Mau Berhenti Ngerokok? Gampang, Ini Caranya!


STOP_ROKOK

Kalo elu adalah perokok yang lagi nyari cara untuk berhenti, lu sampe di halaman yang tepat. Di posting ini, gue akan cerita tentang apa aja yang gue pelajari dari pengalaman gue berhenti ngerokok, bukan cuma sekali, tapi DUA kali!

Ya, seperti pernah gue ceritain di posting yang ini, gue pernah sukses berhenti ngerokok selama sekitar 11 bulan dari tahun 2011 sampe 2012. Tapi karena sotoy, sok merasa jago udah berhasil ngalahin rokok, gue iseng-iseng ngerokok lagi dan akhirnya… kumat. Tanggal 17 November 2014 gue memulai percobaan kedua untuk berhenti ngerokok, dan sampe sampe posting ini ditulis, hampir 12 bulan kemudian, masih sukses bertahan nggak ngerokok.

Karena berhenti ngerokok itu bikin hidup gue jauh lebih baik, maka di sini gue mencoba berbagi  pengalaman. Kali aja ada yang tertarik nyoba dan merasakan manfaat yang sama. Silakan ditiru kalo merasa cocok! (lebih…)

Iklan

Coba-Coba Gak Minum Gula Sebulan, Ternyata Begini Akibatnya


infus

Sejak keberhasilannya ‘puasa’ yang manis-manis sebulan penuh, Rafi mulai sering menggugat. 

“Bapak curang! Kenapa cuma aku yang nggak boleh minum manis? Kenapa Bapak boleh?”

“Loh, siapa bilang kamu nggak boleh? Kamu boleh minum manis, tapi… kalo nggak minum manis, dapet hadiah,” jawab gue, “Lagipula, Bapak kan olah raganya jauh lebih banyak daripada kamu.”

Tapi diem-diem gue mikir juga, “Apa iya, konsumsi gula gue udah ideal?”

(lebih…)

Tantangan Manis untuk Rafi


Hari ini, dalam sebuah meeting tentang website intranet, omongan mengarah ke blog.

“Agung memangnya suka ngeblog ya?”

“Oh iya!” jawab gue yakin. “Tapi… udah lama nggak di-update…” sambung gue pelan.

Parah memang, blog ini udah berbulan-bulan nggak di-update. Padahal ngakunya blogger.

Maka dalam rangka Hari Blogger Nasional, gue persembahkan posting baru buat kalian semua, para pembaca blog ini. Kalo masih ada.

Selamat Hari Blogger!

===

IMG_20150802_083159
Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali sama segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya gue dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis. (lebih…)

Kisah Horror: Bukan Bocah Biasa


horror_bed_composite2

Sebelumnya, harap maklum, gue cerita begini bukan untuk nakut-nakutin, tapi sekedar berbagi untuk diambil hikmahnya bersama.

Terus terang ini bukan pengalaman gue sendiri, melainkan pengalaman seorang temen. Sebut aja namanya Rita. Begini ceritanya:

(lebih…)

[2012-025] 4 Layanan yang Seharusnya Ada di Rumah Sakit Bersalin Elit


Beberapa minggu (atau bulan, ya? – mulai sering kehilangan orientasi waktu gini) yang lalu gue jenguk seorang teman melahirkan. Setelah pertanyaan standar seperti berat dan panjang bayi berapa, lahir normal atau cesar, dan ASI keluar atau enggak, topik obrolan beralih ke mahalnya biaya melahirkan di rumah sakit. Sebuah rumah sakit terkenal memasang tarif persalinan normal menginap 3 hari 2 malam sebesar 25 (yak betul, DUA PULUH LIMA) JUTA. Kalo pake operasi, tambah 15 juta lagi alias jadi 40 (EMPAT PULUH) JUTA. Masih kurang nendang? Lu juga bisa melahirkan di kamar Super VIP dengan biaya tembus 3 digit alias 100 (SERATUS) JUTA seperti ibu seleb yang satu ini. Hu to the An to the Jret!

Gue mikir, kira-kira layanan macam apa sih yang disediakan sampe ‘tega’ pasang tarif setinggi itu? Kamar luas? Makanan dimasak oleh chef? Hotel bintang 5 di Jakarta, rate per malamnya kira-kira 5 jutaan. Nginep 3 hari 2 malam kan cuma 10 juta. OK deh, kali ibunya betah, jadi nambah semalem lagi. Cuma abis 15 juta. Trus yang 85 juta buat bayar apanya ya?

Kalo menurut gue, rumah sakit bersalin boleh-boleh aja pasang tarif mahal asalkan mereka sanggup ngasih fasilitas kayak gini: (lebih…)

[2012-018] Singkatan Jenius yang Meleset


Dua hari yang lalu, gue berkunjung ke sebuah rumah sakit dalam rangka medical check-up tahunan waktu ngelihat poster ini:

delapan - deteksi berkala payudara anda
Ini adalah poster kampanye agar para perempuan rajin memeriksa payudaranya sendiri setiap tanggal 8, biar kalo ada penyakit cepet ketahuan. Sekilas kampanye ini cukup cerdas, karena:
  • Bentuk angka 8-nya udah mengingatkan pada bagian mana yang harus rajin diperiksa
  • Tulisan ‘Delapan’-nya bisa dirangkai-rangkai menjadi kepanjangan yang kayaknya cukup iye yaitu “DEteksi berkaLA Payudara ANda”
Tapi apakah benar kepanjangan itu nyambung dengan tema kampanyenya?
Menurut gue agak melenceng, kalo nggak mau dibilang mengarah ke penyalahgunaan.
Permasalahannya terletak pada kata “Deteksi”. (lebih…)

[Herbalife Diary 014] Efek samping melangsing


celengan penampung uang rokok“Makan hanya sampe lapernya hilang itu susah! Gue kalo makan ya harus sampe kenyang.”

“Ngemil kok sayuran. Nggak ketelen.

“Perut gue perut Indonesia. Nggak mungkin ngurangin makan nasi.”

Itu adalah sebagian reaksi orang waktu denger penjelasan gue tentang program pelangsingan yang gue jalanin sekarang ini. Reaksi gue biasanya adalah, “Susah itu relatif. Semua alasan yang lu bilang tadi kan adanya cuma di pikiran lu doang. Kalo lu bisa ngontrol pikiran, nggak ada yang susah.”

Tapi sambil ngomong gitu ada satu hal yang mengganggu pikiran gue. Gue sendiri belum sepenuhnya bisa mengontrol pikiran untuk hidup lebih sehat, yaitu kebiasaan ngerokok. Padahal, secara teoritis seharusnya menaklukkan rokok lebih gampang daripada mengatur makanan. Ini alasannya:

  • Makan itu memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis. Artinya cakupan peristiwa yang memunculkan kebutuhan untuk makan itu lebih luas: bisa karena lapar betulan (biologis) atau karena stress dan butuh hiburan (psikologis). Rokok, cuma memenuhi kebutuhan psikologis doang. Nggak ada kebutuhan atas rokok yang bersifat nyata / fisik.
  • Sesudah makan, baik lapar betulan atau lapar iseng, kita akan merasa lebih baik. Lidah terhibur, perut kenyang, badan lebih berenergi. Artinya dorongan untuk makan lebih menggoda karena kita tahu sesudahnya akan ada hal menyenangkan yang menunggu. Sedangkan rokok, sejujurnya, nggak membuat badan kita lebih baik. Kalo gue telaah balik sensasi yang gue rasakan saat ngerokok, sebenernya saat-saat yang paling menyenangkan itu adalah saat nyalain sama beberapa isapan pertama doang. Selebihnya, sensasi menyenangkannya terus menurun: mata pedes kena asep, badan ketempelan bau aneh yang nggak bisa ilang seharian, saluran pernafasan juga nggak bisa dibilang nyaman kemasukan asep segitu banyak. Bahkan kalo lagi laper, rokok bisa bikin keliyengan. Makanya gue nggak pernah tertarik dengan perdebatan apakah saat puasa kita boleh ngerokok atau enggak. Sekalipun boleh, ngerokok saat lagi lapar dan haus itu bodoh.
  • Sebagai kebutuhan fisik, kebutuhan makan timbul dengan sendirinya. Tanpa harus diajarin pun kita bisa mengenali lapar sejak bayi. Melawan kebutuhan biologis itu memang berat, karena biar gimana badan kita punya serangkaian proses yang harus diikuti dan dipenuhi. Lu coba nahan kayak gimanapun, badan akan memaksakan agar kebutuhannya terpenuhi, dengan cara apapun. Nggak percaya? Coba deh nahan buang air bangsa seminggu.Rokok, seperti halnya butir-butir Pancasila yang kita denger selama 100 jam waktu mulai kuliah, adalah hasil belajar. Kalo sekarang gue bisa lupa segala macem butir-butir Pancasila itu, maka gue pasti juga bisa melupakan rokok.

Gue paling anti sama orang yang cuma bisa ngomong teori doang, jadi terus terang gue terganggu sama diri gue sendiri yang mempropagandakan kebiasaan mengendalikan pikiran untuk mengatur makan tapi nggak mampu mengendalikan pikiran untuk stop ngerokok. Padahal, seperti yang barusan gue bilang, mengendalikan makan itu sebenernya lebih susah daripada berhenti merokok. Yang lebih susah dikendalikan aja, selama beberapa bulan terakhir bisa gue atasi. Trus, kenapa nggak sekalian aja gue mengendalikan rokok?

Kebetulan, gue menemukan sebuah aplikasi sederhana berbasis Android yang intinya mengubah sudut pandang untuk stop merokok. Nanti akan gue tulis lebih lengkap di review tentang aplikasi ini, tapi yang jelas aplikasi ini mengajak kita melihat berhenti merokok bukan sebagai upaya untuk bertahan dari godaan, tapi sebagai kegiatan aktif untuk membangun badan yang lebih sehat.

Gue mulai menginstall aplikasi ini sekitar tanggal 10 Juni. Sempet berapa kali gagal dan tergoda untuk ngerokok lagi, akhirnya gue berhasil mematikan rokok terakhir gue tanggal 13 Juni 2011. Sekarang gue udah menjelang hari ke 7 sama sekali bebas dari asap rokok!

Trus apa hubungannya dengan program melangsing? Poin gue: melangsing itu intinya mengalahkan diri sendiri. Saat kita berhasil melangsing, kita tau bahwa kita berkuasa penuh atas tindakan kita. Mind over matter. Kita bisa mengatur badan kita melakukan apapun yang kita mau. Dan sebagai mahluk yang punya insting survival, pasti yang kita inginkan adalah hal-hal yang baik untuk kelangsungan hidup. Sama seperti kucing lebih suka tidur di tempat tinggi atau ikan menyelam ke dasar kolam waktu hujan, karena secara insting mereka tahu di sana lebih aman dari bahaya. Sebagai racun, rokok jelas bertentangan dengan prinsip survival, maka secara logis pikiran kita tahu benda itu nggak baik untuk didekati. Masalahnya tinggal seberapa kuat pikiran kita mengatur tindakan kita.

Dari program melangsing, gue tau bahwa gue mampu mengendalikan keinginan makan. Maka gue tertantang untuk jajal kemampuan di bidang rokok.

Gue seumur-umur tukang makan, bisa turun 19.5 kilo dalam 5 bulan. Gue perokok selama 26 tahun, juga bisa berhenti.

Kalo elu bener-bener menginginkan, lu pasti bisa.

Foto: celengan tempat menampung duit yang dulunya gue habiskan buat beli rokok. Ternyata baru seminggu berhenti, isinya dah banyak lho.

[Herbalife Diary 012] udah seberat ini yang gue buang



dari 102.3 kg ke 82.8 kg, 19.5 kg dalam 6 bulan.

Setara dengan bobot 1 botol air minum galonan.
Nggak pake lapar, nggak pake lemes. Kalian juga bisa!

Mau? Kontak gue di si.mbot@gmail.com ya!

[Herbalife Diary 011] Nggak sempet olah raga? Ah, masa?


“Gue ingin langsing, tapi nggak sempet olah raga. Cukup nggak kalo dengan hanya disiplin minum Herbalife aja?”

Jawabannya, sayang sekali, enggak.

Bahkan di website resmi Herbalife sendiri tertulis, “A healthy diet and regular physical activity are major factors in the promotion and maintenance of good health throughout your life.” Jadi, untuk langsing sehat ala Herbalife, olah raga juga perlu. Pertanyaannya, gimana dengan mereka yang ‘nggak sempet’ olah raga?

Pertama-tama gue perjelas dulu batasan ‘olah raga’ dengan tujuan pelangsingan adalah, “30 menit non-stop dengan intensitas sedang.” Maksudnya, intensitas di mana kita mencapai denyut nadi minimal 70% dari denyut nadi maksimal. FYI, denyut nadi maksimal kita = 220 – umur. Jadi untuk gue yang umurnya 37 tahun ini, denyut nadi maksimalnya 183. Nah, pembakaran lemak optimal terjadi saat denyut nadi gue mencapai 70% dari 183 = 128 kali per menit. Cara ngitungnya, pegang nadi yang berdenyut sambil lihat jam selama 15 detik. Hasil hitungannya dikalikan 4.

Batasan 70% itu sendiri sebenernya sangat gampang tercapai. Coba aja naik tanggal bangsa 2 – 3 lantai, atau lari-lari ngejar busway yang mau berangkat di seberang jalan – denyut nadi lu kemungkinan besar akan mencapai 70% denyut maksimal, bisa juga lebih.

Kesimpulannya: waktu yang diperlukan cuma 30 menit, batasan intensitasnya juga relatif mudah dicapai. Artinya kalau ada orang bilang dia terlalu ‘sibuk’ untuk meluangkan waktu selama 30 menit, permasalahannya biasanya cuma salah satu di antara 2: kurang niat atau kurang jeli mencari peluang.

Untuk yang kurang niat gue nggak akan bahas deh. Dari semua aspek program pelangsingan, aspek niat adalah yang paling mahal harganya karena nggak bisa didapat dari manapun kecuali dari diri sendiri. Kalo ada orang bilang, “gue ingin langsing, tapi males diet / olah raga kayak elu, gimana ya?” biasanya akan gue jawab dengan “iya ya, gimana ya?” Kalo problem lu dalam melangsing adalah niat, sori, gue nggak bisa bantu. Itu harus lu selesaikan sendiri.

Sedangkan buat yang kurang jeli melihat peluang, berikut beberapa ide yang bisa lu coba untuk mendapatkan 30 menit olah raga di sela kesibukan lu:

  • buat yang jarak kantor ke rumahnya sekitar 3 KM, ini yang paling gampang: pulang kantor jalan kaki. Kalo kecepatan jalan lu sekitar 6 KM/ jam, maka jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Kenapa gue sarankan jalan kaki pulangnya, bukan berangkatnya? Karena kalo berangkatnya nanti sampe kantor lu keringetan, bau kelek, nggak konsentrasi kerja, ngantukan, dllsb sehingga akhirnya dipanggil boss dan saat ditanya boss lu jawab “soalnya saya baca di blognya si mbot saya harus rajin jalan kaki.” Nah, paling males deh gue tersangkut paut dalam kekisruhan karir orang.
  • bike to work
  • buat yang pulang kantornya naik kendaraan umum, turunnya nggak usah persis depan rumah. Turun beberapa halte lebih awal. Atau, yang biasanya naik ojek setelah turun dari bis, coba sekali-sekali jalan kaki sampe rumah.
  • buat yang kantornya di gedung bertingkat, coba saat mau pulang, sesampainya di lantai paling bawah naik tangga darurat lagi beberapa lantai ke atas. Baru abis itu turun lagi pake lift. Atau pake tangga lagi juga lebih bagus.
  • buat yang biasa nitip sama OB untuk beliin makan siang, sekali-sekali ikutan sama OB-nya jalan-jalan beli makan siang. Atau, cegat OBnya di pintu keluar, minta daftar makanan yang harus dia beli, terus elu yang jalan. OB-nya disuruh ngadem di kantor. Pasti dia senang (walau mungkin bingung). Asa duit tipnya nggak lu sikat aja.
  • jalan-jalan di mal memang lumayan, karena ada unsur jalan kakinya. Masalahnya kalo jalan di mal cenderung pelan, udah gitu banyak berhentinya saat nemu tulisan ‘DISCOUNT’. Makanya weekend jangan diisi dengan nge-mal, coba jalan-jalan ke bonbin atau kebon raya – pokoknya tempat yang lebih luas dan lebih memungkinkan untuk berjalan lebih cepat. Selain lebih sehat dijamin lebih irit.
  • lu selalu bisa bangun 30 menit lebih awal untuk jogging / sepedaan keliling komplek sebelum berangkat ke kantor
  • ngantornya di rumah? Malah lebih bagus lagi: beli DVD aerobic, lu bisa olah raga di ruang tamu.

Poin gue adalah: semua orang pasti bisa memasukkan 30 menit olah raga dalam 24 jam waktunya – masalahnya tinggal mau atau enggak.

Yuk, melangsing! Mau?

gambar gue pinjem dari sini

[Herbalife Diary 010] kalo gak dicatat, gimana mau meningkat


“Gue udah rajin olah raga lho, tapi emang dasar nasib nggak langsing-langsing juga!”

Andaikan gue dapet 5.000 perak setiap kali denger orang ngomong gitu, gue udah pindah rumah ke Pondok Indah.

Maksud gue, saat gagal melangsing orang sering terlalu cepet menumpahkan kesalahan pada hal-hal yang nggak bisa dikontrol (dan nggak bisa membela diri) seperti nasib, genetik, bawaan, tulang besar, dllsb tapi di saat yang bersamaan sama sekali nggak merasa perlu menilai secara obyektif hal-hal yang seharusnya bisa dikontrol seperti porsi olah raga.

Dan untuk bisa menilai secara obyektif apa bener aktivitas olah raga kita udah termasuk kategori “rajin”, nggak ada cara lain kecuali mencatat.

Minimal ada 2 manfaat nyata yang bisa kita dapet kalo menjalani program melangsing sambil mencatat, yaitu:

1. memastikan kita berlatih secara konsisten

Percaya deh, ingatan kita itu suka nipu. Kadang kita merasa udah berlatih 3 kali seminggu, padahal kenyataannya terakhir kita olah raga adalah 2 minggu yang lalu. Kalo aktivitas olah raga lu tercatat, maka lu bisa tau persis seberapa sering lu olah raga. Kalo dengan porsi itu progres melangsingnya masih mandek, ya tinggal ditambah aja porsinya. Jadi nggak perlu frustrasi dan menyalahkan nenek moyang yang kebetulan gendut-gendut semuanya.

2. memantau apakah kebugaran kita meningkat

Seperti yang pernah gue bahas di journal yang ini, gue mencatat aktivitas gue di gym. Seberapa banyak dan seberapa sering porsi latihan beban gue tulis di sebuah buku kecil yang gue bawa-bawa waktu nge-gym. Dengan demikian kalo gue baca di catatan bahwa bulan lalu gue sanggup leg-press dengan beban 70 kilo, misalnya, dan bulan ini mendadak baru dikasih beban 50 kilo udah serasa mau semaput, maka gue tau bahwa kondisi gue menurun. Prinsipnya, tujuan utama program pelangsingan adalah menjadi sehat dan bugar. Sedangkan langsing itu cuma efek sampingnya. Artinya, kalo angka di timbangan mengecil tapi kapasitas stamina menurun, ada yang salah dengan program pelangsingan kita. Dan itu cuma bisa dikenali kalo kita rajin mencatat.

Untungnya, jaman sekarang teknologi udah makin canggih, kita nggak perlu sepenuhnya tergantung pada notes dan bolpen untuk mencatat. Berikut beberapa hal yang bisa lu lakukan untuk mencatat aktivitas olah raga lu:

Endomondo
Ini adalah situs yang menyediakan aplikasi pemantau olah raga. Dengan menginstall aplikasinya di perangkat yang terhubung dengan GPS, maka kita bisa mencatat rute jogging / jalan kaki / bersepeda kita, berapa kecepatan rata-ratanya, dan berapa kalori yang terbakar. Aplikasinya juga bisa jalan di berbagai platform, mulai dari Blackberry sampe Android. Bonusnya, dia juga menyediakan tantangan bulanan di mana para penggunanya bisa saling berkompetisi. Tentang situs ini akan gue posting lebih lengkap besok-besok (kalo inget). Silakan mampir ke situsnya, www.endomondo.com kalo mau tau lebih banyak.

Speedometer sepeda
Dengan memasang benda ini di sepeda, lu bisa menghitung jarak dan kecepatan tempuh selama bersepeda. Ada beberapa jenis yang bisa sekalian menghitung pembakaran kalori. Gue sarankan beli yang tipe wireless, karena pemasangannya mudah dan nggak ngerepotin kalo suatu kali nanti lu mau ganti sepeda.

Jam tangan penghitung detak jantung
Jam model gini biasanya terhubung secara wireless dengan sebuah detektor yang dililitkan di dada. Dengan alat ini kita bisa tau apakah kita telah mencapai zona detak jantung yang efektif untuk pembakaran lemak. Beberapa tipe juga dilengkapi dengan data historikal, untuk memantau perkembangan stamina kita.

Pedometer
Benda ini menghitung jumlah langkah berdasarkan getaran tubuh kita. Dengan memasukkan panjang langkah kaki dan berat badan kita, dia juga bisa menghitung jarak tempuh dan kalori yang terbakar. Pemakaiannya gampang banget, tinggal dikantongi atau dipasang di ikat pinggang. Cuma berhubung dia bekerja dengan menghitung getaran, saat naik bajaj sebaiknya dimatiin dulu biar nggak kacau hitungannya.

Body scanner
Ini adalah timbangan ‘ajaib’ yang bisa mengukur massa otot dan persentase lemak tubuh. Dengan bantuan benda ini, kita bisa tahu apakah saat berat kita menurun kita telah berhasil membakar lemaknya, atau justru membuangi ototnya. Alat ini juga dilengkapi dengan data historikal untuk membandingkan kondisi kita sekarang dengan saat pengukuran terakhir.

Intinya, di jaman serba gampang seperti sekarang ini, untuk mencatat pun kita udah semakin dipermudah. Jadi, jangan buru-buru merasa gagal sebelum mencatat upaya kita secara akurat, ya!

[Herbalife Diary 009] tega, mengubah mobil sport jadi omprengan?


Bayangin bahwa elu adalah orang kaya yang batuk aja jadi duit. Suatu hari lu kesian ngeliat temen lu kepanasan dan keujanan di jalan, sehingga lu memutuskan untuk menghadiahkan sebuah mobil sport kepadanya. Waktu nitipin tu mobil, lu bilang sama dia,

“Nih, daripada lu keujanan kepanasan di jalan, gue pinjemin mobil sport. Lu boleh pake semaunya, gratis. STNK gue yang bayar. Yang penting, lu rawat mobil ini. Tapi asal tau aja, mobil ini mobil ajaib. Kapasitas mesinnya bisa makin besar atau makin kecil, tergantung pemakaian. Kalo pemakaiannya seimbang, nggak diforsir, mesinnya bisa tambah gede dan tarikannya makin mantap. Tapi kalo lu paksa jalan terus, atau sebaliknya: lu anggurin doang di garasi, maka mesinnya bisa rontok. Selain itu, mobil ini juga butuh bensin berkualitas. Harus yang oktannya tinggi. Maklum, mobil sport. Jadi, jangan lu isi bensin campur kayak bajaj! OK, selamat make mobil baru. Inget, walau elu boleh make sepuasnya, tapi mobil ini tetep milik gue. Jadi nggak boleh lu jual, ya!”

Temen lu bilang makasih sejuta kali sambil sungkem. Karena lu orangnya rendah hati, lu buru-buru pulang karena nggak tega liat temen sampe kayak gitu amat.

Beberapa bulan kemudian, iseng-iseng lu mampir ke rumah temen lu. Lu kaget setengah mati liat tu mobil sport udah berubah jadi angkot reyot yang asep knalpotnya item kayak mendung. Catnya pada rontok di sana-sini, bannya udah pada botak, dan kaca spionnya udah diganti kaca rautan.

“Lu apain ni mobil bisa sampe kayak gini?” tanya lu sambil nahan kesel.

“Tauk deh. Mungkin emang dari sononya udah bobrok, kali,” jawab temen lu enteng.

Gimana kira-kira perasaan lu denger jawaban kayak gitu? Ingin noyor? Ingin nimpuk?

Tapi jangan heran kalo sebenernya kita mungkin sedang melakukan hal yang sama, yaitu memperlakukan barang titipan secara sembarangan. Bedanya, barang titipannya bukan mobil melainkan badan kita. Ya, pada prinsipnya, badan kita ini ibarat mobil sport titipan.

Titipan, karena badan ini sebenernya bukan punya kita. Kita cuma numpang make. Sayangnya, sebagai orang yang statusnya cuma numpang, kita suka nggak tau diri. Kadang dipaksa jalan terus-terusan, nggak pake istirahat. Siang buat ngangkut beras, malem buat ngompreng. Ada juga yang cuma dianggurin di garasi sampe penuh sarang gonggo. Ngisi bensinnya asal-asalan; kadang diisi bensin campur, kadang minyak tanah. Seketemunya.

Karena diperlakukan nggak semestinya, nggak heran kalo mesinnya mulai ngadat. Larinya boyot dan batuk-batuk. Kalo udah gitu, biasanya yang disalahin adalah takdir: “emang nasib dari sononya punya badan kayak gini, nggak bisa diapa-apain lagi.” Padahal, jelas-jelas yang dititipkan ke kita adalah mobil sport. Kita yang mengubahnya jadi sekelas omprengan.

Poin gue adalah: sehat itu berawal dari bagaimana kita melihat badan ini.

Kalo udah tau badan ini titipan, artinya kita harus sungkan sama yang punya. Berhubung statusnya cuma numpang make, tahu dirilah. Karena udah tau mobil sport, ya nggak dipake ngangkut beras atau ngompreng. Karena udah tau butuhnya bensin elit, ya nggak diisi minyak tanah dong.

Kalo kita ngeliat badan ini sebagai mesin ajaib yang bisa diupgrade kapasitasnya, maka saat jalan kaki 1 jam dari kantor ke rumah kita tau bahwa kita bukannya kurang kerjaan – kita lagi tune-up mesin. Saat kita memilih untuk naik tangga daripada lift, kita tau bahwa kita bukan sekedar iseng, tapi lagi membersihkan kerak di busi biar tarikan makin jos.

Kalo kita tau badan kita butuh bahan bakar berkualitas, maka kita nggak akan melihat sepotong steak seharga setengah juta sebagai makanan mewah – itu malah cuma bensin campur yang endapannya bisa bikin mampet filter bensin. Sebaliknya, sepiring sayuran kukus buatan rumah atau segelas shake Herbalife yang nggak sampe 10 ribu perak adalah Pertamax Plus 🙂

Jadi, siap untuk upgrade mesin mobil sport lu? Kontak gue di si.mbot@gmail.com deh, nanti akan gue jelasin gimana caranya.

 

[Herbalife Diary 008] Jangan mau dikibulin timbangan


Gue pernah nonton iklan sebuah produk pelangsing di TV yang mengklaim mampu menurunkan berat badan secara instan. Untuk membuktikannya, seorang model yang secara kebetulan adalah gadis cantik berbikini ditimbang, lalu menggunakan produk tersebut. Produknya berbentuk mirip tenda kecil yang membungkus tubuh si model dari kaki hingga leher. Di dalam tenda tersebut ada alat yang menyemburkan uap panas, jadi mirip sauna portabel gitu deh.

Setelah beberapa menit nongkrong dalam tenda sauna, sang gadis cantik keluar dan kembali ditimbang. Ajaib, beratnya susut beberapa ons! Penonton bertepuk tangan, dan pembawa acara mengumumkan kesahihan khasiat si tenda ajaib untuk menurunkan berat badan.
Ah, yang bener?
Faktanya, berat badan kita berfluktuasi setiap hari lebih cepat dan lebih drastis dari yang kita kira. Lah gimana enggak, wong sekitar 66% dari badan kita adalah air. Namanya juga air, jadi memang sifatnya untuk sering mondar-mandir keluar masuk sel dan pori-pori kulit dan mengubah-ubah bobot kita. Jadi kalo gue yang bobotnya 84.5 kg ini (sekalian update bobot terbaru gue minggu ini, haha) dikeringkan sampe bebas dari unsur air sama sekali, maka yang tersisa tinggal 29 kilo-an; bisa dikirim pake TIKI dengan ongkos nggak sampe 150 ribu ke Bali.
Kembali ke contoh kasus si mbak di tenda sauna, jelas penurunan bobotnya terjadi karena air di tubuhnya terperas keluar lewat keringat akibat suhu panas. Andaikan setelah keluar dari tenda sauna dia minum air sebanyak keringat yang dia keluarkan, ya bobot yang hilang akan langsung balik lagi.
Ini juga menjelaskan mengapa orang-orang yang habis sakit diare parah biasanya langsung nampak jauh lebih kurus. Bukan nggak mungkin saat ditimbang bobotnya susut 5-6 kilo dalam tempo 1 – 2 hari, karena air dalam tubuhnya baru terperas habis-habisan. Atau bisa juga akibat makan makanan yang bikin beser, pipis melulu. Bahkan tanpa proses yang aneh-aneh, lagi duduk anteng sekalipun, bobot kita bisa turun sendiri lewat proses penguapan di permukaan kulit dan pernafasan.
Selain gampang hilang, bobot kita juga gampang naik. Kita seringkali nggak sadar, betapa beratnya makanan yang kita telan setiap hari. Misalnya saat makan siang kita makan sepiring nasi, sebotol air minum ukuran sedang, dan ditutup dengan es campur, maka sedetik setelah makan bisa-bisa bobot kita naik lebih dari 1 kilo. Berat 1 liter air = kurang lebih 1 kilogram, jadi sebotol air ukuran 500ml udah pasti akan menaikkan bobot kita setengah kilo. Belum lagi nasi dan es campurnya. Contoh lainnya, buat yang nggak pernah minum Herbal Aloe Concentrate dan buang air besarnya kurang lancar, misalnya hanya dua hari sekali, maka bukan nggak mungkin bobotnya naik 3-4 kilo dalam dua hari, dan setelah ‘permisi sebentar’ ke belakang langsung susut 3-4 kilo.
Poin gue adalah; kalau kita tidak menyadari seberapa jauh dan cepatnya bobot kita berfluktuasi, akibatnya kita bisa terlalu cepat puas atau malah frustrasi saat lagi menjalani program pelangsingan. Kalo ada orang ngadu “berat gue naik 2 kilo dalam seminggu nih!” atau justru lagi berbangga hati karena “berhasil turun bobot” maka biasanya gue akan tanya balik: timbang beratnya di waktu yang sama nggak?
Saran gue, timbanglah berat pagi-pagi saat baru selesai ‘setor’ ke belakang dan sebelum makan / minum apapun. Itu adalah bobot kita yang paling stabil dan bisa dipercaya – dan relatif bebas dari tipu daya si timbangan. Selama penimbangannya masih dilakukan di waktu yang berbeda-beda, hasilnya sulit dipercaya sebagai bukti keberhasilan / kegagalan program pelangsingan kita.

[Herbalife Diary 007] pertanyaan penting sebelum melangsing


Pada suatu hari, si Agus lagi jalan-jalan tanpa juntrungan di mal, trus tiba-tiba dapet ide: “kayaknya lucu juga nih kalo nonton.” Tanpa punya bayangan film apa yang ingin dia tonton, dia dateng ke bioskop. Eh kebetulan hari itu adalah hari pertama pemutaran film Transformers 3 yang sejak tahun lalu udah digadang-gadang bakal lebih seru dari yang pertama dan ke dua. Akibatnya, antrian di loket luber sampe keluar bioskop. Padahal, jangankan ngefans, antara Megan Fox sama Megatron aja dia suka rada susah bedain. Maka Agus pun mikir, “Main di Timezon aja ah. Seru juga, nggak pake ngantri.” Lalu ngeloyorlah dia ke Timezone.

Beda kasus dengan si Budi. Budi suka nonton Transformers. Yang nomer 1 dan 2 udah dia tonton semuanya di bioskop. Tapi untuk yang ke 3 ini dia rada pesimis bisa nonton di bioskop gara-gara kasus konyol pembayaran bea masuk film. Maka Budi pun berniat beli DVD bajakannya aja, atau download dari internet. Kalopun gambarnya rada burem dikit nggak apa lah, yang penting kan bisa ngikutin ceritanya. Malah kalo nonton DVD bajakan lebih bagus, dapet penampakan ekstra berupa kepala-kepala penton lainnya di bagian bawah layar. Kan jadi serasa nonton di bioskop juga.

Lain lagi dengan Cecep. Dia fans berat Transformers. Dia fans berat Michael Bay. Dia fans berat apapun yang bisa berubah bentuk jadi robot. Begitu denger kabar Transformers 3 nggak akan masuk Indonesia, kontan dia pesen tiket ke Singapur untuk bulan Juli nanti. Agendanya cuma satu: nonton Transformers 3 di bioskop, yang gambarnya dijamin terang dan tata suaranya dipastikan menggelegar. Buat dia, pantang nonton Transformers 3 di tempat selain bioskop.

Tiga ilustrasi di atas sama-sama menggambarkan perilaku orang soal nonton film, tapi dalam intensitas yang berbeda banget. Agus adalah contoh perilaku orang yang ingin nonton karena sekedar iseng, nggak punya kegiatan lain. Film hanyalah satu dari sekian banyak pilihan kegiatan. Begitu ada hambatan, dengan mudahnya dia beralih pada kegiatan lain. Budi adalah penggemar film-nya. Medianya bisa bioskop, bisa DVD bajakan, bisa file download-an, yang penting dia bisa nonton. Sedangkan Cecep adalah penggemar pengalaman nonton-nya. Buat dia, yang namanya film ya harus ditonton di bioskop, nggak ada kompromi.

Perbedaan antara Agus, Budi, dan Cecep terjadi pada alasan mereka ingin nonton. Dan perbedaan seperti ini juga umum terjadi pada orang yang ingin melangsing.

Seperti yang pernah gue singgung sekilas di journal yang ini, ada orang yang ingin melangsing hanya karena “Lucu juga kali ye, kalo gue langsingan”. Awalnya mungkin karena lagi buka-buka majalah, liat para model langsing yang ada di sana, trus terlintas deh pikiran untuk melangsing seperti para model. Untuk orang dengan motivasi seperti ini, melangsing hanyalah salah satu cara untuk membuat dirinya lebih bahagia. Artinya, kalo program melangsingnya gagal, ya gak papa. Atau, kalo disodori sederetan menu sehat atau daftar porsi olah raga, mereka mungkin akan bilang, “Adeuuu… rempong amat ya kalo mau langsing, gue mending gendut aja deh kalo gitu. Toh gendut-gendut gini juga gue masih laku.”

Ada juga orang yang hanya ingin langsingnya, dengan cara yang segampang mungkin. Pokoknya langsing. Urusan lainnya gak urus. Seorang temen lama yang dulu suka ngerokok bareng di tangga cerita, dia punya dokter langganan yang bisa melangsingkan orang hanya dengan ‘disuntik vitamin C’.

“Setahu gue vitamin C memang sehat, tapi kayaknya efeknya nggak segampang itu deh. Disuntikin langsung kurus. Jangan-jangan bukan vitamin C,” kata gue skeptis.

“Eh kok nggak percaya. Lha ini gue kemarin abis disuntik, lengan gue langsung kecilan. Tapi yah, kata dokternya sekarang gue harus sering-sering minum air putih, supaya obatnya nggak numpuk di ginjal,” katanya enteng.

Dengan kata lain, ‘vitamin C’ atau apapun yang disuntikkan si dokter ke dalam tubuhnya itu memaksa ginjal bekerja lebih keras, atau malah mungkin berpotensi meracuni, sehingga harus dinetralkan dengan banyak minum air putih. Dan belakangan gue ketahui bahwa tepatnya bukan ‘disuntik’, melainkan diinfus. Jadi ‘obat’ pelangsingnya itu dikemas dalam kantong dan dimasukkan ke tubuh lewat jarum yang dipasang di pembuluh darah. Ironis sebenernya, mengingat temen gue ini sering bilang olah raga itu mengerikan tapi di sisi lain sama sekali nggak ngeri memasukkan zat asing ke pembuluh darahnya.

Di acara kumpul-kumpul Oriflame-nya Ida juga gue pernah denger pengalaman salah satu temennya yang mencoba melangsing dengan cara nggak makan atau minum apapun kecuali air kelapa. Memang sih, air kelapa itu sehat. Tapi secara logika bego-begoan aja, kalo dalam beberapa hari lambung lu nggak kemasukan apapun kecuali air kelapa, sementara produksi asam lambung terus berjalan, gimana bisa sehat, sih? Dan bener aja, setelah 3 hari menjalani diet brutal kayak gitu, temennya Ida ini panas tinggi dan harus dibawa ke dokter.

Temen gue yang lain minum seduhan ‘daun jati Cina’ setiap habis makan. Efeknya, sesaat setelah minum ramuan itu, akan timbul ‘panggilan alam’ alias kebelet BAB. Maka keluarlah segala makanan yang baru dimakan tadi lewat jalur belakang, dengan waktu singgah yang cuma beberapa menit di lambung. Pertanyaan gue: kalo makanan ‘dipaksa’ untuk keluar dalam waktu sesingkat itu, trus apa kabar dengan penyerapan nutrisinya?

Kalo gue sih, inginnya sehat DAN langsing.

Inspirasi utama adalah Rafi. Beberapa bulan yang lalu, kalo gue boncengin dia naik sepeda ke sekolah, dampaknya adalah keringat mengucur, napas ngos-ngosan, dan jantung serasa mau lompat keluar. Padahal jarak tempuhnya cuma 800 meter.

Sebagai anak laki-laki, secara naluriah Rafi juga suka permainan yang fisik banget seperti main kuda-kudaan, main onta-ontaan, atau main ikan-ikanan yang intinya sama: nindihin bapaknya di atas kasur. Setiap kali abis main kayak gitu, pinggang gue serasa mau patah.

Kondisi itu bikin gue mikir, bahwa seiring perkembangan usianya, tuntutan permainan fisik kayak gini pasti akan makin berat. Dan rasanya bukan teladan yang terlalu positif bila seorang bapak berkata kepada anaknya, “Maaf nak, bapak nggak bisa nemenin main di luar. Asam urat bapak lagi kumat.” Aktivitas orangtua adalah standar perilaku buat anaknya. Gimana seorang anak bisa berkembang jadi anak yang gesit dan cekatan kalo tiap hari yang dia liat orang tuanya duduk selonjoran sambil ngoles minyak urut? Target pertama gue adalah: sehat dan punya stamina bagus.

Yang ke dua adalah baju ukuran all size. Lu boleh bilang gue konyol, tapi terus terang gue merasa terlecehkan oleh fakta di mana gue nggak pernah muat pake baju berlabel “all size”. Baju berlabel all size kan artinya “manusia dengan ukuran apapun akan muat pake baju ini”. Lah kalo gue nggak muat, artinya gue bukan manusia, gitu? Baju all size itu biasanya mengambil ukuran mirip seperti ukuran L, maka itu jadi target gue yang ke dua: muat dalam baju ukuran L.

Karena gue ingin sehat, maka segala metode pelangsingan yang berisiko terhadap kesehatan gue coret dari daftar, dan memilih Herbalife 🙂

Karena tujuannya untuk mendampingi pertumbuhan Rafi yang m
asa depannya masih panjang, maka gue butuh metode yang kontinu dengan hasil permanen – bukan metode kilat yang bikin langsing dalam sebulan tapi gendut lagi dalam 3 bulan.

Karena gue ingin muat dalam baju ukuran L, maka sekalipun angka-angka laporan medical check-up gue yang terakhir normal-normal aja, gue masih melanjutkan program pelangsingan.

Karena gue ingin punya stamina yang bagus, maka gue memasukkan olah raga dalam program pelangsingan gue.

Poin gue adalah, alasan mengapa elu ingin langsing itu sangat, sangat, sangat penting banget sekali. Alasan di balik usaha lu melangsingkan diri akan sangat berpengaruh pada cara apa yang lu pilih; dan seberapa jauh lu mau berkorban untuk mencapainya. Saran gue, jangan mulai program pelangsingan apapun sebelum lu punya jawaban yang memuaskan atas pertanyaan:

“Kenapa gue ingin melangsing?”

Buat yang ingin melangsing secara sehat dengan Herbalife, jangan malu-malu lho untuk kirim PM ke gue atau email si.mbot [at] gmail.com 🙂

Gambar, masih gue pinjem dari gettyimages.com

[Herbalife Diary 006] Ini dia cara makan ideal buat melangsing!


Nelden, temen kuliah gue, punya cara makan yang bisa bikin orang serasa ingin gila. Gue gambarkan alasannya:

Suatu siang, Nelden pesen mi ayam di kantin kampus. Begitu minya dateng, pertama-tama dia berdoa dulu. Berdoanya lamaaa… banget kayak orang takut keracunan. Berikutnya, dia mulai menyisihkan pangsit-pangsit goreng di pinggir mangkok dalam susunan geometris simetris. Habis itu dia mulai mencacah minya dengan sendok dan garpu. Minya dipotong-potong sampe nggak ada satu lembar pun yang panjangnya lebih dari 2cm. Proses ini bisa makan waktu sampe 10 menit sendiri (belum termasuk doanya).

(lebih…)

[Herbalife Diary 005] Merasa gagal diet? Coba cek dulu daftar ini!


Sejak gue mulai turun berat, orang mulai bertanya-tanya tentang diet ke gue (seolah-oleh gue pakar diet, hehehe…). Tiga reply di bawah ini mewakili pertanyaan yang belakangan sering gue denger:

…makannya kalo di liat2 kurangan dr Agung, tiap hari step & weight 1 jam, seminggu 1x tambah Yoga lagi 1 jam.. teuteup GA PERNAH turun.. yg ada badan malah kek tukang pukul nih, bag atas gede.. ada lagi ideanya Gung??? – jrdd

gue cuma turun 5 kiloan dalam 2 bln, udah pake ngos2an tuh, plus pembatasan makanan tentunya. pagi sarapan oatmeal plus susu skim, siang makan biasa (no lemak) dan malam hanya makan buah2an. olah raga setidaknya 3-4 kali seminggu, jogging plus sit-up & push-up. – agusdidin

Mbooot, macam2 makanan yg kau makan jauh lbh bnyk macamnya dr aku :(( bedanya cuma I do no sport at all.. Rasanya gue ga mungkin kurus lagi T___T *sudah hopeless* – dayanadayanadayana

Nah, sebelum putus asa dengan ‘kegagalan’ diet kalian, atau merasa udah ‘takdir’ untuk gendut, coba lihat-lihat checklist berikut. Barangkali ada hal yang kelewat dari program diet kalian.

PERINGATAN: Walaupun saat menulis ini gue udah berusaha melandasinya dengan referensi ilmiah, tetap perlu diingat bahwa gue bukan dokter dan nggak punya kompetensi di bidang kesehatan. Jadi, cek dan ricek informasi di sini dengan pihak yang lebih kompeten ya! Kalau ada informasi yang keliru juga mohon dikoreksi.

Apakah udah punya motivasi yang kuat?
Jangan mulai diet hanya karena “kayaknya lucu juga kalo langsing” . Jawab dulu satu pertanyaan penting: “kenapa elu ingin melangsing?” Terlepas dari risiko-risiko kesehatan, sebagian orang bisa hidup dengan kadar lemak di atas 30% dan merasa baik-baik aja. Dia nggak merasa terganggu dengan kondisi tersebut. Kalo ini yang terjadi dengan kalian, ya sud, mengapa harus memaksakan diet? Jangan pernah melakukan sesuatu yang membutuhkan komitmen tinggi – diet salah satunya – karena dorongan dari orang lain. Biarpun bapak lu, ibu lu, pasangan lu maksa-maksa untuk turun berat badan, yang terpenting adalah denger kata diri lu sendiri. Apa iya elu BENER-BENER ingin langsing?
Mulailah diet saat lu punya satu alasan kuat untuk melakukannya. Tanpa itu, percuma.
Apakah asupan nutrisinya cukup?
Saat memulai ‘diet untuk turun berat’ seringkali yang terlintas di benak orang adalah mengurangi makan, apapun jenisnya. Padahal, untuk membakar lemak badan kita butuh sejumlah vitamin dan mineral. Sejumlah vitamin B-kompleks, misalnya, dibutuhkan tubuh untuk mengolah energi dari karbohidrat. Zinc diperlukan untuk proses metabolisme. Protein diperlukan untuk regenerasi sel. FYI, saat kita latihan beban, tubuh kita memecah sel otot. Pada waktu istirahat, sel ini dibangun kembali. Proses pembentukan sel inilah yang membakar kalori, dan untuk itu tubuh kita membutuhkan protein. Kalo asupan protein kurang, ya regenerasi selnya terhambat dan tubuh kita lebih lambat membakar kalori.
Asupan makanan memang perlu dikurangi, tapi jangan hantam kromo dikurangi semuanya. Bukan mau ngiklan sembarang ngiklan, tapi ini alasan utama mengapa gue pake produk Herbalife untuk program diet gue; karena kandungan nutrisinya lengkap. Kalo lu tanya apakah mungkin berdiet tanpa Herbalife, jawabannya tentu aja mungkin – tapi jauh lebih repot.
Apakah prosesnya membuat elu kelaparan?
Kita mungkin mengira bahwa kita punya kontrol 100% atas badan kita. Faktanya enggak. Badan kita punya sejumlah mekanisme otomatis yang suka nggak suka akan terjadi. Untuk beberapa proses, justru kita yang harus ikutin kemauan badan kita. Salah satunya adalah proses pembakaran lemak.
Badan kita menumpuk lemak sebagai cadangan energi, dan badan kita memperlakukan energi seperti kita memperlakukan duit. Coba inget-inget, saat duit lagi tiris, atau ada ancaman terhadap sumber penghasilan lu, misalnya kantor tempat lu kerja mengumumkan kondisi perusahaan lagi kritis dan ada kemungkinan pemotongan gaji, apa yang lu lakukan? Berhemat, kan? Badan kita juga gitu. Begitu kita mulai mengurangi asupan makanan, apalagi secara drastis, badan kita mulai memperlambat metabolisme. Akibatnya pembakaran lemak melambat, dan penurunan berat juga ikut kena imbas.
Contoh lainnya, buat yang muslim, coba inget-inget saat puasa Ramadhan. Kalo kita berpuasa sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, yaitu berbuka secukupnya, makan malam dan sahur dengan porsi normal, bukan porsi balas dendam, praktis kita cuma dapet pasokan kalori 2/3 dari biasanya. Nah, setelah sebulan menjalani proses seperti itu, apa iya kita akan kehilangan 1/3 dari berat badan? Paling banyak turun 5%, malah nggak sedikit juga yang bobotnya naik.
Diet dengan menahan lapar, selain menyiksa, juga kurang efektif. Buat apa? Seperti yang gue tulis di journal yang ini, kalo lapar, ya makan – tapi stop saat laparnya hilang.
Apakah elu makan dengan sistem borongan?
Lagi-lagi berdasarkan penjelasan di journal yang ini, kalo lu makan dengan sistem ‘rapel’ alias jarang makan, gak ngemil, tapi sekali makan menggunakan sistem ‘PORTUGAL‘ (Porsi Tukang Gali) maka proses penurunan berat lu akan semakin sulit. Kalo lu makan terlalu banyak sekaligus, maka asupan energinya akan melebihi kebutuhan saat itu dan akhirnya disimpan jadi lemak. Sebaliknya, kalo lu makan dalam porsi kecil tapi sering, asupan energinya akan langsung habis dipakai sesuai kebutuhan. Begitu lu tambah dengan olah raga maka pembakaran lemak akan lebih mudah terjadi.
Apakah olah raganya udah cukup?
Beberapa orang mengaku udah ‘olah raga’, tapi setelah ditanya lebih lanjut ternyata yang dia maksud adalah mampir ke gym sekali
seminggu, atau 10 menit jalan kaki ke halte bis saat berangkat kantor. Yah itu sih lumayan daripada enggak sama sekali, tapi kalo tujuannya untuk nurunin berat jelas kurang banget.
Seringkali orang tanya ke gue, mungkin nggak sih nurunin berat tanpa mengalokasikan waktu khusus untuk olah raga? Kalo menurut gue, mungkin sih mungkin aja, tapi durasinya akan lama banget, dan hasilnya juga nggak akan sesehat yang dikombinasikan dengan olah raga. Pastinya orang yang ingin turun bobot juga ingin sehat kan? Sebab kalo cuma mau turun bobot tanpa peduli sehat atau enggaknya, gue sarankan sih typhus aja. Dengan typhus gue pernah turun 10 kilo dalam 1 bulan, mantap kan?
Nah, kalo nggak mau pake typhus, upayakan minimal olah raga 3 kali seminggu dengan intensitas dan durasi cukup. Maksudnya, saat berlatih cardiovaskuler, misalnya, naikkan intensitas hingga lu merasa sulit untuk ngomong tanpa ngos-ngosan. Durasinya juga minimal 30 menit per latihan. Untuk latihan beban juga gitu. Beban optimal elu adalah yang bisa lu angkat maksimal 10 kali. Kalo beban itu bisa lu angkat 20 kali sambil jelalatan liat orang lewat, artinya terlalu ringan. Sebaliknya, kalo lu angkat 1 kali aja rasanya udah kaya mau ngundang tahlilan, artinya terlalu berat.
Apakah beban olah raganya progresif?
Terkait dengan poin sebelumnya, sebagian orang berolah raga dengan porsi yang sama dari waktu ke waktu. Misalnya, lu terbiasa 3 kali seminggu lari di treadmill sejauh 3 km selama 30 menit, dengan kecepatan rata-rata 6 km / jam. Kalo lu rutin melakukan ini, makin lama porsi olah raga itu akan terasa semakin ringan. Artinya, badan lu nggak ‘tertantang’ lagi untuk melakukannya. Jelas aja badan lu nggak merasa perlu untuk mengambil cadangan energi dari lemak.
Contoh lainnya untuk latihan beban. Waktu baru mulai latihan lu pegel linu mengangkat beban 10 kg. Tapi kalo udah beberapa bulan latihan rutin bebannya segitu terus, lu bisa melakukannya sambil SMS-an. Nggak menantang lagi, dan pembakaran lemak lu akan semakin menurun.
Untuk terus menjaga bahkan meningkatkan proses pembakaran lemak, tingkatkan terus intensitas olah raga lu seiring peningkatan kemampuan lu. Buat yang latihan bebannya dengan gerakan-gerakan basic seperti push – up, bebannya juga bisa dibuat progresif kok. Kalo semakin lama lu semakin kuat push-up sehingga nggak terasa menantang lagi, coba deh push-up dengan bawa ransel yang bobotnya lu tambah secara bertahap.
Apakah cukup minum air?
Air penting dalam proses diet karena dua alasan. Pertama, karena proses distribusi nutrisi dari makanan ke sel membutuhkan media air. Kurang air, nutrisi yang lu makan nggak akan terdistribusikan secara sempurna. Padahal di poin sebelumnya udah gue jelaskan, sejumlah nutrisi penting untuk mendukung proses metabolisme. Kedua, air membantu mengurangi ‘lapar jadi-jadian’. Terkadang saat badan kekurangan air, kita merasa ‘lapar’. Padahal sebenernya haus. Minum air secara bertahap (jangan diborong di satu waktu) sepanjang hari, minimal 3 liter, membantu mengatasi ‘lapar jadi-jadian’.
Apakah targetnya realistis?
Beberapa orang punya target yang ngeri-ngeri, semisal turun 10 kilo dalam sebulan, atau harus muat ke baju ukuran S saat datang ke kawinan minggu depan padahal sekarang ukurannya XL.
Target yang ‘agak’ mudah dikelola BUKAN berdasarkan kilogram yang mau diturunkan, tapi berdasarkan persentase berat badan saat ini. Gue bilang ‘agak’, karena yang benar adalah dilihat dulu berapa persen kadar lemak yang ada sekarang, dan target kita adalah membuang lemaknya. Secara umum lemak lebih mudah dibuang – dan lebih sehat – ketimbang kita berencana membuang otot. Jadi kalo ada 2 orang yang beratnya sama-sama 70 kg ingin turun berat badan, melakukan diet yang sama, program latihan yang sama, kecepatan penurunan beratnya bisa berbeda. Kalo kadar lemak orang pertama 30% sementara orang ke dua hanya 20%, maka bobot orang pertama akan lebih cepat turunnya daripada orang ke dua.
Tapi kalo lu nggak bisa ngukur kadar lemak, solusi yang paling mendekati adalah perhitungan berdasarkan persentase. Kalo berat lu sekarang 70 kilo dan ingin turun ke 60 kilo, jangan iri liat kecepatan orang yang beratnya 100 kilo turun ke 90 kilo. Buat lu, 10 kilo itu sama dengan 14% bobot awal, sementara buat orang itu hanya 10%.
Apakah targetnya relevan?
Saat memulai program diet, biasanya orang menargetkan penurunan sekian kilo. Saat angka di timbangan nggak menurun, langsung frustrasi dan merasa dietnya gagal. Padahal, bisa aja proses diet seseorang berhasil padahal angka timbangannya nggak turun lho! Kok bisa? Bisa, kalau dalam proses tersebut massa ototnya berkembang dan massa lemaknya menyusut.
Sekedar info aja, kepadatan sel otot itu sekitar 18% lebih tinggi dari sel lemak. Aktualnya, berat 1 liter otot = 1,06 kg sementara 1 liter lemak hanya 0,9 kg. Dengan kata lain, 1 kg lemak menempati ruang yang lebih banyak ketimbang 1 kg otot. Jadi kalo ada orang yang setelah berolah raga beberapa waktu berhasil membakar 1 kg lemak dan pada saat yang bersamaan menumbuhkan 1 kg otot tambahan, maka saat ngecek timbangan dia akan melihat bobotnya sama sekali nggak turun! Padahal secara penampakan dia pasti akan nampak beberapa cm lebih langsing.
Ini juga menjelaskan kenapa 2 orang yang bobotnya sama bisa nampak berbeda jauh. Misalnya dua orang dari poin sebelumnya, sama-sama berbobot 70 kg tapi yang satu berkadar lemak 30% dan satunya 20%, maka pasti orang ke dua nampak lebih langsing.
Jadi, kalo mau sukses diet, jangan cuma terpaku pada penurunan berat doang. Ukur juga kadar lemak dan ukuran anggota tubuh dalam centimeter.
Apakah porsi latihan beban vs cardiovaskulernya seimbang?
Sebagian orang berpikir bahwa kalo mau turunin berat, yang penting adalah latihan cardiovaskuler (bersepeda, lari, aerobik) sedangkan latihan beban adalah buat orang yang mau gedein badan kayak Ade Rai. Jadi kalo mau langsing, ya cukup latihan cardiovaskuler aja, jangan latihan beban. Ini keliru, gara-gara, lagi-lagi, sebuah mekanisme otomatis dari badan kita.
Otot adalah ibarat mesin pada mobil. Dalam menjalankan fungsinya sebagai penggerak, otot mengkonsumsi energi. Makin besar massa otot, makin boros konsumsi energinya.
Bedanya dengan mesin mobil adalah, otot bisa menaikkan dan menurunkan “cc mesin” sesuai kebutuhan. Kalau otot kita sering dipake untuk latihan-latihan yang sifatnya menguji ketahanan dalam durasi panjang, maka dia akan mengerut. Tujuannya supaya konsumsi energinya lebih irit sehingga bisa bertahan lebih lama dalam latihan berdurasi panjang. Sebaliknya, kalo dia dilatih untuk mengangkat beban berat dalam durasi singkat, dia akan membesar dan membentuk bongkahan. Tujuannya untuk menghasilkan tenaga yang besar dalam durasi pendek.
Jadi kalo niat kita menurunkan berat, tapi latihannya hanya latihan cardiovaskuler melulu, lama-lama penurunannya akan makin lambat. Bukan cuma itu, hasilnya juga biasanya kurang bagus karena de
ngan massa otot yang terlalu kecil dan kadar lemak rendah, kita akan nampak terlalu ‘kerempeng’ dan kendor. Coba googling cari foto juara dunia marathon dan foto juara dunia lari 100 meter. Bandingkan. Mana yang badannya nampak lebih enak dilihat?
Apakah lu cukup istirahat?
Mungkin gara-gara terlalu termotivasi untuk langsing trus lu sikat habis tiap hari olah raga berat tanpa istirahat, atau emang dari sononya doyan begadang, semuanya berdampak negatif untuk proses penurunan berat. Kurang istirahat membuat badan kita ‘stress’, dan seperti dijelaskan di poin sebelumnya, saat stress badan mulai memperlambat metabolisme dan menumpuk lemak.
Selain itu kurang istirahat juga nggak memberikan kesempatan buat pembangunan otot yang dipecah sewaktu berolah raga.
Kalo pertanyaannya seberapa banyak porsi istirahat yang cukup, takarannya beda-beda untuk tiap orang, Indikatornya adalah, lu bisa menjalani kegiatan lu dengan konsentrasi penuh, nggak lemes, apalagi sakit-sakitan, artinya istirahat lu udah cukup.
Apakah kadar gula darah lu tinggi?
Coba baca replynya ummuauliya di journal gue yang ini. Kalo elu seorang penderita diabetes, bobot lu biasanya akan lebih sulit turun karena kekurangan insulin yang penting untuk pengolahan energi. Kalo dipaksa diet dengan cara konvensional, maka lu akan merasa sangat lemas dan kelaparan sementara bobot nggak turun-turun. Untuk penderita diabetes, lebih baik konsultasi ke dokter dulu biar dibuatin program diet yang lebih sesuai.
Apakah rutin mengkonsumsi alkohol?
Berlawanan dengan sensasi ‘hangat’ saat diminum, minuman beralkohol sama sekali nggak membantu membakar lemak. Alkohol justru membebani kerja liver, padahal enzym-enzym yang penting untuk membakar lemak juga diproduksi di liver. Alkohol membuat kerja liver kurang optimal dalam membantu pembakaran lemak.
Apakah udah bebas dari ngemil?
Kalo orang mengaku ‘mengurangi makan’ seringkali mereka lupa menghitung makanan yang dimakan sambil iseng. Padahal, walaupun ukurannya kecil, makanan cemilan biasanya mengandung lemak jenuh (karena digoreng) dan garam yang tinggi. Sebut aja: kacang telor, kacang asin, kripik singkong, emping, dan sejenisnya. Popcorn yang nampak kecil, putih dan ‘jinak’ itu ternyata punya kandungan kalori setara 3 buah burger Mc Donald’s lho!
OK, bahaya lemak terhadap diet sih udah tau. Tapi apa salahnya dengan garam?
Garam bersifat mengekstrak kandungan air dari dalam darah ke sel, akibatnya kadar air di sel terlalu tinggi dan tentu aja menambah bobot alias ‘gendut air’ – badan kita akan nampak kendor dan lembek. Selain itu, karena kandungan air di darah terperas keluar maka kekentalan darah meningkat dan membuat jantung harus memompa lebih keras. Ini sebabnya garam sering dituding sebagai biang keladi penyakit darah tinggi.

Sementara ini dulu hal-hal yang menurut gue penting untuk dicek dan ricek selama program melangsingkan badan. Kalo ada lagi yang keinget, akan gue tambahin deh. Prinsipnya, kalo si mbot aja bisa melangsing, siapapun PASTI bisa!

  • Komentar Terbaru

    Feni Febrianti di siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot di My Wonder Woman
    bayutrie di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.575 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: