Ingin Hidup Seperti Raja? Ini Triknya.


Andaikan gue dapet 5.000 perak tiap kali denger seorang suami curhat bertemakan salah satu topik berikut, mungkin sekarang gue udah jadi juragan kos-kosan:

  • “Istri gue ampun bawelnya, gue cuma dandanin motor dikit aja udah ribut.”
  • “Sejak kawin, jangan harap deh bisa belanja buat hobi, kalo nggak mau tidur di sofa.”
  • “Kalo ada obyekan, harus pinter-pinter ngumpetin duitnya biar majikan (=istri) nggak ikutan minta jatah.”

Sebelum ngerasain sendiri kehidupan perkawinan, curhat-curhat sejenis bikin gue mikir, “kawin = sengsara”. Tapi setelah ngerasain 14 tahun perkawinan, rasanya gue udah lumayan memenuhi syarat untuk bilang bahwa kesengsaraan para suami dalam sebuah perkawinan biasanya terjadi karena salah konsep.

(lebih…)

menikmati game arcade gratisan ala rafi


Pada suatu hari, Rafi ikut gue dan Ida pergi ke Plaza Semanggi. Waktu berangkat kami udah bilang sama dia, “boleh ikut tapi cuma liat-liat aja, nggak beli apa-apa”.

Sesampainya di sana, kebetulan kami lewat di sebuah game arcade. Itu lho, tempat mainan anak-anak yang isinya binatang-binatangan / mobil-mobilan yang bisa gerak maju-mundur dan naik-turun kalo diisi koin, bahasa Indonesianya apa sih tuh. Ya pokoknya itulah.

Mudah diduga, tempat semacam itu selalu efektif untuk bikin bocah balita manapun merengek-rengek. Tapi berhubung sebelumnya udah ada perjanjian untuk nggak beli apa-apa, ya kami biarin aja. Dia boleh berkeliaran di sana, tapi nggak beli koin.

Awalnya dia mencobai satu-satu mainan-mainan tunggangan berkoin. Naik ke yang satu, muter-muter setirnya atau mencet-mencet tombolnya, turun, naik lagi ke yang berikutnya. Sampe akhirnya dia nemu satu yang berbentuk benda favoritnya: kereta.

Entah karena kereta-keretaan itu lagi rusak, atau karena tempatnya bentar lagi mau tutup, atau penjaganya tadi denger waktu kami menolak permintaan Rafi untuk beli koin, mainan itu nggak dijaga. Padahal kalo liat dari tongkrongannya, mainan kereta-keretaan ini nampak cukup serius karena ada relnya segala. Maksudnya, bisa jalan betulan, bukan cuma naik-turun maju-mundur. Maka dengan riang gembira Rafi naik ke atas kereta-keretaan itu.

Berhubung mesinnya nggak dinyalain, ya tentu aja keretanya nggak jalan. “Kurang seru nih kalo main kereta-keretaan tapi keretanya nggak jalan,” mungkin gitu pikirnya. Maka dia turun lagi, dan… mulai mendorong kereta-keretaan itu mengitari relnya.


Dari ekspresinya sih nampak bahwa kereta-keretaan berbahan fiberglass tapi berangka logam itu lumayan berat, tapi dia senang-senang aja tuh. Heboh dorong kereta keliling rel sambil ketawa-ketawa sendiri, sementara orangtuanya yang kikir mengawasi dari jauh tanpa sedikitpun tergerak untuk membelikan koin.

Eh, dasar rejeki Rafi mah ada aja. Ulahnya ternyata menarik perhatian dua orang bocah kecil lainnya. Mereka mendekat, awalnya cuma nonton Rafi sibuk dorong kereta, dan akhirnya… ikutan berpartisipasi dorong!

Berhubung sekarang udah ada yang dorongin, tentunya Rafi segera memanfaatkan momentum dengan naik ke atas kereta…




Lumayan, nggak usah beli koin bisa naik kereta-keretaan gratis!

Orangtua Bersaing, Anak Ditarget Beranak


Kalo elu adalah seorang ABG, sumber kebanggaan lu mungkin adalah handphone paling ‘gawl’, baju / sepatu / aksesori paling ngetrend, atau punya pacar ngetop.

Kalo elu seorang pegawai kantoran, sumber kebanggaan lu mungkin adalah kantor yang di daerah strategis, fasilitas mobil dinas, dan jabatan yang terdengar penting.

Kalo elu adalah seorang ibu-ibu usia 60 tahun ke atas, sumber kebanggaan lu adalah 2 hal, yang pertama adalah penyakit.

Coba deh sekali-sekali anterin seorang ibu-ibu usia segitu ke dokter. Maka dalam hitungan menit di antara para calon pasien akan mulai terdengar dialog berikut:
“Sakit apa bu?”
“Ini lho, lutut saya kok kalo pagi suka kaku, nggak bisa ditekuk…”
“Wuaaah…. kalo gitu kalah sama saya, ini lutut saya SELALU susah ditekuk, mau pagi, siang, malam…”
“Tapi tangan kiri saya juga suka kaku”
“HAH. Kalo saya dua-duanya, kanan sama kiri.”

Nampaknya di kalangan ibu-ibu sepuh, semakin tinggi tingkat keparahan suatu penyakit, semakin bersinar pamor senioritasnya.

“Kolesterol saya 350…”
“Masih mending cuma segitu. Saya 400 lebih. Kepala sampe pusiiiing sekali rasanya.”
“Tapi gula saya juga tinggi.”
“Nah, kalo saya masih ditambah asam urat.”

Gue rasa akan seru kalo obrolan penyakit ibu-ibu ‘senior’ diangkat dalam kuis televisi, dengan MC Coky Sitohang yang tongkrongannya cocok jadi calon menantu idaman para ibu. Nama acaranya “Who Wants to be a Patient”.

“Pemirsa, selamat datang di episode pertama ‘Who Wants to be a Patient’ bersama saya, Coky Sitohang. Di sudut merah kita sambut Ibu Endang… selamat malam Ibu, sakit apa?”
“Leher saya kaku, nggak bisa noleh ke kanan.”
“Kasihan sekali ibu. Dan di sudut biru kita sambut Ibu Susi…”
“Leher saya kaku juga, nggak bisa noleh ke kanan DAN ke kiri.”
“Sabar dulu ibu, permainan belum dimulai.”
“Tapi memang bener, leher saya kaku. Saya cuma bisa ngangguk, nggak bisa geleng. Bayangin gimana perasaan saya waktu ikut cucu jalan-jalan ke dufan dan tau-tau dia nanya, ‘nenek, kita naik ontang-anting yuk! Mau nggak?”
“Tapi kaki saya rematik,” sergah Ibu Endang
“Rematik? Huh. Saya pengeroposan tulang, Bu!”
“Liver saya nyaris ambrol!”
“Ginjal saya kiwir-kiwir!”

…dan seterusnya.

Kalo materi penyakit udah dibahas tuntas, atau kebetulan ketemu lawan yang penyakitnya lebih ‘sadis’, maka permainan favorit lainnya adalah ‘cucu‘.

Seperti yang terjadi pada ibu gue semalem. Dianter kakak gue, ibu berkunjung ke dokter langganannya dan berkenalan dengan seorang ibu-ibu lainnya yang nampak sebaya. Obrolan tentang penyakit nampak kurang berkembang, maka topik beralih ke soal cucu.

“Cucunya sudah berapa, bu?” tanya ibu itu.
“Tujuh. Banyak ya?” jawab ibu gue bangga.
“Oh. Masih kalah sama saya. Cucu saya ‘sekian'” jawab ibu itu sambil menyebutkan sebuah angka yang jauh lebih besar dari tujuh. ‘
Ibu gue terdiam sejenak, nampak sulit menerima kekalahan yang begitu telak. Tapi kemudian, masih dalam rangka mempertahankan posisi, ibu berkata penuh nada optimis, “tapi anak saya yang paling kecil itu masih muda. Anaknya juga baru satu. Saya yakin cucu saya masih bisa nambah lagi, mungkin ke depannya bisa delapan atau sembilan…!”

Gara-gara persaingan orang tua di ruang tunggu dokter, anak ketempuhan harus beranak banyak…

rafi: drama di benak pak supir


Secara salah kaprah, Rafi memanggil ibunya Ida (yang notabene adalah neneknya) dengan “Mama”. Gue udah protes sejak dulu-dulu karena kalo nantinya dia belajar tentang silsilah, panggilan yang kurang taat kaidah ini bisa menyulitkan. Padahal belajar silsilah adalah salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan logika, lho.

Yang gue nggak duga adalah: ternyata urusan panggilan ini juga bisa merepotkan, minimal mengganggu ketenangan batin, di jalan.

Pada suatu hari Minggu, Ida lagi pergi Oriflame-an sementara gue anteng di rumah jaga anak. Tiba-tiba ibu gue nelepon, minta dikunjungi. Atau tepatnya, minta dikunjungi Rafi. Maka pergilah gue berdua Rafi, naik taksi.

Seperti biasa, Rafi senang kalo diajak naik taksi dan ngoceh segala macem, sampe akhirnya dia nyeletuk, “Bapak, Rafi mau ke rumah Mama…”

“Lho kan minggu lalu kita udah ke rumah Mama.”
“Mau ke rumah Mama lagi, Bapak.”
“Nggak bisa, rumah Mama kan jauh sekali. Sekarang kita mau ke rumah eyang.”
“Rafi ke rumah eyang sama bapak? Bunda nggak ikut?”

Entah cuma perasaan gue aja atau emang bener begitu, tapi kayaknya pak supir mulai melirik dari spion. ‘Hmmm… jadi ada Mama dan ada Bunda ya? Bapaknya pasti rajin nih. Kasihan, padahal anaknya masih kecil gitu,’ mungkin gitu pikir pak supir.

“Bunda nggak ikut, Bunda kan kerja cari uang.”
“Buat beli susu Rafi?”
“Iya, buat beli susu Rafi.”
“Rafi mau ke rumah Mama aja,Bapak…” kata Rafi lagi dengan nada bocah teraniaya.
“Ya… nanti kapan-kapan ya.”
“Sekarang aja, Bapak. Mau ke rumah Mama. Rafi kangen sekali sama Mama.” Emang dasar paling bokis nih bocah satu. Sementara pak supir nampak makin tertarik.

Akhirnya karena senewen mikirin kemungkinan perkembangan imajinasi pak supir, gue merasa perlu menjelaskan, “Begini lho pak, dia ini manggil neneknya ‘Mama’, dan manggil ibunya ‘Bunda’, udah kebiasaan sejak bayi soalnya,” kata gue kepada pak supir.
“Oh… iya pak,” jawab pak supir ramah.
“Beneran, pak.”
“Iya.”

Saat turun dari taksi, gue sungguh berharap pak supir percaya sama penjelasan gue. Ck, udah gue bilang seharusnya masalah panggilan itu diluruskan sejak dulu…

rafi: kecil-kecil realistis


Rafi menggambar

Suatu malam, saat gue lagi sibuk mengerjakan tugas penting main mafia wars di komputer, Rafi datang sambil bawa selembar kertas dan spidol.

“Bapak… tolong gambarin mobil dong,” katanya.
Berhubung lagi tanggung, dikit lagi naik level, gue jawab dengan, “Bentar ya… bapak lagi ketik-ketik ini… Rafi nggambar aja dulu di luar ya, nanti bapak nyusul.”
Abis itu gue kembali sibuk mengerjakan tugas penting main mafia wars, sementara Rafi anteng di depan TV.
Beberapa menit kemudian, dia kembali mendatangi gue sambil bilang, “Bapaaak… liat!” Dengan tampang bangga dia mengacungkan kertas yang sekarang udah dipenuhi coretan-coretan kusut seperti gumpalan rambut rontok, praktis sama sekali nggak berbentuk.
Reaksi pertama gue sih geli ngelihat kontras antara ekspresi kebanggaan di wajahnya dengan coretan amburadul yang dipamerkannya. Tapi gue lantas ingat dengan segala macam teori psikologi perkembangan anak waktu di bangku kuliah dulu; bahwa karya anak harus dihargai, bahwa sebagai orang tua kita nggak bisa menggunakan standar keindahan orang dewasa untuk menilai karya seorang anak yang mungkin dibuatnya dengan segala keterbatasan dan susah payah.
Maka dengan mengerahkan segenap antusiasme, gue pun bilang, “Waaah… Rafi nggambar mobil ya?”
…dan dia menjawab dengan lempeng, “Bukan. Ini kan cuma coret-coret.”
Walaupun masih kecil, rupanya Rafi cukup realistis menilai kualitas hasil karyanya sendiri.
foto: Rafi lagi menggambar di whiteboard milik eyangnya

pertanyaan buat sang motivator no. 1


Minggu lalu, gue beruntung dapet kesempatan ikut seminar motivasi Andrie Wongso, gratis karena nebeng acara kantor. Ini kesempatan langka, minimal buat gue, karena denger2 sekali ‘mentas’ dia menetapkan fee yang lumayan mahal, yaitu berkisar di angka 30 jutaan (CMIIW).

Terakhir gue nonton langsung Andrie Wongso di tahun 2003, dan minggu lalu pun dia masih bawain materi yang kurang lebih sama yaitu tentang perjuangan hidupnya dari orang susah menjadi orang sukses.

“Saya bersyukur terlahir sebagai orang susah,” kata Pak Andrie, “karena penderitaan saya semasa kecil jadi motivasi yang membakar semangat saya untuk jadi orang sukses! Saya ingat, waktu masih kecil jangankan makan enak di restoran, kalau ulang tahun kado dari ibu saya hanya telur rebus. Buat saya dan dan kedua saudara saya, ibu menghadiahkan 2 butir telur rebus, masing2 dibelah dua. Saya yang ulang tahun boleh dapat 2 belahan telur, sementara kakak dan adik saya masing-masing dapat separo telur. Bedanya seperti bumi dan langit dengan keadaan anak-anak saya sekarang. Begitu lahir, mereka sudah jadi anak milyuner. Mau kemana-mana diantar mobil ber-AC. Kalau ulang tahun, 3 minggu sebelumnya sudah ditanya sama ibunya, mau pesta di mana, undang berapa orang…”

Waktu coffee break, iseng gue datengin Pak Andrie.

“Pak, saya mau nanya, tapi sebelumnya maaf lho kalau pertanyaannya agak menyinggung pribadi…”
“Ya, kenapa?”
“Tadi kan Pak Andrie bilang, karena kecilnya menderita, maka bisa termotivasi untuk jadi sukses seperti sekarang. Trus gimana dengan anak-anaknya Pak Andrie yang sejak lahir hidup enak, apakah menurut Pak Andrie mereka termotivasi untuk sukses?”
Pak Andrie agak terdiam, dan pas menjawab juga terdengar ngambang, “.. yah tapi otak mereka pintar-pintar…”

Kesimpulan gue: harta bisa diwariskan, tapi sukses tidak.

Pesan buat Para Bapak Pegawai…


…yang istrinya mau memulai bisnis sendiri.

  • Pertama-tama, bersyukurlah – karena di luar sana banyak bapak-bapak pegawai lain yang sampai stress, gila, korupsi, dllsb karena keseringan denger istrinya bilang “Papih, aku mau beli…” Sedangkan istri lu bilang, “…saya mau jual…”

(lebih…)

Kursus gitar?! Setua ini?!


Satu setengah tahun yang lalu, gue cuma tau kode html untuk bikin tulisan bold dan italic. Sekarang, bermodalkan latihan di MP dan nanya sana-sini, ternyata bisa juga gue mengutak-atik CSS. Padahal berdasarkan tes IQ, gue dinyatakan punya kemampuan analisa non-verbal yang ‘cukup’ (istilah halus untuk ‘pas-pasan’), atau dengan kata lain otak gue sebenernya nggak didesain untuk memahami kode-kode ajaib HTML dan CSS. Kesimpulannya: kita bisa menguasai bidang apa aja, asal kita mau belajar – terserah apapun kata tes IQ.

Berbekal kesimpulan tersebut, maka hari Sabtu kemarin gue mulai belajar sesuatu yang baru: main gitar! Sebenernya sih udah lama gue kepingin menguasai alat musik yang satu ini, tapi nggak kebayang gimana caranya menyelipkan jadwal kursus di tengah jadwal yang udah numpuk ini. Jadi bertahun-tahun niat kursus main gitar cuma sekedar niat doang.

Bulan lalu, Kanta, keponakan gue yang sekarang duduk di kelas 1 SMA, ikutan kursus gitar di Purwacaraka cabang Cikini. Lokasi yang cukup deket dengan rumah, jadwal pertemuan yang cuma 1 x 45 menit / minggu dan di hari Sabtu pula, bikin gue teringat niat lama dan akhirnya…memutuskan untuk ikutan daftar!

Istri tercinta nggak abis2nya ngetawain suaminya yang udah tua bangka ini berangkat les gitar bersama keponakan yang masih SMA. Udah mana kursus tersebut kayaknya membidik pangsa pasar pelajar sehingga di form pendaftaran ada isian “asal sekolah”, “kelas”, dan “nama orang tua”. Mbak-mbak petugas pendaftaran juga nampaknya setengah nggak percaya mendengar hubungan antara gue dan Kanta.

“Ini siapanya?”
“Oom.”
“Ini, oomnya Kanta?”
“Iya.”
“Mau ikutan kursus di sini?”
“Iya, boleh kan?”

Tentu aja boleh, walaupun aneh. Sebagai akibatnya, semua orang di sana, mulai dari mbak2 petugas pendaftaran sampe guru kursusnya, manggil gue “oom” – saking pada bingung mau manggil apa dan belum pernah punya murid setua ini.

Kemarin kursus pertama gue, dan hari ini gue beli gitar di Gunung Agung biar bisa latihan di rumah.

Ya, gue mulai kursus gitar.
Setua ini.
Karena gue yakin apapun bisa dipelajari, selama kita mau.

Ada yang mau gabung?

Honeymoon hari 3: 1000 perak dan 5 kilo kacang


Burung yang bangun lebih pagi sekalipun, tetep kesulitan mendapatkan warnet di Kuta


Selasa 20 Desember 2005
Hari ini dimulai secara spektakuler : jam 4 pagi.
Jadi ceritanya, semalem (Senin 19 Des) kan mau nyari warnet nih, untuk bikin journal laporan hari ke 3. Taunya baik gue maupun Ida ketiduran, dan baru siuman jam 4 pagi. Kayak nggak punya hal lain dalam hidup yang lebih penting dari MP, maka gue pun memutuskan untuk beranjak menujut internet corner hotel saat itu juga, jam 4 pagi. Tapi… sayang… walaupun pelayanan Hotel Harris termasuk oke, tapi dia memiliki satu kekurangan yang sangat fatal yaitu internet cornernya tutup jam 9 malem! Memalukan sekali. Terpaksa deh gue nyari warnet ke luar. Ida tadinya mau gue tinggal aja di hotel, eh taunya dia bangun dan memutuskan untuk ikut.

Seperti sepasang gembel, kami berdua menyusuri wilayah kuta di pagi buta itu untuk nyari warnet. Tapi bener-bener nggak ada yang masih buka. Sampe full satu keliling kuta square kami jelajahi, tetep nggak nemu warnet buka. Beberapa warnet yang dengan sok taunya memajang label ‘open 24 hrs’ hanya memberikan harapan semu belaka.

Akhirnya setelah 1 jam ngukurin jalan tanpa hasil, jam 5 kami balik ke hotel dan langsung tidur lagi. Bangun sekitar jam 8, terus sarapan. Kali ini bener2 sarapan hotel seperti yang gue idamkan. Menu komplit mulai dari donat sampe bubur ayam tersedia. Es buahnya aja ada 3 macem! Slllurp…!

Acara hari ini, berdasarkan planning yang dibuat kemarinnya, adalah BANGUN PAGI-PAGI SEKALI, check-out dari Harris, check-in ke hotel berikut yaitu alam kulkul, dan berkunjung ke Denpasar. Ida yang pernah tinggal di sana 1 tahun waktu SMP dulu katanya kangen ingin lihat bekas rumahnya.

Bagun pagi-pagi sekalinya udah direalisasikan, tapi kemasukan faktor tak terduga yaitu ketiduran sampe jam 8 sehingga acara terpaksa direvisi. Belum lagi ketambahan faktor ujan yang kian mempersulit keadaan.

Kondisi perut kenyang setelah kemasukan berbagai macam makanan enak2, ditambah dengan faktor ujan, bikin males beranjak. Akhirnya diputuskan untuk check-out sesuai waktu check-out hotel aja, yaitu jam 12 siang, dan waktu kosong antara sarapan dan check-out diisi dengan…. yak betul, MP..!

Ngetik2 journal hari ke 2 yang tertunda, mandi, beres2, semuanya berakhir tepat jam 12. Ujan masih aja ngocol, rupanya ujan yang ini belum lulus penataran sadar wisata. Tapi diliat2, ah kayaknya nggak terlalu deres juga kok. Maka akhirnya, sepasang suami-istri homeless ini memutuskan untuk menyeret koper beberapa puluh meter ke kanan, pindah ke hotel alam kulkul.

tanamannya banyaaaak…. banget, bikin gue mengkhawatirkan jumlah populasi nyamuk di tempat ini. Sebuah kecurigaan yang kian menguat saat di kamar gue temukan…

Kalo hotel Harris bergaya minimalis, Alam Kulkul ini ceritanya mau bergaya back to nature. Tanamannya banyaaaak…. banget, bikin gue mengkhawatirkan jumlah populasi nyamuk di tempat ini. Sebuah kecurigaan yang kian menguat saat di kamar gue temukan… seperangkat baygon listrik!

Atmosfir di dalam kamar juga terasa sangat naturalis sekali. Maksudnya, begitu buka pintu kamar tercium aroma perabot rotan yang udah kena lembab. Menurut ida sih ini wangi2an aroma terapi, tapi gue kok ya agak meragukan ada sesuatu yang bisa diterapi menggunakan bau rotan lembab.

Baru beberapa menit masuk kamar, udah terjadi insiden: sebuah asbak sukses terbelah jadi tiga, jatoh waktu gue menggeser meja. Langsung gue berencana beli lem superglue kalo keluar ke denpasar nanti.

Ida’s visit to the past

Sekitar jam ½ 3 baru gue dan ida beranjak keluar dari hotel, nyegat taksi untuk mengangkut kami ke denpasar. Taksinya blue bird lho! Ongkosnya sama seperti jakarta, 5000 untuk ongkos buka pintu. Sampe ke Denpasar ongkosnya sekitar 50 ribu termasuk tip.

Di Denpasar gue dan ida turun di sebuah pertokoan bernama Tiara Dewata. Pertokoan lama, tempat mainnya ida waktu tinggal di sini. Ida ngaku dosa, ternyata waktu dulu dia sering main ke sini, suka ngakalin mainan enjot2an elektronik (tau kan, mainan berbentuk mobil / pesawat / binatang yang kalo dimasuki koin terus bergerak enjot2an sambil memutar lagu). Nah, waktu itu ida menemukan bahwa ternyata mainan tersebut juga bisa jalan kalo dimasuki koin 50 perak. Padahal koin resminya jelas di atas harga tersebut. Jadi, taktik yang dijalankan: beli koin resmi 1 biji, lantas koin tersebut bersama dengan beberapa butir koin gocapan dimasukkan ke mesin. Nah, mesin akan enjot2an beberapa kali lipat lebih lama dari semestinya. Satu lagi bukti betapa kriminalnya otak orang indonesia sejak usia yang sangat dini.

Dari pertokoan Tiara Dewata itu, ida mencetuskan ide yang udah dia dengung-dengungkan sejak di jakarta: INGIN DIFOTO DI STUDIO DENGAN MENGENAKAN KOSTUM BALI. Sebenernya suatu ide yang malesin banget dan sangat tidak jelas juntrungan maupun faedahnya, namun gue sebagai suami yang baik nurut aja deh.

Masih dengan iringan ujan, kami naik taksi ke TATI Photo Studio. Di studio ini juga dulu ida pernah berfoto dengan kostum bali, tentunya sendirian dan saat masih smp. Sekarang dia datang lagi ke sana, berdua dengan suami sebagai korban tak berdaya.

Paket foto studionya termasuk make-up muka, sehingga di sana gue harus pasrah didandani dengan bedak yang spons-nya berbau aneh dan dipakein lipstik yang warna merahnya entah kenapa menimbulkan dorongan untuk menggoda oom-oom lewat. Hambatan terjadi saat pemasangan tutup kepala: nggak muat. Kepala gue emang gede banget. Udah banyak orang yang bawain oleh2 peci dari Mekkah, dan nggak ada satupun yang muat di kepala gue. Padahal kalo dipikir konsumen peci2 dari Mekkah kan antara lain orang2 Afrika yang gede-gede itu ya.

Tadinya si ibu2 jutek perias wajah mau memaksakan penutup kepala itu bertengger di kepala gue tanpa kedudukan yang kokoh. “Jangan nunduk mas…!” katanya, padahal jangankan nunduk, kepala gue gerak dikit aja tuh tutup kepala jatuh bergedubrakan. Kembang2 emasnya sampe copot satu. Udah gitu kalo gue dipaksain pake tutup kepala yang itu, nampaknya jadi ajaib banget, seperti lagi menyunggi sesuatu gitu. Untung ada seorang mbak2 yang lebih berakal sehat dan mengganti tutup kepala itu dengan udeng, ikat kepala ber-velcro sehingga lebih pas.

Di studio, kami berhak menampilkan 3 pose. Pose pertama sambil berdiri, sebagaimana layaknya para penganten pada umumnya. Mbak2 pengarah gayanya bolak-balik ngomandoin, “masnya kok senyumnya kurang lebar, ayo senyum dong mas…!” Lu nggak tau aja bibir gue serasa lengket dengan lipstik berwarna ngeri itu, boro2 mau senyum.

Pose ke dua, pake gamelan. Ceritanya gue sebagai pangeran bali nan tampan rupawan sedang menghibur hati Ida sang putri bali nan cantik jelita dengan tabuhan gamelan. Tangan kiri pegang gamelan, tanan kanan pegang pemukulnya, demikian arahan sang pemandu gaya. Usulan gue untuk bergaya satu tangan memegang Ida dan tangan satunya mengacungkan pemukul gamelan ke arah Ida ditolak.

Pose ke tiga, Ida duduk di kursi dan gue duduk di pegangan kursinya. Tinggal ditambahin megang gitar, jadi deh cover album koes plus 70-an.

Berhubung sekarang udah era digital, fotonya bisa ditunggu. Kalo dulu, kata ida, baru 3 hari jadi. Sambil nunggu fotonya jadi, gue berkelana ke toko2 sekitar dan nemu toko yang jualan kacang rahayu, oleh2 standar para turis (lokal) yang baru pulang dari bali.

Honesty; is NOT a lonely word

Sekitar 5 meter gue melangkah keluar dari toko, gue dikejar sama pegawai tokonya.

Di salah satu toko gue sempet beli 2 biji teh kotak seharga 5 ribu perak. Berhubung lagi surplus duit ribuan sampe dompet susah ditekuk, gue bayar pake duit ribuan. Setelah bayar, gue keluar dari toko, menuju studio foto untuk bawain teh kotak itu ke ida. Sekitar 5 meter gue melangkah keluar dari toko, gue dikejar sama pegawai tokonya. Ternyata… duit yang gue bayarkan kelebihan selembar, dan dia mau ngembaliin duit itu ke gue. Padahal buat sebagian orang di Jakarta, nemuin duit kelebihan seribu perak paling dikantongin sambil mikir ‘yang punya juga nggak nyadar ini-lah’.

Gue sempet nanya2 harga kacang rahayu di 2 toko, termasuk toko tempat gue beli teh kotak itu, dan sempet mikir untuk nanya beberapa tempat lain di kuta, siapa tau ada yang lebih murah. Tapi gara2 insiden duit 1000 perak itu, gue langsung memutuskan untuk beli di toko itu aja. Seandainya penjaga toko itu tau ya, kejujurannya telah mengubah keputusan gue 🙂 Berhubung banyak yang harus dibawain, beli punya beli akhirnya gue keluar dari toko tersebut dengan nenteng kacang seberat hampir 5 kilo.

Nunggu sebentar lagi di studio foto, trus fotonya jadi. Ida terhibur banget liat hasilnya, dan langsung berencana posting di MP (CD fotonya dikasihin ke kita). Keluar dari studio foto, tuh yang namanya ujan masih aja belom bosen turun. Tadinya kami mau naik taksi lagi untuk balik ke kuta, tapi pikir2 seru juga kali kalo nyoba naik angkot. Modal nanya2 dikit sama tukang parkir, kami naik angkot ke terminal bis tegal, terus naik shuttle bus (sejenis dengan yang kami pake dari ubud ke kuta). Kali ini supirnya slow-motion banget, kecepatan nggak pernah lebih dari 40 km/h, dan tau nggak…. kalo dia liat ada temennya di pinggir jalan, dia berenti sebentar, ngobrol basa-basi barang semenit-dua menit…! hiiih…. pikir2 mendingan naik yang ngebut kaya kemarin aja deh!

Kami mendarat ‘nggak jauh’ (untuk ukuran orang bali yang jarak seberapapun dibilang 500 meter) ramayana hotel, salah satu hotel yang sedang dipertimbangkan shanti dan alan untuk didatangi saat kunjungan mereka ke bali tahun depan. Gue dan ida masuk2 ke sana, minta liat kamarnya, motret2…. lagaknya udah kaya travel agent. Tuh petugas hotelnya nggak tau aja ransel gue isinya kacang asin. Lima kilo, lagi.

Abis dari ramayana hotel, jalan kaki lagi ke kuta. Tujuan kami ke tempat penyewaan mobil yang pernah kami datangi sebelumnya, dan udah deal soal harga. Eee.. taunya pas sampe di sana tempatnya tutup. Padahal jauh lho jalannya. Dan jangan lupa ada 5 kilo kacang di punggung. Bener2 sebuah latihan yang efeknya nggak kalah dengan gerakan chest press dan butterfly di fitness center.

Untung tempat penyewaan mobilnya nggak jauh dari poppies lane. Tahun lalu, sekitar awal bulan juni, gue juga pergi ke bali. Di airport, menjelang berangkat, ida meng-sms gue untuk pertama kalinya, dan selama di bali gue sms-an terus sama dia. Salah satunya waktu gue makan di restoran poppies, gue sms dia dan gue bilang, “nanti kapan2 aku ajak ke sini ya”

Jadi malam ini, 1 tahun kemudian, gue menepati janji, ngajak ida dinner di poppies. Resto ini adalah salah satu resto yang tertua di kuta. Waktu resto ini buka, kuta masih kampung tradisional. Restoran ini melegenda di kalangan turis bule sehingga sampe sekarang jadi salah satu tujuan turis yang paling dicari. Anehnya, nama restoran ini kayaknya nggak terlalu bergema di kalangan turis indonesia. Buktinya, malam ini, sama seperti setahun yang lalu, gue jadi satu2nya tamu indonesia di sana. Yang gue suka, gue tetep dilayani dengan baik walaupun gue turis lokal, nggak seperti kebanyakan toko dan resto lain di bali yang suka sengak dan belagu terhadap bangsanya sendiri. Lengkapnya tentang resto ini akan gue tulis di review.

Selesai makan, belanja sebentar di matahari, terus… here we are, di warnet, nulis journal lanjutan!

Rencana besok: belanja ke sukawati, atau nyoba flying fish, atau nyoba dinner di jimbaran, atau ketemuan sama MP-ers bali. We’ll see yang mana yang berhasil direalisasikan.

Foto: situasi foodcourt di Tiara Dewata, Denpasar

Istri sakit, derita suami


istri sakit

Sejak Jum’at kemarin, Ida sakit tenggorokan. Katanya kalo nelen sakit, seperti orang mau batuk. Tapi sesudah beberapa hari cuma sakit leher doang, nggak batuk-batuk juga. Udah gitu suhunya suka agak naik, sampe 37.5. Berhari-hari dia makan panadol kayak makan kacang asin, bikin gue senewen.

Kondisi ini mungkin diperparah karena waktu hari Minggu sempet angin2an hampir 4 jam di airport untuk nganterin tantenya pulang ke Banjar. Guenya juga masuk angin, jadinya hari Senin pagi ini dua-duanya meringkel di kamar dengan aroma balsem melayang di udara. Gue udah kirim sms ke kantor, bilang hari ini nggak masuk.

“Yang, hari ini kamu ke dokter ya,” kata gue setelah termometer menunjukkan angka 37.8.
“Nggak mau… aku nggak suka dokter…”
“Lho, kan udah kenal sama dokternya, dokternya baik kan?”
“Iya tapi aku nggak suka ke dokter sih.” (dengan penggunaan “sih” yang suka kedengeran kurang pas).
“Ayo, mumpung aku bisa nganterin nih…”
“Nggak mauuuu…. besok aja, kalo masih panas juga aku ke dokter deeeh….”
“Besok aku kan ga bisa nganterin”
“Akunya ica ili (=bisa sendiri) ke dokter…”
“Nggak ah. Sekarang aja, sekalian aku juga mau periksa.”
“Nggak mauuuuuu….” sambil banting2 kaki ke kasur, trus balik badan munggungin. Ih, kelakuannya amit2 deh.
“Trus maunya apa?”
“Akunya kepingin bubur kacang ijo sih” Seperti biasa, penggunaan artikel “sih”-nya suka salah tempat dan salah nada. Apalagi kalo lagi sakit.
“Boleh. Tapi ada syaratnya….”
“Apa?”
“Abis itu ke dokter.”
“Huuuuuuu…..akunya nangis aja deh”
“Nangis gih sana, mana air matanya?”

###

Nggak lama kemudian, ibu gue muncul di pintu.
“Ida… gimana, jadi sakit?” dengan nada mirip seperti “Gimana, jadi kita jalan-jalan ke Ancol?”
“Liat nih bu, ini anak sakit nggak mau dibawa ke dokter,” kata gue ngadu sekalian.
“Orang cuma sakit tenggorokan…”
“Tadi ibu udah nelepon mbak Doti (=kakak gue), ternyata pagi ini mbak Doti repot nggak bisa nganterin ke dokter… mungkin siang kali…”
“Tuh, hayo lho, keburu mbak Dotinya dateng, ngerepotin orang banyak kan jadinya? Ayo ke dokter!”
Sesudah dikeroyok gitu, akhirnya mau juga Ida siap2 berangkat ke dokter. Itu juga sambil menggerutu, “Dulu sebelum jadi istri, aku bebas aja nggak ke dokter kalo sakit…”
“Sekarang harus nurut sama suami,” kata gue.

###

Siangnya, setelah obat dibeli, masih belum selesai urusan. Disuruh minum obat susahnya setengah mati. Gue jadi mikir, gimana kalo punya anak nih. Kalo tau2 anak dan emaknya sakit pada saat yang bersamaan, bisa mati berdiri kali gue.
“Ini obat buat apa?” tanya Ida saat gue menyodorkan salah satu dari 5 obat tebusan resep dokter. Yaelah, mana gue tau ini obat apa, kan gak diajarin ginian di sekolah.
“Obat batuk,” kata gue asal.
“Aku kan gak batuk”
“Iya tapi kan sakit leher, yang lama-lama nanti bisa jadi batuk. Ayo minum cepet,”
Dikiranya gue nggak liat kali, obatnya disimpen di tangan. Biarin deh. Gue bukain obat ke dua.
“Ini obat apa?”
“Obat batuk”
“Kok obat batuk semua? Obat panasnya mana?”
“Ini.” kata gue sambil menyodorkan obat ke tiga. “Sekarang buka tangannya, minum semuanya. Ayo cepet!”
“Huuu… istrinya dihardik…”
“Aisy, banyak cingcong. Nih sekarang obat sirupnya ya… Hmm… rasa mocca lho, sedap…!”
“Akunya nggak suka rasa mocca…”
Ampun, deh.

Untung dokternya pengertian. Dikasihnya obat yang bikin super ngantuk, sehingga gue sebagai seorang suami malang bisa menikmati sedikit masa2 tenang bersama multiply. Pheeew…. semoga cepat sembuh ya sayangku cinta… (dari lubuk hati yang sedalam-dalamnya).

Image: Ida dalam kereta menuju Jakarta, hari minggu pagi. Udah mulai kucel dan suntuk karena sakit tenggorokan.

  • Komentar Terbaru

    riezal bintan pada job value: solusi keadilan unt…
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    Nita Prihartini pada Momen Pengubah Hidup
    Momen Pengubah Hidup… pada bsmr = belajar sampe mati…
    Crystal House pada siapa yang sering kesetrum sep…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 692 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Jadi 'Hero' di PBS Workshop di OEC Jakarta! Seruuuu! 5 Desember 2019
      Jadi hari ini jadwalnya aku ke OEC Jakarta dan ikutan PBS Workshop yang oriflame adakan.Aku ingin tambah ilmu, ya khaaaan?Walaupun sudah bikin dan punya link PBS, aku merasa kalau aku tetap harus datang ke workshop ini karena pasti aku akan dapat sesuatu.Karena kunci untuk maju adalah: JANGAN pernah merasa SUDAH TAU. Banyakin belajar. Dan bener aja, aku dapa […]
    • Menghasilkan Uang di Oriflame Lewat Menjual, Begini Caranya! 💰💰🤑 4 Desember 2019
      Masih banyak yang suka bertanya-tanya: Sistem kerja oriflame itu seperti apa sih? Cara kerja oriflame itu bagaimana sih? Mari merapat! Aku akan jelaskan yaaaa.. 😍😍🤗🤗 Jadi, di Oriflame itu ada 2 cara untuk menghasilkan uang. Yang pertama, dengan cara menjual. Yang kedua, dengan cara membangun sebuah team dengan cara mengajak sebanyak mungkin teman kita bergab […]
    • Kenalan Sama Oriflame Lewat Video Ini, Yuk! 😍😍 3 Desember 2019
      Belum pernah tau tentang Oriflame? Atau, sudah pernah tau tapi cuma selewat aja? Yuk kenalan dengan oriflame lewat beberapa fakta menarik di video ini. 😍😍😍😍 Oriflame adalah perusahaan besar yang harus dipertimbangkan kalau teman2 sedang mencari bisnis yang bisa dikerjakan dari rumah atau sambil ngantor. Perusahaan yang pertama kali berdiri di stockholm, swed […]
    • Cerita Dibalik Sebuah Conference Oriflame 😍😍😍 2 Desember 2019
      Aku mau ceritain tentang dibalik sebuah conference international-nya oriflame ya.. Sungguh aku tercengaaaaang banget pas denger penjelasannya di acara Business Day Diamond Conference Sydney, Januari 2019 kemarin. 😍😍😍😍😍 Di oriflame kan ada 2 event konferensi luar negeri-- Gold Conference dan Executive-Diamond Conference. Nah yg naik panggung cerita dan […]
    • Perempuan dan 3 Hal Finansial Penting. 2 Desember 2019
      Turki, Oktober 2019 Di sebuah sesi training yg berkaitan dengan keuangan yg pernah aku hadiri, bapak dan ibu pembicaranya bilang begini, 'Perempuan itu HARUS punya 3 hal ini. Pertama, properti atas namanya sendiri. Kedua, tabungan atas namanya sendiri. Ketiga, rekening proteksi atau asuransi atas namanya sendiri.' 🤔🤔🤔🤔🤔🤔 Pas baru dengar beliau ini […]
    • Kesempatan Hadiah GRATIS Dengan PBS Oriflame di Desember 2019! 1 Desember 2019
      Mau beli produk oriflame dengan harga diskon member? Hematnya 23% lho dari harga katalognya. Lumayaaaan banget kan yaaa.. Nah, kebetulan di bulan Desember 2019 ini, oriflame punya penawaran spesial buat non member yang ingin punya nomer kartu diskon oriflame! Gak cuma bisa belanja hemat diskon 23% tapi juga bisa dapat hadiah GRATIS! 😍😍😍😍 Khusus buat yang bel […]
    • Promo Belanja Oriflame Desember 2019-- Tas Puma Exclusive! 1 Desember 2019
      Tahun 2012, oriflame pernah kerja sama dengan PUMA dan mengeluarkan promo berhadiah tote bag PUMA. Itu aku sukaaaa banget tasnya. Warna hitam dengan lis bagiab atas warna emas elegan. Cakeeeep banget! Udah gitu, siapa yang meragukan kekuatan merk PUMA kan? Sebagai brand olahraga sekelas Nike, Reebok dan Adidas, sudah jelas jaminan mutu buangeeeet! Tas PUMA t […]
    • Essentials Fairness Exfoliating Scrub by Oriflame 1 Desember 2019
      Umumnya, pergantian sel kulit baru akan terbentuk setiap 28 hari sekali. Tapiiiii bertambahnya umur membuat hal ini tidak terjadi secara sempurna.  Akibatnya, terjadi penumpukan sel kulit mati di wajah. Nah, penumpukan sel kulit mati inilah yang bikin wajah jadi keliatan kusam, kalau dipegang rasanya kasar, belum lagi penumpukan sebum di wajah yang bikin kom […]
    • Cara Membuat Link Personal Beauty Store (PBS) Untuk Member Oriflame 28 November 2019
      Sebagai bisnis digital, Oriflame memberikan support kepada para membernya berupa tools digital yang bisa digunakan untuk membesarkan jaringan dan memperluas penjualan. Yang sedang terus digadang2 oleh oriflame saat ini adalah Personal Beauty Store, atau toko online pribadi yang bisa dimiliki oleh setiap membernya. Sudah member oriflame tapi belum punya link […]
    • [Oleh-Oleh Presidential Summit 2019] Apakah Saya Alpha Leader? 28 November 2019
      Hari Senin 25 November 2019 kemarin, jadwalnya datang ke OEC Jakarta, karena mau ikutan kelas ini. Judulnya, Oleh-Oleh Presidential Summit. Presidential Summit ini adalah sebuah sesi khusus saat Top 15 Meeting Leader Oriflame Indonesia di bulan September 2019 kemarin.
%d blogger menyukai ini: