Bagaimana Membuat E-mail CV Selamet dari Tombol Delete


email-lamaran

Terakhir kali gue nulis tips untuk ngirim CV adalah tahun 2004, dan pastinya zaman berubah banyak dalam 14 tahun jadi perlu gue update lewat posting ini. Buat yang lagi mau ngelamar kerjaan, coba deh ikutin langkah-langkah berikut biar peluang keterimanya, atau minimal dipanggilnya, lebih besar.

(lebih…)

Iklan

The Adventures of Johnny Bunko


Adalah Sigit yang memperkenalkan gue dengan komik unik ini. Dia sendiri nemunya waktu lagi browsing ngelantur sana-sini dan terjerumus ke sebuah halaman yang memuat cuplikan komik ini dalam format flash.

Waktu itu kami mencoba mendownloadnya tapi gagal, dan cuplikannya hanya sampe bab 1. Kan bikin penasaran. Makanya pas hari ini nemu versi bahasa Indonesianya di Gramedia Plangi, langsung gue beli!

Komik ini unik dari berbagai segi.

(lebih…)

Kalo Psikolog ikut Psikotes (1/4): gara-gara makan siang


oldphotos-jd-dekan
Dua minggu yang lalu, gue ketemu seorang temen lama waktu makan siang. Ngobrol punya ngobrol, sampailah pada topik pekerjaan masing-masing dan tiba-tiba aja temen gue ini bilang, “Eh… gung, gue baru inget, kantor gue kayaknya lagi nyari orang yang kualifikasinya pas sama elu. Mau nyoba nggak? E-mail-in CV lu yah!”

Sebenernya gue sih merasa happy-happy aja di kantor yang sekarang, tapi kan buru-buru menolak rejeki tanpa meneliti lebih lanjut itu tidak baik. Maka gue kirimkanlah CV terbaru kepada beliau.

Pagi CV dikirim, siangnya temen gue langsung nelepon minta gue dateng ke kantornya menemui calon user yang lagi buka lowongan itu. Yo wis, iseng-iseng gue mampir. Ngobrol-ngobrol sebentar, tau-tau si bapak itu bilang, “Mas agung, kalau begitu saya jadwalkan ikut PSIKOTES yah!”

Apa?! Ikut psikotes? Gue?

Sebagai psikolog yang menjunjung tinggi kode etik psikologi, gue sampaikanlah duduk permasalahannya kepada beliau, “Begini pak, saya sih nggak keberatan ya ikut psikotest, tapi masalahnya saya kan psikolog pak… kemungkinan besar saya udah tau kunci jawaban soal-soal psikotest yang nantinya akan keluar. Gimana?”

“Yah soalnya sudah prosedur di perusahaan ini semua calon pegawai harus ikut psikotest…” kata calon user. “Tentunya dengan latar belakang Mas Agung sebagai psikolog kami akan minta bantuan biro psikologi yang bagus – minimal mereka bisa bantu saya untuk menggali potensi Anda lewat wawancara yang mendalam.”

Gue pikir-pikir, lucu juga kali ya ikut psikotes. Nggak akan ada ruginya juga karena:

  1. Kalau memang bener biro psikologi yang ditunjuk untuk mengetes gue adalah biro yang ‘bagus’ maka gue bisa nambah pengetahuan tentang metode / alat-alat psikotes terbaru.
  2. Kalau ternyata enggak sebagus itu, lumayan bisa buat bahan posting di MP :-))

… tentunya sampai di titik ini kalian udah mulai bisa menebak; dari 2 poin di atas yang mana yang kemudian terjadi. Tapi baiklah, mari kita lanjutkan cerita.

Tadi pagi, gue datang ke biro psikologi yang ditunjuk, yang berlokasi nggak jauh dari pasar Santa. Waktu baca surat pengantarnya, perasaan gue udah mulai rada nggak enak karena gue nggak pernah denger nama biro itu dalam daftar biro ‘papan atas’ di Jakarta. Tapi… ‘ah, mungkin guenya aja kali yang kuper’, pikir gue.

Sesuai dengan panduan tata cara mengikuti psikotes yang baik dan benar, gue udah sampe lokasi setengah jam sebelum mulai. Gue liat-liat… hmm… gedungnya kok gedung tua ya? Perasaan tidak enak kembali muncul, tapi gue masih mencoba positive thinking.

Jam 8 teng dipanggil masuk, gue ikutan barisan para peserta lainnya sambil tergeli-geli dalam hati. Sebagai informasi, sebelum lulus kuliah pun gue udah sering diajak para senior bantu-bantu proyek psikotes (istilahnya “ngasong”). Setelah lulus, gue kerja di 2 perusahaan konsultan yang kerjaan utamanya bikin psikotes. Waktu di BPPN, walaupun gue udah nggak kerja di bagian recruitment, tapi masih suka ikutan bantuin beberapa proyek psikotes “asongan”. Setelah keluar dari BPPN, gue kembali ngurusin recruitment di perusahaan perkapalan selama setahun. Jadi kalo ditotal, mungkin gue udah melewati ribuan jam menangani proses psikotes. Tanpa niat ngapalin pun gue dengan sendirinya akan hapal kunci jawaban aneka alat tes. Trus hari ini gue disuruh ikut psikotes aja gitu.

Begitu masuk ruangan, masing-masing peserta difoto – dan asli gue bengong liat kameranya. Kameranya adalah kamera berbentuk kubus dengan 4 lensa yang mungkin udah dipake buat bikin pas foto di jalan Sabang sejak jaman Pak Harto masih kuat mancing dan main golf. Dengan kata lain: kamera jadul abis. Masih difungsikan penuh di tahun 2007 di mana kamera digital bisa dibeli dengan harga kurang dari sejuta perak. Ok, ok… don’t judge a ‘biro psikotes’ from its jadul camera.

Tapi… bagaimana dengan formulirnya? Gue disodori sebuah formulir isian yang lagi-lagi bikin gue bengong. Cuma selembar kertas dengan isian data standar seperti tanggal lahir dan alamat, plus sebuah tabel riwayat pendidikan SEJAK SD. Nggak ada isian riwayat kerja sedikitpun. Ini apa sih, formulir pendaftaran MASUK KULIAH? Ya sud… tanpa banyak cingcong gue isilah tuh formulir dan gue kembalikan kepada petugasnya. Eh nggak lama kemudian petugasnya balik ke meja gue.

“Pak, ini isiannya kurang lengkap”
“Sebelah mananya?”
“Ini kolom ‘keterangan’ di sebelah nama sekolah, belum diisi.”
“Saya harus isi dengan keterangan apa?” tanya gue dengan sabar.
“Ya diisi dengan keterangan LULUS atau TIDAK LULUS gitu pak.”
“…”

Ya deh, ya deh… gue ngaku. Gue sebenernya nggak lulus SD, tapi berhubung orang tua gue kuat nyogok maka gue bisa lulus jadi psikolog.

Tapi sebagai peserta tes yang baik dan benar, gue lengkapi lah kolom keterangan itu dengan pernyataan “LULUS”. Dan mulailah lembar-lembar tes dibagikan. Whuii… gue sampe nggak sabar ingin segera liat soal psikotes tercanggih di biro yang bagus ini.

[bersambung]

foto: gue, waktu diwisuda jadi psikolog

[sharing HRD] negosiasi gaji


Abstract dialog illustration

Menjawab permintaan dari salah seorang pengunjung di shoutbox gue, kali ini gue mau sharing sedikit pengetahuan yang gue punya tentang proses negosiasi gaji. Tapi perlu dicatat; mengingat sekarang gue udah cukup lama meninggalkan dunia per-HRD-an, mungkin informasi yang gue sampaikan di sini udah nggak terlalu update lagi. Jadi, jangan telen mentah2 apa kata gue, cek dan ricek lagi dari sumber yang lain ya!

Kenapa sih kita harus menegosiasikan gaji?

Kenapa nggak langsung aja ditentuin oleh perusahaan?
Untuk menjawab ini, pertama-tama perlu gue jelasin dulu bahwa struktur gaji di sebuah perusahaan biasanya ditentukan dalam range (rentang), dan range-nya saling overlap satu dengan lainnya. Memang nggak semua perusahaan menetapkan struktur gaji dalam range seperti ini, tapi sebagian besar sih begitu.

Untuk jelaskan coba perhatiin tabel ilustrasi berikut:

Level

Gaji

I

900rb – 1.2 jt

II

1 jt – 1.5 jt

III

1.3 jt – 2.2 jt

…dst

Ada 2 keuntungan penetapan gaji dengan sistem range, ditinjau dari sudut pandang perusahaan:

  1. Memberikan ruang bagi pihak HRD perusahaan tersebut untuk merekrut orang terbaik pada sebuah level. Untuk jelasnya coba simak contoh kasus sbb:Sebuah perusahaan berniat merekrut si X yang saat ini udah bekerja di perusahaan lain. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa X menerima gaji 1 juta di perusahaannya sekarang, dan berada di level I. X tentu menolak saat diajak pindah dengan penawaran gaji sama yaitu 1 juta. Berkat sistem gaji yang menggunakan range, maka perusahaan yang baru bisa memberikan penawaran menarik sebesar 1.2 juta kepada X, tanpa harus memposisikannya di level yang lebih tinggi (yang mana terkait dengan pemberian fasilitas / tunjangan yang lebih besar pula).
  2. Memungkinkan perusahaan untuk melakukan efisiensi pengeluaran gaji. Ingat, perusahaan sebagai institusi ekonomis, pastinya mengutamakan prinsip ekonomi pula: pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Kalo seorang pegawai happy-happy aja dengan digaji 900 ribu, kenapa harus ngasih 1 juta? Ilustrasi berikut mungkin bisa memperjelas:Si Y adalah seorang pegawai lugu yang rela ngelembur tanpa banyak nuntut uang tambahan. Di kantor sekarang ia menduduki level I dengan gaji 750 ribu. Melihat fakta seperti ini, maka sambil sedikit bertanduk sang petugas HRD perusahaan tetangga menyodorkan penawaran gaji 900 ribu kepada Y, yang langsung diterima dengan penuh rasa syukur dan hati sumringah.

Nah, melihat kedua contoh di atas, jelas bahwa urusan negosiasi gaji bisa sangat menentukan besaran gaji yang kita terima. Si X dan si Y sama-sama menduduki posisi di level I, kerjaannya sama, tanggung jawab sama, tapi X bisa mendapat gaji lebih besar dari Y hanya karena perbedaan dalam proses negosiasi gaji!

Kesimpulannya: proses negosiasi gaji itu penting banget!

Apa yang harus disiapkan sebelum menegosiasikan gaji?

  1. Kenali pasaran
    Ini penting banget banget! Lo harus tau, untuk kualifikasi yang lo punya sekarang ini, berapa range gaji yang berlaku. Dengan demikian lo bisa mengajukan penawaran yang ‘pas’.
  2. Tetapkan standar yang rasional
    Ini juga nggak kalah penting. Standar ditetapkan berdasarkan kondisi pribadi lo sekarang ini. Maksud gue gini:
    Kalo saat ini lo lagi happy-happy aja di perusahaan tempat kerja lo, trus dateng tawaran untuk pindah ke perusahaan lain, boleh lah lo jual mahal dikit. Minta gaji yang rada2 di luar range. Dikasih sukur, enggak ya udah.
    Tapi sebaliknya, kalo lo saat ini lagi nganggur, trus lo menolak tawaran pekerjaan dengan gaji 1 juta hanya karena lo tau untuk kualifikasi lo rangenya berkisar antara 1.2 – 1.5 juta, ya kurang bijaksana juga. What i’m saying is, memang perlu untuk mengetahui harga pasaran lo berapa, tapi jangan lantas terpaku dan terjebak dengan pasaran tersebut hingga akhirnya mematikan potensi lo untuk berkembang, gitu loh.

Faktor apa aja yang mempengaruhi standar gaji dari sebuah perusahaan?

  1. Industri
    Beda industri, beda juga standar gajinya. Industri telekomunikasi, pertambangan / perminyakan, konsultan, dan consumer goods adalah beberapa industri yang standar gajinya relatif tinggi.
  2. Ukuran perusahaan
    Perusahaan multi-nasional biasanya punya standar gaji lebih tinggi dari perusahaan lokal dari bidang industri yang sama. Tapi, perusahaan2 kelas menengah biasanya masih belum punya standar gaji yang baku – sehingga justru dengan perusahaan tipe ini lo bisa nodong gaji seenaknya berdasarkan wangsit dan disetujui!
  3. Level / lingkup pekerjaan
    Gue sering menemukan, orang salah memperkirakan standar gaji pekerjaan yang dilamar karena terkecoh dengan title / judul pekerjaannya.
    Contoh kasus yang sering terjadi: lowongan pekerjaan dengan judul mentereng “sales supervisor” membuat pelamar mengira pekerjaannya di tingkat manajerial dan mengepalai sebuah tim, nyatanya harus kerja sendiri jualan barang. Atau yang pernah gue temui di sebuah perusahaan milik pemerintah daerah, terjadi kenaikan jabatan berkala secara otomatis – sehingga seorang staff biasa setelah sekian tahun kerja harus jadi “kepala” sesuatu. Akibatnya, struktur perusahaan tersebut mekar terus dari waktu ke waktu karena bermunculan “kepala2” baru, dan banyak “kepala seksi” yang nggak punya anak buah!
    Title pekerjaan bisa mengecoh, “manager” di perusahaan yang satu bisa saja selevel dengan seorang “supervisor” di perusahaan lain atau justru seorang “vice president” di perusahaan lainnya – tergantung seberapa besar beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, sebelum bernegosiasi kenali dulu di level mana pekerjaan yang akan lo lamar ini.

Gimana caranya mengetahui pasaran gaji untuk pekerjaan yang akan gue lamar?

Untuk urusan ini memang rada sulit. Kalo kebetulan lo punya temen yang kerja di industri yang sama, lo mungkin bisa nanya2 sama dia – walaupun pastinya nggak semua orang mau jawab saat ditanya gajinya. Gue salah satunya, sampe detik ini cuma ada satu temen gue yang tau persis gaji gue berapa. Selain itu lo juga bisa ikutan milis2 HRD – kadang di sana suka ada sharing mengenai standar gaji.

Tahap-tahap negosiasi gaji

  1. Pengisian formulir lamaran
    Ya, proses negosiasi gaji dimulai saat lo mengisi formulir lamaran pekerjaan. Biasanya di formulir tersebut ada isian tentang besar gaji yang diinginkan. Make sure lo isi kolom tersebut dengan jumlah yang lo inginkan, tentunya dengan mempertimbangkan faktor kemampuan diri sendiri dan faktor standar peru
    sahaan. Tambah jumlah tersebut dengan 20-30% untuk memberikan ruang just in case ditawar. Jangan, jangan pernah mengosongkan bagian ini, atau mengisinya dengan kata2 basi “mengikuti standar perusahaan” atau “terserah perusahaan”. Waktu gue masih di HRD, kalo nemu pelamar yang ngisi begini suka gue tanya balik, “bener nih gajinya terserah? Dibayar ceban mau?” Oh ya, biar nggak salah paham, tulis jumlah gaji yang lo inginkan itu dalam satuan p.a. (per annuum alias per tahun). Soalnya, ada perusahaan yang menggaji karyawannya secara standar yaitu 12 bulan gaji plus 1 bulan THR, sementara ada juga perusahaan yang per tahunnya bisa belasan hingga puluhan kali gaji yang dibayarkan dalam bentuk bonus ini – itu.
  2. Wawancara pertama
    Biasanya di tahap ini suka muncul pertanyaan tentang jumlah gaji yang lo tulis di formulir. Pertanyaan yang umum muncul adalah, “Jumlah ini negotiable nggak?” Karena tadi jumlahnya udah lo tambah, tentu aja lo jawab dengan “ya”. Pertanyaan lain yang sering muncul adalah “Kenapa Anda minta gaji sekian?” Nah, yang ini perlu dijawab dengan jurus khusus.
    Jangan pernah speechless saat ditanya begini, karena akan melemahkan posisi tawar lo di tahap selanjutnya. Lo akan terlihat asal2an dan nggak ngerti pasaran saat meminta gaji. Jawaban paling bijak adalah, “Karena nilai itu sesuai dengan kualifikasi yang saya miliki sekarang”. Oh ya, saat mengucapkan kalimat itu usahakan intonasi tetap datar dan terkendali, jangan terkesan jumawa sehingga bikin petugas recruitment serasa ingin noyor kepala lo.
    Udah, sampe sebatas dua pertanyaan itu aja yang perlu lo jawab di tahap ini. Sebagaimana pernah gue bahas di sini, jangan mau kalo si petugas berusaha menawar permintaan gaji lo ke titik final di tahap ini. Masih terlalu dini untuk negosiasi gaji, sehingga jawab aja dengan “Biar lebih jelas, mungkin Anda bisa ceritakan dulu paket remunerasi lengkap yang berlaku di perusahaan ini, sebagai bahan pertimbangan saya?” Kalo si petugas recruitment waras dia juga belum mau membeberkan paket remunerasi lengkap di wawancara awal sehingga posisi menjadi case-closed, sama-sama paham belum waktunya untuk bernegosiasi gaji. Atau bila ternyata dia langsung blak2an membuka paket remunerasi lengkap yang ditawarkan, artinya wawancara awal ini sekaligus wawancara final – lo diminta memutuskan akan join atau enggak di tahap itu.
  3. Proses negosiasi gaji
    Setelah rangkaian proses recruitment selesai dan lo berhasil lolos dari semua saringan, lo akan dipanggil sekali lagi untuk menegosiasikan gaji. Sebaiknya lo datang ke tahap ini dengan berbekal informasi, berapa jumlah saingan lo. Kalo ternyata cuma elo sendiri yang lolos, maka posisi tawar lo akan lebih kuat.
    Biasanya di tahap ini, petugas akan mulai dengan menceritakan seluruh paket remunerasi lengkap yang ditawarkan – mulai dari gaji hingga tunjangan2. Catet semuanya, jangan cuma dihafal karena biasanya komponennya cukup ribet. Perhatikan komponen tunjangan kesehatannya gimana? Penggantiannya berapa persen dari tagihan dokter? Berapa jumlah per tahun? Kalo rawat inap dapat kamar kelas berapa? Things like that. Pastikan lo dapet penjelasan yang selengkap mungkin.
    Setelah petugas menjelaskan, biasanya dia akan nanya, “Bagaimana, apakah paket kami sudah sesuai dengan ekspektasi Anda?” Kalo jumlahnya lebih besar dari ekspektasi lo ya case-closed, lo tinggal tanda tangan kontrak kerja. Tapi kalo belum, ya inilah saatnya lo bernegosiasi, tentunya dengan ekspresi yang terkendali dan tidak bikin orang serasa ingin noyor kepala lo, misalnya dengan bilang “Sebenarnya ekspektasi saya lebih besar dari jumlah ini, yaitu sekian rupiah (atau dollar – if you’re one lucky bastard) per tahun.” Kemukakan juga alasan lo, yaitu balik ke harga pasaran kualifikasi yang lo punya plus mengacu juga ke gaji yang lo terima di perusahaan sekarang (kalo elo udah kerja). Kalo lo mau jual mahal bisa bilang dengan “Saat ini saya merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang sekarang, tentunya saya butuh ‘motivasi’ yang lebih besar untuk berkarir di tempat lain.”
    Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan petugas saat mendengar jawaban lo (a) berkata, “sayang sekali, ini final offer dari kami”. atau (b) “mohon tunggu sebentar, akan saya konsultasikan dengan atasan saya dulu”. Apapun yang terjadi, hari itu biasanya lo akan mendapat penawaran final dari perusahaan. Kalo ternyata penawaran finalnya tetep belum memenuhi harapan lo, JANGAN langsung menolak saat itu juga. Kesannya lo mata duitan banget (walaupun mungkin memang iya) dan hanya tertarik untuk bergabung karena faktor penghasilan. Entah kenapa, hari gini masih banyak aja boss2 di perusahaan besar yang berharap orang bergabung di perusahaannya “bukan semata-mata nyari duit” sehingga langsung bete pada kandidat2 yang secara jujur mengakui motivasi kerjanya adalah uang. Lantas kalo bukan karena nyari duit, buat apa dong orang ngelamar kerja? Kelebihan energi?
    Anyway, JANGAN langsung menolak penawaran yang kurang memuaskan itu, dan bilang, “Baik kalau begitu akan saya pertimbangkan dulu di rumah. Boleh saya hubungi Anda lagi besok via telepon?”
    Dengan mengulur waktu seperti ini, lo menghindarkan diri lo sendiri dari keputusan impulsif yang mungkin akan lo sesali.
  4. Pasca negosiasi gaji
    Besokannya, hubungi lagi petugas yang temui kemarin tepat waktu sesuai janji, dan sampaikan keputusan lo. Kalo lo memutuskan untuk batal bergabung, tetep jaga sopan santun dengan bilang “Mohon maaf, setelah saya pikirkan masak2, saya memutuskan untuk tetap di perusahaan saya yang sekarang dulu”. Nggak perlu belagu, lo nggak akan tau kapan lo harus berhadapan dengan si petugas itu lagi. Siapa tau saat ini lo merasa udah nggak butuh lagi dengan dia, eh taunya kapan2 lo ngelamar di tempat lain dan ketemu dia lagi. Biasanya para petugas HRD punya ingatan gajah lho. Jangan lupa bilang terima kasih atas segala effortnya mengurusi proses lamaran lo.

Ok, segitu dulu tips negosiasi gaji dari gue, semoga cukup jelas dan membantu.

Gambar gue comot dari sini.

[sharing HRD] WASPADA! 5 gelagat buruk waktu melamar kerja


Idealnya, sebelum memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan, kita udah punya gambaran detil tentang apa dan bagaimana sikon di perusahaan tersebut. Kaya apa culture-nya, keuangannya sehat apa enggak, jenjang karirnya prospektif atau enggak, dst. Tapi gimana kalo kita ditawari kerja di perusahaan yang sama sekali belum pernah kedengeran ceritanya? Langsung tolak? Ntar dulu. Nggak pernah kedengeran ceritanya bukan berarti jelek lho. Satu-satunya jalan adalah dengan menganalisa proses yang terjadi sewaktu melamar.

Berikut ini beberapa “gejala” yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Nggak selamanya bener, tapi minimal bisa jadi bahan pertimbangan. Kalo cuma satu atau dua gejala yang muncul, yah, mungkin sekedar kebetulan aja. Tapi kalo hampir semua gejala ini terjadi, hmmm… hati-hati aja. Kalo masih punya pilihan, mending ngelamar di tempat lain aja deh!

1. Lo kurang dihargai sebagai manusia.
Kalo cuma si resepsionis yang tampangnya bete waktu menyambut elu, yah mungkin kebetulan dia abis ronda semalem, masih ngantuk. Kalo cuma pak satpam yang rada galak waktu minta elu nitip KTP, yah mungkin dia lagi mikirin anaknya sakit di rumah. Tapi kalo mulai dari tukang parkir, satpam, resepsionis, office boy, sampe tukang gorengan yang mangkal di depan pada kompakan menunjukkan perilaku yang kurang santun – warning – kemungkinan ada yang nggak beres dengan perusahaan ini.

Yang gue maksud dengan perlakuan kurang santun antara lain: nggak mengucapkan salam saat menyambut, nada bicara yang kurang bersahabat, nunggu lama tanpa dikasih minum, sampe perlakuan yang kurang manusiawi seperti diminta mengisi formulir lamaran di tempat orang lalu lalang – sambil jongkok pula. FYI; formulir lamaran yang lo isi sewaktu melamar kerja itu adalah dokumen yang sifatnya pribadi dan rahasia. Seharusnya lo ditempatkan di ruangan yang tertutup dan nyaman – minimal ada meja dan kursi untuk tempat nulis – bukan di ruang resepsionis yang serba terbuka sehingga mas-mas kurir yang kebetulan lewat bisa nyeletuk, “wah rumahnya deketan nih sama rumah saya, kapan-kapan boleh main ya…”

Perusahaan yang sehat dan profesional sadar bahwa citra perusahaan dibangun mulai dari garda depan, dari bagaimana tamu disambut. Kalo untuk urusan remeh gini aja mereka nggak becus menangani, jgn2 untuk urusan yang besar-besar juga morat-marit.

2. Lo dicoba untuk ditempatkan dalam posisi lemah / dependen pada perusahaan
Yang gue maksud antara lain: petugas recruitment yang meminta elu untuk menyerahkan dokumen pendukung (ijazah, transkrip nilai, referensi kerja) yang ASLI, atau “menggantung” status kepegawaian lo di zona limbo antara kontrak dan permanen, penetapan masa percobaan yang kurang jelas, dan sebagainya. Khusus untuk urusan “menahan” dokumen pendukung, asal tau aja ya, sebenernya perusahaan nggak berhak melakukannya. Kecuali kalo elu udah jadi pegawai, terus disekolahin sama perusahaan dan setelah pendidikan selesai ijazah lo ditahan sampe masa ikatan dinas berakhir, itu lain perkara. Sedangkan yang terjadi di sini kan elu capek2 sekolah pake ongkos sendiri, eh begitu lulus ijazahnya disandera. Mengutip kata Mpok Jane dan Sarah, “WHO DO YOU THINK HE ARE??”. Kalo tau-tau kantornya kebakaran, kebanjiran, atau diserbu tikus hingga dokumen penting itu rusak, siapa yang mau tanggung jawab?

Perusahaan yang menerapkan kebijakan konyol macam ini biasanya perusahaan yang udah menghadapi dilema: di satu sisi terlalu pelit / terlalu miskin untuk menaikkan kesejahteraan pegawai, di sisi lain butuh untuk mempertahankan jumlah pegawai yang loyal. Kalo perusahaan yang sehat pastinya akan mencoba membuat pegawainya betah dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka, bukan dengan menyandera dokumen! Dengan kata lain, ini tipe perusahaan yang ngajak susah bareng-bareng. Sama sekali nggak worth it untuk dilamar.

3. Lo diminta mondar-mandir kaya setrikaan
Lazimnya, proses seleksi pegawai dilakukan dalam 3 tahap:

  1. Wawancara dan psikotes awal – biasanya di tahap ini lo ketemu dengan petugas HR di level officer atau konsultan eksternal
  2. Tes kesehatan
  3. Wawancara dengan calon boss (user).

Kadang-kadang, ada 2 atau 3 tahap tambahan di mana elo diminta wawancara dengan bossnya HR, bossnya user, atau dengan big boss – biasanya terjadi di perusahaan kecil. Jadi maksimal elu mondar-mandir untuk keperluan melamar kerja adalah 6 kali. Nah kalo elo ketemu kantor yang meminta lo dateng untuk interview doang, habis itu psikotesnya di hari lain, habis itu di hari lainnya interview lagi dengan orang lain, habis itu “eh iya ada yang lupa ditanyain” dan lantas lo harus dateng lagi minggu depannya untuk wawancara lanjutan, baru abis itu wawancara dengan boss, terus minggu depannya lagi wawancara dengan boss yang lain lagi, baru abis itu tes kesehatan, terus “oh iya ada lagi ding yang kelupaan ditanya” sehingga lo harus wawancara dengan HR lagi… – warning – lo sedang berhadapan dengan perusahaan bingung. Kondisi kayak gini mengindikasikan ada masalah dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Lo diminta dateng berkali-kali dan ketemu dengan orang yang berbeda-beda karena nggak ada satu orang yang punya cukup nyali untuk bertanggung jawab atas keputusan menghire elu. Maksudnya kalo elu ternyata bertingkah setelah dihire jadi pegawai, biar nggak ada satu orang yang jadi kambing hitam, gitu. Makanya wawancaranya jadi tanggung renteng gitu.

Pertanyaannya, lagi-lagi, kalo untuk mengambil keputusan menghire seseorang aja segitu ribetnya, gimana dengan pengambilan keputusan untuk urusan lain yang lebih penting dan genting? Selain itu, kembali pada poin pertama, mereka juga kurang menghargai waktu, biaya dan tenaga yang harus lo keluarkan untuk dateng ke kantor mereka.

4. Lo ditawar pada pertemuan pertama
Wawancara tahap pertama adalah saringan awal untuk memilih calon pegawai yang paling potensial.Kalo baru pada pertemuan pertama concern mereka terpaku pada gaji yang lo ajukan seperti “bisa turun nggak nih?” atau “negotiable nggak nih?” atau yang ngeselin “minta gajinya gede amat mas. bisa turun nggak?” – warning – mereka nggak peduli pada kualitas elo sebagai pegawai. Mereka cuma ingin cari tenaga murah. Tapi berita baiknya, kalo perusahaan yang lo lamar termasuk tipe yang begini, maka ada satu kiat jitu yang PASTI berhasil, yaitu jawab aja dengan “Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2.”

Bukannya ‘haram’ untuk menanyakan apakah gaji yang lo minta itu negotiable pada pertemuan pertama, tapi bedakan antara yang sekedar nanya dengan yang maksa “kurang dikit dong mas!”

5. Lo diajak bersekongkol
Yang ini pengalaman pribadi gue nih. Di salah satu perusahaan sebelum kantor gue yang sekarang, masa HR managernya bilang gini, “Agung, tolong kalau kamu masuk tanggal 1 nanti, bilang sama orang-orang bahwa kamu udah mulai interview dengan saya sejak 2 bulan sebelumnya ya.”

Gue, tentu aja bingung mendengar permintaan aneh ini, mengingat wawancara pertama cuma berjarak 1 bulan dari tanggal masuk gue.
“Nggak papa, sekedar supaya nggak heboh aja karena ada orang baru.”
Sebuah jawaban yang nggak memuaskan, tapi waktu itu gue pikir, ‘ah ini kan cuma soal kecil’.

Ternyata… setelah gue masuk baru ketauan bahwa alur komunikasi si boss dengan para bawahannya sangat parah. Lingkungan kantor dipenuhi desas-desus, termasuk tentang kehadiran gue. Parahnya, si boss sama sekali nggak bernyali untuk menghadapi para karyawan, minimal menjelaskan biar lurus, dan membantah isu yang ngaco. Kalo ada isu negatif ya begitulah yang dia lakukan, berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan yang sayangnya kurang cerdas.

Puncaknya, baru sebulan gue kerja di perusahaan tersebut, si boss yang ngajak sekongkolan tadi mendadak “resign” secara misterius karena baru ketahuan pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan perusahaan harus berurusan dengan pengadilan. Perusahaan yang mengajak lo menutup-nutupi sesuatu mengindikasikan bahwa mereka kesulitan mengelola iklim kerja. Dan seperti yang pernah gue sebut di sini, jangan kira tawaran paket remunerasi yang menarik bisa mengkompensasi iklim kerja yang parah.

[Sharing HRD] Hidup bahagia di dalam kotak


“Waduh Mbot, hari ini aku nggak semangat kerja deh…”
“Kenapa?”
“Udah dua minggu ini nggak ada kerjaan, demotivasi deh rasanya.”

Hampir di semua kantor yang pernah gue singgahi, gue ketemu orang yang curhat seperti ini: bete / kehilangan gairah hidup / kurang pe-de / nggak semangat / loyo / lesu karena di kantor nggak punya kerjaan alias ‘masuk kotak’ .

Mungkin aneh kedengerannya, orang ngantor tapi nggak punya kerjaan, tapi ini terjadi di mana-mana. Penyebabnya macem-macem. Bisa karena si karyawan itu sendiri yang dianggap kurang kompeten oleh atasan, tapi di sisi lain nggak melakukan kesalahan yang cukup ‘fatal’ untuk di-PHK. Bisa juga karena ‘politik’ kantor: ada boss baru, sementara si karyawan udah kadung menyandang ‘cap’ sebagai ‘bawaan’ atau ‘pro’ boss yang lama sehingga harus ‘dinetralisir’. Atau karena karyawannya lalai mengupdate kemampuannya sendiri, sehingga lama kelamaan ‘kesalip’ sama tenaga2 yang lebih muda dan pinter. Atau akibat kesalahan setting organisasi perusahaannya: karyawan di-hire secara permanen untuk mengerjakan sebuah proyek yang sifatnya temporer. Tentu aja setelah proyeknya selesai karyawan ybs jadi nggak punya kerjaan. Tapi ada juga sih organisasi yang sedemikian nggak efisiennya sehingga terus menerus merekrut pegawai baru padahal pegawai yang udah ada aja kerjanya kurang jelas… gue nggak sebut nama organisasinya lho ya, takut nanti ada yang tersinggung.

Dampak psikologis dari ‘pengangguran terselubung’ di kantor ini bisa cukup serius lho. Karyawan yang mengalaminya bisa jadi minder, lantas uring-uringan, sampe mengganggu kehidupannya di luar kantor. Dari pengakuan sebagian orang yang mengalami, mereka merasa kurang berharga, sampah masyarakat, malu sama teman2 di sekitar karena dia cuma bisa bengong sementara yang lain sibuk kerja.

Sementara setiap kali gue mendengar keluhan semacam ini, gue malah mikir, “WOOOW… THAT IS MY DREAM JOB…!”

Lha coba aja bayangin: lo dibayar gaji penuh setiap bulan, hanya untuk duduk2 di kantor, dan disediain perangkat komputer gratis pula! Seandainya gue yang berada dalam posisi seperti itu, ada banyaaak banget hal menyenangkan yang bisa gue kerjain. Journal ini gue tulis sekaligus sebagai reminder terhadap diri gue sendiri, bila suatu hari nanti dapet giliran ‘masuk kotak’. Oh iya, tentunya setelah terlebih dahulu memastikan apa iya gue beneran ‘masuk kotak’, atau sekedar berada dalam posisi untuk kreatif dan proaktif menciptakan pekerjaan sendiri.

Ini list yang bisa gue kerjain dari dalam ‘kotak’:

  1. NGEMPI, tentu aja!! Mungkin bisa 10 posting sehari gue bikin. Ganti template CSS tiap hari.
  2. Belajar aneka program komputer. Mulai dari teknik2 Photoshop baru. Nanti kalo udah jago di photoshop, belajar corel, adobe illustrator, flash, premiere, 3d max, autocad, excel… wah banyak deh. Oh iya, gue juga ingin belajar tentang javascript, dan visual basic. Kayaknya ‘cool’ 🙂
  3. Baca novel yang setebel-tebel bantal. Sekarang aja udah banyak banget buku yang gue beli tapi belum sempet dibaca.
  4. Belajar nggambar wajah orang yang betulan. Selama ini gue hanya bisa nggambar kartun doang. Kalo sok2an nggambar muka orang, pasti orangnya protes krn merasa nggak mirip.
  5. Belajar bahasa baru. Itali, spanyol, mandarin dan jepang udah ada dalam list gue. Belajarnya bisa dari paket buku yang ada kasetnya untuk melatih pelafalan.
  6. Terima bikin terjemahan film, seperti waktu jaman kuliah dulu. Wah, ini pekerjaan yang menyenangkan banget, krn film2 yang gue terjemahin biasanya telenovela. Tau sendiri telenovela paling apa sih dialognya? Nggak jauh2 dari “Aku cinta padamu, Alejandro” “Pergi kau keparat!” “Maukah kau menikah denganku?” – dulu program MS Word gue penuh dengan autocorrect untuk memunculkan kata-kata standar tersebut.
  7. Main The Sims sampe simsnya beranak cucu.
  8. Terima pesanan bikin website. Wah, proyek ginian duitnya kenceng lho! Kerjaannya menyenangkan, lagi. Sekalian terima pesenan desain2 yang lain deh: poster, kartu nama, spanduk…
  9. Ngedesain brosur2 baru untuk jualan VCO.
  10. Belajar origami. Siapa tau nanti bisa bikin 2002 bebek2an untuk membalas 1001 burung dari istri.
  11. Terima pesenan bikin baju pake t-shirt transfer 🙂
  12. Belajar sulap. Gue paling seneng nonton sulap, khususnya close-up trick. Itu ada bukunya dan bisa dipelajari sendiri lho!
  13. Nulis novel, cerpen, naskah. Tuh, tambahan duit masuk lagi deh.
  14. Belajar siul.
  15. Ngarang aneka games baru untuk training atau acara2 keriaan lainnya di mana gue seringkali ditodong untuk mengisi acara.
  16. Terima pesenan edit video. Satu lagi sumber duit masuk. Terima video aneka jenis deh, kerahasiaan dijamin.
  17. Olah raga teratur. Namanya orang nggak ada kerjaan tentu bisa pulang tepat waktu dong? Jadi pulang kantor masih bisa olah raga dengan kondisi yang relatif seger, nggak sambil setengah tidur.
  18. Terima pesenan bikin ilustrasi untuk buku dan majalah. Lagi-lagi bisa nambah penghasilan, dengan cara yang menyenangkan.
  19. Jadi broker jual beli rumah. Cukup bermodalkan rajin2 posting di marketnya MP dan aneka situs jualan di internet, beres.
  20. Kerja ‘ngasong’ bikin laporan wawancara recruitment. Ini sumber obyekan utama anak2 psikologi sejak jaman dahulu kala.

Hidup ini tetap indah kok, sekalipun lo udah masuk ‘kotak’. Mungkin malah jadi tambah indah.

  • Komentar Terbaru

    mbot pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    Josea Agx pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    mbot pada Hidup Mapan Adalah…
    gegelin2 pada Hidup Mapan Adalah…
    Bali trip 2 hari 3:… pada Honeymoon hari 1: tim rusuh MP…
    Bali trip 2 hari 3:… pada Hotel Harris, Kuta Bali
    Bali trip 2 hari 2:… pada Ida dan Misteri Pulau Pen…
    Bali trip 2 hari 2:… pada Hotel Alam Kulkul
    Bali trip 2 hari 2:… pada Bali trip 2 hari 3: Next time…
    Bali trip 2 hari 1:… pada Bali trip 2 hari 2: Denpasar,…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.428 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: