Bagaimana Membuat E-mail CV Selamet dari Tombol Delete


Terakhir kali gue nulis tips untuk ngirim CV adalah tahun 2004, dan pastinya zaman berubah banyak dalam 14 tahun jadi perlu gue update lewat posting ini. Buat yang lagi mau ngelamar kerjaan, coba deh ikutin langkah-langkah berikut biar peluang keterimanya, atau minimal dipanggilnya, lebih besar.

(lebih…)

Iklan

Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

(lebih…)

[sharing HRD] WASPADA! 5 gelagat buruk waktu melamar kerja


Idealnya, sebelum memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan, kita udah punya gambaran detil tentang apa dan bagaimana sikon di perusahaan tersebut. Kaya apa culture-nya, keuangannya sehat apa enggak, jenjang karirnya prospektif atau enggak, dst. Tapi gimana kalo kita ditawari kerja di perusahaan yang sama sekali belum pernah kedengeran ceritanya? Langsung tolak? Ntar dulu. Nggak pernah kedengeran ceritanya bukan berarti jelek lho. Satu-satunya jalan adalah dengan menganalisa proses yang terjadi sewaktu melamar.

Berikut ini beberapa “gejala” yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Nggak selamanya bener, tapi minimal bisa jadi bahan pertimbangan. Kalo cuma satu atau dua gejala yang muncul, yah, mungkin sekedar kebetulan aja. Tapi kalo hampir semua gejala ini terjadi, hmmm… hati-hati aja. Kalo masih punya pilihan, mending ngelamar di tempat lain aja deh!

1. Lo kurang dihargai sebagai manusia.
Kalo cuma si resepsionis yang tampangnya bete waktu menyambut elu, yah mungkin kebetulan dia abis ronda semalem, masih ngantuk. Kalo cuma pak satpam yang rada galak waktu minta elu nitip KTP, yah mungkin dia lagi mikirin anaknya sakit di rumah. Tapi kalo mulai dari tukang parkir, satpam, resepsionis, office boy, sampe tukang gorengan yang mangkal di depan pada kompakan menunjukkan perilaku yang kurang santun – warning – kemungkinan ada yang nggak beres dengan perusahaan ini.

Yang gue maksud dengan perlakuan kurang santun antara lain: nggak mengucapkan salam saat menyambut, nada bicara yang kurang bersahabat, nunggu lama tanpa dikasih minum, sampe perlakuan yang kurang manusiawi seperti diminta mengisi formulir lamaran di tempat orang lalu lalang – sambil jongkok pula. FYI; formulir lamaran yang lo isi sewaktu melamar kerja itu adalah dokumen yang sifatnya pribadi dan rahasia. Seharusnya lo ditempatkan di ruangan yang tertutup dan nyaman – minimal ada meja dan kursi untuk tempat nulis – bukan di ruang resepsionis yang serba terbuka sehingga mas-mas kurir yang kebetulan lewat bisa nyeletuk, “wah rumahnya deketan nih sama rumah saya, kapan-kapan boleh main ya…”

Perusahaan yang sehat dan profesional sadar bahwa citra perusahaan dibangun mulai dari garda depan, dari bagaimana tamu disambut. Kalo untuk urusan remeh gini aja mereka nggak becus menangani, jgn2 untuk urusan yang besar-besar juga morat-marit.

2. Lo dicoba untuk ditempatkan dalam posisi lemah / dependen pada perusahaan
Yang gue maksud antara lain: petugas recruitment yang meminta elu untuk menyerahkan dokumen pendukung (ijazah, transkrip nilai, referensi kerja) yang ASLI, atau “menggantung” status kepegawaian lo di zona limbo antara kontrak dan permanen, penetapan masa percobaan yang kurang jelas, dan sebagainya. Khusus untuk urusan “menahan” dokumen pendukung, asal tau aja ya, sebenernya perusahaan nggak berhak melakukannya. Kecuali kalo elu udah jadi pegawai, terus disekolahin sama perusahaan dan setelah pendidikan selesai ijazah lo ditahan sampe masa ikatan dinas berakhir, itu lain perkara. Sedangkan yang terjadi di sini kan elu capek2 sekolah pake ongkos sendiri, eh begitu lulus ijazahnya disandera. Mengutip kata Mpok Jane dan Sarah, “WHO DO YOU THINK HE ARE??”. Kalo tau-tau kantornya kebakaran, kebanjiran, atau diserbu tikus hingga dokumen penting itu rusak, siapa yang mau tanggung jawab?

Perusahaan yang menerapkan kebijakan konyol macam ini biasanya perusahaan yang udah menghadapi dilema: di satu sisi terlalu pelit / terlalu miskin untuk menaikkan kesejahteraan pegawai, di sisi lain butuh untuk mempertahankan jumlah pegawai yang loyal. Kalo perusahaan yang sehat pastinya akan mencoba membuat pegawainya betah dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka, bukan dengan menyandera dokumen! Dengan kata lain, ini tipe perusahaan yang ngajak susah bareng-bareng. Sama sekali nggak worth it untuk dilamar.

3. Lo diminta mondar-mandir kaya setrikaan
Lazimnya, proses seleksi pegawai dilakukan dalam 3 tahap:

  1. Wawancara dan psikotes awal – biasanya di tahap ini lo ketemu dengan petugas HR di level officer atau konsultan eksternal
  2. Tes kesehatan
  3. Wawancara dengan calon boss (user).

Kadang-kadang, ada 2 atau 3 tahap tambahan di mana elo diminta wawancara dengan bossnya HR, bossnya user, atau dengan big boss – biasanya terjadi di perusahaan kecil. Jadi maksimal elu mondar-mandir untuk keperluan melamar kerja adalah 6 kali. Nah kalo elo ketemu kantor yang meminta lo dateng untuk interview doang, habis itu psikotesnya di hari lain, habis itu di hari lainnya interview lagi dengan orang lain, habis itu “eh iya ada yang lupa ditanyain” dan lantas lo harus dateng lagi minggu depannya untuk wawancara lanjutan, baru abis itu wawancara dengan boss, terus minggu depannya lagi wawancara dengan boss yang lain lagi, baru abis itu tes kesehatan, terus “oh iya ada lagi ding yang kelupaan ditanya” sehingga lo harus wawancara dengan HR lagi… – warning – lo sedang berhadapan dengan perusahaan bingung. Kondisi kayak gini mengindikasikan ada masalah dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Lo diminta dateng berkali-kali dan ketemu dengan orang yang berbeda-beda karena nggak ada satu orang yang punya cukup nyali untuk bertanggung jawab atas keputusan menghire elu. Maksudnya kalo elu ternyata bertingkah setelah dihire jadi pegawai, biar nggak ada satu orang yang jadi kambing hitam, gitu. Makanya wawancaranya jadi tanggung renteng gitu.

Pertanyaannya, lagi-lagi, kalo untuk mengambil keputusan menghire seseorang aja segitu ribetnya, gimana dengan pengambilan keputusan untuk urusan lain yang lebih penting dan genting? Selain itu, kembali pada poin pertama, mereka juga kurang menghargai waktu, biaya dan tenaga yang harus lo keluarkan untuk dateng ke kantor mereka.

4. Lo ditawar pada pertemuan pertama
Wawancara tahap pertama adalah saringan awal untuk memilih calon pegawai yang paling potensial.Kalo baru pada pertemuan pertama concern mereka terpaku pada gaji yang lo ajukan seperti “bisa turun nggak nih?” atau “negotiable nggak nih?” atau yang ngeselin “minta gajinya gede amat mas. bisa turun nggak?” – warning – mereka nggak peduli pada kualitas elo sebagai pegawai. Mereka cuma ingin cari tenaga murah. Tapi berita baiknya, kalo perusahaan yang lo lamar termasuk tipe yang begini, maka ada satu kiat jitu yang PASTI berhasil, yaitu jawab aja dengan “Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2.”

Bukannya ‘haram’ untuk menanyakan apakah gaji yang lo minta itu negotiable pada pertemuan pertama, tapi bedakan antara yang sekedar nanya dengan yang maksa “kurang dikit dong mas!”

5. Lo diajak bersekongkol
Yang ini pengalaman pribadi gue nih. Di salah satu perusahaan sebelum kantor gue yang sekarang, masa HR managernya bilang gini, “Agung, tolong kalau kamu masuk tanggal 1 nanti, bilang sama orang-orang bahwa kamu udah mulai interview dengan saya sejak 2 bulan sebelumnya ya.”

Gue, tentu aja bingung mendengar permintaan aneh ini, mengingat wawancara pertama cuma berjarak 1 bulan dari tanggal masuk gue.
“Nggak papa, sekedar supaya nggak heboh aja karena ada orang baru.”
Sebuah jawaban yang nggak memuaskan, tapi waktu itu gue pikir, ‘ah ini kan cuma soal kecil’.

Ternyata… setelah gue masuk baru ketauan bahwa alur komunikasi si boss dengan para bawahannya sangat parah. Lingkungan kantor dipenuhi desas-desus, termasuk tentang kehadiran gue. Parahnya, si boss sama sekali nggak bernyali untuk menghadapi para karyawan, minimal menjelaskan biar lurus, dan membantah isu yang ngaco. Kalo ada isu negatif ya begitulah yang dia lakukan, berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan yang sayangnya kurang cerdas.

Puncaknya, baru sebulan gue kerja di perusahaan tersebut, si boss yang ngajak sekongkolan tadi mendadak “resign” secara misterius karena baru ketahuan pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan perusahaan harus berurusan dengan pengadilan. Perusahaan yang mengajak lo menutup-nutupi sesuatu mengindikasikan bahwa mereka kesulitan mengelola iklim kerja. Dan seperti yang pernah gue sebut di sini, jangan kira tawaran paket remunerasi yang menarik bisa mengkompensasi iklim kerja yang parah.

[Sharing HRD] Hidup bahagia di dalam kotak


“Waduh Mbot, hari ini aku nggak semangat kerja deh…”
“Kenapa?”
“Udah dua minggu ini nggak ada kerjaan, demotivasi deh rasanya.”

Hampir di semua kantor yang pernah gue singgahi, gue ketemu orang yang curhat seperti ini: bete / kehilangan gairah hidup / kurang pe-de / nggak semangat / loyo / lesu karena di kantor nggak punya kerjaan alias ‘masuk kotak’ .

Mungkin aneh kedengerannya, orang ngantor tapi nggak punya kerjaan, tapi ini terjadi di mana-mana. Penyebabnya macem-macem. Bisa karena si karyawan itu sendiri yang dianggap kurang kompeten oleh atasan, tapi di sisi lain nggak melakukan kesalahan yang cukup ‘fatal’ untuk di-PHK. Bisa juga karena ‘politik’ kantor: ada boss baru, sementara si karyawan udah kadung menyandang ‘cap’ sebagai ‘bawaan’ atau ‘pro’ boss yang lama sehingga harus ‘dinetralisir’. Atau karena karyawannya lalai mengupdate kemampuannya sendiri, sehingga lama kelamaan ‘kesalip’ sama tenaga2 yang lebih muda dan pinter. Atau akibat kesalahan setting organisasi perusahaannya: karyawan di-hire secara permanen untuk mengerjakan sebuah proyek yang sifatnya temporer. Tentu aja setelah proyeknya selesai karyawan ybs jadi nggak punya kerjaan. Tapi ada juga sih organisasi yang sedemikian nggak efisiennya sehingga terus menerus merekrut pegawai baru padahal pegawai yang udah ada aja kerjanya kurang jelas… gue nggak sebut nama organisasinya lho ya, takut nanti ada yang tersinggung.

Dampak psikologis dari ‘pengangguran terselubung’ di kantor ini bisa cukup serius lho. Karyawan yang mengalaminya bisa jadi minder, lantas uring-uringan, sampe mengganggu kehidupannya di luar kantor. Dari pengakuan sebagian orang yang mengalami, mereka merasa kurang berharga, sampah masyarakat, malu sama teman2 di sekitar karena dia cuma bisa bengong sementara yang lain sibuk kerja.

Sementara setiap kali gue mendengar keluhan semacam ini, gue malah mikir, “WOOOW… THAT IS MY DREAM JOB…!”

Lha coba aja bayangin: lo dibayar gaji penuh setiap bulan, hanya untuk duduk2 di kantor, dan disediain perangkat komputer gratis pula! Seandainya gue yang berada dalam posisi seperti itu, ada banyaaak banget hal menyenangkan yang bisa gue kerjain. Journal ini gue tulis sekaligus sebagai reminder terhadap diri gue sendiri, bila suatu hari nanti dapet giliran ‘masuk kotak’. Oh iya, tentunya setelah terlebih dahulu memastikan apa iya gue beneran ‘masuk kotak’, atau sekedar berada dalam posisi untuk kreatif dan proaktif menciptakan pekerjaan sendiri.

Ini list yang bisa gue kerjain dari dalam ‘kotak’:

  1. NGEMPI, tentu aja!! Mungkin bisa 10 posting sehari gue bikin. Ganti template CSS tiap hari.
  2. Belajar aneka program komputer. Mulai dari teknik2 Photoshop baru. Nanti kalo udah jago di photoshop, belajar corel, adobe illustrator, flash, premiere, 3d max, autocad, excel… wah banyak deh. Oh iya, gue juga ingin belajar tentang javascript, dan visual basic. Kayaknya ‘cool’ 🙂
  3. Baca novel yang setebel-tebel bantal. Sekarang aja udah banyak banget buku yang gue beli tapi belum sempet dibaca.
  4. Belajar nggambar wajah orang yang betulan. Selama ini gue hanya bisa nggambar kartun doang. Kalo sok2an nggambar muka orang, pasti orangnya protes krn merasa nggak mirip.
  5. Belajar bahasa baru. Itali, spanyol, mandarin dan jepang udah ada dalam list gue. Belajarnya bisa dari paket buku yang ada kasetnya untuk melatih pelafalan.
  6. Terima bikin terjemahan film, seperti waktu jaman kuliah dulu. Wah, ini pekerjaan yang menyenangkan banget, krn film2 yang gue terjemahin biasanya telenovela. Tau sendiri telenovela paling apa sih dialognya? Nggak jauh2 dari “Aku cinta padamu, Alejandro” “Pergi kau keparat!” “Maukah kau menikah denganku?” – dulu program MS Word gue penuh dengan autocorrect untuk memunculkan kata-kata standar tersebut.
  7. Main The Sims sampe simsnya beranak cucu.
  8. Terima pesanan bikin website. Wah, proyek ginian duitnya kenceng lho! Kerjaannya menyenangkan, lagi. Sekalian terima pesenan desain2 yang lain deh: poster, kartu nama, spanduk…
  9. Ngedesain brosur2 baru untuk jualan VCO.
  10. Belajar origami. Siapa tau nanti bisa bikin 2002 bebek2an untuk membalas 1001 burung dari istri.
  11. Terima pesenan bikin baju pake t-shirt transfer 🙂
  12. Belajar sulap. Gue paling seneng nonton sulap, khususnya close-up trick. Itu ada bukunya dan bisa dipelajari sendiri lho!
  13. Nulis novel, cerpen, naskah. Tuh, tambahan duit masuk lagi deh.
  14. Belajar siul.
  15. Ngarang aneka games baru untuk training atau acara2 keriaan lainnya di mana gue seringkali ditodong untuk mengisi acara.
  16. Terima pesenan edit video. Satu lagi sumber duit masuk. Terima video aneka jenis deh, kerahasiaan dijamin.
  17. Olah raga teratur. Namanya orang nggak ada kerjaan tentu bisa pulang tepat waktu dong? Jadi pulang kantor masih bisa olah raga dengan kondisi yang relatif seger, nggak sambil setengah tidur.
  18. Terima pesenan bikin ilustrasi untuk buku dan majalah. Lagi-lagi bisa nambah penghasilan, dengan cara yang menyenangkan.
  19. Jadi broker jual beli rumah. Cukup bermodalkan rajin2 posting di marketnya MP dan aneka situs jualan di internet, beres.
  20. Kerja ‘ngasong’ bikin laporan wawancara recruitment. Ini sumber obyekan utama anak2 psikologi sejak jaman dahulu kala.

Hidup ini tetap indah kok, sekalipun lo udah masuk ‘kotak’. Mungkin malah jadi tambah indah.

[tahun baru, kantor baru] Sempalan HRD Nyasar


Buat yang baca di WordPress reader, jangan bingung ya. Ini tulisan lama yang gue posting ulang karena error. 

Sejak awal 2005 ini, gue pindah ke kantor baru. Setelah sebelumnya setahun gue jadi HRD-Recruitment di perusahaan perkapalan, sekarang ceritanya gue di bagian communication sebuah bank simpan-pinjam. Yang narik gue ke bank ini temen gue waktu di BPPN dulu, namanya Nanda. Waktu itu dia nggak satu divisi sama gue,kenalnya gara2 sama2 ngurusin tujubelasan. Pesan moralnya, kadang sesuatu yang ngebetein saat dijalani, di belakang hari bisa membuahkan manfaat, hehehe.

Proses perpindahan ini disambut dengan penuh keheranan oleh temen2 gue di shipping.

“Mau pindah ke mana gung?”
“Ke bank”
“Jadi HRD juga?”
“Bukan, jadi communication”
“Ooo…mungkin biar lebih sesuai sama background pendidikan kali ya?”
“Sekolah gue psikologi…”

Sebenernya gue nggak ngira akan pindah kantor secepet ini, belum setahun gue di sana. Tapi
berhubung tawaran kerjaan yang baru nampaknya lebih menarik, ya gue pikir sayang juga kalo gue tolak.

Di kantor yang baru juga terjadi kebingungan mengenai asal-usul gue.
“Tadinya di mana?”
“Shipping”
“Communication juga?”
“HRD. Recruitment, lagi.”

Sejak hari pertama ngantor di tempat baru, gue udah langsung dapet project ini-itu.Bank ini emang lagi berkembang pesat, sebagai bank swasta pertama yang menggarap level micro-banking (layanan bank untuk para pengusaha kecil dengan omzet dibawah 50 jt). Selama ini baru BRI yang bermain di lahan itu.

Nah, karena lagi growing, tentunya segala strategi dipake untuk memotivasi para frontliners menjaring nasabah. Salah satunya adalah dengan program “Rabbit and Turtle”. Para kepala unit(cabang) yang pencapaiannya melebihi 100% digelari Rabbit. Sebaliknya, yang nggak mencapai target, dinamain Turtle. Setiap 3 bulan sekali ada workshop,kepala2 unit dikumpulin, dan di situlah mereka dianugerahi gelar Rabbit atauTurtle. Acara pemberian gelarnya dilakukan secara simbolis dengan menyerahkan boneka Rabbit dan Turtle kepada yang berhak. Dan gue join pada saat yang tepatdan manis sekali, yaitu sebulan sebelum workshop berikutnya.

Bersambung

How to make “recruiter-friendly” job-application e-mail


Description:

Ingredients:
Common sense
Consideration
A little effort

Directions:
1. Follow the instructions from the job-ad

Clear and simple. Kalo disuruh kirim ke alamat email, ga usah kirim pake pos. Kalo disuruh dalam format MS Word, ga usah kecentilan bikin CV pake Excel. Gue bahkan pernah dapet CV yang udah discan jadi JPG, sizenya hampir 1 MB. Inbox gue hampir kiamat waktu tu application masuk, bengong sekitar 5 menitan. Begitu masuk, gue del.

2. Put it all in one file

Ada orang yang kirim lamaran nyicil2 kayak ngambil KPR. Pertama dateng surat lamarannya. Di email berikutnya riwayat pendidikan. Riwayat kerja di email lain. Foto nyusul di mail berikut. Man, kalo lo harus nyortir 300-an e-mail lamaran sehari, lo akan ngerti bahwa ngga ada waktu buat ngurusin yang kaya ginian. Del.

3. Give your scanner some privacy

Ga usah terlalu bersemangat nge-scan ini-itu. Pas foto aja udah cukup. Sertifikat, ijazah, dll itu ngga usah lo insert ke file Word lo. Ntar aja pas dipanggil wawancara, lo tenteng deh tuh dokumen2 dalam map lecek kaya Rano Karno di film 70-an. Spt biasa gue bilang, gue ngga makan sekolah per-IT-an, jd gue ngga tau kenapa alasannya, tapi yg jelas file jpg 40kb yang diinsert ke file MS Word 20kb ngga lantas ukurannya jadi 40+20=60kb, bisa tau2 mekar jadi 200, 300, 400 kb, unpredictable! Dan file gede=penderitaan bagi inbox gue. I love my inbox. You hurt it, you go to another folder. Deleted Item folder. Del.

4. Show me your face

Berkaitan sama poin ke 3 di atas, insert foto lo. Jangan bilang ngga punya kamera digital, bisa pake foto biasa yang lo scan. Jangan bilang ngga punya scanner, banyak warnet yang ada scannernya. Kalo lamaran lo ada fotonya, akan memudahkan bagi recruitment officernya (spt gue ini) untuk mengingat elo, mis; “Oh ini dia pelamar yang pengalaman kerja 3 tahun itu, gue inget kok fotonya”.

5. Use your own e-mail address

Tolong deh, sekarang udah sejibun site yang nawarin e-mail gratis, kok ya-o masih aja ada orang kirim lamaran pake e-mail temen. Akan menyulitkan waktu gue mau nyari lagi email di inbox gue yang isinya ratusan itu elo kalo yang gue inget nama lo Herman tapi lo kirim e-mail pake alamatnya Yanti!! Lagian, kalo bikin alamat email sendiri aja males, gimana nanti kalo kerja?

6. Use reasonable font-size and case

Gue pernah dapet surat lamaran yang font-nya Arial Black, 16pt. Sepanjang resume begitu itu font-nya. Atau lain kali dateng lamaran pake font Kid Scribble, sepintas udah persis kaya brosur pre-school. Emang bener kalo orang bilang yang berbeda akan lebih mudah diingat; tapi diingat untuk di-del kan ga bagus juga. Maksud gue, kecuali elo ngelamar untuk kerjaan2 yang bener2 funky (jadi MC, artis, presenter) penampilan resume yang kaya gitu malah bikin orang meragukan kewarasan lo. Case juga gitu. Pernah denger tip untuk ngga make huruf besar semua saat nulis email krn bisa dianggap sbg TERIAKAN? Ok, the same tip applies to resume.

7. Name your resume accordingly

Kalo enggak ya nggak akan terlalu mengganggu juga, tapi it would be very nice kalo elo mempermudah kerjaan recruitment-officer yang malang seperti gue ini dengan mencantumkan nama lengkap lo sebagai nama file resume lo. 75% CV yang gue terima dikasih nama “CV.doc”, artinya gue kan harus satu2 ngerename file2 itu sesuai nama orangnya. Kalo dari awalnya udah dinamain sesuai nama pengirim, gue kan jadi ga pegel. Kalo gue ngga pegel, mood gue akan lebih baik ketimbang saat gue pegel. Dan kalo mood gue lebih baik, gue akan rela meluangkan sedikit pertimbangan sebelum mencet Del.

Dah segini dulu. Nanti gue lanjutin kalo ada hal baru yang gue inget.

  • Komentar Terbaru

    Feni Febrianti di siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot di My Wonder Woman
    bayutrie di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.575 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: