Kalau Kucing Lu Cuek, Mungkin Ini Penyebabnya


Beberapa bulan yang lalu, Rafi (lagi-lagi) nemu seekor kucing liar yang memutuskan untuk bersarang di rumah gue. Berhubung warna bulunya coklat, maka kucing itu dia kasih nama… *drum rolls*… Choco. Ini dia penampakannya:

Choco si kucing

Sama seperti waktu punya piaraan si belek dulu, Rafi sayang sekali sama si Choco ini. Sampai tibalah saatnya… musim kawin.

(lebih…)

Goodybag Gedebug


Sebenernya udah ingin nulis posting yang ini sejak 4 tahun lalu*, tapi ternyata… prokrastinasi kadang mencapai tingkat yang nggak terduga.

 

Waktu itu tahun 2011. Rafi masih TK. Seperti biasa, tugas gue setiap hari Sabtu siang adalah naik sepeda menjemput Rafi di sekolah. Nggak terlalu jauh sih, cuma sekitar 800 meter.

Sesampainya di sekolah Rafi…

“Ayo Bapak, kita ke KFC,” kata Rafi.

“Loh, kok ke KFC? Kita pulang, makan di rumah!”

“Temenku ada yang ulang tahun, Bapak. Ini undangannya.”

Sempet terpikir untuk pulang dulu naro sepeda, baru naik bajaj ke KFC. Tapi.. ah, KFC-nya nggak terlalu jauh kok. Cuma sekitar 1,5 KM dari sekolah. Apa sih susahnya genjot boncengin bocah seberat 26 kilo sejauh itu?

[BELAKANGAN GUE SADARI INI ADALAH SEBUAH KESALAHAN FATAL] (lebih…)

Inilah Alasan Kenapa Sebaiknya Nyantai Saat Berharap


Lagi iseng jajan Hop-Hop di Tebet Green, gue menemukan sebuah iklan menarik:

Hop-Hop Santa Wishlist

(lebih…)

Terkontal KONTAL


Beberapa hari lalu, pas lagi mau ngambil minum, beberapa orang yang lagi ngerubung di sebuah kubikel manggil.

“Gung, tahun ini kan kita mau bikin kontes sales tingkat nasional, tapi belum nemu namanya. Minta ide dong, nama kontes yang catchy, gampang diinget,” kata salah satu dari mereka.

“OK, gue mikir dulu,” jawab gue sambil melanjutkan perjalanan ke dispenser.

Beberapa menit kemudian, terbukti kebenaran nasehat orangtua bahwa air putih baik bagi kesehatan.

Buktinya gue langsung dapet ide.

(lebih…)

Kejutan Ulang Tahun Nggak Pake Marah


Ada satu tim di kantor gue yang punya tradisi unik: ngisengin anggotanya yang ulang tahun. Biasanya skenarionya sebagai berikut:

  1. Saat yang ulang tahun muncul, semua orang kompak nggak ada yang ngasih selamat – seolah-olah lupa.
  2. Menjelang siang, orang yang ulang tahun akan dipanggil salah satu petinggi kantor, dituduh melakukan sebuah kesalahan fatal, terus dimarahin habis-habisan.
  3. Setelah korban nampak mau nangis, anggota tim lainnya muncul bawa kue dan kado sambil nyanyi Happy Birthday.

(lebih…)

Daftar candaan basi yang perlu segera di-move on-kan


Coba inget-inget apakah lu pernah mengalami situasi berikut:

Di kantor, lagi nunggu lift/lagi ngantri makanan di kantin/lagi ngambil air di dispenser, ketemu temen yang ngajak ngobrol, lalu di tengah obrolan dia menyelipkan sebuah candaan. Tentu maksudnya agar menghibur/tampil asik, namun sayangnya candaan tersebut udah terlalu sering lu denger, saking seringnya sampe andaikan lu dapet duit seribu perak tiap kali denger candaan tersebut lu sekarang bisa mampir ke KPK dan bilang, “Mana sini mobil-mobil sitaan kalian, gue beli aja daripada mubazir.”

Pernah?

Maka kemungkinan besar candaan yang lu denger adalah salah satu dari candaan basi berikut ini. Himbauan gue: mari kita move on dari candaan-candaan ini, dan mari mencoba lebih kreatif menciptakan candaan baru. Amin.

Ini dia daftarnya. Silakan tambahin di reply kalo lu punya koleksi candaan basi lainnya. Bukan apa-apa, ini demi kemajuan masyarakat menuju candaan kreatif yang lebih menyegarkan. (lebih…)

Dongeng Anti Klimaks


ugly duckling

Ilustrasinya milik blogger ini

Semalem Rafi minta didongengin lagi, dan kali ini gue memilih dongeng populer “Anak Itik yang Buruk Rupa” dari HC Andersen.

Gue ceritain lah kisah hidup menyedihkan Si Anak Itik yang di-bully itik-itik lainnya hingga akhirnya dia tumbuh besar dan menjadi seekor angsa.

Dan inilah pertanyaan Rafi: (lebih…)

Kisah Horror: Bukan Bocah Biasa


kisah horror bukan bocah biasa

Sebelumnya, harap maklum, gue cerita begini bukan untuk nakut-nakutin, tapi sekedar berbagi untuk diambil hikmahnya bersama.

Terus terang ini bukan pengalaman gue sendiri, melainkan pengalaman seorang temen. Sebut aja namanya Rita. Begini ceritanya:

(lebih…)

…dan Iron Man pun Berteman dengan Dudung


Udah nonton Iron Man 3?

Mungkin nggak semua orang suka, tapi pasti semua orang setuju bahwa film itu akan sangat memukau bagi bocah berumur 6 tahun.

Dalam hal ini adalah Rafi.

Setelah bapaknya (dalam hal ini gue) secara sangat salah mengiyakan permintaannya untuk nonton Iron Man 3 sampe 2 kali, Rafi nggak bisa berhenti membahas segala aspek film itu mulai dari bangun tidur sampe tidur lagi.

(lebih…)

Dilema Pembuangan Cairan Najis


Kalian pembaca lama blog gue pastinya tau ya, di gedung kantor gue ada sebuah perusahaan kosmetika terkenal. Secara berkala, mereka melakukan pelatihan menggunakan zat-zat kimia pewarna rambut. Ini acara yang paling gue benci karena zat-zat itu baunya sengit banget. Kalo mau ngebayangin, baunya kayak campuran antara bau got, bau lem aibon, dan bau kaos kaki basah. Udah gitu, baunya nggak gampang ilang. Mereka latihan sejam, baunya nempel di seluruh penjuru lantai seharian.
Di sore hari yang hujan deras dan banjir ini, sialnya, bertepatan dengan jadwal mereka latihan mewarnai rambut. Ini merupakan perpaduan yang celaka, karena: 1. zat kima pewarna yang udah selesai dipake dibuang di bak cuci pel 2. karena di basement banjir, air di bak cuci pel nggak bisa surut. Akibatnya, 1 bak penuh cairan berbau najis itu menggenang di bak cuci pel dan bertahan lebih lama mencemari udara.
Untunglah segera muncul 2 orang mas-mas berseragam perusahaan kosmetika terkait. Berikut rekaman kesigapan mereka mengatasi situasi:
Mas 1: “Baknya banjir ini! Ayo kita sedot! Cepetan, ambil alat vacuum!”
Mas 2 lari tergopoh-gopoh dan nggak lama kemudian muncul dengan vacuum cleaner besar. Dia mencelupkan selang penyedot ke bak, lalu menyalakan mesin. Lumayan, permukaan air di bak turun sekitar 5 cm. Tapi habis itu air mulai menetes-netes dari dalam vacuum cleanernya.
Mas 1: “Stop, stop! Mesinnya penuh!”
Mas 2 mematikan mesin.
Mas 2: “Mesinnya harus dikosongin dulu, ini.”
Mas 1: “Iya, airnya harus dibuang dulu.”
Mereka lantas berpandangan. “Mmm… buangnya di mana, ya?”
Untung gak ada yg mengutip Cut Tari, “Buang di luar aja, soalnya lagi gak ada tisu.”

Impossible Conversation


Iseng-iseng nyalain TV, ada film “Due Date” (Robert Downey, Jr. & Zach Galifianakis). Lagi tengah-tengah nonton, muncullah Rafi.

“Bapak! Ini film Iron Man ya?” katanya sambil menunjuk Robert Downey, Jr. yang lagi muncul di layar.

“Bukan. Ini film lain.”

“Tapi itu ada Tony Stark!” katanya keukeuh.

“Jadi begini, ya. Orang itu nama benerannya bukan Tony Stark. Dia itu namanya Robert. Pekerjaannya main film. Kalau dia lagi main film Iron Man, namanya jadi Tony Stark. Tapi di film ini, namanya Peter,” gue mengerahkan kemampuan untuk berusaha menjelaskan.

“Oooo gitu,” kata Rafi sambil manggut-manggut.

Lima menit berlalu dalam kedamaian, sampe akhirnya dia angkat bicara lagi.

“Bapak… tapi si Peter ini mirip sekali ya dengan Tony Stark…”

“Arrgh! Gimana sih Rafi, tadi kan sudah bapak jelaskan! Dia memang yang jadi Tony Stark di film Iron Man, tapi di film ini namanya Peter. Kan filmnya berbeda.”

“Oh, gitu…” jawab Rafi kurang meyakinkan.

Lima menit lagi berlalu, akhirnya dia bangkit dari duduk dan ngeloyor ke kamar sambil bilang, “Bapak benar. Setelah diperhatikan, dia nggak terlalu mirip kok dengan Tony Stark…”

*Bapaknya ngemil boneka Iron Man*

Saat kreativitas berlebihan merusak keindahan sebuah cerita…


Ngelihat ini jadi bertanya-tanya, akankah sinetron Indonesia mencapai tingkat yang lebih TIARAP lagi?

Pentingnya Casting


Kalo abis nonton film bagus, biasanya orang muji bintang filmnya, atau sutradaranya. Jarang banget yang muji castingnya. Padahal casting, alias proses pemilihan pemeran, gede banget perannya untuk membuat sebuah film nampak bagus atau jelek. Minimal, nampak pas atau aneh.

Misalnya aktor berikut ini:

(lebih…)

[2012-006] Tamu Kejutan


Hari ini, salah satu temen kantor gue ulang tahun. Temen-temennya lantas bikin kejutan buat dia, dengan menghadirkan istrinya.

Gue cerita sama Ida.
“Kalo kamu yang ulang tahun, inginnya dihadirkan siapa?” tanya Ida sambil main mata.
“Boleh pilih siapa aja, nih?”
“Iya.”
“Mmm… Farah Quinn?”
Eh, Ida langsung madep tembok. Entah kenapa.

[2012-005] Serba Random


Di tengah malam ini, ujug-ujug ingin ngemil yang ringan – ringan aja. Maka pergilah gue ke depan pasar, tempat mangkalnya abang ketoprak edisi nocturnal (karena spesialis jualan mulai jam 20.00 – 02.00). Ketopraknya dibungkus, gue jalan lagi pulang. Lewat depan tukang rokok. Tukang rokoknya pelihara kelinci, yang entah kenapa malam ini dilepas. Mungkin biar kelincinya nggak suntuk. Kelincinya gede banget, mungkin nyaris segede kambing balita. Eh, tapi kambing mah 4 tahun juga udah bisa beranak ya? Ya nggak segede itu sih, tapi pokoknya gede lah, kelinci itu.

Liat gue lewat, dia mulai membuntuti. Abis itu dia motong langkah gue, dari kiri melintas ke kanan. Gue berhenti. Dia berhenti, ngeliatin gue. Kupingnya goyang-goyang. Gue jalan lagi. Eh dia begitu lagi. Motong dari kiri langsung kanan. Gue ngeri dia keinjek, kan nggak enak sama tukang rokoknya.

 

“Bang, sori kelincinya keinjek.”
“KURANG GEDE GIMANA KELINCI SAYA KOK BISA KEINJEK, PAK!?”

 

Susah jelasinnya.

 

Maka gue berhati-hati jalan. Gue berhenti lagi. Dia berhenti juga. Gue jalan, dia begitu lagi. Gue bingung gimana harus bersikap. Kalo dikejar anjing, orang maklum kalo gue lari. Tapi ini dikejar kelinci. Gue nggak perlu lari, sih. Tapi tuh kelinci ganggu. Dibilang nggak terganggu, jelas gue terganggu. Tapi kayaknya masih kurang kuat alasan untuk terganggu. Karena dia hanya seekor kelinci.

 

Gue jalan makin jauh dari kios rokok itu, si kelinci masih ngikutin. Gue mulai senewen. Takut dituduh nyolong kelinci orang. Gue berhenti, dan ngeliat ke arah kios rokok – berharap majikan si kelinci berbuat sesuatu atas perilaku aneh peliharaannya. Ngomong-ngomong, untuk seorang tukang rokok, kenapa sih dia harus melihara kelinci? Kenapa mesti kelinci? Kenapa nggak kucing yang tiap 5 menit lewat 3 ekor?

 

Nggak lama kemudian, harapan gue terkabul. Tukang rokok itu manggil kelincinya.

 

“Whoi, ssst JOKO! Sini! Hei! Joko! Sini!”

 

Kelincinya ternyata bernama Joko.

 

Sebuah nama yang random untuk seekor kelinci. Se-random pengalaman gue diuber kelinci. Banyak pertanyaan di benak gue. Kenapa nama kelinci itu harus Joko? Kenapa si Joko harus nguber gue? Apakah dia tertarik dengan bau ketoprak yang gue bawa? Sejak kapan kelinci doyan ketoprak?

 

Ah sudahlah. Selamat malam semuanya.
%d blogger menyukai ini: