[review-buku] Papomics


Apa sih yang bikin seseorang tertarik menyomot sebuah buku di rak toko buku?

Sebagai penggemar warna merah dan gambar kartun, kedua elemen ini jadi elemen yang paling berpengaruh. Itulah sebabnya gue tertarik sama cover buku ini:

Papomics-Cover

Ditambah lagi dengan temanya tentang para bapak, membuat gue merasakan adanya keterikatan batin. Gue comot satu, gue buka-buka… lho, kok ceritanya ada yang gue kenal?

(lebih…)

Buku Keren: Generasi 90an


 

buku90an

Ini buku wajib punya banget buat kalian yang ngerasain dekade 90-an (ya, yang dimulai lebih dari 20 tahun lalu – gimana, merasa tua sekarang?)

(lebih…)

[review] Mencoba Sukses


Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: Gagas Media
192 halaman

Buat penggemar karya Adhitya Mulya mungkin rada pangling dengan buku yang satu ini. Pertama: tampilannya. Sejak “Jomblo” sampe bukunya yang terakhir “Catatan Mahasiswa Gila”, kecuali buku adaptasi film seperti d’Bijis atau yang kolaborasi seperti “Traveler’s Tale Belok Kanan: Barcelona!” Adhit konsisten menggunakan cover warna kuning. Konon katanya, karena kuning adalah warna komedi.

Kali ini, walaupun tetap bertema komedi, Adhit mencoba penampilan lain. Covernya digarap dengan gaya fotografis buku catatan. Kelihatannya, mencoba menggambarkan benda yang memegang peran penting dalam cerita ini, yaitu (catatan) naskah film.

Dan itu, menjadi faktor ke dua yang membuat pembaca setianya mungkin akan ‘pangling’ dengan karyanya yang satu ini.

(lebih…)

[Review] Step by Step to Stand Up Comedy


Penulis: Greg Dean
Penerjemah: Ernest Prakasa
Penerbit: Bukune
295 halaman

Di acara Stand Up Comedy Kompas TV season I, Akbar pernah membawakan sebuah joke yang buat gue berkesan banget. Akbar membuka penampilannya dengan ngomong gini:

(lebih…)

The Adventures of Johnny Bunko


Adalah Sigit yang memperkenalkan gue dengan komik unik ini. Dia sendiri nemunya waktu lagi browsing ngelantur sana-sini dan terjerumus ke sebuah halaman yang memuat cuplikan komik ini dalam format flash.

Waktu itu kami mencoba mendownloadnya tapi gagal, dan cuplikannya hanya sampe bab 1. Kan bikin penasaran. Makanya pas hari ini nemu versi bahasa Indonesianya di Gramedia Plangi, langsung gue beli!

Komik ini unik dari berbagai segi.

(lebih…)

[review] The Secret of Slimming: Hypnolangsing


Perkenalan gue dengan buku ini diawali dengan rekomendasi dari Dayana yang kebetulan rajin mengikuti program pelangsingan gue *wink*

Yang menarik dari buku ini adalah tulisan di sampulnya:

“Menurunkan berat badan dengan makan apa saja dan kapan saja”

Hue… yang bener nih?

Ternyata, ibarat iklan operator seluler, kalimat tersebut harusnya diakhiri dengan *syarat dan ketentuan berlaku.

(lebih…)

[review] Catatan Mahasiswa Gila!


Terus terang, blognya Adit (d/h adhityamulya.blogspot.com) adalah salah satu blog yang jadi ‘acuan’ waktu pertama kali gue bikin blog. Blognya Adit adalah standar sebuah blog yang baik dan benar; mulai dari teknik penulisan sampe konten gue banyak terinspirasi dari dia. Maka jadilah blog ini.

Buku ini adalah sebuah bluku, blog yang diangkat jadi buku, berdasarkan posting2 blognya Adit di periode 2002-2005. Ceritanya seputar kehidupannya sebagai seorang mahasiswa, kuliah, kerja praktek, skripsi, dan akhirnya nyari kerja. Tapi jangan harap tulisan ‘normal’ sebagaimana umumnya catatan harian, karena di dalamnya lu akan nemuin cerita2 ajaib yang akhirnya akan bikin lu berpikir: “nggak mungkin kejadian beneran nih, pasti dilebih-lebihin” Tapi percayalah, tulisan dalam buku ini kejadian nyata, termasuk cerita tentang pengalaman Adit dan teman-temannya jualan kambing di halaman 67.

Cuplikannya:

To Do List untuk Bagaimana Merugi Jualan DombaRumput
H-7 kita pergi ke Lembang cari rumput. … Ini adalah sebuah aktivitas yang melibatkan 5 anak ITB bertanya pada diri mereka sendiri,
“Kalo gue adalah domba, kira-kira kita mau makan rumput berapa banyak, yah?”

Nggak cuma posting blog yang dicopy mentah-mentah ke dalam buku ini, tapi ada sejumlah tulisan baru. Setiap bab diselingi dengan tulisan pendek “Seri Jurnal Penelitian Ilmiah” – yang tentu aja sangat perlu diragukan keilmiahannya. Topiknya antara lain “Kegantengan dan Teknologi Nuklir” – “Batu Tidak Dapat Dimakan” – dan “Tanya Jawab ‘Jelek Gak Papa?'”

Tapi walaupun buku ini didominasi oleh cerita-cerita komedi, bukan berarti nggak punya nuansa lainnya. Ada juga tulisan-tulisan yang menyuarakan kegelisahan dan kepedulian Adit pada kondisi sosial di sekitarnya. Mulai dari anak-anak masjid yang nggak mampu sekolah, sampe tentang nasib tragis cewek yang pernah ditaksirnya dulu.

Yang jelas, kekuatan utama tulisan Adit adalah keunikan sudut pandangnya atas segala sesuatu. Hasil akhirnya, baik yang bernada kocak maupun prihatin selalu menarik buat dibaca. Dan mungkin bikin kita mikir, “kok gue nggak pernah kepikiran sampe ke sana ya?”

Recommended, edisi bertanda tangan bisa dipesan di http://books.istribawel.com

Oksimoron


cover oksimoron isman h suryamanPeringatan buat para calon pembaca: AWAS, jangan sampai (merasa) tertipu!

Gue beruntung dapet kesempatan jadi salah satu orang pertama yang ketipu sama buku ini. Waktu diminta Isman baca draft novelnya, maka yang ada di kepala gue “Penulisnya Isman, pasti komedi ini. Pasti!”

Lalu mulailah gue membaca. Setelah beberapa halaman lewat, gue mulai berubah pikiran. “Oh, ini drama. Drama komedi, mungkin. Tapi drama lah.” Gue terus membaca. Eh tiba-tiba ceritanya jadi action.

Kalo dilihat di kamus daring, kata “oksimoron” berarti “penempatan dua antonim dl suatu hubungan sintaksis (dl koordinasi atau subordinasi)” atau gampangnya “frase yang terdiri atas dua unsur saling bertolak belakang”. Buku ini, adalah contoh yang paling pas untuk menggambarkan seperti apa itu oksimoron. Kalian akan menemukan tiba-tiba ada adegan konyol terselip di tengah situasi serius, atau sebaliknya: makna dalam di tengah rentetan peristiwa sableng.

Tokoh utamanya adalah pasangan penganten baru Rine dan Alan. Rine bekerja di perusahaan konsultan yang didirikannya sendiri, sementara Alan adalah kolumnis olah raga di koran lokal. Karakter mereka bertolak belakang. Rine memandang segala sesuatu secara ‘dingin’ dan logis, sementara Alan adalah pelawak kompulsif yang nggak bisa menahan dorongan ngelawak sekalipun di tengah situasi yang sangat nggak tepat. Mereka berdua punya ‘kesepakatan’ untuk tidak akan punya anak, yang tentunya bikin para orangtua mereka senewen setengah mati. Padahal, misi hidup Rine dan Alan cuma sederhana: membuktikan bahwa frase “perkawinan bahagia” bukanlah sebuah oksimoron.

Inti ceritanya hanya seperti itu, sebenernya. Tapi yang kemudian bikin buku ini susah ditaro adalah bagaimana sepotong demi sepotong informasi tentang latar belakang Rine, Alan, dan orang-orang di sekitarnya terkuak. Makin ke belakang, jalinan latar belakang para tokoh bikin cerita ini makin seru. Apalagi ditambah dengan adanya beberapa peristiwa yang muncul tanpa diduga. Untuk pembaca seperti gue, yang bikin penasaran adalah pemikiran, “OK, lu asik-asik bikin konfliknya jadi ruwet kaya gini, tapi coba lihat, solusi seperti apa yang bisa lu tawarkan di akhir cerita nanti? Awas aja kalo maksa!”

Dari segi teknik bercerita, buku ini istimewa karena sangat konsisten menggambarkan secara netral peristiwa-peristiwa di dalamnya. Jadi daripada nulis “dia berteriak marah” – misalnya, Isman memilih untuk nulis “Ia berteriak keras, wajahnya merah padam dan urat lehernya nongol”. Dia sekedar menggambarkan peristiwa, dan membiarkan para pembaca mengambil kesimpulan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Teknik ini sukses bikin buku ini terasa sangat hidup, sangat ‘visual’. Rasanya bukan seperti baca buku tapi seperti nonton film. Adegan demi adegan di dalamnya seolah terjadi di depan mata kita. Kalau suatu hari nanti buku ini diangkat jadi film, penulis skenarionya adalah manusia dengan pekerjaaan paling gampang sedunia.

Maka, pesan terakhir bagi para pembaca: nikmati buku ini tanpa harus memusingkan ceritanya masuk kategori apa. Karena saat kalian sibuk menebak-nebak kategori, awas, bisa-bisa ada nunchaku nyamber di tengah-tengah cerita yang entah drama entah komedi ini!

Yuk Menulis Naskah Komik!


Di Indonesia ini buanyak banget ilustrator berbakat, tapi kenapa dunia perkomikannya seperti kerakap tumbuh di aspal tol cipularang? Berdasarkan hasil diskusi via YM dengan salah seorang teman, jawabannya kemungkinan adalah karena masih belum banyak yang sadar bahwa komik adalah kerja tim. Memang bukan nggak mungkin membuat komik sendirian, mulai dari nulis cerita sampai menggambar dan mengatur tata letak. Herge udah membuktikan itu lewat serial Tintinnya. Tapi pada kenyataannya nggak banyak orang seberbakat Herge. Itulah sebabnya komik-komik jaman sekarang adalah hasil kerja sama antara tukang tulis naskah, tukang sketsa, tukang tinta dan tukang warna. Tiga dari 4 fungsi itu bisa dipenuhi seseorang dengan skill illustrator. Nah, soal naskahnya ini yang rada repot.

Biarpun sama-sama berbentuk buku, nulis naskah komik sama sekalli beda dengan nulis novel. Seorang penulis naskah komik harus mikirin seberapa banyak adegan yang dituangkan di setiap halaman, apa adegan di kotak terakhir sehingga bikin pembaca ingin buru-buru pindah ke halaman berikut, gimana bikin ceritanya mengalir dan nggak lompat-lompat, dst dst. Komik dengan gambar seindah apapun, tanpa dukungan naskah yang baik, seperti film dengan special effect yang canggih tapi ceritanya cemen: bikin pembacanya bosen dan nggak tertarik beli lanjutannya.

Untunglah ada buku ini.

Buku ini didesain untuk membantu para penulis naskah komik untuk berpikir dalam kerangka cerita komik. Teknik penokohan, pemenggalan cerita dan penyusunan plot, semuanya dikupas tuntas dalam 160 halaman buku ini. (Percayalah, angka ini akurat karena gue itung sendiri satu per satu sekalipun di bukunya nggak tercetak nomor halaman).

Bahkan, buku ini juga membahas tentang bagaimana menemukan ide untuk memulai sebuah komik. Bahkan boleh dibilang, topik ini mendominasi seluruh isi buku. Makanya, nggak berlebihan kalo gue bilang buku adalah buku referensi paling lengkap tentang penulisan naskah komik. Kalopun ada kelemahannya, mungkin adalah kurangnya ilustrasi komik sebagai pelengkap.

Sebagai gambaran, berikut adalah cuplikan isi bukunya:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yak, memang semua halaman bukunya kosong begini.

Buku ini nggak dicetak massal, jadi kalo ada yang berminat silakan menghubungi langsung penulisnya di sini.

“Sebelah Mata” yang Kecolongan!


Buku yang tadi siang nyampe ke rumah gue ini berawal dari sebuah PM dari si blogger kambuhan. Katanya ada kiriman buku buat gue. Ternyata inilah dia.

Buku bersampul minimalis ini adalah proyek sosial yang pernah dibahasnya di sebuah posting. Idenya cukup unik, yaitu menyumbangkan keuntungan dari penjualan buku untuk rumah panti asuhan. Bukan dalam bentuk uang, tapi dalam perangkat multimedia (TV, DVD, dan ensiklopedia). Bukunya sendiri berbiaya cetak 17.790 dan berongkos kirim sekitar 6.000an. Kalo mau nyumbang, ya tinggal bayar lebih besar dari 17.790 + 6.000an. Kelebihannya itulah yang disumbangkan.

Ada 12 tulisan dari 12 penulis dalam buku ini:

  • Ceracau Tentang Kematian – Kiki Raihan
  • Mimpi Indah – M. Fajri Siregar
  • Warisan – Dbaonk
  • Saya Harus Menyebut Profesi Kalian Apa?? – Lucky Kyko
  • Si Aku, Si Mbah Surip dan Segelas Kopi Hitam – Luc Del Mar
  • Prespektif Alternatif Part XVI : “Saya Gila, atau Gila?!” – Koben De Bast Ard
  • Pendekar Sufi – Nadzir Albanna
  • Kenapa sih Gak Boleh Becanda Pake Kata “Autis Lo!”? – Silly
  • Jangan Main-main dengan Marsis-mu – Radnan Akyara
  • Di Batas Tepi Hari – Teuku Aditya Oktafiano
  • Things in a Day – Astri Widiyastuti
  • Tuhan, Maafkanlah Candaan Saya – Nila Nurul Hidayati

Karena berangkat spontanitas ide untuk merangkum notes para penulisnya di jejaring facebook, maka jangan heran kalo kalian merasa gagal menemukan benang merah antar tulisan di buku ini. Tapi… ya emangnya harus, gitu, untuk menyambungkan benang merah dalam sebuah antologi? Seperti yang tersirat di sampulnya, secangkir kopi hitam, tulisan-tulisan dalam buku ini ibarat celotehan sekumpulan orang yang lagi nongkrong sambil ngopi. Yang ditulis ya apa yang mereka anggap penting, atau mengganggu, atau menggelisahkan pikiran mereka.

Seperti misalnya tulisan karya Dbaonk berjudul “Warisan” adalah pemikiran njelimet seorang bapak yang nyentrik tapi diam-diam gelisah dalam usahanya membesarkan anak menjadi manusia yang berahlak baik. Caranya antara lain adalah dengan berbagi semua hal, termasuk mendengarkan musik Barry Manilow. Nggak kebayang gimana seorang bocah 9 tahun di era millennium baru bisa menikmati Barry Manilow, tapi yang jelas 15 tahun yang akan datang dia pasti akan jadi juara kuis tebak lagu edisi oldies.

Atau tulisan berjudul “Kenapa sih Gak Boleh Becanda Pake Kata ‘Autis Lo!’? karya Silly, berisi hari-hari penuh kejutan dan ketegangan milik seorang ibu dari anak penderita autis, yang antara lain pernah menemukan daging tangan si anak menempel pada besi panas setrika. “Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar… Tuhan itu ARSITEK YANG MAHA AGUNG. KaryaNya tidak pernah gagal. Tidak satupun mahkluk yang diciptakanNya, yang merupakan produk gagal,” katanya. Dan kitapun diajaknya untuk sedikit pake daya empati sebelum make kata-kata “autis” dalam candaan sehari-hari.

Dari 12 tulisan aneka gaya itu, pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Tentang bagaimana sesuatu yang bagi kita mungkin biasa aja, bisa jadi sumber kegelisahan bagi orang lain. Itulah mungkin yang menyebabkan sebuah antologi menjadi menarik.

Kalopun ada kelemahan dari buku ini adalah, ukuran dan ketebalan huruf yang bisa ujug2 berubah gitu aja dari satu cerita ke cerita lain, plus naskah yang gue curigai bener-bener dipindah 100% dari notes FB ke buku tanpa proses editing – sehingga meloloskan kesalahan dasar seperti ‘dimana’.

Tapi ya sudahlah. Itu toh cuma kelemahan kecil dari sebuah ide yang sangat bagus. Kelemahan yang lebih besar justru pada proses seleksi para penulisnya. Di kata pengantarnya jelas-jelas tertulis:

“Buku ‘Sebelah Mata’ adalah buku yang isinya merupakan kompilasi tulisan para penulis di rimba dunia cyber yang belum pernah menelurkan buku sebelumnya.”

Padahal jelas-jelas salah satu penulisnya pernah menerbitkan buku berikut:

.

Artinya kurator buku ini telah kecolongan! Kalo mau tau apa isi bukunya nanti gue review di posting yang berbeda.

Buku Pengetahuan Paling Jorok Sedunia


Buku ini mengajak pembaca untuk membahas berbagai hal yang jorok-jorok secara ilmiah. Mulai dari upil, dahak, tinja, jerawat, ketombe, sampe kutu dan kecoa. Dari gaya bahasanya, kayaknya buku ini ditujukan buat anak-anak SD kelas 4 ke atas, tapi buat gue tetep menarik dan memberikan banyak pengetahuan baru 🙂

Misalnya, ternyata Raja Prancis Louis XIV gemar menemui bawahannya sambil… BAB! Bukan cuma itu, raja yang satu ini juga bukan main joroknya sehingga secara sangat santai sering membiarkan bajunya ternoda tinja. akibatnya para bawahannya terpaksa menutup muka dengan sapu tangan yang dibubuhi minyak wangi saat menghadap. Di masa pemerintahannya, industri parfum Prancis berkembang pesat.

Fakta baru lainnya yang baru gue ketahui dari buku ini adalah, gas Indol yang muncul dalam perut sebagai hasil pencernaan protein ternyata merupakan bahan dasar parfum. Bedanya, yang muncul dalam perut telah bersenyawa dengan skatol, sedangkan yang digunakan untuk bikin parfum hanya Indol aja.

Buku ini cocok banget buat yang doyan membahas hal-hal jorok, apalagi ilustrasi kartunnya juga sedikit hiperbola sehingga membuat topik yang udah jorok-jorok itu nampak semakin jorok.

Kalaupun ada yang bisa gue pandang sebagai kelemahan dari buku ini adalah, di beberapa bagian kalimatnya terasa kurang nyambung, mungkin akibat proses penerjemahan dan penyuntingan yang kurang rapi, atau gara-gara informasi kontekstual yang mungkin cuma dipahami di negara asal buku ini (Korea).

Misalnya, di halaman 39 ada sub-bab yang dibuka dengan kalimat kurang jelas sebagai berikut:

“Ada anak kecil yang menunggu di depan toilet sampai Pendeta selesai buang air. Nama toilet yang muncul pada saat iklan minuman laktobasilus di Korea itu adalah House. Hoise sebagai ‘pemecah kegelisahan’ adalah kakus, kamar kecil, atau toilet…dst”

Apakah maksudnya di Korea ada minuman laktobasilus bermerk House dengan slogan ‘pemecah kegelisahan’, atau gimana sih? Bagian sini gue rada kurang mudeng.

143 halaman
Bhuana Ilmu Populer (BIP) – 2009
judul asli: “The Dirtiest Science in the World”

cerita si lala


Setelah serial “Curhat Tita” oleh Tita Larasati a.k.a esduren, penerbit “Curhat Anak Bangsa” menerbitkan satu lagi graphic diary berjudul ‘Cerita Si Lala’. Namanya juga ‘graphic diary’, maka cerita yang diangkat dalam komik ini bener-bener cuma seputar kehidupan sehari-hari penulisnya. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Waktu gue sok-sokan ikut kursus nggambar dulu, gurunya pernah bilang bahwa setiap seniman punya caranya sendiri untuk menggambarkan sesuatu. Obyek yang sama, digambar oleh 3 orang yang berbeda, akan jadi 3 gambar yang berbeda juga. Dalam konteks komik, itulah yang terjadi dengan komik ‘Cerita SI Lala’: bahwa kehidupan sehari-harinya yang sebenernya biasa-biasa aja, bisa dikemas menjadi sebuah komik yang sangat menarik.

Yang bikin gue terkagum-kagum sama komik ini adalah betapa rapi dan detilnya Sheila menggambarkan berbagai obyek yang dilihatnya. Misalnya waktu dia menceritakan perjalanannya ke candi Panataran, maka dia gambarlah candi itu lengkap dengan aneka perniknya:

Energi yang dia curahkan untuk menggambarkan sebuah adegan juga sangat luar biasa, bikin beberapa bagian dalam buku ini jadi terasa seperti film animasi saking dinamisnya:

Kehadiran tokoh dua ekor anjing yang sangat disebelin oleh tokoh suami Lala juga kocak banget, antara lain saat suaminya mengajukan usul agar kedua anjing itu diberikan aja kepada “pihak yang lebih memerlukan” dengan ilustrasi seseorang berdiri di depan bangunan bertuliskan…”LAPO”! Hehehe…

Kesimpulannya, mungkin banyak orang yang bisa menggambar dengan keren, tapi cuma sedikit yang punya konsistensi untuk menerbitkannya menjadi sebuah komik. Senang rasanya tau bahwa Indonesia punya komikus dengan talenta sebesar ini, ditambah lagi dengan fakta bahwa ternyata Sheila juga warga multiply! Silakan kunjungi blognya di okeboo.multiply.com

Doroymon: A Wonderful Masa Jadul


 photo Doroymon__A_Wond_4e35225c05ccb.gif
Long weekend kemarin bener-bener masa yang sibuk buat dunia bacaan gue. Gue memulai baca 3 buku, dan tiga-tiganya ternyata susah dihentikan sebelum selesai. Ini buku ke dua yang gue tamatkan, buku komunikasi politik presiden yang ke tiga.

Terus terang, saat ngeliat penampakan covernya yang penuh dengan warna-warna ‘dangdut’ gue rada under estimate sama buku ini (hehehe… sorry ya Roy :-))). Kirain ini sekedar buku ABG-style yang belakangan ini lagi booming, dengan tuLi54n geD3-kEciL dan huruf-huruf berulang mubazir (misal:”maca ciiiiiiih….” atau “caaaaaaaaaaapeeeee deeeeeeh”). Ternyata, buku ini cukup menghibur, dan yang lebih penting: ‘berisi’.

Isinya menceritakan pengalaman pribadi sang penulisnya waktu kuliah di teknik Industri Universitas Indonesia, angkatan 2003. Diceritakan mulai dari saat ospek mahasiswa baru sampe masa kelulusannya. Gimana dia mulai kenalan dengan temen-temen barunya, dan gimana perkenalan itu akhirnya berkembang jadi persahabatan.

Yang menarik adalah keisengan (baca: kejelian) si penulis menangkap kebiasaan-kebiasaan unik orang-orang di sekitarnya yang membuat tokoh-tokoh dalam buku ini menjadi ‘hidup’. Contohnya waktu dia menggambarkan salah seorang seniornya yang suka ‘muncrat kalo ngomong:

Ada satu senior yang ketika jadi orator suka muncrat ketika berteriak. Entah karena dia niat atau kelenjar salivanya memiliki kelainan tersendiri. Setiap kali dia meneriakkan kata yang mengandung huruf P, dia pasti memuncratkan ludah dengan gembiranya. Huruf P, dia lafalkan Ph.

“PHOSISI HUKUMAN!”
hal. 14-15

Bagian pertama yang berhasil bikin gue ngakak adalah penggambaran tentang yel kelompok yang diciptakan dalam keadaan tertekan oleh ancaman para senior, sehingga hasilnya adalah sebuah yel konyol yang mirip lagu “gingga guli-guli watchout ginggagu-ginggagu”. Huhuhu… konyol abis!

Cerita terus berlanjut, antara lain tentang seorang dosen yang hobi ngasih ujian isian dalam versi yang ajaib seperti ini:

“Ketika….., maka akan terjadi………., lalu terjadi………., sehingga menyebabkan……, yang menyebabkan………”

Yang istimewa dari buku ini adalah karena dia bukan cuma menjual kekonyolan demi kekonyolan dalam kehidupan seorang mahasiswa, tapi juga pesan-pesan moral mengenai makna persahabatan.

Di langit sana, kembang api bermain dengan indah. Warna-warni mengisi hitamnya malam. Kami semua berlari keluar dari tenda, berebut ingin menyaksikan kembang api itu. Teman-teman angakatan 2003 berdiri berjejeran. Beberapa merangkul pundak di sebelahnya. Yang lain bergoyang pelan mengikuti irama.

Gue nggak nyangka anak teknik ada yang melo… hahaha!

Secara keseluruhan, buku ini menghibur dari awal sampe akhir. Gaya penuturan yang membuka setiap bab dengan penggalan peristiwa di masa yang berbeda juga cukup efektif, bikin alur cerita jadi nggak monoton. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang terasa rada mengganjal dari buku ini, antara lain:

  • Jumlah tokoh yang terlalu banyak, padahal nggak semuanya berperan terlalu penting dalam cerita. Mungkin karena cerita buku ini diangkat dari pengalaman Roy semasa kuliah, maka diceritakanlah (hampir) seluruh temen-temen seangkatannya. Akibatnya, di beberapa bagian gue sebagai pembaca jadi rada kehilangan fokus karena saking banyaknya nama yang harus dihafal.
  • Gaya joke Adhitya Mulya dan Raditya Dika masih terasa cukup dominan dalam buku ini. Misalnya, penggambaran suara yang “cempreng mirip suara Tompi kalo lagi ketimpa truk ayam”, gaya bercerita yang tiba-tiba ngelantur di sebuah paragraf dan di paragraf berikut balik lagi ke fokus dengan kata pembuka “Anyway…”, serta khayalan menyiksa seseorang yang bertingkah ajaib dengan menggunakan benda berat yang tumpul, terasa seperti gayanya Adit banget. Sementara gaya Dika muncul dalam ketertiban penggunaan “Rule of Three” yang agak terlalu tertib, sehingga lama-lama jokenya jadi ketebak. Maksudnya, dalam tulisan-tulisan Dika, biasanya suatu peristiwa dideskripsikan dengan dua kondisi yang normal dan diakhiri dengan kondisi ke tiga yang nyeleneh. Gaya yang sama muncul cukup sering dalam buku ini, misalnya:”Lho Bang, kok begini?”
    “Biar nggak gampang patah.”
    “Lho Bang, kok begitu?”
    “Biar nggak gampang patah.”
    “Lho Bang, kok pipisnya dipegangin?”
    “Biar nggak gampang patah.”

Selebihnya, buku ini nyaman untuk dicerna, dan gue harus bilang penulisan bab terakhirnya bagus banget. Gue tunggu buku berikutnya, Roy! 🙂

Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa


Buku ini memecahkan rekor sebagai buku yang tercepat gue baca. Dimensi buku 150 x 230 mm setebal 426 halaman tamat gue baca dalam 2 hari. Seperti makan kacang sukro, begitu mulai susah berhentinya. Padahal gue selalu beranggapan bahwa gue bukan orang yang tertarik sama politik, tapi ternyata buku ini terasa menarik banget – padahal topiknya adalah pola komunikasi politik.

Dalam pengantarnya, penulis menjelaskan bahwa:

“Komunikasi politik pemimpin bangsa selalu terkait dengan situasi dan kemajuan bangsa yang bersangkutan. Jika seorang presiden lemah komunikasi politiknya, misalnya tidak ada konsistensi atau “asal ngomong”, hampir dipastikan wibawa kepemimpinannya akan melorot.”

Maka itulah topik bahasan utama dari buku ini: mengupas gaya komunikasi keenam presiden yang pernah memerintah Indonesia, dan menganalisis pesan-pesan yang tersirat di baliknya. Penulis mengandalkan referensi berupa buku-buku memoar, kliping koran, dan wawancara dengan orang-orang yang pernah bertemu langsung dengan presiden yang bersangkutan.

Hasilnya, sebuah kajian yang sangat menarik dan berulangkali bikin gue berkata dalam hati, “ooo… jadi gitu toh kejadian sebenernya”. Berita-berita koran yang selama ini membingungkan buat gue karena isinya kutipan para pejabat saling bantah isu, di buku ini dihubungkan satu dengan lainnya sehingga pembaca bisa menilai sendiri siapa yang omongannya paling bener.

Yang menarik dari buku ini adalah: walaupun secara umum disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah, dalam arti setiap argumen disertai referensi penguat sehingga relatif bebas dari subyektivitas penulis, tapi pemilihan kosa katanya termasuk santai. Makanya jangan heran kalo kata-kata seperti ‘sangar’ atau istilah ‘dikocok ulang’ untuk konteks ‘reshuffle kabinet’ bermunculan di buku ini.

Bab yang paling ‘lucu’ (baca: miris) adalah bab tentang Gus Dur dan Megawati. Gus Dur hanya mampu melek sampe jam 10 pagi, setelah itu tidur. Padahal, rapat kabinet justru biasanya baru mulai jam 10 pagi. Jadi, selama pemerintahan Gus Dur, boleh dibilang negara ini dipimpin sambil tidur. Kalo hari Jumat lebih seru lagi, karena setelah salat Jumat Gus Dur sering mengeluarkan pernyataan yang aneh-aneh kepada wartawan.
Lain lagi dengan Megawati. Rupanya aksi diamnya yang terkenal itu bukan cuma diberlakukan saat ketemu wartawan, tapi juga waktu rapat kabinet. Jadi biar kata di depannya ada 2 menteri yang bersitegang, ibu presiden cuma bengong aja duduk manis. Dia cuma nampak bersemangat kalo diajak ngobrol soal… shopping! Yang bikin gue ngakak dari bab yang mengulas presiden kita yang satu ini adalah pernyataannya saat menjamu para kader PDI-P pasca kekalahannya di Pemilu 2004; “Kita bukan kalah, tapi kurang suara!” (hal 285). Yah, sama lah bu, kaya orang balap lari: dia bukan kalah, tapi kurang kenceng larinya, bukan?

Serunya lagi, buku ini juga menggambarkan betapa orang-orang di sekitar presiden bisa punya pengaruh yang luar biasa besar terhadap pengambilan keputusannya. Di jaman Suharto ada Ali Moertopo, yang sepak terjang underground-nya bisa bikin banyak orang yang sebenarnya kompeten malah kena gusur dan di-Dubes-kan. Di era pasca reformasi, ada satu tokoh yang rupanya saking geregetan penasaran ingin menguasai kursi presiden, kerjanya bikin move-move politik yang akhirnya bikin semuanya jadi kacau balau.

Buku ini penting dibaca menjelang pemilihan presiden yang akan datang, karena hampir semua calon presiden yang akan maju di Pemilu 2009 ikut diulas dalam konteks sepak terjangnya di masa lalu. Mengutip slogan salah satu parpol belakangan ini: “Awas, Jangan Bohongi Rakyat Lagi”. Jangan mau dibohongi, guys, termasuk oleh orang yang memperingatkan orang lain agar tidak membohongi rakyat.

Walaupun buku ini layak dapat bintang 5 di mata gue, tetap ada beberapa kelemahan antara lain:

  • Tingkat kedalaman yang nggak seragam. Beberapa presiden nampak diulas habis-habisan secara mendalam, sementara lainnya terkesan selewat doang. Tapi ini bisa gue pahami mengingat ketersediaan sumber referensi untuk setiap presiden pastinya nggak sama.
  • Beberapa typo kecil yang justru karena sangat jarang ditemukan di buku ini, malah terasa sangat menonjol. Yang paling lucu, dan mudah-mudahan nggak disengaja oleh penulis, adalah kesalahan penulisan nama adik Presiden Mega yaitu “Guruh Soekarnoputri. Yah, memang ybs rada ‘melambai’ sih, tapi sampe hari ini kan belum sampe ‘operasi’ :-))

Terlepas dari topiknya yang membahas pola komunikasi politik, buku ini sebenarnya juga bisa dilihat sebagai studi kasus gaya kepemimpinan: apa kelebihan dan kekurangannya, serta pesan moral tentang esensi dari kepemimpinan itu sendiri. Satu hal yang bikin gue miris setelah baca buku ini: bahwa ternyata negara kita lebih banyak dipimpin oleh orang-orang yang sibuk mengamankan kekuasaan kelompoknya, ketimbang mikirin nasib rakyat…

my stupid boss – resensi dan analisis psikologis


Saat ditanya orang apa tip menulis blog yang diminati banyak, gue pernah menjawab, “Hindari humor negatif, yang memancing tawa pembaca dari menghina / menjelek-jelekkan orang lain, karena lama kelamaan kita akan kehabisan bahan. Nggak ada orang yang bisa secara konsisten negatif terus, pasti ada saatnya kita merasa bahagia, kan? Pada saat itu, kita bisa kehabisan bahan tulisan.”

Ternyata gue salah.

Ternyata ada sebuah blog yang boleh dibilang cuma berisi curhat kesebelan sang penulis terhadap bossnya yang bego setengah mati. Bukan cuma itu, blog ini juga udah diangkat jadi buku setebal hampir 200 halaman. Dan setelah bukunya terbit, masih terus bermunculan posting-posting baru yang nyaris semuanya bertema sama: sumpah serapah terhadap si boss. Luar biasa, boss yang satu ini pasti bener-bener seorang boss yang sangat inspirasional!

Guilty pleasure, kurang lebih itulah reaksi gue saat membaca buku “my stupid boss” ini. Di satu sisi gue prihatin ngeliat ada aib (baca:kebegoan) orang diumbar abis-abisan, tapi di sisi lain gue harus akui bahwa gaya penuturan si penulis sangat cerdas, sinis, dan kocak banget!

Si penulis yang identitasnya masih misterius ini mengaku sebagai ‘kerani’ (staf admin) di Malaysia. Dia bekerja di sebuah perusahaan kecil (hanya punya pegawai beberapa belas orang). Pemilik perusahaan itulah sang ‘stupid boss’ yang abis-abisan dihajar dalam 197 halaman buku terbitan Gradien Mediatama ini.

Gaya penulisannya sebenernya nggak terlalu istimewa, kalo nggak bisa dibilang kaku. Dialog-dialog antara tokoh penulis dan si boss ditulis dalam format mirip naskah sandiwara, sebuah format yang sangat ‘kering’, sebenernya. Tapi berhubung isi dialognya bener-bener ancur abis, gue ketawa-ketawa juga bacanya.

Contohnya dialog mereka di pesawat, saat tiba-tiba tokoh boss mengenali di pesawat mereka ada seorang menteri Indonesia:

Boss: Eh, itu kan Mentri xxx Pak xxx
Gue: Iya. Terus kenapa?
Boss: Saya mau ngobrol, ah (siap-siap mau bangun)
Gue: Jangan, Pak.
Boss: Loh, memangnya kenapa? Biarin aja! Lagian tempat duduk di sebelahnya juga kosong, kan?
Gue: Ya,. tapi ini udah mau take off! Bapak mau keguling apa?
Boss: Oh, iya, ya…

(hal. 182)

Berdasarkan penggalan-penggalan informasi dalam buku ini, gue ketahui bahwa si boss adalah orang Indonesia yang menikah dengan wanita Malaysia. Dia pernah tinggal 13 tahun di Amerika Serikat, dan bangga sekali dengan fakta tersebut. Sebaliknya, tokoh penulis berpendapat bahwa untuk ukuran seorang boss yang pernah kuliah di Amerika Serikat, si boss sungguhlah norak, bego, kampungan, paranoid, pengecut, licik, pelit, dan pada dasarnya nggak tau malu. Menurut penulis, si boss nggak belajar apapun selama tinggal di Amerika, karena yang dilakukannya di sana cuma (sori) berak. Diceritakannya bagaimana si boss mencoba memberi ‘uang damai’ saat ditilang polisi Malaysia, yang akhirnya malah berbuntut panjang. Atau saat si boss sesumbar akan menempeleng 17 pegawai yang punya tuntutan khusus di akhir masa kontrak, tapi saat dipertemukan langsung malah ciut. Atau tentang si boss yang mengendap-endap sembunyi di semak-semak untuk memata-matai apakah para pekerjanya betulan kerja saat dia nggak di kantor.

Sebaliknya, si penulis menutup rapat-rapat identitas dirinya, bahkan nggak mencantumkan nama aslinya sebagai penulis. Dia cuma bilang bahwa dirinya adalah seorang perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, sudah menikah, dan bekerja di kantor boss bodoh itu sebagai tenaga kontrak. Artinya, dia dan boss terikat perjanjian kerja sama selama jangka waktu tertentu. Menurut peraturan tenaga kerja Malaysia, bila salah satu pihak memutuskan hubungan kerja sebelum waktu yang ditentukan dalam kontrak, pihak tersebut harus membayar ganti rugi senilai upah bulanan dikalikan dengan jangka waktu yang tersisa. Itulah sebabnya si penulis tetap bertahan di kantor bossnya walaupun dia benci setengah mati. Dari berbagai istilah dan referensi yang dia gunakan (misal: penggunaan istilah makdikipe yang punah di era 90-an awal dan menyebut pemeran Superman adalah Christopher Reeve – bukan Brandon Routh) , gue menduga penulis ini berumur sekitar pertengahan 30-an.

Saat memasuki bagian pertengahan buku, setelah berulang kali ketawa-ketawa ngebayangin kok ya ada boss seancur ini, gue mulai merasa sedikit kasihan pada tokoh si boss. Kayaknya dia itu sebenernya butuh pertolongan profesional deh. Kalo ngeliat ciri-ciri perilakunya, kayaknya si boss ini menderita semacam inferiority complex, di mana dia bikin ulah macem-macem untuk membuktikan bahwa sesungguhnya dirinya adalah penting dan patut dihormati. Sayangnya, efeknya justu terbalik: bukannya makin dihormati, dia justru dilecehkan dan dihina semua orang, mulai dari staff Adminnya sendiri hingga para supplier seperti yang diceritakan di halaman 33 ini:

Boss: Pipa ini satu batang 180 ringgit?! Mana mungkin! Di tempat kawan saya hanya 60 ringgit!
Supplier: Hah? Di kawan you hanya 60 ringgit? Ok, bagi saya alamat kawan you.
Boss: Mau apa?
Supplier: Saya mau beli pipa dari kawan you.

Walaupun ini buku lucu-lucuan, tapi ada satu hikmah yang bisa gue tarik kalo suatu hari hari nanti harus berperan sebagai seorang boss: jangan lakukan apapun yang dilakukan tokoh boss dalam buku ini! 🙂 Sebuah buku yang menarik, terutama buat orang-orang kantoran.

Penutup:
Setelah puas baca bukunya dan blognya, gue mulai penasaran dengan sosok penulisnya. Seperti apa sih orangnya? Apakah dalam kehidupan nyata dia sesinis dan segalak yang digambarkannya dalam buku? Eh pas iseng-iseng googling, gue nemu sebuah link di multiply, yang mengarah ke blognya chaos@work. Seorang user bernama rockm4m4 mereply posting link tersebut dengan “taelaaaah.. prasaan kenal nih url!!!!”.

Gue kunjungi MP-nya si rockm4m4 itu dan gue menemukan beberapa indikasi samar bahwa dialah sang chaos@work herself, yaitu:

1. Tertulis domisilinya di Malaysia
2. Jenis font di headernya sama dengan font di blog chaos@work
3. Semua postingnya for contact only, dan komentarnya di posting link tsb juga langsung dihapus – sama misteriusnya dengan sosok chaos@work

Jadi, apakah rockm4m4 = chaos@work? Ada yang tau?

  • Komentar Terbaru

    riezal bintan pada job value: solusi keadilan unt…
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    pinkuonna pada Momen Pengubah Hidup
    mbot pada Momen Pengubah Hidup
    Nita Prihartini pada Momen Pengubah Hidup
    Momen Pengubah Hidup… pada bsmr = belajar sampe mati…
    Crystal House pada siapa yang sering kesetrum sep…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    power indoarabic pada [2012-011] Ajaran ‘sesat…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 692 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Jadi 'Hero' di PBS Workshop di OEC Jakarta! Seruuuu! 5 Desember 2019
      Jadi hari ini jadwalnya aku ke OEC Jakarta dan ikutan PBS Workshop yang oriflame adakan.Aku ingin tambah ilmu, ya khaaaan?Walaupun sudah bikin dan punya link PBS, aku merasa kalau aku tetap harus datang ke workshop ini karena pasti aku akan dapat sesuatu.Karena kunci untuk maju adalah: JANGAN pernah merasa SUDAH TAU. Banyakin belajar. Dan bener aja, aku dapa […]
    • Menghasilkan Uang di Oriflame Lewat Menjual, Begini Caranya! 💰💰🤑 4 Desember 2019
      Masih banyak yang suka bertanya-tanya: Sistem kerja oriflame itu seperti apa sih? Cara kerja oriflame itu bagaimana sih? Mari merapat! Aku akan jelaskan yaaaa.. 😍😍🤗🤗 Jadi, di Oriflame itu ada 2 cara untuk menghasilkan uang. Yang pertama, dengan cara menjual. Yang kedua, dengan cara membangun sebuah team dengan cara mengajak sebanyak mungkin teman kita bergab […]
    • Kenalan Sama Oriflame Lewat Video Ini, Yuk! 😍😍 3 Desember 2019
      Belum pernah tau tentang Oriflame? Atau, sudah pernah tau tapi cuma selewat aja? Yuk kenalan dengan oriflame lewat beberapa fakta menarik di video ini. 😍😍😍😍 Oriflame adalah perusahaan besar yang harus dipertimbangkan kalau teman2 sedang mencari bisnis yang bisa dikerjakan dari rumah atau sambil ngantor. Perusahaan yang pertama kali berdiri di stockholm, swed […]
    • Cerita Dibalik Sebuah Conference Oriflame 😍😍😍 2 Desember 2019
      Aku mau ceritain tentang dibalik sebuah conference international-nya oriflame ya.. Sungguh aku tercengaaaaang banget pas denger penjelasannya di acara Business Day Diamond Conference Sydney, Januari 2019 kemarin. 😍😍😍😍😍 Di oriflame kan ada 2 event konferensi luar negeri-- Gold Conference dan Executive-Diamond Conference. Nah yg naik panggung cerita dan […]
    • Perempuan dan 3 Hal Finansial Penting. 2 Desember 2019
      Turki, Oktober 2019 Di sebuah sesi training yg berkaitan dengan keuangan yg pernah aku hadiri, bapak dan ibu pembicaranya bilang begini, 'Perempuan itu HARUS punya 3 hal ini. Pertama, properti atas namanya sendiri. Kedua, tabungan atas namanya sendiri. Ketiga, rekening proteksi atau asuransi atas namanya sendiri.' 🤔🤔🤔🤔🤔🤔 Pas baru dengar beliau ini […]
    • Kesempatan Hadiah GRATIS Dengan PBS Oriflame di Desember 2019! 1 Desember 2019
      Mau beli produk oriflame dengan harga diskon member? Hematnya 23% lho dari harga katalognya. Lumayaaaan banget kan yaaa.. Nah, kebetulan di bulan Desember 2019 ini, oriflame punya penawaran spesial buat non member yang ingin punya nomer kartu diskon oriflame! Gak cuma bisa belanja hemat diskon 23% tapi juga bisa dapat hadiah GRATIS! 😍😍😍😍 Khusus buat yang bel […]
    • Promo Belanja Oriflame Desember 2019-- Tas Puma Exclusive! 1 Desember 2019
      Tahun 2012, oriflame pernah kerja sama dengan PUMA dan mengeluarkan promo berhadiah tote bag PUMA. Itu aku sukaaaa banget tasnya. Warna hitam dengan lis bagiab atas warna emas elegan. Cakeeeep banget! Udah gitu, siapa yang meragukan kekuatan merk PUMA kan? Sebagai brand olahraga sekelas Nike, Reebok dan Adidas, sudah jelas jaminan mutu buangeeeet! Tas PUMA t […]
    • Essentials Fairness Exfoliating Scrub by Oriflame 1 Desember 2019
      Umumnya, pergantian sel kulit baru akan terbentuk setiap 28 hari sekali. Tapiiiii bertambahnya umur membuat hal ini tidak terjadi secara sempurna.  Akibatnya, terjadi penumpukan sel kulit mati di wajah. Nah, penumpukan sel kulit mati inilah yang bikin wajah jadi keliatan kusam, kalau dipegang rasanya kasar, belum lagi penumpukan sebum di wajah yang bikin kom […]
    • Cara Membuat Link Personal Beauty Store (PBS) Untuk Member Oriflame 28 November 2019
      Sebagai bisnis digital, Oriflame memberikan support kepada para membernya berupa tools digital yang bisa digunakan untuk membesarkan jaringan dan memperluas penjualan. Yang sedang terus digadang2 oleh oriflame saat ini adalah Personal Beauty Store, atau toko online pribadi yang bisa dimiliki oleh setiap membernya. Sudah member oriflame tapi belum punya link […]
    • [Oleh-Oleh Presidential Summit 2019] Apakah Saya Alpha Leader? 28 November 2019
      Hari Senin 25 November 2019 kemarin, jadwalnya datang ke OEC Jakarta, karena mau ikutan kelas ini. Judulnya, Oleh-Oleh Presidential Summit. Presidential Summit ini adalah sebuah sesi khusus saat Top 15 Meeting Leader Oriflame Indonesia di bulan September 2019 kemarin.
%d blogger menyukai ini: