Di Balik Jempol Para Om


Awalnya, seorang temen mengomentari suaminya yang lagi berpose untuk difoto, “Nggak usah ngasih jempol, kayak om-om!” Sejak itu gue lantas memerhatikan foto-foto para om-om, dan ternyata bener: banyak om-om, termasuk gue, yang ngacungin jempol kalo disuruh berpose. Yah, mungkin nggak sampe melebihi 50% populasi om -om sih, tapi porsinya cukup signifikan, lah. Maka lahirlah meme ini:

(lebih…)

Bigots, Bigots Everywhere


Awalnya adalah posting gue tentang Ippho Santosa yang gue posting tanggal 11 Juni 2012 lalu. Udah lama banget, bahkan sebelum pindah ke wordpress. Intinya: gue mengomentari kampanyenya untuk nabung 20 ribuan, dan kaitannya dengan ulah istri yang sesaat keranjingan ngumpulin 20 ribuan. Judul posting gue itu adalah Ajaran ‘sesat’ si Ippho Santosa. Perhatikan, ‘sesat’ dengan tanda kutip ya, artinya itu bukan dalam makna sebenernya,  gue nggak beneran menganggap dia tengah tersesat – walaupun hitung-hitungannya rada mirip Pak Harto di acara Kelompencapir.

(lebih…)

Top 10 Lagu Paling Ngetop (baca: basi) buat Team Building


Buat yang pernah, atau mungkin sering ikutan acara team building training pasti apal sama skenario training berikut:

Peserta dibagi jadi beberapa kelompok, disuruh berkompetisi antar kelompok dalam berbagai permainan bodoh yang nyusahin sampe belepotan, benjol atau minimal memar dan baret-baret, lantas di akhir hari disuruh kumpul lagi dan diajak ‘berdiskusi’ tentang acara training yang telah berjalan dengan kalimat-kalimat yang kurang lebih berbunyi:

“…coba Anda ingat-ingat lagi, menurut Anda faktor apa yang paling berpengaruh atas kelompok Anda sehingga bisa berhasil / gagal total dalam permainan hari ini?”

Setiap peserta seolah-olah bebas mengemukakan pendapat, jadi sah aja kalo lo bilang faktor yang paling berpengaruh adalah karena elo ganteng, atau taat pada orangtua, atau rajin mengisi kenclengan mesjid, tapi sang trainer akan mengarahkan semua pendapat tersebut ke muara yang sama yaitu “kerjasama” sebagai faktor terpenting.

Habis itu seluruh peserta akan diajak membentuk lingkaran, bila memungkinkan ada api unggun tapi kalo kayu bakar lagi mahal ya minimal matiin lampu, dan terkadang dikasih lilin satu orang satu dan / atau saling bergandengan tangan (momen di mana para peserta yang punya kecengan peserta lain akan merasa girang setengah mampus kalo kebetulan posisinya bersebelahan dengan sang kecengan) lantas disetelin sebuah lagu.

Nah… setelah mengikuti ratusan atau mungkin ribuan jam acara training sejenis, baik sebagai peserta, instruktur maupun tukang foto, gue akhirnya bisa menyimpulkan bahwa dari satu training ke training lainnya lagu penutupnya selalu itu-ituuuu aja. Entah karena para pencipta lagu kurang tertarik menulis lagu bertema team building, atau memang para trainernya yang males mikir dan males nyari lagu baru. Buat para mantan peserta team building training, coba simak daftar berikut; adakah yang kalian dengar dalam sesi training yang pernah kalian ikuti?

10. One Moment In Time – Whitney Houston

Kalo di era 90-an kalian kenal sama seorang trainer, coba cek di tasnya atau di mobilnya, PASTI ada kaset lagu ini. Mungkin lagu ini adalah lagu tema olimpiade yang paling sukses sepanjang sejarah, karena sejak diluncurkan di Olimpiade Seoul tahun 1988 dia masih terus direquest oleh para pendengar radio Sonora dalam acara “AMKM” (Anda Meminta Kami Memutar) sampe bertahun-tahun sesudahnya. Popularitasnya sebagai lagu penutup training mulai memudar sejak lagu ini terlalu sering berkumandang di Pasar Baru dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya sehingga terkesan kurang eksklusif. Lagu yang bernasib sama (maksudnya orang jadi enek karena terlalu populer dan keseringan diputer di mana-mana antara lain My Love Will Go On-nya Celine Dion dan Unchained Melody-nya Righteous Brothers (ost film Ghost). Oh iya, sama lagu I Just Called to Say I Love You-nya Stevie Wonder yang di tahun 80-an sempet dijadiin lagu latar iklan biskuit Marie Regal di radio. Saking seringnya denger lagu itu sebagai lagu iklan, sekarang kalo denger lagu itu entah kenapa gue merasa ada dorongan untuk bikin teh anget bakal celupan biskuit.

9 Kemesraan – Iwan Fals & Friends

Lagu ini sempet menjetis sebagai lagu penutup team building training, tapi popularitasnya gue lihat rada memudar sejak dia mulai (terlalu) sering dibawakan oleh para bapak pejabat orde baru kalo mendadak ditodong nyanyi dalam sebuah acara ramah tamah nggak penting dengan para kroco. Akibatnya para trainer yang mengklaim dirinya sebagai trainer ‘new age’ atau ‘konsep baru’ atau apalah jadi alergi. Padahal, andaikan gue dapet 5000 perak setiap kali denger / liat pejabat nyanyi lagu “Kemesraan”, mungkin hari ini gue udah bisa beli ruko 4 pintu.

8 That’s What Friends Are For – Dione Warwick

Kalo para peserta trainingnya manusia-manusia era 80-an lagu ini biasanya cukup sukses bikin mereka saling berpelukan, baik karena terharu maupun karena ingin ngelaba. Sedangkan bagi peserta yang lebih muda paling-paling cuma ‘huh?’

7 If We Hold On Together – Diana Ross

Lagu ini sebenernya original soundtrack film animasi “Land Before Time” ; mengisahkan tentang petualangan sekumpulan dinosaurus untuk mencari jati diri dan makna persahabatan. Sebenernya agak ironis kalo dipake saat training team building karena acara trainingnya mengajarkan bahwa nggak ada yang nggak mungkin selama kita mampu bekerja sama, sedangkan lagunya adalah pengiring film yang membuktikan bahwa no matter how tight you hold on together, when it’s time to extict you extict. End of the story.

6 To Be Number One – Giorgio Moroder Project

Sebagai lagu tema ajang FIFA World Cup 1990, lagu ini cukup sukses nempel di kuping orang maupun kuping para trainer. Sayangnya kemudian para abang-abang CD di Kota mulai sering memutar versi techno-dut-nya sehingga membuat sebagian penggemarnya menjadi ilfil. Pamornya semakin merosot saat para mas-mas penjual getuk lindri ikut-ikutan memfavoritkan lagu ini sebagai pengiring dagangan.

5 Wind Beneath My Wings – Bette Midler

Lagu ke dua yang berstatus original sound track film dalam daftar ini. Biasanya efeknya lumayan mengena kalo disertai pengantar yang kurang lebih berbunyi “sudahkah Anda berterima kasih pada banyak orang yang telah membantu kesuksesan Anda selama ini”, membuat para pesertanya bercucuran air mata saking merasa bersalah teringat selama ini mereka kalo nitip beliin gado-gado kepada para OB suka pelit ngasih tip.

4 You Raise Me Up – Josh Groban

Banyak peserta training terharu-biru mendengar lagu ini, tapi sedikit yang cukup kritis untuk curiga bahwa sebenernya lagu ini adalah ungkapan para anggota top management terhadap para kroconya, khususnya pada bait “I am strong, when I am on your shoulders”… Yah yang duduk di atas sih enak, yang harus gendong dari bawah kan pegel (dan kebanyakan dibayar jauh lebih murah, tentunya).

3 The Power of the Dreams – Celine Dion

Kayaknya lagu-lagu Olimpiade memang ideal untuk lagu penutup training. Kurang apa, coba: aransemennya udah pasti megah, vokal penyanyinya pasti dipilih yang bertenaga (bayangin apa jadinya kalo lagu olimpade dibawain sama group Bening). Yang ini adalah lagu temanya Olimpade 1996 di Atlanta. Lirik lagu ini cocok untuk membangkitkan semangat para peserta training untuk berani bermimpi besar, terlepas dari fakta bahwa untuk kebanyakan karyawan kroco minta naik gaji 10% aja udah bikin boss ketawa sampe nangis saking dikira bercanda.

2. We Are The Champion – Queen

Ibarat perkakas, lagu ini mungkin bisa diibaratkan dengan linggis saking serba gunanya. Mulai dari pertandingan tinju, balap karung sampe pertandingan voli antar RW, semua merasa sah-sah aja untuk memutar lagu ini. Termasuk untuk mengiringi pemberian hadiah bagi kelompok yang memenangkan permainan dalam team building training (yang mana hadiahnya biasanya cuma coklat atau minuman kaleng – karena praktis untuk dibagi rata ke semua anggota kelompok. Kalopun alat elektronik, paling banter setrika atau mp3 player made in taiwan).

1. Karena Cinta – Joy Tobing / Koko Delon

Ini dia yang lagi superhit di ajang per-team building training-an. Saking seringnya lagu ini dipake, sampe-sampe gue simpen satu file MP3-nya di flashdisk. Gunanya adalah apabila gue tiba-tiba harus menghadiri sebuah acara training dan mulai melihat gelagat kepanikan di wajah panitia, gue bisa mendekati mereka dan menawarkan jasa baik, “Kenapa panik, file lagu ‘Karena Cinta’-nya ketinggalan ya? Ini gue ada, copy aja kalo mau.”

Biasanya tawaran seperti itu akan disambut dengan terima kasih setinggi langit tak lupa disertai doa agar gue panjang umur dan murah rejeki.

Gambar gue pinjem dari sini.

%d blogger menyukai ini: