Iklan

Biar Rezeki Nggak Dipatok Ayam


Lagi di Bandung, dalam rangka nganterin Ida mau ngasih training di Oriflame nanti jam 11 siang.

“Yah, tapi projectornya ketinggalan di Jakarta nih,” kata Ida.

“Trus gimana, bisa pinjem ke seseorang nggak di sini?”

“Nggak ada. Ya udah deh nggak usah pake slide presentasi juga nggak apa-apa.”

Sebagai yang bertugas mendesain slide presentasi, tentunya gue agak kurang ridho kalo hasil karya gue kurang dimanfaatkan secara optimal.

Tapi… Kan ada Google.

Googling dengan keyword “sewa projector Bandung”, dua nama teratas mengklaim menyediakan layanan 24 jam. Jadi gue nggak merasa bersalah mengontak jam setengah 7 pagi.

Dua-duanya gue kontak via WA.

Ini hasilnya:

Yang kiri, sampe posting ini ditulis (jam 8) belum nyahut juga. Yang kanan, udah selesai transaksi sama gue, projectornya udah di tangan gue, siap pakai.

Buat kalian yang butuh projector dadakan di Bandung, bisa kontak 085642205160. Lokasinya di gang Pancasila, sebelah Baltos. Bisa sekalian sewa layarnya di sana.

Pesan moralnya: makanya bangun pagi, biar rezeki nggak dipatok ayam.

Iklan

Keanehan Terbaru Seorang Istri: Nyureng


Pada suatu siang, di kota Bandung.

Gue dan Ida lagi naik angkot yang lumayan penuh. Di hadapan kami duduk seorang ibu yang udah rada ‘sepuh’. Setelah beberapa saat angkot berjalan, istri mulai colek-colek.
“Suami… suami… ”
“Apa?”
“Itu… ibu di depan kok ‘gitu’ sih?”
“Gitu gimana?”

(lebih…)

Warung Sate Shinta


Setelah sebelumnya dihuni oleh resto “Bawang Merah” yang “heboh” itu (baca reviewnya di sini, lo akan ngerti apa yang gue maksud dengan “heboh”), sepetak tanah di seberang gedung Pusda’i kembali berganti penghuni. Hm.. kenapa ya di lokasi yang sepintas keliatan strategis ini justru banyak usaha yang gagal?

Penghuni baru di sini bernama “Warung Sate Shinta” (selanjutnya gue tulis WSS). Konon sih resto ini cabang dari Cipanas Puncak, cuma berhubung gue jarang main ke puncak gue nggak tau juga seberapa ngetop dia di sana.

Sesuai namanya, tentu aja menu andalan di sini adalah sate. Ada 3 jenis sate yang ditawarkan, yaitu ayam sapi dan kambing. Gue coba yang ayam dan kambing.

Ciri khas yang langsung terasa dari sajian sate mereka adalah aroma kari di bumbunya. Sate memang salah satu hidangan yang lumayan susah untuk dimodifikasi tanpa melenceng dari ‘pakem’ – dan menurut gue yang dilakukan oleh WSS cukup berhasil. Ukuran satenya juga pas, dan dibandingkan dengan Sate Has Senayan (d/h Satay House Senayan), satenya WSS lebih terasa ‘asli’ dan ‘pinggir jalan’ walaupun disajikan di atas hotplate.

Selain sate, buku menu WSS juga memuat aneka pilihan hidangan mulai dari sup asparagus, karedok, hingga steak. Gue cobain soup unik yaitu campuran antara sup asparagus dan sup ayam. Waktu terhidang, kedua jenis sup itu berdampingan tanpa bercampur dalam satu mangkok. penampilannya jadi unik, belang putih – hijau di dalam mangkok. Gimana cara nuangnya ke situ ya?

Urusan penampilan kayaknya cukup mendapat perhatian di sini. Mulai dari tuangan kecap di atas saos kacang yang cukup ‘artistik’, hingga bentuk cetakan nasi putih yang mirip tumpeng mini. Lucu juga.

Faktor minus yang menghalangi gue untuk ngasih 5 bintang ke resto ini adalah jumlah laler yang masih tetep aja segambreng seperti waktu jamannya “Bawang Merah” dulu (emang kenapa sih dengan lampu2 penangkap laler itu? udah nggak ngetrend atau gimana?) dan waktu tunggu yang relatif lama – sekalipun gue berkunjung bukan di jam sibuk.

Bawang Merah


***
UPDATE:
Resto ini udah bubar jalan, digantikan dengan resto Warung Sate Shinta yang reviewnya bisa diklik di sini.
***

Hati-hati kalo sukses jualan di Bandung. Kalo elo memulai usaha dengan sebuah ide orisinal, maka dalam waktu singkat akan bermunculan para peniru. Sedemikian banyaknya sehingga di kota sekecil Bandung resikonya adalah bunuh diri massal.

Contoh klasiknya adalah jualan jeans di Cihampelas. Di sana pasar jeans udah sedemikian jenuhnya sehingga lo dateng kapanpun, bulan apapun, selalu lagi “clearance sale 70%”. Toh tetep aja toko-toko jeans di sana sepi pengunjung. Jalan Cihampelasnya sih tetep aja macet, tapi orang-orangnya pada numplek di Ciwalk – untuk ngopi, bukan untuk beli jeans.

Kasus yang sama terjadi pada FO. Bisnis FO keliatan sukses, lantas tiap minggu muncul FO baru. Di jalan Otten bahkan sempet ada FO sampe 5 biji – yang sekarang udah bubar semuanya.


Ucapan selamat datang yang (mencoba keras untuk tampil) unik dan komunikatif

Trend terbaru yang kayaknya lagi hangat di kalangan para pengusaha latah di Bandung adalah resto self-service yang menyajikan masakan Sunda. Yang pertama melejit adalah resto ‘Bumbu Desa’ – sekarang udah punya 2 outlet karena outlet pertamanya bikin macet lalu lintas saking ramenya. Yah, mungkin dia bukan yang pertama banget sih, karena sebelumnya udah ada resto ‘Ampera’. Tapi yang pertama kali mengemas tampilannya dalam bentuk yang ‘modern’ dengan logo yang funky ya si ‘Bumbu Desa’ ini. FYI, Bumbu Desa memajang logo dengan font imut-imut dan gambar cabe merah bulet terselip di tengahnya. Nggak lama kemudian, muncullah ‘Dapur Cobek’ di jalan Sulanjana. Gue dan Ida pernah ke sana sekali, dan menemukan bahwa jumlah waiternya 2 kali lipat lebih banyak dari jumlah pengunjung. Rupanya orang masih tetep memilih pergi ke ‘Bumbu Desa’, sekalipun logo ‘Dapur Cobek’ bergambar cobek kartun di tengah logonya. Walaupun begitu, rupanya kondisi memprihatinkan si ‘Dapur Cobek’ belum membuat gentar para pengikut karena baru-baru ini buka sebuah resto bernama ‘Bawang Merah’. Dan ini pengalaman gue, Ida, dan seluruh keluarga Ida makan di sana di sebuah hari Minggu yang cerah.


Galau menerima order

Resto ini menempati sebuah sudut strategis di jalan Diponegoro – berseberangan dengan Pusdai, gedung resepsi paling top di Bandung dan di tengah rute populer menuju Dago. Bangunannya adalah sebuah bangunan tua peninggalan jaman kolonial Belanda, memperkuat atmosfir ‘tempo doeloe’ yang makin terasa berkat kehadiran para waiter berbaju koko dan waitress berkebaya putih. Mencoba sedikit berbeda dengan ‘Bumbu Desa’ maupun ‘Dapur Cobek’, ‘Bawang Merah’ menawarkan beberapa item menu yang dibuat berdasarkan pesanan – di luar menu2 yang bisa langsung dicomot. Kemarin itu gue pesen ayam pengasepan or something, pokoknya deskripsi dari mbak waitress itu adalah ayam yang diasep terus digoreng. Sounds delicious. Ida pesen ikan nila bakar. Selebihnya, lalapan dan sambel nyomot dari deretan menu self-service.

Suasana Indonesia di jaman kolonial makin terasa setelah order disampaikan, karena kemudian para waiter dan waitress saling berlarian panik seperti lagi dikejar Belanda. Kalo gue perhatiin, urutan pengelolaan ordernya adalah sebagai berikut:

  1. Pengunjung melambai memanggil waiter / waitress.
  2. Waiter / waitress sedang sibuk melayani pengunjung lain.
  3. Pengunjung memanggil lagi dengan tampang bete.
  4. Mbak-mbak dari balik meja kasir turut melambai dan meneriakkan beberapa komando kepada para waiter / waitress di tengah medan laga.
  5. Mendengar teriakan dari balik meja kasir, beberapa waiter / waitress berdatangan menuju meja pengunjung yang tadi manggil.
  6. Para waiter / waitress yang tadi sedang menuju meja pengunjung saling menyadari bahwa untuk melayani pengunjung hanya diperlukan satu waiter / waitress, maka sebagian besar dari mereka balik badan – urung mendatangi meja pengunjung.
  7. Melihat rekan-rekannya pada balik badan, seorang waiter / waitress yang tersisa ikut-ikutan balik badan.
  8. Pengunjung yang belum juga mendapat pelayanan terus melambai dengan wajah yang semakin bete.
  9. Mbak-mbak di meja kasir berteriak lagi, kali ini menujuk salah seorang waiter / waitress secara spesifik.
  10. Waiter / waitress yang dipanggil secara spesifik mendatangi meja pengunjung dan menerima order.
  11. Order dibawa ke balik meja kasir, diterima oleh seorang waiter / waitress lain.
  12. Waiter / waitress di balik meja kasir menuju lobang di dinding yang menghubungkan dunia luar dengan tempat penyekapan bernama dapur.
  13. Tunggu 20 menit.
  14. Pengunjung yang tadi melambai lagi dengan maksud menanyakan pesanannya.
  15. Ulangi langkah 2 – 10.
  16. Waiter / waitress yang menerima ulangan order menuju lobang di dinding dengan wajah panik.
  17. Melihat rekannya mendatangi lobang di dinding dengan wajah panik, beberapa waiter / waitress lainnya turut mengiringi sebagai pertanda simpati.
  18. Beberapa waiter / waitress bergerombol di depan lobang di dinding.
  19. Mbak-mbak di balik meja kasir berteriak lagi untuk membubarkan gerombolan di depan meja kasir.
  20. Tunggu 10 menit.
  21. Muncul seorang bapak berwajah Arab, nampak jauh lebih ‘senior’ daripada para waiter / waitress, tidak berseragam, mengantarkan pesanan.

Deretan tudung saji berisi lalat

Man, suasananya bener-bener ‘galau’ abis. Waiter / waitress berlarian ke sana kemari, saling bertabrakan dan bersikutan, tumpang tindih melayani pesanan. Nanti kalau suasana galau udah semakin memuncak, tiba-tiba terdengar =PRANGGG…!!= pesanan tumpah berantakan dari baki. Belum lagi ditingkahi dengan serbuan lalat yang segede-gede tawon. Yang menarik, pilihan menu self-service semuanya ditutup dengan tudung saji. Tadinya gue kira untuk mencegah lalat masuk. Setelah gue liat dari dekat, ternyata di dalamnya justru terdapat sejumlah lalat yang terperangkap nggak bisa keluar. Mungkin itu hukuman dari managemen resto Bawang Merah bagi lalat-lalat nakal yang telah mengganggu pengunjung.


Kucing turut menyambut tamu

Nggak cukup dengan lalat, muncul seekor kucing besaaar… berwarna oranye-kuning. Ih sumpe deh tuh kucing gede banget. Kucing mondar-mandir memberikan kata sambutan kepada para pengunjung – tentunya dalam bahasa kucing – dan setelah pesanan datang turut duduk di sebelah pengunjung dengan cakar menggapai-gapai menu di atas meja. Bila tidak sibuk menemani pengunjung makan, kucing melakukan inspeksi dengan mondar-mandir di bawah meja sambil mengangkat buntutnya yang panjang dan keras itu tinggi-tinggi – bikin sejumlah pengunjung terpekik kaget saat kakinya tertabrak buntut. Pokoknya, buat yang lagi bosen dengan kehidupan rut
in, resto ini menyuguhkan banyak kejutan untuk kembali menggairahkan hidup.

Saat pesanan keluar, yah… ayam asepnya lumayan lah. Sambelnya juga. Berhubung gue nggak doyan ikan jadi gak tau rasa ikan bakarnya. Tapi keliatannya semua pada doyan. Minimal 3 bintang lah untuk rasa makanan. Saat makanan baru setengah termakan, ibunya Ida langsung memanggil waiter, minta bon. Ida heran, “Kok minta bon sekarang?” Ibunya menjawab, “Liat aja tuh meja sebelah, dari tadi minta bon nggak keluar-keluar. Udah setengah jam lebih. Daripada nanti ketinggalan Cititrans, kan mending minta bon dari sekarang.” Sebuah pengamatan antisipatif yang sangat cermat karena memang betul, bon baru keluar 35 menit kemudian. Prosedurnya mirip dengan prosedur menerima pesanan. Dan buat yang makan di sana rame-rame, cek sekali lagi bonnya. Sebuah milkshake coklat yang sempat dipesan tapi nggak keluar karena stok habis tetap muncul di bon.


PRANGGGGG…!!!

Hati yang galau sedikit terobati saat muncul seorang bapak berdasi, menanyakan kesan dan pesan kami mengenai pengalaman makan siang di resto ‘Bawang Merah’. Gue sampaikan saran perbaikan agar resto membeli lampu anti lalat yang banyaaaak… dan memperbaiki urutan penanganan order. Kalo perlu menu berdasarkan pesanan dihilangkan aja, jadi semua pesanan menggunakan sistem self-service.

Selesai makan, semua beranjak pulang untuk mengantar gue dan Ida ke pangkalan Cititrans. Baru beberapa langkah meninggalkan meja, terdengar lagi… =PRANGGG…!!=

Galau abis man, galau abis…

Note: Klik pada foto kalo mau liat lebih jelas.

Menikmati indahnya Bandung


Selamat pagi semuanyaa…

Sekarang jam 10 kurang 10 pagi, dan gue udah di warnet lagiii… hehehe…
quick update aja, tadi pagi ibu nelepon ke rumah mbak Henny dan dapet kabar bahwa dia udah berangkat ke Bandung. Waduh, ibu ceria banget dengernya, considering hantaran2 yang hancur lebur itu.

“mau sarapan apa bu?”
“aku punya kornet, trus itu si Lis lagi masak nasi.”
“nggak mau bubur?”
“ah enggak.”
“ya udah aku mau pergi makan bubur ya”
“ini kornetnya?”
“amit-amit bu, udah nyampe bandung sarapannya kornet… hiii… ”

Maka gue langsung meluncur ke Sulanjana, markasnya mang Oyo. Kaca mobil gue buka, angin pagi berhembus. Oh, i love this city! Mungkin karena dulu gue berkenalan sama Bandung lewat orang yang juga cinta mati sama kota ini, persepsinya menular ke gue. Entah kenapa, kalo ke Bandung, baru lewat tol Pasteur aja rasanya udah seneng banget! Dan gue enjoy2 aja tuh, keluyuran sendirian kayak sekarang ini. Dulu gue juga sering gitu, cuti dari kantor beberapa hari, ke Bandung khusus buat keluyuran sendirian.

Di jalan, Ventha temen gue sms, ngasih tau dia udah nyampe Bandung. Nanin juga sms, bilang bahwa dia akan nyampe Bandung sekitar jam 12. Gue bilang, nanti gue samperin, kita cari makanan enak. Gue sms sigit nggak ada reply. Belum bangun kali dia, semalem nyampe bandara aja udah jam 11.15. Nggak tau deh rombongan Ari cs nyampe Bandung jam berapa.

Ok guys,segitu dulu aja. gue mau ke gramedia, beli cat merah buat
ngewarnain pitanya ida_baik yang mau ditempel di mobil penganten.

Sampe ketemu di update berikut!

Sierra


Sebagai orang yang udah menjelajahi Bandung lebih dari 10 tahun,* gue cukup surprise waktu baca reviewnya Rani tentang Sierra, resto yang gue sama sekali belum pernah denger sebelumnya. Gue emang belum nyobain semua tempat di Bandung sih, tapi biasanya sekalipun belum pernah ngedatengin, paling enggak gue pernah denger namanya. Makanya gue penasaran banget pingin liat kayak apa tempatnya, apalagi Rani ngasih 5 bintang gitu di reviewnya.

Sialnya, di banyak kesempatan gue ke Bandung setelah review itu online, adaaa aja halangannya sehingga gue batal ke Sierra. Yang lagi nggak bawa mobil lah (tempatnya susah dijangkau pake kendaraan umum), yang mendadak pingin nyoba tempat lain lah, yang nggak sempet lah… Sampe akhirnya pas minggu lalu gue ke Bandung, kesampean juga gue ke sana.

Dari tampak luarnya aja resto ini cukup mengesankan. Seperti jamaknya view restaurant lain di Bandung, dia menjual pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Dan mulai lo masuk ke parkiran pun lo udah disuguhi pemandangan yang bagus banget. Perlu dicatet juga, gue ke sana siang2. Gue yakin kalo malem2 pasti pemandangannya lebih bagus lagi!

Konsep bangunannya serba minimalis, dengan jendela2 setinggi ruangan yang bikin suasana jadi lebih alami. Lo bisa pilih, duduk di dalem atau di balkon yang mengelilingi resto ini. Dengan adanya jendela2 yang segede-gede gaban** itu, lo tetep bisa menikmati pemandangan sekalipun duduknya di dalem.

Sekarang tentang menunya. Mereka menyajikan berbagai jenis masakan, ada Indonesia, Eropa, sampe Jepang. Gue pesen Chicken Sierra. Sajiannya berupa ayam goreng yang diisi bayam… unik banget. Dan enak juga, dengan porsi yang melegakan bagi orang yang telat makan seperti gue waktu itu. Makanan yang dipesen Ida gue lupa namanya, pokoknya sejenis pasta gitu deh. Enak juga. Sup krimnya pake roti gembung di atasnya, ala Zuppa-Zuppa, tapi di menu namanya bukan Zuppa-Zuppa. Apa, gitu, lupa gue. Yang jelas enak. Cara penyajiannya juga cukup diperhatikan, jadi selain bikin kenyang juga enak dilihat. Yang paling mengesankan buat gue, pramusajinya cukup ramah dan punya product-knowledge yang memadai. Penyakitnya view-restaurant lain di Bandung seperti the Peak, the Valley, atau Kampung Daun adalah pelayanannya yang buruk. Kemungkinan karena nggak usah dilayani dengan baik aja orang udah pada mau dateng dengan motivasi ingin menikmati keindahan pemandangan. Contohnya salah satu kejadian yang bikin gue males dateng lagi ke the Valley: sekitar jam 11 gue manggil waiter untuk mesen minuman dan dijawab dengan fungkeh banget “Udah last order pak, tadi kan udah dibilangin!” Idih, kapan dia ngomongnya sama gue??

Anyway, balik ke Sierra, dengan segala plus point tersebut, harga makanannya juga terjangkau banget. Rata2 20 ribuan, walau ada juga sih steak yang 80 ribuan.
Kesimpulannya: highly recommended banget, Sierra adalah tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Bandung, dan the Valley adalah tempat yang wajib dihindari.
*hiperbola banget, kenyataannya cuma 2 bulan di tahun 91, 2 minggu di tahun 93, 3 hari di tahun 97, dan seminggu-seminggu di setiap tahun sesudahnya.
**sebuah ungkapan yang kurang tepat sebenernya, karena gaban itu gak gede2 amat. Nggak segede robotnya Goggle V atau Godzilla, yang jelas.Klik di sini untuk mengunjungi situs tentang serial Space Cop Gaban.

Pengkhianatan di balik legenda Mang Oyo


mang oyo baru

Foto lokasi Bubur Mang Oyo, Jalan Sulanjana Bandung,

Cerita ini sebenernya udah rada basi, udah lewat sebulan kejadiannya. Tapi gue pikir, informasi di dalamnya cukup penting diketahui khalayak, jadi gue tulis juga.

Seminggu setelah Ari berkelana ke Bandung bersama sang MG, gue mengajak Ida dan oknum yang saat itu sama sekali belum gue ketahui identitas rahasianya sebagai MG untuk menjajal jalan tol Cipularang. Kalo diinget2 lagi sekarang, memang terdapat kejanggalan pada diri oknum MG waktu itu. Bagaimana mungkin si MG yang setahu gue jarang piknik ke Bandung itu bisa ngerti banget soal Cipularang? Sepanjang jalan berulang kali terdengar dia berceloteh; “Nah, abis belokan yang ini akan ada anu… nanti di deket bukit yang itu kita bisa liat anu… kalo kita udah bisa liat anu, berarti udah hampir sampe…” Fasih banget.

Belakangan baru gue mafhum, ternyata itulah ekspresi orang yang tengah berbunga-bunga mengenang perjalanan cinta seminggu kemarin. Tapi.. ah sudahlah… lengkapnya baca aja di sini (-broken link-).

Bandung, punya sejumlah titik yang wajib gue kunjungi. Salah satunya adalah bubur Mang Oyo. Sebagaimana tercantum di review gue yang ini, tadinya gue cuma tau bubur Mang Oyo ada di deket Edward Forrer Dago sejak pindah dari H Wasid. Tapi sejak pengalaman buruk ngantri kelamaan waktu kunjungan ke Bandung yang ini, gue jadi lebih suka dateng ke cabangnya yang di Sulanjana. Tempatnya lebih nyaman, antrian lebih pendek. Tempat ini kalo malem dipake buat kafe taman, jadi settingnya juga lebih cozy tanpa bangku plastik. Kurang lebih kayak Toko Yu yang di depan RS Boromeus deh.

Waktu lagi tengah-tengah makan, tiba-tiba nongol seorang bapak berkemeja putih dan berpeci… tak lain tak bukan, Mang Oyo “the Legend” himself! Masih seperti dulu, Mang Oyo tampil menghibur pengunjung dengan joke2nya dengan perbandingan 60:40 antara yang garing dan yang lucu. Dan baru kali ini gue ngeliat langsung beliau mendemonstrasikan atraksi andalannya: membalikkan semangkok bubur tanpa tumpah!

Kebetulan beliau berdiri agak deket sama meja kami, jadi sekalian aja gue tanggap. Tanpa disengaja, baru pertanyaan pertama udah langsung menyenggol topik sensitif.
“Wah Mang Oyo, tambah banyak ya cabangnya! Buka di mana lagi sih Mang, selain di sini dan di Dago?”
Tiba-tiba wajahnya yang selalu ceria itu berubah serius. “Yang di Dago itu mah PALSU!”
“Loh, palsu gimana Mang? Saya liat yang jualan kan ibu-ibu yang itu juga, yang dulu bantuin di Haji Wasid?”
“Iya, si teteh itu kan, yang dulu bagian keuangan? Dia itu jahat, mau mematikan saya.”

Ternyata begini ceritanya:
Mang Oyo pindah dari lokasi H Wasid karena udah nggak diijinkan lagi sama warga sekitar. Mungkin penghuni sana sumpek juga kali, tiap hari di depan rumah penuh mobil pengunjung. Akhirnya Mang Oyo dapet lokasi baru, di Sulanjana dan di Gelap Nyawang.
Kebetulan pada saat yang bersamaan, si teteh bagian keuangan tersebut di atas mengajukan pengunduran diri dengan alasan ingin mencoba usaha bubur sendiri, dan minta ijin pasang bandrol “Bubur Ayam Mang Oyo”.

“Mang Oyo mah waktu itu ngasih aja, namanya kita kenal udah lama , udah kaya sodara sendiri.”
“Saya kira si teteh itu emang sodara, Mang. Bukan ya?”
“Bukan.”

Mang Oyo melanjutkan cerita:
Biar para pelanggan setia nggak kecele, Mang Oyo memasang pengumuman di lokasi lamanya di H. Wasid: “Bubur Mang Oyo pindah ke Sulanjana, Gelap Nyawang, dan Dago.” Waktu baru pindah ke Sulanjana, pengunjung menurun drastis. Awalnya Mang Oyo masih maklum, mungkin orang masih belum tau. Tapi setelah cukup lama ternyata belum ada perbaikan juga, masih tetep aja sepi.

Baru belakangan Mang Oyo mencium gelagat nggak beres waktu salah satu pengunjung ada yang bilang, “Saya baru tahu Mang Oyo buka juga di Sulanjana, kirain cuma di Dago.”

Lho, kan di pengumuman udah ditulis, cabangnya ada 3? Kenapa orang cuma tau yang di Dago? Mang Oyo mendatangi lokasi lamanya di H. Wasid dan menemukan, papan pengumumannya telah digantimenjadi “Bubur Ayam Mang Oyo pindah ke Dago” tanpa menyebut-nyebut cabang Sulanjana dan Gelap Nyawang.

“Mang Oyo langsung ngomong sama si teteh, Mang Oyo bilang, ‘Teteh, kalo mau usaha harus yang jujur, ini kan namanya ngebohongin orang tua!’ Mang Oyo nggak terima, si teteh kok begitu caranya, mematikan usaha Mang Oyo. Mang Oyo kan masih punya istri, punya anak-anak yang butuh sekolah.”

Sebagai langkah korektif, Mang Oyo mencetak flyer yang dengan huruf bold yang digaris bawah menginformasikan “Bubur Mang Oyo hanya buka di dua cabang, Sulanjana dan Gelap Nyawang.”

“Sekalian aja Mang Oyo tempel2in pengumuman itu di sekitar cabang Dago. Sejak itu, Alhamdulillah, orang jadi pada tau, dan di sini jadi mulai rame lagi.”

Gue ternganga takjub mendengar persaingan bisnis di level bubur ayam pinggir jalan ternyata juga kejam dan penuh intrik.

“Jadi, Mang Oyo sendiri lebih banyak di sini atau di Gelap Nyawang?”
“Di sini ajalah, adem,” jawab Mang Oyo yang udah kembali ke gaya ngebodornya. Mungkin jengkelnya udah reda.
“Kok nggak pake topi koki dan celemek seperti dulu Mang?” Dulu, Mang Oyo suka tampil dengan topik koki dan celemek dengan warna menyolok, berkeliling ke meja-meja pengunjung untuk ngebodor atau sekedar menyapa.
“Enggak lah, Mang Oyo udah tua. Topinya masih ada di rumah, udah dipensiun,” kata legenda jajanan kota Bandung yang berjualan bubur ayam sejak tahun 70-an itu menutup obrolan.

Jadi, buat yang mau nyoba Bubur Ayam Mang Oyo, pastikan dateng ke cabang resminya ya, yaitu yang di Sulanjana dan Gelap Nyawang!

Bakmi Akung


Ini bakmi terenak di Indonesia, menurut gue yang kalo ketemu makanan enak langsung ngasih gelar “terenak di Indonesia”.

Cocok buat para pengunjung kota Bandung di akhir pekan yang abis pegel-linu kena macet trus kelaparan; porsinya gede bangeeeet!

Sebenernya kalo dibandingkan dengan sewaktu masih berlokasi di bilangan GOR Saparua, porsinya sekarang rada mengecil. Mungkin untuk menahan agar harga tidak naik terlalu banyak. Tapi tetep aja, terlalu gede untuk dimakan sambil mengikuti tata krama John Robert Powers. Sebagai ilustrasi, pernah pada suatu waktu gue ada tugas kantor ke Bandung, dianter sopir kantor. Akibat kena macet etc etc, kita berangkat jam 1/2 11 dan baru sampe Bandung jam 3 lewat. gue pikir, nih pak sopir pastinya lapar berat, maka langsung gue ajak ke tempat ini dan gue beliin porsi full. Eh, ternyata doi nggak sanggup loh ngabisinnya. Malah dia mencurigai gue, “Pak, ini sebenernya porsi untuk berapa orang sih?”

Pilihan menunya sederhana aja: Mi atau Bihun. Masing2 dibagi jadi 2 pilihan, biasa atau yamin (pake kecap manis). Pilihan toppingnya: Baso Pangsit Somay Tahu Ceker. Lo bebas mau pesen kelima topping tersebut atau sebagian aja. Jadi, cara nulis pesanannya kurang lebih sbb:
1 Mi Yamin BPS
1 Bihun PSC
1/2 Mi BC
dst.

Berkaitan dengan ukuran porsinya yang luar biasa itu, gue sarankan kalo lo mau nyoba kelima toppingnya, mi-nya cukup pesen 1/2 porsi aja deh, daripada mubazir.

Oh iya, prosedur pemesanannya: begitu dateng lo langsung ke kasir, minta bon pemesanan. Lo tulis deh tuh pesenan lo di bon itu, trus balikin ke si kasir. Nanti sama dia lo dikasih nomer meja. Kalo udah dapet nomer meja, lo tinggal cari tempat duduk, dan pastikan tu nomer meja ada pada posisi yang mudah dilihat. Nanti waiternya akan nganterin pesanan berdasarkan nomer tersebut.

Sedikit tips untuk yang tertarik nyoba: kalo bisa dateng sebelum jam makan siang, sekitar jam 11-an gitu. Sebab mulai jam 12 sampe seterusnya, penuhnya kaya terminal Kampung Rambutan di H-2. dan kalo udah ketemu ‘peak season’ kaya gitu, lo jadi serba salah: nunggu pesenan kok nggak dateng2, tapi mau ngemil sambil nunggu, takut nanti gak sanggup ngabisin bakminya.

Tentang rasa bakminya sendiri, nggak banyak yang bisa gue ceritain. Dari segi isi nggak ada yang istimewa, sebenernya. Nggak kaya bakmi lain yang suka pake jamur atau apalah sebagai pelengkap. Cuma bakmi dan ayam, dan kalo mau kelima topping yang disebut di atas. Tapi yang jelas rasa bakminya mantap banget, sedap deh pokoknya!
Harga per porsi, termasuk minum teh botol berkisar belasan ribu, nggak sampe 20 ribu perak.

Midnight Run to Bandung


Gunung kudaki, samudera kuseberangi, Cikampek-Pasteur kulalui, Yang…
Sejak Ida udah dapet kepastian tentang tanggal sidang sarjananya, sebenernya gue udah kepikiran untuk pergi ke Bandung nungguin dia sidang. Cuma masalahnya, load kerjaan gue lagi banyak-banyaknya, dan kayaknya ngga profesional bener minta cuti dengan alasan “nemenin pacar sidang sarjana”. Di sisi lain, kalo gue udah bilang dari jauh2 hari akan dateng nemenin dia sidang, nanti tau2 menjelang harinya kerjaan gue bener2 ga bisa ditinggal, kan kesian anak orang kecewa. Jadi gue memutuskan diem2 aja sambil berusaha geberesin kerjaan sedini mungkin.

Senin, H-4 (istilah favoritnya Ida), gue ngadep boss minta ijin cuti, dan untungnya dikasih. Hore..!! Tapi lagi long weekend gitu, gue udah pasrah dan ngga coba2 booking hotel. Dijamin ngga akan dapet deh! Belum tentu karena hotel2nya betulan penuh, tapi karena mereka ngga mau beresiko kamarnya jd mubazir kalo orang yg nge-book ngga jadi dateng, di saat tamu dadakan lagi banyak gitu.

Kamis, H-1, gue mulai mematangkan rencana. Gue tau besok dia akan ujian di gedung namanya Balai Bahasa, di kampusnya. Letak kampusnya gue tau, Balai Bahasanya yang masih gelap. Tapi kalo gue nanya2 terlalu detil, ntar dia curiga. Jadi gue tanya tentang jam ujiannya aja, biar bisa perhitungin harus berangkat jam berapa dari Jakarta. Dia bilang mau berangkat dari rumah jam 1/2 7 pagi, krn harus ngumpul di kampusnya jam 7. Maka dengan perhitungan jalan nggak akan macet, gue berencana berangkat dari Jakarta jam 3 subuh.

Walaupun dia sama sekali ngga ngira gue akan dateng, tetep perlu satu faktor pengaman lagi untuk memastikan keberhasilan rencana gue, yaitu dengan ngaku2 sakit. Dengan demikian, dia ngga akan curiga kalo malem itu gue tidur lebih cepet dan absen dari acara “ngobrol malam” seperti biasanya. Hehehe… pikir2, seandainya untuk urusan kerjaan gue seteliti dan seperfeksionis ini, mungkin sekarang gue udah jadi Managing Director kali!

Efek sampingnya, gue sempet kerepotan juga menenangkan dia yang jadi cemas mikirin gue tiba2 sakit, sampe gue nyariisss… keceplosan membocorkan rencana gue sendiri. Waktu dia nelepon, gue lagi beres2 meja.
“Kamu lagi ngapain sih kok kedengerannya sibuk banget?”
“Lagi beres2 meja, kan besok mau…” hampiiir gue ngomong ‘kan besok mau cuti’.
Untung dengan jeniusnya gue berhasil menemukan kalimat yang masih nyambung “…mau dipake kerja lagi…” (Oh come on!)

Rencana gue, sore itu gue mau cabut tenggo dari kantor, pulang ambil mobil, isi bensin dan belanja bekal buat di perjalanan, packing bentar, paling lambat jam 8 udah bisa tidur. Eee… taunya jam 5 kurang sedetik boss minta gue ngedraft surat!! !!!@#$%#$@*^#?+!!!

Jam 1/2 7 baru bisa keluar dari kantor, jalan kaki pulang. (tiap hari emang gue pulang kantor jalan kaki ke rumah, sekitar 3.5 KM. Maksudnya buat latihan cardio kecil2an. Tapi sempet ada temen kantor yang salah mudeng, dikiranya gue ga punya ongkos, dia sampe maksa2 mau nebengin.) Sampe rumah jam 1/2 8. Ida sms, ngga gue bales. Kan ceritanya gue udah tidur krn lagi sakit. Langsung ambil mobil, pergi ke toko roti deket rumah buat beli bekal. Perhitungan gue, waktu berangkat emang gue akan sarapan dulu, tapi nanti pas jamnya gue sarapan, pasti laper lagi.

Dasar niat baik seringkali banyak hambatan, toko rotinya tumben2an tutup, padahal biasanya buka sampe jam 9. Gue banting stir ke tukang tambal ban, mau cek tekanan angin. Believe it or not, abang tambal bannya lagi ngeluyur entah ke mana. Kiosnya sih buka, orangnya yang ga ada. Ah, ya udah, gue isi bensin aja dulu. Menjelang sampe ke pompa bensin, nemu tukang tambal ban lagi, kali ini lengkap dengan abangnya.

“Bang, mau cek angin.”
“Oh iya bentar ya pak.” kata abangnya sambil mingser2 ke kolong mobil combi di depan gue. Gue tungguin kok ga keluar2, ternyata dia l agi disuruh nyopot ban serep.

Ngga usah pake sekolah psikolog, dari caranya nyimpen ban serep gue bisa yakin mas-mas pemilik combi itu orangnya “konservatif” banget; selain disekrup di 4 titik ke dek bawah, diiket pake rantai gembok sepeda, masih diiket lagi pake kawat di 4 titik, masing2 kawatnya segede2 kawat gantungan baju! Ada kali 20 menit waktu tidur gue yang sangat berharga terbuang nungguin abang tambal ban menjalankan operasi pembebasan ban serep.

DAN pengisian angin di mobil gue ngga nyampe 3 menit, harap dicatat.

Pengisian bensin berjalan dengan lancar, dan abis ngisi bensin gue baru inget deket rumah kan ada Holland Bakery. Beli roti di sana, terus pulang.

Di rumah, masih harus packing dulu. Harusnya emang gue nyicil packing dari bbrp hari yang lalu, jadi-ngga jadi berangkat kan udah siap. Namun begitulah, penyesalan selalu datang belakangan. Selesai packing udah jam 11, 3 hrs behind schedule.

Sebelum tidur gue nge-set task scheduler di komputer gue, biar jam 2.30 nyalain playlist winamp yang isinya lagu rock semua. Jadinya komputer gue berfungsi sebagai weker tercanggih di dunia, bisa internet! Heheheh…

Jam 1/2 3 pas gue bangun, dan ini prestasi luar biasa untuk seorang gue. FYI, dulu pernah ada acara training di puncak, peserta diminta kumpul di kantor jam 1/2 7 untuk berangkat bareng naik bis, dan gue baru bangun jam 8 dengan suksesnya. Akibatnya 1 bis ditinggal untuk nungguin gue seorang, and words can’t describe how much hate in everybody’s eyes when they’re looking at me entering the bus at 8.30…

Ngunyah sarapan jam 3 kurang ternyata lebih sulit dari perkiraan gue, sehingga gue baru jalan jam 3.15. Langsung ngebut ke jalan tol Cikampek. Mobil kutu 800cc pinjeman gue geber sampe lari 145 KM/h. Kayaknya itu udah bates maksimalnya banget, menilik dari suara dan getarannya yang udah kayak mesin cuci diisi sprei 2 biji. Tapi untuk ukuran mesin yang cuma 800cc, dan AC nyala, kecepatan segitu udah bagus banget.

Jam 5 lewat gue udah hampir putus asa krn langit udah mulai terang dan gue belom nyampe2 juga ke tol Cileunyi, masih naik turun di perbukitan selepas Purwakarta. Jalanan emang relatif sepi, tapi sekalinya ketemu lawan bukannya mobil biasa, tapi truk2 container 18 roda yang jalan berendengan bisa sampe 3-4 truk sekaligus. Kan nyalipnya susah. Gue rada males juga ngebayangin truk2 itu yang bannya aja lebih tinggi dari mobil gue.

Jam 6 kurang 1/4 gue masuk Bandung, masih nekad tancap 120 KM/h di dalam kota. Kalo Ida tau kelakuan gue, pasti gue dimarahin abis2an. Gue coba nelep ke HP-nya, ga diangkat. Wah mampus, jangan2 udah keburu berangkat ni anak. Tapi gue tetep menuju ke rumahnya. Plan B: kalo dia udah berangkat, gue akan langsung nyusul ke kampusnya.

Tapi… leganya gue waktu pas nyampe di depan pintu rumahnya, dia sms, bilang bahwa dia baru selesai mandi. Thanks God! Pheewww.. Langsung gue
telepon dia, ngasih tau gue udah ada di depan rumah… Baca deh apa kesan2 Ida waktu tau2 gue nongol di rumahnya gitu…:-)

Akhirnya, hari itu dia lulus sidang, dan jadi lulusan terbaik pula! I’m so proud of you, yang!

Bubur Mang Oyo, Runner-up Bubur Ayam Terenak di Indonesia


bubur_mang_oyo_bandung

Ini adalah reposted entry, karena pas beres-beres link gue nemu beberapa entry lama lenyap tanpa bekas. (Oktober 2015)

Buat penggemar bubur ayam yang domisilinya di kota Bandung, kebangetan kalo belom pernah nyoba Bubur Mang Oyo.
Style-nya bubur kental yang kalo mangkoknya dibalik ngga tumpah (ini katanya Ida lho… gue sih belom pernah keisengan ngebalik2 semangkok bubur Mang Oyo, sayang amat…!), jadi buat penggemar bubur encer modelan bubur ayam cikini mungkin nggak terlalu terkesan.
Soal selera ngga bisa diperdebatkan lah, bubur kental vs. encer masing2 punya penggemar fanatik, tapi gue lebih suka yang kental kaya bubur Mang Oyo ini. Aksesorisnya: ayam, cakwe, kacang kedelai, seledri, krupuk, ati-ampela (optional), telur ayam pindang (optional). Kacang kedelai, seledri, dan krupuknya free-flow, lo boleh minta tambah selama masih belom sungkan. Gue sendiri kalo makan di sini jarang make sendok, buburnya gue sendokin pake krupuk…. hmmmm…sedaaap!!! Konon Mang Oyo udah buka cabang di beberapa tempat, tapi gue selalu dateng ke pusatnya di H. Wasid ini.

Update: 

Sekarang Mang Oyo udah punya tempat baru di Jalan  Sulanjana, seberang pemancar Hard Rock FM Bandung. Mau tau cerita di balik kepindahan lokasinya? Klik di sini
FYI, kalo hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya, dia membuka counter take-away, biar pelayanannya lebih cepat. Jadi kalo lo mau beli, lo dateng ke meja pendaftaran, sebutin pesanan lo, baik “dine-in” maupun “take-away”, nanti lo dikasih nomer dan bukti pembayaran. Pesanan dine-in akan dianter ke manapun lo duduk (boleh di warungnya, boleh di mobil), sementara pesanan take-awaynya nanti ditukarkan dengan bukti pembayaran. Canggih kan workflownya? Hehehe… Kelemahannya cuma satu: dia ngga jual teh botol dingin.

Update: 

Di lokasi barunya, tersedia aneka minuman dingin, termasuk teh botol. 

Iklan
  • Komentar Terbaru

    riezal bintan pada job value: solusi keadilan unt…
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    Nita Prihartini pada Momen Pengubah Hidup
    Momen Pengubah Hidup… pada bsmr = belajar sampe mati…
    Crystal House pada siapa yang sering kesetrum sep…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 692 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: