My Wonder Woman


Persis seperti Wonder Woman, dia juga seorang putri.

Ibu lahir tahun 1933, artinya dia melewati masa penjajahan Jepang, Perang Kemerdekaan, dan Pendudukan Belanda. Tapi karena ibunya (Nenek gue) seorang Pengawas Sekolah, sebuah profesi yang sangat bergengsi di masa itu, plus bapaknya (Kakek gue) orang dekat seorang pemimpin pergerakan nasional, keluarga kecil mereka relatif aman dari jangkauan tangan-tangan jahanam Jepang dan Belanda. Tentunya hidup di tengah perang kemerdekaan nggak bisa sepenuhnya dibilang “nyaman”, tapi sebagai anak tunggal dari latar belakang keluarga seperti itu, Ibu nggak pernah merasakan kekurangan.

Lalu dia tumbuh besar, dan menemukan Sang Pangeran yang tahu persis bagaimana memperlakukan seorang putri.

(lebih…)

Iklan

ulang tahun yang nggak perlu dirayain


Mei 2006, Ibu gue yang lagi nginep di rumah kakak gue di Makassar tiba-tiba sakit keras. Ibu panas tinggi sampa kesadarannya menurun jauh. Berdasarkan pemeriksaan, tim dokter memutuskan ibu harus dioperasi karena mengalami infeksi parah di lututnya. Tanggal 11 Mei 2006, ibu menjalani operasi tersebut. Hasilnya, infeksi berhasil dipadamkan, tapi akibatnya ibu nggak bisa jalan dan harus berkursi roda.

Bulan Juni ibu diboyong pulang ke Jakarta, dan di rumah berangsur-angsur sembuh. Tapi, ibu yang dulunya seneng jalan-jalan window shopping di mall sekarang jadi males keluar rumah. Jangankan ke mall, cari angin di teras aja ibu memilih waktu – waktu sepi, dini hari atau tengah malam sekalian. Alasannya, biar nggak dilihat tetangga. Malu, karena pakai kursi roda.

Waktu itu gue bilang, “Kenapa malu? Ibu-ibu lain mungkin banyak yang masih bisa jalan, tapi sama siapa? Paling ditemenin suster, atau sesama ibu-ibu tua lainnya. Sedangkan ibu, walaupun pakai kursi roda, tapi yang dorong dari belakang kan anak-anaknya sendiri, menantunya, cucunya. Bukan suster, bukan orang lain. Mungkin malah mereka iri sama ibu!

Perlahan-lahan semangat ibu bangkit. Sekarang udah mulai nagih kalo seminggu nggak diajak mampir ke mal, dan udah bisa melakukan banyak hal sendiri – termasuk naik dan turun tangga. Hari ini, 11 Mei 2009, adalah ulang tahun ke tiga dari sebuah peristiwa yang nggak ingin kami rayakan.Tapi kami bersyukur punya Ibu yang semangat pantang menyerahnya membuat kami bangga.

Serial posting gue tentang sakitnya Ibu di Makassar bisa dibaca mulai dari sini, dan di sini.

terungkapnya sebuah misteri kematian setelah 50 tahun


Menjelang rencana renovasi rumah, salah satu wacana yang mengemuka di keluarga gue adalah soal perlu – enggaknya menutup sumur tua di belakang.

“Dulu memang sudah ada rencana menutup sumur itu, soalnya sempet makan korban lho…” kata Ibu.
“Hah, siapa?” tanya gue.

(lebih…)

hikmah musibah di hari raya


Sejak bertahun-tahun yang lalu, ibu gue punya kebiasaan membeli stok minuman ringan untuk suguhan tamu Lebaran jauh sebelum hari H. Tinggal telepon ke agen, nanti mereka antar ke rumah.

Tahun ini, Ibu berencana melakukan hal yang sama – seandainya nggak dihalangi oleh si menantu sok tau yang mengeluarkan hak veto.
“Jangan Bu…! Kalo ibu beli sekarang, nanti minumannya dihabisin Agung sebelum Lebaran. Tau sendiri dia kalo udah ketemu coca-cola suka lupa diri!”
“Oh iya ya…” maka ibu dengan mudahnya terbujuk hasutan si menantu dan membatalkan niat pesen minuman.

Tadi siang, H minus satu, mendadak ibu memanggil gue dengan nada panik.
“Ya ampuuun Aguuunggg… besok Lebaran, padahal ibu belum pesen minuman!!”

Agen minuman langganan dihubungi, tapi…”Maaf, hari ini kami nggak bisa antar, soalnya pegawai kami udah pada mudik semua. Kalo mau ambil aja ke sini…

Maka bisa ditebak buntutnya gue lagi yang ketempuhan, di tengah panas terik matahari Jakarta harus berangkat ke agen minuman beli 2 krat teh botol dan 1 krat coca-cola literan. Untung dapet pinjeman mobil dari kakak gue yang lagi berkunjung.

Waktu berangkat beli sih nggak terlalu masalah ya, tinggal masukin krat dan botol kosong yang nggak terlalu berat ke mobil, dan sesampainya di agen bisa minta tolong penjualnya masukin minuman2 itu ke mobil.

Yang jadi masalah adalah proses nuruninnya dari mobil ke dalam rumah. Coba aja itung: seandainya botol2 itu berisi air murni dengan berat jenis = 1, maka 1 krat coca-cola isi 12 botol @ 1 liter = 12 kilogram. Tapi ini kan coca-cola, dengan segala larutan dan endapannya, yang gue yakin berbobot jauh di atas itu. Belum lagi 2 krat teh botol @ 24 botol @ 220ml, yang kalo berat jenisnya sama dengan 1 setara dengan 10.56 kilogram. Masih ditambah lagi dengan berat krat dan botolnya sekalian. Ih, bisa encok gue ngangkatnya.

Begitu sampe depan rumah mikir sebentar gimana caranya ngangkut benda-benda ini ke belakang… dan… YES! Dapet ide!

Segala musibah itu ada hikmahnya, termasuk musibah Ibu sakit sehingga harus menggunakan kursi roda. Tinggal copot dudukan busanya, maka benda itu bisa jadi solusi transportasi yang praktis…

Maka proses penurunan minuman dari mobil berjalan dengan aman dan nyaman, bebas encok.

Selamat lebaran semuanya!

Di rumah, ibu seperti wolverine!


Keputusan untuk memulangkan ibu dari rumah sakit di awal Juni lalu sebenernya sangat dilematis. Di satu sisi, kondisi ibu masih jauh dari sembuh dan di Makassar ibu ditangani tim dokter yang kinerjanya sangat memuaskan. Seharusnya ibu masih terus dirawat di sana. Tapi di sisi lain, ibu nampak stress ingin segera pulang ke Jakarta. Kalau sedang demam tinggi, kadang ibu mengingau ngomong sama kursi kosong seolah-olah salah satu anaknya dari Jakarta duduk di situ. Dari hari ke hari kondisi ibu fluktuatif. Kalo hari ini nampak membaik, bisa ngobrol dan ketawa-ketawa, besokannya bisa tiba2 panas tinggi hingga lewat dari 39oC dan mengigau.

Akhirnya, tanggal 9 Juni kami mengambil keputusan berat itu: memulangkan ibu ke Jakarta. Sebuah perjalanan yang sangat sulit mengingat masih ada bekas operasi yang belum mengering di tangan kanan dan kaki kiri ibu. Tangan dan kaki yang sakit itu bengkak parah Jangankan digerakkan, kesenggol bantal aja ibu bisa berteriak-teriak kesakitan. Bayangin effort yang harus dikeluarkan untuk mengangkut ibu dari RS ke airport, memapah naik ke pesawat, menurunkannya lagi, menaikkan ke mobil dan menurunkan dari mobil sesampainya di rumah di Jakarta.

Waktu ibu sampai di Jakarta, kami anak-anaknya sempet berunding mempertimbangkan perlu atau enggaknya menyewa tenaga perawat profesional untuk merawat ibu di rumah. Kalau ditimbang dari segi kebutuhan, kehadiran seorang perawat jelas sangat perlu karena nggak ada seorangpun di antara kami yang berpengalaman merawat pasien dalam kondisi sulit bergerak seperti ibu. Tapi kami juga mempertimbangkan faktor psikologis ibu yang sebagaimana umumnya orang tua udah nggak mudah lagi beradaptasi dengan kehadiran orang baru. Gimana kalo ternyata perawat yang kami hire kurang berkenan di hati ibu? Atau, gimana kalau ibu malah merasa anak2nya udah nggak sudi lagi merawatnya sehingga menyerahkannya ke tangan suster? Bisa-bisa malah bikin ibu tambah stress! Akhirnya dengan mengucap bismillah, kami memutuskan untuk mencoba merawat ibu sendiri.

Kami langsung saling membagi tugas. Kakak gue yang nomer dua bertugas menyiapkan sarapan dan memandikan ibu, bergantian dengan kakak gue yang nomer satu. Ida juga membantu, memasak dan menyiapkan makanan buat ibu. Siang hari, keponakan2 gue yang baru pulang sekolah berkumpul di kamar ibu, tidur-tiduran sambil ngoceh cerita pengalaman mereka hari itu. Malem, giliran gue dan Ida atau kakak gue yang nomer dua tidur di kamar ibu. Praktis 24 jam sehari ibu dikelilingi anak dan cucu.

Bagaimana dengan gue?

Gue, dapet tugas mengganti perban ibu dua kali sehari, cek gula darah, menyuntik insulin, plus urusan angkat-mengangkat ibu rute tempat tidur – kursi roda P.P. Awalnya, urusan ganti perban cukup stressful juga buat gue karena sumpah deh, luka bekas operasi ibu khususnya yang di tangan tuh ngeri banget. Diameternya lebih dari 1 cm gitu, dan tiap kali perban dibuka ada darah segar mengucur. Kakak2 gue plus Ida pada takut darah, khususnya kakak gue yang nomer dua: dia kayaknya udah masuk kategori ‘phobia‘ karena tiap kali liat darah dia menunjukkan gejala2 mau pingsan. Jadi nggak ada pilihan lain kecuali gue – yang mana juga nggak terlalu tega juga sih liat darah, tapi masih mendingan lah ketimbang mereka. Minimal gue pernah belajar tentang phobia dan panic attack jadi bisa mengindoktrinasi diri sendiri supaya nggak panik saat liat darah kayak air ngucur dari keran gitu.

Walaupun sekilas kelihatan sepele, tapi proses merawat orang sakit bener2 bukan hal yang gampang bagi sekumpulan orang yang nggak berpengalaman seperti kami. Proses mengantar ibu ke dokter untuk pertama kalinya, misalnya, berjalan sangat heboh dan sulit. Waktu mau memindahkan ibu dari kursi roda ke mobil, gue yang kebagian tugas mengangkat ibu jadi serba salah karena pintu mobil membentuk sudut sempit yang sulit dimasuki oleh kursi roda. Hasilnya, pulang dari dokter pinggang gue keseleo dan kami jadi berkhayal, “coba punya mobil Toyota Alphard ya… kan enak, pintunya geser…”

Tapi hari demi hari, proses berjalan semakin mudah. Dari terapis yang datang untuk memberikan fisioterapi, kami belajar gimana cara mengangkat dan memindahkan ibu secara lebih cepat, aman dan nyaman. Gue mulai mendapati kegiatan ganti-mengganti perban sebagai kegiatan yang seru. Kayak main dokter2an, gitu. Gue pake masker kayak yang dipake dokter kalo mau operasi, pake sarung tangan karet yang steril, dengan dalih supaya luka ibu nggak kemasukan kuman – padahal diem2 ada faktor “supaya pengalaman dokter2annya lebih real” aja sih…. hehehe…

Mungkin karena faktor psikologis berada di rumah dan dikelilingi orang-orang yang dekat dengannya, perbaikan kondisi ibu berjalan melebihi ekspektasi kami. Misalnya luka bekas operasi itu. Dokter di Makassar memperkirakan, dengan pertumbuhan kulit baru sekian milimeter per hari, luka sebesar itu baru akan menutup dalam 2 bulan. Nyatanya, baru dua minggu ibu di rumah, gue sebagai tukang ganti perban mulai kesulitan memasukkan gulungan perban ke luka ibu karena ukuran luka yang semakin mengecil. Di akhir bulan Juni kemarin, alias baru 3 minggu sejak kepulangan ibu, gue takjub mendapati luka ibu udah sepenuhnya menutup!

Suhu ibu juga berangsur-angsur normal. Sebisa mungkin gue menekan penggunaan obat penurun panas, jadi begitu suhu ibu udah melewati 37,5oC ibu gue kasih 4 butir VCO kapsul. Tadinya ibu protes karena merasa lebih yakin pada obat ketimbang VCO, tapi gue bilang, “Ya udah, coba dulu minum VCO, kalo dalam 1 jam panasnya nggak turun baru minum obat deh…” Entah memang karena khasiat VCO atau karena sugesti ngeliat gue yang ngomong dengan stil yakin banget, biasanya cukup dengan minum VCO panas ibu merosot ke level di bawah 37,5oC. 

Di bawah pengawasan mas fisioterapis, ibu juga terus berlatih menggerakkan tangan dan kaki. Setiap malem ibu gue tanya, “Udah bisa apa hari ini?” Kemajuan-kemajuan kecil seperti gerakan mengangkat tangan secara horisontal atau memegang kue sendiri jadi momen istimewa. Gue menyemangati ibu dengan cara membandingkan kemajuan yang berhasil dicapai dengan kondisi sebelumnya, seperti “Inget nggak, waktu baru sampe Jakarta, cuma kesenggol bantal aja udah sakit, sekarang bisa megang gelas sendiri. Hebat, kan? Ayo latihan terus bu.” Selain itu, foto2 ibu selama di RS di Makassar gue tayangin ke tivi dan gue komentarin, “Liat tuh bu, dulu ibu kayak gitu kondisinya… hiiy ngeri banget…. coba liat sekarang, jauh banget kan kemajuannya?” Kadang kalo lagi timbul putus asanya, ibu suka bilang, “Nanti kalo anakmu lahir, apa aku bisa ya nengok ke rumah sakit pake kursi roda?” yang gue jawab dengan “Lah, ngapain pake kursi roda, bulan November ibu kan udah bisa jalan!”

Rupanya cara motivasi seperti ini lebih berkenan buat ibu, sampe ibu pernah bilang “Orang sedunia* pada ngoprak-oprak (ngejar-ngejar) aku, suruh cepet sembuh, cepet bisa jalan, cuma Agung yang memberi semangat.” Diam2 ternyata ibu bete kalo ada orang yang mencoba menyemangati dengan mengatakan hal-hal seperti “Ayo bu, cepet sembuh, biar kita bisa cepet jalan-jalan lagi” atau “Cepet sembuh dong bu, kan bosen di tempat tidur terus?” karena buat ibu terasa seperti pressure, seperti target yang harus cepet diraih. “Emangnya siapa sih yang nggak mau cepet bisa jalan, tapi apa lu nggak tau, gue udah berusaha tapi kondisi gue masih seperti ini” mungkin begitu yang ada di benak ibu. Jadi pelajaran yang bisa gue tarik saat menangani orang sakit adalah,

Hargai kemajuan sekecil apapun yang udah berhasil dicapai, dan jangan membebani pikiran pasien dengan target muluk yang nggak usah diomongin juga semua orang sakit ingin mencapainya.

 

Hari ini, ibu kembali membuat milestone karena berhasil jalan mengelilingi meja makan. Memang masih dengan dipengangin oleh mas fisioterapis dan sebelah tangan masih berpegangan ke meja, tapi ini sebuah lompatan besar untuk sebuah kondisi yang menurut dokter di Makassar “lukanya aja baru akan kering setelah 2 bulan”.

Saat didudukkan kembali ke kursi roda, ibu menengok ke sepasang sandalnya yang teronggok di sudut ruangan dan bilang ke Lis, asistennya urusan sapu menyapu, “Lis, tolong sandalku itu dibersihin ya, kali-kali aku sebentar lagi butuh untuk jalan…”

Ternyata, dirawat di rumah bikin ibu seperti Wolverine** 🙂

*ya, ibu juga suka hiperbola seperti anaknya.
**tokoh komik yang memiliki ‘healing factor’ sehingga kalau cedera bisa langsung sembuh. Gambar Wolverine (kiri) lagi lawan Sabretooth(kanan) di atas adalah karya Jim Lee, gue ambil dari sini.

Misteri suara tangisan di baby monitor


Problem kecil yang cukup mengganggu sejak kepulangan ibu adalah masalah komunikasi. Kamar ibu ternyata cukup kedap suara sehingga kalo ibu memanggil dari dalam kamar, sering nggak kedengeran dari bagian rumah yang lain – sekalipun dari ruang makan yang posisinya bersebelahan. Tadinya sempet kepikir mau pasang bel atau interkom untuk memudahkan kalo mau memanggil kami, tapi pikir-pikir percuma juga mengingat tangan ibu masih sangat kaku. Bel dan interkom kan dioperasikan dengan cara dipencet?

Akhirnya gue dapet ide: pake baby monitor aja!

Sejujurnya sih gue baru pernah liat benda ini di film-film hollywod; yaitu sepasang radio satu arah – yang satu hanya berfungsi memancarkan sinyal, sementara pasangannya hanya berfungsi menerima sinyal. Mirip walkie talkie tapi nggak bisa dipake buat ngobrol. Tentu aja benda ini nggak dibuat bisa komunikasi dua arah karena gunanya adalah memonitor keadaan bayi di kamar. Kalo bayinya nangis, alat pemancar otomatis nyala dan mengirimkan suara tangisan tersebut ke alat penerima yang berada di tangan sang pengasuh. Tujuannya tentu aja agar sang pengasuh bisa segera datang membantu si bayi – bukannya untuk ngajak ngobrol – makanya baby monitor hanya bisa dipake 1 arah.

Berhubung seumur-umur gue belum pernah liat benda ini dalam bentuk nyata, maka rada bingung juga mau nyari ke mana. Tadinya gue sempet kepikir nyari di toko2 yang jual pesawat telepon stasioner, tapi ternyata para penjualnya bahkan belum pernah mendengar benda bernama “baby monitor”. Akhirnya gue nemu satu biji di toko Go-Lo Pasar Baru, tinggal satu-satunya dan dusnya udah berwarna sangat belel. Tapi berhubung nggak ada pilihan lain ya udah gue beli aja. Sebuah keputusan yang tepat karena belakangan Ida jalan-jalan ke toko bayi dan nemu baby monitor keluaran produsen perlengkapan bayi ternama seharga minimal 3 (yak betul, TIGAAA…) kali lipat harga baby monitor di toko Go-Lo. Bahkan ada juga yang harganya 5 kali lipat!!

Anyway, benda ini berfungsi secara memuaskan di rumah. Kami bisa meninggalkan ibu tidur sendirian di kamar dengan tenang karena kalo sewaktu-waktu ibu bangun bisa kedengeran. Alat ini cukup sensitif juga, suara pelan seperti langkah kaki atau gerakan bantal digeser udah cukup untuk mengaktifkannya.

Peristiwa “misterius” terjadi hari ini, di hari ke empat alat ini beroperasi di rumah.

Pagi-pagi, ibu sedang tidur nyenyak sendirian di kamar. Lis, asisten ibu urusan sapu-menyapu, lagi cuci piring di dapur. Tiba-tiba terdengar distorsi dari baby monitor yang disusul dengan… suara ibu sedang menangis tersedu-sedu! Kontan Lis langsung terbirit-birit masuk ke kamar ibu, dan menemukan ibu masih tidur seperti tadi.

Lis agak “bingung”, tapi berhubung orangnya nggak banyak ngomong, dia kembali kerja seperti biasa.

Rada siangan dikit, hadir dua orang kakak gue, Mbak Heni dan Mbak Doti. Sama seperti Lis tadi, mereka meninggalkan ibu sedang tidur di kamar. Mereka berdua ngobrol di depan tivi di belakang, ketika si baby monitor kembali membuat ulah. Benda itu mengeluarkan bunyi-bunyian pendek seperti yang biasa terjadi bila mendapat stimulus ringan (misalnya suara langkah kaki atau laci dibuka) habis itu terdengar suara ibu sedang ngobrol sambil tertawa-tawa dengan kakak gue yang bernama Mbak Wati. Suara seorang ibu ngobrol dengan anaknya, sebenarnya bukan hal yang aneh. Masalahnya, kakak gue yang bernama Mbak Wati itu saat ini sedang berada di Makassar!!! Mbak Heni dan Mbak Doti langsung terloncat dari tempat duduk untuk mendatangi ibu di kamar dan yah… bisa ditebak… ibunya sedang tidur pulas!!

Ketakutan, mereka mematikan kedua unit baby monitor sampe gue pulang. Tapi setelah gue ada di rumah, gue coba nyalain lagi benda itu dan nggak ada masalah sama sekali. Berfungsi normal seperti biasa.

Jadi, suara apa – atau siapa – yang tadi terdengar dari baby monitor itu?

Mbak Doti langsung memvonis, “Ini pasti ingon-ingon (peliharaan-bhs. Jawa) -nya Agung…” FYI, beberapa tahun yang lalu memang sempet terjadi sejumlah peristiwa ‘misterius’ di rumah gue yang udah tua ini, dan beberapa di antaranya didahului oleh celetukan iseng gue yang kebetulan menjadi kenyataan. Semua celetukan gue murni asal ngoceh doang, dan gue nggak pernah merasa punya “peliharaan” dalam bentuk yang nggak kasat mata, tapi sejak itu kakak2 gue selalu menimpakan tanggung jawab atas kejadian-kejadian aneh itu sebagai ulah “peliharaan” gue.

Hmm… ada apa sebenarnya di rumah ini ya?

Makassar trip hari 3&4 (habis): malpraktek dan Mal Panakkukang


Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini

Sabtu 13 Mei 2006

Hari ini kakak gue yang paling tua dateng, dengan demikian Ibu dikerumuni oleh 4 anak, 3 menantu, dan 4 cucu. Kondisi ibu udah makin membaik, minimal udah nggak demam lagi dan udah mau makan. Berdasarkan penjelasan dokter, kemungkinan parahnya kondisi ibu antara lain disebabkan oleh pengobatan yang selama ini dijalani di Jakarta.

Seperti udah gue ceritain di bagian pertama, Ibu punya dokter langganan yang rutin ngobatin ibu dengan sebuah suntikan ‘mujarab’. Efek suntikan ini rata-rata cuma bertahan sebulan, makanya Ibu harus ke dokter itu sebulan sekali.

Denger deskripsi tentang dokter langganan ibu ini, dokter-dokter di Makassar menduga bahwa suntikan “mujarab” itu sebenarnya adalah steroid! Ciri-cirinya ya begitu itu, badan yang sakit-sakit bisa langsung segar bugar kaya disulap. Konon di kalangan kedokteran, steroid disebut sebagai ‘obat dewa’ karena keampuhannya ‘mengobati’ berbagai penyakit. ‘Mengobati’ dalam tanda kutip karena efek steroid ini ‘semu’, sekedar memberi rasa nyaman tanpa menyembuhkan sumber penyakitnya. Akibatnya, penyakit di persendian Ibu semakin lama jadi semakin parah.

Dokter-dokter di Makassar juga bilang, steroid punya efek samping mengurangi kemampuan tubuh mengendalikan kadar gula darah. Orang sehat aja bisa naik kadar gula darahnya kalo terus-terusan disuntikin steroid; apalagi pengidap diabetes seperti Ibu. Suntikan steroid biasanya hanya diberikan sebagai alternatif terakhir, kalau udah terpaksa sekali, itupun dengan frekuensi yang sangat jarang – bukannya rutin sebulan sekali seperti yang diberikan dokter di Jakarta. Seandainya dokter itu waras dan menjalankan kode etik kedokteran secara baik dan benar, seharusnya sebagai dokter umum dia merujuk Ibu pada dokter ahli urusan syaraf dan tulang – bukannya main suntik steroid padahal dia tahu betul Ibu mengidap diabetes.

Dugaan bahwa suntikan dari dokter langganan Ibu adalah steroid makin menguat saat dokter di Makassar juga menjelaskan bahwa terapi steroid sangat populer di kalangan penderita alergi dan asma – matched dengan fakta bahwa 80% pasiennya adalah penderita asma. Memang kalo diinget-inget, tu dokter emang rada meragukan sih kompetensinya. Sekali waktu gue pernah demam tinggi, berobat ke dokter kesayangan Ibu itu dan divonis “masuk angin” lantas dikasih resep antibiotik aneh-aneh seharga ratusan ribu rupiah. Seminggu gue makan tu obat-obatan tanpa ada perbaikan, akhirnya gue pindah dokter dan ketahuan bahwa sebenernya gue sakit thypus! Padahal selama seminggu itu gue udah makan segala macem, termasuk yang asem-asem dan pedes-pedes. Untung nggak ‘lewat’. Trus pernah juga di kesempatan lain, dengan positive thinking bahwa doctors are human and it’s human to make mistake, gue panas tinggi lagi dan kembali berobat pada dokter bego itu. Lagi-lagi diagnosanya “masuk angin”, dikasih obat mahal-mahal, seminggu nggak beres, pindah dokter dan ketahuan bahwa gue sebenernya kena demam berdarah!

Sekarang gue lagi pikir-pikir gimana caranya memperkarakan dokter langganan Ibu itu. Mungkin di negara kacau ini ujungnya nggak akan sampe pada pencabutan ijin praktek si dokter (mengingat di daerah-daerah terpencil seorang lulusan SMP bisa sukses praktek jadi dokter bertahun-tahun sebelum akhirnya ketahuan). Tapi kalo gue berhasil mengumpulkan bukti kuat bahwa dia memang melakukan malpraktek, sebuah publikasi virtual mungkin cukup ampuh untuk menurunkan jumlah pasiennya secara signifikan – dan buat si dokter itu sama parahnya dengan kehilangan ijin praktek.

We’ll see.

Karena yang jagain Ibu udah makin banyak, malemnya gue dan Ida jalan-jalan sekalian belanja keperluan Ibu. Lagi-lagi kami diantar Pak Aswadi. tujuan: mall.

Kami menuju ke mal yang konon terbesar di Makassar. Kalo orang Jawa tergila-gila pada huruf O sehingga kalo punya anak dikasih nama agung nugrOhO, punya kota dikasih nama sOlO, punya jalanan dikasih nama MaliObOrO, dan kalo bingung nanya ‘OnO OpO thO‘, maka orang Makassar tergila-gila pada NG. Orang-orang dipanggil daeNG, jalanan dan daerahnya dikasih judul LatimojoNG, MamajaNG, dan BawakaraeNG, kalo lapar minta makaNG, makanannya disebut Nyuk-NyaNG (bakso), dan kalo punya Mal tentu aja dikasih nama PanakkukaNG.

Mal Panakkukang ini secara menakjubkan mirip sekali dengan Mal Kelapa Gading. Mulai dari suasana jalanan yang menuju ke sana – lengkap dengan Karaoke NAV, sampe supermarket di dalamnya yang bermerk Diamond dan posisinya berdekatan dengan foodcourt. Persis banget deh!

Karena males makan berjejal-jejal sambil dikerumuni asep rokok, kami makan di sebuah resto bernama Indigo. Penampilannya mirip-mirip resto Platinum, yang waktu itu dipilih jadi tempat kopdar MPers waktu bagi-bagi kalender. Ida pesen rawon, yang waktu nongol ternyata baunya mirip coto sehingga Ida memutuskan pesen kangkung cah sapi.

Selesai makan, seperti biasa gue motret-motret keadaan sekitar termasuk motretin toko J.CO donuts yang baru buka di sana. Eh, tau2 gue didatengin sama dua orang berseragam J.CO.

“Maaf Pak, bapak dari mana ya?”
“…? Dari Jakarta. Kenapa emangnya?”
“Begini Pak, peraturan di toko ini dilarang memotret Pak.”

Whaaaat…? Gue bahkan nggak masuk ke area tokonya. Orang gue lagi berdiri di tengah-tengah mal, kan terserah gue mau motret ke mana? Sejak kapan ada larangan motret di mal? Tapi… baiklah. Kedua petugas J.CO telah meminta gue untuk tidak memotret tokonya. Fine. Mari kita hormati permintaan mereka.

Ooops… lho kok malah nongol di sini sih fotonya? Aduh, maaf lho mas-mas J.CO, ini pasti kesalahan teknis deh. Orang dilarang motret kok malah diposting di internet sih… maaf, maaf lho…. sengaja!

Ealaaaa… ini kok malah mucul satu lagi, gimana sih… aduh, ck. Emang repot deh kalo hari gini mau ngelarang2 orang motret, sekalinya dilarang malah nongol di internet. Kacau, kacau! Gini aja deh mas, kalo keberatan silakan tuntut aja lah. Kali aja mas bisa nemu pasal larangan memotret di dalam mal. Monggo lho!

Mengingat malam itu tempat gue di kamar RS telah tergusur oleh kedatangan kakak gue yang tertua, gue nginep di rumah kakak gue yang nomer 3. Tepatnya sih ‘numpang begadang’, karena malam itu gue manfaatk
an dengan ngetik sampe Subuh.

Minggu 14 Mei 2006

Udah lupa bangun jam berapa, pokoknya semua orang udah pada rapi jali siap jalan. Tentunya untuk menghemat waktu gue langsung ikutan cabut tanpa mandi. Di tengah perjalanan menuju RS, rombongan mampir dulu di sebuah resto bernama “Nelayan”. Coba tebak hidangan apakah gerangan yang disajikannya?

Untungnya resto ini punya ayam goreng mentega yang cukup oke, jadi gue rada terhibur dikit lah. Ipar gue akhirnya pesen Kudu-kudu goreng, dan percayalah, tampangnya setelah digoreng jauh lebih ajaib ketimbang waktu masih mentah. Apalagi setelah dicuwil sana sini, bentuknya jadi makin nggak keruan – seperti seonggok onderdil motor yang kusut. Selain Kudu-kudu juga ada hidangan telur Ikan Tuing-tuing. Bentuknya mirip biji delima tapi warnanya coklat dan konon rasanya lembek-lembek amis. Gue, tentu aja males mencicip walaupun hanya sesendok.

Dari resto “Nelayan” rombongan berpisah jalan. Sebagian menuju RS, sementara gue dan Ida mampir beli oleh-oleh wajib dari Makassar: Minyak Tawon.

Toko yang jual Minyak Tawon ini namanya “Sulawesi Art Shop”, dan sesuai dengan namanya, dia jual berbagai cindera mata khas Sulawesi – bukan cuma dari Makassar doang. Ada miniatur rumah Toraja, gantungan kunci berbentuk badik, mutiara, sirup Markisa, kacang disko, serta aneka rupa madu dan minyak gosok dari seluruh penjuru Sulawesi – termasuk minyak lawang, minyak kayu putih, dan minyak telon. Minyak Tawon sendiri punya 2 varian tambahan selain Minyak Tawon versi ‘original’ yang bertutup botol merah, yaitu:

  1. Minyak Tawon tutup putih; harganya 3 kali lipet yang tutup merah karena konon bahan-bahannya lebih murni sehingga lebih ‘mujarab’ dan tentunya lebih panas.
  2. Minyak 608 (udah kaya model Levi’s), yang lebih panas lagi dari Minyak Tawon tutup putih. Baunya sih seperti Minyak Tawon, tapi panasnya seperti minyak lawang.

Selain kedua varian tersebut, juga ada Minyak Tawon versi balsem.

Setelah ngumpul sebentar plus numpang mandi (khusus gue) di RS, kami berangkat ke airport jam 2 waktu setempat. Kali ini pulangnya naik AdamAir, ngaret setengah jam dari jadwal sehingga baru sampe Jakarta sekitar jam 7 malem.

Begitu sampe rumah, langsuuuung buka MP!

=TAMAT=

 

Makassar trip hari 2: demo-demo, kudu-kudu, bebek-bebek


Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini.
Gara-gara sakit, ada kebiasaan Ibu yang berubah. Yang tadinya siang-siang bolong masih doyan aja minum teh anget, sekarang minta AC kamar disetel pol. Minta blower AC maksimal di angka 18o C, yang saat berpadu dengan hawa dingin dari luar gue yakin akan menghasilkan suhu di bawah angka tersebut . Bahkan gue yang bersemboyan “cold is always better than hot” akhirnya nyerah juga. Jaket masih terasa kurang, sehingga gue kerudungan sarung sebelum begadang nungguin ibu. Sekalian gue manfaatin kesempatan itu untuk ngetik sebuah personal project yang udah lama nggak kelar-kelar. Sekali lagi membuktikan, selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Sekitar jam 2-an datang seorang suster untuk ngecek tekanan darah dan suhu. Waktu itu kondisi kamar gelap total, satu-satunya sumber cahaya cuma dari layar laptop. Posisi duduk gue waktu itu pas di depan pintu. Jadi saat buka pintu, suster malang itu disambut pemandangan kamar gelap, ada cahaya remang-remang menerangi seonggok bayangan berkerudung sarung. Logis bila kemudian mbak suster berujar,

“Whuaaa…!”

“Tenang-tenang suster, ini saya, lagi kedinginan…!”

Sementara itu kakak gue sedemikian excited-nya melihat penampilan gue sampe ingin mengabadikannya. “Hihihihi… ya ampuuuun… tampangmu kayak wewe gombel! Mana kamera, mana kamera, sini ta’ foto…!” Dia langsung sibuk mengacak-acak ke sana kemari mencari kamera, dan dengan teriakan penuh kemenangan dia menyomot…. MP3 player gue.

“Eh… tapi… ini bukan kamera ya? Ini apaan sih?” katanya kebingungan sambil membolak-balik benda itu. Memang gitulah kalo orang gaptek sok mau iseng.

Selain karena sibuk ngetik, malam itu gue kurang berselera tidur karena rupanya jalan raya di depan RS adalah tempat favorit untuk para anak GAWL Makassar main tarik-tarikan motor. Nanti kalo udah capek tarik-tarikan, mereka pada nongkrong di pinggir jalan, setel musik kenceng-kenceng kaya tukang getuk lindri, minum-minum, lantas botolnya dibuang ke tengah jalan.

Tapi sekali lagi, setiap kejadian ada hikmahnya. Karena nggak tidur semaleman, gue bisa menyaksikan saat-saat terakhir sebelum bulan terbenam di ufuk barat. Bagus banget, mana kebetulan lagi purnama dan sinarnya membayang di permukaan laut. Gue kira pemandangan kaya gini cuma ada di postcard.

12 Mei 2006

Berdasarkan pemeriksaan hasil ronsen dan serangkaian tes yang udah dijalankan kemarin, tim dokter memutuskan pagi ini ibu akan menjalani operasi ringan untuk mengeluarkan nanah yang terakumulasi di persendiannya. Gue sendiri nggak nungguin operasinya, krn lagi tidur pules sehabis begadang semaleman.

Siangnya, gue dan Pak Aswadi sholat Jum’at di mesjid deket hotel. Rupanya ada yang beda dengan acara sholat Jum’at kali ini. Sebelum pak khatib naik mimbar, pak Camat naik duluan untuk menyampaikan himbauan agar masyarakat nggak bertindak anarkis. Tema ceramah Jum’atnya juga senada. Rupanya, akibat langsung bersarang di kamar RS sejak dateng, gue sampe lupa bahwa penduduk kota ini lagi dihantui kerusuhan. Dalam perjalanan pulang Pak Aswadi sengaja ngambil jalan muter biar gue bisa liat-liat keadaan di daerah pertokoan. Sebagian besar toko tutup, kalopun buka cuma buka separo pintu, biar bisa cepet ditutup lagi kalo ‘ada apa-apa’. Sementara itu, di depan Polwiltabes Makassar segerombolan orang berkaos item lagi demo. Padahal perlu dicatat dan digarisbawahi, saat itu matahari lagi terik-teriknya. Gue sama sekali nggak mudeng apa sebenernya yang mereka tuntut. Pangkal permasalahannya kan karena ada orang membunuh pembantu, itupun pelakunya juga udah ditangkep. Terus mau apa lagi? Apa lagi yang mau didemo? Minta pelakunya disate di tengah lapangan? Atau sekedar caper?

Sampe di RS, istri hamil tau-tau ingin sambel mangga. Tepat di depan RS ada resto padang dan bakso, kalo mau jalan ke sanaan dikit juga ada yang jual ayam goreng, tapi tetep… yang dimaui adalah sambel mangga. Maka lagi-lagi Pak Aswadi bertugas nganter ke sebuah resto seafood bernama Bahari.

Celakanya jalan-jalan ke kota pesisir seperti Makassar adalah: resto-resto andalan di sini sebagian besar jualan seafood, sementara gue nggak doyan ikan. Koleksi ikannya sih lengkap banget, aneka bentuk dan warna ada. Yang warnanya belang-belang kuning seperti ikan hias sampe nggak terlihat seperti makanan juga ada. Tapi yang paling aneh adalah ikan yang disebut ikan Kudu-kudu. Bentuknya sumpah aneh abis, mirip setrika terbalik. Kulitnya item dan keras, di bagian atas bermotif polkadot sementara di bagian samping bermotif segi enam seperti tempurung kura-kura. Penjualnya dengan bangga memamerkan ikan bertampang purba itu dari dalam kotak es, sementara dengan sangat menyesal gue pesen ayam goreng. Konon ikan Kudu-kudu itu hidangan istimewa karena sulit ditangkep, tapi sori nih mas, kita mah doyannya makanan yang lumrah-lumrah aja deh.

Namanya resto seafood, tentu nggak banyak yang bisa diharapkan dari rasa ayam gorengnya. Lembek dan berminyak banget. Tapi kayaknya resto “Bahari” ini cukup terkenal juga di sini, buktinya Pak Walikota juga memilih resto ini sebagai tempat makan siang. Seperti umumnya pejabat daerah, kedatangan Pak Walikota menimbulkan kehebohan di seantero restoran. Beliau dikawal oleh seorang pria yang sangat mengikuti “pakem” banget: berkulit gelap, kumis baplang, pake kaos item bertuliskan judul sebuah kongres politik, dan jangan lupa: seluruh jari tangan penuh dengan cincin batu akik segede-gede belimbing wuluh. Sayangnya dia pake sepatu, jadi gue nggak bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga atau enggak.

Selesai makan, gue dan Ida jalan kaki balik ke RS. Waktu menyusuri pantai Losari, Ida kumat.

“Yang…, kira-kira sore nanti kamu capek nggak ya?”

Sayangnya dia pake sepatu, jadi gue nggak bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga atau enggak.

“Hmm. Kenapa, ingin makan apa lagi?”
“Enggak.. aku ingin main bebek-bebekan…”

Udah ratusan kilometer dari Jakarta, nyeberang laut pula, dan istri ingin main bebek-bebekan yang mana di Taman Mini juga buanyak. Tapi berhubung gue adalah seorang suami yang bertanggung jawab memberikan nafkah lahir dan bathin kepada istri, sore harinya gue dan Ida main bebek-bebekan di pantai Losari. Buat yang tertarik nyoba hal yang sama, gue kasih tau aja nih, nggenjotnya lumayan pegel. Dan airnya agak bau.

Selesai main bebek-bebekan kami pulang ke RS, ketemu Nara keponakan gue, yang dengan ceria berkata, “Oom Aguuung… besok aku juga mau dong main bebek-bebekan! Temenin ya!
“Tuh sana ajak tante Ida aja, dia yang doyan main gituan.”

Akibat main bebek-bebekan, malam itu gue cuma kuat melek sampe jam 2. Capek bo’.

Bersambung ke bagian tiga dan empat (selesai)

Makassar trip hari 1: Mi, Ji, Toh, keluar!


Minggu ini diawali dengan berita kurang menyenangkan dari kakak gue yang tinggal di Makassar: ibu gue masuk RS! Sejak kakak gue pindah ke Makassar, Ibu memang sering mondar-mandir ke sana sebagai variasi kalo lagi bosen di Jakarta. Pas lagi di sana, tau-tau sakit. Masuk RS, lagi. Cukup kaget juga gue dengernya, mengingat selama ini Ibu termasuk manula yang sehat dan nggak bisa diem. Waktu masih di Jakarta, kalo siang-siang iseng nggak ada kerjaan, suka ngajak Lis – asistennya urusan sapu-menyapu – makan gado-gado di Plaza Indonesia. Atau kalo obatnya abis suka pergi sendiri naik taksi ke Pasar Baru. Selain itu ikut pengajian dua kali seminggu di dua tempat yang berbeda.

Memang kadang Ibu suka mengeluh persendiannya sakit dan kaku, tapi dia punya dokter langganan yang punya suntikan manjur. Tiap kali disuntik sama dokter itu, sakitnya hilang. Tapi hanya tahan sekitar sebulan. Makanya Ibu rutin berobat ke dokter itu sebulan sekali.

Denger kabar Ibu sakit, kakak gue yang tinggal di Jakarta langsung berangkat ke Makassar. Ida juga jadi rewel ngajakin segera pergi ke sana.
“Akunya jadi sedih denger Ibu sakit…” kata Ida sambil bercucuran air mata. “Kamu pasti nggak sedih ya?”

Menurut gue, kalo semua orang panik dan sedih saat ada orang sakit, nanti nggak ada yang bisa mikir dengan kepala dingin – urusan malah akan jadi kacau semua. Daripada sedih nggak ada gunanya, mending gue ekstra lembur ngeberesin semua kerjaan kantor biar bisa minta cuti hari Kamis.

Waktu dapet kabar dari kakak gue, pertanyaan pertama gue adalah, “Kapan kondisi Ibu bisa cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?” Senewen gue mikir Ibu sakit di seberang pulau yang mungkin kualitas dokternya masih kurang jelas. Kakak gue jawab belum tau. Pokoknya sekarang Ibu nggak bisa jalan. Boro-boro jalan, kesenggol bantal aja seluruh sendinya sakit-sakit. Selain itu, Ibu juga demam cukup tinggi, sampe 390 C.

Kamis, 11 Mei 2006

Gue dan Ida berangkat ke Makassar naik penerbangan Batavia Air pertama jam 5 pagi. On time, jam 5 teng take-off dan sampe Makassar jam 8 waktu setempat. Langsung dijemput sama Pak Aswadi, supir kantornya ipar gue, dan dibawa ke RS tempat Ibu dirawat. Namanya RS Stella Maris.

Reaksi pertama gue waktu ngeliat bentuknya RS Stella Maris ini adalah: makin nggak sabar ngebawa Ibu pulang ke Jakarta. Gimana enggak, gedungnya gedung tua peninggalan Belanda. Lift cuma dua, itu juga ditempelin pengumuman “khusus untuk pasien dan petugas”. Pantesan waktu demam tinggi Ibu sempet ngeliat ‘makhluk-makhluk ajaib’ berkeliaran di kamarnya. Mungkin para penunggu lama gedung spooky ini kali, pikir gue.

Tapi ternyata belakangan terbukti gue terlalu underestimate RS tua ini. Pelayanan kesehatan di sana OK banget: dokternya ramah dan komunikatif, perawatnya juga helpful banget. Untuk lengkapnya, bisa dibaca di review.

Hari itu Ibu dironsen seluruh persendiannya. Gue ikutan ke kamar ronsen dengan tujuan bantuin para perawat dan petugasnya nggeser-geser badan Ibu supaya pas dengan posisi mesin ronsennya. Di situlah gue semakin menyadari betapa kayanya budaya Indonesia. Nggak usah jauh-jauh mikirin tarian dan nyanyian daerah, yang gue maksud di sini jauh lebih umum dan ‘sehari-hari’, yaitu intonasi.

Korslet komunikasi pertama terjadi waktu petugas ruang ronsen menyambut kedatangan Ibu dengan kalimat mengejutkan: “Ibu ini habis jatuh!”
“Heh? Kapan?” tanya gue kaget. Setahu gue Ibu nggak pake acara jatuh kok.
“Bukan, Ibu ini habis jatuh! Kenapa lututnya bengkak!!”
Gue mikir sebentar. Kayaknya ada yang salah nih. Setelah mikir dulu, baru gue ngeh, bahwa ternyata si mas-mas petugas ronsen itu NANYA, sementara dari intonasi nadanya gue kirain dia NGASIH TAU. Jadi sebenernya dia mau ngomong, “Apakah Ibu ini habis jatuh? Kok lututnya bengkak?” gitu loooh… Huh, dasar guenya yang telmi.

Waktu mau bayar obat di apotek, kakak gue juga mengalami korslet yang sama. Berhubung kakak gue nggak bawa duit tunai di dompetnya, dia nanya apakah di sini bisa pake debit card. Kata petugas apoteknya, “Di sini tidak bisa debit!”
“Kalo credit card bisa nggak?”
“Credit card bisa! Tapi Ibu KELUAR SAJA DULU SANA!”
“Hah, kenapa saya diusir?”
“Sebab kalau pake credit card nanti Ibu ada kena charge 3%, lebih baik Ibu pergi cari ATM saja dulu di luar sana!”
Ternyata maksudnya, “Di sini sih kalo mau pake credit card bisa-bisa aja, tapi kena charge 3%. Kan sayang. Mendingan Ibu ambil cash aja dulu di ATM, ntar balik lagi ke sini.”

Logat dan intonasi ala Makassar ini juga jadi bahan obrolan favorit gue dan kakak-kakak gue dengan para suster.
“Suster, suster, ajarin dong kapan harus pake ‘MI‘, kapan harus pake ‘JI‘,” kata kakak gue. FYI, orang Makassar tuh punya sejumlah kata-kata pelengkap yang sulit dicari terjemahannya, tapi perlu untuk melengkapi kalimat biar ‘afdol’. Jadi fungsinya mirip dengan ‘dong’, ‘deh’, ‘sih’ -nya logat Jakarta. Kalo nggak salah inilah yang namanya ‘partikel’, ya? Contoh penggunaannya antara lah, “Sudah MI!” atau “Sudah JI!”. Tadinya gue kira penggunaan MI dan JI ini dibedakan tergantung jenis kelamin lawan bicara, tapi ternyata enggak juga.

Kalo udah ditanyain gini, paling para suster itu cuma ketawa-ketawa kegelian, mungkin sambil mikir ‘nih tamu-tamu dari Jawa norak bener sih, liat orang Makassar ngomong aja heran’.

“Itu susah ditentukan, Ibu. Ibu harus ada sering-sering bicara dengan orang Makassar, baru nanti lama-lama Ibu bisa sendiri TOH?” ‘Toh’ ini juga salah satu celetukan favorit mereka, dan dengan kampungnya kakak-kakak gue pada kesenengan membeo-beo, “Iya TOH suster?”

Kadang kami coba-coba niru gaya bicara mereka, seperti “Suster, apa ini sudah ada waktunya untuk suster ambil Ibu saya punya tensi, TOH?”
Yang dijawab “Sudahlah Ibu, saya jadi pusing…”

Malam itu gue cuma ngendon di kamar RS. Selain karena tujuan utama dateng ke sini untuk ngejagain Ibu, juga karena hilang selera jalan-jalan ngeliat matahari terik banget.

Bersambung ke bagian kedua

  • Komentar Terbaru

    mbot pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    Josea Agx pada [Menuju Langsing] Kenalan (Lag…
    mbot pada Hidup Mapan Adalah…
    gegelin2 pada Hidup Mapan Adalah…
    Bali trip 2 hari 3:… pada Honeymoon hari 1: tim rusuh MP…
    Bali trip 2 hari 3:… pada Hotel Harris, Kuta Bali
    Bali trip 2 hari 2:… pada Ida dan Misteri Pulau Pen…
    Bali trip 2 hari 2:… pada Hotel Alam Kulkul
    Bali trip 2 hari 2:… pada Bali trip 2 hari 3: Next time…
    Bali trip 2 hari 1:… pada Bali trip 2 hari 2: Denpasar,…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.428 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: