisa nebak ‘survey’ macam apa yang sebenernya dimaksud oleh Dewi. Tapi mari kita lanjutkan cerita. Sekitar seminggu kemudian, datanglah CD yang dijanjikan ke kantor gue. Penampakan sekilas sih keren, di covernya ada gambar cangkir ngepul yang secara fotografi nampak sangat profesional. Tapi berhubung di kantor gue nggak sempet mikirin yang lain-lain, tuh CD gue geletakin aja di meja. Niatnya ntar kalo udah sampe rumah baru gue dengerin.

“CD apaan nih gung?” Yang tertarik malah temen yang duduk di sebelah gue, namanya Gandhi.
“Tauk. CD survey katanya. Gue juga belum denger, baru dateng,” jawab gue.
Kebetulan, si Gandhi ini adalah orang yang punya mata super. Dia jeli banget ngebaca aneka tulisan yang berukuran super kecil. Monitor komputernya aja disetel untuk menampilkan huruf – huruf super mini, mungkin ukuran 4pt kali, yang nyaris nggak kebaca sama orang biasa. Dia mengamat-amati CD itu dengan tampang tertarik, terus nanya, “Gung, NETWORK TWENTY ONE itu apa?”
OH SH*T! Gue tau banget itu apa! “Mana, emang ada tulisan ‘Network Twenty One’-nya?!”
“Ini,” kata Gandhi sambil nunjuk ring bagian dalam CD itu. Bayangin, tulisannya warna perak hologram, ditulis di atas kepingan CD yang berkilau itu, ukurannya segede tulisan catatan kaki di bagian bawah formulir setoran bank, dan tetep si Gandhi ini bisa baca. Luar biasa!
Gue jelasin sekilas Network Twenty One itu apa, Gandhi cuma manggut-manggut dan abis itu kehilangan minat terhadap si CD.

Kebetulan nggak lama kemudian si Dewi nelepon, dan langsung gue sambut dengan “Wi, kalo mau nawarin MLM ngapain pake bilang mau survey siiih….”
“Huaa… kok lo tau sih gung? Udah dengerin CD-nya?”
“Belum. Untung temen gue bermata elang.”
“Heh?”
“Ah nggak papa. Ya udah pokoknya gue udah pernah ditawarin ginian Wi, dan sori aja gue nggak tertarik deh. Lagian istri gue juga udah ikutan Oriflame tuh. Udah cukup lah satu MLM dalam kehidupan gue Wi.”
“Tapi gue mau coba jelasin dulu gung. Mungkin buat orang kantoran seperti elu, kurang tertarik dengan prospek punya bisnis sendiri ya…”
“Mmm… pernah denger kotakkue.com Wi?”
“Belum. Apaan tuh?”
“Hehehe… ah enggak. Ok, jadi kapan lu mau jelasin tentang MLM lo ini?”

Dewi memilih hari ini untuk berkunjung ke rumah gue menjelaskan “potensi bisnis di tengah krisis global”. Sebuah pilihan tepat karena hari ini Ida lagi nggak banyak pesenan. Dia dateng on-time jam 11, dan setelah pembicaraan mengarah ke MLM dia bilang, “Mungkin lebih baik gue setelin VCD presentasi tentang bisnis ini ya gung.”
“Boleh”

Videonya menampilkan ikon yang kondang banget dari bisnisnya, seorang mantan pegawai Citibank yang sekarang kaya raya menikmati ‘kebebasan finansial’-nya. Si ikon ini mulai dengan penjelasan tentang prospek kehidupan yang lebih baik, saluran penjualan, dst dst.

“Suami, skip aja langsung ke bagian skema bisnisnya,” kata Ida yang ikutan nonton dengan serius. Video gue FF ke bagian di mana si ikon mulai menggambar pohon downline dan potensi pendapatan pasif yang bisa didapat.
“Sebenernya kenapa sih elu nggak tertarik menjalankan bisnis ini gung?” tanya Dewi di sela-sela pemutaran video.
“Karena gue orangnya males ngerekrut Wi. Nggak kayak istri gue nih, dia sih hebat banget deh kalo udah urusan ngerekrut orang. Coba istri, ceritakan sekarang udah punya downline berapa di Oriflame?”
“Yah, sekitar 50 orang mbak, dalam 2 bulan…”
“Wah, cepat sekali ya!”
“Jadi gini mbak, kalo di Oriflame itu sistemnya…. oh sebentar, mungkin lebih baik saya jelasin dengan skema aja ya…” Maka keluarlah ‘map sakti’ bertuliskan “BOSS” yang selama ini jadi alat bantu Ida kalo lagi presentasi Oriflame.

WhatsApp Image 2017-10-17 at 18.09.30
Sementara gue, diam-diam mengendap-endap balik ke depan komputer, dan kembali main internet. Alhamdulillah, gue bersyukur punya istri ikutan Oriflame, lumayan bisa jadi bemper kalo lagi diprospek MLM lain. Win-win solution, kan… yang nawarin seneng karena ketemu orang yang berminat dengan MLM, waktu gue untuk main internet nggak terganggu, dan kalo sekiranya orang tsb malah tertarik ikutan Oriflame, juga menguntungkan buat Ida, kan? Ayo siapa lagi yang mau memprospek gue MLM, nanti gue amprokin sama Ida deh! 🙂

foto: adegan pertempuran seru antara 2 agen MLM tadi siang di rumah gue.

Kalo Psikolog ikut Psikotes (1/4): gara-gara makan siang


oldphotos-jd-dekan
Dua minggu yang lalu, gue ketemu seorang temen lama waktu makan siang. Ngobrol punya ngobrol, sampailah pada topik pekerjaan masing-masing dan tiba-tiba aja temen gue ini bilang, “Eh… gung, gue baru inget, kantor gue kayaknya lagi nyari orang yang kualifikasinya pas sama elu. Mau nyoba nggak? E-mail-in CV lu yah!”

Sebenernya gue sih merasa happy-happy aja di kantor yang sekarang, tapi kan buru-buru menolak rejeki tanpa meneliti lebih lanjut itu tidak baik. Maka gue kirimkanlah CV terbaru kepada beliau.

Pagi CV dikirim, siangnya temen gue langsung nelepon minta gue dateng ke kantornya menemui calon user yang lagi buka lowongan itu. Yo wis, iseng-iseng gue mampir. Ngobrol-ngobrol sebentar, tau-tau si bapak itu bilang, “Mas agung, kalau begitu saya jadwalkan ikut PSIKOTES yah!”

Apa?! Ikut psikotes? Gue?

Sebagai psikolog yang menjunjung tinggi kode etik psikologi, gue sampaikanlah duduk permasalahannya kepada beliau, “Begini pak, saya sih nggak keberatan ya ikut psikotest, tapi masalahnya saya kan psikolog pak… kemungkinan besar saya udah tau kunci jawaban soal-soal psikotest yang nantinya akan keluar. Gimana?”

“Yah soalnya sudah prosedur di perusahaan ini semua calon pegawai harus ikut psikotest…” kata calon user. “Tentunya dengan latar belakang Mas Agung sebagai psikolog kami akan minta bantuan biro psikologi yang bagus – minimal mereka bisa bantu saya untuk menggali potensi Anda lewat wawancara yang mendalam.”

Gue pikir-pikir, lucu juga kali ya ikut psikotes. Nggak akan ada ruginya juga karena:

  1. Kalau memang bener biro psikologi yang ditunjuk untuk mengetes gue adalah biro yang ‘bagus’ maka gue bisa nambah pengetahuan tentang metode / alat-alat psikotes terbaru.
  2. Kalau ternyata enggak sebagus itu, lumayan bisa buat bahan posting di MP :-))

… tentunya sampai di titik ini kalian udah mulai bisa menebak; dari 2 poin di atas yang mana yang kemudian terjadi. Tapi baiklah, mari kita lanjutkan cerita.

Tadi pagi, gue datang ke biro psikologi yang ditunjuk, yang berlokasi nggak jauh dari pasar Santa. Waktu baca surat pengantarnya, perasaan gue udah mulai rada nggak enak karena gue nggak pernah denger nama biro itu dalam daftar biro ‘papan atas’ di Jakarta. Tapi… ‘ah, mungkin guenya aja kali yang kuper’, pikir gue.

Sesuai dengan panduan tata cara mengikuti psikotes yang baik dan benar, gue udah sampe lokasi setengah jam sebelum mulai. Gue liat-liat… hmm… gedungnya kok gedung tua ya? Perasaan tidak enak kembali muncul, tapi gue masih mencoba positive thinking.

Jam 8 teng dipanggil masuk, gue ikutan barisan para peserta lainnya sambil tergeli-geli dalam hati. Sebagai informasi, sebelum lulus kuliah pun gue udah sering diajak para senior bantu-bantu proyek psikotes (istilahnya “ngasong”). Setelah lulus, gue kerja di 2 perusahaan konsultan yang kerjaan utamanya bikin psikotes. Waktu di BPPN, walaupun gue udah nggak kerja di bagian recruitment, tapi masih suka ikutan bantuin beberapa proyek psikotes “asongan”. Setelah keluar dari BPPN, gue kembali ngurusin recruitment di perusahaan perkapalan selama setahun. Jadi kalo ditotal, mungkin gue udah melewati ribuan jam menangani proses psikotes. Tanpa niat ngapalin pun gue dengan sendirinya akan hapal kunci jawaban aneka alat tes. Trus hari ini gue disuruh ikut psikotes aja gitu.

Begitu masuk ruangan, masing-masing peserta difoto – dan asli gue bengong liat kameranya. Kameranya adalah kamera berbentuk kubus dengan 4 lensa yang mungkin udah dipake buat bikin pas foto di jalan Sabang sejak jaman Pak Harto masih kuat mancing dan main golf. Dengan kata lain: kamera jadul abis. Masih difungsikan penuh di tahun 2007 di mana kamera digital bisa dibeli dengan harga kurang dari sejuta perak. Ok, ok… don’t judge a ‘biro psikotes’ from its jadul camera.

Tapi… bagaimana dengan formulirnya? Gue disodori sebuah formulir isian yang lagi-lagi bikin gue bengong. Cuma selembar kertas dengan isian data standar seperti tanggal lahir dan alamat, plus sebuah tabel riwayat pendidikan SEJAK SD. Nggak ada isian riwayat kerja sedikitpun. Ini apa sih, formulir pendaftaran MASUK KULIAH? Ya sud… tanpa banyak cingcong gue isilah tuh formulir dan gue kembalikan kepada petugasnya. Eh nggak lama kemudian petugasnya balik ke meja gue.

“Pak, ini isiannya kurang lengkap”
“Sebelah mananya?”
“Ini kolom ‘keterangan’ di sebelah nama sekolah, belum diisi.”
“Saya harus isi dengan keterangan apa?” tanya gue dengan sabar.
“Ya diisi dengan keterangan LULUS atau TIDAK LULUS gitu pak.”
“…”

Ya deh, ya deh… gue ngaku. Gue sebenernya nggak lulus SD, tapi berhubung orang tua gue kuat nyogok maka gue bisa lulus jadi psikolog.

Tapi sebagai peserta tes yang baik dan benar, gue lengkapi lah kolom keterangan itu dengan pernyataan “LULUS”. Dan mulailah lembar-lembar tes dibagikan. Whuii… gue sampe nggak sabar ingin segera liat soal psikotes tercanggih di biro yang bagus ini.

[bersambung]

foto: gue, waktu diwisuda jadi psikolog

Nyoba ah


Tim SDM BPPN

my first journal… pingin tau jadinya kaya apa.

Here’s me and my IBRA gang.

Yungki yang paling depan, belakangnya Eko, sebelah kirinya Irvandi, Ratna, Shanti, Wilsa, Inong, Tonny. Di belakangnya Gue, Landy, Avron. 

%d blogger menyukai ini: