Gelang Berspion


Buat yang pernah ngerasain bersepeda di Jakarta untuk keperluan transportasi (maksudnya bukan pas Car Free Day atau muterin komplek doang) pasti ngerasain bener pentingnya spion. Masalahnya jalanan Jakarta tuh nggak jelas mana kanan atau kirinya. Sekalipun lu ngerasa udah memposisikan diri di paling kiri, tetep aja ada kemungkinan kesamber dari kiri — karena trotoar sekarang juga udah dianggap tempat lewat kendaraan bermotor.

Dengan kata lain, spion itu penting. Masalahnya: spion itu juga ganggu banget.

Maksud gue, lu serba salah:

  • Kalo pasang di pinggir stang, nampak kurang aerodinamis dan malah rentan kesenggol kendaraan sebelah.
  • Kalo pasang di tengah stang, yang keliatan cuma perut sendiri. Nggak bisa dipake ngelihat situasi di belakang. Padahal kan memandangi perut kurang berkontribusi positif terhadap keselamatan berkendara di jalan raya.

Maka pas main ke Ace Hardware beberapa hari lalu gue girang banget menemukan ciptaan jenius berikut:

spion tangan

*suara Doraemon mode: ON

“Gelang Berspion”

Yak, benda ini bentuknya seperti wristband olah raga biasa, tapi dengan sedikit tarikan velcro bisa berubah menjadi spion! Dan karena dipasangnya di tangan, pandangannya nggak akan ketutupan perut lagi. Harganya juga nggak terlalu mahal, cuma 75 ribu saja.

Begini bentuknya kalo dilepas:

gelang berspion

Selain sebagai spion, ada kantong tersembunyi juga di baliknya., cocok untuk nyimpen kunci gembok sepeda! Tertarik? Bisa langsung dibeli di ACE Hardware terdekat, di bagian peralatan sepeda.

Dan oh ya, ini bukan posting promosi, gue nggak dibayar sama Ace Hardware lho!

Iklan

blog post: (fake) reality show by Rahne Putri


Seinget gue, ini kali pertama gue mereview sebuah posting blog. Memang nggak lazim, tapi berhubung posting yang satu ini sukses bikin gue ketawa-ketawa sendiri di pagi buta, maka rasanya nggak berlebihan kalo gue kasih bintang 5. Dan kalian juga harus baca. Gue jamin nggak nyesel.

Penulisnya bernama Rahne Putri.Gue yakin kalian yang hobi mondar-mandir di timeline Twitter pernah denger tentang account @rahneputri, atau pernah baca salah satu twitnya di-RT orang, atau mungkin malah jadi salah satu dari 15.000-an followernya. Angka follower sebanyak ini termasuk luar biasa lho, mengingat Rahne hanya orang biasa-biasa aja, bukan seleb. Awalnya gue jadi followernya juga murni karena penasaran, apaan sih yang diocehkan sama dia sehingga bisa menarik follower sebanyak itu. Dan setelah jadi followernya pun gue nggak terlalu yakin apanya yang menarik dari dia, karena sebagian besar isi twitnya hanya kejadian ringan sehari-hari. Maksudnya, bukan yang kontroversial kayak @benny_israel atau @gurita_global , juga bukan yang diniatin ngelucu seperti @radityadika . Selain ngetwit, dia juga punya blog di tumblr bernama Sadgenic. Isinya adalah kumpulan puisi-puisi karangan dia sendiri . Puisinya bagus-bagus sih, maksudnya nampak jelas dia adalah orang yang dikaruniai kemampuan verbal berlebih, tapi karena gue bukan penggemar puisi percintaan begitu maka gue masih belum nemu di mana menariknya seorang Rahne Putri sehingga bisa diikuti oleh 15 ribu orang.

Hingga akhirnya beberapa waktu lalu Rahne membuat 1 blog baru berjudul The Sadgenic’s Alter. Beda dengan posting-postingnya yang berpuisi-puisi di Sadgenic, di Sadgenic’s Alter Rahne lebih banyak cerita tentang kejadian yang lucu-lucu, atau foto-foto. Dan ada satu postingnya yang menurut gue gila-gilaan lucunya.

Judulnya (fake) Reality Show.

Di sini dia cerita tentang pengalamannya diajak main ‘kuis’ oleh Artasya Sudirman (another SelebTwit, dan ‘agak’ seleb beneran karena penyiar radio, 9.000-an follower di account @myARTasya). Dalam posting ini Rahne cerita betapa berbunga-bunganya dia sebagai anak kos yang baru nyampe Jakarta, diajak main kuis bertema belanja berhadiah barang-barang keperluan rumah tangga. Cita-citanya melambung karena yang ada di bayangannya adalah kuis sejenis Supermarket Sweep. Dia udah ngebayangin akan dapet hadiah TV, keset, DVD player, dan barang-barang keperluan anak kos lainnya.

Ternyata di hari H Rahne baru tau bahwa kuisnya sama sekali nggak seperti yang dibayangin. Ditambah pula dia dikasih pasangan seorang mas-mas annoying yang terlalu menghayati peran marah-marah, dan lokasi kuis yang sama sekali nggak mirip dengan Supermarket Sweep 🙂

Nggak seru kalo gue ceritain terlalu lengkap di sini, baca aja sendiri ceritanya. Kocak banget, goblok banget. Yang jelas, itu kejadian apes banget buat dia. Tapi yang menarik, dia juga nulis gini:

Ok. Kembali lagi, saya berusaha menikmati suasana. Saya baca ulang brief, mencari cari mana yang bisa dibuat asyik.

Walaupun menderita situasi apes, dia nggak berputus asa mencari bagian mana dari pengalaman itu yang masih bisa dinikmati. Mungkin, mungkin lho, ini yang menarik segitu banyak follower: karena ‘aura’-nya positif. Mungkin orang nggak langsung bisa mendeskripsikan di mana daya tarik twit seorang Rahne Putri, tapi baca twit dari orang yang berpikiran positif pasti akan terasa lebih menyenangkan.

Dan mulai hari ini gue juga akan mengikuti The Sadgenic’s Alter 🙂

Djarum Coklat Ngabuburit bersama Wali Band


Sejak beberapa hari yang lalu gue denger Djarum Coklat lagi ngadain rangkaian tur “Ngabuburit” keliling Indonesia bersama Gigi, Wali Band dan Iwan Fals. Eh kebetulan malam ini jadwalnya mampir di lapangan PSPT Tebet Timur, nggak jauh dari rumah. Berhubung kurang hiburan, dan jaraknya cuma 3 menit jalan kaki dari rumah, maka iseng-iseng gue dan Ida mampir.

Sebuah aktivitas marketing yang cukup cerdik dari Djarum Coklat, menurut gue. Waktunya bulan Ramadan, dipilih band yang punya citra ‘Islami’ dan ‘merakyat (Wali Band, Islami karena latar belakang personilnya yang rata-rata lulusan UIN Syarif Hidayatullah, GIGI, Islami karena punya beberapa lagu bertema Islami, dan Iwan Fals, merakyat karena… yah liat aja stiker-stiker di angkot terdekat), digelarnya pun di lapangan di perumahan daerah menengah. Pas dengan target market Djarum Coklat yang menengah ke bawah.

Namanya juga cuma cuma iseng nonton konser gratisan, praktis gue nggak punya ekspektasi apapun atas acara ini. Tapi ternyata, cukup menghibur lho! Sound systemnya canggih, nggak bikin sakit kuping. Wali-nya juga bermain rapi, vokalisnya nggak fals, dan gitarisnya ternyata jago banget. Biar nggak terlalu melenceng dari tema Ramadan, ada sedikit ceramah dari seorang ustad.

Lumayan banget buat hiburan iseng-iseng. Kalo kebetulan jadwal konsernya lagi mampir di deket rumah kalian, coba deh nonton. Seru!

“Rumah Hantu” di Strawberry Cafe


Dengan sangat telatnya, baru minggu lalu gue tau keberadaan cafe yang berdiri sejak tahun 2004 ini. Sumbernya adalah salah satu temen kantor yang adiknya baru berkunjung ke sana. Yang diceritain bukannya hidangannya, melainkan ‘fasilitas’ berupa rumah hantu yang ada di cafe itu.

Kata temen gue ini, Strawberry Cafe adalah cafe yang dirancang khusus buat ‘tempat bermain’. Cafe ini menyediakan permainan meja seperti Uno, Jenga, dan sejenisnya dalam jumlah banyak, dan ada ‘rumah hantu’ di mana pengunjung bisa menyodorkan diri untuk dikerjain dalam setting hantu-hantuan oleh para pegawai cafe.

Denger deskripsi yang begitu menarik, Sabtu malam gue dan Ida langsung mampir ke sana. Strawberry Cafe punya 2 gerai, di Tanjung Duren dan Gandaria I. Kami memilih yang terakhir karena rada deket dari Tebet dan berdasarkan hasil googling oleh Ida, konon rumah hantunya lebih seru.

Tapi ternyata niat untuk main hantu-hantuan terpaksa ditunda karena sampe sana kami baru tau bahwa rumah hantu libur setiap hari Sabtu. Berhubung udah kadung sampe sana, ya sud kami nyoba 2 jenis minumannya. Yang satu namanya “Cewek Cakep” (rasa Strawberry) dan satunya “Cowok Ganteng” (Oreo Smoothies). Soal rasa nggak usah ditanya (karena sama sekali nggak istimewa <= bentuk sopan dari 'nggak enak') tapi penyajian kedua minuman ini cukup unik. Dalam gelasnya ada gunung berapi kecil berisi es kering sehingga bisa berasep betulan. Tapi jangan kuatir, gelasnya bertumpuk dua jadi gunung berapi dan es keringnya nggak bercampur dengan minuman kita.

Selain itu koleksi mainan mejanya bener-bener luar biasa: buanyak buanget! Quedo, Jenga, Uno Stacko, dan Battleship hanya sebagian kecil permainan yang kami tau. Selebihnya belum pernah kami lihat dan kayaknya seru-seru. Syaratnya, kalo mau pinjem mainan minimal harus makan. “Tapi pesen kentang goreng aja juga boleh kok,” kata mbak waitress. Tentunya itu yang kami pilih.

Karena cafe ini kayaknya membidik para mahasiswa sebagai pengunjung utamanya, harga makanan dan minuman di sini relatif murah – meriah. Rata-rata berkisar 20 ribuan, walau dengan rasa yang “yah gitu deh”. Itulah sebabnya review ini gue fokuskan pada rumah hantunya doang, bukan cafenya secara keseluruhan.

Penasaran, besokannya kami datang lagi. Begitu dibukain pintu langsung bilang, “Mbak, kami mau main rumah hantu!”

Ternyata, untuk main rumah hantu ‘syarat’-nya lebih berat: harus pesan minuman dan makanan sejumlah orang yang datang, dan NGGAK BOLEH pesan makanan kecil seperti kentang goreng lagi plus bayar 5.000 per orang. Berhubung udah kenyang abis makan di Gandaria City, maka kami pesen dua porsi pizza untuk dibungkus aja. Habis pesen kami duduk manis sabar menanti karena katanya rumah hantunya lagi penuh.

Untungnya nggak sampe nunggu 5 menit, mbak waitress datang lagi menghampiri. “Ayo kalo mau main, ada 2 peserta yang batal karena takut,” katanya.

Kami lantas digiring ke lantai 2 lewat tangga berbentuk lorong yang udah dibuat gelap gulita. Biar tambah serem, pihak ‘operator’ nampaknya membakar kemenyan juga. Di tangga ini pula kami ketemu dengan dua orang mbak-mbak yang terduduk lemas, rupanya ini dia calon peserta yang mengundurkan diri karena ketakutan.

Di lantai 2 udah ada 4 orang mbak-mbak peserta yang berkerumun dempet-dempetan di sebuah ruangan gelap, cuma diterangi sebuah lampu kecil berbentuk lilin. Mereka sedang merubungi sebuah kertas yang rupanya berisi ‘petunjuk’ apa yang harus dilakukan berikutnya. Entah seberapa besar pengaruh suasana serem terhadap kemampuan berpikir mereka, tapi kayaknya perintah sederhana yang tertulis di kertas rada sulit mereka pahami hingga akhirnya terdengar suara mas petugasnya, entah dari mana: “INTINYA kalian harus selesaikan puzzle di ruangan sebelah!” Ooo…

Berduyun-duyun kami pindah ke ruang sebelah. Ada meja kecil yang di atasnya tergeletak puzzle kayu, berdampingan dengan sebuah TV yang sedang memutar adegan-adegan film “The Ring”. Kayaknya puzzle ini hanya sebagai pengalih perhatian doang karena pas seluruh peserta lagi konsen ngerjain puzzle, dari lemari kecil di bawah TV muncul mbak-mbak ber-wig panjang, ceritanya Sadako, merayap-rayap di lantai.

“HUAAA!!” teriak keempat mbak-mbak peserta yang langsung dorong-dorongan balik lagi ke ruangan awal kita berkumpul. Sementara gue yang matanya rada kurang awas kalo disuruh gelap-gelapan masih berusaha mengamati lebih jelas kaya apa sih rupa Sadakonya.

Di ruangan tadi kembali keempat mbak-mbak peserta berdiri berdempet-dempetan sambil ngomong, “Eh trus abis ini ngapain lagi nih…”
“Nggak tau, tadi kita disuruh ngapain sih…”
“Bukannya kita harus jalan ke sono?”
“Eh, temen-temen, gimana kalo gue udahan aja…” kata salah satu dari mereka yang sebelumnya beberapa kali mengeluarkan suara seperti mau muntah.
“Jangan mbak, sayang kan udah bayar 5.000,” kata gue. Dia balas menatap gue dengan tatapan seorang waiter kepada pengunjung restoran yang minta kembalian setelah membayar bon seharga 99.950 dengan uang 100 ribuan.

Karena kami kelamaan nggak berani keluar dari ruangan, lagi-lagi terdengar suara petugas dengan nada sebel, “Sekarang kalian harus ambil kertas dekat lampu hijau!”
Sekali lagi kami berbondong-bondong pindah ke ruangan sebelah untuk mengambil kertas dan mudah diduga: udah ada petugas lain yang ngumpet dan nganget-ngagetin dari balik tiang. Sampai titik ini praktis gue nggak terlalu ngeh kayak apa bentuk setannya karena berulang kali cuma terseret-seret peserta lainnya ke sana ke mari.

“Tugas” berikutnya adalah mengambil kertas deket lampu berwarna merah yang digantung di dekat sebuah jendela. Pas lagi ngambil kertas, di balik jendela itu lewatlah sesosok pocong yang alhamdulillah kali ini bisa gue liat dengan jelas. Habis itu berbondong-bondong lagi sambil jejeritan ke ruangan awal, di mana terdengar suara petugas cewek yang diserak-serakin agar mirip suara Mak Lampir: “Sekarang semuanya duduk!” Kami duduk manis, ketika tiba-tiba di jendela di belakang punggung gue muncul wajah perempuan berwig panjang – nampaknya Sadako yang tadi – yang disorot senter dari bawah.

“HIIII!!” seru empat orang mbak-mbak peserta sementara gue memperhatikan wajah itu baik-baik dan akhirnya inget, “Eee… ini kan mbak yang bantuin kita kemarin ya istri?”
“Ssst, suami! Orang dia hari ini lagi jadi hantu, menghargai dikit dong!”
Iya, ternyata itu mbak waitress yang melayani kami kemarin. Memang sejak pertama kali ketemu gue udah terkesan sama dia karena tampangnya lempeng, cocok jadi hantu.

Sebagai atraksi penutup muncul seorang mas-mas yang ceritanya bawa gergaji mesin (dari bau dan suaranya kelihatannya sih mesin pemotong rumput) dan mengacung-acungkannya kepada kami. Abis itu selesai.

Terlepas dari keterbatasan tempat dan fasilitas yang serba seadanya, ide rumah hantu-nya lumayan kreatif. Konon skenario rumah hantunya diganti-ganti terus supaya tetap mengejutkan buat pengunjung. Andaikan mereka punya tempat yang lebih leluasa pasti bisa bikin rumah hantu yang lebih serem.

Dalam perjalanan menuruni tangga, Ida masih aja marahin gue, “suami nih, nggak pas banget, orang suasana lagi tegang malah nyeletuk ‘e ini kan mbak yang kemarin’. Bikin ngedrop tauk”
“Tapi dari kemarin aku liat tampangnya cocok jadi hantu, istri. Datar, soalnya”
Dari kejauhan terdengar suara mbak yang bersangkutan nyaut dengan nada sebel, “Yaaah…Bapak, tega bener!”

Buat yang tertarik tau lebih lanjut tentang Strawberry Cafe, silakan mampir ke website resminya atau halaman FB-nya.

[review] Project Pop – You Got Project Pop


album you got project pop

 

Waktu Project Pop meluncurkan album pertamanya di tahun 1996 dengan hit single “Lumpia Vs. Bakpia” sebenernya gue rada pesimis dengan masa depan grup musik ini. Waktu itu mereka muncul hanya dalam selang waktu yang nggak terlalu lama dengan “kakak”-nya, Project P, yang lebih duluan terkenal dengan parodi dari lagu-lagu hit. Waktu itu menurut gue parodi lagu Project P lebih kocak dan lebih gampang nempel di kuping pendengar karena yang diobrak-abrik memang lagu-lagu yang udah dikenal orang. Sedangkan Project Pop, memangnya siapa sih yang mau beli lagu dengan tema candaan kaya lagu-lagu mereka? Bukannya lagu-lagu romantis bertema cinta akan lebih laku di pasaran?

(lebih…)

Smart Mobile Broadband


Benda ini jatuh ke tangan gue gara-gara pada suatu siang gue ngabuburit di Mal Ambasador bersama seorang temen. Gue tadinya cuma mau beli headset Nokia yang belakangan earpiece-nya budeg satu. Lima menit udah beres, sementara temen gue mampir ke gerainya Smart. Rupanya dia mau mendayagunakan modem PMCIA kepunyaannya dengan menggunakan kartu Smart.

Pas dia lagi ngobrol sama mbak customer service, gue ikutan nguping saat si mbak menjelaskan tentang produk USB Mobile Broadband Modem keluaran Smart. Harganya lumayan terjangkau, 999 ribu termasuk paket langganan sebulan (prabayar), atau paket 12 bulan @225ribu (CMIIW) untuk pascabayar. Yang menarik dari program ini adalah, tarifnya flat buat pemakaian sepuasnya, tanpa batas kuota baik yang terang2an maupun gelap2an. Soalnya kan ada tuh operator mobile lain yang mempromokan internetnya “unlimited” tapi pake bintang kecil (asterisk) yang berbunyi: setelah melewati kuota tertentu kecepatannya dicekek sampe tinggal sepersekiannya. Padahal dalam keadaan nggak dicekek pun suka kaya lagunya Melly (putus-nyambung-putus-nyambung).

Gue bisik-bisik sama temen gue, “Kenapa lu tertarik pake si Smart ini sih? Ini kan operator baru? Emangnya beneran ok?”
“Ok! Tuh ada anak IT yang langganan dan dishare lewat router ke 30 orang, semuanya lancar,” katanya.

Wow. Dua faktor yang meyakinkan gue:
1. Referensinya anak IT
2. Kuat dibagi ke 30 user.
Langsung deh…

“Mbak, saya beli!”
Tumben-tumbenan sih gue impulsif gini untuk beli alat elektronik, tapi rasanya referensi yang gue denger udah cukup meyakinkan. Maka siang itu gue nenteng kardus Smart pulang ke kantor, sambil dicelain sama temen gue, “katanya ke Ambas mau beli headset doang, taunya….”

Sampe kantor gue langsung coba dan lewat Speedtest.net gue ketahui bahwa download speednya mencapai 0.55 Mbps. Masih jauh di bawah maksimum speed yang dijanjikan untuk paket gue, yaitu 3.1 Mbps, tapi udah cukup memadai untuk buka facebook dan mp. Instalasinya gampang banget, tinggal colokin modemnya ke port USB trus programnya langsung menginstall dirinya sendiri. Setelah terinstall akan muncul sebuah aplikasi untuk menggunakan modem ini, termasuk untuk melakukan fungsi voicecall (menelepon). Untuk menyambungkan ke internet tinggal klik ‘connect’, beres.

Tapi, di hari yang sama, temen gue yang lain keracunan liat gue beli modem itu dan ikutan beli. Ternyata setelah dicoba di komputer rumahnya di daerah Bintaro nggak berhasil mencapai kecepatan yang sama seperti yang gue alami di kantor (daerah Kuningan). Temen gue yang lain, dari wilayah Depok juga merasa speednya masih ngesot. Sedangkan detik ini gue coba dari Bandung, masih dapet speed yang sama dengan yang gue dapet di kantor, yaitu berkisar di 0.5-0.6 Mbps. Not bad!

Kesimpulannya:
-buat kalian yang aktivitasnya di seputaran pusat kota jakarta, produk ini boleh dicoba.
-berdasarkan saran dari mbak customer service, lbh baik pilih pake prabayar aja, karena setelah bulan pertama selesai, untuk bulan berikutnya lo bisa pilih paket yang sesuai dengan kebutuhan lo. Kalo kenyataannya di daerah lo maksimum speednya cuma 0.5 Mbps, nggak perlu mahal-mahal beli paket yang 3.8Mbps.

Semoga kualitas Smart semakin ok, dan nggak mengikuti jejak salah satu provider lainnya yang terlalu giat jualan tanpa diimbangi penambahan jaringan sehingga sekarang para pemakainya pada ngomel-ngomel karena internetnya lemot.

Info lengkap tentang produk ini bisa diklik di sini

[review] Daiso – toko paling berisik!


daiso paris van java

Gambar gue comot dari sini

Konsep toko ini mungkin udah nggak asing lagi buat kebanyakan orang, yaitu menjual aneka barang dengan satu harga yang sama yaitu 17 ribu (inget Valu$?). Yang membedakan adalah, manajemen toko ini dengan sangat kejamnya mewajibkan para pramuniaganya untuk berteriak-teriak mempromosikan barang dagangannya!

(lebih…)

Formule 1 Hotel, Menteng, Jakarta


Gue lupa kapan tepatnya hotel ini mulai beroperasi, yang jelas umurnya baru beberapa bulan. Menurut salah seorang temen yang kerjanya di holding company pemilik hotel ini, Hotel Formule 1 memang membidik pasar kaum muda yang ramai nongkrong malem2 di Menteng.

“Lo bayangin dong gung, orang segitu banyak nongkrong di Menteng, mungkin ada yang kenal2an, trus mau ‘lanjut’, tapi nggak ada ‘tempat’ deket situ, kan repot… masa mau di rumput. Makanya kita provide lah, hotel yang yah istilahnya ‘harga mahasiswa’ gitu lah…” kata sumber gue tersebut.

Nggak tau ya apakah yang dia omongin itu memang bener strategi perusahaannya atau bisa2nya dia aja menganalisa, tapi yang jelas room rate hotel ini memang luar biasa ‘ekonomis’, maksud gue untuk ukuran hotel yang berada di pusat keramaian seperti Menteng. Semua kamar dijual sama rata 239 ribu net (harga Oktober 06).

“Lo boleh cek gung, hotel2 transit umumnya pasang rate 250 ribu untuk short time (6 jam), malah ada yang lebih mahal. Tapi di hotel gue, rate lebih murah untuk 24 jam. Kebersihan dijamin. Lokasi strategis. Mau parkir ngumpet? Ada parkir basement!”

Ngeliat tampilan luarnya, gue memang tertarik sih nyobain hotel itu. Abis warnanya lucu, kuning dengan kotak-kotak hitam kaya taksi cab di New York (padahal cuma sering liat di film :-p). Gue emang pernah ngomong sama Ida, “kapan2 nyobain nginep di hotel itu yuk…!” tapi setelah dipikir2, ngapain juga nginep di hotel yang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari rumah? Taunya kesempatan nyoba hotel ini datang gara2 Palyja resek itu mematikan air di rumah gue.

Kesan efisien memang terasa banget sejak langkah pertama memasuki gedung hotel ini. Seperti kata “sumber” gue yang tadi, hotel ini nggak punya department F&B (makanya bagian bawah hotel penuh dengan toko makanan – kalo butuh makanan beli aja di bawah), juga nggak ada room service apalagi bell boy. Resepsionis juga cuma seorang, itupun kadang nggak di tempat. Pas ada tamu dateng, resepsionisnya dipanggilin dulu dari belakang.

Kamarnya sangat minimalis, dengan sentuhan yang sangat “hotel transit sekali” adalah pesawat televisi yang digantung di langit-langit 🙂 Nggak ada air panas di kamar mandi, nggak ada welcome drink, complimentary drink di kamar adalah aqua botol keciiiil, dan yang paling kocak adalah viewnya. Jangan banyak cingcong nanya “viewnya pool atau beach” kaya di hotel Aston Bali, lha wong pas buka jendela kamar pemandangannya adalah.. tangga besi.. hehehehe..

Tapi secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang room ratenya sebanding, hotel ini cukup ‘memuaskan’… apalagi bagi sepasang suami istri yang sekedar butuh tempat numpang mandi. Faktor lokasi strategis, dan yang istimewa: keamanannya juga cukup diperhatikan. Liftnya dilengkapi dengan pengaman kunci kamar ala hotel bintang 4 (walaupun lifnya lift barang! hihihi…), demikian juga dengan pintu akses menuju deretan kamar. Artinya, orang yang bukan tamu nggak bisa selonongan masuk hotel ini.

Secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang setaraf, gue kasih 4 bintang deh! Lima bintang kalo ada air panas di kamar dan channel tivinya nggak banyak yang kresek2.

Foto-foto lengkap tentang hotel ini bisa diklik di album yang ini.

Toko Buku Togamas – diskon seumur hidup!


Toko buku ini terhitung baru ada di Bandung, walaupun sebelumnya konon udah pernah ada di Surabaya.

Memajang motto heboh “diskon seumur hidup”; TB Togamas menjamin semua buku yang dijual di sana didiskon sebesar 10-20%. Hebatnya lagi, dalam masa promosi ini, dia ngasih diskon sampe 30%. Buku komik neo Conan, misalnya, yang harga aslinya 11ribuan, di sana dijual seharga 7ribu saja.

Asiknya lagi, ada layanan sampul gratis untuk semua buku yang lo beli di sini. Sampulnya pake sampul plastik yang mirip laminating itu, jadi rapi!

Kelemahannya, dia nggak nerima credit card (konon dalam waktu dekat akan mulai bisa sih), nggak pake AC, dan seluruh buku yang dipajang diplastik rapet tanpa ada yang dibuka sebagai sampel.

Lumayan sebagai alternatif belanja buku di Palasari.

Alamat TB Togamas: Jl. Supratman, Bandung (dekat perempatan dengan Jl. Ciliwung).

RS Stella Maris, Makassar


W

aktu pertama kali dikabarin Ibu sakit di Makassar dan dirawat di RS setempat, pertanyaan pertama gue adalah, “Butuh berapa lama sebelum kondisi ibu cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?”

Pikiran gue: rumah sakit di seberang pulau, pasti serba terbatas dan asal-asalan. Daripada ngambil resiko yang nggak perlu, kan mending ibu dirawat di RS di Jakarta yang lebih ‘genah’. Keraguan gue makin menebal waktu ngeliat sendiri fisik bangunan rumah sakitnya. Bangunan kuno bekas peninggalan jaman belanda dengan pilar-pilar gede plus patung raksasa ala gothic – ini RS pasti penuh demit.

Patung gothic di depan RS

Eh taunya…never, ever judge a hospital from its statue.

Poin positif pertama buat kekompakan tim dokternya.
Berhubung ibu gue punya diabetes, tentunya dokter yang menangani adalah seorang internis. Setelah memeriksa ibu, dokter membuat dugaan penyebab penyakit ibu. Dugaan pak dokter ada infeksi di sendi tangan dan kaki ibu, menyebabkan demam dan sakit pada seluruh persendian. “Tapi untuk pastinya, biar saya konsultasikan dulu dengan rekanan saya yang ahli bedah”
Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue ketemu dokter yang nggak sok tau. Banyak dokter yang bersikap seperti para dewa maha tau. Sekalipun jelas-jelas penyakit pasien berada di luar kompetensinya, masih aja nggak mau ngerujuk ke dokter lain. Sedangkan di sini, tim dokternya kompak dan saling menghargai bidang keahlian masing-masing. Sebelum ngambil tindakan yang kiranya akan berdampak bagi penanganan dokter lainnya, mereka akan saling berkomunikasi dulu.

Poin positif ke dua gue berikan untuk kelengkapan informasinya. Dengan kedatangan gue, berarti si dokter menghadapi 3 anak ibu yang bawel melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar penyakit ibu. Kenapa penyakit ibu seperti akut, tiba-tiba muncul dan memburuk? Apa pemicunya? Kalo memang ada sejak dulu, kenapa baru sekarang muncul? Apa itu radang sendi? Apa itu osteoporosis? Apa hubungannya dengan diabetes ibu? Kenapa bengkak di daerah tertentu sakit bila disentuh, sementara di daerah lainnya enggak? Seluruh pertanyaan itu dijawab oleh dokter dengan sabar. Malah dokternya bersedia berlama-lama menjelaskan istilah-istilah kedokteran dengan bahasa awam, dan ini dilakukan oleh semua dokter yang memeriksa ibu, bukan cuma dokter tertentu aja.

Poin positif ke tiga: para susternya. Yang jadi perhatian gue mulai dari hal sederhana aja: gimana suster merespon pertanyaan dari pasien. Kadang gue atau kakak gue menanyakan sesuatu yang nggak bisa dijawab langsung oleh para suster. Mereka akan bilang, “Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke dokternya” lantas pergi sebentar dan nggak lama kemudian udah balik membawa jawaban. Sedangkan yang gue temukan di sejumlah RS Jakarta, kalo susternya bilang “sebentar ya, nanti saya tanyakan” atau “habis ini akan saya kerjakan” itu artinya dia sebentar lagi mau ganti shift dan udah males ngerjain apa-apa lagi.

Minus pointnya ya terletak pada kondisi gedungnya itu. Sebagai gambaran aja nih, di ruang ronsen ada poster yang memuat posisi-posisi anggota tubuh diperagakan oleh model, yang gue yakin modelnya pasti udah meninggal saking tuanya tuh poster. Mesin ronsennya juga kayaknya buatan jaman sebelum Gestapu, serta kondisi toilet umum (yang ada di luar kamar pasien) mirip TKP kasus pembunuhan bayi. Andaikan tim dokter dan perawat di sana dikasih gedung yang lebih canggih dan modern, gue akan dengan senang hati ngasih 5 bintang untuk RS ini.

iDailyDiary


Ini adalah program gratisan buat yang suka nulis diary. Yah, sebenernya kalo mau nulis diary, nggak usah pake program ini juga bisa sih. Tapi dengan program ini, diary lo akan lebih terorganisir (dibanding kalo ditulis di MS Word) karena ada navigasi untuk ngeliat journal2 entry di tanggal2 yang udah lewat. Tampilannya juga bisa dimodifikasi dengan fungsi-fungsi yang mirip dengan formattingnya word. Lo bisa ganti2 warna font, insert picture, bahkan hyperlink baik ke halaman yang online maupun ke entry lainnya dari diary yang sama. Selain itu juga ada fungsi yang wajib buat semua jenis diary, yaitu password protection.

Buat pengguna multiply yang rajin posting, program ini juga memudahkan karena elo bisa export journal lo ke dalam format HTML.

Kelemahan kecilnya, menurut gue, insert hyperlinknya nggak terlalu mudah, nggak semudah masukin hyperlink di word. Di luar ini, program ini udah cukup oke, dan dapet bintang 4 dari gue.

Fakta – kasus Amanda


Pada nonton ngga Fakta edisi semalem (agt 5) tentang kasus Amanda. Gue takjub liatnya, kok bisa2nya dalam waktu singkat nemu model yang yaaah… rada2 mirip lah dengan para pelaku asli. Terutama yang jadi Ronald… mirip banget! Tapi jangan ngomong, abis masa Ronaldnya logat njawani gitu, hehehe. Trus waktu adegan Amanda abis dicekek trus ekspresi mukanya melet serem gitu, hiiiiiii…..

  • Komentar Terbaru

    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    Tjetje [binibule.com… di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    [sharing HRD] negosi… di [sharing HRD] WASPADA! 5 gelag…
    Koper | (new) Mbot… di Realita, Cinta, dan Rock n…
    mbot di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    ganganjanuar di Yang Terjadi Pada Bahu Ayah In…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    Tjetje [binibule.com… di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    mbot di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
    enkoos di OGC 2017: Udah Pernah ke Roma,…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.247 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda. Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke s […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: