Kenapa Orang Tersinggung?


sepatu-tersinggung

Belakangan ini, gue lagi nemu banyak banget orang tersinggung. Kadang, tersinggungnya untuk urusan yang nggak terlintas di benak gue sebelumnya.

Misal:

“Gue kesel banget sama si X… masa pas kemarin ke rumah gue, dia kipas-kipas melulu! Ya deh gue tau rumah gue panas nggak pake AC, nggak kayak rumah dia, gedongan!”

Atau:

“Gue lagi bawa mobil, trus gue lihat si Z lagi di halte. Gue tawarin nebeng, eh dia nggak mau! Kurang ajar banget, masa dia lebih milih naik angkot daripada mobil gue?!”

Atau yang paling aneh:

“Gue kemarin di angkot ketemu sama Si Y. Nggak sopan banget dia, masa sepanjang jalan dia tidur, nggak ada basa-basinya banget! Harusnya kan udah tau ada gue, dia ngobrol atau apa kek!”

(lebih…)

Menjadi Hebat itu Kewajiban, Bukan Pilihan


boy-catching-a-fish

“Bapak, apakah semua orang punya hobi?”

Berhubung seminggu ini gue cuti, tadi siang gue jemput Rafi dari sekolah dan di jalan muncullah pertanyaan itu.

(lebih…)

Di Balik Jempol Para Om


Awalnya, seorang temen mengomentari suaminya yang lagi berpose untuk difoto, “Nggak usah ngasih jempol, kayak om-om!” Sejak itu gue lantas memerhatikan foto-foto para om-om, dan ternyata bener: banyak om-om, termasuk gue, yang ngacungin jempol kalo disuruh berpose. Yah, mungkin nggak sampe melebihi 50% populasi om -om sih, tapi porsinya cukup signifikan, lah. Maka lahirlah meme ini:

(lebih…)

Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

(lebih…)

Kenapa Lu Bakal Kecewa Saat Sedekah Sambil Berharap Balasan Berlipat


sedekah-ilustrasi-_120814161235-689

“Mau dapet rezeki berlimpah? Sedekah aja! Tuhan akan membalas 700 kali lipat! Mau punya uang 700 juta? Cukup sedekah 1 juta! Mau punya uang 7 miliar? Sedekah aja 10 juta!”

Pernah denger ajakan kayak gitu? Atau elu malah lagi pikir-pikir untuk nyoba? Sebelum nyoba, baca dulu deh tulisan ini.

Bukan, gue bukan mau mempermasalahkan ‘sedekah itu harusnya ikhlas, nggak mengharap imbalan’. Ada pemuka agama yang bilang, justru kita hanya boleh mengharap kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Itu gue setuju 100%. Masalahnya, saat lu menyedekahkan duit dengan berharap dapet imbalan duit berkali-kali lipat, ada dua faktor yang berpotensi bikin lu kecewa.

(lebih…)

Nostalgia 90-an: Peliknya Lirik Lagu


memorize lyrics of a song

Weekend kemarin gue nyetir ke Jawa Tengah, nganter istri Oriflame-an. Biar nggak ngantuk, gue membekali diri dengan flashdisk berisi lagu-lagu favorit, yang sebagian besar tentunya berasal dari era 90-an.

Lagu demi lagu mengalun, dan gue hampir selalu ikut nyanyi. Soal kesesuaian nada belakangan, yang penting kan nggak ngantuk. Sambil nyanyi gue ngeliatin layar music player, tertulis ada lebih dari 400 lagu dalam flashdisk gue. Saat itulah gue sadar: sekitar 70% dari 400-an lagu itu, gue apal liriknya. Kok bisa ya? *kagum sendiri*

Tapi gue pikir-pikir, memang segala sesuatu yang didapet dengan susah payah, biasanya nggak gampang dilupakan.

Sebagai perbandingan, di era Google ini, nyari lirik lagu tuh gampang buwanget. Tinggal ketik judul lagu di browser, langsung dapet. Nggak tau judul lagunya? Tinggal ketik sebaris bait yang kita tau, juga bisa ketemu. Di Youtube juga banyak video klip yang memuat lirik lagunya. Bisa dengerin lagunya, nonton video klipnya, sambil ikutan nyanyi. Gampang segampang-gampangnya.

Di era 90-an, perjuangan untuk dapet lirik lagu itu keras, Bruh.

(lebih…)

Coba-Coba Gak Minum Gula Sebulan, Ternyata Begini Akibatnya


Sejak keberhasilannya ‘puasa’ yang manis-manis sebulan penuh, Rafi mulai sering menggugat. 

“Bapak curang! Kenapa cuma aku yang nggak boleh minum manis? Kenapa Bapak boleh?”

“Loh, siapa bilang kamu nggak boleh? Kamu boleh minum manis, tapi… kalo nggak minum manis, dapet hadiah,” jawab gue, “Lagipula, Bapak kan olah raganya jauh lebih banyak daripada kamu.”

Tapi diem-diem gue mikir juga, “Apa iya, konsumsi gula gue udah ideal?”

(lebih…)

Tantangan Manis untuk Rafi


Hari ini, dalam sebuah meeting tentang website intranet, omongan mengarah ke blog.

“Agung memangnya suka ngeblog ya?”

“Oh iya!” jawab gue yakin. “Tapi… udah lama nggak di-update…” sambung gue pelan.

Parah memang, blog ini udah berbulan-bulan nggak di-update. Padahal ngakunya blogger.

Maka dalam rangka Hari Blogger Nasional, gue persembahkan posting baru buat kalian semua, para pembaca blog ini. Kalo masih ada.

Selamat Hari Blogger!

===

Seperti anak-anak pada umumnya, Rafi doyan sekali sama segala sesuatu yang manis-manis seperti coklat, es krim, atau minuman botolan. Sebagai orangtua yang sadar kesehatan,tentunya gue dan Ida berusaha membatasi. Selain berpotensi bikin kegendutan, Rafi kelihatannya alergi sama segala sesuatu yang manis-manis. Seringkali abis makan yang manis-manis, dia batuk berdahak selama beberapa hari.

Kami lantas bikin peraturan, Rafi cuma boleh makan dan minum yang manis-manis 1 kali sebulan, yaitu setiap tanggal 30. Secara umum peraturan ini berjalan, dalam arti setiap tanggal 30 dia menikmati makanan dan minuman manis. Masalahnya, di luar tanggal 30 ‘sekali-sekali’ dia juga makan dan minum yang manis-manis. (lebih…)

Pelajaran Hidup dari Monopoli


monopoli

Sebelum masuk SD, Rafi udah menemukan, dan memutuskan, bahwa hobinya adalah menggambar. Di satu sisi itu bagus, karena banyak orang yang sampe tua bangka juga nggak tahu hobinya apaan. Selain itu, menekuni hobi menggambar nampak jauh lebih jelas manfaatnya ketimbang main Angry Birds. 

Jeleknya, dia lantas menganggap pelajaran sekolah, khususnya aritmatika, nggak penting. 

(lebih…)

Kumat Ngomik


Kira-kira satu setengah tahun yang lalu, gue mengajari Rafi cara menjilid komik dari kertas A4, biar bentuknya rada mirip buku komik betulan. Setelah kertasnya terjilid jadi buku, kok gue jadi iseng ingin bikin komik juga. Maka mulailah gue membuat komik dengan tokoh Spiderman. Alatnya cuma pensil dan ballpoin Faster warna item. Rencana awal: komik ini terdiri atas dari 10 halaman, tapi baru sampe halaman 4 udah pegel sendiri nggambar motif jaring laba-laba di kostum Spiderman dan mulai menyesal kenapa juga harus milih tokohnya Spiderman yang kostumnya ruwet.

(lebih…)

Ini dia yang namanya Kampanye Butek


Gimana, udah mulai eneg lihat berita-berita miring tentang capres berseliweran? Sama. Ada yang bilang, selama berita miringnya masih “negative campaign” dan bukan “black campaign” masih bisa dibenarkan. Tapi di suatu titik tertentu, enegnya sama aja.

Emang apa sih bedanya?

Konon perbedaan antara negative campaign dan black campaign adalah:

Negative Campaign: memberitakan fakta (betulan terjadi) yang negatif mengenai seseorang.

Black Campaign: memberitakan cerita fiktif yang negatif mengenai seseorang.

Masalahnya membedakan negative campaign dan black campaign nggak semudah itu berkat kemunculan campaign tipe baru yaitu kampanye butek.

Gue definisikan kampanye butek sebagai:

Memberitakan sesuatu yang berdasarkan fakta tapi dipoles sedemikian rupa hingga akhirnya banyakan polesannya daripada faktanya, dan gak jelas mana fakta mana imajinasi.

Kurang lebih seperti proses perubahan Stefani Joanne Angelina Germanotta jadi Lady Gaga.

Berikut beberapa tipe kampanye butek beserta contohnya:

(lebih…)

Kalo Amanah Dijagah Membabih Butah


Alkisah hiduplah seorang satpam bernama Dudung. Dia bekerja di sebuah pabrik yang lokasinya berbatasan langsung dengan perkampungan warga.
Sebagai satpam, Dudung memiliki reputasi baik. Dia sangat berdisiplin dan teguh memegang amanah. Malam ini tak terkecuali. Dia dapat giliran jaga selama 5 jam, jam 12 malam sampai jam 5 pagi. Saat serah terima shift seperti biasa dia membacakan ikrar satpam,

“…saya bersumpah menjaga keamanan dan keselamatan pabrik ini dengan tidak meninggalkan lokasi sebelum shift berakhir!”

(lebih…)

Kalo gue jadi Jokowi…


“Jokowi adalah oportunis yang ambisius, sekedar memanfaatkan popularitasnya untuk mengejar jabatan setinggi-tingginya, padahal masa pembuktian hasil kerjanya masih terlalu pendek.”

Kalo diringkas dalam 1 kalimat, kurang lebih begitulah isi serangan yang diarahkan ke Jokowi sejak dia dideklarasikan sebagai capres dari PDI-P. Itu juga reaksi pertama yang terlintas di benak gue saat denger berita pencapresan Jokowi, “Kenapa? Apakah sekedar karena disuruh Megawati? Kok mau aja sih? Atau jangan-jangan emang sejak pindah dari Solo udah berencana untuk lompat ke kursi presiden?”

Awalnya, tiap kali ditanya wartawan, respon Jokowi cuma, “Yang saya lakukan tidak dilarang oleh undang-undang.” Yaelah Pak, ujug-ujug nanya nomer beha mbak-mbak yang lewat depan halte juga nggak dilarang undang-undang, tapi bukan berarti pantes.

(lebih…)

Bu Risma, Kenapa Nangis?


Di acara Mata Najwa 12 Februari 2014 lalu, ada satu rangkaian dialog yang bikin gue penasaran. Kurang lebihnya, Najwa menanyakan ke tamunya, Tri Rismaharani, Walikota Surabaya, apakah benar sempat terbersit pikiran untuk mundur dari jabatan walikota. Bu Risma mengiyakan. Dari obrolan selanjutnya, Bu Risma menyiratkan dia nggak sreg sama wakilnya yang baru ini karena ada sesuatu yang “salah”. Bahkan dia sampe beberapa kali meneteskan air mata saat menjawab pertanyaan dari Najwa.

Pertanyaannya, apaan yang salah? Kenapa Bu Risma yang selama ini punya citra sebagai pejabat yang nggak mau pusing soal jabatan karena fokusnya pada pelayanan publik, kok mendadak ribut soal prosedur pemilihan walikota?

(lebih…)

6 Poin Penting kalo Mau Jualan Paket Training


Hari Senin kemarin gue menghadiri undangan training dari HR. E-mail undangannya  dikirim minggu lalu dengan promo bombastis: “Training Leadership hanya bagi Anda yang Terpilih” – “…kesempatan terbatas!” – “…jangan lewatkan!”

Sesampainya di lokasi gue deketin orang HR yang lagi jaga di sana dan bilang, “Coba gue tebak, ini training gratisan, kan?”

“Hihihi… tau aja lu.”

Jadi di era persaingan yang ketat ini, para konsultan training biasa ngasih 1 sesi gratisan bagi perusahaan yang sedang didekatinya. Tujuannya biar calon klien bisa menilai langsung kualitas materi yang mereka tawarkan, dan mudah-mudahan tertarik beli.

Sesi training gratisan Senin kemarin menumbuhkan banyak inspirasi di benak gue. Sayangnya bukan inspirasi tentang tema utamanya yang tentang leadership, tapi tentang hal-hal yang penting diperhatikan seorang konsultan training saat berjualan paket training, yaitu:

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: