Coba-Coba Gak Minum Gula Sebulan, Ternyata Begini Akibatnya


Sejak keberhasilannya ‘puasa’ yang manis-manis sebulan penuh, Rafi mulai sering menggugat. 

“Bapak curang! Kenapa cuma aku yang nggak boleh minum manis? Kenapa Bapak boleh?”

“Loh, siapa bilang kamu nggak boleh? Kamu boleh minum manis, tapi… kalo nggak minum manis, dapet hadiah,” jawab gue, “Lagipula, Bapak kan olah raganya jauh lebih banyak daripada kamu.”

Tapi diem-diem gue mikir juga, “Apa iya, konsumsi gula gue udah ideal?”

(lebih…)

[Herbalife Diary 012] udah seberat ini yang gue buang



dari 102.3 kg ke 82.8 kg, 19.5 kg dalam 6 bulan.

Setara dengan bobot 1 botol air minum galonan.
Nggak pake lapar, nggak pake lemes. Kalian juga bisa!

Mau? Kontak gue di si.mbot@gmail.com ya!

[Herbalife Diary 011] Nggak sempet olah raga? Ah, masa?


“Gue ingin langsing, tapi nggak sempet olah raga. Cukup nggak kalo dengan hanya disiplin minum Herbalife aja?”

Jawabannya, sayang sekali, enggak.

Bahkan di website resmi Herbalife sendiri tertulis, “A healthy diet and regular physical activity are major factors in the promotion and maintenance of good health throughout your life.” Jadi, untuk langsing sehat ala Herbalife, olah raga juga perlu. Pertanyaannya, gimana dengan mereka yang ‘nggak sempet’ olah raga?

Pertama-tama gue perjelas dulu batasan ‘olah raga’ dengan tujuan pelangsingan adalah, “30 menit non-stop dengan intensitas sedang.” Maksudnya, intensitas di mana kita mencapai denyut nadi minimal 70% dari denyut nadi maksimal. FYI, denyut nadi maksimal kita = 220 – umur. Jadi untuk gue yang umurnya 37 tahun ini, denyut nadi maksimalnya 183. Nah, pembakaran lemak optimal terjadi saat denyut nadi gue mencapai 70% dari 183 = 128 kali per menit. Cara ngitungnya, pegang nadi yang berdenyut sambil lihat jam selama 15 detik. Hasil hitungannya dikalikan 4.

Batasan 70% itu sendiri sebenernya sangat gampang tercapai. Coba aja naik tanggal bangsa 2 – 3 lantai, atau lari-lari ngejar busway yang mau berangkat di seberang jalan – denyut nadi lu kemungkinan besar akan mencapai 70% denyut maksimal, bisa juga lebih.

Kesimpulannya: waktu yang diperlukan cuma 30 menit, batasan intensitasnya juga relatif mudah dicapai. Artinya kalau ada orang bilang dia terlalu ‘sibuk’ untuk meluangkan waktu selama 30 menit, permasalahannya biasanya cuma salah satu di antara 2: kurang niat atau kurang jeli mencari peluang.

Untuk yang kurang niat gue nggak akan bahas deh. Dari semua aspek program pelangsingan, aspek niat adalah yang paling mahal harganya karena nggak bisa didapat dari manapun kecuali dari diri sendiri. Kalo ada orang bilang, “gue ingin langsing, tapi males diet / olah raga kayak elu, gimana ya?” biasanya akan gue jawab dengan “iya ya, gimana ya?” Kalo problem lu dalam melangsing adalah niat, sori, gue nggak bisa bantu. Itu harus lu selesaikan sendiri.

Sedangkan buat yang kurang jeli melihat peluang, berikut beberapa ide yang bisa lu coba untuk mendapatkan 30 menit olah raga di sela kesibukan lu:

  • buat yang jarak kantor ke rumahnya sekitar 3 KM, ini yang paling gampang: pulang kantor jalan kaki. Kalo kecepatan jalan lu sekitar 6 KM/ jam, maka jarak itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Kenapa gue sarankan jalan kaki pulangnya, bukan berangkatnya? Karena kalo berangkatnya nanti sampe kantor lu keringetan, bau kelek, nggak konsentrasi kerja, ngantukan, dllsb sehingga akhirnya dipanggil boss dan saat ditanya boss lu jawab “soalnya saya baca di blognya si mbot saya harus rajin jalan kaki.” Nah, paling males deh gue tersangkut paut dalam kekisruhan karir orang.
  • bike to work
  • buat yang pulang kantornya naik kendaraan umum, turunnya nggak usah persis depan rumah. Turun beberapa halte lebih awal. Atau, yang biasanya naik ojek setelah turun dari bis, coba sekali-sekali jalan kaki sampe rumah.
  • buat yang kantornya di gedung bertingkat, coba saat mau pulang, sesampainya di lantai paling bawah naik tangga darurat lagi beberapa lantai ke atas. Baru abis itu turun lagi pake lift. Atau pake tangga lagi juga lebih bagus.
  • buat yang biasa nitip sama OB untuk beliin makan siang, sekali-sekali ikutan sama OB-nya jalan-jalan beli makan siang. Atau, cegat OBnya di pintu keluar, minta daftar makanan yang harus dia beli, terus elu yang jalan. OB-nya disuruh ngadem di kantor. Pasti dia senang (walau mungkin bingung). Asa duit tipnya nggak lu sikat aja.
  • jalan-jalan di mal memang lumayan, karena ada unsur jalan kakinya. Masalahnya kalo jalan di mal cenderung pelan, udah gitu banyak berhentinya saat nemu tulisan ‘DISCOUNT’. Makanya weekend jangan diisi dengan nge-mal, coba jalan-jalan ke bonbin atau kebon raya – pokoknya tempat yang lebih luas dan lebih memungkinkan untuk berjalan lebih cepat. Selain lebih sehat dijamin lebih irit.
  • lu selalu bisa bangun 30 menit lebih awal untuk jogging / sepedaan keliling komplek sebelum berangkat ke kantor
  • ngantornya di rumah? Malah lebih bagus lagi: beli DVD aerobic, lu bisa olah raga di ruang tamu.

Poin gue adalah: semua orang pasti bisa memasukkan 30 menit olah raga dalam 24 jam waktunya – masalahnya tinggal mau atau enggak.

Yuk, melangsing! Mau?

gambar gue pinjem dari sini

[Herbalife Diary 010] kalo gak dicatat, gimana mau meningkat


“Gue udah rajin olah raga lho, tapi emang dasar nasib nggak langsing-langsing juga!”

Andaikan gue dapet 5.000 perak setiap kali denger orang ngomong gitu, gue udah pindah rumah ke Pondok Indah.

Maksud gue, saat gagal melangsing orang sering terlalu cepet menumpahkan kesalahan pada hal-hal yang nggak bisa dikontrol (dan nggak bisa membela diri) seperti nasib, genetik, bawaan, tulang besar, dllsb tapi di saat yang bersamaan sama sekali nggak merasa perlu menilai secara obyektif hal-hal yang seharusnya bisa dikontrol seperti porsi olah raga.

Dan untuk bisa menilai secara obyektif apa bener aktivitas olah raga kita udah termasuk kategori “rajin”, nggak ada cara lain kecuali mencatat.

Minimal ada 2 manfaat nyata yang bisa kita dapet kalo menjalani program melangsing sambil mencatat, yaitu:

1. memastikan kita berlatih secara konsisten

Percaya deh, ingatan kita itu suka nipu. Kadang kita merasa udah berlatih 3 kali seminggu, padahal kenyataannya terakhir kita olah raga adalah 2 minggu yang lalu. Kalo aktivitas olah raga lu tercatat, maka lu bisa tau persis seberapa sering lu olah raga. Kalo dengan porsi itu progres melangsingnya masih mandek, ya tinggal ditambah aja porsinya. Jadi nggak perlu frustrasi dan menyalahkan nenek moyang yang kebetulan gendut-gendut semuanya.

2. memantau apakah kebugaran kita meningkat

Seperti yang pernah gue bahas di journal yang ini, gue mencatat aktivitas gue di gym. Seberapa banyak dan seberapa sering porsi latihan beban gue tulis di sebuah buku kecil yang gue bawa-bawa waktu nge-gym. Dengan demikian kalo gue baca di catatan bahwa bulan lalu gue sanggup leg-press dengan beban 70 kilo, misalnya, dan bulan ini mendadak baru dikasih beban 50 kilo udah serasa mau semaput, maka gue tau bahwa kondisi gue menurun. Prinsipnya, tujuan utama program pelangsingan adalah menjadi sehat dan bugar. Sedangkan langsing itu cuma efek sampingnya. Artinya, kalo angka di timbangan mengecil tapi kapasitas stamina menurun, ada yang salah dengan program pelangsingan kita. Dan itu cuma bisa dikenali kalo kita rajin mencatat.

Untungnya, jaman sekarang teknologi udah makin canggih, kita nggak perlu sepenuhnya tergantung pada notes dan bolpen untuk mencatat. Berikut beberapa hal yang bisa lu lakukan untuk mencatat aktivitas olah raga lu:

Endomondo
Ini adalah situs yang menyediakan aplikasi pemantau olah raga. Dengan menginstall aplikasinya di perangkat yang terhubung dengan GPS, maka kita bisa mencatat rute jogging / jalan kaki / bersepeda kita, berapa kecepatan rata-ratanya, dan berapa kalori yang terbakar. Aplikasinya juga bisa jalan di berbagai platform, mulai dari Blackberry sampe Android. Bonusnya, dia juga menyediakan tantangan bulanan di mana para penggunanya bisa saling berkompetisi. Tentang situs ini akan gue posting lebih lengkap besok-besok (kalo inget). Silakan mampir ke situsnya, www.endomondo.com kalo mau tau lebih banyak.

Speedometer sepeda
Dengan memasang benda ini di sepeda, lu bisa menghitung jarak dan kecepatan tempuh selama bersepeda. Ada beberapa jenis yang bisa sekalian menghitung pembakaran kalori. Gue sarankan beli yang tipe wireless, karena pemasangannya mudah dan nggak ngerepotin kalo suatu kali nanti lu mau ganti sepeda.

Jam tangan penghitung detak jantung
Jam model gini biasanya terhubung secara wireless dengan sebuah detektor yang dililitkan di dada. Dengan alat ini kita bisa tau apakah kita telah mencapai zona detak jantung yang efektif untuk pembakaran lemak. Beberapa tipe juga dilengkapi dengan data historikal, untuk memantau perkembangan stamina kita.

Pedometer
Benda ini menghitung jumlah langkah berdasarkan getaran tubuh kita. Dengan memasukkan panjang langkah kaki dan berat badan kita, dia juga bisa menghitung jarak tempuh dan kalori yang terbakar. Pemakaiannya gampang banget, tinggal dikantongi atau dipasang di ikat pinggang. Cuma berhubung dia bekerja dengan menghitung getaran, saat naik bajaj sebaiknya dimatiin dulu biar nggak kacau hitungannya.

Body scanner
Ini adalah timbangan ‘ajaib’ yang bisa mengukur massa otot dan persentase lemak tubuh. Dengan bantuan benda ini, kita bisa tahu apakah saat berat kita menurun kita telah berhasil membakar lemaknya, atau justru membuangi ototnya. Alat ini juga dilengkapi dengan data historikal untuk membandingkan kondisi kita sekarang dengan saat pengukuran terakhir.

Intinya, di jaman serba gampang seperti sekarang ini, untuk mencatat pun kita udah semakin dipermudah. Jadi, jangan buru-buru merasa gagal sebelum mencatat upaya kita secara akurat, ya!

[Herbalife Diary 009] tega, mengubah mobil sport jadi omprengan?


Bayangin bahwa elu adalah orang kaya yang batuk aja jadi duit. Suatu hari lu kesian ngeliat temen lu kepanasan dan keujanan di jalan, sehingga lu memutuskan untuk menghadiahkan sebuah mobil sport kepadanya. Waktu nitipin tu mobil, lu bilang sama dia,

“Nih, daripada lu keujanan kepanasan di jalan, gue pinjemin mobil sport. Lu boleh pake semaunya, gratis. STNK gue yang bayar. Yang penting, lu rawat mobil ini. Tapi asal tau aja, mobil ini mobil ajaib. Kapasitas mesinnya bisa makin besar atau makin kecil, tergantung pemakaian. Kalo pemakaiannya seimbang, nggak diforsir, mesinnya bisa tambah gede dan tarikannya makin mantap. Tapi kalo lu paksa jalan terus, atau sebaliknya: lu anggurin doang di garasi, maka mesinnya bisa rontok. Selain itu, mobil ini juga butuh bensin berkualitas. Harus yang oktannya tinggi. Maklum, mobil sport. Jadi, jangan lu isi bensin campur kayak bajaj! OK, selamat make mobil baru. Inget, walau elu boleh make sepuasnya, tapi mobil ini tetep milik gue. Jadi nggak boleh lu jual, ya!”

Temen lu bilang makasih sejuta kali sambil sungkem. Karena lu orangnya rendah hati, lu buru-buru pulang karena nggak tega liat temen sampe kayak gitu amat.

Beberapa bulan kemudian, iseng-iseng lu mampir ke rumah temen lu. Lu kaget setengah mati liat tu mobil sport udah berubah jadi angkot reyot yang asep knalpotnya item kayak mendung. Catnya pada rontok di sana-sini, bannya udah pada botak, dan kaca spionnya udah diganti kaca rautan.

“Lu apain ni mobil bisa sampe kayak gini?” tanya lu sambil nahan kesel.

“Tauk deh. Mungkin emang dari sononya udah bobrok, kali,” jawab temen lu enteng.

Gimana kira-kira perasaan lu denger jawaban kayak gitu? Ingin noyor? Ingin nimpuk?

Tapi jangan heran kalo sebenernya kita mungkin sedang melakukan hal yang sama, yaitu memperlakukan barang titipan secara sembarangan. Bedanya, barang titipannya bukan mobil melainkan badan kita. Ya, pada prinsipnya, badan kita ini ibarat mobil sport titipan.

Titipan, karena badan ini sebenernya bukan punya kita. Kita cuma numpang make. Sayangnya, sebagai orang yang statusnya cuma numpang, kita suka nggak tau diri. Kadang dipaksa jalan terus-terusan, nggak pake istirahat. Siang buat ngangkut beras, malem buat ngompreng. Ada juga yang cuma dianggurin di garasi sampe penuh sarang gonggo. Ngisi bensinnya asal-asalan; kadang diisi bensin campur, kadang minyak tanah. Seketemunya.

Karena diperlakukan nggak semestinya, nggak heran kalo mesinnya mulai ngadat. Larinya boyot dan batuk-batuk. Kalo udah gitu, biasanya yang disalahin adalah takdir: “emang nasib dari sononya punya badan kayak gini, nggak bisa diapa-apain lagi.” Padahal, jelas-jelas yang dititipkan ke kita adalah mobil sport. Kita yang mengubahnya jadi sekelas omprengan.

Poin gue adalah: sehat itu berawal dari bagaimana kita melihat badan ini.

Kalo udah tau badan ini titipan, artinya kita harus sungkan sama yang punya. Berhubung statusnya cuma numpang make, tahu dirilah. Karena udah tau mobil sport, ya nggak dipake ngangkut beras atau ngompreng. Karena udah tau butuhnya bensin elit, ya nggak diisi minyak tanah dong.

Kalo kita ngeliat badan ini sebagai mesin ajaib yang bisa diupgrade kapasitasnya, maka saat jalan kaki 1 jam dari kantor ke rumah kita tau bahwa kita bukannya kurang kerjaan – kita lagi tune-up mesin. Saat kita memilih untuk naik tangga daripada lift, kita tau bahwa kita bukan sekedar iseng, tapi lagi membersihkan kerak di busi biar tarikan makin jos.

Kalo kita tau badan kita butuh bahan bakar berkualitas, maka kita nggak akan melihat sepotong steak seharga setengah juta sebagai makanan mewah – itu malah cuma bensin campur yang endapannya bisa bikin mampet filter bensin. Sebaliknya, sepiring sayuran kukus buatan rumah atau segelas shake Herbalife yang nggak sampe 10 ribu perak adalah Pertamax Plus 🙂

Jadi, siap untuk upgrade mesin mobil sport lu? Kontak gue di si.mbot@gmail.com deh, nanti akan gue jelasin gimana caranya.

 

[Herbalife Diary 008] Jangan mau dikibulin timbangan


Gue pernah nonton iklan sebuah produk pelangsing di TV yang mengklaim mampu menurunkan berat badan secara instan. Untuk membuktikannya, seorang model yang secara kebetulan adalah gadis cantik berbikini ditimbang, lalu menggunakan produk tersebut. Produknya berbentuk mirip tenda kecil yang membungkus tubuh si model dari kaki hingga leher. Di dalam tenda tersebut ada alat yang menyemburkan uap panas, jadi mirip sauna portabel gitu deh.

Setelah beberapa menit nongkrong dalam tenda sauna, sang gadis cantik keluar dan kembali ditimbang. Ajaib, beratnya susut beberapa ons! Penonton bertepuk tangan, dan pembawa acara mengumumkan kesahihan khasiat si tenda ajaib untuk menurunkan berat badan.
Ah, yang bener?
Faktanya, berat badan kita berfluktuasi setiap hari lebih cepat dan lebih drastis dari yang kita kira. Lah gimana enggak, wong sekitar 66% dari badan kita adalah air. Namanya juga air, jadi memang sifatnya untuk sering mondar-mandir keluar masuk sel dan pori-pori kulit dan mengubah-ubah bobot kita. Jadi kalo gue yang bobotnya 84.5 kg ini (sekalian update bobot terbaru gue minggu ini, haha) dikeringkan sampe bebas dari unsur air sama sekali, maka yang tersisa tinggal 29 kilo-an; bisa dikirim pake TIKI dengan ongkos nggak sampe 150 ribu ke Bali.
Kembali ke contoh kasus si mbak di tenda sauna, jelas penurunan bobotnya terjadi karena air di tubuhnya terperas keluar lewat keringat akibat suhu panas. Andaikan setelah keluar dari tenda sauna dia minum air sebanyak keringat yang dia keluarkan, ya bobot yang hilang akan langsung balik lagi.
Ini juga menjelaskan mengapa orang-orang yang habis sakit diare parah biasanya langsung nampak jauh lebih kurus. Bukan nggak mungkin saat ditimbang bobotnya susut 5-6 kilo dalam tempo 1 – 2 hari, karena air dalam tubuhnya baru terperas habis-habisan. Atau bisa juga akibat makan makanan yang bikin beser, pipis melulu. Bahkan tanpa proses yang aneh-aneh, lagi duduk anteng sekalipun, bobot kita bisa turun sendiri lewat proses penguapan di permukaan kulit dan pernafasan.
Selain gampang hilang, bobot kita juga gampang naik. Kita seringkali nggak sadar, betapa beratnya makanan yang kita telan setiap hari. Misalnya saat makan siang kita makan sepiring nasi, sebotol air minum ukuran sedang, dan ditutup dengan es campur, maka sedetik setelah makan bisa-bisa bobot kita naik lebih dari 1 kilo. Berat 1 liter air = kurang lebih 1 kilogram, jadi sebotol air ukuran 500ml udah pasti akan menaikkan bobot kita setengah kilo. Belum lagi nasi dan es campurnya. Contoh lainnya, buat yang nggak pernah minum Herbal Aloe Concentrate dan buang air besarnya kurang lancar, misalnya hanya dua hari sekali, maka bukan nggak mungkin bobotnya naik 3-4 kilo dalam dua hari, dan setelah ‘permisi sebentar’ ke belakang langsung susut 3-4 kilo.
Poin gue adalah; kalau kita tidak menyadari seberapa jauh dan cepatnya bobot kita berfluktuasi, akibatnya kita bisa terlalu cepat puas atau malah frustrasi saat lagi menjalani program pelangsingan. Kalo ada orang ngadu “berat gue naik 2 kilo dalam seminggu nih!” atau justru lagi berbangga hati karena “berhasil turun bobot” maka biasanya gue akan tanya balik: timbang beratnya di waktu yang sama nggak?
Saran gue, timbanglah berat pagi-pagi saat baru selesai ‘setor’ ke belakang dan sebelum makan / minum apapun. Itu adalah bobot kita yang paling stabil dan bisa dipercaya – dan relatif bebas dari tipu daya si timbangan. Selama penimbangannya masih dilakukan di waktu yang berbeda-beda, hasilnya sulit dipercaya sebagai bukti keberhasilan / kegagalan program pelangsingan kita.

[Herbalife Diary 007] pertanyaan penting sebelum melangsing


Pada suatu hari, si Agus lagi jalan-jalan tanpa juntrungan di mal, trus tiba-tiba dapet ide: “kayaknya lucu juga nih kalo nonton.” Tanpa punya bayangan film apa yang ingin dia tonton, dia dateng ke bioskop. Eh kebetulan hari itu adalah hari pertama pemutaran film Transformers 3 yang sejak tahun lalu udah digadang-gadang bakal lebih seru dari yang pertama dan ke dua. Akibatnya, antrian di loket luber sampe keluar bioskop. Padahal, jangankan ngefans, antara Megan Fox sama Megatron aja dia suka rada susah bedain. Maka Agus pun mikir, “Main di Timezon aja ah. Seru juga, nggak pake ngantri.” Lalu ngeloyorlah dia ke Timezone.

Beda kasus dengan si Budi. Budi suka nonton Transformers. Yang nomer 1 dan 2 udah dia tonton semuanya di bioskop. Tapi untuk yang ke 3 ini dia rada pesimis bisa nonton di bioskop gara-gara kasus konyol pembayaran bea masuk film. Maka Budi pun berniat beli DVD bajakannya aja, atau download dari internet. Kalopun gambarnya rada burem dikit nggak apa lah, yang penting kan bisa ngikutin ceritanya. Malah kalo nonton DVD bajakan lebih bagus, dapet penampakan ekstra berupa kepala-kepala penton lainnya di bagian bawah layar. Kan jadi serasa nonton di bioskop juga.

Lain lagi dengan Cecep. Dia fans berat Transformers. Dia fans berat Michael Bay. Dia fans berat apapun yang bisa berubah bentuk jadi robot. Begitu denger kabar Transformers 3 nggak akan masuk Indonesia, kontan dia pesen tiket ke Singapur untuk bulan Juli nanti. Agendanya cuma satu: nonton Transformers 3 di bioskop, yang gambarnya dijamin terang dan tata suaranya dipastikan menggelegar. Buat dia, pantang nonton Transformers 3 di tempat selain bioskop.

Tiga ilustrasi di atas sama-sama menggambarkan perilaku orang soal nonton film, tapi dalam intensitas yang berbeda banget. Agus adalah contoh perilaku orang yang ingin nonton karena sekedar iseng, nggak punya kegiatan lain. Film hanyalah satu dari sekian banyak pilihan kegiatan. Begitu ada hambatan, dengan mudahnya dia beralih pada kegiatan lain. Budi adalah penggemar film-nya. Medianya bisa bioskop, bisa DVD bajakan, bisa file download-an, yang penting dia bisa nonton. Sedangkan Cecep adalah penggemar pengalaman nonton-nya. Buat dia, yang namanya film ya harus ditonton di bioskop, nggak ada kompromi.

Perbedaan antara Agus, Budi, dan Cecep terjadi pada alasan mereka ingin nonton. Dan perbedaan seperti ini juga umum terjadi pada orang yang ingin melangsing.

Seperti yang pernah gue singgung sekilas di journal yang ini, ada orang yang ingin melangsing hanya karena “Lucu juga kali ye, kalo gue langsingan”. Awalnya mungkin karena lagi buka-buka majalah, liat para model langsing yang ada di sana, trus terlintas deh pikiran untuk melangsing seperti para model. Untuk orang dengan motivasi seperti ini, melangsing hanyalah salah satu cara untuk membuat dirinya lebih bahagia. Artinya, kalo program melangsingnya gagal, ya gak papa. Atau, kalo disodori sederetan menu sehat atau daftar porsi olah raga, mereka mungkin akan bilang, “Adeuuu… rempong amat ya kalo mau langsing, gue mending gendut aja deh kalo gitu. Toh gendut-gendut gini juga gue masih laku.”

Ada juga orang yang hanya ingin langsingnya, dengan cara yang segampang mungkin. Pokoknya langsing. Urusan lainnya gak urus. Seorang temen lama yang dulu suka ngerokok bareng di tangga cerita, dia punya dokter langganan yang bisa melangsingkan orang hanya dengan ‘disuntik vitamin C’.

“Setahu gue vitamin C memang sehat, tapi kayaknya efeknya nggak segampang itu deh. Disuntikin langsung kurus. Jangan-jangan bukan vitamin C,” kata gue skeptis.

“Eh kok nggak percaya. Lha ini gue kemarin abis disuntik, lengan gue langsung kecilan. Tapi yah, kata dokternya sekarang gue harus sering-sering minum air putih, supaya obatnya nggak numpuk di ginjal,” katanya enteng.

Dengan kata lain, ‘vitamin C’ atau apapun yang disuntikkan si dokter ke dalam tubuhnya itu memaksa ginjal bekerja lebih keras, atau malah mungkin berpotensi meracuni, sehingga harus dinetralkan dengan banyak minum air putih. Dan belakangan gue ketahui bahwa tepatnya bukan ‘disuntik’, melainkan diinfus. Jadi ‘obat’ pelangsingnya itu dikemas dalam kantong dan dimasukkan ke tubuh lewat jarum yang dipasang di pembuluh darah. Ironis sebenernya, mengingat temen gue ini sering bilang olah raga itu mengerikan tapi di sisi lain sama sekali nggak ngeri memasukkan zat asing ke pembuluh darahnya.

Di acara kumpul-kumpul Oriflame-nya Ida juga gue pernah denger pengalaman salah satu temennya yang mencoba melangsing dengan cara nggak makan atau minum apapun kecuali air kelapa. Memang sih, air kelapa itu sehat. Tapi secara logika bego-begoan aja, kalo dalam beberapa hari lambung lu nggak kemasukan apapun kecuali air kelapa, sementara produksi asam lambung terus berjalan, gimana bisa sehat, sih? Dan bener aja, setelah 3 hari menjalani diet brutal kayak gitu, temennya Ida ini panas tinggi dan harus dibawa ke dokter.

Temen gue yang lain minum seduhan ‘daun jati Cina’ setiap habis makan. Efeknya, sesaat setelah minum ramuan itu, akan timbul ‘panggilan alam’ alias kebelet BAB. Maka keluarlah segala makanan yang baru dimakan tadi lewat jalur belakang, dengan waktu singgah yang cuma beberapa menit di lambung. Pertanyaan gue: kalo makanan ‘dipaksa’ untuk keluar dalam waktu sesingkat itu, trus apa kabar dengan penyerapan nutrisinya?

Kalo gue sih, inginnya sehat DAN langsing.

Inspirasi utama adalah Rafi. Beberapa bulan yang lalu, kalo gue boncengin dia naik sepeda ke sekolah, dampaknya adalah keringat mengucur, napas ngos-ngosan, dan jantung serasa mau lompat keluar. Padahal jarak tempuhnya cuma 800 meter.

Sebagai anak laki-laki, secara naluriah Rafi juga suka permainan yang fisik banget seperti main kuda-kudaan, main onta-ontaan, atau main ikan-ikanan yang intinya sama: nindihin bapaknya di atas kasur. Setiap kali abis main kayak gitu, pinggang gue serasa mau patah.

Kondisi itu bikin gue mikir, bahwa seiring perkembangan usianya, tuntutan permainan fisik kayak gini pasti akan makin berat. Dan rasanya bukan teladan yang terlalu positif bila seorang bapak berkata kepada anaknya, “Maaf nak, bapak nggak bisa nemenin main di luar. Asam urat bapak lagi kumat.” Aktivitas orangtua adalah standar perilaku buat anaknya. Gimana seorang anak bisa berkembang jadi anak yang gesit dan cekatan kalo tiap hari yang dia liat orang tuanya duduk selonjoran sambil ngoles minyak urut? Target pertama gue adalah: sehat dan punya stamina bagus.

Yang ke dua adalah baju ukuran all size. Lu boleh bilang gue konyol, tapi terus terang gue merasa terlecehkan oleh fakta di mana gue nggak pernah muat pake baju berlabel “all size”. Baju berlabel all size kan artinya “manusia dengan ukuran apapun akan muat pake baju ini”. Lah kalo gue nggak muat, artinya gue bukan manusia, gitu? Baju all size itu biasanya mengambil ukuran mirip seperti ukuran L, maka itu jadi target gue yang ke dua: muat dalam baju ukuran L.

Karena gue ingin sehat, maka segala metode pelangsingan yang berisiko terhadap kesehatan gue coret dari daftar, dan memilih Herbalife 🙂

Karena tujuannya untuk mendampingi pertumbuhan Rafi yang m
asa depannya masih panjang, maka gue butuh metode yang kontinu dengan hasil permanen – bukan metode kilat yang bikin langsing dalam sebulan tapi gendut lagi dalam 3 bulan.

Karena gue ingin muat dalam baju ukuran L, maka sekalipun angka-angka laporan medical check-up gue yang terakhir normal-normal aja, gue masih melanjutkan program pelangsingan.

Karena gue ingin punya stamina yang bagus, maka gue memasukkan olah raga dalam program pelangsingan gue.

Poin gue adalah, alasan mengapa elu ingin langsing itu sangat, sangat, sangat penting banget sekali. Alasan di balik usaha lu melangsingkan diri akan sangat berpengaruh pada cara apa yang lu pilih; dan seberapa jauh lu mau berkorban untuk mencapainya. Saran gue, jangan mulai program pelangsingan apapun sebelum lu punya jawaban yang memuaskan atas pertanyaan:

“Kenapa gue ingin melangsing?”

Buat yang ingin melangsing secara sehat dengan Herbalife, jangan malu-malu lho untuk kirim PM ke gue atau email si.mbot [at] gmail.com 🙂

Gambar, masih gue pinjem dari gettyimages.com

[Herbalife Diary 006] Ini dia cara makan ideal buat melangsing!


Nelden, temen kuliah gue, punya cara makan yang bisa bikin orang serasa ingin gila. Gue gambarkan alasannya:

Suatu siang, Nelden pesen mi ayam di kantin kampus. Begitu minya dateng, pertama-tama dia berdoa dulu. Berdoanya lamaaa… banget kayak orang takut keracunan. Berikutnya, dia mulai menyisihkan pangsit-pangsit goreng di pinggir mangkok dalam susunan geometris simetris. Habis itu dia mulai mencacah minya dengan sendok dan garpu. Minya dipotong-potong sampe nggak ada satu lembar pun yang panjangnya lebih dari 2cm. Proses ini bisa makan waktu sampe 10 menit sendiri (belum termasuk doanya).

(lebih…)

[Herbalife Diary 002] Diet tanpa lapar itu BISA!


Setelah baca-baca buku Hypnolangsing, akhirnya gue mengambil kesimpulan:

Kunci diet sukses adalah distribusi waktu makan.
Maksudnya gini:
Katakanlah kebutuhan kalori gue per hari =2.200, dan gue mencoba pasokannya menjadi cukup 2.000 dengan harapan defisit yang 200 kalori diambil dari cadangan lemak. Kalo cadangan lemak terpakai, secara bertahap gue akan menjadi lebih langsing. Ternyata itu aja nggak cukup.
Kalo gue makan 2.000 kalori per hari dengan distribusi ‘konvensional’ yaitu 3 kali waktu makan dengan pembagian pagi 500 kalori – siang 1000 kalori – malam 500 kalori; maka yang terjadi adalah sebagai berikut:

Enter a caption

gambar gue pinjem dari website diet sehat bugar.

Sehabis makan pagi gula darah meningkat drastis, habis itu turun. Saat gula darah turun kita akan mulai lapar, tapi karena dibatasi makan hanya 3 kali, nggak boleh ngemil, kita harus nahan lapar sampe siang. Proses yang sama terulang di siang ke malam, bahkan mungkin juga malam hari sebelum tidur.
Dengan proses seperti itu, sebenernya yang terjadi adalah penumpukan lemak setiap kali habis makan. Sebagai orang kantoran, aktivitas pagi sampe sore gue paling cuma duduk baik-baik dan ngetik. Artinya, sebagian besar energi yang gue dapat dari makan siang dan malam nggak akan langsung terpakai. Udah jadi hukum alam bahwa kelebihan energi yang nggak terpakai akan ditumpuk jadi lemak. Dan lemak, bisa dianalogikan sebagai deposito uang: sekali tersimpan nggak gampang dicairkan.
Yang kemudian gue coba berdasarkan anjuran di buku Hypnolangsing adalah makan hanya saat gue lapar, tapi berhenti kalo laparnya hilang. Pagi gue nggak langsung sarapan herbalife, gue buat dulu shakenya tapi minumnya ntar2 kalo udah mulai lapar. Kalo laparnya baru muncul jam 9 pagi, ya gue minum shake jam 9 pagi, itu juga nggak langsung gue abisin. Stop saat laparnya hilang, nunggu lapar lagi. Demikian seterusnya sehingga sehari gue bisa melakukan 8 – 10 kali proses makan dan minum shake.
Dengan cara seperti itu, maka perubahan kadar gula darah gue akan seperti ini:

gambar gue pinjem dari website diet sehat bugar.
 
Nggak terjadi lonjakan, dan praktis nggak perlu tersiksa harus nahan lapar. Begitu lapar, makan. Bahkan pernah beberapa kali, gue kelaparan di jam kritis sekitar 11 malem. Karena lagi nggak pengen minum shake, maka gue bikin indomie pake telor dan keju. Gue makan pelan-pelan, ternyata baru 3 suap laparnya hilang. Sisanya gue simpen di kulkas. Besok-besokannya saat lapar lagi gue makan lagi sedikit-sedikit. Hasilnya, tuh indomie baru abis 2 hari kemudian.
 
Untuk makan siang juga gitu. Gue biasanya minta tolong OB di kantor untuk beliin makan siang sekitar jam 10. Kalo jam 11 lewat gue mulai lapar, maka gue mulai makan. Cukup beberapa suap sampe lapernya hilang, sisanya disimpen dulu. Jam 12 lapar lagi, ya makan lagi. Begitu seterusnya sehingga proses makan siang gue rata-rata berlangsung dari jam 11 sampe jam 2 siang! 🙂
 
Yang perlu diubah terutama adalah mindset “makan itu untuk mencapai kenyang” menjadi “makan itu untuk menghapus lapar”. Dengan makan secukupnya begini gue malah merasa lebih diuntungkan karena saat perut berada dalam kondisi netral (nggak kekenyangan) maka penyakit ngantuk setelah makan siang juga lenyap. Segala perasaan eneg, begah, dan kembung akibat kebanyakan makan juga nggak pernah gue rasakan lagi.
Selain itu gue juga nggak terbebani saat tiba-tiba dapet ajakan untuk makan di luar. Kalo memang pas lagi lapar ya gue ikut makan, apapun makanannya termasuk steak. Tapi stop saat laparnya hilang, sisanya kalo bisa gue bungkus bawa pulang.
Dengan pola makan kayak gini, ternyata berat gue bisa terus turun hingga sekarang mencapai angka 87,5 kg – total turun 14,8 kg sejak tanggal 9 Januari 2011.
Mindset lainnya yang juga perlu diubah adalah:
  • Makan harus teratur sesuai jamnya, dan di jam yang sama setiap hari: padahal kegiatan kita setiap hari berbeda-beda, konsumsi kalorinya juga bervariasi, sehingga datangnya lapar bisa berbeda-beda dari hari ke hari. Memaksakan diri untuk terus makan di jam yang sama setiap hari pastinya akan menyiksa.
  • Makan harus habis 1 porsi: padahal kalo makanannya beli, yang nentuin besar porsinya adalah pihak penjual. Lah, kita kan yang paling tahu seberapa laparnya kita, kok jumlah makanannya ditentukan sama orang lain?
  • “Susah untuk makan hanya untuk menghilangkan lapar”: Jadi, lebih mudah kalo nggak makan samsek dan harus nahan lapar, gitu? Makasih deh.
Intinya, proses diet yang sehat itu nggak perlu menyiksa kok. Dan kalo gue aja, yang doyan makan ini, bisa turun nyaris 15 kilo dalam 3 bulan, maka siapapun PASTI juga bisa!
  • Komentar Terbaru

    The making of mas ka… di Top Secret Mission: Mas K…
    Meyke Meray Wahyu di siapa yang sering kesetrum sep…
    Kiruu キルー di [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    Tri Setyowati di siapa yang sering kesetrum sep…
    deehandut (@deehandu… di siapa yang sering kesetrum sep…
    Leones Henka Dewana di siapa yang sering kesetrum sep…
    Liya Kholida di siapa yang sering kesetrum sep…
    Lauw Christin di siapa yang sering kesetrum sep…
    Ryan Noor Arifin di siapa yang sering kesetrum sep…
    Riza Firli di Nostalgia Tentang Benda Ajaib…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.167 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Jepret!

    Desain kekinian yang mengingatkan untuk terus istighfar Alhamdulillah kantor baru, mobil baru Foto keluarga pake baju baru, karena #kerenhaksegalabangsa #kerenhaksegalabangsa Ramayana challenge @kantanandana #kerenhaksegalabangsa Ramayana challenge, yay! Can you spot the difference? 
@sasha_sjam Bioskopnya dingin... #bioskop #sarung #dingin Jalur neraka
#macet #jakarta #casablanca #transjakarta Mungkin ini versi Iwan Fals yang lbh penyayang 
#mp3 #name #singer #iwanfals Pikachu versi haram, soalnya nampak blasteran sama babi
#pikachu #badut #babi #fail #bandung #gasibu
  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
    • Battle of Surabaya: Menikmati Seriusnya Proses Jualan Film 23 Maret 2015
      Seumur-umur jadi penggemar film Indonesia, baru kali ini gue ngelihat film yang upaya pemasarannya seserius ini. Bayangin aja, filmnya belum jadi, tapi trailernya udah didaftarin ikut lomba. Eh, masuk nominasi di Golden Trailer Award, bahkan menang di International Movie Trailer Festival. Ngomong-ngomong, baru sekarang loh gue tau ada festival untuk trailer […]
    • Preview: Tomorrowland (2015) 11 Maret 2015
      Gue pertama kali nonton teaser trailer film ini tahun lalu, dan langsung memutuskan akan nonton. Adegannya bikin penasaran banget: ada seorang cewek ABG yang mendadak bisa pindah lokasi saat menyentuh sebuah pin berlogo T. Pin apa itu? Kenapa dia bisa mindahin orang? Pindahnya ke mana? Sukses banget trailernya bikin orang penasaran ingin nonton film ini.Baru […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda.Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke se […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: