Selamat Hari Film Nasional!


Lebih dr setengah responden jajak pendapat Kompas bilang bahwa mrk lbh sering nonton film Indonesia dan yakin film Indonesia bisa bersaing dengan film asing. Selamat hari film nasional!

View on Path

Iklan

[review] Comic 8


poster comic 8

Entah udah berapa tahun lewat sejak gue ngakak sepuas ini gara-gara nonton film Indonesia.

“Comic 8” bercerita tentang 8 perampok bank yang ‘kebetulan’ merampok bank yang sama di hari yang sama. ‘Kebetulan’? Huh, kedengerannya kayak tipikal film Indonesia banget, ya?

Entar dulu.

(lebih…)

[Review] What They Don’t Talk About When They Talk About Love


Film, seperti halnya karya-karya seni lainnya, pada dasarnya adalah media penyampaian pesan dari sutradara kepada penonton. Yang kemudian membedakan satu sutradara dengan sutradara lainnya adalah cara yang mereka pilih untuk menyampaikan pesan tersebut.

(lebih…)

Nonton Film Indonesia? Emang Penting, Ya?


“Nonton film Indonesia yuk!”

“Idih! Film Indonesia kan jelek!”

“Emangnya lu pernah nonton film Indonesia yang mana?”

“Nggak pernah! Abis jelek!”

Dialog barusan bener-bener pernah, bahkan lumayan sering, gue alami dengan temen-temen gue: ogah nonton film Indonesia karena (konon) jelek, sambil mengakui bahwa nggak pernah nonton film Indonesia.

Kalo pun didesak lebih lanjut, biasanya orang anti film Indonesia karena:

  • aktingnya kaku, kurang penghayatan
  • penggarapannya asal-asalan
  • temanya hantu-hantuan melulu
  • naskahnya nggak natural, terlalu nyastra

Dan kalo ditanya, film yang bagus itu seperti apa sih? Rata-rata menunjuk film Hollywood sebagai patokan.

Dengan demikian, menurut sebagian orang yang gue kenal, film Hollywood lebih bagus dari film Indonesia.

Bener, nih?

(lebih…)

Laman: 1 2 3 4

[review] 9 Summers, 10 Autumns


Gue ini penonton tipe orientasi hasil: yaitu penonton yang maunya dibikin penasaran ingin tahu gimana ending sebuah, berharap yang terjadi di luar tebakannya. Abis, kayaknya percuma aja ngabisin waktu 1,5 sampe 2 jam duduk di bioskop kalo udah tau ceritanya akan jadi gimana.

Tapi gue juga tau bahwa nggak semua film dirancang untuk ngasih kejutan di bagian akhir.  Ada film yang orientasinya proses: mau ngasih lihat gimana perkembangan alur sebuah cerita, tahap demi tahap, tanpa ada usaha ngasih kejutan di bagian akhir. Film 9 Summers 10 Autumn ini termasuk yang berorientasi proses.

(lebih…)

[bukan review] Tragedi Penerbangan 574


Perhatian!

Sekali lagi gue tegaskan, ini bukan review. Ini sekedar sebuah cerita yang terinspirasi dari film “Tragedi Penerbangan 574”. Sebagaimana film ini ‘terinspirasi’ dari kejadian nyata kecelakaan pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI-574. Musibah tragis aja bisa jadi ‘inspirasi’ sebuah film katro, maka sebuah cerita ngaco yang terinspirasi film katro adalah sah.

Alkisah, ada 4 orang yang yang malem-malem keluyuran di tengah kebun kelapa: Siwa, Tania, Gustav, dan Dini. Mereka lagi liburan di rumah nenek Dini, deket perkebunan kelapa itu. Pembagian peran tipikalnya adalah: Gustav sebagai sosok cowok macho, Siwa sebagai si konyol yang (berniat) lucu, sementara Tania dan Dini sebagai paket paha dan belahan dada.
(lebih…)

[review] Jakarta Hati


Ini adalah film omnibus (film panjang yang terdiri atas sejumlah film pendek) karya Salman Aristo kedua yang pernah gue tonton. Yang sebelumnya adalah Jakarta Magrib, berisi cerita-cerita penduduk Jakarta yang settingnya kebetulan menjelang magrib. Temanya sederhana banget, tapi menohok banget karena bikin penonton ngeliat ulah mereka sendiri sehari-hari. Kalo belum nonton Jakarta Magrib, beli deh DVD-nya. Nggak nyesel, serius.

Jakarta Hati dibuat dengan format yang kurang lebih sama dengan Jakarta Magrib. Sama-sama omnibus, dan sama-sama mengangkat potret keseharian warga Jakarta. Tagline-nya gue suka banget: “Ini Jantung Ibukota, di Mana Hatinya?” Ini dia ceritanya:
(lebih…)

[review] Test Pack: You’re My Baby


“Bukunya lebih keren daripada filmnya!” biasanya gitu komentar orang setelah nonton film yang diangkat dari buku. Ada banyak faktor yang bikin komentar kayak gini muncul, salah satunya adalah: film berusaha menyamai bukunya 100% plek. Padahal dimensi waktu di buku seringkali jauh lebih panjang dari yang bisa ditampung dalam durasi sebuah film. Akibatnya alur film jadi terasa aneh saking banyaknya hal yang ingin ditampilin.

Untungnya, film ini berhasil lolos dari jebakan itu.

(lebih…)

[review] Rayya–Cahaya di Atas Cahaya


Setelah sekian lama nonton berbagai jenis film, akhirnya gue sampe pada satu kesimpulan: setiap film memerlukan cara menikmati yang berbeda-beda. Nonton film Sang Penari, misalnya. Kalo lu berusaha menikmatinya dengan mencari adegan romantis dan dialog puitis, jelas lu akan kecewa berat. Tapi kalo lu nonton film itu dengan kesiapan mental untuk digugat, diajak peduli, dan dibikin bertanya-tanya, maka film itu akan sangat menarik. Sebaliknya, kalo lu nonton The Expendables dengan cita-cita dapet pesan berbobot, jelas lu akan keluar dari bioskop sambil ngomel-ngomel. Walaupun memang ada juga film yang sampe sekarang belum jelas gimana cara menikmatinya sih, misalnya Terowongan Casablanca.

Film Rayya ini termasuk film yang perlu ditonton dengan kesiapan mental yang tepat.

(lebih…)

king


“Indonesia banget, sih!”
Biasanya, sadar nggak sadar, kata-kata barusan gue lontarkan kalo ketemu aneka hal negatif di negeri ini. Misalnya, kalo ketemu orang main serobot-serobotan di jalan raya, denger berita fasilitas umum rusak padahal baru sebulan diresmiin, tersangka korupsi tiba-tiba bisa minggat ke luar negeri, atau yang paling sering kalo atlet / tim olah raga kita tersingkir di babak penyisihan, bahkan kualifikasi.

Tapi syukurlah, “Indonesia Banget” yang gue rasakan setelah nonton film ini jauh lebih positif ketimbang biasanya. Film ini memang “Indonesia Banget”; mulai dari cerita yang mengangkat salah satu olah raga paling populer di Indonesia, gambar-gambar keren yang mengekspos keindahan alam, dan tokoh-tokohnya yang sangat membumi.

Ceritanya sederhana aja: tentang usaha seorang bocah 12 tahun bernama Guntur yang sangat berbakat main bulu tangkis, dan berusaha masuk klub bulu tangkis bergengsi. Dia dilatih oleh bapaknya (diperankan secara sangat – sangat – sangat bagus oleh Mamik Srimulat) dan didukung oleh dua orang sahabatnya, Raden dan Michele.

Berbeda dengan tipikal film-film bertema olah raga ala Hollywood yang selalu menggambarkan tokoh lawan sebagai sosok angkuh yang menyebalkan dan terkadang main curang, di film ini penggambaran seperti itu nyaris nggak ada. Pesan utamanya memang bukan cuma bagaimana perjuangan untuk menjadi juara, melainkan bagaimana menjadi juara dengan cara yang benar.

Entah gimana caranya, tapi gue merasa bahwa pengambilan setiap gambar yang muncul di film ini dilakukan dengan perhitungan yang sangat detil – kalo nggak mau dibilang kompulsif. Komposisi obyek, perpaduan warna, sampe gerakan kameranya dibuat sangat artistik. Coba aja perhatiin waktu kamera menyorot pepohonan yang pucuknya diliputi kabut dari bawah, atau penggunaan helikopter untuk mengambil panorama alam yang menghijau… keren banget! Walaupun begitu, di beberapa adegan menjelang akhir film gerakan kamera yang selalu memulai setiap adegan dari bawah ke atas terasa monoton, tapi secara keseluruhan film ini diambil dengan “sangat mau susah” (karena banyak film Indonesia lainnya yang nampak males menggerak-gerakkan kamera ke sudut-sudut yang ngerepotin).

Rangga Raditya, pemeran Guntur yang baru pertama kali ini main film, tampil lumayan. Masih perlu banyak dipoles, tapi nggak jelek kok. Yang jelas, dia ini kayaknya emang beneran bisa main bulu tangkis, deh. Ada banyak adegan dia bertanding bulu tangkis yang diambil dari jarak menengah, memperlihatkan bahwa memang beneran dia yang bertanding, tanpa stand-in.

Tokoh Raden, sahabat Guntur diperankan oleh Lucky Martin. Kalo nggak salah anak ini adalah pemeran iklan Axis yang judulnya ‘Si Amir’ (CMIIW). Sebenernya nggak ada yang salah sih dengan aktingnya, tapi… hmmm… gimana ya, buat gue tampangnya rada nyebelin dan tua banget, jadi rasanya rada mengganggu jalannya film. Kalo memang bener dia itu pemeran iklan Axis, dulu gue pernah mengomentari iklan itu dengan “Amir, 12 tahun? Tampangnya kayak anak kuliahan semester 3”.

Terlepas dari sedikit kekurangan di sana-sini yang masih dalam batas bisa diabaikan dan dimaafkan, film ini adalah sebuah film yang bisa bikin gue bilang “Indonesia Banget” dengan rasa bangga jadi orang Indonesia…

kambing jantan the movie


adegan kambing jantan the movieSebenernya gue rada sungkan untuk nulis review film yang satu ini. Sebagai seorang blogger, gue merasa ‘kurang ajar’ kalo sampe nulis review negatif tentang sebuah film monumental sebagai film Indonesia pertama yang diangkat dari blog. Tapi dengan berat hati gue harus bilang, dari sudut pandang pribadi gue, film ini jelek. Banget.

Seperti biasa sebelum mereview gue jelaskan dulu seberapa tinggi tingkat ekspektasi gue: gue sadar sepenuhnya bahwa gaya komedi Raditya Dika yang gokil banget di buku bukan hal yang mudah untuk diterjemahkan ke media lain. Nggak usah jauh-jauh sampe ke film; transformasinya dari novel ke komik aja kurang berhasil di mata gue. Cerita natural si kambing jantan yang ceplas-ceplos jail di buku, berubah jadi adegan-adegan lebay yang kusut dan bikin sakit mata di komik.

Dan sekarang dia jadi film. Maka gue berusaha menekan ekspektasi gue dengan mengharapkan sesuatu yang mungkin nggak akan selucu novelnya, tapi mudah-mudahan nggak seancur komiknya.

Film ini terasa ‘salah’ sejak adegan pertamanya, yaitu saat Pong Harjatmo muncul memerankan bapaknya Dika. Kalo baca bukunya, gue berpersepsi bahwa bapaknya Dika adalah seseorang yang kocak, nggak kalah gokil sama anaknya, nyablak, rada koboi dan nyentrik. Dan di otak gue, image tokoh bersifat kocak – gokil – nyablak – koboi – nyentrik dan image PONG HARJATMO itu sama nggak nyambungnya seperti makan nasi uduk pake lauk cokelat Delfi. Masing-masing nggak akan menimbulkan masalah, selama nggak dicampur.

Setelah itu adegan berlanjut dengan narasi Dika mengingatkan penonton pada beberapa ‘signature jokes’-nya seperti ngusap muka pake celana dalem bokap dan proses kelahiran di dokter hewan. Abis itu dilanjut dengan beberapa kilas balik pengalaman Dika kecil naksir cewek. Dan tema cewek beserta segala romantismenya pun bertahan sampe akhir film, dalam porsi yang mengherankan untuk sebuah film yang setau gue niatnya komedi.

Gaya penuturan hiperbolik alias ‘lebay’ yang di buku terasa kocak banget, ternyata jadi nanggung dan canggung di layar lebar. Ambil contoh waktu menceritakan hobi Dika versi ABG yang berkhayal jadi detektif. Digambarkan dia lantas mondar-mandir bawa kaca pembesar dan make topi miring, membongkari tas temen2nya yang cewek di kelas, dan pas kepergok menyerahkan sepucuk surat cinta beramplop pink. Trus ganti adegan. Lho? Trus? So?

Kebiasaan film komedi Indonesia untuk mencoba menyenggol urat lucu penonton dengan adegan-adegan jorok (dalam arti sebenarnya, bukan porno) juga sempet beberapa kali muncul dengan sangat nggak pentingnya di film ini. Contohnya kebiasaan tokoh Edgar, adik Dika yang selalu buang air besar di celana setiap kali diajak rapat keluarga. Atau sebuah adegan nyempil yang menggambarkan Dika ngetik pake laptop sambil nongkrong di WC dihiasi sound-effect suara-suara lubang dubur. Jorok? Ya. Membingungkan? Agak. Lucu? Enggak.

Dewa penyelamat film ini muncul dalam sosok Edric (ngetop lewat serial Extravaganza) yang memerankan tokoh Harianto, temen kuliah Dika. Humor-humor yang dia bawakan dengan tampang lempengnya itu malah terasa sangat menyegarkan di tengah adegan-adegan lebay yang mendominasi film ini. Sayangnya porsi Edric masih kalah jauh dibandingkan dengan tokoh Kebo, pacarnya Dika yang tiap kali ngambek bikin Dika berangkat pulang ke Jakarta seolah-olah dia cuma lagi kuliah di Klaten. Si tokoh Kebo ini terus menerus muncul hingga akhir, dengan segala ngambek, jutek, dan nangisnya yang mengganggu, di saat gue sebagai penonton udah berhenti peduli sama kelanjutan nasibnya sejak awal.

Dan satu hal lagi yang bikin gue rada sakit kepala saat nonton film ini adalah banyaknya pengambilan gambar super close-up dari wajah the kambing jantan himself. Maksud gue, untuk menikmati gambar-gambar super close-up itu lo haruslah seseorang yang bener-bener, super, duper, sangat, dunia-akhirat, ngefans mampus sama Dika. Kalo enggak, lo mungkin butuh banyak udara segar sekeluarnya dari bioskop.

Kabar baiknya, basis fans Dika udah cukup banyak dan cukup kuat. Terbukti dari kursi teater 4 Setiabudi 21 yang gue datengin tadi nyaris terisi penuh, dan sebagian besar penonton kedengeran terkekeh-kekeh geli pada beberapa adegan. Di sini lain, juga ada 4 orang penonton yang cabut pulang sekitar 20 menit sebelum filmnya selesai. Jadi, kalo lo tanya gue apakah film ini bagus, maka jawaban gue: “Mungkin iya, cuma gue aja, plus 4 orang penonton lain, yang gagal nemuin di mana letak bagusnya”.

Foto gue pinjem dari website resminya, kambingjantanthemovie.com

Perempuan Berkalung Sorban


perempuan berkalung sorban posterSama seperti Ida, satu-satunya alasan mengapa gue tertarik nonton film ini adalah karena banyak komentar-komentar yang menentangnya. Presiden PKS Tifatul Sembiring sampe merasa film ini perlu dikoreksi. Daripada ntar makin rame dan filmnya keburu ditarik dari peredaran, maka bela-belain lah kami ujan2an nonton di Kalibata Mall, kemarin malem. Apa iya sih, film ini melecehkan Islam?

PBS bercerita tentang Annisa (Revalina S Temat), seorang santri yang punya pemikiran2 ‘radikal’ untuk ukuran lingkungannya yang sangat konservatif. Annisa mempertanyakan kenapa banyak aturan yang membedakan laki-laki dan perempuan. Misalnya, saat dilarang naik kuda, Annisa mempertanyakan, ‘ Aisyah aja di jaman nabi boleh naik kuda, kenapa saya nggak boleh?’

Walaupun terus berusaha menentang dan memberontak, akhirnya annisa harus menyerah pada ‘kodrat’ sebagai perempuan: kawin dengan laki-laki yang belakangan ketahuan brengsek, dan dihukum rajam oleh masyarakat waktu ketahuan lagi berduaan sama pacar lamanya.

Salah satu tokoh (gue lupa siapa) yang gue liat berapi-api menghujat film PBS bilang, “Film ini menyesatkan, karena menggambarkan Islam diskriminatif thd perempuan, sampe naik kuda aja nggak boleh. Padahal di jaman nabi, Aisyah juga naik kuda” Gue langsung inget ucapan ini waktu di film tokoh Annisa juga mengucapkan hal yang sama. Kesimpulan gue: (1) yang menghujat belum tentu udah nonton filmnya, dan (2) film ini bukannya dengan sengaja mau merusak citra Islam.

Yang gue tangkep justru film ini mencoba menggambarkan orang yang bersikap kritis pada orang yang bikin aturan2 keras dengan mengatasnamakan agama, sementara aturan2 itu mungkin bias dengan faktor budaya atau keyakinan diri masing2. Sedangkan kalo ada beberapa hal yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenernya, yah maklum aja: ini kan film fiksi, bukannya pelajaran agama. Dia cuma mau jualan cerita drama, yang kebetulan settingnya di pesantren – bukannya mau berdakwah Islam.

Sebagai film, gue cukup salut sama film ini, karena berhasil bikin gue bertahan nggak ketiduran hingga kurang lebih 3/4 film. Padahal gue bukan penggemar film drama dan motivasi nontonnya juga cuma karena penasaran sama hujatan orang. Gue ngeliat adegan2 dalam film ini dikemas secara efisien, nggak kebanyakan penjelasan verbal – penonton disuguhi adegan dan disuruh mikir sendiri artinya apa. Warna-warnanya juga bagus, sudut pengambilan gambarnya pas. Revalina S Temat aktingnya bagus dan cakep bener dijilbabin. Jilbaban beneran aja napa, neng?

Kelemahannya, secara plot utama film ini banyak mengingatkan gue pada film2 tahun 70an yang tokohnya nggak abis2nya ketiban sial. Asal seneng dikit sial lagi, seneng dikit sial lagi, gitu terus. Apa iya cerita kaya gini masih laku di era millennium baru sih? Udah gitu endingnya juga bikin gue bilang, ‘heh, udah nih, gini doang?’ Kayaknya kurang lega, gitu.

Maka dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, maka cukup bintang 3 aja dari gue. Dan soal tuduhan memojokkan Islam, selama penontonnya tetep inget bahwa ini adalah film fiksi dan bukan ceramah agama, maka gue yakin semua pihak akan baik2 aja.

btw, istri gimana sih nyarinya, lha ini banyak foto poster PBS :-))

how low will you go?


Memang… kita nggak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya,
atau sebuah film dari judulnya… atau dari posternya…

tapi rasanya sih sulit ngebayangin, kualitas kaya apa yang bisa diharapkan dari film berjudul

SKANDAL CINTA BABI NGEPET:
DEMI CINTA AKU TERPAKSA JADI BUDAK SETAN

Abis ini kira-kira muncul film apa ya?

…”DESAH GELISAH KUNTILANAK BISPAK: biar bau menyan asal prima di pelayanan”…?
…”AKU DIHAMILI POCONG BENCONG: kutunggu tanggung jawab cintamu”…?
…”GEJOLAK ASMARA SUNDEL BOLONG VS. PREDATOR: biar sangar asal barang impor”…?

(Mudah-mudahan penilaian gue salah… buat yang udah nonton cerita-cerita ya, filmnya kaya apa… gue kayaknya nggak kuat deh nonton film ini.)

quickie express


“Sebutkan 10 nama yang hadir disini berawalan ‘Y’!”
“Yanti, yayuk, yuli…siapa lagi ya..udah abis tuh”
“Ya ada tutik, ya ada nanik, ya ada imron,ya ada joni, ya ada kamu…ha…ha…ha”

Barusan itu adalah sebuah joke – yang enggak lucu.

Kenapa nggak lucu?

Karena dari awalnya udah ketebak akan gimana akhirnya. Umumnya lelucon yang dinilai lucu adalah yang menyimpan kejutan. Kalo kejutan itu udah ketebak dari awal, leluconnya jadi nggak lucu.

Problem yang sama dialami oleh film “Quickie Express”

Film ini menceritakan pengalaman tiga orang gigolo: Jojo (Tora S), Marley (Aming) dan Piktor (Lukman S). Mereka bergabung di sebuah ‘perusahaan jasa’ gigolo yang menyamar jadi restoran pizza.

Sebelum jadi gigolo, Jojo sempet kerja jadi petugas cleaning service. Di hari pertama kerja Jojo dikasih pengarahan oleh bossnya “ingat ya, kalo ngepel, obat pel-nya cukup satu takaran saja, sebab kalo lebih dari satu maka lantai akan jadi licin.”

Pengarahan itu diulang-ulang oleh si boss, yang lantas meninggalkan Jojo kerja sendiri. Maka adegan selanjutnya adalah…. (pastinya bisa nebak dong).

Tempat kerja Jojo adalah sebuah supermarket yang sedang menggelar program diskon 70%. Calon pembeli udah ngantri di luar toko, nggak sabar ingin borong, tapi pintu toko masih terkunci. Jojo ngepel toko, lantas membuka pintu. Calon pembeli menyerbu masuk. Maka adegan selanjutnya adalah…. (pastinya bisa nebak dong).

Singkat cerita, setelah beralih profesi beberapa kali, akhirnya Jojo terbujuk untuk kerja sebagai gigolo. Tapi… yah begitulah, adegan demi adegan yang sepertinya sih diniatkan untuk mengundang tawa, berlalu tanpa kesan karena udah pada ketebak duluan arahnya. Bahkan kemunculan Roy Tobing* sebagai ‘trainer’ para calon gigolo terjebak dalam lelucon paling basi dalam perfilman Indonesia yaitu: bertingkah kebanci-bancian. Apa dikiranya penonton belum bosen ya, ngetawain banci? Gue sih udah loh. Kita cari obyek ketawaan yang lain aja yuk, wahai para pembuat film Indonesia…

Kondisi jalan cerita yang serba ketebak masih bertahan terus sampai Jojo cs mulai menjalankan profesinya sebagai gigolo. Masing-masing ketemu klien yang aneh-aneh, mengingatkan para film Deuce Bigalow: Male Gigolo. Klien-nya Jojo, misalnya. Wanita cantik bersuara berat. Mereka janjian ketemu di sebuah restoran. Baru ngobrol sebentar, si klien permisi ke kamar mandi. Saat si klien pergi, pelayan mendekati Jojo, berusaha ngasih tau bahwa si wanita tersebut sebenarnya adalah…(pastinya bisa nebak dong).

Karena sebuah insiden di bar, Jojo kenalan dengan cewek bernama Lila (diperankan pendatang baru Sandra Dewi) trus naksir trus pacaran. Di saat yang bersamaan, Jojo punya klien bernama tante Mona (Ira Maya Sopha). Pada suatu hari, Lila mengundang Jojo ke rumahnya untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Ternyata orang tua Lila adalah… (pastinya bisa nebak dong).

Marley beli 40 ekor ikan yang kata penjualnya sih ikan Lohan tapi tampangnya sama sekali nggak mirip ikan Lohan. Ternyata ikan-ikan itu sebenarnya adalah…. (pastinya bisa nebak dong). Dan karena nggak tau, Marley mandi di bathtub bareng seekor ikannya dan akhirnya digigit di bagian…(pastinya bisa nebak dong).

Begitulah, joke – joke basi gantian muncul di layar, selang – seling dengan joke ‘dewasa’ (baca: cabul) seputar alat kelamin. Kondisi diperparah ketika menjelang akhir, sekonyong-konyong ceritanya ingin ‘berbobot’ dengan konflik-konflik yang kurang penting dan maksa abis.

Kalo diliat dari riwayat karirnya, sutradara Dimas Djayadiningrat masih belum bisa lepas dari kegemarannya mengutak-atik gambar sehingga terlihat artistik tapi kelupaan ngurus cerita sehingga ngambang – seperti yang dia lakukan pada Tusuk Jelangkung. Mungkin sebaiknya dia fokus aja deh bikin video klip seperti dulu.

Tora dan Aming berakting persis seperti penampilan mereka di Extravaganza. Abis mau gimana lagi, ceritanya aja garing gini. Bahkan Lukman Sardi yang biasanya berakting cemerlang di sini nampak janggal dengan kegagapannya melafalkan huruf ‘p’ dan ‘f/v’ yang terlihat sangat nggak natural banget deh. Sedangkan si pendatang baru Sandra Dewi itu nggak memberikan andil yang berarti terhadap jalan cerita kecuali dalam bentuk tampil mulus berkilauan dan mengucapkan dialog2 yang ‘cewek banget’ dalam suara tikus** yang bikin para penonton pria ingin punya nomer HPnya, seperti “Yah… kita nggak jadi ketemuan ya… sedih deh…”

Untungnya masih ada Ira Maya Sopha yang tampil meyakinkan sebagai tante-tante horny, juga Tio Pakusadewo yang bikin gue pangling dalam wig ajaibnya sebagai Mateo. Kedua orang ini membuat gue ikhlas memberikan dua bintang, setelah nyaris ngasih satu. Oh iyam nilai plus juga buat gambarnya yang artistik dan penggarapan settingnya yang serius banget.

*itu lho… yang duluuuu sempet ngetop dengan senam ‘Body Langugage’-nya
**maksudnya suara halus dengan trebel tinggi – banyak desahannya, gitu deh.

Kwaliteit 2


Ini film udah jadul banget, tayang di bioskop tahun 2004 tapi waktu itu gue nggak sempet nonton. Sebenernya waktu itu tertarik juga untuk nonton karena reviewnya di beberapa media cukup menjanjikan. Sayangnya film ini nggak bertahan lama di bioskop.

Eh, ndilalah 2 minggu yang lalu gue nemu VCD film ini dijual di mal Ambassador. Maka tercapailah cita-cita gue.

Film ini bercerita tentang petualangan Santoso (Bramantyo) mahasiswa baru di sebuah universitas yang konflik dengan seniornya, Vanco (Arie Wiraswan). Di kolam renang kampus Santoso nyaris ribut dengan Vanco karena membela Limin (Dennis Adhiswara) yang lagi dicelup-celupin ke kolam.

Mereka lantas dilerai oleh penjaga kolam (Sunaryo Hadi) dan disarankan untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara… adu gebuk bantal. Di ‘pertarungan’ pertama ini Santoso kalah, sehingga akhirnya dia, Limin, plus 2 orang temennya Sly (Rahadian) dan Zulfikar (Mualimin) memutuskan untuk berguru ilmu gebuk bantal kepada bapak penjaga kolam yang ternyata adalah seorang ‘suhu’ ilmu gebuk bantal.

Di review gue untuk film ‘Koper’ gue bilang, “kalo mau bikin film aneh jangan nanggung” dan ternyata inilah dia film aneh yang nggak tanggung-tanggung. Mungkin buat beberapa orang film ini norak dan garing, serta cenderung jorok (dalam arti sebenarnya), tapi ampun deh, gue ketawa sampe nangis nonton ni film.

Bayangin aja (SPOILER ALERT), emangnya ada ya, konflik senioritas di kampus diselesaikan dengan cara gebuk bantal? Huhuhu… trus bisa-bisanya para pemain film ini ngelakuin adegan2 gebuk bantal dengan tampang sangar dan serius kaya lagi menghadapi pertarungan hidup dan mati. Udah gitu adegan romantisnya dong… nggak kalah noraknya… hehehe… jadi ceritanya si Santoso ini kan naksir cewek yang tinggal di kos2an sebelah. Nah, di salah satu adegan digambarkan dia berbunga-bunga karena bisa berdekatan sama si cewek ini waktu… beli gorengan bareng! Jadi adegannya si Santoso bareng cewek ini berdiri makan gorengan di pinggir jalan tapi diiringi dengan musik instrumental romantis gitu… hehehehe… gelo! Pada akhirnya Santoso berhasil ngajak kencan si cewek, dan tau nggak jalan-jalannya ke mana? Ke BONBIN coy, nggak lupa sambil bawa bekal minum dalam termos aluminium bergambar bunga plus makanan dalam rantang susun, hihihihi…

Pokoknya banyak banget adegan2 ancur dan sinting bertebaran di film ini. Misalnya waktu tokoh Sly dipalak sama preman, terjadi dialog sebagai berikut:

Preman: Heh! Punya duit nggak lo?!
Sly: Nggak punya bang… Abang punya nggak?
Preman: Ya… ada sih…
Sly: Ya udah sini pake duit abang aja dulu!

Trus dengan begonya si preman malah ngasih duit ke Sly! Hehehe… sinting, sinting, sinting. Tokoh Limin di film ini digambarkan sangat mengidolakan Lamting (atlet taekwondo / aktor sinetron). Tiap kali muncul dia pake kaos bertuliskan “Lamting idolaku”. Nah, di adegan puncak pertarungan gebuk bantal digambarkan Limin sebelumnya udah diancam oleh tim lawan untuk mengalah. Limin digebukin di atas batang pinang tanpa berani ngebales sampe (sorry) ingusnya nempel ke batang pinang. Saat kondisi makin kritis tiba-tiba muncul Lamting (diperankan oleh Lamting sendiri) sebagai komentator pertandingan. Limin jadi termotivasi minimal untuk jangan sampe terpukul jatuh dan akhirnya memang berhasil menang karena… lawannya kepleset ingus! hehehehe…

Selain jadi pemeran Limin, Denis Adhiswara juga bertindak sebagai sutradara di film ini. Sedangkan Budi Lestari, produsernya, adalah bapaknya Dennis. Modal untuk bikin film ini sebesar 1.5 miliar didapat dari hasil jual mobil dan tanah. Walaupun menghabiskan biaya yang lumayan gede, tapi secara teknis film ini nampak sangat ala kadarnya banget. Shootingnya cuma pake 1 handycam. Nggak heran di beberapa adegan yang mempertontonkan dialog antar 2 orang, kualitas suara waktu kamera menyorot orang pertama beda banget dengan waktu kamera menyorot orang ke dua. Di beberapa adegan bahkan dialognya nggak kedengeran karena suaranya mendem (untung nontonnya di VCD, bisa direwind). Tapi secara keseluruhan, gue terhibur banget nonton film gila ini. Usul buat para pembuat film; daripada bikin film horror melulu, mending bikin film model gini ajalah sekali-sekali, biar penonton nggak bosen gitu loh. (FYI sebentar lagi akan tayang film baru yang lagi2 bertema horror, judulnya “ROH”).

Review lain tentang film Kwaliteit 2:

  • Komentar Terbaru

    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    Tjetje [binibule.com… di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    [sharing HRD] negosi… di [sharing HRD] WASPADA! 5 gelag…
    Koper | (new) Mbot… di Realita, Cinta, dan Rock n…
    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    ganganjanuar di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    Tjetje [binibule.com… di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    enkoos di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.247 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda. Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke s […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: