Selamat Hari Film Nasional!


Lebih dr setengah responden jajak pendapat Kompas bilang bahwa mrk lbh sering nonton film Indonesia dan yakin film Indonesia bisa bersaing dengan film asing. Selamat hari film nasional!

View on Path

Iklan

Mampir Ya… Ke Blog Baru Gue!


Permisi… numpang ngiklan… gue sekarang punya blog baru lho! Isinya seputar film, mulai dari review, prediksi film yang akan muncul, berita behind the scene, yang semuanya dibalut dalams ocehan  yang kurang berguna.

Alamatnya adalah:

nontondeh.blogspot.com

Sekarang baru ada 2 posting di sana, tapi akan segera bertambah kok. Amin? Bilang amin, dong!

Ditunggu kunjungannya!

[review] Evil Dead


Sejujurnya gue nggak terlalu tertarik sama film ini, tapi tetep gue tulis review-nya sebagai penyeimbang bahwa nggak bener semua film Hollywood itu bagus. Ini, adalah salah satu yang culun – dan sangat nggak kreatif.

Pertama-tama, ini adalah remake dari film berjudul sama keluaran tahun 1981, alias bukti lain dari penurunan kreativitas sineas Hollywood yang gue tulis di posting yang ini. Gue belum nonton film yang dulunya kayak apa, jadi gue nonton film ini tanpa pembanding. Dan karena dia digadang-gadang sebagai “The Most Terrifying Film You Will Ever Experience”, maka cukup tinggi lah harapan gue atas film ini.

(lebih…)

Nonton Film Indonesia? Emang Penting, Ya?


“Nonton film Indonesia yuk!”

“Idih! Film Indonesia kan jelek!”

“Emangnya lu pernah nonton film Indonesia yang mana?”

“Nggak pernah! Abis jelek!”

Dialog barusan bener-bener pernah, bahkan lumayan sering, gue alami dengan temen-temen gue: ogah nonton film Indonesia karena (konon) jelek, sambil mengakui bahwa nggak pernah nonton film Indonesia.

Kalo pun didesak lebih lanjut, biasanya orang anti film Indonesia karena:

  • aktingnya kaku, kurang penghayatan
  • penggarapannya asal-asalan
  • temanya hantu-hantuan melulu
  • naskahnya nggak natural, terlalu nyastra

Dan kalo ditanya, film yang bagus itu seperti apa sih? Rata-rata menunjuk film Hollywood sebagai patokan.

Dengan demikian, menurut sebagian orang yang gue kenal, film Hollywood lebih bagus dari film Indonesia.

Bener, nih?

(lebih…)

Laman: 1 2 3 4

[review] 9 Summers, 10 Autumns


Gue ini penonton tipe orientasi hasil: yaitu penonton yang maunya dibikin penasaran ingin tahu gimana ending sebuah, berharap yang terjadi di luar tebakannya. Abis, kayaknya percuma aja ngabisin waktu 1,5 sampe 2 jam duduk di bioskop kalo udah tau ceritanya akan jadi gimana.

Tapi gue juga tau bahwa nggak semua film dirancang untuk ngasih kejutan di bagian akhir.  Ada film yang orientasinya proses: mau ngasih lihat gimana perkembangan alur sebuah cerita, tahap demi tahap, tanpa ada usaha ngasih kejutan di bagian akhir. Film 9 Summers 10 Autumn ini termasuk yang berorientasi proses.

(lebih…)

Impossible Conversation


Iseng-iseng nyalain TV, ada film “Due Date” (Robert Downey, Jr. & Zach Galifianakis). Lagi tengah-tengah nonton, muncullah Rafi.

“Bapak! Ini film Iron Man ya?” katanya sambil menunjuk Robert Downey, Jr. yang lagi muncul di layar.

“Bukan. Ini film lain.”

“Tapi itu ada Tony Stark!” katanya keukeuh.

“Jadi begini, ya. Orang itu nama benerannya bukan Tony Stark. Dia itu namanya Robert. Pekerjaannya main film. Kalau dia lagi main film Iron Man, namanya jadi Tony Stark. Tapi di film ini, namanya Peter,” gue mengerahkan kemampuan untuk berusaha menjelaskan.

“Oooo gitu,” kata Rafi sambil manggut-manggut.

Lima menit berlalu dalam kedamaian, sampe akhirnya dia angkat bicara lagi.

“Bapak… tapi si Peter ini mirip sekali ya dengan Tony Stark…”

“Arrgh! Gimana sih Rafi, tadi kan sudah bapak jelaskan! Dia memang yang jadi Tony Stark di film Iron Man, tapi di film ini namanya Peter. Kan filmnya berbeda.”

“Oh, gitu…” jawab Rafi kurang meyakinkan.

Lima menit lagi berlalu, akhirnya dia bangkit dari duduk dan ngeloyor ke kamar sambil bilang, “Bapak benar. Setelah diperhatikan, dia nggak terlalu mirip kok dengan Tony Stark…”

*Bapaknya ngemil boneka Iron Man*

Dari Filmmaking Workshop @america bagian 1: “Naskah yang Buruk = Nasi Pera”


Bertahun-tahun gue ngecap di blog ini tentang film, ngomentarin suatu film kurang ini atau kurang itu, harusnya begini dan kenapa kok begitu, padahal pengetahuan tentang film masih nol. Itulah alasan kenapa gue tertarik banget dengan program @america yang satu ini: Filmmaking Workshop bersama Monty Tiwa.

Buat yang belum tahu, @america yang berlokasi di Pacific Place lantai 3 ini adalah sebuah pusat kebudayaan yang (kayaknya) didanai oleh pemerintah Amerika. Secara rutin mereka bikin aneka acara yang bagus-bagus. Ada hiburan, ada juga yang berbagi pengetahuan. Dulu gue pernah ngajak Rafi waktu acaranya shooting serial ‘Jalan Sesama’ (versi lokal Sesame Street). Setau gue semua programnya gratis. Kalo mau tau lebih banyak, bisa cek di situs resminya.

Monty Tiwa adalah orang serba bisa yang pernah jadi penulis naskah, editor, sutradara, produser, bahkan penulis soundtrack. Karya terbarunya sebagai sutradara adalah Test Pack. Dalam workshop ini, dia akan menceritakan secara ringkas proses pembuatan film dari awal sampai akhir, dibagi dalam 4 pertemuan.

Sesuai dengan motto gue dalam ngeblog yaitu: “berbagi segala hal yang menarik dan / atau berguna” – maka berikut ini hasil rangkuman sesi pertama. Mudah-mudahan menarik dan bermanfaat buat kalian para penggemar film. (lebih…)

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

[2012-016] Snow White and the Huntsman


Snow White and the Huntsman Movie PosterNgeliat judulnya, bisa ditebak bahwa film ini adalah reka ulang dongeng Snow White. Bedanya, di film ini dunia Snow White jauh lebih gelap, monsternya lebih serem, dan nenek sihirnya lebih sadis. Untunglah yang main si cantik Charlize Theron.

Film dibuka dengan kilasan gambaran masa kecil Snow White sebagai putri raja yang berani dan baik hati. Lalu muncullah Ravenna (Charlize Theron) penyihir licik yang dengan segala tipu daya berhasil merebut tahta kerajaan dan mengurung Snow White di menara. Bertahun-tahun Snow White dikurung sampe dia tumbuh besar. Sebagaimana lazimnya orang yang lama dikurung sendirian, wajar kalo pas udah gede Snow White jadi datar gitu ekspresinya. Maka nggak heran peran ini dipercayakan pada Kristen Stewart yang kedataran ekspresinya udah teruji di rangkaian film Twilight. Coba aja perhatikan perbandingan foto berikut, mana yang ekspresinya lebih jelas?

(lebih…)

The Fighter


The Fighter Movie PosterCerita film ini berdasarkan kehidupan petinju Micky Ward, yang praktis cuma gue kenal kiprahnya dari game PS Fight Night. Yang menarik gue untuk nonton justru karena sebagai petinju, Micky Ward nggak kondang-kondang amat. Malah di Fight Night statistiknya nggak bagus-bagus amat. Setelah nonton filmnya, baru gue tau bahwa memang yang mau “dijual” bukanlah adegan tinju-tinjuannya.

Film dibuka dengan penggambaran bahwa Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah petinju yang rada telat memulai karirnya – karena di umur yang udah kepala tiga baru bertanding tiga kali dan kalah melulu. Dia dilatih oleh Dicky Ecklund (Christian Bale) kakak tirinya yang mantan petinju tapi sekarang udah jadi pengangguran pecandu narkoba. Selain kakak beradik ini, ada juga tokoh Alice (Melissa Leo) ibu Micky dan Dicky yang bertindak sebagai manager Micky, dan Charlene (Amy Adams) pramusaji bar yang kemudian pacaran dengan Micky.

Konflik mulai dibangun saat digambarkan Dicky terkesan asal-asalah melatih adiknya – maklum namanya juga orang teler – dan lagi-lagi membuat Micky kalah. Micky yang pada dasarnya kurang PeDe makin minder dengan kekalahannya itu. Charlene sebagai pacar terus memotivasi Micky, apalagi dengan adanya seorang promotor kaya yang bersedia membiayai Micky berlatih secara lebih profesional. Micky dihadapkan pada dilema: kalau ingin mengembangkan karirnya maka dia harus ‘tega’ meninggalkan manajemen keluarganya yang kacau balau itu. Di sisi lain, Dicky dengan caranya sendiri juga berusaha mendukung karir tinju adiknya dan ingin adiknya tetap berada di bawah manajemen keluarga.

Buat yang belum nonton film ini, gue sarankan mengatur ekspektasinya dulu. Film ini bukan film action, jadi jangan harap akan banyak adegan pukul-pukulan dramatis ala film Rocky. Malah mungkin porsi adegan tinju di film ini nggak sampe 10%. Yang jadi kekuatan film ini bukanlah adegan tinjunya, tapi penggambaran konflik berlapis yang meliputi para tokohnya. Micky: rendah diri, sayang keluarga tapi juga ingin karir tinjunya maju. Dicky: penderita post-power syndrome yang hidup di masa lalu, doyan mengulang-ulang kenangan manis waktu sempat menjatuhkan Sugar Ray Leonard tapi nggak berani menghadapi kenyataan, sayang keluarga, sayang adik, tapi pendek akal dan tukang bikin onar. Alice: ibu yang diam-diam pilih kasih pada anaknya, dan Charlene: pengidap rendah diri yang menemukan semangatnya pada orang lain. Saat terjadi perdebatan antar tokoh, dialog-dialognya terasa hidup karena masing-masing tokoh mengeluarkan argumen yang kuat mencerminkan sudut pandangnya. Selain itu, penggambaran tokohnya juga sangat manusiawi; nggak ada yang 100% jahat atau 100% baik.

Seperti dugaan gue, Christian Bale berhasil memenangkan Oscar dari perannya di film ini. Untuk memerankan seorang pecandu narkoba, Bale menurunkan berat secara ekstrim sampe tampangnya kayak orang sakit. Salah satu temen gue berkomentar, “Ya iyalah, dia kan dibayar mahal.” Nggak juga, ternyata. Sebagai film yang awalnya dianggap nggak akan terlalu sukses secara komersial, film ini nggak punya anggaran yang terlalu leluasa untuk menggaji para pemainnya. Bale ‘hanya’ dibayar 250.000 dolar saja. Bandingkan dengan waktu dia memainkan Batman – Dark Knight: bayarannya 38 juta dollar! Dari segi pemilihan pemain dan tata rias, film ini memang jeli. Coba liat dandanan Alice si ibu yang digambarkan agak sedikit kampungan, dan Ida pun berkomentar tega soal Charlene, “Hebat ya milih pemerannya, realistik, nggak milih pemeran yang cantik-cantik amat dan langsing-langsing amat…”

Faktor lain yang membuat film ini enak ditonton, bagi gue, adalah pemilihan tokoh Micky Ward sendiri. Dia adalah petinju yang cukup sukses, sempet jadi juara dunia, tapi nggak banyak orang kenal namanya dan tau cerita hidupnya. Maksud gue, beda dengan kalo kita nonton film tentang Muhammad Ali atau Mike Tyson; mungkin udah nggak akan terlalu seru lagi karena kita udah tau endingnya akan gimana. Film ini tetep mampu membuat penonton harap-harap cemas apakah tokoh utamanya akan memenangkan pertandingan.

Kesimpulannya: sebuah film sederhana yang menyajikan hubungan keluarga secara sangat realistis, dan tentunya menarik!

===

Kalo mau baca posting-posting terbaru gue soal film, silakan klik Nonton Deh!

Celah-celah plot dalam film “The Tourist”


spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert –BUAT YANG BELUM NONTON DAN BERENCANA NONTON TANPA KEHILANGAN KEJUTAN DILARANG BACA – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert – spoiler alert

 
Gue memang apes untuk urusan film ini: dalam sebuah acara ngobrol-ngobrol santai di kantor tiba-tiba salah satu temen gue dengan wajah sepolos bayi menceritakan kisah film ini dari awal hingga kejutan di akhirnya.
“…jadi sebenarnya si Johnny Depp itulah suaminya,” kata temen gue ini lugu.
Crot.
Berhubung kejutan utamanya udah bubar jalan, maka pas nonton gue malah sibuk mengamati apakah kejadian-kejadian di awal film mendukung kejutan di akhir film . Inilah hasil temuan gue, bukan review melainkan sekedar “daftar temuan”.

(lebih…)

Tolong, beri kami film horror yang serem


Pada suatu weekend yang iseng, Bondan terdampar sesiangan di rumah gue dan ternyata kami menemukan kesamaan minat: film horror. Sesiangan itu kami nonton 2 film horror, yang satu film Thailand berjudul “Ghost Game” dan satunya film Hollywood berjudul “Unrest”.

Berhubung sama-sama udah kebanyakan nonton film horror, maka acara nonton siang itu malah diisi dengan tebak-tebakan, “abis ini pasti gini deh ceritanya…”. Dan sialnya, seringkali tebakan kami bener!

Setelah kenyang keseringan bener nebaknya, yang muncul berikutnya adalah pertanyaan: “Film horror seperti apa sih yang menarik buat orang-orang yang udah keseringan nonton film horror?”

Karena untuk menjawab pertanyaan barusan butuh tingkat kreativitas tinggi serta pemikiran yang mendalam, sedangkan penonton awam seperti kami kan bisanya cuma komentar dan complain, maka gue mengubah pertanyaannya menjadi “Elemen apa dari film horror yang nggak lagi ingin kami lihat karena udah basi?”

Berikut ini daftarnya:

    1. Hukum kemunculan 180o: Setan selalu muncul dari kanan kalo tokohnya noleh ke kiri, dari bawah kalo tokohnya nengok ke atas, dst. Pokoknya, selalu datang dari arah yang berlawanan dengan arah pandangan tokoh. Hukum standar ini bikin setan jadi mudah ditebak, nggak ngagetin lagi. Film Alien udah mencoba pendekatan yang lumayan menarik, yaitu monsternya muncrat dari dalam perut. Itu awal yang baik, nah sekarang coba cari kemunculan yang lebih kreatif.
  • Bayangan gelap melintas di kejauhan. Ini hampir pasti ada di semua film horror. Bosen.
  • Setan / monster yang nggak terlalu jelas kebisaannya. Ini meliputi kuntilanak, pocong dan suster ngesot. Ya, mereka bisa cekikikan, loncat-loncat dan ngesot… terus, kenapa? Penonton jaman sekarang butuh ancaman yang betul-betul serius. Freddie itu cukup keren, orang lagi tidur baik-baik aja bisa dia gorok dalam mimpi. Tapi setelah setengah lusin sequel, Freddie udah kaya mas-mas yang nganterin air galonan: nggak serem lagi karena keseringan ketemu.
  • Hambatan teknis. Ini meliputi mobil susah distarter, dan kunci pintu susah dibuka saat tokoh lagi diuber-uber setan.
  • “Tunggu dulu di sini ya.” Dalam situasi genting, tokoh yang tinggal berdua selalu memisahkan diri. Logisnya sih kalo udah tau lagi diuber setan, pepatah yang dijunjung “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Memisahkan diri adalah pilihan yang sangat nggak masuk akal.
  • Alat musik gesek. Musik film horror selalu dipenuhi dengan suara-suara biola, cello, dan sejenisnya. Bosen. Angklung kek sekali-sekali.
  • Bisik-bisik. Masalahnya adalah nggak semua orang nonton film horror di bioskop. Kadang kami nonton pake DVD bajakan, dan belum ori pula. Setan yang terlalu gemar bisik-bisik akan mengaburkan alur cerita, oleh karena itu sebaiknya dikurangi porsinya.
  • Jorok. Ada satu periode di mana para pembuat film horror nampak putus ada cari cara baru nakut-nakutin penonton, dan sebagai gantinya mereka bikin adegan yang super jorok. Adegan muntah lendir ijo di The Exorcist, misalnya. Mas sutradara horor, tolong deh: kami ingin merinding, bukan mual.
  • Tokoh-tokoh non setan yang bergaya kayak setan. Ini penyakit pada film horror dengan setting daerah terpencil: ada tokoh bapak-bapak tua dengan tampang misterius yang pelit omong mengendap-endap ke sana ke mari seolah-olah jadi bagian dari aktivitas setan di sana. Biasanya terbukti enggak, dan ini ganggu.
  • Tokoh-tokoh sok berani yang penakut. Udah jelas tempatnya rumah tua angker, bekas ada pembunuhan, terkenal ada setannya, eh didatengin juga. Giliran beneran ketemu sama setannya: jerit-jerit. Atau kalo lagi dalam posisi dikejar-kejar setan, selalu larinya ke tempat yang paling gelap, paling sepi, dan paling tidak kondusif untuk mengamankan diri. Terlalu gampang ditebak, nggak seru. (Sumbangan dari jmave).

Nah itu tadi daftar yang nggak ingin kami lihat lagi karena udah basi. Tapi ada juga elemn-elemen yang walau udah basi dan udah hampir pasti ada di film horror, nggak kami rasakan sebagai elemen yang mengganggu / membosankan, yaitu tokoh cewek selalu bertank-top, beradegan mandi, dan/atau nyebur-nyebur ke air. Untuk yang tiga itu, kami nggak keberatan.

Gambar gue ambil dari sini, yang kebetulan juga ngebahas tentang tipikal film horror.

Untuk baca posting-posting lainnya tentang film, silakan mampir ke blog gue yang ini ya! 

Despicable Me


despicable me movie posterBerhubung nontonnya juga udah telat, review ini pun sangat telat kalo dibandingkan review2 gue lainnya. Tapi atas permintaan dari seorang pembaca, ya sud lah gue tulis.

Ide cerita film ini sebenernya sangat standar, dan udah cukup sering diangkat di film-film lainnya: seseorang ‘berhati batu’ akhirnya luluh oleh kepolosan dan ketulusan anak-anak. Sebut aja film-film seperti “Kindergarten Cop”, “Three Man and a Baby”, The Pacifier, bahkan yang agak baru “The Hangover” juga sempet menyenggol tema yang sama. Selain itu, kebetulan tokoh utama film ini juga seorang ‘penjahat super’, mirip tema cerita “Megamind” yang sama-sama dirilis tahun 2010. Apakah berarti “Megamind” menjiplak “Despicable Me”? Rasanya sih kecil kemungkinannya ya, karena selisih kemunculan kedua film ini hanya beberapa bulan aja.

Tokoh utama film “Despicable Me” adalah seorang penjahat super bernama Gru (disuarakan oleh Steve Carrell – Date Night dan Get Smart). Tentunya ‘penjahat’ dalam konteks film animasi ya gitu deh, lebih banyak bloonnya daripada seremnya.

Gru digambarkan sebagai sosok anti sosial yang menyebalkan, tega bikin nangis anak orang dan nggak sungkan menggunakan senjata canggih hanya untuk nyerobot antrian di resto cepat saji.

Pada suatu hari, Gru yang merasa dirinya adalah “The Greatest Criminal Mind in the World” ini panas hati karena ada seseorang yang berhasil mencuri piramid. Padahal prestasi terbesarnya baru mencuri TV raksasa di stadion dan replika patung Liberty di Las Vegas. Gru lantas berambisi mencuri benda yang lebih spektakuler dari piramid, yaitu bulan!

Untuk menjalankan rencananya, Gru membutuhkan senjata pengerut yang mampu mengecilkan ukuran bulan menjadi sebesar bola tennis. Sayangnya, senjata pengerut itu ada di tangan Vector, ‘penjahat super’ lainnya.

Sementara itu, nggak jauh dari rumah Gru dan Vector, ada panti asuhan yang dihuni 3 kakak beradik Margo, Edith, dan Agnes. Pemilik panti yang berotak dagang tulen memanfaatkan tenaga mereka untuk jualan kue kering. Pada suatu hari, mereka bertiga lewat di depan rumah Vector dan berhasil menjual beberapa kotak kue. Melihat kejadian ini, Gru jadi dapat ide untuk memanfaatkan mereka bertiga sebagai pembuka jalan mencuri senjata pengerut.

Komentar gue:
Seperti yang gue bilang di awal, film ini sebenernya mengangkat ide cerita yang terhitung ‘basi’. Untungnya, ide ini bisa dikembangkan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Kalo menurut pendapat gue, kekuatannya terletak pada rancangan bentuk dan gerak para karakternya yang sangat ‘hidup’. Yang bikin gue sangat terkesan adalah penokohan ketiga anak yatim piatu penjual kue. Margo yang paling tua nampak paling serius dan protektif terhadap adik-adiknya, Edith si nomor dua nampak pembangkang (sesuai teorinya Alfred Adler :-)) dan Agnes si bungsu nampak super kelincahan, sibuk mengeksplorasi sana-sini penuh rasa ingin tahu. Selain itu juga ada Kyle, anjing peliharaan Gru yang galak, jelek, nggak jelas rasnya apa, tapi takut setengah mati sama Agnes!

Dari semuanya, tentu aja yang paling sering memicu tawa gue adalah ulah para ‘minion’, makhluk-makhluk kuning peliharaan Gru yang tingkahnya lucu-lucu udik. Hint: adegan waktu Gru dan dua minionnya lagi mengendap-endap di lorong ventilasi udara itu kocak buanget!

Kesimpulan akhir: film yang nggak terlalu orisinal, tapi dikemas secara baik dan menghibur. Nggak rugi juga untuk dikoleksi DVD originalnya 🙂

the a team


Film adaptasi yang baik dan benar menurut versi gue adalah, mampu untuk cukup setia pada versi aslinya, tapi juga mampu menyuguhkan sesuatu yang baru buat penonton. Maka yang gue harapkan dari versi bioskop serial favorit gue ini adalah penjelmaan ulang dari Hannibal, Face, Murdock dan BA yang lebih seru dan bombastis tanpa melepaskan diri dari ciri khas asli mereka. Ekspektasi yang lumayan tinggi mengingat sebagai serial TV tahun 80-an yang masih serba terbatas dari segi budget dan teknologi aja keempat karakter ini mampu menyuguhkan adegan-adegan seru secara mingguan. Sekarang, dalam format layar lebar yang didukung dana besar dan teknologi canggih, harusnya mereka mampu jadi tontonan yang jauh lebih keren dari versi TV-nya.

(lebih…)

Sinopsis Godzilla VS Mechagodzilla, oleh Rafi


godzilla vs mechagodzilla Gue sekarang ngerti, kenapa ada film / acara tv yang mencantumkan peringatan ‘Bimbingan Orangtua’. Ternyata dengan adanya ‘bimbingan orangtua’, tontonan bisa ditangkap anak dengan persepsi yang, yah.. hampir berbeda 180o dengan yang diniatkan oleh para pembuatnya.

Contohnya film Godzilla vs. Mechagodzilla. Film ini gue beli secara iseng-iseng karena ingin tau kenapa sih monster Godzilla bisa punya penggemar yang begitu fanatik. Gue tau ini bukan film untuk anak2 seusia Rafi, makanya gue nunggu sampe malem untuk nonton film ini. Apa daya si bocah keriting ini nggak juga menunjukkan tanda-tanda mau tidur di saat jam udah berada di angka 00.30 dini hari. Maka dia ikutan nonton, dengan ‘bimbingan orangtua’.

Setelah selesai nonton, gue tanya apa cerita film barusan. Kurang lebih beginilah jawabannya:

(lebih…)

phobia 2


Nakut-nakutin orang lewat film itu bukan pekerjaan yang gampang, lho. Film horror yang sukses, menurut gue, minimal harus punya 2 elemen: (1) kejutan dan (2) keterkaitan dengan latar belakang penonton. Masalahnya, dengan semakin banyaknya film horror yang beredar, unsur kejutan semakin sulit dibuat karena penonton semakin pinter nebak adegan yang akan terjadi berikutnya. Misalnya, saat tokoh noleh ke kanan, penonton udah mengantisipasi bahwa setannya akan muncul dari kiri. Maka kalo tuh setan beneran muncul dari arah yang diduga penonton, kejutan jadi gagal. Para pembuat film horror jaman dulu sih enak, penontonnya masih gampang kagetan. Nah sekarang, setannya harus muncul dari mana lagi coba, untuk bikin penonton kaget?

Yang lebih repot lagi adalah bikin cerita yang punya keterkaitan dengan latar belakang penonton. Pembuat film horror harus muter otak sedemikian rupa sehingga yang mereka sajikan bener-bener universal, dalam arti punya efek yang sama menakutkan buat penonton di seluruh dunia. Dan itu nggak gampang. Sosok drakula yang berjubah panjang mungkin menakutkan buat penonton di Eropa dan Amerika, tapi kalah serem dibanding buntelan kain putih bernama pocong buat para penonton Indonesia.

Karena tau susahnya bikin film horror yang beneran serem, gue sangat mengapresiasi film-film horror Thailand dan Jepang karena usaha keras mereka untuk terus menemukan sesuatu yang baru buat menakut-nakuti penonton. Setan yang bisa keluar dari kaset video, atau yang merayap-rayap di loteng rumah kosong, atau yang nemplok di pundak orang, semuanya adalah ide yang cukup orisinal dari para pembuat film horror Thailand / Jepang. Ngeliat fenomena ini, para pembuat film Hollywood yang entah udah putus asa atau udah males mikir nyari ide baru, main comot dan bikin remake versi Hollywood – yang sebagian besar ternyata nggak sesukses versi aslinya.

Phobia 2, lagi-lagi membuktikan bahwa para pembuat film Thailand masih punya banyak ide segar untuk nakut-nakutin penonton. Film ini terdiri atas 5 film pendek, dari 5 sutradara yang berbeda, yang ‘hampir’ semuanya bertema horror, dan ‘hampir’ semuanya orisinal. Berhubung ceritanya beda-beda, review ini gue buat terpisah untuk masing-masing ceritanya.

Novice

Segmen ini bercerita tentang seorang anak muda yang ‘diasingkan’ ibunya ke tengah sekumpulan biarawan setelah dia melakukan sebuah tindak kriminal. Ibunya berharap di sana anaknya bisa jadi lebih alim dan terhindar dari karma perbuatan jahatnya.

Dasar anak kurang ajar, di pengasingan dia malah bikin ulah yang enggak-enggak. Akibatnya, tentu aja dia dikejar-kejar setan.

Komentar gue:

Walaupun permainan kamera dan pemandangan yang disuguhkan di segmen ini cukup keren, tapi alur ceritanya terlalu datar. Satu-satunya kejutan buat penonton adalah tentang tindak kriminal apa yang sebenarnya telah dilakukan bocah ini.

Kesimpulan: starstar

Ward

Gara-gara patah kaki, seorang anak muda harus masuk rumah sakit. Tadinya sih dia minta ditempatkan di kamar VIP, tapi karena rumah sakitnya penuh, dia ditaro di kamar dengan dua tempat tidur. Room matenya adalah seorang kakek tua yang udah lama koma, jadi kata susternya “dia nggak pernah bangun, jadi di kamar ini sama aja seperti tidur sendiri.”

Tentu aja si suster itu keliru.

Komentar gue:

Daya tarik film rada terangkat di segmen yang ini, karena ada unsur komedi ngeliat tampang konyol pemerannya yang awalnya penuh rasa ingin tahu dan belakangan berubah total jadi ngeri setengah mampus. Tapi resep kaget-kagetannya terhitung standar, udah ketebak dari mana si ‘setan’ akan datang dan apa yang akan dilakukan berikutnya.

Kesimpulan: star star star

Backpackers

Dua orang turis Jepang ber-backpack di Thailand dan kesulitan menemukan kendaraan yang sudi ditebengi. Akhirnya mereka diangkut oleh sebuah truk dengan muatan misterius.

Komentar gue:

Buat gue, ini adalah segmen terlemah dari kelima cerita yang ada. Kurang kuat penjelasan tentang asal – usul para makhluk yang menyerang para turis. Udah gitu settingnya siang hari bolong sehingga mengurangi elemen horror. Dan yang lebih parah, pentunjuk tentang endingnya udah dibocorin duluan saat segmen baru berjalan kurang lebih 80%-nya.

Kesimpulan: star star

Salvage

Seorang ibu penjual mobil bekas punya kebiasaan buruk, yaitu ‘menipu’ para calon pembeli dengan bilang bahwa mobil yang dijualnya dalam kondisi prima – padahal sebenernya hasil rekondisi dari mobil-mobil yang ringsek abis kecelakaan. Pada suatu malam, anaknya yang lagi main-main di deket mobil-mobil dagangannya tiba-tiba menghilang.

Komentar gue:

Segmen yang ini lumayan kreatif dengan mengambil tema dasar tentang mobil bekas dan riwayat mengerikan di belakangnya. Setting lokasi penjualan mobil yang lumayan gede dan penuh mobil juga cukup menunjang penggambaran rasa frustrasi si ibu saat berusaha menemukan anaknya. Tapi feel-nya rada nge-drop waktu di salah satu adegan muncul setan kebakaran yang nampak sangat jelas dibuat dengan animasi komputer. Selain itu, endingnya rada ketebak di saat si ibu berusaha menstarter mobil untuk terakhir kalinya.

Kesimpulan: star star star

In the End

Empat orang anak muda yang pernah muncul di 4bia kali ini berperan sebagai anggota crew film horror ‘Alone 2’. Di tengah-tengah shooting, salah satu pemeran hantu mendadak sakit dan meninggal. Mereka akhirnya harus berusaha melanjutkan shooting dengan hantu beneran.

Komentar gue:

Segmen yang luar biasa kreatifnya. Satu-satunya segmen yang mencampuradukkan antara horror dan komedi, dengan kejutan yang sangat ‘meledak’ di akhir cerita.

Menariknya, sutradara segmen ini adalah Banjong Pisanthanakun , sutradara film ‘Alone’ dan ‘Shutter’. Dengan kata lain, dia memparodikan film karyanya sendiri, antara lain dengan komentar sinis tokoh Marsha (diperankan oleh Marsha Wattanapanich, pemeran asli film ‘Alone’) yang kurang lebih bilang, “gimana sih ceritanya bisa ada film ‘alone 2’, padahal kan udah jelas-jelas di akhir film pertama semua pemerannya mati!”.

Dan perlu gue tekankan di sini bahwa untuk ukuran seseorang yang tahun ini menginjak usia 39, Marsha Wattanapanich is definitely in a good shape. Gue belum pernah ngeliat ada perempuan berumur 39 tahun bisa tampil begitu menggemaskan:

Memang rada sedikit ilfeel kalo denger dia ngomong bahasa Thailand yang kedengerannya seperti orang lagi dijepit hidungnya, tapi… gak papa deh, karena kita kan harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya, bukan?

Kesimpulan: star star star star star plus bonus star star star star star untuk Marsha… 🙂

Oh iya, satu hal yang perlu dicatat dari film-film Thailand adalah, entah disengaja atau enggak, tapi mereka kayaknya sangat aktif memasukkan unsur budaya dan pariwisata Thailand ke dalam filmnya. Kalo nggak pemandangan alamnya yang keren, atau sekilas tentang kebiasaan khas orang Thailand. Pendeknya, film Thailand selalu terasa ‘Thailand banget’. Menurut gue ini taktik yang sangat jitu buat mendukung bisnis pariwisata mereka, karena film-film ini pastinya akan ditonton oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Mudah-mudahan segera bisa diikuti oleh para pembuat film Indonesia ya, yang terkadang malah berusaha bikin filmnya nampak sangat Amerika / Eropa…

Akhir kata, mari sekali lagi kita renungkan wajah Marsha Wattanapanich :

Nggak pepaya, nggak beras, nggak orang, apapun kalo labelnya “BANGKOK” memang selalu kualitas ekspor!

 

Untuk baca posting terbaru gue yang terkait film, silakan mampir ke Nonton Deh ya!

  • Komentar Terbaru

    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    Tjetje [binibule.com… di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    [sharing HRD] negosi… di [sharing HRD] WASPADA! 5 gelag…
    Koper | (new) Mbot… di Realita, Cinta, dan Rock n…
    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    ganganjanuar di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    Tjetje [binibule.com… di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    enkoos di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.247 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda. Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke s […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: