Marengo


Ngeliat dari penampilan fisiknya yang masih bersih dan kinclong, kayaknya resto penyaji aneka nasi campur ini masih relatif baru. Tempatnya cozy, desain interiornya ‘lucu’, plus ada free wi-fi pula. Kayaknya mereka cukup serius menyediakan diri sebagai tempat orang nongkrong berlama-lama, terlihat dari banyaknya stop kontak tersedia di kolong bangku 🙂

Makanannya macem-macem, tapi kayaknya andalannya adalah aneka jenis nasi campur, seperti keluarga nasi campur bali dan sejenisnya. Harga makanan sekitar 30 – 50 ribu per porsi, sedangkan minuman ‘fancy’ seperti fruit punch ditawarkan dengan kisaran harga 20 – 30 ribu.

Recommended buat yang nyari tempat ngetem sambil nunggu kemacetan mencair 🙂

Iklan

SAP – Siomay Ayam Perintis


Sebagai makanan yang cukup populer di Jakarta, sebenernya rada mengherankan melihat betapa sedikitnya orang yang menggarap siomay secara serius. Jarang gue menemukan siomay yang bener-bener ‘nendang’ rasanya. Makanya gue girang banget dengan keberadaan produk yang satu ini.

Diproduksi oleh salah satu dedengkot MP, Hagi Hagoromo, siomay yang dimereki “Siomay Ayam Perintis” alias SAP ini bener-bener layak dikasih bintang lima. Rasa ayamnya bener-bener gurih, empuk, dan yang lebih penting lagi: punya ciri khas dibanding siomay-siomay lainnya.

Kemarin Ida pesen 150 potong untuk dibagikan kepada para tetangga, maksudnya sebagai tanda perkenalan dari warga baru di daerah Tebet Timur. Tapi setelah semalem gue makan sepiring penuh, dan pagi ini lagi, kasihan…. kayaknya para tetangga nggak akan kebagian banyak, deh.

Buat yang mau pesen silakan kontak langsung ke Hagi / Yeni di 021-71573507. Dia nggak buka outlet, jadi kalo mau nyicip harus pesen ya. Nanti dianter ke rumah.

toko nusa indah: solusi buat yang males nenteng oleh-oleh


Mungkin elo pernah mengalami kejadian berikut:

Lo harus pergi ke luar kota, dan semua orang pada heboh nitip minta bawain oleh2 khas dari kota tujuan. Sebagai teman yang baik lo menyanggupi, sampai kemudian lo udah balik mendarat lagi di Bandara Sukarno Hatta dan menyadari bahwa lo sama sekali lupa beli satupun oleh-oleh titipan mereka!

Apa yang akan lo lakukan? Pesen tiket pesawat balik ke kota tujuan?

Nggak perlu. Lo tinggal dateng aja ke toko Nusa Indah, di jalan KH Ahmad Dahlan No. 33. Toko ini menjual berbagai oleh-oleh khas dari seluruh penjuru tanah air. Serius, bener2 dari seluruh penjuru Indonesia.

Sebut aja, ada dodol Ny. Pang dari Muntilan, brownies Prima Rasa dari Bandung, eskrim Zangrandi dari Surabaya, bika ambon dan sirup markisa dari Medan, keripik sanjay dari Padang, kerupuk udang ‘siok’ dari Sidoarjo, bakpia pathuk dari Jogja, lumpia dari Semarang, dsb dsb. Semuanya adalah barang-barang asli dari para produsen oleh-oleh khas tersebut, dan masih dikemas dalam kotak bahkan tas plastik orisinal dari ‘sono’nya. Jadi, si penerima nggak akan bisa bedain apakah makanan yang diterimanya benetulan dibeli dari luar kota atau hanya sekedar dari Jl. Ahmad Dahlan belaka.

Jadi, ketimbang repot2 nenteng oleh-oleh masuk pesawat, bayar biaya overweight segala, tangan pegel dan kaki varises, mendingan mampir aja ke toko Nusa Indah. Memang pastinya akan ada selisih harga dibandingkan dengan beli di tempat aslinya, tapi sepadan lah dengan kenyamanan dan kemudahan yang lo rasakan dengan belanja di sini.

Wingko Babat Carrefour Ambassador


Buat para penggemar wingko babat, cemilan tradisional yang sulit ditemukan di Jakarta, coba deh mampir ke Carrefour Ambassador. Di deket bagian minyak goreng ada sebuah stan kecil yang jualan batagor, dorayaki, dan wingko babat.
Wingko babatnya dibuat sesuai pesanan, jadi kalo mau beli pesanlah saat baru dateng – karena masaknya cukup lama. Udah gitu, cetakannya juga cuma bisa bikin 12 pcs sekali masak, jadi buat yang berencana mau beli banyak, misalnya beli 200 pcs untuk suguhan arisan, gue sarankan mending pesen risol kribo aja deh.

Harganya 2.750 per pcs, sepadan dengan rasanya yang gurih dan ukurannya yang lumayan gede (kurang lebih segede diameter kaleng susu kental manis). Lumayan buat obat kangen wingko babat cap kereta api yang akibat kenaikan harga makin lama ukurannya makin kecil. Terakhir gue makan cuma tinggal segede koin gope’an, bayangkan.

Stonegrill Dining


Tempat ini sering banget gue lewatin, karena lokasinya nggak jauh dari kantor di kuningan. Tapi justru karena tempatnya deket kantor, niatan untuk nyoba malah batal melulu karena menu makan siang lebih didominasi oleh nasi padang ketimbang steak.

Malam ini, istri rewel minta dijajanin “bakar-bakaran” – tentunya yang dia maksud bukan jagung. Maka gue buka-buka website andalan untuk nyari referensi makananan, makanmulu.com. Di situ gue ngubek di section ‘steakhouse’ dan menemukan review 2 orang pengunjung tempat ini. Kebetulan dua-duanya ngasih nilai yang bagus, dan disertai dengan deskripsi yang lumayan detil pulak, maka meluncurlah gue, isri, plus bonus Sigit ke sana.

Walaupun papannya terpampang jelas di pinggir jalan, ternyata resto ini posisinya rada nyelip di bagian belakang Kantor Taman. Tempatnya nggak terlalu besar, cuma ada sekitar 50 kursi. Interior ruangan didominasi warna hitam dan merah sesuai logonya. Pilihan musiknya berada pada volume dan jenis musik yang pas dan nggak annoying.

Yang ‘unik’ dari tempat ini adalah; steak disajikan mentah ke hadapan pengunjung. Untuk memasaknya, piringnya dilengkapi dengan sebuah batu panas berbentuk segi empat. “Panas batunya bisa bertahan sampai sekitar setengah jam,” kata waiter-nya menjawab pertanyaan Ida yang kuatir steaknya kurang mateng. Secara umum, pelayanan para waiternya baik dan informatif, nggak segan menjawab pertanyaan tamu yang masih gaptek belum pernah makan di sini.

Menu yang kami coba: Black Angus Tenderloin (gue), Black Angus Rib-Eye (sigit), dan Mixed Grill (Ida). Nggak pinter masak steak? Jangan kuatir, waiternya dengan sigap membantu memberikan tips cara memotong dan membolak-balik daging biar matengnya merata. Nggak usah kuatir ketemu daging alot juga, karena kualitas daging yang tersaji di resto ini rata-rata tergolong tinggi. Mungkin sapinya diajak ngomong baik-baik sebelum disembelih, jadi nggak banyak berontak, gitu loh.

Selain steaknya gue juga nyoba mushroom soup. Buat para penggemar jamur-jamuran, pasti akan suka dengan soup ini karena rasanya yang ‘jamur banget’, kayaknya dibikin dari jamur yang diblender deh. Makanya warnanya item kaya rawon.

Sebagai penutup, kami memilih hidangan sehat: buah potong. Kata Ida, bahkan buahnya pun enak. Kayaknya mas-mas di bagian pembelian bahan bener-bener jago milih bahan-bahan terbaik.

Singkat kata, 5 bintang untuk tempat ini. Damage cost sekitar 200-300k per pax rasanya sepadan dengan kualitas makanan yang disajikan. Kalo berkunjung ke sini di saat weekend, atmosfirnya juga cocok untuk ‘main bisik-bisikan’ :-))

Update: dengan sangat menyesal gue informasikan bahwa tempat ini sekarang udah tutup!

es campur resto Pertemuan (d/h Rendezvous)


Restoran ini dulunya bernama "Rendezvous", tapi gara-gara ada menteri atau siapalah itu di pertengahan dekade 90-an yang ‘menghimbau’ (baca: memaksa) agar nama-nama usaha yang berbahasa asing di-Indonesiakan, maka beralihlah namanya menjadi Restoran "Pertemuan".

Dulunya dia berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto, bertetangga dengan bioskop Menteng. Waktu bioskop Menteng digusur, dia pindah ke lokasi barunya di bilangan Johar, dekat Stasiun Gondangdia sampai sekarang. Kalo mau ngebayangin lokasinya dulu, kurang lebih dia berada di lokasi Starbuck sekarang.

Sebenernya yang terkenal dari resto ini adalah somaynya. Tapi berhubung di menunya terpampang masakan ‘cap cay babi’ dan ‘kodok cah’, maka gue memilih untuk cukup menikmati aneka es campurnya aja – yang juga istimewa.

Ada 3 jenis es campur di resto ini: es shanghai, es teler dan es sekoteng. Semuanya dibandrol dengan harga yang sama yaitu 10 ribu rupiah (harga th 2007). Yang paling istimewa dari ketiganya menurut gue adalah es sekotengnya, karena ada sedikit aroma kayu manis yang bikin rasanya unik. Porsinya juga pas, nggak terlalu gede.

Tempat ini juga cocok buat yang mau bernostalgia dengan suasana restoran di periode 80-an, karena setting ruangannya boleh dibilang sama persis dengan keadaannya di tahun segitu. Kalo kapan-kapan mampir ke sana, perhatikan kaca pembatas tempat pembuatan es campur yang bertuliskan aneka menu makanan dan minuman: kaca itu adalah kaca asli dari lokasi lamanya di HOS Cokroaminoto.

Pollo Campero


Update: Restoran ini udah tutup. No wonder why.

Pertama kali tau tentang resto ini dari reviewnya si Idunk. alo gue baca di situ, nampaknya sih dia juga nggak terlalu terkesan dengan resto ini. Kutipannya;

Kalo dari service, rasanya masih kurang banget.. apa karena kita datengnya emang pas lagi rame banget dan keliatan pramusaji-nya masih pada kelabakan..

Dia juga mengakui bahwa 3 bintang yang diberikannya kemungkinan dipengaruhi oleh ‘perlakuan khusus’ berupa dapet voucher dan complimentary rice bowl. Tanpa itu mungkin cuma 2 bintang kali.
Tapi sebelum nyoba sendiri rasanya belum afdol – maka malam ini gue memutuskan untuk menjajal tempat baru itu bersama Ida dan bayi Rafi. Ternyata hasil penemuan gue adalah:

  • Emang bener pramusajinya nampak masih bingung. Contohnya waktu gue mau pesen ayam – paket yang mereka sediakan cukup ‘unik’ yaitu pengunjung harus milih antara beli paket isi 2 potong atau isi 9 potong (jadi nggak bisa beli satuan – nampaknya). Berhubung bayi Rafi belum tertarik makan ayam goreng maka gue beli yang paket 2 potong disertai pertanyaan, “Boleh nggak saya minta ayamnya dada semua?”.
    Ternyata pertanyaan tersebut tergolong pertanyaan yang cukup ‘pelik’ di resto ini, terlihat dari ekspresi mbak pramusaji yang langsung menegang, lantas berkonsultasi pada temannya, “boleh nggak ayamnya dada semua?”. Pertanyaan ini disambut dengan ekspresi yang tidak kalah tegangnya, diikuti berikutnya dengan adegan mondar-mandir sang teman yang ditanya tadi (mungkin ceritanya untuk menimbulkan kesan ‘mengecek’ apakah benar stok dada ayam masih berjumlah genap sehingga bisa diberikan 2 sekaligus).
    Setelah menanti beberapa menit akhirnya gue menerima jawaban penuh keraguan “nggg… ngg… boleh deh pak”. Padahal gue nggak maksa lho. Maksudnya, kalo memang nggak boleh ya nggak papa, toh gue bisa pindah ke chilli’s yang udah karuan lebih nyaman dan lezat.
  • Kalo dibandingkan dengan resto yang sejenis, tempat ini tergolong mahal. Untuk 1 paket ayam isi 2 yang didapatkan secara menegangkan tadi, plus 2 minuman kelas softdrink dan 1 kentang ukuran besar, gue harus bayar bon senilai 50.900. Nyaris 2 kali lipat lebih mahal dari KFC. Nah pertanyaannya, apakah rasanya 2 kali lipat lebih enak? Baca poin berikut.
  • Jawabanya adalah TIDAK. Bukannya nggak enak, tapi ya biasa aja dan tidak lebih enak dari KFC – tempat di mana gue bisa beli dada ayam berapapun jumlahnya tanpa harus merasa bersalah seperti habis minta kenaikan uang jajan pada ibu.
  • Interiornya cukup bagus, dan tempatnya luas banget (plus poin) 
  • Ada area khusus untuk merokok (plus poin lainnya) 
  • Secara umum pramusaji yang gue temui menunjukkan sikap yang ramah, dalam arti rajin tersenyum, mengucapkan selamat datang dan selamat malam (plus poin, namun sayangnya tujuan utama gue datang ke sebuah resto adalah untuk makan – bukan beramah tamah. Kalo mau beramah tamah mending gue dateng ke kopdar MP).

Kesimpulan:
Kehadiran 3 poin terakhir membuat gue (dengan tidak terlalu rela tentunya, sama tidak relanya seperti mbak pramusaji yang harus menjual paket isi 2 potong ayam yang dada semua) memberikan 2 bintang untuk resto ini. Mungkin kalo gue dateng di saat rame banget seperti si Idunk, bisa melorot ke bintang 1. Kalo ditanya apakah gue berminat datang lagi ke sini, maka jawabnya adalah YA dengan syarat:

lagi ditraktir…

ATAU

lagi dalam keadaan lapar banget namun nggak ada satupun penjual makanan lain, termasuk tukang toge goreng dan pecel lele yang buka…

ATAU

…lagi pergi bareng segerombolan teman yang mana tiba-tiba mereka merasa lapar di jalan dan mengajak cari makan dan salah satu di antaranya berseru “yuk, kita makan di pollo campero” sedemikian rupa sehingga yang lainnya berseru-seru “asiik… ayo, ayo, kita makan di pollo campero” dan gue udah mencoba dengan sekuat tenaga berteriak, “amit-amit, mendingan gue makan soto bercoro” namun ditukas oleh yang lainnya dengan berkata “ah agung anaknya nggak asik nih, nggak fungky, nggak hore” lantas mereka mengancam bahwa kelak di kemudian hari bisa saja terjadi sanksi sosial berupa “agung yang mana sih?” “itu tuh yang nggak mau gabung waktu kita makan di pollo campero” – maka YA, kemungkinan gue akan mau makan lagi di Pollo Campero.

di luar syarat tersebut mending makan di KFC.

Cali Deli


cali deli mentengCafe ini menawarkan suasana yang santai, cucok untuk duduk2 ngobrol ngalor-ngidul berlama-lama. Hidangan yang ditawarkan semuanya sandwich dengan berbagai pilihan isi. Harga dipatok berkisar 20-30rb per porsi. Dengan ukuran yang lumayan gede dan bahan yang berkualitas, kayaknya harga segitu cukup sepadan kok.

Yang gue coba kemarin ini adalah Chicken Grill, sedangkan Ida makan sandwich isi pisang coklat. Chicken Grillnya enak, isi ayam yang empuk dengan saos kecoklatan berpadu serasi dengan roti yang garing renyah. Sedangkan sandwich pisangnya, yah berhubung gue nggak doyan pisang olahan (baca selengkapnya di sini) jadi gue percaya aja deh penilaian Ida yang bilang sandwich tsb enak.

Minumannya, gue nyoba sejenis vietnamese coffee yang di-ice-blended. Lumayan enak walaupun ngeblendnya kurang lama dikit (krn pecahan esnya belum nyatu banget) dan rada kurang manis dikit. Bagusnya, kopinya segar baru digiling.

Pelayanannya ramah. Mungkin krn relatif baru buka dan masih sepi, jadi mereka punya waktu luang untuk berhandai-handai dengan pengunjung. Nanya makanannya enak apa enggak, minumannya enak apa enggak, dan yang terakhir nanya “banyak nyamuk nggak?” sambil tak lupa menitipkan sebuah… raket nyamuk agar kami dapat membela diri bila diserang nyamuk.
Kekurangan tempat ini adalah: kurang menu cemilan, padahal tempatnya udah cukup nyaman untuk nongkrong. Dan oh ya, keramahan karyawannya itu mungkin perlu dikurangi sedikit. Beberapa orang mungkin akan merasa terganggu dengan ‘perhatian’ yang sedemikian besarnya.

cali deli combo

Yang ini berisi daging ayam dan smoked beef. Harusnya sih ada 4 potong, tapi baru inget motret pas udah nyomot sebiji.

calil deli big kid

Ini minuman ‘maut’ yang terdiri atas susu manis, kopi dan coklat bubuk. Not recommended buat para pasien internis 🙂

 

suasana cali deli menteng

Bagian teras resto dikelilingi pohon bambu yang disorot lampu dan disemprot uap air biar adem. Kesannya jadi rada berkabut gitu deh, keren!

 

Warung Sate Shinta


Setelah sebelumnya dihuni oleh resto “Bawang Merah” yang “heboh” itu (baca reviewnya di sini, lo akan ngerti apa yang gue maksud dengan “heboh”), sepetak tanah di seberang gedung Pusda’i kembali berganti penghuni. Hm.. kenapa ya di lokasi yang sepintas keliatan strategis ini justru banyak usaha yang gagal?

Penghuni baru di sini bernama “Warung Sate Shinta” (selanjutnya gue tulis WSS). Konon sih resto ini cabang dari Cipanas Puncak, cuma berhubung gue jarang main ke puncak gue nggak tau juga seberapa ngetop dia di sana.

Sesuai namanya, tentu aja menu andalan di sini adalah sate. Ada 3 jenis sate yang ditawarkan, yaitu ayam sapi dan kambing. Gue coba yang ayam dan kambing.

Ciri khas yang langsung terasa dari sajian sate mereka adalah aroma kari di bumbunya. Sate memang salah satu hidangan yang lumayan susah untuk dimodifikasi tanpa melenceng dari ‘pakem’ – dan menurut gue yang dilakukan oleh WSS cukup berhasil. Ukuran satenya juga pas, dan dibandingkan dengan Sate Has Senayan (d/h Satay House Senayan), satenya WSS lebih terasa ‘asli’ dan ‘pinggir jalan’ walaupun disajikan di atas hotplate.

Selain sate, buku menu WSS juga memuat aneka pilihan hidangan mulai dari sup asparagus, karedok, hingga steak. Gue cobain soup unik yaitu campuran antara sup asparagus dan sup ayam. Waktu terhidang, kedua jenis sup itu berdampingan tanpa bercampur dalam satu mangkok. penampilannya jadi unik, belang putih – hijau di dalam mangkok. Gimana cara nuangnya ke situ ya?

Urusan penampilan kayaknya cukup mendapat perhatian di sini. Mulai dari tuangan kecap di atas saos kacang yang cukup ‘artistik’, hingga bentuk cetakan nasi putih yang mirip tumpeng mini. Lucu juga.

Faktor minus yang menghalangi gue untuk ngasih 5 bintang ke resto ini adalah jumlah laler yang masih tetep aja segambreng seperti waktu jamannya “Bawang Merah” dulu (emang kenapa sih dengan lampu2 penangkap laler itu? udah nggak ngetrend atau gimana?) dan waktu tunggu yang relatif lama – sekalipun gue berkunjung bukan di jam sibuk.

Bawang Merah


***
UPDATE:
Resto ini udah bubar jalan, digantikan dengan resto Warung Sate Shinta yang reviewnya bisa diklik di sini.
***

Hati-hati kalo sukses jualan di Bandung. Kalo elo memulai usaha dengan sebuah ide orisinal, maka dalam waktu singkat akan bermunculan para peniru. Sedemikian banyaknya sehingga di kota sekecil Bandung resikonya adalah bunuh diri massal.

Contoh klasiknya adalah jualan jeans di Cihampelas. Di sana pasar jeans udah sedemikian jenuhnya sehingga lo dateng kapanpun, bulan apapun, selalu lagi “clearance sale 70%”. Toh tetep aja toko-toko jeans di sana sepi pengunjung. Jalan Cihampelasnya sih tetep aja macet, tapi orang-orangnya pada numplek di Ciwalk – untuk ngopi, bukan untuk beli jeans.

Kasus yang sama terjadi pada FO. Bisnis FO keliatan sukses, lantas tiap minggu muncul FO baru. Di jalan Otten bahkan sempet ada FO sampe 5 biji – yang sekarang udah bubar semuanya.


Ucapan selamat datang yang (mencoba keras untuk tampil) unik dan komunikatif

Trend terbaru yang kayaknya lagi hangat di kalangan para pengusaha latah di Bandung adalah resto self-service yang menyajikan masakan Sunda. Yang pertama melejit adalah resto ‘Bumbu Desa’ – sekarang udah punya 2 outlet karena outlet pertamanya bikin macet lalu lintas saking ramenya. Yah, mungkin dia bukan yang pertama banget sih, karena sebelumnya udah ada resto ‘Ampera’. Tapi yang pertama kali mengemas tampilannya dalam bentuk yang ‘modern’ dengan logo yang funky ya si ‘Bumbu Desa’ ini. FYI, Bumbu Desa memajang logo dengan font imut-imut dan gambar cabe merah bulet terselip di tengahnya. Nggak lama kemudian, muncullah ‘Dapur Cobek’ di jalan Sulanjana. Gue dan Ida pernah ke sana sekali, dan menemukan bahwa jumlah waiternya 2 kali lipat lebih banyak dari jumlah pengunjung. Rupanya orang masih tetep memilih pergi ke ‘Bumbu Desa’, sekalipun logo ‘Dapur Cobek’ bergambar cobek kartun di tengah logonya. Walaupun begitu, rupanya kondisi memprihatinkan si ‘Dapur Cobek’ belum membuat gentar para pengikut karena baru-baru ini buka sebuah resto bernama ‘Bawang Merah’. Dan ini pengalaman gue, Ida, dan seluruh keluarga Ida makan di sana di sebuah hari Minggu yang cerah.


Galau menerima order

Resto ini menempati sebuah sudut strategis di jalan Diponegoro – berseberangan dengan Pusdai, gedung resepsi paling top di Bandung dan di tengah rute populer menuju Dago. Bangunannya adalah sebuah bangunan tua peninggalan jaman kolonial Belanda, memperkuat atmosfir ‘tempo doeloe’ yang makin terasa berkat kehadiran para waiter berbaju koko dan waitress berkebaya putih. Mencoba sedikit berbeda dengan ‘Bumbu Desa’ maupun ‘Dapur Cobek’, ‘Bawang Merah’ menawarkan beberapa item menu yang dibuat berdasarkan pesanan – di luar menu2 yang bisa langsung dicomot. Kemarin itu gue pesen ayam pengasepan or something, pokoknya deskripsi dari mbak waitress itu adalah ayam yang diasep terus digoreng. Sounds delicious. Ida pesen ikan nila bakar. Selebihnya, lalapan dan sambel nyomot dari deretan menu self-service.

Suasana Indonesia di jaman kolonial makin terasa setelah order disampaikan, karena kemudian para waiter dan waitress saling berlarian panik seperti lagi dikejar Belanda. Kalo gue perhatiin, urutan pengelolaan ordernya adalah sebagai berikut:

  1. Pengunjung melambai memanggil waiter / waitress.
  2. Waiter / waitress sedang sibuk melayani pengunjung lain.
  3. Pengunjung memanggil lagi dengan tampang bete.
  4. Mbak-mbak dari balik meja kasir turut melambai dan meneriakkan beberapa komando kepada para waiter / waitress di tengah medan laga.
  5. Mendengar teriakan dari balik meja kasir, beberapa waiter / waitress berdatangan menuju meja pengunjung yang tadi manggil.
  6. Para waiter / waitress yang tadi sedang menuju meja pengunjung saling menyadari bahwa untuk melayani pengunjung hanya diperlukan satu waiter / waitress, maka sebagian besar dari mereka balik badan – urung mendatangi meja pengunjung.
  7. Melihat rekan-rekannya pada balik badan, seorang waiter / waitress yang tersisa ikut-ikutan balik badan.
  8. Pengunjung yang belum juga mendapat pelayanan terus melambai dengan wajah yang semakin bete.
  9. Mbak-mbak di meja kasir berteriak lagi, kali ini menujuk salah seorang waiter / waitress secara spesifik.
  10. Waiter / waitress yang dipanggil secara spesifik mendatangi meja pengunjung dan menerima order.
  11. Order dibawa ke balik meja kasir, diterima oleh seorang waiter / waitress lain.
  12. Waiter / waitress di balik meja kasir menuju lobang di dinding yang menghubungkan dunia luar dengan tempat penyekapan bernama dapur.
  13. Tunggu 20 menit.
  14. Pengunjung yang tadi melambai lagi dengan maksud menanyakan pesanannya.
  15. Ulangi langkah 2 – 10.
  16. Waiter / waitress yang menerima ulangan order menuju lobang di dinding dengan wajah panik.
  17. Melihat rekannya mendatangi lobang di dinding dengan wajah panik, beberapa waiter / waitress lainnya turut mengiringi sebagai pertanda simpati.
  18. Beberapa waiter / waitress bergerombol di depan lobang di dinding.
  19. Mbak-mbak di balik meja kasir berteriak lagi untuk membubarkan gerombolan di depan meja kasir.
  20. Tunggu 10 menit.
  21. Muncul seorang bapak berwajah Arab, nampak jauh lebih ‘senior’ daripada para waiter / waitress, tidak berseragam, mengantarkan pesanan.

Deretan tudung saji berisi lalat

Man, suasananya bener-bener ‘galau’ abis. Waiter / waitress berlarian ke sana kemari, saling bertabrakan dan bersikutan, tumpang tindih melayani pesanan. Nanti kalau suasana galau udah semakin memuncak, tiba-tiba terdengar =PRANGGG…!!= pesanan tumpah berantakan dari baki. Belum lagi ditingkahi dengan serbuan lalat yang segede-gede tawon. Yang menarik, pilihan menu self-service semuanya ditutup dengan tudung saji. Tadinya gue kira untuk mencegah lalat masuk. Setelah gue liat dari dekat, ternyata di dalamnya justru terdapat sejumlah lalat yang terperangkap nggak bisa keluar. Mungkin itu hukuman dari managemen resto Bawang Merah bagi lalat-lalat nakal yang telah mengganggu pengunjung.


Kucing turut menyambut tamu

Nggak cukup dengan lalat, muncul seekor kucing besaaar… berwarna oranye-kuning. Ih sumpe deh tuh kucing gede banget. Kucing mondar-mandir memberikan kata sambutan kepada para pengunjung – tentunya dalam bahasa kucing – dan setelah pesanan datang turut duduk di sebelah pengunjung dengan cakar menggapai-gapai menu di atas meja. Bila tidak sibuk menemani pengunjung makan, kucing melakukan inspeksi dengan mondar-mandir di bawah meja sambil mengangkat buntutnya yang panjang dan keras itu tinggi-tinggi – bikin sejumlah pengunjung terpekik kaget saat kakinya tertabrak buntut. Pokoknya, buat yang lagi bosen dengan kehidupan rut
in, resto ini menyuguhkan banyak kejutan untuk kembali menggairahkan hidup.

Saat pesanan keluar, yah… ayam asepnya lumayan lah. Sambelnya juga. Berhubung gue nggak doyan ikan jadi gak tau rasa ikan bakarnya. Tapi keliatannya semua pada doyan. Minimal 3 bintang lah untuk rasa makanan. Saat makanan baru setengah termakan, ibunya Ida langsung memanggil waiter, minta bon. Ida heran, “Kok minta bon sekarang?” Ibunya menjawab, “Liat aja tuh meja sebelah, dari tadi minta bon nggak keluar-keluar. Udah setengah jam lebih. Daripada nanti ketinggalan Cititrans, kan mending minta bon dari sekarang.” Sebuah pengamatan antisipatif yang sangat cermat karena memang betul, bon baru keluar 35 menit kemudian. Prosedurnya mirip dengan prosedur menerima pesanan. Dan buat yang makan di sana rame-rame, cek sekali lagi bonnya. Sebuah milkshake coklat yang sempat dipesan tapi nggak keluar karena stok habis tetap muncul di bon.


PRANGGGGG…!!!

Hati yang galau sedikit terobati saat muncul seorang bapak berdasi, menanyakan kesan dan pesan kami mengenai pengalaman makan siang di resto ‘Bawang Merah’. Gue sampaikan saran perbaikan agar resto membeli lampu anti lalat yang banyaaaak… dan memperbaiki urutan penanganan order. Kalo perlu menu berdasarkan pesanan dihilangkan aja, jadi semua pesanan menggunakan sistem self-service.

Selesai makan, semua beranjak pulang untuk mengantar gue dan Ida ke pangkalan Cititrans. Baru beberapa langkah meninggalkan meja, terdengar lagi… =PRANGGG…!!=

Galau abis man, galau abis…

Note: Klik pada foto kalo mau liat lebih jelas.

Gandy Steak House


Jadi yang pertama, kalo elo bergerak di bisnis makanan, punya banyak keuntungan. Keuntungan yang terpenting adalah: elo akan jadi benchmark untuk semua makanan sejenis yang mungkin muncul.

KFC, contohnya. Dialah ‘fried chicken’* pertama yang gue rasain, maka yang tertanam di kepala gue ‘fried chicken’ tuh ya kayak KFC gitu rasanya. Yang mengaku-ngaku ‘fried chicken’ tapi rasanya nggak kayak KFC, nggak gue itung sebagai ‘fried chicken’. Termasuk produk KFC sendiri, yang crispy itu. Gue tetep lebih suka yang original recipe.

Hal yang sama berlaku buat Gandy Steak House. Steak ‘serius’ pertama yang terekam di otak gue adalah steaknya Gandy. Dan yang gue maksud ‘serius’ di sini adalah steak yang dihidangkan di atas hotplate dengan bumbu dan rasa steak**. Buat gue, Gandy adalah contoh steak yang baik dan benar.

…kalo pingin ngerasain steak yang dibuat secara baik dan benar, makan steaknya Gandy

Maksud gue,
…kalo pingin tau gimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tanya sama Jus Badudu.
…kalo pingin denger gimana teknik nyanyi yang baik dan benar, denger Ruth Sahanaya.
…kalo pingin ngerasain steak yang dibuat secara baik dan benar, makan steaknya Gandy

Bertahun-tahun gue jadi pengunjung setia resto ini, nggak pernah ada yang berubah dari kualitas rasa maupun suasana tempatnya. Seporsi steak sedap selalu dihidangkan di atas hotplate mengepul, dengan saus jamur yang disiramkan sesaat sebelum steaknya diletakkan di meja, ditemani sepiring sayuran rebus yang manis, di atas meja merah bergambar kepala sapi, dengan iringan lagu-lagu dari penyanyi bersuara night club 70-an. Sama sekali nggak ada yang berubah.

Buat yang kepingin nyoba steak terbaik di Indonesia, pergilah ke Gandy. Gimana dengan Sizzler? Boleh juga, kalo lagi laper banget dan kepingin makan salad sampe kenyang. Kalo abis makan salad masih kepingin makan steak? Pergilah ke Gandy.

Kesan-kesan pengunjung Gandy dari Malaysia bisa dibaca di sini.

PS:
Bakery-nya Gandy juga punya bacang terenak di Asia-Pasifik, ukurannya segede kepalan tangannya Barry Prima, dengan komposisi 95% daging, 4% bungkus daun, dan 1% beras. Enuaknya luar biasa, cocok buat hidangan buka puasa.

PS lagi:

Dengan sangat menyesal resto ini ternyata udah nggak jual bacang lagi


*kalo berdasarkan definisi para penjual ‘fried chicken’ di pinggir jalan, yang namanya ‘fried chicken; adalah ayam yang dibalut tepung dan digoreng kering. Kalo yang dibumbu kuning atau bumbu bacem, namanya ‘ayam goreng’.

**Masalahnya di akhir 70-an dan awal 80-an kebanyakan restoran yang menyediakan steak biasanya menyebut makanan itu sebagai bistik, dihidangkan di atas piring beling, dan rasanya seperti semur.

Rice Bowl-Plangi, The Not-So-Fast One


Beberapa waktu yang lalu gue pernah nulis tentang Rice Bowl Mega Mal Pluit. Resto ini gue sebut sebagai restoran tercepat yang pernah gue datengin, dengan rekor minuman keluar dalam waktu 20 detik saja, dan seluruh pesanan komplit disajikan dalam 1 menit 15 detik. Perlu dicatat waktu itu resto dalam keadaan penuh sesak sampe ada beberapa orang ngantri di depan pintu. Kunjungan selanjutnya nggak secepet itu, tapi masih cukup cepet jugalah, karena seluruh menu lengkap tersaji sebelum menit ke 3. Ida juga pernah ke sana ber-14; rombongan ibu-ibu guru Kinderland, dan hanya ada 1 menu yang telat nongol.

Malam ini, sehabis fitness selama 2 jam, gue dan Ida kelaparan sampe hampir makan orang. Ida langsung teringat pada Rice Bowl, yang sekarang udah punya outlet di Plangi. Tentunya dengan harapan resto ini secepat rekannya di Mega Mal Pluit dalam mengatasi kelaparan kami.

Kami sampe sana udah hampir jam 9, kondisi resto nggak terlalu penuh. Kalo yang di MM Pluit sanggup menyajikan makanan dalam tempo 1 menitan dengan kondisi “rush-hour”, nggak salah dong kalo kami berharap resto ini mampu mengatasi kelaparan kami dalam waktu yang kurang lebih sama – kalo bisa malah lebih cepet. Tapi apa daya, malang tak dapat ditolak sementara soal keuntungan nggak terlalu kami pikirkan lagi.

Firasat buruk pertama muncul waktu kami baru memasuki area resto dan melihat tangan-tangan teracung dari beberapa meja tanpa ada satupun waiter yang menanggapi. Apesnya lagi, kami memilih sebuah meja yang kebetulan bersebelahan dengan pasangan mas-mas dan mbak-mbak yang kayaknya belum pernah makan di Rice Bowl – atau mungkin resto oriental manapun. Menu setebal kurang lebih 10 halaman itu abis diabsenin sama mereka, ditanyain satu-satu “yang ini makanannya kayak apa” dan “yang itu kayak apa”. Padahal menu itu udah memuat keterangan singkat di bawah nama setiap makanan PLUS beberapa foto.

Mas waiter berbaju kuning nampak senewen meladeni pasangan tersebut, sambil sesekali melirik ke arah gue dan ngomong, “sebentar ya mas…” Oke, gue mah orangnya sabar. Cuma cacing2 di perut gue ini aja yang suka rada panasan. Saking lamanya nunggu gue sampe bisa mengamati jenis2 seragam waiter yang terdapat di resto Rice Bowl. Yang berbaju kuning, seperti mas-mas yang meladeni meja sebelah, kayaknya adalah petugas penerima order. Mungkin di luar yang berbaju kuning dilarang melakukan hal tersebut. Sialnya, sejauh mata memandang cuma dia itu doang yang pake baju kuning. Selain itu ada yang berbaju biru plus berdasi. Kayaknya yang ini manager. Dia nampak lagi sibuk beres2 meja, mungkin memberikan teladan bagi karyawan lainnya. Yang jumlahnya rada banyak adalah yang berbaju oranye. Yang ini tugasnya all-in: menghidangkan makanan, membersihkan meja, dan mengantar bill – kecuali menerima order. Yang terakhir adalah yang berbaju putih dengan name-tag bertuliskan “trainee”. Yang ini cuma ada satu orang dan kelihatannya spesialis mengerjakan tugas-tugas “berbahaya” seperti menghadapi pengunjung yang udah nyaris ngamuk karena kelamaan nunggu. Dialah yang akhirnya menerima pesanan kami setelah mas berbaju kuning melambai padanya, mengirimkan kode ‘S.O.S’ dengan ekspresi panik.

Setelah mas berbaju putih mencatat seluruh pesanan, stopwatch dinyalakan.

Rekor Rice Bowl MM-Pluit yang mengeluarkan minuman dalam tempo 20 detik tetap bertahan.

Menit pertama lewat, belum ada apa-apa.

Menit ke dua lewat, belum ada apa-apa.

Dua menit 18 detik, minuman air botolan dan teh tawar keluar.

Tiga menit, gue masih kelaparan.

Empat menit, belum.

Enam menit, masih bengong. “Kalo di sini 15 menit kali”, kata Ida mulai pesimis.

Delapan menit 20 detik, makanan Ida keluar.

Sepuluh menit lewat beberapa detik, menu sayuran keluar.

Sebelas menit, gue serasa ingin makan sedotan.

Tiga belas menit, masih cengo.

Lima belas menit, ramalan Ida meleset.

Tujuh belas menit, gue manggil salah satu waiter. “Mas, saya tadi pesen nasi goreng ayam dan baby cabbage, tolong dicek ke dapur dong..”

Sembilan belas menit lewat 25 detik, nasi goreng gue keluar.

Dua puluh menit lewat, baby cabbage keluar. Alhamdulillah…!

Memang umumnya waktu penyajian 20 menit nggak terlalu parah amat sih, tapi ini kan Rice Bowl gitu loh. Gue saranin mending Rice Bowl Plangi janjian sama Rice Bowl MM Pluit untuk sedikit memperlambat waktu sajinya, biar nggak terlalu kebanting, gitu.

Kejutan terakhir terjadi waktu minta bill. Seorang mas berbaju oranye muncul menyodorkan map kulit berisi bill, gue taro duit di dalamnya, dan pas gue sodorin balik dianya lagi sibuk main mata dan dadah-dadah dengan… mbak-mbak penjaga toko seberang! Dia baru sadar waktu temennya ada yang neriakin, “Whoyy… bengong aja lo, tuh orang mau bayar!”

Berhubung uang gue melebihi angka di bon, tentunya ada kembalian.
Kembalian datang dianter sama mas baju oranye yang tadi main mata, dalam map kulit. Map kulit gue buka, dan baruuu… aja duit kembalian mau gue simpen di dompet, si mas muncul lagi… “Eh anu pak, maaf nih, kembaliannya ketuker dengan meja sebelah…” (yaitu meja berisi pasangan pengabsen menu yang tadi). Dia ambil uang kembalian gue lantas dia bawa ke meja sebelah. Sebagai gantinya, uang kembalian meja sebelah dia kasih ke gue. Selintas tadi gue liat uang yang dia ambil dari tempat gue adalah selembar sepuluh ribuan dan beberapa keping recehan. Gue cek lagi bonnya. Kembalian yang seharusnya gue terima adalah 10.200. Gue itung kembalian yang dia bawa dari meja sebelah, berupa 1 lembar 5 ribuan, 2 lembar seribuan dan beberapa keping recehan, berjumlah 9.200.

Wah korslet nih, pikir gue.
Bener aja. Nggak lama kemudian, terdengar mas-mas di meja sebelah protes karena uang kembalian yang diterimanya kelebihan seribu perak (rupanya walaupun kalo mesen makanan lama, kejujurannya patut diacungi jempol). Masalahnya, kembalian yang dia terima dalam pecahan 10 ribuan (yang mana berasal dari meja gue) padahal seharusnya dia cuma nerima 9 ribu. Sampe sini dapat kita simpulkan bersama bahwa ternyata dari tadi uang kembaliannya udah bener, tapi si mas baju oranyenya aja yang belibet sendiri sampe akhirnya ketuker!

Sejenak mas baju oranye nampak kebingungan mencari solusi untuk permasalahan pelik ini. Setelah beberapa saat garuk-garuk kepala akhirnya dia menemukan jalan keluar yang cukup jenial yaitu… minta uang seribu perak kepada mas meja sebelah untuk diberikan kepada gue…

Tanpa banyak komentar, tu duit kembalian gue masukin ke dompet sambil bilang sama Ida, “Kali ini, kita nggak usah ngasih tip ya…”

Oh iya, btw, judul review tentang Rice Bowl yang dulu udah gue revisi. Silakan cek di sini.

Bubur Tanjung, bubur ayam terenak no. 3 di Indonesia


hayooo... siapa yang ngiler? Klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Bubur Tanjung, lagi dibubuhi sambel oncom.

Ini dia, as promised, review tentang bubur ayam terenak ke tiga di Indonesia. Review tentang bubur ayam Mang Oyo sebagai runner-up bisa dibaca di sini, sementara Bubur Barito sebagai juaranya bisa dibaca di sini. Btw, kalo beberapa tahun yang lalu elo pernah nerima forwardan e-mail tentang 3 bubur ayam terenak di Indonesia, itu tulisan gue, hehehe… gue kirim ke salah satu milis, habis itu biasa deh, berkembang biak sampe akhirnya balik ke gue sendiri.

Buat yang nggak terlalu familiar dengan daerah menteng, mungkin rada ribet juga untuk nemuin lokasi mangkalnya Bubur Tanjung. Cuma biar gampang gini aja deh: kalo elo dari arah Kuningan, lurus lewat HOS Cokroaminoto, belok kanan di perempatan yang ada Fuji Image Plaza, abis itu langsung belok kiri di belokan ke kiri yang pertama. Dari situ luruuussss… aja, ngelewatin 2 perempatan kecil, nah lo akan ngeliat kerumunan orang di sebelah kanan jalan. Itulah dia, Bubur Tanjung, bubur terenak nomer 3 di Indonesia. Dia mangkal di depan sebuah rumah putih yang konon kabarnya miik Bambang Tri Hatmodjo, putra mantan presiden Suharto. Cuma mengenai kebenarannya, gue belum pernah ngecek tuh. Mungkin ada yang bersedia keisengan nanya?

Update bulan Oktober 2015: 

Karena warga sekitar merasa terganggu oleh ulah para pengunjung Bubur Tanjung yang suka berisik, akhirnya Bubur Tanjung sekarang pindah lokasi ke halaman mesjid Cut Mutiah. Tempatnya malah lebih nyaman karena ada mejanya, dan ada alternatif jajanan lain di luar bubur ayam 

Lucunya, yang pertama kali mengenalkan gue sama bubur ini justru Ventha,temen gue yang tinggalnya di Sunter. Rupanya dulu waktu sekolah di SD-SMP Cikini, dia sering mampir makan di sini dan ketagihan sampe tua, sehingga bela-belain dateng dari Sunter cuma buat makan bubur ini doang. Jam beroperasinya memang pas buat orang-orang yang nyari sarapan sebelum berangkat ngantor / sekolah, yaitu sejak jam 5.30 pagi sampe sekitar jam 9.00.

Liat nih antriannya di posisi jam 1/2 8! Klik di sini kalo mau liat lebih jelas.
Deretan mobil pengunjung
Anak Harley juga demen makan bubur, klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Rombongan pengunjung ber-Harley:
motor boleh sangar,
tapi ma’emnya tetep bubur
biar nggak atit peyut.

Tapi gue sarankan, kalo lo berminat nyoba, usahakan dateng sebelum jam 7.00 deh. Sesudah itu ngantrinya rusuh banget, dan saking lamanya nunggu lo akan mengalami fase-fase sbb: laparsenewen“mana sih buburnya?”kesel jengkel pingin ngamuk ilang lapernya. Ini belum termasuk kalo lagi ada pesenan massal lho! Sebab saking kondangnya ni bubur, kadang suka muncul mas-mas bermobil kijang dan pesen, “Bang, beli buburnya lima puluh, bungkus ya!” Biasanya yang model begini ini untuk konsumsi orang kantoran atau arisan. Nggak heran, walaupun hanya peringkat 3 di Indonesia, soal rasa dia memang di atas tukang-tukang bubur biasa. Selain buburnya juga gurih, ayam gorengnya juga punya aroma khas yang sedap banget. Belum lagi sambel oncomnya yang lain daripada yang lain. Berdasarkan riset gue di dunia perbuburayaman selama ini, kayaknya faktor sambel memang nggak bisa dipandang remeh. Buktinya dari ketiga tukang bubur papan atas yang pernah gue review, masing-masing punya racikan sambel yang beda-beda, yang menambah keunikan rasa masing-masing.

Tampang-tampang pengunjung yang kelaparan, klik di sini kalo mau liat lebih jelas.
Kalo datengnya kesiangan,
ngantrinya harus intensif kaya gini

Rahasia di balik waktu tunggu yang demikian panjang terletak pada proses peracikannya. Jadi, langkah-langkah yang dilakukan sama si tukang bubur adalah:

  1. Menyendok bubur ke dalam mangkok. Gue perhatiin, volume bubur yang dituang selalu 1 1/4 centong. Luar biasa memang akurasinya.
  2. Menaburkan lada.
  3. Meremas dan menaburkan krupuk kecil-kecil putih yang pinggirnya warna-warni.
  4. Menaburkan entah apa, warnanya coklat-coklat kecil mirip tongcai tapi bukan.
  5. Menaburkan rajangan seledri
  6. Menaburkan bawang goreng.
  7. Menyuir-nyuir ayam goreng, langsung dari sepotong besar dada / paha ayam (sesuai permintaan, minta dada atau paha. bahkan bisa minta kulitnya doang.)
  8. Memotong-motong dan menaburkan ati-ampela (optional, sesuai permintaan)
Pak Haji pemilik bubur, klik di sini kalo mau liat lebih jelas
Pak Haji lagi sibuk melayani pembeli

Yang gue bingung, udah bertahun-tahun dia jualan, kok ya nggak pernah kepikiran melakukan seperti tukang-tukang bubur peringkat 1 dan 2, yaitu segala komponen yang akan ditabur-taburkan udah disiapkan sebelumnya. Bubur Barito, misalnya, potongan ayamnya udah dia siapin dalam satu baskom besar, tinggal sendok aja. Mang Oyo bahkan lebih ekstrim lagi, seluruh komponennya udah dipak dalam kantong plastik kecil2, tinggal buka plastiknya, beres. Mungkin menurut Pak Haji pemiliknya, rasa ayam yang udah disuir sebelumnya kurang sedap dibandingkan dengan yang disuir langsung (kali…). FYI, Pak Haji pemilik bubur ini berhasil menunaikan ibadah haji dari hasil berjualan bubur plus jual mobil. Hebatnya, sepulang naik haji, jualannya tambah maju dan dia berhasil beli mobil lagi! Walaupun jualannya udah sukses, dia tetep nggak melupakan orang-orang di sekitarnya. Setiap pagi dia nyediain beberapa mangkok bubur gratis buat para ibu-ibu penyapu jalan (Di daerah situ memang penyapu jalannya ibu-ibu semua). Selain itu dia juga menerapkan peraturan tegas kepada para tukang jualan yang ikutan mengais rejeki di sekitarnya (ada tukang majalah, tukang semir, dan tukang kue cubit) DILARANG MENERIMA UANG PARKIR DARI PENGUNJUNG. Tukang semir yang bantuin markirin mobil menolak pemberian gue dengan tampang cemas, “Jangan, kita di sini nggak boleh minta duit, nanti dimarahin sama Pak Haji…”

Harga seporsi bubur di sini 6 ribu perak 12 ribu perak (harga 2010) 18 ribu perak (harga 2015), tanpa ati-ampela. Nggak tau harga ati-ampelanya berapa, sebab tadi waktu gue dateng ati-ampelanya udah abis. Minuman yang tersedia hanya teh botol dan air kemasan.

Sierra


Sebagai orang yang udah menjelajahi Bandung lebih dari 10 tahun,* gue cukup surprise waktu baca reviewnya Rani tentang Sierra, resto yang gue sama sekali belum pernah denger sebelumnya. Gue emang belum nyobain semua tempat di Bandung sih, tapi biasanya sekalipun belum pernah ngedatengin, paling enggak gue pernah denger namanya. Makanya gue penasaran banget pingin liat kayak apa tempatnya, apalagi Rani ngasih 5 bintang gitu di reviewnya.

Sialnya, di banyak kesempatan gue ke Bandung setelah review itu online, adaaa aja halangannya sehingga gue batal ke Sierra. Yang lagi nggak bawa mobil lah (tempatnya susah dijangkau pake kendaraan umum), yang mendadak pingin nyoba tempat lain lah, yang nggak sempet lah… Sampe akhirnya pas minggu lalu gue ke Bandung, kesampean juga gue ke sana.

Dari tampak luarnya aja resto ini cukup mengesankan. Seperti jamaknya view restaurant lain di Bandung, dia menjual pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Dan mulai lo masuk ke parkiran pun lo udah disuguhi pemandangan yang bagus banget. Perlu dicatet juga, gue ke sana siang2. Gue yakin kalo malem2 pasti pemandangannya lebih bagus lagi!

Konsep bangunannya serba minimalis, dengan jendela2 setinggi ruangan yang bikin suasana jadi lebih alami. Lo bisa pilih, duduk di dalem atau di balkon yang mengelilingi resto ini. Dengan adanya jendela2 yang segede-gede gaban** itu, lo tetep bisa menikmati pemandangan sekalipun duduknya di dalem.

Sekarang tentang menunya. Mereka menyajikan berbagai jenis masakan, ada Indonesia, Eropa, sampe Jepang. Gue pesen Chicken Sierra. Sajiannya berupa ayam goreng yang diisi bayam… unik banget. Dan enak juga, dengan porsi yang melegakan bagi orang yang telat makan seperti gue waktu itu. Makanan yang dipesen Ida gue lupa namanya, pokoknya sejenis pasta gitu deh. Enak juga. Sup krimnya pake roti gembung di atasnya, ala Zuppa-Zuppa, tapi di menu namanya bukan Zuppa-Zuppa. Apa, gitu, lupa gue. Yang jelas enak. Cara penyajiannya juga cukup diperhatikan, jadi selain bikin kenyang juga enak dilihat. Yang paling mengesankan buat gue, pramusajinya cukup ramah dan punya product-knowledge yang memadai. Penyakitnya view-restaurant lain di Bandung seperti the Peak, the Valley, atau Kampung Daun adalah pelayanannya yang buruk. Kemungkinan karena nggak usah dilayani dengan baik aja orang udah pada mau dateng dengan motivasi ingin menikmati keindahan pemandangan. Contohnya salah satu kejadian yang bikin gue males dateng lagi ke the Valley: sekitar jam 11 gue manggil waiter untuk mesen minuman dan dijawab dengan fungkeh banget “Udah last order pak, tadi kan udah dibilangin!” Idih, kapan dia ngomongnya sama gue??

Anyway, balik ke Sierra, dengan segala plus point tersebut, harga makanannya juga terjangkau banget. Rata2 20 ribuan, walau ada juga sih steak yang 80 ribuan.
Kesimpulannya: highly recommended banget, Sierra adalah tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Bandung, dan the Valley adalah tempat yang wajib dihindari.
*hiperbola banget, kenyataannya cuma 2 bulan di tahun 91, 2 minggu di tahun 93, 3 hari di tahun 97, dan seminggu-seminggu di setiap tahun sesudahnya.
**sebuah ungkapan yang kurang tepat sebenernya, karena gaban itu gak gede2 amat. Nggak segede robotnya Goggle V atau Godzilla, yang jelas.Klik di sini untuk mengunjungi situs tentang serial Space Cop Gaban.

Rice Bowl-Mega Mal Pluit, the FASTEST restaurant i’ve ever visited!


Gue nyoba restoran ini waktu lagi nemenin Ida jaga pameran pendidikan beberapa minggu yang lalu.
Kondisinya, Ida nggak punya waktu banyak untuk makan, karena harus gantian sama temennya yang lain. Cuma waktu kita memutuskan untuk makan di tempat ini, kami sama sekali nggak tau seberapa cepat pelayanannya. Kami cuma tertarik aja sama gambar2 makanan yang dipajang di depan, yang semuanya nampak yummy.
Kami dateng ke sana sekitar jam 1/2 8, di puncaknya arus orang pada nyari makan. Resto ini pun penuh banget, sampe banyak yang ngantri di depan pintu. Tapi karena kami cuma berdua, lebih gampang dicariin tempat sehingga bisa langsung masuk.
Setelah waiter nyatet pesanan, gue dan Ida ngebahas tentang kaya apa keadaan di dapur dengan segini banyaknya pengunjung. Pasti pesenan akan lama nih nongolnya, demikian pikir gue waktu itu. Maka timbul ide untuk nyalain stopwatch, kepingin tau berapa lama makanan akan muncul.
Ee… belum selesai ngebahas panjang lebar, tau2 minuman nongol. Gue ngeliat ke stopwatch, baru jalan 20 detik!! Dan yang lebih luar biasa lagi, makanan semuanya keluar sekitar 1 menit kemudian. Dengan kata lain, resto ini berhasil menuntaskan pelayanannya dalam tempo kurang dari 1.5 menit, sekalipun di tengah jam sibuk! Very impressive, eh? Ini bahkan lebih cepet dari fastfood self-service seperti McD atau KFC yang kadang antrian di depan kasirnya aja udah lama banget.
Menu makanannya kurang lebih seperti Chopstix gitu deh, mi dan nasi dengan variasi topping ayam, sapi, atau sayuran dalam bumbu oriental. Harga makanan berkisar belas2an ribu (untuk porsi perorangan) sampe 40-an ribu (untuk porsi laukan, dimakan rame2). Rasanya cukup ok juga, bahkan bumbunya lebih ‘nendang’ ketimbang chopstix.
Recommended restaurant buat yang nggak punya banyak waktu.

  • Komentar Terbaru

    Feni Febrianti di siapa yang sering kesetrum sep…
    mbot di My Wonder Woman
    bayutrie di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.575 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: