Semoga Semua Elang di Dunia Panjang Umur


Sepuluh tahun lalu, kantor gue menyewa seorang motivator untuk meningkatkan semangat tim sales. Berhubung kantor gue punya cabang di seluruh Indonesia, maka Sang Motivator juga harus berkeliling Indonesia, tampil di (kalo gak salah) 5 kota. Gue beruntung bisa mengikuti 3 di antaranya.

Di kota pertama, penampilan Sang Motivator luar biasa. Semangatnyaa menggebu-gebu, berhasil membawa para peserta untuk larut dalam euforia. Tapi ada satu materinya yang buat gue terasa mengganggu. Dia cerita tentang burung elang, yang kurang lebihnya begini:

(lebih…)

Iklan

Hari yang Ditakutkan Itu Akhirnya Tiba


Semalem, pas pulang kantor, Ibu Mertua yang lagi nginep di rumah menyampaikan kabar yang sejak dulu kala menghantui gue. Yang gue tau suatu hari akan terjadi, tapi gue selalu berharap semoga bukan hari ini. Yang gue harap, apabila terjadi, semoga gak harus gue yang menghadapi. Tapi, takdir berkata lain. Hari yang gue kuatirkan itu akhirnya tiba juga. Hari di mana gue harus mendengar sederetan kata:

(lebih…)

Kalau Kucing Lu Cuek, Mungkin Ini Penyebabnya


Beberapa bulan yang lalu, Rafi (lagi-lagi) nemu seekor kucing liar yang memutuskan untuk bersarang di rumah gue. Berhubung warna bulunya coklat, maka kucing itu dia kasih nama… *drum rolls*… Choco. Ini dia penampakannya:

chocoKucing

 

Sama seperti waktu punya piaraan si belek dulu, Rafi sayang sekali sama si Choco ini. Sampai tibalah saatnya… musim kawin.

(lebih…)

8 Pelajaran dari Si Belek


Buat yang suka ngikutin status FB-nya Ida, pasti tau bahwa Rafi punya kucing yang gue kasih nama Si Belek. Ternyata dari kegiatan sesederhana memelihara kucing, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh Rafi. Berikut 8 di antaranya: (lebih…)

Arisan Kambing


Waktu lagi goler-goleran di kamar, gue nguping istri lagi mendiskusikan rencana investasi bareng temen-temennya. Mereka lagi bingung milih mana yang lebih menguntungkan, arisan emas atau arisan duit dengan sistem denda.

“Arisan kambing aja,” usul gue.

“Ck, yang enggak-enggak aja sih suami!”

“Loh, beneran ini. Di beberapa daerah itu populer lho!”

Jadi sistem arisan kambing adalah: setiap bulan para peserta arisan patungan beli seekor kambing, lalu kambingnya jadi hak milik peserta yang menang arisan. Udah, gitu doang. Biasanya kambingnya dititip ke sebuah peternakan, dan tentunya sang pemilik nantinya yang harus menyetor biaya perawatan kepada pemilik peternakan.

Keuntungan arisan kambing adalah; saat kambingnya makin banyak, mereka bisa saling kawin-mawin dan berkembang biak. Alhasil, jumlah kambingnya bisa berlipat ganda dari jumlah peserta arisannya.

Tapi memang arisan kambing bukannya tanpa risiko.

(lebih…)

Dongeng Anti Klimaks


uglyducklingcopy2

Ilustrasinya milik blogger ini

Semalem Rafi minta didongengin lagi, dan kali ini gue memilih dongeng populer “Anak Itik yang Buruk Rupa” dari HC Andersen.

Gue ceritain lah kisah hidup menyedihkan Si Anak Itik yang di-bully itik-itik lainnya hingga akhirnya dia tumbuh besar dan menjadi seekor angsa.

Dan inilah pertanyaan Rafi: (lebih…)

Penemuan Hari Ini… Aturan Sangkar Burung


“Don’t judge a book by its cover,” kata pepatah, alias jangan menilai buku dari sampulnya. Tapi ternyata dalam kebudayaan Jawa, kita bisa menilai burung dari sangkarnya. Minimal, tau jenis burungnya hanya dari menilai sangkarnya.

Satu lagi oleh-oleh dari perjalanan Tour de Jawa – Sumatera minggu ini, pengetahuan penting banget tentang sangkar burung. Gue dapet waktu lagi mampir ke Bantul, ke tempat usaha salah satu nasabah kantor gue, yang kebetulan jualan aneka perlengkapan pemeliharaan binatang untuk diternakkan dan untuk hobi – termasuk burung.

Pertanyaan di benak gue mulai timbul waktu di sela-sela obrolan ngalor-ngidul si ibu pemilik toko menunjukkan salah satu sangkar yang dijualnya, “…sangkar cucakrawa kayak gini, saya beli langsung dari perajinnya, mas….”
“Maksudnya, sangkar kayak gini hanya boleh diisi cucakrawa, gitu bu?”
“Oh iya!”
“Memangnya kalo saya isi burung lain, kenapa?”
“Ya salah mas… nggak wangun (=pantes, bhs Jawa).”
“Coba kalo saya punya burung perkutut, saya harus pake sangkar yang mana?”
“Yang itu, mas.”
“Burung dara?”
“Yang sana.”
“Burung puter?”
“Yang sebelah sananya lagi…”

Buset, ternyata untuk aneka jenis burung, ada ‘aturan’ nggak tertulis tentang model sangkar yang ‘pantas’! Tapi si ibu penjual itu juga bingung sendiri datang dari mana aturan-aturan tsb.

“Ya nggak tau mas, dari sananya memang sudah gitu kok aturannya…”

Nah, berdasarkan hasil wawancara dengan ibu penjual sangkar burung, di sini gue mau berbagi penemuan penting ini dengan kalian. Tujuannya biar kalian jangan sampe salah taro burung dalam sangkar. Ingat, itu tidak pantas! Apalagi dengan tidak melupakan fakta bahwa tidak semua burung pantas ditaro dalam sangkar.

Cuma gue rada penasaran juga, kalo suatu hari nanti gue dateng ke toko ini dengan bawa burung kasuari, kira2 gue dikasih sangkar model apa ya?

Ini dia foto-foto aneka sangkar burung yang penting kalian cermati:

…kalo sangkarnya berbentuk segi empat, umumnya berukuran lebih besar dari sangkar burung jenis lain, dan dengan jenis ukiran yang lebih ‘anggun’ dari jenis burung lainnya…

sangkar cucakrowo

…artinya ini sangkar burung cucakrowo.

…kalo sangkarnya warna-warni, ada hiasan gambar-gambar yang bernada ceria, bagian atasnya cenderung membulat dan tertutup seperti kubah (dugaan sementara gue kubah ini berguna untuk menguatkan efek suara ‘kung’ si burung)…

sangkar burung perkutut

…artinya ini sangkar burung perkutut.

…kalo sangkarnya berbentuk membulat, dengan bagian atas sedikit lebih besar dari bagian bawahnya….

sangkar burung dara

…artinya ini sangkar burung dara / merpati.

…kalo sangkarnya membulat, tapi tanpa bagian tertutup di atasnya dan nyaris tanpa hiasan sehingga terkesan lebih sederhana…

sangkar burung deruk / puter

…artinya ini sangkar burung deruk / puter.

…kalo sangkarnya kotak seperti sangkar cucakrawa, tapi ukurannya lebih kecil dan tanpa ukiran…

sangkar burung kutilang

…artinya ini sangkar burung kutilang.

…kalo sangkarnya keciiil sekali seperti kaleng marie regal…

sangkar burung kenari / ciblek

…artinya ini sangkar burung kenari atau ciblek.

…kalo sangkarnya besar, buatannya kasar, terkadang bertingkat…

sangkar ayam

…artinya ini sangkar ayam.

Pesan moral apa yang bisa kita dapat dari peraturan persangkaran ini? Yaitu bila kita bisa membahagiakan orang lain seperti burung cucakrawa dan perkutut, maka kita akan dihargai dan mendapat tempat yang terhormat. Tapi membahagiakan orang lain tidak sama dengan membiarkan orang menginjak-injak harga diri kita, sebab dalam kasus seperti itu kita adalah ayam yang hidupnya harus berjejal-jejal dalam sangkar jelek, abis itu disembelih dan dimakan.

Sekian pelajaran persangkaran hari ini, semoga bermanfaat.

Ratatouille


ratatoulile

Film yang wajib tonton buat para kritikus / penulis review bidang apapun (film, musik, resto, semuanya deh).

Kenapa? Hmmm… baca aja dulu review ini ya!

Sejak pertama kali melihat trailer film ini tahun lalu, gue udah nggak sabar ingin nonton. Dari trailernya, film ini menjanjikan tema cerita yang beda dari film animasi (komputer) pada umumnya. Tema yang sering diangkat biasanya kan seputar ‘sekumpulan tokoh berkelana menuju tempat yang jauh’ – seperti yang bisa kita liat di film Ice Age 1 & 2, Madagascar, atau Happy Feet. Sedangkan Ratatouille ini dengan cueknya bercerita tentang seekor tikus yang mati-matian mewujudkan impian untuk menjadi koki. Lho?

(lebih…)

Setelah 9 bulan menahan diri, semalam gue telah “melakukannya” lagi terhadap istri


Sejak 2 malam yang lalu, ada pihak ke tiga mengganggu keharmonisan rumah tangga kami. waktu kami tidur, dia masuk-masuk ke kamar, berbuat hal-hal yang mencurigakan di dalam lemari, dan manjat2 jendela.

Dia adalah seekor tikus remaja. Maksudnya, tikusnya masih terlalu kecil untuk dibilang ‘tikus’ tapi terlalu besar untuk dibilang ‘anak tikus’.

Buat gue yang memiliki ‘super power’ berupa mampu tidur di mana aja kapan aja sekalipun ada petasan banting meledak di sebelah kuping, kehadiran si tikus nggak terlalu mengganggu. Tapi buat Ida yang kalo diliatin aja bisa terbangun, tikus itu bikin dia serasa ingin gila. Belum lagi dia cemas memikirkan bayi Rafi – kalau2 jarinya digerogotin tikus. Thanks to Ade yang telah bikin Ida makin stress dengan menceritakan kisah kerabatnya yang jarinya digerogotin tikus waktu tidur.

Kemarin pagi, waktu suami lagi mau berangkat ke kantor, Ida rewel minta dicariin tikus. Sebagai suami yang bertanggung jawab gue udah berusaha membantu, tapi apa daya tikusnya nggak ketemu2. Akhirnya gue berangkat ke kantor dengan janji akan melanjutkan perburuan si tikus sore harinya.

Sorenya, setelah gue pulang dari kantor, bener aja istri menagih janji. Maka suami segera mengambil balok kayu ganjel kasur dan mulai berburu tikus sementara istri langsung mengambil posisi nangkring di atas tempat tidur – karena kuatir ketabrak tikus panik.

Selama proses perburuan berlangsung, Ida mengiringi dengan aneka keluh kesah pengalamannya sesiangan diteror tikus.
“Tau nggak sih, aku nggak bisa tidur siang gara2 tuh tikus bunyi2 kelotakan di sana-sini. Terus yah, masa tikus itu bisa manjat kabel listrik loh! Dia tadi naik lewat kabel situ (menunjuk kabel AC yang menjuntai) trus naik sampe sana (menunjuk AC di bagian atas kamar)”

Ngeliat Ida lagi sibuk menunjuk-nunjuk gitu jadi menimbulkan ide kreatif di benak suami. Dengan ujung jari gue senggol-senggol tangan kirinya – sehingga menimbulkan sensasi mirip diendus-endus tikus. Kontan Ida mencelat,
“WHUAAAAA…. APAAAN ITUUUUUUUU….. WAAAAAAA….”

Wuah… leganya. Setelah 9 bulan menahan diri nggak ngagetin istri hamil, akhirnya semalam gue bisa melakukannya lagi. Huhuy! Hihihi… tampangnya lucuuu deh kalo lagi kaget. Terima kasih ya istri, telah menghibur suami yang lelah sepulang kerja

kisah Ida kaget yang terdahulu bisa diklik di sini

Ancaman monyet bagi kaum gaptek


Tadi pagi gue nonton sebuah acara di Animal Planet tentang “Monkey Helpers for the Disabled” sebuah lembaga yang melatih monyet-monyet untuk membantu orang cacat (lumpuh). Yang mencengangkan buat gue:

ternyata bantuan yang bisa diberikan monyet-monyet itu banyak banget ragamnya. Mulai dari sekedar mengambilkan minum, membalik halaman majalah yang lagi dibaca, sampe menghangatkan makanan di microwave dan menyetel CD player!

Bayangin prosesnya: untuk nyetel CD berarti monyet-monyet itu harus bisa ngebuka tempat CD, mencet tombol “eject” untuk ngebuka CD playernya, masukin CD, dan mencet tombol “play”. Untuk manasin makanan di microwave berarti mereka harus bisa ngambil makanan yang tepat dari kulkas (majikannya ‘menunjuk’ makanan yang harus diambil dengan laser pointer), ngebuka bungkus plastiknya, ngebuka microwavenya, dan memencet tombol
untuk mulai memanaskan.

Kesimpulannya:
buat kalian yang sampe hari ini ‘alergi’ sama benda-benda yang berbau ‘hi-tech’, merasa diri gaptek, kalo ketemu gadget baru ngomongnya “ah males, gue soalnya nggak ngerti yang kaya gituan sih”, kalo make kamera digital cuma berani mencet tombol shutter doang – hati-hati – lo udah beda tipis sama monyet – jangan sampe kesusul! 🙂

Ingat, gaptek bukan penyakit keturunan, tidak menular, dan dapat disembuhkan – asal mau.

*iklan layanan masyarakat untuk memberantas kegaptekan*

website monyet2 pintar: http://www.helpinghandsmonkeys.org

[tahun baru, kantor baru] Rabbit and Turtle


Tulisan sebelumnya: Sempalan HRD nyasar

Salah satu tugas gue adalah proyek pengadaan kotak buat boneka2 rabbit dan turtle itu.Selama ini kalo ada acara penyerahan, bonekanya dikasihin gitu aja, kan kesannya kurang elegan. Jadi boss berkeinginan agar boneka2 itu dimasukin dalam kotak yang ada plastik beningnya, seperti kotak boneka di toko mainan. Sebagai gambaran, boneka rabbit yang dipake di sini boneka bugs bunny yang tingginya sekitar 30 cm. Boneka turtlenya kecilan dikit, sekitar diameter 20 cm. Sebenernya itu bukan boneka turtle sih, tapi penyu, cuma biasa lah, orang masih suka rancu ngebedain kedua binatang tersebut.

Anyway,vendor yang beruntung memenangkan proyek namanya Mata Production, dengan diwakili oleh bagian marketing bernama Bu Lies. Dua minggu menjelang workshop, gue meeting sama dia, dan dia menjanjikan sanggup bikin kotak buat 20 rabbit dan 20 turtle dari bahan karton keras 3 hari sebelum workshop.

Workshopnya sendiri ada di 3 kota, Ciawi, Surabaya, dan Semarang, dengan jadwal sinting sbb:

Tanggal

Acara

 

Kota

31 Jan (Senin)

Workshop hari 1

Ciawi

1 Feb (Selasa)

Workshop hari 2

Ciawi

2 Feb (Rabu)

Workshop hari 1

Surabaya

3 Feb (Kamis)

Workshop hari 2

Surabaya

4 Feb (Jum’at)

Workshop hari 1

Semarang

5 Feb (Sabtu)

Workshop hari 2

Semarang

Artinya,setiap kali selesai rangkaian acara di satu kota, langsung cabut sore itu juga ke kota berikutnya, dan malemnya langsung bikin persiapan untuk hari berikutnya.

Tanggal 27 Jan gue telep si Mata Production, dia janji akan nganter besok sorenya.
Tanggal 28 Jan, udah hari Jum’at nih, sementara workshopnya Senin dan di Ciawi pulak, gue nelep lagi dan menerima jawaban “besok pak, kami antar, bener deh.” Besoknya emang ada temen gue yang mau dateng ke kantor, karena seperti biasa acara ginian kan pasti ada aja unsur last-minute changesnya jadi ada yang ketiban sial harus masuk hari Sabtu buat ngeberesin. Jadi gue bilang, “oke deh,besok anter ya ke kantor, ada yang nerima kok di sini.”

Sabtu malem 29 Jan gue menerima laporan dari temen gue yang hari itu ngantor bahwa tadi sama sekali nggak ada kiriman dari Mata Production. Gue telep lagi Mata,“Aduh, punten banget ini pak, udah tinggal dikit lagi sih selesai, tanggung. Besok deh, bener, kita anter sekitar jam 4.”

Minggu 30 Jan, giliran gue yang harus ke kantor. Begitu nyampe kantor langsung gue telp Mata, dan katanya “Pak, kayaknya jam 4 belum keburu ni, rumah bapak di mana sih, kita anter ntar malem ke rumah ya pak…. Maap lho ini pak.. ” Rese bener nih orang.

Gue bilang “Saya kan harus masuk-masukin boneka-bonekanya ke dalam kotak ibu, jadi gimana, saya harus bawa dulu boneka-bonekanya ke rumah, gitu?”

“Iya,gitu, maap lho ini pak…”

Maka pada hari Minggu sore itu, persiapan terakhir di kantor gue beres, gue pulang dengan membawa 3 trashbag penuh dengan boneka rabbit dan turtle. Dan dalam perjalanan dari kantor gue di lantai 18 ke parkiran tuh ada aja cobaan berupa satpam atau cleaning service yang numpang sok lucu berkomentar “wah banyak amat bonekanya pak, mau dibagi-bagi yah? Minta dong satu”.

Minggu malem, setelah ke-empat-puluh boneka itu bercokol aman di kamar gue, dan setelah menenangkan ibu gue yang ge-er nyangka gue dateng bawa oleh-oleh, Mata Production nelep lagi “Pak, kita nggak enak nih kalo dateng malem2 ke rumah bapak, besok aja yah kita anter ke Ciawi?”

Hiiih… ni orang, pingin gue colok deh tuh Mata Production.

“Gini ya Bu, besok kan acaranya udah mulai ya bu, terus ibu baru anter besok kapan saya masukin bonekanya ke kotak, coba? Udah ibu anter aja malam ini, mau jam berapa juga terserah!”

“Ah nggak enak ah pak… ini sih tinggal masang stiker logo doang pak, tapi besok aja lah ya pak!”

Gue udah tau banget, dari gelagatnya kayaknya dia sama sekali belom selesai, bukannya “tinggal dikit lagi”. 

Maka, besok paginya, jam 7 gue kembali ke kantor masih setia dengan 3 trashbag berisi 40 biji rabbit dan turtle. PLUS kali ini bawa bekal untuk pergi seminggu: 1 koper kecil, 1 ransel, dan 1 tas pinggang. Persis mau mudik, bedanya orang mudik item bawaannya lebih variatif; jarang ada yang bawa 20 boneka rabbit dan 20 boneka turtle bentuknya sama semua. Kalo mau bisa dibayangkan gimana besarnya effort gue menyeret-nyeret semua barang2 itu, tapi tolong ngebayanginnya jangan pake terharu, ya. I’m fine, really.

 Bersambung

Ke BONBIN Bersama Ida


Dialog berikut ini terjadi kemarin. Ida, seperti jutaan cewe lain di dunia, akhir2 ini mengeluh gendut.

“Gendut apanya sih?” kata gue
“Ini aku gendut gini kok” katanya
“Enggak.”
“Iya”
“Ya udah terus mau gimana? Yuk, kalo mau, kita olah raga bareng”
“Olah raga? Ayo deh. Biar ga gendut. Kita jogging yuk.”
“Daripada jogging ngebetein, aku punya ide lebih bagus.”
“Apa?”
“Gimana kalo kita ke BONBIN RAGUNAN aja, kan tempatnya gede, muterin situ juga udah olah raga dan ada hiburannya liat binatang lucu2.”
“Wah, ayo, ayo! Besok kamu jemput aku pagi-pagi yaaa! Biar ga panas! JAM TUJUH yaaa…!”

Inilah deskripsi yang paling nyata dari ungkapan “Ide makan tuan” karena sebagai implikasinya maka tadi pagi, di hari minggu pagi yang cerah, gue harus bangun pagi-pagi untuk menjemput Ida sayangku cinta berjalan-jalan di BONBIN. Tapi bukan berarti gue nggak seneng ke bonbin ya. Gue seneng banget ke bonbin. Dulu waktu gue masih SD gue pernah berkunjung ke bonbin ngga lama sesudah seekor anak kuda nil bernama Umi lahir. Ternyata kuda nil kalo masih kecil lucu loh, cuma segede anjing, dan warnanya ungu seperti anggur. Beberapa tahun kemudian, waktu gue study tour bareng SMP gue, gue nyariin si Umi lagi dan well… dia udah jadi kuda nil betulan, segede mobil gitu. Dan warnanya jadi item, ga ungu anggur lagi.

Kita sampe bonbin sekitar jam 9, akibat gue rada telat berangkat krn keasikan baca2 multiply (bangunnya ga telat lho, jam 4.30). Udah rame aja orang pada piknik. Pertama-tama kita ke kandang gajah, krn paling deket dari pintu masuk barat (dari arah Cilandak). Habis itu ke kandang tapir. Di sanalah gue mendengar dialog menarik antara seorang bapak yang tengah menggendong anaknya.

“Nhaa… itu apa namanya hayo??” kata si bapak.
“Apa? apa?” kata anaknya yang keliatannya belum lancar ngomong.
“Itu namanya Pa…?”
“Pa…?” anaknya mengikuti
“Itu namanya PAAAN…DA… ya?” lanjut si bapak dengan penuh rasa percaya diri
“Pan-Da” tiru anaknya patuh. Maka sukseslah sebuah informasi salah kaprah terserap di benak generasi penerus bangsa ini.

Abis itu gue inget berita di koran bbrp waktu yang lalu tentang kandang gorilla yang menelan biaya milyaran rupiah di dalam areal ragunan. Kalo ga salah orang waktu itu pada heboh deh, kok bisa cuma bikin kandang gorilla doang sampe abis duit segitu. Maka dari kandang tapir gue ajak Ida nyari di mana letaknya si gorila ini.

Begitu ketemu, ternyata… pantesan aja abis milyaran rupiah, taunya sama sekali bukan cuma kandang gorilla, tapi PUSAT PRIMATA TERBESAR DI DUNIA, yang salah satu koleksinya adalah gorilla. Nama resminya “Pusat Primata Schmutzer”.

Dari websitenya, gue baru tau bahwa Pusat Primata ini merupakan hibah dari seseorang bernama Pauline Adeline Antoinette Veersteegh alias Puck Schmutzer. Beliau adalah orang Belanda yang lama tinggal di Surabaya dan sangat cinta sama binatang. Setelah sempat kembali ke Belanda, beliau menghabiskan masa tuanya di Kemang. Kepeduliannya kepada satwa diwujudkan antara lain dengan membeli burung-burung yang dijual di jalanan untuk kemudian dilepaskan lagi. Beliau meninggal tahun 1998 dan mewariskan seluruh hartanya untuk membiayai Pusat Primata ini, yang akhirnya diresmikan pada Agustus 2002 (dan gue segini kupernya sehingga baru ngeliat wujudnya 2 tahun kemudian). Cerita lengkap tentang Pusat Primata Schmutzer bisa diklik di www.primata.or.id.

Gue sendiri terkesan banget sama tempat ini. Keliatan banget diurus dengan profesional. Lo musti bayar lagi 5000 perak kalo mau masuk. Bawaan lo diperiksa, ga boleh bawa rokok. Tadinya gue kira rokok gue bisa gue selundupin di kantong, eh taunya ada body check. Emang bagus juga sih, dengan soalnya orang kan suka buang puntung rokok sembarangan, dan kalo itu dimakan sama binatang, bisa sakit. Koleksinya juga lengkap banget, berbagai primata dari seluruh dunia ada walaupun sebagian besar dari Indonesia. Displaynya informatif dan menyajikan berbagai pengetahuan menarik tentang primata spt; ternyata cuma sebagian primata aja yang makanan utamanya pisang. Gorilla itu bahkan suka ngemil makan serangga dan semut juga. Pertanyaan dari Ida, “Kalo emang bener gorilla makannya cuma buah dan serangga, kok dia suka jahat sama manusia? “
“…? ah enggak kok! Gorilla itu justru binatang pemalu, sulit banget ditemukan krn mereka tinggalnya di tengah hutan, menjauhi keramaian.”
“Ah iya kok! Aku pernah nonton di mana, gitu, gorilla tuh jahat sama manusia.”
“Nonton di mana?”
“Lupa…”
“Jangan-jangan… nonton di film ya? Film ‘King-Kong’?”
“Oh iyaaa… hehehehe….”Well sayangku cinta, let’s say King-Kong is misfit in his community, his friends can’t stand his bad attitude, that’s why he’s end up in New York, climbing tall buildings (which is something gorillas are not famous of), and giving bad names to every other nice and quiet gorillas in the world. 🙂

Udah gitu setting tempatnya juga interaktif banget, spt misalnya ada bagian yang menunjukkan cara berayun orangutan dari pohon ke pohon, lengkap dengan pohon2an dari
logam buat anak2 yang tertarik nyoba cara berayun tersebut. Kandang-kandangnya juga dibuat sesuai habitat aslinya, dilengkapi gelang2 dari karet ban buat tempat mereka main ayun-ayunan. O iya, ada keran2 yang airnya bisa langsung diminum kaya di luar negeri lho…
heheheh… tapi jarang yang memanfaatkan krn para pengunjung kayaknya ragu sama air yang keluar dari keran itu.

Tergantung dari jenisnya, ternyata sifat mereka juga berbeda-beda. Ada yang seneng berkelompok, makanya di kandangnya mereka ditaro berame2. Ada juga yang seneng menyendiri, cuma dua ekor per kandang. Ngeliat jenis yang terakhir ini, Ida terganggu banget. Berdasarkan referensi keluarga besarnya sendiri yang kalo ngumpul Lebaran bisa sampe puluhan orang, menurut dia monyet yang cuma berduaan di kandang “kasihan, pasti menderita banget ya… kesepian…” Memang agak ditunjang juga dengan penampilan si monyet (gue lupa jenisnya apa) yang ekspresinya merana dan ga lincah kaya siamang. Kerjanya cuma duduk2 selonjoran, paling bangun sebentar cuma buat ngambil buah, abis itu duduk lagi, tatapannya setengah merunduk, dan s
esekali garuk2. Gue yakin monyet jenis ini pasti ga terancam kepunahan deh, siapa sih orang yang tertarik nangkep mahluk menyedihkan gitu. Mana badannya cukup gede lagi. Sebaliknya dengan orangutan. Mereka lincah2 dan seneng nampang. Kalo diliatnya banyak orang di depan kandang, mereka pada ngumpul dan bergaya aneh2, termasuk sok2an jalan tegak mondar-mandir dengan 2 kaki.

Setelah satu setengah jam kita di sana, dateng ujan dan dirasa2 udah mulai laper, jadi kita pergi. Rokok yang gue kira abis dititip palingan ilang, ternyata balik dengan selamat ke tangan gue, dinamain segala sama petugasnya pake kertas stiker. Ida seneng banget, dan berencana kapan2 mau ke bonbin lagi. Cuma pas sampe di luar gue teringat sesuatu.

“Waduh Yang… ada satu yang kelewat belum kita liat…”
“Apaan?”
“Gorillanya!”

-the end-

NB:

sorenya Ida nelepon bilang, “Aku hari ini seneng banget deh, jadi tambah sayang sama kamu 749 poin!”Oh aku juga kok sayangku cinta, minggu depan kita ke taman mini, ya?

Posting weblog lain tentang pengunjung yang juga impressed sama tempat ini bisa diklik di sini

  • Komentar Terbaru

    mbot pada sakitnya: mencret. obatnya: ob…
    Natasha Sylviani pada sakitnya: mencret. obatnya: ob…
    mbot pada Milih Caleg lebih Tepat Pake J…
    ndu.t.yke pada Milih Caleg lebih Tepat Pake J…
    mbot pada Milih Caleg lebih Tepat Pake J…
    ndu.t.yke pada Milih Caleg lebih Tepat Pake J…
    mbot pada [Menuju Langsing] Ketika Perut…
    Tjetje [binibule.com… pada [Menuju Langsing] Ketika Perut…
    mbot pada [Menuju Langsing] Berdamai den…
    Cikarang8 pada [Menuju Langsing] Berdamai den…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.428 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: