Iklan

[Menuju Langsing] Berdamai dengan Makanan (03)


Sumber

Gue, dan mungkin ribuan orang lain yang bobotnya berada di sisi kanan layar timbangan, punya hubungan cinta tapi benci dengan makanan. Kami sangat doyan makan, tapi akibat dari kedoyanan yang teramat sangat itu membuat kami menderita. Pihak yang kami salahkan sebagai biang keladi? Tentu aja makanannya. Pihak yang menghibur kami kalau lagi kesal? Ya makanan juga. Begitu aja terus, terjebak dalam lingkaran setan tiada akhir.

Atau mungkin kalian lebih akrab dengan skenario berikut: makanan terbagi menjadi makanan jahat dan makanan baik. Kalau kita makan makanan yang “jahat” maka kita harus “dihukum” dengan melaparkan diri sesudahnya, atau dengan olah raga sebagai “penebus dosa“. Kalo yang dimakan adalah makanan “baik“, bebas mau makan seberapa banyak pun. Dijadiin cemilan juga boleh.

Sounds familiar?

Lalu gue menemukan video ini:

Selanjutnya…

Iklan

[Menuju Langsing] Ketika Perut Nggak Lagi Bisa Diandalkan (02)


 

orang makan pasta
sumber

Setelah beberapa hari menjalani intermittent fasting, gue merasakan sebuah keajaiban, suatu mukjizat, yang belum pernah gue rasakan sebelumnya:

Gue cepet kenyang.

Ini kondisi yang aneh dan cukup meresahkan. Soalnya gini:

Selengkapnya…

[Menuju Langsing] Kenalan (Lagi) dengan Intermittent Fasting (01)


intermittent_fasting

Pembaca lama blog ini mungkin udah mulai apal (baca: bosen) baca upaya-upaya gue melangsingkan badan. Berawal di tahun 2007, waktu lagi rajin-rajinnya ngegym, lalu tahun 2011 waktu jualan suplemen kesehatan, dan terakhir tahun 2015, waktu gue coba-coba nggak minum gula.

Kalo udah sekian lama dan sekian banyak cara gue coba, kenapa gue nggak langsing-langsing juga? Jawabannya adalah karena cara-cara yang gue coba sebelumnya, walaupun efektif dalam waktu pendek, tapi nggak berkesinambungan (sustainable), karena nggak bisa masuk jadi bagian dari kegiatan sehari–hari gue.

Lewat serial posting ini gue mau meninjau ulang kegagalan cara-cara melangsing yang pernah gue coba, sambil melaporkan cara terbaru yang sekarang lagi gue coba, yang sejauh ini udah berhasil bikin bobot gue turun 10 kilo, dan mudah-mudahan akan jadi cara melangsing gue yang terakhir.

Mari kita mulai.

(lebih…)

Mau Berhenti Ngerokok? Gampang, Ini Caranya!


STOP_ROKOK

Kalo elu adalah perokok yang lagi nyari cara untuk berhenti, lu sampe di halaman yang tepat. Di posting ini, gue akan cerita tentang apa aja yang gue pelajari dari pengalaman gue berhenti ngerokok, bukan cuma sekali, tapi DUA kali!

Ya, seperti pernah gue ceritain di posting yang ini, gue pernah sukses berhenti ngerokok selama sekitar 11 bulan dari tahun 2011 sampe 2012. Tapi karena sotoy, sok merasa jago udah berhasil ngalahin rokok, gue iseng-iseng ngerokok lagi dan akhirnya… kumat. Tanggal 17 November 2014 gue memulai percobaan kedua untuk berhenti ngerokok, dan sampe sampe posting ini ditulis, hampir 12 bulan kemudian, masih sukses bertahan nggak ngerokok.

Karena berhenti ngerokok itu bikin hidup gue jauh lebih baik, maka di sini gue mencoba berbagi  pengalaman. Kali aja ada yang tertarik nyoba dan merasakan manfaat yang sama. Silakan ditiru kalo merasa cocok! (lebih…)

Coba-Coba Gak Minum Gula Sebulan, Ternyata Begini Akibatnya


infus

Sejak keberhasilannya ‘puasa’ yang manis-manis sebulan penuh, Rafi mulai sering menggugat. 

“Bapak curang! Kenapa cuma aku yang nggak boleh minum manis? Kenapa Bapak boleh?”

“Loh, siapa bilang kamu nggak boleh? Kamu boleh minum manis, tapi… kalo nggak minum manis, dapet hadiah,” jawab gue, “Lagipula, Bapak kan olah raganya jauh lebih banyak daripada kamu.”

Tapi diem-diem gue mikir juga, “Apa iya, konsumsi gula gue udah ideal?”

(lebih…)

Tantangan Manis untuk Rafi


Hari ini, dalam sebuah meeting tentang website intranet, omongan mengarah ke blog.

“Agung memangnya suka ngeblog ya?”

“Oh iya!” jawab gue yakin. “Tapi… udah lama nggak di-update…” sambung gue pelan.

Parah memang, blog ini udah berbulan-bulan nggak di-update. Padahal ngakunya blogger.

Maka dalam rangka Hari Blogger Nasional, gue persembahkan posting baru buat kalian semua, para pembaca blog ini. Kalo masih ada.

Selamat Hari Blogger!

===

IMG_20150802_083159
Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali sama segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya gue dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis. (lebih…)

Kisah Horror: Bukan Bocah Biasa


horror_bed_composite2

Sebelumnya, harap maklum, gue cerita begini bukan untuk nakut-nakutin, tapi sekedar berbagi untuk diambil hikmahnya bersama.

Terus terang ini bukan pengalaman gue sendiri, melainkan pengalaman seorang temen. Sebut aja namanya Rita. Begini ceritanya:

(lebih…)

[2012-025] 4 Layanan yang Seharusnya Ada di Rumah Sakit Bersalin Elit


Beberapa minggu (atau bulan, ya? – mulai sering kehilangan orientasi waktu gini) yang lalu gue jenguk seorang teman melahirkan. Setelah pertanyaan standar seperti berat dan panjang bayi berapa, lahir normal atau cesar, dan ASI keluar atau enggak, topik obrolan beralih ke mahalnya biaya melahirkan di rumah sakit. Sebuah rumah sakit terkenal memasang tarif persalinan normal menginap 3 hari 2 malam sebesar 25 (yak betul, DUA PULUH LIMA) JUTA. Kalo pake operasi, tambah 15 juta lagi alias jadi 40 (EMPAT PULUH) JUTA. Masih kurang nendang? Lu juga bisa melahirkan di kamar Super VIP dengan biaya tembus 3 digit alias 100 (SERATUS) JUTA seperti ibu seleb yang satu ini. Hu to the An to the Jret!

Gue mikir, kira-kira layanan macam apa sih yang disediakan sampe ‘tega’ pasang tarif setinggi itu? Kamar luas? Makanan dimasak oleh chef? Hotel bintang 5 di Jakarta, rate per malamnya kira-kira 5 jutaan. Nginep 3 hari 2 malam kan cuma 10 juta. OK deh, kali ibunya betah, jadi nambah semalem lagi. Cuma abis 15 juta. Trus yang 85 juta buat bayar apanya ya?

Kalo menurut gue, rumah sakit bersalin boleh-boleh aja pasang tarif mahal asalkan mereka sanggup ngasih fasilitas kayak gini: (lebih…)

[2012-018] Singkatan Jenius yang Meleset


Dua hari yang lalu, gue berkunjung ke sebuah rumah sakit dalam rangka medical check-up tahunan waktu ngelihat poster ini:

delapan - deteksi berkala payudara anda
Ini adalah poster kampanye agar para perempuan rajin memeriksa payudaranya sendiri setiap tanggal 8, biar kalo ada penyakit cepet ketahuan. Sekilas kampanye ini cukup cerdas, karena:
  • Bentuk angka 8-nya udah mengingatkan pada bagian mana yang harus rajin diperiksa
  • Tulisan ‘Delapan’-nya bisa dirangkai-rangkai menjadi kepanjangan yang kayaknya cukup iye yaitu “DEteksi berkaLA Payudara ANda”
Tapi apakah benar kepanjangan itu nyambung dengan tema kampanyenya?
Menurut gue agak melenceng, kalo nggak mau dibilang mengarah ke penyalahgunaan.
Permasalahannya terletak pada kata “Deteksi”. (lebih…)

[Herbalife Diary 014] Efek samping melangsing


celengan penampung uang rokok“Makan hanya sampe lapernya hilang itu susah! Gue kalo makan ya harus sampe kenyang.”

“Ngemil kok sayuran. Nggak ketelen.

“Perut gue perut Indonesia. Nggak mungkin ngurangin makan nasi.”

Itu adalah sebagian reaksi orang waktu denger penjelasan gue tentang program pelangsingan yang gue jalanin sekarang ini. Reaksi gue biasanya adalah, “Susah itu relatif. Semua alasan yang lu bilang tadi kan adanya cuma di pikiran lu doang. Kalo lu bisa ngontrol pikiran, nggak ada yang susah.”

Tapi sambil ngomong gitu ada satu hal yang mengganggu pikiran gue. Gue sendiri belum sepenuhnya bisa mengontrol pikiran untuk hidup lebih sehat, yaitu kebiasaan ngerokok. Padahal, secara teoritis seharusnya menaklukkan rokok lebih gampang daripada mengatur makanan. Ini alasannya:

  • Makan itu memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis. Artinya cakupan peristiwa yang memunculkan kebutuhan untuk makan itu lebih luas: bisa karena lapar betulan (biologis) atau karena stress dan butuh hiburan (psikologis). Rokok, cuma memenuhi kebutuhan psikologis doang. Nggak ada kebutuhan atas rokok yang bersifat nyata / fisik.
  • Sesudah makan, baik lapar betulan atau lapar iseng, kita akan merasa lebih baik. Lidah terhibur, perut kenyang, badan lebih berenergi. Artinya dorongan untuk makan lebih menggoda karena kita tahu sesudahnya akan ada hal menyenangkan yang menunggu. Sedangkan rokok, sejujurnya, nggak membuat badan kita lebih baik. Kalo gue telaah balik sensasi yang gue rasakan saat ngerokok, sebenernya saat-saat yang paling menyenangkan itu adalah saat nyalain sama beberapa isapan pertama doang. Selebihnya, sensasi menyenangkannya terus menurun: mata pedes kena asep, badan ketempelan bau aneh yang nggak bisa ilang seharian, saluran pernafasan juga nggak bisa dibilang nyaman kemasukan asep segitu banyak. Bahkan kalo lagi laper, rokok bisa bikin keliyengan. Makanya gue nggak pernah tertarik dengan perdebatan apakah saat puasa kita boleh ngerokok atau enggak. Sekalipun boleh, ngerokok saat lagi lapar dan haus itu bodoh.
  • Sebagai kebutuhan fisik, kebutuhan makan timbul dengan sendirinya. Tanpa harus diajarin pun kita bisa mengenali lapar sejak bayi. Melawan kebutuhan biologis itu memang berat, karena biar gimana badan kita punya serangkaian proses yang harus diikuti dan dipenuhi. Lu coba nahan kayak gimanapun, badan akan memaksakan agar kebutuhannya terpenuhi, dengan cara apapun. Nggak percaya? Coba deh nahan buang air bangsa seminggu.Rokok, seperti halnya butir-butir Pancasila yang kita denger selama 100 jam waktu mulai kuliah, adalah hasil belajar. Kalo sekarang gue bisa lupa segala macem butir-butir Pancasila itu, maka gue pasti juga bisa melupakan rokok.

Gue paling anti sama orang yang cuma bisa ngomong teori doang, jadi terus terang gue terganggu sama diri gue sendiri yang mempropagandakan kebiasaan mengendalikan pikiran untuk mengatur makan tapi nggak mampu mengendalikan pikiran untuk stop ngerokok. Padahal, seperti yang barusan gue bilang, mengendalikan makan itu sebenernya lebih susah daripada berhenti merokok. Yang lebih susah dikendalikan aja, selama beberapa bulan terakhir bisa gue atasi. Trus, kenapa nggak sekalian aja gue mengendalikan rokok?

Kebetulan, gue menemukan sebuah aplikasi sederhana berbasis Android yang intinya mengubah sudut pandang untuk stop merokok. Nanti akan gue tulis lebih lengkap di review tentang aplikasi ini, tapi yang jelas aplikasi ini mengajak kita melihat berhenti merokok bukan sebagai upaya untuk bertahan dari godaan, tapi sebagai kegiatan aktif untuk membangun badan yang lebih sehat.

Gue mulai menginstall aplikasi ini sekitar tanggal 10 Juni. Sempet berapa kali gagal dan tergoda untuk ngerokok lagi, akhirnya gue berhasil mematikan rokok terakhir gue tanggal 13 Juni 2011. Sekarang gue udah menjelang hari ke 7 sama sekali bebas dari asap rokok!

Trus apa hubungannya dengan program melangsing? Poin gue: melangsing itu intinya mengalahkan diri sendiri. Saat kita berhasil melangsing, kita tau bahwa kita berkuasa penuh atas tindakan kita. Mind over matter. Kita bisa mengatur badan kita melakukan apapun yang kita mau. Dan sebagai mahluk yang punya insting survival, pasti yang kita inginkan adalah hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidup. Sama seperti kucing lebih suka tidur di tempat tinggi atau ikan menyelam ke dasar kolam waktu hujan, karena secara insting mereka tahu di sana lebih aman dari bahaya. Sebagai racun, rokok jelas bertentangan dengan prinsip survival, maka secara logis pikiran kita tahu benda itu nggak baik untuk didekati. Masalahnya tinggal seberapa kuat pikiran kita mengatur tindakan kita.

Dari program melangsing, gue tau bahwa gue mampu mengendalikan keinginan makan. Maka gue tertantang untuk jajal kemampuan di bidang rokok.

Gue seumur-umur tukang makan, bisa turun 19.5 kilo dalam 5 bulan. Gue perokok selama 26 tahun, juga bisa berhenti.

Kalo elu bener-bener menginginkan, lu pasti bisa.

Foto: celengan tempat menampung duit yang dulunya gue habiskan buat beli rokok. Ternyata baru seminggu berhenti, isinya dah banyak lho.

[Herbalife Diary 012] udah seberat ini yang gue buang



dari 102.3 kg ke 82.8 kg, 19.5 kg dalam 6 bulan.

Setara dengan bobot 1 botol air minum galonan.
Nggak pake lapar, nggak pake lemes. Kalian juga bisa!

Mau? Kontak gue di si.mbot@gmail.com ya!

[Herbalife Diary 011] Nggak sempet olah raga? Ah, masa?


color colour fitness health

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Gue ingin langsing, tapi nggak sempet olah raga. Cukup nggak kalo dengan hanya disiplin minum Herbalife aja?”
Jawabannya, sayang sekali, enggak.

Bahkan di website resmi Herbalife sendiri tertulis, “A healthy diet and regular physical activity are major factors in the promotion and maintenance of good health throughout your life.” Jadi, untuk langsing sehat ala Herbalife, olah raga juga perlu. Pertanyaannya, gimana dengan mereka yang ‘nggak sempet’ olah raga?

Pertama-tama gue perjelas dulu batasan ‘olah raga’ dengan tujuan pelangsingan adalah, “30 menit non-stop dengan intensitas sedang.” Maksudnya, intensitas di mana kita mencapai denyut nadi minimal 70% dari denyut nadi maksimal. FYI, denyut nadi maksimal kita = 220 – umur. Jadi untuk gue yang umurnya 37 tahun ini, denyut nadi maksimalnya 183. Nah, pembakaran lemak optimal terjadi saat denyut nadi gue mencapai 70% dari 183 = 128 kali per menit. Cara ngitungnya, pegang nadi yang berdenyut sambil lihat jam selama 15 detik. Hasil hitungannya dikalikan 4.

Batasan 70% itu sendiri sebenernya sangat gampang tercapai. Coba aja naik tanggal bangsa 2 – 3 lantai, atau lari-lari ngejar busway yang mau berangkat di seberang jalan – denyut nadi lu kemungkinan besar akan mencapai 70% denyut maksimal, bisa juga lebih.

Kesimpulannya: waktu yang diperlukan cuma 30 menit, batasan intensitasnya juga relatif mudah dicapai. Artinya kalau ada orang bilang dia terlalu ‘sibuk’ untuk meluangkan waktu selama 30 menit, permasalahannya biasanya cuma salah satu di antara 2: kurang niat atau kurang jeli mencari peluang.

Untuk yang kurang niat gue nggak akan bahas deh. Dari semua aspek program pelangsingan, aspek niat adalah yang paling mahal harganya karena nggak bisa didapat dari manapun kecuali dari diri sendiri. Kalo ada orang bilang, “gue ingin langsing, tapi males diet / olah raga kayak elu, gimana ya?” biasanya akan gue jawab dengan “iya ya, gimana ya?” Kalo problem lu dalam melangsing adalah niat, sori, gue nggak bisa bantu. Itu harus lu selesaikan sendiri.

Sedangkan buat yang kurang jeli melihat peluang, berikut beberapa ide yang bisa lu coba untuk mendapatkan 30 menit olah raga di sela kesibukan lu:

  • buat yang jarak kantor ke rumahnya sekitar 3 KM, ini yang paling gampang: pulang kantor jalan kaki. Kalo kecepatan jalan lu sekitar 6 KM/ jam, maka jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Kenapa gue sarankan jalan kaki pulangnya, bukan berangkatnya? Karena kalo berangkatnya nanti sampe kantor lu keringetan, bau kelek, nggak konsentrasi kerja, ngantukan, dllsb sehingga akhirnya dipanggil boss dan saat ditanya boss lu jawab “soalnya saya baca di blognya si mbot saya harus rajin jalan kaki.” Nah, paling males deh gue tersangkut paut dalam kekisruhan karir orang.
  • bike to work
  • buat yang pulang kantornya naik kendaraan umum, turunnya nggak usah persis depan rumah. Turun beberapa halte lebih awal. Atau, yang biasanya naik ojek setelah turun dari bis, coba sekali-sekali jalan kaki sampe rumah.
  • buat yang kantornya di gedung bertingkat, coba saat mau pulang, sesampainya di lantai paling bawah naik tangga darurat lagi beberapa lantai ke atas. Baru abis itu turun lagi pake lift. Atau pake tangga lagi juga lebih bagus.
  • buat yang biasa nitip sama OB untuk beliin makan siang, sekali-sekali ikutan sama OB-nya jalan-jalan beli makan siang. Atau, cegat OBnya di pintu keluar, minta daftar makanan yang harus dia beli, terus elu yang jalan. OB-nya disuruh ngadem di kantor. Pasti dia senang (walau mungkin bingung). Asa duit tipnya nggak lu sikat aja.
  • jalan-jalan di mal memang lumayan, karena ada unsur jalan kakinya. Masalahnya kalo jalan di mal cenderung pelan, udah gitu banyak berhentinya saat nemu tulisan ‘DISCOUNT’. Makanya weekend jangan diisi dengan nge-mal, coba jalan-jalan ke bonbin atau kebon raya – pokoknya tempat yang lebih luas dan lebih memungkinkan untuk berjalan lebih cepat. Selain lebih sehat dijamin lebih irit.
  • lu selalu bisa bangun 30 menit lebih awal untuk jogging / sepedaan keliling komplek sebelum berangkat ke kantor
  • ngantornya di rumah? Malah lebih bagus lagi: beli DVD aerobic, lu bisa olah raga di ruang tamu.

Poin gue adalah: semua orang pasti bisa memasukkan 30 menit olah raga dalam 24 jam waktunya – masalahnya tinggal mau atau enggak.

Yuk, melangsing! Mau?

gambar gue pinjem dari sini

[Herbalife Diary 010] kalo gak dicatat, gimana mau meningkat


“Gue udah rajin olah raga lho, tapi emang dasar nasib nggak langsing-langsing juga!”

Andaikan gue dapet 5.000 perak setiap kali denger orang ngomong gitu, gue udah pindah rumah ke Pondok Indah.

Maksud gue, saat gagal melangsing orang sering terlalu cepet menumpahkan kesalahan pada hal-hal yang nggak bisa dikontrol (dan nggak bisa membela diri) seperti nasib, genetik, bawaan, tulang besar, dllsb tapi di saat yang bersamaan sama sekali nggak merasa perlu menilai secara obyektif hal-hal yang seharusnya bisa dikontrol seperti porsi olah raga.

Dan untuk bisa menilai secara obyektif apa bener aktivitas olah raga kita udah termasuk kategori “rajin”, nggak ada cara lain kecuali mencatat.

Minimal ada 2 manfaat nyata yang bisa kita dapet kalo menjalani program melangsing sambil mencatat, yaitu:

1. memastikan kita berlatih secara konsisten

Percaya deh, ingatan kita itu suka nipu. Kadang kita merasa udah berlatih 3 kali seminggu, padahal kenyataannya terakhir kita olah raga adalah 2 minggu yang lalu. Kalo aktivitas olah raga lu tercatat, maka lu bisa tau persis seberapa sering lu olah raga. Kalo dengan porsi itu progres melangsingnya masih mandek, ya tinggal ditambah aja porsinya. Jadi nggak perlu frustrasi dan menyalahkan nenek moyang yang kebetulan gendut-gendut semuanya.

2. memantau apakah kebugaran kita meningkat

Seperti yang pernah gue bahas di journal yang ini, gue mencatat aktivitas gue di gym. Seberapa banyak dan seberapa sering porsi latihan beban gue tulis di sebuah buku kecil yang gue bawa-bawa waktu nge-gym. Dengan demikian kalo gue baca di catatan bahwa bulan lalu gue sanggup leg-press dengan beban 70 kilo, misalnya, dan bulan ini mendadak baru dikasih beban 50 kilo udah serasa mau semaput, maka gue tau bahwa kondisi gue menurun. Prinsipnya, tujuan utama program pelangsingan adalah menjadi sehat dan bugar. Sedangkan langsing itu cuma efek sampingnya. Artinya, kalo angka di timbangan mengecil tapi kapasitas stamina menurun, ada yang salah dengan program pelangsingan kita. Dan itu cuma bisa dikenali kalo kita rajin mencatat.

Untungnya, jaman sekarang teknologi udah makin canggih, kita nggak perlu sepenuhnya tergantung pada notes dan bolpen untuk mencatat. Berikut beberapa hal yang bisa lu lakukan untuk mencatat aktivitas olah raga lu:

Endomondo
Ini adalah situs yang menyediakan aplikasi pemantau olah raga. Dengan menginstall aplikasinya di perangkat yang terhubung dengan GPS, maka kita bisa mencatat rute jogging / jalan kaki / bersepeda kita, berapa kecepatan rata-ratanya, dan berapa kalori yang terbakar. Aplikasinya juga bisa jalan di berbagai platform, mulai dari Blackberry sampe Android. Bonusnya, dia juga menyediakan tantangan bulanan di mana para penggunanya bisa saling berkompetisi. Tentang situs ini akan gue posting lebih lengkap besok-besok (kalo inget). Silakan mampir ke situsnya, www.endomondo.com kalo mau tau lebih banyak.

Speedometer sepeda
Dengan memasang benda ini di sepeda, lu bisa menghitung jarak dan kecepatan tempuh selama bersepeda. Ada beberapa jenis yang bisa sekalian menghitung pembakaran kalori. Gue sarankan beli yang tipe wireless, karena pemasangannya mudah dan nggak ngerepotin kalo suatu kali nanti lu mau ganti sepeda.

Jam tangan penghitung detak jantung
Jam model gini biasanya terhubung secara wireless dengan sebuah detektor yang dililitkan di dada. Dengan alat ini kita bisa tau apakah kita telah mencapai zona detak jantung yang efektif untuk pembakaran lemak. Beberapa tipe juga dilengkapi dengan data historikal, untuk memantau perkembangan stamina kita.

Pedometer
Benda ini menghitung jumlah langkah berdasarkan getaran tubuh kita. Dengan memasukkan panjang langkah kaki dan berat badan kita, dia juga bisa menghitung jarak tempuh dan kalori yang terbakar. Pemakaiannya gampang banget, tinggal dikantongi atau dipasang di ikat pinggang. Cuma berhubung dia bekerja dengan menghitung getaran, saat naik bajaj sebaiknya dimatiin dulu biar nggak kacau hitungannya.

Body scanner
Ini adalah timbangan ‘ajaib’ yang bisa mengukur massa otot dan persentase lemak tubuh. Dengan bantuan benda ini, kita bisa tahu apakah saat berat kita menurun kita telah berhasil membakar lemaknya, atau justru membuangi ototnya. Alat ini juga dilengkapi dengan data historikal untuk membandingkan kondisi kita sekarang dengan saat pengukuran terakhir.

Intinya, di jaman serba gampang seperti sekarang ini, untuk mencatat pun kita udah semakin dipermudah. Jadi, jangan buru-buru merasa gagal sebelum mencatat upaya kita secara akurat, ya!

[Herbalife Diary 009] tega, mengubah mobil sport jadi omprengan?


Bayangin bahwa elu adalah orang kaya yang batuk aja jadi duit. Suatu hari lu kesian ngeliat temen lu kepanasan dan keujanan di jalan, sehingga lu memutuskan untuk menghadiahkan sebuah mobil sport kepadanya. Waktu nitipin tu mobil, lu bilang sama dia,

“Nih, daripada lu keujanan kepanasan di jalan, gue pinjemin mobil sport. Lu boleh pake semaunya, gratis. STNK gue yang bayar. Yang penting, lu rawat mobil ini. Tapi asal tau aja, mobil ini mobil ajaib. Kapasitas mesinnya bisa makin besar atau makin kecil, tergantung pemakaian. Kalo pemakaiannya seimbang, nggak diforsir, mesinnya bisa tambah gede dan tarikannya makin mantap. Tapi kalo lu paksa jalan terus, atau sebaliknya: lu anggurin doang di garasi, maka mesinnya bisa rontok. Selain itu, mobil ini juga butuh bensin berkualitas. Harus yang oktannya tinggi. Maklum, mobil sport. Jadi, jangan lu isi bensin campur kayak bajaj! OK, selamat make mobil baru. Inget, walau elu boleh make sepuasnya, tapi mobil ini tetep milik gue. Jadi nggak boleh lu jual, ya!”

Temen lu bilang makasih sejuta kali sambil sungkem. Karena lu orangnya rendah hati, lu buru-buru pulang karena nggak tega liat temen sampe kayak gitu amat.

Beberapa bulan kemudian, iseng-iseng lu mampir ke rumah temen lu. Lu kaget setengah mati liat tu mobil sport udah berubah jadi angkot reyot yang asep knalpotnya item kayak mendung. Catnya pada rontok di sana-sini, bannya udah pada botak, dan kaca spionnya udah diganti kaca rautan.

“Lu apain ni mobil bisa sampe kayak gini?” tanya lu sambil nahan kesel.

“Tauk deh. Mungkin emang dari sononya udah bobrok, kali,” jawab temen lu enteng.

Gimana kira-kira perasaan lu denger jawaban kayak gitu? Ingin noyor? Ingin nimpuk?

Tapi jangan heran kalo sebenernya kita mungkin sedang melakukan hal yang sama, yaitu memperlakukan barang titipan secara sembarangan. Bedanya, barang titipannya bukan mobil melainkan badan kita. Ya, pada prinsipnya, badan kita ini ibarat mobil sport titipan.

Titipan, karena badan ini sebenernya bukan punya kita. Kita cuma numpang make. Sayangnya, sebagai orang yang statusnya cuma numpang, kita suka nggak tau diri. Kadang dipaksa jalan terus-terusan, nggak pake istirahat. Siang buat ngangkut beras, malem buat ngompreng. Ada juga yang cuma dianggurin di garasi sampe penuh sarang gonggo. Ngisi bensinnya asal-asalan; kadang diisi bensin campur, kadang minyak tanah. Seketemunya.

Karena diperlakukan nggak semestinya, nggak heran kalo mesinnya mulai ngadat. Larinya boyot dan batuk-batuk. Kalo udah gitu, biasanya yang disalahin adalah takdir: “emang nasib dari sononya punya badan kayak gini, nggak bisa diapa-apain lagi.” Padahal, jelas-jelas yang dititipkan ke kita adalah mobil sport. Kita yang mengubahnya jadi sekelas omprengan.

Poin gue adalah: sehat itu berawal dari bagaimana kita melihat badan ini.

Kalo udah tau badan ini titipan, artinya kita harus sungkan sama yang punya. Berhubung statusnya cuma numpang make, tahu dirilah. Karena udah tau mobil sport, ya nggak dipake ngangkut beras atau ngompreng. Karena udah tau butuhnya bensin elit, ya nggak diisi minyak tanah dong.

Kalo kita ngeliat badan ini sebagai mesin ajaib yang bisa diupgrade kapasitasnya, maka saat jalan kaki 1 jam dari kantor ke rumah kita tau bahwa kita bukannya kurang kerjaan – kita lagi tune-up mesin. Saat kita memilih untuk naik tangga daripada lift, kita tau bahwa kita bukan sekedar iseng, tapi lagi membersihkan kerak di busi biar tarikan makin jos.

Kalo kita tau badan kita butuh bahan bakar berkualitas, maka kita nggak akan melihat sepotong steak seharga setengah juta sebagai makanan mewah – itu malah cuma bensin campur yang endapannya bisa bikin mampet filter bensin. Sebaliknya, sepiring sayuran kukus buatan rumah atau segelas shake Herbalife yang nggak sampe 10 ribu perak adalah Pertamax Plus 🙂

Jadi, siap untuk upgrade mesin mobil sport lu? Kontak gue di si.mbot@gmail.com deh, nanti akan gue jelasin gimana caranya.

 

[Herbalife Diary 008] Jangan mau dikibulin timbangan


Gue pernah nonton iklan sebuah produk pelangsing di TV yang mengklaim mampu menurunkan berat badan secara instan. Untuk membuktikannya, seorang model yang secara kebetulan adalah gadis cantik berbikini ditimbang, lalu menggunakan produk tersebut. Produknya berbentuk mirip tenda kecil yang membungkus tubuh si model dari kaki hingga leher. Di dalam tenda tersebut ada alat yang menyemburkan uap panas, jadi mirip sauna portabel gitu deh.

Setelah beberapa menit nongkrong dalam tenda sauna, sang gadis cantik keluar dan kembali ditimbang. Ajaib, beratnya susut beberapa ons! Penonton bertepuk tangan, dan pembawa acara mengumumkan kesahihan khasiat si tenda ajaib untuk menurunkan berat badan.
Ah, yang bener?
Faktanya, berat badan kita berfluktuasi setiap hari lebih cepat dan lebih drastis dari yang kita kira. Lah gimana enggak, wong sekitar 66% dari badan kita adalah air. Namanya juga air, jadi memang sifatnya untuk sering mondar-mandir keluar masuk sel dan pori-pori kulit dan mengubah-ubah bobot kita. Jadi kalo gue yang bobotnya 84.5 kg ini (sekalian update bobot terbaru gue minggu ini, haha) dikeringkan sampe bebas dari unsur air sama sekali, maka yang tersisa tinggal 29 kilo-an; bisa dikirim pake TIKI dengan ongkos nggak sampe 150 ribu ke Bali.
Kembali ke contoh kasus si mbak di tenda sauna, jelas penurunan bobotnya terjadi karena air di tubuhnya terperas keluar lewat keringat akibat suhu panas. Andaikan setelah keluar dari tenda sauna dia minum air sebanyak keringat yang dia keluarkan, ya bobot yang hilang akan langsung balik lagi.
Ini juga menjelaskan mengapa orang-orang yang habis sakit diare parah biasanya langsung nampak jauh lebih kurus. Bukan nggak mungkin saat ditimbang bobotnya susut 5-6 kilo dalam tempo 1 – 2 hari, karena air dalam tubuhnya baru terperas habis-habisan. Atau bisa juga akibat makan makanan yang bikin beser, pipis melulu. Bahkan tanpa proses yang aneh-aneh, lagi duduk anteng sekalipun, bobot kita bisa turun sendiri lewat proses penguapan di permukaan kulit dan pernafasan.
Selain gampang hilang, bobot kita juga gampang naik. Kita seringkali nggak sadar, betapa beratnya makanan yang kita telan setiap hari. Misalnya saat makan siang kita makan sepiring nasi, sebotol air minum ukuran sedang, dan ditutup dengan es campur, maka sedetik setelah makan bisa-bisa bobot kita naik lebih dari 1 kilo. Berat 1 liter air = kurang lebih 1 kilogram, jadi sebotol air ukuran 500ml udah pasti akan menaikkan bobot kita setengah kilo. Belum lagi nasi dan es campurnya. Contoh lainnya, buat yang nggak pernah minum Herbal Aloe Concentrate dan buang air besarnya kurang lancar, misalnya hanya dua hari sekali, maka bukan nggak mungkin bobotnya naik 3-4 kilo dalam dua hari, dan setelah ‘permisi sebentar’ ke belakang langsung susut 3-4 kilo.
Poin gue adalah; kalau kita tidak menyadari seberapa jauh dan cepatnya bobot kita berfluktuasi, akibatnya kita bisa terlalu cepat puas atau malah frustrasi saat lagi menjalani program pelangsingan. Kalo ada orang ngadu “berat gue naik 2 kilo dalam seminggu nih!” atau justru lagi berbangga hati karena “berhasil turun bobot” maka biasanya gue akan tanya balik: timbang beratnya di waktu yang sama nggak?
Saran gue, timbanglah berat pagi-pagi saat baru selesai ‘setor’ ke belakang dan sebelum makan / minum apapun. Itu adalah bobot kita yang paling stabil dan bisa dipercaya – dan relatif bebas dari tipu daya si timbangan. Selama penimbangannya masih dilakukan di waktu yang berbeda-beda, hasilnya sulit dipercaya sebagai bukti keberhasilan / kegagalan program pelangsingan kita.
Iklan
  • Komentar Terbaru

    IG : @syaifuddin1969… pada Saldo Gopay Ilang: Salah Gue?…
    mbot pada Pentingnya Keterampilan Ngomon…
    snydez pada Pentingnya Keterampilan Ngomon…
    mas bro pada Pentingnya Keterampilan Ngomon…
    henie2411 pada Hikmah Colokan Berkaki Ti…
    mbot pada Hikmah Colokan Berkaki Ti…
    mbot pada Hikmah Colokan Berkaki Ti…
    mbot pada [review] Jalanan
    henie2411 pada Hikmah Colokan Berkaki Ti…
    sapienzadivita pada Hikmah Colokan Berkaki Ti…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 685 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: