Manusia Ibarat Kertas…


kertas-lecek

Bukan, bukan.

Gue bukan mau bilang manusia ibarat kertas putih polos, lahir tak bernoda, siap dibentuk menjadi apa aja.

Bukan yang itu.

Tapi pagi ini gue baru dapet inspirasi, bahwa jenis-jenis manusia itu banyak yang bisa diibaratkan seperti kertas.

Ada manusia yang seperti KERTAS TISU: selalu siap membantu, khususnya dalam keadaan-keadaan darurat seperti ada cairan yang muncul tak selayaknya. Nggak pernah pilih-pilih urusan, semua masalah akan dia coba beresin sebisa mungkin. Tapi sayangnya, manusia-manusia jenis ini jarang diingat di luar keadaan darurat. Kalau urusan udah beres, dia dibuang. Kasihan…

Sebaliknya, ada juga manusia yang seperti KERTAS BERHARGA: kurang jelas manfaatnya, buat kipas-kipas sayang, buat ngelap apa lagi. Jarang kelihatan juga, tapi selalu menuntut diperlakukan istimewa karena kalo sampe ilang bikin panik dan repot.

Yang sering mengecoh adalah manusia jenis KERTAS KADO: kalo baru kenal nampak seru dan menarik, tapi setelah dilihat isinya seringkali mengecewakan.

Ada juga manusia yang selalu siap beralih fungsi, yaitu jenis KERTAS ULANGAN: setelah menunaikan tugas sebagai sarana mencerdaskan bangsa, dia rela beralih fungsi sebagai bungkus gorengan. Nggak mengeluh, nggak menuntut, yang selalu mengutamakan faedah.

Yang kasihan adalah manusia jenis KERTAS SELEBARAN: jumlahnya paling banyak, ada di mana-mana, tapi jarang ada yang memperhatikan. Kadang belum dibaca juga udah masuk tong sampah.

Tapi yang paling ngeselin adalah manusia jenis KERTAS BAKPAO: udah bentuknya nggak menarik, nggak jelas fungsinya, dilepasnya susah, kadang suka ikut-ikutan masuk mulut, padahal nggak diinginkan!

(Posting ini terinspirasi gara-gara lagi asik sarapan bapau, kertasnya kemakan)

 

Gambar gue pinjem dari sini

 

 

 

Imbuhan Rancu yang Bikin Gawat


bahasa

Beda dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia punya banyak imbuhan.

Sebuah kata dasar, dikasih imbuhan, maknanya bisa berubah. Imbuhannya diganti, maknanya bisa bertolak belakang.

Contohnya imbuhan di-kan dan di-i.

Dua-duanya kata kerja pasif, bedanya: kalo di-kan subyeknya bergerak, dan di-i subyeknya nggak bergerak.

Contoh:

Batu dilemparkan oleh Budi. – Batunya gerak.
Rumah dilempari Batu (oleh Budi). – Rumahnya nggak gerak.

Mobil dijalankan. – Mobilnya gerak.
Jalan setapak dijalani. – Jalan setapaknya nggak gerak.

Permasalahan timbul kala bahasa Indonesia dicampur dialek Betawi, dan muncullah imbuhan di-in. Ini bikin pusing bener, karena di-in bermakna ganda, bisa berarti di-kan, bisa juga di-i. Ini kan jadi nggak jelas, yang mana yang gerak, mana yang gak gerak.

Contoh:

“Gila, batu yang dilemparin sekolah lawan gede-gede banget!” – ini maksudnya ‘dilemparkan’.
“Ancur dah sekolah gue dilemparin batu segede-gede gitu!” – ini maksudnya ‘dilempari’.

“Mobil gue tiap kali dijalanin kok bunyinya aneh, ya?” – ini maksudnya ‘dijalankan’.
“Udah lah, yang penting dijalanin aja dulu, kita lihat nantinya gimana.” – ini maksudnya modus, eh maksudnya ‘dijalani’.

Kalo kata dasarnya cuma ‘lempar’ dan ‘jalan’ masih enak. Jadi runyam kalo udah mulai melibatkan kata-kata tertentu.

Contoh:

“Sari nggak mau dimasukin,soalnya masih capek, mau ngaso dulu.” (Maksudnya
dimasukkan ke daftar peserta piknik).

“Pantesan kok lu kelihatannya lemes banget, rupanya tadi abis dikeluarin ya?” (Maksudnya dikeluarkan dari daftar calon penerima bonus).

Dan…

“Adik meronta-ronta waktu mau dinaikin.”(Maksudnya dinaikkan ke mobil untuk
dibawa ke mantri sunat.)

Demikian kajian bahasa kita kali ini, semoga (walaupun kecil kemungkinan) bermanfaat.

Gambar gue pinjem dari sini.

Ingin Banget Nanya Kepo? Coba Jurus Baru Ini!


pertanyaankepo

Lebaran!

Artinya, waktu untuk bersilaturahim. 

Bersilaturahim, artinya ngobrol-ngobrol. 

Dan buat kita, insan kepo nusantara, ngobrol-ngobrol artinya nanya. 

Celakanya, belakangan makin susah untuk nanya. Liat aja di medsos, orang pada nge-meme-in jawaban nyeleneh untuk pertanyaan favorit Lebaran, seperti ini: 

(lebih…)

Rahasia Bukber Sukses


IMG20160623194551

Salah satu acara khas bulan puasa adalah buka bersama, alias bukber. Hanya di bulan inilah orang-orang yang tadinya jarang ketemu bisa ngumpul bareng, cerita-cerita, foto-foto bareng, ketawa-ketawa bodoh, yang kalo belakangan diinget masih bisa bikin senyum-senyum sendiri . Tapi ada kalanya bukbernya garing: obrolannya bikin nyolot, joke-nya joke om-om, ketawanya basa-basi, dan fotonya ala kadarnya.

Realistis aja deh: Jakarta makin macet, hidup di kantor udah nyapein, di jalan banyak kriminalitas, nggak perlu lagi diperberat dengan harus menghadiri bukber garing. Artinya, kita harus pinter memilah dan memilih, acara bukber mana yang layak didatengin dan mana yang penting dihindari. Atau sebaliknya, sebagai penyelenggara bukber kita harus jeli, apakah rencana bukber akan terlaksana atau enggak. Maka, inilah dia: rahasia bukber sukses.

(lebih…)

Jadi, Masalahnya Di Mana?


han solo what problem

 

Beberapa dialog yang gue alami akhir-akhir ini kebetulan punya tema yang sama.

 

Dialog 1

“Gue sedih deh. Si A yang di depan gue baik, ternyata di belakang suka ngomongin yang jelek-jelek.”

“Dari mana lu tau kalo dia suka ngomong jelek di belakang?”

“Si B yang cerita.”

“Dari mana lu tau bahwa omongan si B bener?”

“Karena… B temen gue.”

“Dan A bukan?”

“Juga, sih.”

“Antara A dan B, mana yang lebih lu percaya?”

“Gue nggak tau. Dua-duanya nggak terlalu deket juga, sih.”

“Mereka penting buat kehidupan lu?”

“Nggak juga, sih.”

“Jadi, masalahnya di mana?”

(lebih…)

#SaveHajiLulung


 

 

Pas mata udah kriyep-kriyep mau tidur, eh nemu ada hestek #SaveHajiLulung lagi heboh di Twitter. Langsung terpanggil deh untuk berpartisipasi, kebetulan tensi lagi tinggi setelah nonton video yang satu ini.

Daripada cuma gue tinggal di Twitter nanti nyarinya susah, mending gue abadikan di sini twit-twit gue untuk Haji Lulung tercinta (lebih…)

Antara Bego dan Bloon, Sebuah Kajian Linguistik


Daihatsu BegoWaktu mau makan siang, seorang teman denger seseorang berkata “Bego lu!”; lantas melontarkan pertanyaan penting, “Kenapa ya, orang lebih seneng ngomong ‘bego’ daripada ‘bloon’, padahal artinya kan sama?”

Wah, ini pertanyaan yang menarik sekali!

  (lebih…)

Agar


Wahai kalian, kroco-kroco kantoran, gue yakin kalian pernah baca/denger Boss bikin kalimat kayak gini:

“Seluruh karyawan agar mengikuti ketentuan… blablabla…”

Atau di surat undangan acara yang berpotensi tinggi dijadikan ajang ngabur, biasanya tertulis:

“Dalam pelaksanaan acara, seluruh karyawan agar datang tepat waktu.”

Perhatiin kata ‘agar’-nya.

(lebih…)

Menteri Dukungan Rakyat Nggak Jelas


“Konstitusi yang akan dukung, bukan dukungan rakyat yang nggak jelas itu,”

kata Menko Polhukam Tedjo Edhy mengomentari aksi dukungan massa di kantor KPK. Akibatnya rakyat pendukung KPK tersinggung, karena merasa dikatain ‘nggak jelas’ oleh Pak Menteri.

Padahal belum tentu yang dimaksud ’nggak jelas’ adalah rakyat loh!

(lebih…)

Kiat Membedakan Pemotor Biasa vs Pemotor Plus


“Motor emang nggak ada otaknya!”

Belakangan, seruan ini makin sering gue denger  khususnya dari mulut gue sendiri. Sebuah seruan sia-sia sebenernya, karena sebagai benda mati, (sepeda) motor memang nggak ada otaknya. Yang seharusnya punya otak adalah pemotornya.

Berdasarkan pengamatan gue atas manuver-manuver pemotor di jalanan, gue akhirnya sampai pada satu dugaan, sebenernya keberadaan otak para pemotor ini nggak perlu diragukan lagi. Masalahnya cuma, adanya di mana? Apakah di dengkul? Atau ketinggalan di rumah?

Dengan kata lain, sebagian para pemotor di kota besar Indonesia adalah pemotor plus: plus karena mereka mampu (baca: tega) melakukan banyak hal yang tidak dilakukan pemotor biasa. Apa bedanya? Berikut ini daftarnya:

(lebih…)

Terkontal KONTAL


Beberapa hari lalu, pas lagi mau ngambil minum, beberapa orang yang lagi ngerubung di sebuah kubikel manggil.

“Gung, tahun ini kan kita mau bikin kontes sales tingkat nasional, tapi belum nemu namanya. Minta ide dong, nama kontes yang catchy, gampang diinget,” kata salah satu dari mereka.

“OK, gue mikir dulu,” jawab gue sambil melanjutkan perjalanan ke dispenser.

Beberapa menit kemudian, terbukti kebenaran nasehat orangtua bahwa air putih baik bagi kesehatan.

Buktinya gue langsung dapet ide.

(lebih…)

Arisan Kambing


Waktu lagi goler-goleran di kamar, gue nguping istri lagi mendiskusikan rencana investasi bareng temen-temennya. Mereka lagi bingung milih mana yang lebih menguntungkan, arisan emas atau arisan duit dengan sistem denda.

“Arisan kambing aja,” usul gue.

“Ck, yang enggak-enggak aja sih suami!”

“Loh, beneran ini. Di beberapa daerah itu populer lho!”

Jadi sistem arisan kambing adalah: setiap bulan para peserta arisan patungan beli seekor kambing, lalu kambingnya jadi hak milik peserta yang menang arisan. Udah, gitu doang. Biasanya kambingnya dititip ke sebuah peternakan, dan tentunya sang pemilik nantinya yang harus menyetor biaya perawatan kepada pemilik peternakan.

Keuntungan arisan kambing adalah; saat kambingnya makin banyak, mereka bisa saling kawin-mawin dan berkembang biak. Alhasil, jumlah kambingnya bisa berlipat ganda dari jumlah peserta arisannya.

Tapi memang arisan kambing bukannya tanpa risiko.

(lebih…)

5 Fase Siklus Hidup Sebuah Group Chat



gambar gue pinjem dari sini

Bagi kalian pengguna smartphone kemungkinan besar sedang; atau minimal pernah; tergabung dalam sebuah group chat. Baik itu BB Group, Whatsapp Group, Kakao Group, atau Line Group.

Tahukah kalian, bahwa pada dasarnya group chat juga punya siklus hidup?

Coba cek udah sampe di mana siklus hidup grup chat kalian!

(lebih…)

Tipe Kepribadian Orang Berdasarkan Cara #makanTahu


Ujug-ujug aja gue mendapat inspirasi yang luar biasa ini.

Ya: ternyata jenis kepribadian orang bisa dinilai dari caranya makan tahu! Ini dia contoh-contohnya:

(lebih…)

Beginilah Cara Membuat Video Viral… yang Kacrut


Malam ini udah ngetik 2 posting, masukin ke scheduler, siap-siap tidur, eh nemu video gila ini. Nggak jadi deh. Percuma, maksain tidur juga nggak akan bisa.

Kalian mungkin udah pernah nonton video yang ini, yang konon dibuat oleh sekumpulan pendukung Jokowi. Lagunya One Direction diplesetkan dan diganti kata-katanya dengan harapan terciptanya Jakarta Baru kalo dipimpin oleh Jokowi dan Basuki.

Nah, kelihatannya dari kubu seberang ‘panas’ lihat video itu dan berusaha bikin video tandingan berjudul “Gadis Kotak-Kotak”. Tadinya sih videonya mau gue embed di sini, apa daya oleh sang empunya fitur embed dinonaktifkan. Buat yang penasaran kayak apa videonya tapi males buang-buang pulsa untuk streaming, di posting ini gue akan deskripsikan videonya, adegan demi adegan.

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: