Yang Terjadi Pada Bahu Ayah Ini Bikin Netizen Kejengkang!


Jadi ceritanya kan tanggal 12 November adalah Hari Ayah Nasional ya. Lalu Tribunwow.com, seperti umumnya media online yang lagi nggak terlalu punya bahan, bikin berita dengan materi paling gampang sedunia: rangkuman posting medsos.

(lebih…)

Iklan

Sepinter-pinternya Sistem, Pasti Bego Juga


Para blogger pasti ingin semua tulisan yang pernah dipostingnya dibaca orang. Pasti. Kalo ada blogger yang bilang “gue sih nggak peduli ya, orang mau baca tulisan gue atau enggak” – pasti bohong. Karena kalo dia nggak perduli, dia nggak akan nyimpen tulisannya di blog. Dia akan simpen di hard disk-nya sendiri atau kalo takut hilang ya upload ke Dropbox.

Begitu juga dengan webmaster situs-situs berita: mereka ingin semua berita yang udah susah payah mereka tulis dibaca orang. Semuanya, bukan cuma sebagian. Tapi kenyataannya, hanya berita tertentu aja yang rame dibaca orang. Solusinya: mereka memperbanyak internal link, yaitu hyperlink yang menghubungkan satu posting dengan posting lainnya di blog/website yang sama – seperti ini. Tentunya agar pembaca nggak bingung, internal link yang kita pasang di sebuah posting sebaiknya menuju posting dengan topik yang mirip.

Nah, berhubung sekarang zaman canggih, apa-apa bisa serba otomatis, maka para programmer mengembangkan sistem untuk menambahkan internal link secara otomatis. Sistem ini akan ‘membaca’ kata kunci apa saja yang ada di sebuah posting, lantas menambahkan internal link ke posting lain dengan kata kunci yang sama. Situs berita yang nampaknya menggunakan sistem internal link otomatis ini adalah Tempo.co. Kelihatannya cukup berhasil, kecuali untuk sebuah berita yang nggak sengaja gue temukan dua minggu lalu.

Beritanya tentang seorang cewek bernama Rara yang bikin konferensi pers karena merasa telah di-PHP-in Zulfikar, anak Wagub Jabar Deddy Mizwar.

Berita aslinya bisa diklik di sini.

Soal bener apa enggaknya gue nggak terlalu tertarik. Yang bikin gue ngakak setengah mampus justru internal link yang bermunculan di berita tersebut.

(lebih…)

Usul: Penulisan Berita Banjir yang lebih Akurat dan Kontekstual


Mulai musim hujan, mulai juga musim banjir.
Seperti yang udah-udah, berita tentang banjir mulai bermunculan di media massa.

Satu hal yang mengganggu gue adalah, seringkali berita-berita itu menggunakan ukuran banjir yang kurang akurat.

Contoh:

Banjir di kelurahan anu telah mencapai ketinggian sebetis orang dewasa…

Kecamatan anu terendam banjir setinggi dada orang dewasa…

Jalan anu terendam banjir setinggi perut orang dewasa…

Ini, menurut gue, nggak jelas banget. Tinggi orang dewasa kan berbeda-beda?

Coba aja bayangin: Shaquille O Neal dan Sonny Tulung, misalnya (sekedar ilustrasi tanpa bermaksud mendiskreditkan tinggi badan pihak tertentu) – keduanya sama-sama orang dewasa, tapi kan tinggi badannya terpaut jauh banget?

Untuk itu, gue menyarankan agar pemberitaan banjir menggunakan ukuran-ukuran yang lebih akurat / seragam agar tidak menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat. Lebih bagus lagi, kalo ukuran yang digunakan konteksnya sesuai dengan urusan banjir itu sendiri.

Jadi, gimana kalo pemberitaannya ditulis sbb:

Banjir di kelurahan anu telah mencapai ketinggian setara dengan kumis Fauzi Bowo…

atau

Perumahan anu direndam banjir setinggi 2 Fauzi Bowo bila ditumpuk tegak ke atas…

Biar gak bosan, bisa juga menggunakan variasi yang telah umum diketahui masyarakat seperti

Daerah anu sejak kemarin dilanda banjir setinggi ahlinya tata kota yang sekarang jadi gubernur DKI…

atau

Kelurahan anu kebanjiran setinggi lehernya si abang yang tempo hari nyuruh kita lapor kemacetan sama Tuhan…

Biar pemberitaannya berimbang, bisa juga pake ukuran lain yang juga akurat dan kontekstual seperti:

Banjir mencapai ketinggian yang sama dengan tinggi bemper mobil dinas mewah anggota DPRD DKI…

Gimana, ada media massa yang tertarik menyerap usulan gue?

%d blogger menyukai ini: