Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

(lebih…)

[Sharing HRD] Hidup bahagia di dalam kotak


“Waduh Mbot, hari ini aku nggak semangat kerja deh…”
“Kenapa?”
“Udah dua minggu ini nggak ada kerjaan, demotivasi deh rasanya.”

Hampir di semua kantor yang pernah gue singgahi, gue ketemu orang yang curhat seperti ini: bete / kehilangan gairah hidup / kurang pe-de / nggak semangat / loyo / lesu karena di kantor nggak punya kerjaan alias ‘masuk kotak’ .

Mungkin aneh kedengerannya, orang ngantor tapi nggak punya kerjaan, tapi ini terjadi di mana-mana. Penyebabnya macem-macem. Bisa karena si karyawan itu sendiri yang dianggap kurang kompeten oleh atasan, tapi di sisi lain nggak melakukan kesalahan yang cukup ‘fatal’ untuk di-PHK. Bisa juga karena ‘politik’ kantor: ada boss baru, sementara si karyawan udah kadung menyandang ‘cap’ sebagai ‘bawaan’ atau ‘pro’ boss yang lama sehingga harus ‘dinetralisir’. Atau karena karyawannya lalai mengupdate kemampuannya sendiri, sehingga lama kelamaan ‘kesalip’ sama tenaga2 yang lebih muda dan pinter. Atau akibat kesalahan setting organisasi perusahaannya: karyawan di-hire secara permanen untuk mengerjakan sebuah proyek yang sifatnya temporer. Tentu aja setelah proyeknya selesai karyawan ybs jadi nggak punya kerjaan. Tapi ada juga sih organisasi yang sedemikian nggak efisiennya sehingga terus menerus merekrut pegawai baru padahal pegawai yang udah ada aja kerjanya kurang jelas… gue nggak sebut nama organisasinya lho ya, takut nanti ada yang tersinggung.

Dampak psikologis dari ‘pengangguran terselubung’ di kantor ini bisa cukup serius lho. Karyawan yang mengalaminya bisa jadi minder, lantas uring-uringan, sampe mengganggu kehidupannya di luar kantor. Dari pengakuan sebagian orang yang mengalami, mereka merasa kurang berharga, sampah masyarakat, malu sama teman2 di sekitar karena dia cuma bisa bengong sementara yang lain sibuk kerja.

Sementara setiap kali gue mendengar keluhan semacam ini, gue malah mikir, “WOOOW… THAT IS MY DREAM JOB…!”

Lha coba aja bayangin: lo dibayar gaji penuh setiap bulan, hanya untuk duduk2 di kantor, dan disediain perangkat komputer gratis pula! Seandainya gue yang berada dalam posisi seperti itu, ada banyaaak banget hal menyenangkan yang bisa gue kerjain. Journal ini gue tulis sekaligus sebagai reminder terhadap diri gue sendiri, bila suatu hari nanti dapet giliran ‘masuk kotak’. Oh iya, tentunya setelah terlebih dahulu memastikan apa iya gue beneran ‘masuk kotak’, atau sekedar berada dalam posisi untuk kreatif dan proaktif menciptakan pekerjaan sendiri.

Ini list yang bisa gue kerjain dari dalam ‘kotak’:

  1. NGEMPI, tentu aja!! Mungkin bisa 10 posting sehari gue bikin. Ganti template CSS tiap hari.
  2. Belajar aneka program komputer. Mulai dari teknik2 Photoshop baru. Nanti kalo udah jago di photoshop, belajar corel, adobe illustrator, flash, premiere, 3d max, autocad, excel… wah banyak deh. Oh iya, gue juga ingin belajar tentang javascript, dan visual basic. Kayaknya ‘cool’ 🙂
  3. Baca novel yang setebel-tebel bantal. Sekarang aja udah banyak banget buku yang gue beli tapi belum sempet dibaca.
  4. Belajar nggambar wajah orang yang betulan. Selama ini gue hanya bisa nggambar kartun doang. Kalo sok2an nggambar muka orang, pasti orangnya protes krn merasa nggak mirip.
  5. Belajar bahasa baru. Itali, spanyol, mandarin dan jepang udah ada dalam list gue. Belajarnya bisa dari paket buku yang ada kasetnya untuk melatih pelafalan.
  6. Terima bikin terjemahan film, seperti waktu jaman kuliah dulu. Wah, ini pekerjaan yang menyenangkan banget, krn film2 yang gue terjemahin biasanya telenovela. Tau sendiri telenovela paling apa sih dialognya? Nggak jauh2 dari “Aku cinta padamu, Alejandro” “Pergi kau keparat!” “Maukah kau menikah denganku?” – dulu program MS Word gue penuh dengan autocorrect untuk memunculkan kata-kata standar tersebut.
  7. Main The Sims sampe simsnya beranak cucu.
  8. Terima pesanan bikin website. Wah, proyek ginian duitnya kenceng lho! Kerjaannya menyenangkan, lagi. Sekalian terima pesenan desain2 yang lain deh: poster, kartu nama, spanduk…
  9. Ngedesain brosur2 baru untuk jualan VCO.
  10. Belajar origami. Siapa tau nanti bisa bikin 2002 bebek2an untuk membalas 1001 burung dari istri.
  11. Terima pesenan bikin baju pake t-shirt transfer 🙂
  12. Belajar sulap. Gue paling seneng nonton sulap, khususnya close-up trick. Itu ada bukunya dan bisa dipelajari sendiri lho!
  13. Nulis novel, cerpen, naskah. Tuh, tambahan duit masuk lagi deh.
  14. Belajar siul.
  15. Ngarang aneka games baru untuk training atau acara2 keriaan lainnya di mana gue seringkali ditodong untuk mengisi acara.
  16. Terima pesenan edit video. Satu lagi sumber duit masuk. Terima video aneka jenis deh, kerahasiaan dijamin.
  17. Olah raga teratur. Namanya orang nggak ada kerjaan tentu bisa pulang tepat waktu dong? Jadi pulang kantor masih bisa olah raga dengan kondisi yang relatif seger, nggak sambil setengah tidur.
  18. Terima pesenan bikin ilustrasi untuk buku dan majalah. Lagi-lagi bisa nambah penghasilan, dengan cara yang menyenangkan.
  19. Jadi broker jual beli rumah. Cukup bermodalkan rajin2 posting di marketnya MP dan aneka situs jualan di internet, beres.
  20. Kerja ‘ngasong’ bikin laporan wawancara recruitment. Ini sumber obyekan utama anak2 psikologi sejak jaman dahulu kala.

Hidup ini tetap indah kok, sekalipun lo udah masuk ‘kotak’. Mungkin malah jadi tambah indah.

[tahun baru, kantor baru] Sempalan HRD Nyasar


Buat yang baca di WordPress reader, jangan bingung ya. Ini tulisan lama yang gue posting ulang karena error. 

Sejak awal 2005 ini, gue pindah ke kantor baru. Setelah sebelumnya setahun gue jadi HRD-Recruitment di perusahaan perkapalan, sekarang ceritanya gue di bagian communication sebuah bank simpan-pinjam. Yang narik gue ke bank ini temen gue waktu di BPPN dulu, namanya Nanda. Waktu itu dia nggak satu divisi sama gue,kenalnya gara2 sama2 ngurusin tujubelasan. Pesan moralnya, kadang sesuatu yang ngebetein saat dijalani, di belakang hari bisa membuahkan manfaat, hehehe.

Proses perpindahan ini disambut dengan penuh keheranan oleh temen2 gue di shipping.

“Mau pindah ke mana gung?”
“Ke bank”
“Jadi HRD juga?”
“Bukan, jadi communication”
“Ooo…mungkin biar lebih sesuai sama background pendidikan kali ya?”
“Sekolah gue psikologi…”

Sebenernya gue nggak ngira akan pindah kantor secepet ini, belum setahun gue di sana. Tapi
berhubung tawaran kerjaan yang baru nampaknya lebih menarik, ya gue pikir sayang juga kalo gue tolak.

Di kantor yang baru juga terjadi kebingungan mengenai asal-usul gue.
“Tadinya di mana?”
“Shipping”
“Communication juga?”
“HRD. Recruitment, lagi.”

Sejak hari pertama ngantor di tempat baru, gue udah langsung dapet project ini-itu.Bank ini emang lagi berkembang pesat, sebagai bank swasta pertama yang menggarap level micro-banking (layanan bank untuk para pengusaha kecil dengan omzet dibawah 50 jt). Selama ini baru BRI yang bermain di lahan itu.

Nah, karena lagi growing, tentunya segala strategi dipake untuk memotivasi para frontliners menjaring nasabah. Salah satunya adalah dengan program “Rabbit and Turtle”. Para kepala unit(cabang) yang pencapaiannya melebihi 100% digelari Rabbit. Sebaliknya, yang nggak mencapai target, dinamain Turtle. Setiap 3 bulan sekali ada workshop,kepala2 unit dikumpulin, dan di situlah mereka dianugerahi gelar Rabbit atauTurtle. Acara pemberian gelarnya dilakukan secara simbolis dengan menyerahkan boneka Rabbit dan Turtle kepada yang berhak. Dan gue join pada saat yang tepatdan manis sekali, yaitu sebulan sebelum workshop berikutnya.

Bersambung

How to make “recruiter-friendly” job-application e-mail


Description:

Ingredients:
Common sense
Consideration
A little effort

Directions:
1. Follow the instructions from the job-ad

Clear and simple. Kalo disuruh kirim ke alamat email, ga usah kirim pake pos. Kalo disuruh dalam format MS Word, ga usah kecentilan bikin CV pake Excel. Gue bahkan pernah dapet CV yang udah discan jadi JPG, sizenya hampir 1 MB. Inbox gue hampir kiamat waktu tu application masuk, bengong sekitar 5 menitan. Begitu masuk, gue del.

2. Put it all in one file

Ada orang yang kirim lamaran nyicil2 kayak ngambil KPR. Pertama dateng surat lamarannya. Di email berikutnya riwayat pendidikan. Riwayat kerja di email lain. Foto nyusul di mail berikut. Man, kalo lo harus nyortir 300-an e-mail lamaran sehari, lo akan ngerti bahwa ngga ada waktu buat ngurusin yang kaya ginian. Del.

3. Give your scanner some privacy

Ga usah terlalu bersemangat nge-scan ini-itu. Pas foto aja udah cukup. Sertifikat, ijazah, dll itu ngga usah lo insert ke file Word lo. Ntar aja pas dipanggil wawancara, lo tenteng deh tuh dokumen2 dalam map lecek kaya Rano Karno di film 70-an. Spt biasa gue bilang, gue ngga makan sekolah per-IT-an, jd gue ngga tau kenapa alasannya, tapi yg jelas file jpg 40kb yang diinsert ke file MS Word 20kb ngga lantas ukurannya jadi 40+20=60kb, bisa tau2 mekar jadi 200, 300, 400 kb, unpredictable! Dan file gede=penderitaan bagi inbox gue. I love my inbox. You hurt it, you go to another folder. Deleted Item folder. Del.

4. Show me your face

Berkaitan sama poin ke 3 di atas, insert foto lo. Jangan bilang ngga punya kamera digital, bisa pake foto biasa yang lo scan. Jangan bilang ngga punya scanner, banyak warnet yang ada scannernya. Kalo lamaran lo ada fotonya, akan memudahkan bagi recruitment officernya (spt gue ini) untuk mengingat elo, mis; “Oh ini dia pelamar yang pengalaman kerja 3 tahun itu, gue inget kok fotonya”.

5. Use your own e-mail address

Tolong deh, sekarang udah sejibun site yang nawarin e-mail gratis, kok ya-o masih aja ada orang kirim lamaran pake e-mail temen. Akan menyulitkan waktu gue mau nyari lagi email di inbox gue yang isinya ratusan itu elo kalo yang gue inget nama lo Herman tapi lo kirim e-mail pake alamatnya Yanti!! Lagian, kalo bikin alamat email sendiri aja males, gimana nanti kalo kerja?

6. Use reasonable font-size and case

Gue pernah dapet surat lamaran yang font-nya Arial Black, 16pt. Sepanjang resume begitu itu font-nya. Atau lain kali dateng lamaran pake font Kid Scribble, sepintas udah persis kaya brosur pre-school. Emang bener kalo orang bilang yang berbeda akan lebih mudah diingat; tapi diingat untuk di-del kan ga bagus juga. Maksud gue, kecuali elo ngelamar untuk kerjaan2 yang bener2 funky (jadi MC, artis, presenter) penampilan resume yang kaya gitu malah bikin orang meragukan kewarasan lo. Case juga gitu. Pernah denger tip untuk ngga make huruf besar semua saat nulis email krn bisa dianggap sbg TERIAKAN? Ok, the same tip applies to resume.

7. Name your resume accordingly

Kalo enggak ya nggak akan terlalu mengganggu juga, tapi it would be very nice kalo elo mempermudah kerjaan recruitment-officer yang malang seperti gue ini dengan mencantumkan nama lengkap lo sebagai nama file resume lo. 75% CV yang gue terima dikasih nama “CV.doc”, artinya gue kan harus satu2 ngerename file2 itu sesuai nama orangnya. Kalo dari awalnya udah dinamain sesuai nama pengirim, gue kan jadi ga pegel. Kalo gue ngga pegel, mood gue akan lebih baik ketimbang saat gue pegel. Dan kalo mood gue lebih baik, gue akan rela meluangkan sedikit pertimbangan sebelum mencet Del.

Dah segini dulu. Nanti gue lanjutin kalo ada hal baru yang gue inget.

%d blogger menyukai ini: