Bagaimana Membuat E-mail CV Selamet dari Tombol Delete


Terakhir kali gue nulis tips untuk ngirim CV adalah tahun 2004, dan pastinya zaman berubah banyak dalam 14 tahun jadi perlu gue update lewat posting ini. Buat yang lagi mau ngelamar kerjaan, coba deh ikutin langkah-langkah berikut biar peluang keterimanya, atau minimal dipanggilnya, lebih besar.

(lebih…)

Iklan

The Ugly Truth… For The Bosses


boss.jpeg

Setelah sekian belas – nyaris dua puluh tahunan jadi orang kantoran, ada satu topik yang kayaknya wajib banget ada di curhat para kroco, yaitu:

…topik tentang Boss

Tentu aja nggak semua curhat tentang boss beneran gara-gara bossnya bermasalah. Kadang kroconya yang bloon atau males, ketemu boss rajin, dan merasa ditindas. Tapi sebagian besar memang iya: bossnya ajaib.

Menariknya, para kroco dan boss nampak melihat permasalahan dari sudut pandang yang sama sekali beda, sehingga kemudian timbul konflik. Semua boss pernah jadi kroco, jadi di atas kertas harusnya mereka tahu bagaimana pola pikir kroco. Tapi entah gimana, ada sejenis amnesia yang bikin mereka sama sekali gagal paham, atau nggak bisa ngebaca, apa yang dipikirkan kroco tentang mereka.

Karena itulah, wahai para boss di luar sana, untuk membantu kalian memahami apa yang ada di pikiran para kroco, baca dan camkan baik-baik daftar berikut ini:

(lebih…)

Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

(lebih…)

Agar


03092012_Damien_speech_bubbles

Wahai kalian, kroco-kroco kantoran, gue yakin kalian pernah baca/denger Boss bikin kalimat kayak gini:

“Seluruh karyawan agar mengikuti ketentuan… blablabla…”

Atau di surat undangan acara yang berpotensi tinggi dijadikan ajang ngabur, biasanya tertulis:

“Dalam pelaksanaan acara, seluruh karyawan agar datang tepat waktu.”

Perhatiin kata ‘agar’-nya.

(lebih…)

Kejutan Ulang Tahun Nggak Pake Marah


Ada satu tim di kantor gue yang punya tradisi unik: ngisengin anggotanya yang ulang tahun. Biasanya skenarionya sebagai berikut:

  1. Saat yang ulang tahun muncul, semua orang kompak nggak ada yang ngasih selamat – seolah-olah lupa.
  2. Menjelang siang, orang yang ulang tahun akan dipanggil salah satu petinggi kantor, dituduh melakukan sebuah kesalahan fatal, terus dimarahin habis-habisan.
  3. Setelah korban nampak mau nangis, anggota tim lainnya muncul bawa kue dan kado sambil nyanyi Happy Birthday.

(lebih…)

‘Biggest Loser’ ala orang kantoran


biggest loser logo

Udah jadi hukum alam bahwa segala niat menuju kebaikan itu pasti banyak tentangannya. Salah satunya adalah niat gue menurunkan berat 32 kilo dalam kurang dari setahun.

Komentar-komentar seperti:
 
“…paling baru sebulan juga bosen…”
“…paling baru turun 2 kilo udah naik lagi 3 kilo…”
“…paling timbangannya udah dol…”
dan “paling” – “paling” lainnya sering gue denger dalam 3 bulan terakhir.
Salah satunya dari seorang temen bernama Multi.
Kebetulan Multi nge-gym di tempat yang sama dengan gue, dan tiap kali ketemu di gym selalu mencela-cela cara latihan gue yang menurut dia kurang banyak unsur cardio-vaskulernya. “Lah, treadmill-nya kok sebentar amat, kayak gue dong 1 jam,” demikian teori dari Multi. Sedangkan gue berprinsip, bukan cuma cardio; angkat beban juga perlu untuk menjaga massa otot nggak turun yang akibatnya memperlambat proses penurunan berat (soal ini selengkapnya akan gue bahas di posting yang lain).
Karena kalo dirasa-rasa ocehan si Multi makin berisik, maka pada suatu hari gue bilang sama dia, “gini aja deh, lu dengan cara latihan lu, gue dengan cara latihan gue, kita lihat siapa yang paling cepet turunnya. Kita bikin kompetisi ala The Biggest Loser seperti di tivi.”
Peraturannya sederhana aja:
  1. Pada sebuah hari Senin, seluruh peserta ditimbang.
  2. Hari Senin berikutnya ditimbang ulang.
  3. Peserta yang persentase penurunan berat badannya paling sedikit, harus pake dasi seharian penuh. FYI, buat yang heran denger hukumannya orang kantoran kok pake dasi doang, kantor gue punya tradisi bebas dari dasi. Maklum, bank pasar. Penampilan para pegawainya pun sebisa mungkin mirip dengan penghuni komunitas pasar tradisional. Jadi hukuman pake dasi bagi yang kalah itu cukup mengerikan karena otomatis akan jadi bahan tontonan orang sekantor!
Awalnya Multi menolak berkompetisi dengan berbagai alasan, tapi setelah dikata-katai ‘chicken’, akhirnya dia mau juga. Apalagi saat ada satu orang lagi, namanya Heri, yang dengan suka rela mendaftarkan diri jadi peserta karena kebetulan lagi punya target pribadi menurunkan berat (dan kalo bisa menurunkan angka asam uratnya yang udah dobel digit).
Senin 21 Maret, kami bertiga ditimbang. Waktu itu gue yang paling berat dengan bobot 92,2 kg, disusul Multi di 89,1 kg dan terakhir Heri di 84,9 kg. Dan… kompetisi pun dimulai.
Dasar kompetisi iseng-isengan, iklimnya lebih ke arah saling menyabot program lawan ketimbang berusaha menurunkan berat sendiri. Misalnya,
“Makan siang di mana nih?”
“Di meja aja, udah bawa bekal dari rumah.”
“Alaa… bareng aja yuk, makan steak!”
atau
“Eh, Dapur Cokelat lagi diskon lho! Yuk beli, mumpung murah!”
Kalo akhirnya pergi makan di luar, saat mau pesen makanan juga tunggu-tungguan, saling ingin ngelihat apa makanan yang dipesen lawannya. Di satu kesempatan gue berhasil mengecoh Multi saat makan bareng di Abuba steak Tebet, yaitu dengan membuat dia mengira gue akan menghabiskan steak gue sendirian dan ternyata baru habis setengah porsi gue udah panggil petugas minta dibungkus!
Tanggal 28 Maret, saatnya penimbangan pertama, Heri yang merasa PD dengan penurunan berat sebanyak 9 ons (1,06 %) harus menelan pil pahit karena ternyata gue berhasil turun sekitar 4 kg (4,66%) dan Multi turun nyaris 2 kilo (1,91%). ‘Kehormatan’ pertama memakai dasi dianugerahkan kepada Heri.
Penimbangan berikutnya seharusnya dilakukan tanggal 4 April, tapi karena tanggal segitu Multi lagi tugas keluar kota, maka penimbangan diundur seminggu ke tanggal 11 April.
Kali ini gue yang shock karena perasaan udah turun banyak, taunya pas ditimbang cuma turun 1 ons (0,11 %) sedangkan Heri berhasil balas dendam dengan turun 1,31% dan Multi memimpin dengan penurunan 1,37%. Akhirnya, kena deh gue pake dasi.
Karena udah ngerasain beratnya pake dasi, maka di minggu ini gue berusaha lebih keras olah raga dan ngatur makan.Sedangkan Multi berkeyakinan penuh bahwa roti gandum itu baik untuk diet.
“…emang iya sih,” kata gue, “Tapi kalo lu isi selai coklat sama keju gitu kayaknya agak kurang bermanfaat ya, roti gandumnya…”
Berdasarkan jadwal, hari Senin 18 April kemarin harusnya penimbangan berikutnya, tapi Multi nggak masuk karena sakit. Maka penimbangan diundur ke hari Selasa 19 April.
Untuk menambah ketegangan, hari Jum’at kemarin gue udah beli 1 dasi baru yang super norak dan gonjreng, terbuat dari bahan KW 5 yang bentuknya nggak keruan. Sebagai yang beli, gue aja ngeri ngebayangin harus make dasi bentuknya kaya gitu.
Pagi-pagi, bertiga udah kumpul, dan penimbangan dimulai. Heri naik duluan ke timbangan, dan… yak, dia berhasil turun berat 1,93%! Abis Heri, gue. Ternyata nggak percuma minggu lalunya sempet korban perasaan pake dasi seharian, karena di penimbangan kali ini gue turun 2,62%! Multi yang sebelum penimbangan sempet ngilang ke toilet untuk berusaha menguras segala cairan yang mungkin menambah bobotnya naik dengan tampang kurang PD ke timbangan, dan… yak, bukannya turun, beratnya malah naik 3 ons!
Tentu aja perolehan si Multi merupakan kebahagiaan tersendiri bagi gue, apalagi mengingat minggu lalunya dia yang paling bawel ngeledekin gue yang lagi berdasi. Berikut perjalanan penurunan berat kami bertiga selama 4 minggu terakhir:
Kebetulan di penimbangan terakhir ini scoring boardnya penuh, maka gue tawarkan ke kedua peserta, apakah kompetisi ini mau dilanjutin. Heri yang memang targetnya belum kesampean menyambut gembira, sayangnya Multi ogah-ogahan. “Stress gue tiap minggu mikirin timbangan,” katanya. Yah, masa pesertanya cuma gue dan Heri doang? Nggak seru banget.
Pas lagi ngomong-ngomong gitu, lewatlah anggota divisi tetangga, namanya Bang Yolli.
“Bang Yolli, mau ikutan nggak kompetisi Biggest Loser?”
“Apaan tuh…?
Gue jelasin panjang lebar tentang kompetisinya, dan di tengah-tengah penjelasan gue, Multi nyeletuk, “Kalo Bang Yolli ikutan, gue mau deh ikutan lagi!” Dia ngomong gitu dengan keyakinan penuh bahwa Bang Yolli nggak akan sudi ikut permainan bodoh ini. Taunya…
“Wah kebetulan, saya juga lagi ingin ngurusin badan nih. Ayo deh!” kata Bang Yolli semangat. Multi langsung pucat pasi, tapi apa bo
leh buat, pantang menjilat ludah sendiri. Akhirnya kami berempat sepakat, Rabu 20 April akan melakukan penimbangan badan untuk kompetisi Biggest Loser Kantoran tahap 2!
Siapa yang tertarik bikin kompetisi sejenis di kantornya masing-masing? Lumayan buat seru-seruan, dan bikin hari Senin jadi hari yang ditunggu-tunggu – karena bakal ada tontonan orang gila pake dasi di bank pasar…

Kalau pekerjaan seperti anak kandung sendiri


Di kantor lagi musim performance appraisal, dan mendadak banyak berseliweran obrolan-obrolan bermuatan motivasi kerja. Yang satu ini lumayan unik buat gue, karena memandang pekerjaan dari sudut pandang yang belum pernah terlintas di pikiran gue sebelumnya 🙂

Seorang bawahan bilang, “Boss… kenapa sih gue nggak naik-naik pangkat? Gue udah kerjain semua kerjaan gue. Apa yang lu suruh gue lakuin. Memang sih, ada beberapa yang meleset, tapi kan bukan sepenuhnya salah gue. Itu kan terkait sama divisi lain. Kalo mereka yang lemot dan berimbas pada kerjaan gue, masa gue yang salah sih?”

Si boss menjawab, “Gini deh. Lupain kerjaan, dan inget anak lu di rumah. Sekarang bayangin, pada suatu hari, tetangga lu dateng dan bilang mau ngajak anak lu yang masih balita jalan-jalan ke bonbin. Dia janji mau pulangin anak lu jam 5 sore. Eh ternyata sampe jam setengah 6 belum dateng. Nggak ada kabar, nggak ada sms, nggak ada telepon. Apa yang lu lakuin?”

“Nggak sampe setengah 6 gue udah telepon duluan kali Boss. Nanyain kenapa belum pulang, anak gue baik-baik aja nggak, nangis nggak di jalan, rewel ingin pipis nggak…”

“Kenapa?”

“Ya namanya juga anak, boss. Kalo kenapa-napa kan gue juga yang repot.”

“Tepat sekali. Karena elu merasa anak itu tanggung jawab elu kan? Elu mau memastikan anak lu baik-baik aja, sehat wal afiat nggak kurang suatu apa. Kalo masih belum jelas juga kabarnya, kalo perlu lu susul ke bonbin. Nah, gimana kalo pemikiran kaya gitu lu terapin ke pekerjaan? Saat divisi lain lemot, lu nggak cuma pasrah nunggu. Lu ambil tindakan, datengin, tanya ada masalah apa, dan apa yang bisa lu bantu untuk mempercepat proses mereka. Pokoknya, apapun yang lu bisa untuk memastikan kerjaan lu bisa beres.”

“Tapi kalo kerjaan dianalogikan dengan anak, rasanya gue udah cukup bertanggung jawab kok Boss. Kalo gue ketitipan anak, ya gue akan bertanggung jawab atas keselamatan anak itu.”

“Bukan, bukan. Gue minta lu bayangin pekerjaan sebagai anak kandung lu sendiri, bukan anak tetangga yang dititip ke elu.”

“Emang apa bedanya?”

“Bayangin duit di kantong lu tinggal 5.000 perak. Anak titipan minta makan. Maka lu akan pergi ke warung yang bersih dan sehat, lu beliin nasi lengkap pake lauk dan sayur seharga 3.500 perak, selesailah tanggung jawab lu. Lu udah ngasih makan anak itu secara layak kan?
Tapi kalo yang minta makan adalah anak sendiri, ada orang jual makanan sehat seharga 3.500 perak, lu akan tanya lagi, ‘ada makanan yang lebih baik nggak?’ Kalo ada, dan ternyata harganya 6.000 lu akan beli juga. Kekurangan yang seribu perak urusan belakangan dateng dari mana, ngutang dulu kek, minjem kek, yang penting anak itu mendapat makanan terbaik yang bisa lu kasih ke dia.
Begitu juga dengan kerjaan. Akan beda banget hasilnya kalo lu ngerjain suatu kerjaan hanya untuk menunaikan tanggung jawab, dengan kalo elu bener-bener mengupayakan yang terbaik yang elu bisa untuk kerjaan tersebut.”

“Tapi nggak bisa disamain gitu juga sih Boss. Namanya anak kan bawa nama orang tua. Jadi kita harus bener-bener mengusahakan yang terbaik.”

“Emang kerjaan lu nggak berpengaruh sama nama baik lu? Sekarang gini: bayangin lu asal-asalan ngurus anak, sehingga anak lu tumbuh jadi bengal, dekil, suka ngomong jorok, ingusan, cacingan, dan bau matahari. Trus anak lu keluyuran masuk rumah orang. Maka yang ditanyain pertama selalu orang tuanya: ‘anjrit, anak siapa nih masuk-masuk ke sini? Hus, hus, keluar!’
Sebaliknya, kalo elu ngedidik anak lu dengan bener, trus anak lu jadi anak yang baik, sopan, lucu, dan pinter, maka pertanyaan pertama dari orang juga siapa orang tuanya. ‘Aduh, ini anak kok lucu dan pintar sekali sih, anak siapa sih ini?’
Sekarang nggak usah bayangin lu kerja asal-asalan deh, bayangin lu kerja standar aja. Sekedar memenuhi tanggung jawab. Kira-kira akan ada orang yang tertarik nggak untuk nanyain kerjaan lu? Enggak. Karena ada jutaan hasil kerja lain yang sama kualitasnya dengan kualitas standar lu itu. Tapi kalo lu bikin hasil kerja lu bener-bener keren, maka nggak usah disuruh orang akan penasaran, ‘kerjaannya siapa sih ini? Orangnya pasti OK banget, kayaknya cocok nih untuk gue bajak ke perusahaan gue.’
Sama seperti anak, kerjaan lu akan memberitakan seperti apa kualitas pembuatnya. Baik lu sadari maupun enggak.”

“Yah, idealnya memang kita harus kerja yang bener Boss. Tapi namanya juga manusia boss, kadang kan kita ada malesnya juga ngurus kerjaan, ada bosennya juga.”

“Dengan kata lain, butuh konsistensi dan kedisiplinan. Lagi-lagi sama seperti anak. Bayangin apa jadinya anak lu kalo sikap lu nggak konsisten: hari ini harus mandi dua kali sehari, besok boleh nggak mandi, hari ini harus tertib tidur siang, besok-besok terserah mau ngelayap sampe sore juga boleh. Rusak tuh anak. Memang sulit untuk selalu konsisten menjaga kualitas, tapi sulit itu beda dengan mustahil, kan?”

“Seringkali gue merasa, udah kerja capek-capek percuma aja Boss. Gaji naiknya nggak seberapa, boro-boro naik pangkat. Makanya gue jadi suka males.”

“Kalo elu keluarin duit banyak buat bayar uang sekolah anak, trus ternyata di sekolah anak lu nggak pinter-pinter amat, apa trus lu keluarin anak lu dari sekolah? Apa trus lu merasa rugi udah bayarin uang sekolah, beli seragam dan buku buat dia? Sama anak lu nggak akan main hitung-hitungan untung rugi. Yang ada di pikiran lu cuma gimana caranya anak lu tumbuh jadi orang yang bener. Begitu juga dengan kerjaan. Sekalipun sekarang, atau setahun – dua tahun ke depan lu merasa kerja keras lu nggak ada hasilnya, tapi selama lu bener-bener mengupayakan yang terbaik, suatu hari nanti kerjaan lu akan balas budi ke elu…

“Emang cape ya berdebat sama boss.”

Lift Anti Klenik


Tadi pagi gue berkunjung ke kantor salah satu instansi pemerintah, dan menemukan sebuah keunikan di liftnya. Sebuah hal yang jarang banget gue temukan di lift-lift gedung lain, yaitu…

(lebih…)

nulis sambil ngantor? bisa!


Hari ini pertanyaan berikut masuk di shoutbox gue:

“numpang ngomong ya mbot, cr ngebagi waktu loh antara kerja dan ngeblog gimana si..”

Berhubung jawabannya panjang, gue tulis di posting aja deh. Kali-kali bermanfaat buat lainnya.

Kalo boleh milih, tentunya gue lebih seneng nulis sambil santai, make celana pendek dan kaos robek, sambil denger musik, ngemil kacang dan minum es teh, sesekali ngecek FB dan main game, diseling nonton tv bentar, ngerokok sebatang dua batang, ngetik lagi, dst dst. Tapi makin lama kesempatan seperti itu makin jadi barang mewah, jadi ya… guenya yang harus mengerahkan upaya ekstra untuk tetep bisa nulis, baik untuk blog maupun buku ke dua.

Prinsip 1: tulisan nggak akan mungkin sempurna sebelum ADA

Dulu waktu gue masih punya banyak waktu, untuk bikin sebuah posting gue membutuhkan waktu bisa sampe berhari-hari. Buat yang udah baca buku “Ocehan si Mbot”, tulisan gue tentang Tujubelasan (hal 55 -85) itu gue tulis selama 3 hari non-stop. Diketik dulu di MS Word, pindahin ke Frontpage, dikasih warna-warna background, rapihin dulu kode-kode HTML-nya… wah, pokoknya ribet. Rentang waktu kejadian yang diceritain juga panjang dan detil banget. Tujuannya untuk bikin tulisan yang menurut gue ‘sempurna’.

Kalo sekarang gue melakukan hal yang sama, bisa-bisa blog ini baru gue update 3 bulan sekali. Sekarang, gue memilih tema-tema tulisan yang bisa ditulis segera. Toh kalo ada kesalahan atau ketidaksempurnaan, bisa dipoles belakangan. Tema-tema yang kira-kira akan butuh penulisan yang ribet, gue simpen dulu sebagai draft untuk ditulis kapan-kapan kalo ada waktu luang.

Prinsip 2: keyboard sebagai proses akhir

Artinya, proses penulisan gue lakukan secara abstrak di dalam kepala sebelum gue berkesempatan ketemu keyboard untuk nulis. Kalo prosesor komputer yang buatan manusia aja bisa melakukan multi-tasking alias mengerjakan beberapa kegiatan pada saat yang bersamaan, gue yakin otak buatan Tuhan mampu melakukannya dengan lebih baik lagi. Saat dapet ide, gue biarkan ide itu berkembang di dalam otak seperti adonan roti. Sesiangan proses itu berjalan, sementara gue ngerjain tugas-tugas kantor. Apalagi dalam sehari pasti ada aja saat di mana gue cuma bisa bengong tanpa ngerjain apapun, seperti misalnya ngantri pesen makan siang atau duduk di boncengan ojek. Saat-saat seperti itu gue manfaatkan untuk mengembangkan ide di kepala. Malam harinya, biasanya ide itu udah jadi, tinggal disalin dari dalam kepala ke keyboard.

Prinsip 3: umum ke khusus

Kalo dulu gue menulis sesuatu secara lengkap dari awal sampe akhir, dengan dukungan referensi-referensi hasil browsing di google, sekarang gue memilih untuk memecah ide dalam bentuk yang lebih spesifik. Dengan demikian tulisannya bisa lebih pendek dan lebih gampang ditulis (dan lebih gampang dibaca juga, tentunya).

Prinsip 4: lebih baik sedikit daripada enggak sama sekali

Karena nyari waktu yang khusus untuk duduk diem dan nulis sambil merenung-renung makin sedikit, ya gue manfaatin aja waktu yang ada – sesedikit apapun. Misalnya waktu makan siang. Sebagaimana orang kantoran lainnya, gue punya waktu makan siang 1 jam, dari jam 12.00 – 13.00. Lima belas menit pertama gue pake untuk makan siang, 10 menit untuk salat Zuhur, masih ada 35 menit untuk nulis. Dalam waktu 35 menit mungkin nggak banyak yang bisa ditulis, tapi kan lebih baik daripada enggak sama sekali.

Prinsip 5: ide sebagai ‘password’

Kalo lagi kerja tiba-tiba dapet ide, gue tuliskan ide itu dalam satu – dua kalimat dan gue kirimkan via email ke alamat email pribadi gue. Suatu hari nanti kalo gue lagi butuh tambahan ide, gue tinggal buka email – email pendek itu. Seperti password, ide-ide pendek itu biasanya bisa membuka ‘keran’ ide dalam bentuk yang lebih kompleks.

Begitulah kurang lebih strategi yang gue jalankan untuk menyiasati waktu yang makin terbatas buat nulis. Buat himura323, semoga menjawab ya!

Ada yang punya strategi lainnya? Silakan dibagi di sini.

my stupid boss – resensi dan analisis psikologis


Saat ditanya orang apa tip menulis blog yang diminati banyak, gue pernah menjawab, “Hindari humor negatif, yang memancing tawa pembaca dari menghina / menjelek-jelekkan orang lain, karena lama kelamaan kita akan kehabisan bahan. Nggak ada orang yang bisa secara konsisten negatif terus, pasti ada saatnya kita merasa bahagia, kan? Pada saat itu, kita bisa kehabisan bahan tulisan.”

Ternyata gue salah.

Ternyata ada sebuah blog yang boleh dibilang cuma berisi curhat kesebelan sang penulis terhadap bossnya yang bego setengah mati. Bukan cuma itu, blog ini juga udah diangkat jadi buku setebal hampir 200 halaman. Dan setelah bukunya terbit, masih terus bermunculan posting-posting baru yang nyaris semuanya bertema sama: sumpah serapah terhadap si boss. Luar biasa, boss yang satu ini pasti bener-bener seorang boss yang sangat inspirasional!

Guilty pleasure, kurang lebih itulah reaksi gue saat membaca buku “my stupid boss” ini. Di satu sisi gue prihatin ngeliat ada aib (baca:kebegoan) orang diumbar abis-abisan, tapi di sisi lain gue harus akui bahwa gaya penuturan si penulis sangat cerdas, sinis, dan kocak banget!

Si penulis yang identitasnya masih misterius ini mengaku sebagai ‘kerani’ (staf admin) di Malaysia. Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil (hanya punya pegawai beberapa belas orang). Pemilik perusahaan itulah sang ‘stupid boss’ yang abis-abisan dihajar dalam 197 halaman buku terbitan Gradien Mediatama ini.

Gaya penulisannya sebenernya nggak terlalu istimewa, kalo nggak bisa dibilang kaku. Dialog-dialog antara tokoh penulis dan si boss ditulis dalam format mirip naskah sandiwara, sebuah format yang sangat ‘kering’, sebenernya. Tapi berhubung isi dialognya bener-bener ancur abis, gue ketawa-ketawa juga bacanya.

Contohnya dialog mereka di pesawat, saat tiba-tiba tokoh boss mengenali di pesawat mereka ada seorang menteri Indonesia:

Boss: Eh, itu kan Mentri xxx Pak xxx
Gue: Iya. Terus kenapa?
Boss: Saya mau ngobrol, ah (siap-siap mau bangun)
Gue: Jangan, Pak.
Boss: Loh, memangnya kenapa? Biarin aja! Lagian tempat duduk di sebelahnya juga kosong, kan?
Gue: Ya,. tapi ini udah mau take off! Bapak mau keguling apa?
Boss: Oh, iya, ya…

(hal. 182)

Berdasarkan penggalan-penggalan informasi dalam buku ini, gue ketahui bahwa si boss adalah orang Indonesia yang menikah dengan wanita Malaysia. Dia pernah tinggal 13 tahun di Amerika Serikat, dan bangga sekali dengan fakta tersebut. Sebaliknya, tokoh penulis berpendapat bahwa untuk ukuran seorang boss yang pernah kuliah di Amerika Serikat, si boss sungguhlah norak, bego, kampungan, paranoid, pengecut, licik, pelit, dan pada dasarnya nggak tau malu. Menurut penulis, si boss nggak belajar apapun selama tinggal di Amerika, karena yang dilakukannya di sana cuma (sori) berak. Diceritakannya bagaimana si boss mencoba memberi ‘uang damai’ saat ditilang polisi Malaysia, yang akhirnya malah berbuntut panjang. Atau saat si boss sesumbar akan menempeleng 17 pegawai yang punya tuntutan khusus di akhir masa kontrak, tapi saat dipertemukan langsung malah ciut. Atau tentang si boss yang mengendap-endap sembunyi di semak-semak untuk memata-matai apakah para pekerjanya betulan kerja saat dia nggak di kantor.

Sebaliknya, si penulis menutup rapat-rapat identitas dirinya, bahkan nggak mencantumkan nama aslinya sebagai penulis. Dia cuma bilang bahwa dirinya adalah seorang perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, sudah menikah, dan bekerja di kantor boss bodoh itu sebagai tenaga kontrak. Artinya, dia dan boss terikat perjanjian kerja sama selama jangka waktu tertentu. Menurut peraturan tenaga kerja Malaysia, bila salah satu pihak memutuskan hubungan kerja sebelum waktu yang ditentukan dalam kontrak, pihak tersebut harus membayar ganti rugi senilai upah bulanan dikalikan dengan jangka waktu yang tersisa. Itulah sebabnya si penulis tetap bertahan di kantor bossnya walaupun dia benci setengah mati. Dari berbagai istilah dan referensi yang dia gunakan (misal: penggunaan istilah makdikipe yang punah di era 90-an awal dan menyebut pemeran Superman adalah Christopher Reeve – bukan Brandon Routh) , gue menduga penulis ini berumur sekitar pertengahan 30-an.

Saat memasuki bagian pertengahan buku, setelah berulang kali ketawa-ketawa ngebayangin kok ya ada boss seancur ini, gue mulai merasa sedikit kasihan pada tokoh si boss. Kayaknya dia itu sebenernya butuh pertolongan profesional deh. Kalo ngeliat ciri-ciri perilakunya, kayaknya si boss ini menderita semacam inferiority complex, di mana dia bikin ulah macem-macem untuk membuktikan bahwa sesungguhnya dirinya adalah penting dan patut dihormati. Sayangnya, efeknya justu terbalik: bukannya makin dihormati, dia justru dilecehkan dan dihina semua orang, mulai dari staff Adminnya sendiri hingga para supplier seperti yang diceritakan di halaman 33 ini:

Boss: Pipa ini satu batang 180 ringgit?! Mana mungkin! Di tempat kawan saya hanya 60 ringgit!
Supplier: Hah? Di kawan you hanya 60 ringgit? Ok, bagi saya alamat kawan you.
Boss: Mau apa?
Supplier: Saya mau beli pipa dari kawan you.

Walaupun ini buku lucu-lucuan, tapi ada satu hikmah yang bisa gue tarik kalo suatu hari hari nanti harus berperan sebagai seorang boss: jangan lakukan apapun yang dilakukan tokoh boss dalam buku ini! 🙂 Sebuah buku yang menarik, terutama buat orang-orang kantoran.

Penutup:
Setelah puas baca bukunya dan blognya, gue mulai penasaran dengan sosok penulisnya. Seperti apa sih orangnya? Apakah dalam kehidupan nyata dia sesinis dan segalak yang digambarkannya dalam buku? Eh pas iseng-iseng googling, gue nemu sebuah link di multiply, yang mengarah ke blognya chaos@work. Seorang user bernama rockm4m4 mereply posting link tersebut dengan “taelaaaah.. prasaan kenal nih url!!!!”.

Gue kunjungi MP-nya si rockm4m4 itu dan gue menemukan beberapa indikasi samar bahwa dialah sang chaos@work herself, yaitu:

1. Tertulis domisilinya di Malaysia
2. Jenis font di headernya sama dengan font di blog chaos@work
3. Semua postingnya for contact only, dan komentarnya di posting link tsb juga langsung dihapus – sama misteriusnya dengan sosok chaos@work

Jadi, apakah rockm4m4 = chaos@work? Ada yang tau?

kajian bahasa: saat yang netral jadi mesum


Sehabis iseng-iseng baca posting gue sendiri yang ini tentang ocehan temen-temen kantor soal ‘keluar’ dan ‘masuk’ yang jadi ngelantur, ditambah pengamatan atas sejumlah fenomena di sekitar gue, maka timbul pertanyaan:

Kenapa ada sejumlah kata yang sebenernya bermakna netral bisa menimbulkan kesan mesum saat digabung dalam sebuah kalimat?

Contohnya sebagai berikut:

“Gila, barangnya udah besar, panjang, lagi…”

Kata “barang“, “besar“, dan “panjang” masing-masing memiliki makna netral, alias nggak mesum. Tapi kalo seseorang mengucapkan kalimat seperti di atas, besar kemungkinan orang-orang di sekitarnya bereaksi sama seperti habis denger omongan mesum. Bahkan bukan nggak mungkin si pembicara mendapat teguran seperti , “Hus! Ngomong apa sih!”

Tadinya gue berasumsi konotasi mesum timbul akibat subyek dalam kalimat di atas bermakna ambigu: “barang” berarti sesuatu yang “anonim” atau “nggak jelas”.

Urutan logikanya adalah:

  • kata “barang” bermakna ambigu
  • kata-kata yang mesum biasanya dihaluskan dalam bentuk yang ambigu
  • kesimpulannya: kata “barang” pasti mesum.

Untuk kata-kata lain seperti “anunya” atau “Itunya“, asumsi ini benar. Tapi ternyata nggak berlaku bila subyek diganti dengan kata-kata lain yang maknanya lebih jelas seperti “burung” atau “rudal“.

Contoh:

“Gila, rudalnya udah besar, panjang, lagi…”
“Gila, burungnya udah besar, panjang, lagi…”

Saat mencari persamaan antara “rudal” dan “burung”, gue berasumsi bahwa kata-kata tersebut menjadi mesum karena bentuk “rudal” dan “burung” cenderung “bulat memanjang” atau lonjong, mirip organ seksual pria. Ini dengan mengabaikan fakta bahwa banyak burung yang anatominya sama sekali nggak bulat atau panjang, seperti misalnya burung puyuh.

Urutan logikanya adalah:

  • “rudal” dan “burung” berbentuk bulat panjang
  • organ seksual pria berbentuk bulat panjang
  • “rudal” dan “burung” pasti mengacu pada organ seksual pria, karenanya menjadi mesum.

Asumsi ini benar bila kita mengambil contoh benda-benda lain yang juga berbentuk bulat panjang, seperti misalnya “torpedo“, “terong“, “pentungan“, “sosis“, atau “pisang“.

Pertanyaannya, kenapa nggak semua benda bulat panjang menimbulkan konotasi mesum? “Kapsul” misalnya. Atau “senter”. Kenapa?

Sampai di sini gue kehabisan asumsi.

Yang jelas, ciri selanjutnya adalah: semakin banyak kata-kata “ambigu” dalam sebuah kalimat, semakin mesum konotasinya.

Contoh:

“Gila, barangnya besar banget!”

terdengar sedikit lebih rendah derajat kemesumannya dibandingkan dengan:

“Gila, barangnya besar dan panjang banget!”

yan masih kalah mesum dibandingkan dengan:

“Gila, barangnya besar, panjang, tahan lama lagi!”

Kalimat itu sebenernya bisa aja merujuk pada benda apapun mulai dari ikat pinggang sampe penggaris, tapi kenapa tiba-tiba muncul konotasi mesum? Ada yang tau kenapa? Atau ada yang paham kenapa soal ginian aja penting banget untuk diposting?

Referensi:
Daftar kata-kata yang sering dituduh menimbulkan konotasi mesum

Kata benda

  • Barang
  • Itu
  • Anu
  • Lobang
  • Batang
  • Pentungan
  • Terong
  • Timun
  • Sosis
  • Pepaya
  • Cucakrowo
  • Biji
  • Melon
  • Semangka
  • Rudal
  • Roket
  • Burung
  • Bemo
  • Torpedo
  • Tonjolan / tongolan
  • Pisang
  • Gunung
  • Boncengan
  • Service / pelayanan

Kata sifat / kata kerja

  • Besar
  • Kecil
  • Panjang
  • Nongol
  • Nonjol
  • Pendek
  • Gondrong
  • Keriput / kisut
  • Lembek
  • Mentok
  • Loyo
  • Lemas
  • Bangun
  • Jilat
  • Sedot
  • Puas
  • Lebat
  • Basah
  • Kendor
  • Kenceng
  • Perkasa
  • Keras
  • Tahan lama
  • Cuma sebentar
  • K.O.
  • Nyampe
  • Enak
  • Sodok
  • Tancep
  • Kuat
  • Kental
  • Encer
  • Tegak
  • Keluar
  • Masuk
  • Muncrat
  • Naik
  • Geli
  • Turun
  • Kenyal
  • Ngemut
  • Goyang / Digoyang
  • Digenjot
  • Enjot-enjotan
  • Sempit
  • Jepit / jepitan
  • Merem – melek
  • Ngisep
  • Ngocok
  • Gandul / menggandul
  • Gituan / digituin

gambar gue pinjem dari sini

resolusi 2008: harus lebih menjaga ucapan


Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, Anto beli sebuah laptop yang spesifikasinya lumayan canggih. Setiap hari dia bawa laptopnya ke kantor. Semua orang senang dengan kehadiran laptop Anto, terutama karena di situ terinstall game sepak bola. Sejak Anto punya laptop, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu – khususnya menjelang jam istirahat, saatnya main game sepak bola. Karena spesifikasi laptopnya memang tergolong ‘super’, animasi game sepak bola tampil sempurna di layar.

Pada suatu hari, gue kebetulan juga bawa laptop ke kantor. Dibanding laptop Anto, laptop gue jauh ketinggalan jaman. Anto yang lagi kurang kerjaan jalan-jalan ke deket meja gue, trus memperhatikan laptop gue.

“Hmmm…. berapa ini RAM-nya?” tanya Anto
“Cuma satu giga To…”
“Ckckck.. kecil sekali ya… apa rasanya ya, pake komputer yang RAM-nya cuma 1 giga…” kata Anto dengan gaya belagu. Bukan, bukan belagu betulan, tapi gayanya emang gitu. Dan gue tau dia cuma main-main, kok.
“Yah maklum lah To, gue mampunya cuma beli ginian, ini juga nyicil…”
“Selain itu…. hmmm… layarnya juga terbatas sekali ya? Coba, diliat dari agak samping begini, langsung nggak keliatan gambarnya.”
“Ini juga udah Alhamdulillah kok To,” jawab gue dengan nada memelas.
“Nggak ada webcamnya ya?”
“Nggak ada To…”
Kasihan sekali…”

Ngeliat gayanya belagu banget, gue jadi iseng nyeletuk,

“Iya… dan gue sih berharap aja semoga JANGAN SAMPE TERJADI ‘SESUATU’ DENGAN LAPTOP LO YANG BAGUS ITU YA TO…
“Ih… ih… Agung marah yaaa… ampuuun… ampuun… laptop gue jangan disumpahin guuuung…”
“Nggak nyumpahin, justru gue berharap JANGAN SAMPE LAPTOP LO KENAPA-NAPA gitu loooh…”
“Huhuhu… ampppuuun… jangaaaan…”

Beberapa hari kemudian, Anto iseng ingin nyoba pake dual-OS: Windows Vista dibarengi dengan Windows 2000. Nggak sengaja dia melakukan kesalahan fatal, yaitu file system Win Vista-nya ketiban sama Win2000. Akibatnya si laptop canggih nggak bisa nge-load Windows dan masuk ke safemode melulu.

Saat gue lewat deket mejanya, Anto lagi mengutak-atik si laptop super dengan tampang prihatin.

“Kenapa laptop canggih lo? Mampus?”
“Ah enggaaak… cuma salah sedikit aja waktu nginstall windows, ini lagi gue betulin.”
“Oh… kirain mati total.”
“Enggak doooong… gila aja.”

Dua hari kemudian, suasana jam istirahat masih sepi – pertanda laptop Anto masih belum siuman. Waktu gue tengok ke mejanya, laptopnya lagi diformat.

“Laptop canggih kok layarnya gelap, To?”
“Aaah.. nggak papa, ini lagi gue format ulang aja biar beres semuanya. Nanti abis diformat kan nyala lagi.”

Setelah diformat, Anto baru sadar bahwa dia nggak punya driver untuk VGA cardnya. Dia udah coba download drivernya dari internet, tapi ternyata nggak compatible dengan VGA cardnya.

Gue mampir lagi ke mejanya.

“Laptop pake VGA card kok gambarnya burem amat To?”
“Itu lagi safemode, dodooool…”
“OH? Masih RUSAK, rupanya?”
“Enggak, enggak rusak. Ini tinggal gue install ulang windowsnya juga beres kok.”
“Kalo lagi safemode, gambarnya jelek ya To.”
“…” Anto males jawab. Gue berlalu sambil ngetawain tampang Anto yang mulai frustrasi.

Beberapa hari kemudian dia bela-belain beli CD Windows XP “black edition” yang konon udah dilengkapi aneka driver hardware.

“Laptop masih mati, To?”
“Ini lagi mau gue install Windows XP, abis ini pasti nyala lagi deh.”
“Mudah-mudahan ya To… soalnya… laptop bagus-bagus tapi nggak nyala kan percuma aja.”
“Iya gung, iyaaaa….

Beberapa hari berlalu, laptop Anto nggak nampak lagi di mejanya.
“Loh, LAPTOP MAHAL ke mana To?”
“Di bengkel. Nyerah gue, masih belum nyala juga.”

Mengingat Anto adalah seorang programmer lulusan teknik informatika, ini aneh. Masa nginstall Windows aja sampe gagal? Gue jadi mulai nggak enak.

“Lah, kemarin lu beli Windows XP blacky itu, nggak bisa juga?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Nggak tau, aneh banget.”
“Waduh, maap lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo kenapa-napa… bener deh…”
“Enggak… nggak rusak kok. Paling diservis sebentar juga udah beres lagi. Masih garansi ini.”

Seminggu laptop Anto nginep di bengkel, belum beres juga.
“Laptop canggih apa kabarnya To?”
“Masih di bengkel.”
“Kok lama amat?”
“Tauk tuh, kemarin gue telepon, masa tukang bengkelnya juga bingung…”
“Waduuuh… tapi bener lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo rusak…”
“Iya, iya.”

Kemarin, Anto menelepon bengkel komputer. Kabar gembira: laptopnya udah beres dan bisa diambil.

Hari ini, Anto kebetulan cuti. Dari rumahnya di Pamulang, dia menelepon bengkel laptop di Ratu Plaza untuk memastikan sekali lagi bahwa laptopnya udah selesai direparasi.
“Udah siap Pak, tinggal ambil aja,” kata tukang bengkelnya.

Maka pergilah Anto jauh-jauh dari Pamulang ke Ratu Plaza, dan sesampainya di sana…

“Aduh Pak, mohon maaf lho ini, ternyata LAPTOP BAPAK MASIH BELUM BERES.”
“Heh? Kenapa lagi? Tadi saya telepon katanya udah bisa diambil?”
“Memang pak, kami sampe ganti motherboard dan semalem udah beres. Tapi barusan dicoba lagi ternyata masih belum bisa pak, mohon maaf. Ini kami mau ganti sekali lagi motherboardnya…”
“Motherboard? Awalnya kan cuma salah nginstall, kok bisa motherboardnya sampe kena?”
“Itulah Pak, kami juga bingung…”

Dengan bersungut-sungut Anto meninggalkan Ratu Plaza menuju ke kantor untuk ngomel, “INI SEMUA GARA-GARA AGUNG NYUMPAHIN LAPTOP GUE, LIAT TUH SEKARANG SAMPE UDAH DUA KALI GANTI MOTHERBOARD BELUM BERES JUGA!!”

Beneran deh, mulai sekarang gue harus lebih hati-hati menjaga ucapan… Maaf lho To, serius gue nggak pernah bermaksud ngedoain laptop lo rusak….

Posting lain tentang celetukan gue yang jadi kenyataan bisa diklik di sini.

realita hari ini: pedihnya persahabatan


Friendship is a gift of God. Some of us are blessed with good friends. But as it happens, these friendships are taken for granted in some cases and not valued.

(kutipan dari artikel di sini).

Yah, hari ini gue sejumlah kejadian yang pas banget dengan kalimat di atas; bahwa ternyata selama ini gue kurang memperhatikan eratnya persahabatan dengan orang-orang di sekitar gue. Dan ketika gue tersadarkan atas makna persahabatan itu sendiri, ternyata malah pedih yang terasa. (lebih…)

Kalo Psikolog ikut Psikotes (3/4): Tipe seperti apakah gue?


ujian

cerita sebelumnya:

Yang mewawancarai gue adalah seorang ibu yang nampak sudah sangat seniooor.. sekali. Kayaknya beliau udah baca formulir gue sehingga langsung menyambut dengan “Wah hari ini ada rekan sejawat”.

Habis itu kami ngobrol-ngobrol soal kapan gue lulus, dilanjutkan dengan “kenal nggak sama…” dan sejenisnya. Trus masuklah ibu psikolog ke dua. Yang ini nampak lebih seniooor lagi dari yang pertama. Untuk memudahkan cerita, mari kita namakan mereka Ibu Psikolog Senior 1 (IPS 1) dan Ibu Psikolog Senior 2 (IPS2).

IPS 1 berkata dengan nada ceria kepada IPS 2, “Ini lho, Mas ini ternyata psikolog juga.”
Di luar dugaan, IPS 2 menyambut dengan nada setengah nyolot, “Psikolog? Bener Psikolog atau BARU SARJANA PSIKOLOGI?

I’ll take that as a compliment. Artinya kan wajah gue nampak seperti anak baru lulus S1. “Psikolog Bu. Udah lulus profesi. stasis. Praktek. Ada ijazah,” jawab gue sopan.

“Anda pasti anak bungsu ya?” kata IPS 2 lagi.
“Ya.”
“Cukup dengan lihat saja saya sudah langsung tahu, padahal saya belum baca formulir Anda,” ujarnya penuh kebanggaan atas kemampuan ‘psikologis’nya yang mampu ‘membaca orang’. Dan menurut gue dia pasti dosen, dan pasti punya nama julukan yang kurang menyenangkan di kalangan mahasiswa. Itu juga gue tau tanpa harus liat KTP lho.

“Trus, KENAPA MAU PINDAH KERJA?” tanya IPS 2 masih dengan nada nyolot.
“Loh siapa yang mau pindah kerja, orang saya lagi makan siang bareng temen tau-tau disuruh kirim CV dan ikutan psikotes,” jawab gue (masih) sopan. IPS 1 nampak agak kurang nyaman tapi masih diem aja.
“Jadi begitu? Setiap kali ada tawaran kerja terus Anda mau saja, begitu ya? Sampai kapan Anda mau begitu? Anda kan psikolog, pastinya tau TIPE ORANG SEPERTI ANDA INI. Harusnya Anda terapkan dong ilmu psikologi itu untuk ANDA SENDIRI!”

Ini apa-apaan sih? Gue mulai hilang kesabaran. “TIPE ORANG SEPERTI SAYA? Ada yang SALAH dengan TIPE ORANG SEPERTI SAYA??

Ngeliat gelagat gue mulai naik darah, IPS 1 buru2 menengahi dan mengganti topik. Sayangnya, pertanyaan berikut yang dilontarkannya susah gue jawab yaitu, “Sebenarnya pekerjaan Anda sekarang ini apa sih?”

Waduh, gimana jelasinnya ya. Ntar gue ngomongin intranet belum tentu beliau mudeng. Akhirnya dengan penyederhanaan di sana-sini gue bilang, “tugas saya menyampaikan informasi kepada karyawan lewat komputer, sedemikian rupa sehingga informasinya menarik, bisa gerak, bisa bunyi, dan bisa diklik pakai mouse. Itu lho, yang suka dipencet-pencet kalau kita sedang make komputer.”

IPS 1 manggut-manggut, mudah-mudahan karena ngerti. Dan 5 menit kemudian sesi wawancara (yang niatnya mendalam itu) berakhir.

[bersambung]

Ilustrasi: cuplikan koran kampus buatan gue, tentang adegan ujian bersama ibu-ibu psikolog senior.

Kalo Psikolog ikut Psikotes (1/4): gara-gara makan siang


oldphotos-jd-dekan
Dua minggu yang lalu, gue ketemu seorang temen lama waktu makan siang. Ngobrol punya ngobrol, sampailah pada topik pekerjaan masing-masing dan tiba-tiba aja temen gue ini bilang, “Eh… gung, gue baru inget, kantor gue kayaknya lagi nyari orang yang kualifikasinya pas sama elu. Mau nyoba nggak? E-mail-in CV lu yah!”

Sebenernya gue sih merasa happy-happy aja di kantor yang sekarang, tapi kan buru-buru menolak rejeki tanpa meneliti lebih lanjut itu tidak baik. Maka gue kirimkanlah CV terbaru kepada beliau.

Pagi CV dikirim, siangnya temen gue langsung nelepon minta gue dateng ke kantornya menemui calon user yang lagi buka lowongan itu. Yo wis, iseng-iseng gue mampir. Ngobrol-ngobrol sebentar, tau-tau si bapak itu bilang, “Mas agung, kalau begitu saya jadwalkan ikut PSIKOTES yah!”

Apa?! Ikut psikotes? Gue?

Sebagai psikolog yang menjunjung tinggi kode etik psikologi, gue sampaikanlah duduk permasalahannya kepada beliau, “Begini pak, saya sih nggak keberatan ya ikut psikotest, tapi masalahnya saya kan psikolog pak… kemungkinan besar saya udah tau kunci jawaban soal-soal psikotest yang nantinya akan keluar. Gimana?”

“Yah soalnya sudah prosedur di perusahaan ini semua calon pegawai harus ikut psikotest…” kata calon user. “Tentunya dengan latar belakang Mas Agung sebagai psikolog kami akan minta bantuan biro psikologi yang bagus – minimal mereka bisa bantu saya untuk menggali potensi Anda lewat wawancara yang mendalam.”

Gue pikir-pikir, lucu juga kali ya ikut psikotes. Nggak akan ada ruginya juga karena:

  1. Kalau memang bener biro psikologi yang ditunjuk untuk mengetes gue adalah biro yang ‘bagus’ maka gue bisa nambah pengetahuan tentang metode / alat-alat psikotes terbaru.
  2. Kalau ternyata enggak sebagus itu, lumayan bisa buat bahan posting di MP :-))

… tentunya sampai di titik ini kalian udah mulai bisa menebak; dari 2 poin di atas yang mana yang kemudian terjadi. Tapi baiklah, mari kita lanjutkan cerita.

Tadi pagi, gue datang ke biro psikologi yang ditunjuk, yang berlokasi nggak jauh dari pasar Santa. Waktu baca surat pengantarnya, perasaan gue udah mulai rada nggak enak karena gue nggak pernah denger nama biro itu dalam daftar biro ‘papan atas’ di Jakarta. Tapi… ‘ah, mungkin guenya aja kali yang kuper’, pikir gue.

Sesuai dengan panduan tata cara mengikuti psikotes yang baik dan benar, gue udah sampe lokasi setengah jam sebelum mulai. Gue liat-liat… hmm… gedungnya kok gedung tua ya? Perasaan tidak enak kembali muncul, tapi gue masih mencoba positive thinking.

Jam 8 teng dipanggil masuk, gue ikutan barisan para peserta lainnya sambil tergeli-geli dalam hati. Sebagai informasi, sebelum lulus kuliah pun gue udah sering diajak para senior bantu-bantu proyek psikotes (istilahnya “ngasong”). Setelah lulus, gue kerja di 2 perusahaan konsultan yang kerjaan utamanya bikin psikotes. Waktu di BPPN, walaupun gue udah nggak kerja di bagian recruitment, tapi masih suka ikutan bantuin beberapa proyek psikotes “asongan”. Setelah keluar dari BPPN, gue kembali ngurusin recruitment di perusahaan perkapalan selama setahun. Jadi kalo ditotal, mungkin gue udah melewati ribuan jam menangani proses psikotes. Tanpa niat ngapalin pun gue dengan sendirinya akan hapal kunci jawaban aneka alat tes. Trus hari ini gue disuruh ikut psikotes aja gitu.

Begitu masuk ruangan, masing-masing peserta difoto – dan asli gue bengong liat kameranya. Kameranya adalah kamera berbentuk kubus dengan 4 lensa yang mungkin udah dipake buat bikin pas foto di jalan Sabang sejak jaman Pak Harto masih kuat mancing dan main golf. Dengan kata lain: kamera jadul abis. Masih difungsikan penuh di tahun 2007 di mana kamera digital bisa dibeli dengan harga kurang dari sejuta perak. Ok, ok… don’t judge a ‘biro psikotes’ from its jadul camera.

Tapi… bagaimana dengan formulirnya? Gue disodori sebuah formulir isian yang lagi-lagi bikin gue bengong. Cuma selembar kertas dengan isian data standar seperti tanggal lahir dan alamat, plus sebuah tabel riwayat pendidikan SEJAK SD. Nggak ada isian riwayat kerja sedikitpun. Ini apa sih, formulir pendaftaran MASUK KULIAH? Ya sud… tanpa banyak cingcong gue isilah tuh formulir dan gue kembalikan kepada petugasnya. Eh nggak lama kemudian petugasnya balik ke meja gue.

“Pak, ini isiannya kurang lengkap”
“Sebelah mananya?”
“Ini kolom ‘keterangan’ di sebelah nama sekolah, belum diisi.”
“Saya harus isi dengan keterangan apa?” tanya gue dengan sabar.
“Ya diisi dengan keterangan LULUS atau TIDAK LULUS gitu pak.”
“…”

Ya deh, ya deh… gue ngaku. Gue sebenernya nggak lulus SD, tapi berhubung orang tua gue kuat nyogok maka gue bisa lulus jadi psikolog.

Tapi sebagai peserta tes yang baik dan benar, gue lengkapi lah kolom keterangan itu dengan pernyataan “LULUS”. Dan mulailah lembar-lembar tes dibagikan. Whuii… gue sampe nggak sabar ingin segera liat soal psikotes tercanggih di biro yang bagus ini.

[bersambung]

foto: gue, waktu diwisuda jadi psikolog

  • Komentar Terbaru

    Feni Febrianti di siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot di My Wonder Woman
    bayutrie di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.575 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: