8 Pelajaran dari Si Belek


Buat yang suka ngikutin status FB-nya Ida, pasti tau bahwa Rafi punya kucing yang gue kasih nama Si Belek. Ternyata dari kegiatan sesederhana memelihara kucing, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh Rafi. Berikut 8 di antaranya: (lebih…)

[being nice for dummies] #0015: Hayo siapa yang suka ngibulin kasir?


giving money

Dua hari yang lalu, gue lagi ngantri mau bayar roti saat bapak-bapak di depan gue terlibat pembicaraan dengan mbak kasir. Belanjaan bapak itu 15.000, dia bayar dengan uang 50.000 trus kasirnya bilang, “Maaf Pak, ada uang pasnya?”

(lebih…)

Penampilan Baru…


Dear all,

FYI,

ada yang hari ini mulai latihan berpenampilan baru.

Mohon doa restunya biar bisa konsisten ya…

[being nice for dummies] #0014: mencari kesempatan berbagi


Temen gue yang bernama Gandhi* sejak dulu kala punya kebiasaan unik yang dijalankannya nyaris tanpa absen setiap hari, yaitu bagi-bagi cemilan. Di mejanya hampir selalu tersedia aneka cemilan, mulai dari kacang, crackers, emping, krupuk, dllsb. Sebagian kecil dia makan sendiri, sebagian besar buat dikasih-kasihin ke setiap orang yang mampir di mejanya. Dia terkenal banget dengan kebiasaannya ini, sehingga tiap hari ada aja orang mampir ke mejanya dengan alasan ingin ngobrol namun dengan tampang ingin ngemil. Kalo gue itung-itung, sebenernya lumayan gede juga lho, budget yang harus dikeluarkan Gandhi untuk aksi penyediaan cemilan gratis ini. Gue perhatiin rata-rata dia menyediakan cemilan bernilai sekitar 15 ribu sampe 20 ribu per hari, dikali 20 hari kerja artinya dia bisa mengeluarkan dana sampe 400 ribu per bulan – cuma buat meladeni nafsu ngemil temen-temennya yang nggak tau diri ini.

Perubahan terjadi sekitar 2 bulan yang lalu ketika Gandhi tiba-tiba kena vonis harus diet oleh dokter, karena kadar kolesterol darahnya mengkhawatirkan. Apakah lantas Gandhi berhenti menyediakan cemilan? Ternyata enggak, cuma bentuk cemilannya aja yang berubah. Kalo dulu berkisar pada makanan-makanan kering, sekarang beralih ke buah-buahan. Apel, jeruk, pisang, pir, bergelimpangan di mejanya. Tetep dia sediakan dalam jumlah banyak supaya bisa menjamu para tamu yang mampir, padahal jelas-jelas buah-buahan itu harganya jauh lebih mahal daripada sebungkus kacang atau emping. Gue perkirakan budget jamuan cemilan Gandhi sekarang bisa mencapai 40 ribuan per hari, dikali 20 hari kerja = 800 ribu per bulan!

Pagi tadi, dua orang temen gue muncul di deket meja Gandhi sambil cengar-cengir khas muka-muka orang nyari cemilan.
“Assalamualaikum…. Kang Gandhi punya cemilan apa hari ini…? Kebetulan… kami belum sarapan nih… hehehe…”
“Waduh, maap… maap… tadi belum sempet beli, nggak punya apa-apa nih,” jawab Gandhi dengan tampang menyesal. “Maap sekali ya…!”
“Oh… ya udah deh nggak papa.”
Kedua orang itupun ngeloyor pergi, balik ke mejanya masing-masing.

Gue yang lagi konsen ngetik tadinya nggak terlalu memperhatikan kejadian itu, sampe waktu Gandhi colek-colek, “Gung, kalo mau pesen risol kribo dadakan gini, bisa nggak ya?”
“Oooh kayaknya sih bisa, sekarang hampir tiap hari kita ada stok kok. Bentar ya, saya teleponin ke rumah,” kata gue sambil angkat telepon. Tapi mendadak gue inget sesuatu. “Eh, kok mau pesen risol kribo sih? Udah bosen diet ya? Gimana sih, udah bagus kemarin-kemarin disiplin makan buah, kolesterol turun, sekarang udah mau kumat lagi ngemil gorengan!”
“Bukan… buat itu tuh, anak-anak, kasihan pada lapar belum sarapan…”
“HALAH! Anak-anak itu pake dipikirin! Nggak usah! Kebiasaan tuh Gan, asal mau ngemil maunya tinggal minta ke Gandhi… padahal kan mereka juga punya duit, bisa beli sendiri! Ngapain sih repot-repot?”
“Bukan gitu gung, ini kan kesempatan untuk bersedekah. Mumpung ada orang yang jelas-jelas lapar, minta makanan ke kita, kalo kita bisa ngasih makanan, pahalanya gede Gung… biarpun dia punya duit bisa beli sendiri…”

Kalo denger kata ‘kesempatan’, apa yang terlintas di benak kita? Biasanya sih segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘menerima’:
“Kesempatan memenangkan hadiah….”
“Kesempatan promosi…”
“Kesempatan dapat beasiswa…”

Pernahkah terpikir oleh kita, bahwa kesempatan untuk memberi dan berbagi, juga perlu untuk dicari dan diusahakan?

*pernah muncul sebagai bintang tamu di posting yang ini
foto: Gandhi, di meja kerjanya yang lama, tahun 2007.

belajar dari rafi: banyak senyum, banyak rejeki


rafi dan hamsterSoal kenapa Rafi begitu seneng tersenyum, mungkin emang udah dari ‘sono’-nya ditakdirkan begitu. Bahkan sejak belum becus melek, dia udah rajin tebar pesona ke mana-mana. Dan pada dasarnya, setiap orang senang diajak tersenyum – walaupun cuma dari seorang bayi yang nggak tau apa-apa. Itulah sebabnya berdekatan dengan Rafi kadang melelahkan bapaknya yang males basa-basi ini, karena harus meladeni obrolan spontanitas banyak orang.

Yang masih jadi misteri buat gue adalah: pepatah ‘banyak senyum banyak rejeki’ nampaknya terealisasikan secara optimal pada diri bocah ini, karena boleh dibilang hampir semua keinginannya bisa terkabul – kadang secara misterius!
Nggak percaya?
Kasus pertama, waktu gue ngajak Rafi ke Carrefour dan lewat bagian hewan peliharaan. Rafi tertarik pada kandang hamster, yang waktu itu belum dia ketahui namanya.
“Puss… puss…” katanya.
“Itu bukan pus, itu namanya hamster,” kata gue.
“Pe-tel,” kata Rafi
“Ya… apalah terserah.”
“Bapak, mau petel bapak…”
Berhubung gue juga berminat pelihara hamster, tadinya udah hampir gue beliin. Tapi Ida memveto.
“Males ah pelihara hamster! Repot! Bau, lagi!”
Negosiasi langsung berakhir saat itu juga, tentunya dengan kemenangan di tangan ibunda yang kejam. Tapi seperti yang ditulis Ida di journalnya yang ini, beberapa hari kemudian tau-tau lewat seorang mas-mas yang nggak kami kenal membawa seekor hamster dalam kardus! Menurut pengakuannya, dia udah telanjur beli hamster tapi nggak bisa ngurusnya karena nggak punya kandangnya. Maka dia nyari orang yang berkenan menampung hamster malang itu. Berhubung waktu itu Ida lagi agak telmi, langsung gue sambar tawaran si mas, dan terkabullah keinginan Rafi untuk punya ‘petel’.
Nggak berhenti sampe di situ. Rafi juga suka sekali lihat ikan. Kalo lagi jalan-jalan di seputar rumah, dia suka mampir di rumah salah satu tetangga yang punya aquarium di terasnya. Cuma ngintip doang di pager, sambil manggil-manggil, “Ikaaan… sini ikaann…”.
Ida, seperti biasa nggak kooperatif soal binatang-binatang peliharaan, sehingga bisa ditebak reaksinya adalah, “Ngapain pelihara ikan! Repot!”
Eh, beberapa hari kemudian, sepulang dari jalan-jalan sore bersama mbak pengasuh, Rafi datang menenteng sebuah kantong plastik berisi beberapa ekor ikan! Kata mbak pengasuh, seorang ibu yang nggak dia kenal memanggil Rafi dan memberikan seplastik ikan itu.
Ikannya sih bukan ikan hias yang cantik jelita, cuma beberapa ikan kecil yang sering dipake sebagai umpan Arwana, tapi buat Rafi ikan ya ikan. Dia senang sekali dengan peliharaan barunya itu, yang lagi-lagi didapat dengan cara ‘misterius’.
Di luar hamster dan ikan, masih ada beberapa hal-hal kecil lainnya yang secara ‘kebetulan’  berhasil terkabul hanya selang beberapa saat setelah terucap dari mulut Rafi. Misalnya, waktu lagi main mobil-mobilan di rumah, Rafi bilang, “Bunda, mau mobil lagi kayak ini, bunda….” Eh tau-tau besoknya seorang tantenya datang bawa mobil persis seperti yang diminta Rafi.
Tapi kejadian yang paling ‘ajaib’ menurut gue adalah waktu Rafi dan Ida lagi jalan-jalan di Senayan City. Setelah makan kenyang di sebuah restoran, rupanya Rafi masih ingin ngemil. Dia bilang, “Bunda, mau donat.”
“Iya, abis dari sini kita beli donat ya.”
Nggak sampe 15 menit kemudian, dateng sebuah keluarga yang duduk di sebelah meja Ida dan Rafi. Keluarga ini, terutama si ibu, nampak tertarik memperhatikan Rafi. Eh, tiba-tiba aja dia membuka sebuah kotak dari rangkaian belanjaannya, dan mengeluarkan… donat!
“Adek mau donat?”
Ida langsung speechless ngeliatnya.
Rafi, semoga rejekimu terus lancar sampe besar ya nak… dan mudah-mudahan nantinya nggak lupa mendoakan bapak biar bukunya best seller… 🙂
foto: Rafi dan ‘petel’ ajaibnya

kekuatan besar bernama network


Seorang teman yang nampak jelas masih awam soal per-blog-an mengomentari buku “Ocehan si Mbot…” dengan:

“Ngapain sih lo minta endorsement (sambutan / komentar) dari orang-orang nggak terkenal gini? Kenapa nggak minta dari seleb aja, kan lebih bernilai jual?”

Jawaban gue:
Pertama – justru mereka ini para seleb dunia blog, elunya aja yang kuper nggak pernah buka blog sehingga nggak kenal mereka.

Ke dua – karena mereka adalah para pembaca blog gue sejak awal, hanya mereka yang bisa ngasih gambaran paling tepat tentang isi blog gue. Sedangkan seleb, paling ngasih sambutan basa-basi – “bukunya keren” “lucu” “wajib baca” dan kata-kata standar lainnya, mengingat mereka mungkin masih punya sederet buku lain yang juga minta dikomentari.

Ke tiga – yang paling penting: mereka ngasih dukungan yang luar biasa untuk membantu pemasaran buku ini, seringkali tanpa diminta.

Ninit, misalnya. Sejak bukunya belum terbit udah dengan penuh semangat ngasih teaser lewat posting di blognya. Dan berhubung Ninit punya ratusan pembaca setia yang berlangganan postingnya via RSS feed dan me-link update feednya di blog masing-masing, maka nggak heran kalo hasil pencarian google atas keyword “ocehan si mbot” menemukan lebih dari 4.000 halaman – sebagian besar di antaranya adalah para pelanggan feed Ninit yang melink feednya di sidebar! Yang lebih luar biasa lagi, keyword yang gue pake adalah keyword yang dikurung dengan tanda kutip, artinya yang dicari oleh Google adalah spesifik halaman yang memuat urutan kata2 tsb secara eksak, dan nggak memasukkan halaman yang memuat keyword secara acak / nggak berurutan.

Denny baonk, blogger kambuhan yang jadi penulis pertama review buku si mbot, nge-bom 59 milis yang dia ikuti dengan review yang ditulisnya itu. Nggak cukup sampe di situ, dia juga menawarkan jasa baik untuk membantu mengantarkan buku si mbot ke kantor redaksi koran yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan rumahnya.

Ketika pada suatu hari dia sampe di kantor redaksi koran itu, ternyata pak redakturnya lagi keluar kantor. Karena kuatir kalo dititip di satpam bukunya nggak sampe ke tujuan, Denny memilih untuk bawa pulang bukunya dan datang lagi di lain hari – khusus agar bisa menyerahkan buku gue langsung ke tangan pak redaktur.

Ari sang presiden, tanpa diminta menawari gue untuk on-air promo di radio DFM. Begitu juga dengan Lia, dengan acara proresensinya di RRI Pro2.

Anwar, temen kuliah yang sekarang jadi wartawan, menyediakan diri untuk gue titipi buku. Hasilnya adalah review meda cetak pertama buat buku si mbot, di harian Media Indonesia. Sedangkan kang Tian juga dengan suka rela menuliskan review buku si mbot di situs Gatra.com yang diasuhnya. Hal yang sama juga datang dari Mandey, yang tanpa gue minta malah menawarkan diri untuk memuat review buku si mbot di majalah tempat kerjanya.

Mas Dalyanta Sembiring, awalnya tertarik dengan salah satu posting gue dalam serial ‘being nice’, buntutnya malah gue todong untuk memuat review si mbot di majalah ‘Reader’s Digest’ edisi Januari 2009.

Ari presiden lagi, mendapat tawaran untuk tampil sebagai narasumber dalam talkshow Reader’s Digest di Bookfair. Ari berhalangan hadir, dan dia merekomendasikan gue sebagai penggantinya. Hasilnya adalah talkshow off-air pertama untuk mempromosikan buku si mbot (sekalian buku OGOL juga sih).

Anto, waktu jalan-jalan ke Gramedia Gatot Subroto bersuka rela mindahin tumpukan buku si mbot ke rak ‘best seller’. Sayangnya, mungkin karena ingin buru-buru takut ketahuan petugas, Anto salah taro. Bukannya di rak ‘best seller’, malah ditaro di tumpukan buku-buku diskon! Untung istrinya sadar dan buru-buru mengoreksi, sehingga sekali lagi Anto bisa beraksi memindahkan buku – kali ini betulan ke rak best seller.

Temen2 blogger, yang telah membuat rekor dengan menuliskan 16 review online sebelum bukunya muncul di toko buku. Sampe detik tulisan ini ditulis, total udah ada 39 review (belum termasuk reviews di goodreads.com) – sebuah jumlah yang jauh melebihi harapan gue sebenernya. Juga buat laporan-laporan ketersediaan buku si mbot di berbagai kota, sebagai masukan buat pihak penerbit Gramedia.

Kekuatan marketing seperti ini, nggak akan pernah bisa ditandingi oleh sepotong endorsement dari seleb manapun.

Thanks for the support, guys!

foto: para pembeli pertama buku si mbot, gue copet dari albumya Ira.

[being nice for dummies] #0013: walaupun kantor bukan arisan keluarga


“Kalo gue mau beramah-tamah, gue pergi ke arisan keluarga, bukan ke kantor,” begitulah prinsip salah seorang temen gue. Bentuk nyatanya, dia hampir nggak pernah menunjukkan usaha nyata untuk bersopan-santun di kantor. Kalo disapa nyaris nggak pernah bales, kalo nyuruh nggak pernah pake kata ‘tolong’, kalo anak buah salah main bentak – bahkan gebrak meja.

“Di kantor, yang penting performance. Biarpun lo sopan sama semua orang tapi kerjaan lo nggak becus, tetep aja lo akan dimaki. Tapi biarpun lagak lo tengil kayak setan, tapi kalo kerjaan lo beres, pasti lo disayang boss. Jadi, nggak perlu deh sopan-sopanan di kantor, yang penting buktiin bahwa lo bisa kerja!”

Rasanya ada yang salah dengan prinsip dia, tapi mau nggak mau gue memang harus mengakui – dan sering ngeliat langsung buktinya – bahwa dalam situasi sulit, boss akan memilih si bajingan yang kompeten ketimbang si ramah yang dungu.

Jadi, apakah sopan-santun di kantor itu nggak perlu?

Jawabannya gue temukan dalam peristiwa dua hari belakangan.

Kemarin, Tuti, anggota tim gue (bukan nama betulan – pernah muncul di journal yang ini) menemukan sebuah email aneh di inboxnya. Pengirimnya adalah Jamil (masih nama samaran), karyawan divisi sebelah yang nggak Tuti kenal. Emailnya berisi attachment sebuah file animasi flash, yang menayangkan sebuah ‘pesan cinta’ lengkap dengan slide show foto-foto Tuti dalam berbagai pose!

Animasi berdurasi sekitar 3 menit itu memunculkan aneka pesan basi seperti:
“…aku telah lama merindukanmu, walaupun mungkin tak kau sadari…”
“…maafkan bila selama ini aku mengganggumu dengan telepon tak bersuara – karena aku hanya ingin mendengar suaramu…”
“…sosokmu selalu terbayang di benakku…”
Sebagai latar belakang muncul gambar bunga-bunggan, tokoh kartun, dan puluhan foto Tuti.

Walaupun secara estetis file animasi itu layak diganjar kurungan badan saking noraknya, tapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: dari mana pengirimnya bisa dapet foto-foto Tuti yang cuma tersimpan di harddisknya? Tuti nggak merasa pernah men-share folder penyimpan foto-foto itu, atau mengirimkannya kepada siapapun.

Dari hasil tanya sana-sini, Tuti berhasil mendapatkan nomor ekstension Jamil pengirim file animasi itu. Ketika ditelepon, jawabannya:
“Hehehe… iseng aja kok mbak… itung-itung salam kenal, gitu…”
“Tapi Mas dapet dari mana foto-foto saya?”
“Ah, ya udahlah… nggak usah dipikirin, lupain aja mbak…”

Enak aja main lupain. Kalo foto yang nggak dishare bisa pindah tempat, kemungkinan terbesarnya adalah hacking. Dan kalo si Jamil ini terbukti meng-hack komputer Tuti, artinya dia telah melakukan tindak pembocoran data yang bisa dikenakan SP3 alias pemecatan! Langsung gue suruh Tuti bikin email pengaduan ke pihak IT, yang ikutan gue reply dengan desakan untuk SEGERA menyelesaikan kasus ini. Tapi berhubung kejadiannya udah sore, sampe waktunya pulang belum ada respon dari pihak IT.

Tadi pagi, Tuti heboh lagi. Awalnya dia curiga karena setting tampilan inbox emailnya agak berubah. Setelah dia teliti lebih lanjut, ternyata semua email yang berkaitan dengan Jamil udah lenyap! Artinya kemungkinan besar si Jamil sekali lagi menerobos komputer Tuti dan mengacak-acak file di dalamnya. Kali ini bukan sekedar mengcopy, tapi udah bertindak lebih jauh dengan mendelete email. Bener-bener sindroma hacker baru belajar kemarin sore, sorenya pun udah ba’da Isya. Dan parahnya, kondisi ini komplikasi dengan puber dadakan dengan waktu, tempat, dan orang yang salah.

Tuti langsung kirim email ke Mas Toro (juga bukan nama betulan), bossnya si Jamil. Email itu di-CC juga ke pihak IT, ke gue, dan tak ketinggalan “The Prince Charming” himself Jamil. Isinya kronologis kejadian sejak kemarin dan protes keras atas tingkah norak Jamil. Mas Toro langsung angkat telepon menghubungi Tuti, terkaget-kaget atas ulah anak buahnya, dengan perasaan campur aduk antara marah dan malu. Setelah diselidiki ternyata emang udah lama si Jamil ini jadi ‘secret admirer’-nya Tuti. Kalo kebetulan ketemu di lift girangnya setengah mati, padahal Tuti bahkan nggak tau orangnya yang mana.

“Mbak Tuti, saya sebagai atasan Jamil mohon maaf sebesar-besarnya, dan saya mohon dengan sangat urusan ini kita selesaikan secara internal saja – jangan dibawa ke pihak IT…” kata Mas Toro. Berhubung tadi pagi gue lagi nggak di kantor, pesan yang sama juga dikirimkan ke gue via email.

Gue sendiri sebenernya gemes banget liat ulah hacker cap kutu kupret kaya si Jamil ini, dan berpendapat bahwa selembar SP3 akan lucu juga kaleee, tapi… Mas Toro jadi pertimbangan lain buat gue. Selama ini hubungan gue dengan Mas Toro dan timnya selalu baik, kalo ada perlu selalu disampaikan dengan tata cara yang penuh tata krama, dan pada dasarnya dia adalah atasan yang baik. Kebetulan aja lagi apes dapet anak buah dodol kaya si Jamil. Dan kalo si Jamil sampe kena SP3, Mas Toro sebagai atasan juga akan ikutan repot. Bisa dalam bentuk dipertanyakan tingkat pengawasannya atas perilaku bawahan, atau bahkan dianggap gagal menjalankan kepemimpinan.

Dengan pertimbangan itulah akhirnya gue menyetujui permintaan Mas Toro. Maka gue akhirnya belajar tentang pentingnya sopan-santun di kantor: Attitude won’t take you to the highest place, but it might save you from the deepest shit.

Dan tentang Jamil? Gue bersimpati kepada istri dan ketiga anaknya yang setiap hari menunggu penuh harap di rumah.

Gambar gue pinjem dari sini

[being nice for dummies] #0012: kejutan istimewa dari Planet Sports


Kalo lo mau beli sepatu di toko, dan sepatu yang lo pilih nggak tersedia ukurannya, apa yang biasanya dilakukan penjaga tokonya?

Kalo dia sekedar bilang, “Maaf, ukurannya nggak ada” mungkin lo akan maklum.

Kalo dia bilang “Maaf, ukurannya nggak ada. Berminat dengan model yang ini, barangkali?” lo mungkin akan sedikit terkesan dengan upaya si penjaga toko untuk membantu.

Tapi yang gue dan Ida alami kemarin bener-bener jauh melebihi ekspektasi kami atas pelayanan toko sepatu manapun yang pernah kami kunjungi.

Ceritanya, kemarin gue dan Ida jalan-jalan ke Grand Indonesia, refreshing dikit mumpung dapur kotakkue.com lagi libur. Niat awalnya sih cuma mau cuci mata, tapi akhirnya jadi ngiler waktu liat tulisan “discount” tergantung-gantung di toko Planet Sports. Ida lantas inget pernah ngincer sepatu merk Skechers beberapa waktu yang lalu. Kamipun mampir.

Pilih punya pilih, Ida akhirnya naksir sepasang sepatu tipe casual, dan minta dibawain nomor 37 kepada Mbak Pramuniaga. Si Mbak Pramuniaga yang belakangan kami tau bernama Mbak Dhayu kemudian membawakan – bukan cuma satu – tapi 3 (tiga) kotak sepatu bernomor 37 berlainan model. Maksudnya, biar pembeli bisa lebih leluasa milih sepatu yang dirasa paling cocok. Di sini Ida udah mulai terkesan dengan semangat proaktif Mbak Dhayu.

Dari ketiga model yang disodorkan, Ida memilih sepatu warna krem bermotif bunga-bunga kecil. Tapi… “Lho, mbak, ini kok ada noda di ujungnya, ada yang masih baru nggak?” tanya Ida.

“Wah sayangnya model ini tinggal satu-satunya… Sebentar ya Bu, saya coba bersihin dulu di belakang,” katanya. Abis ngomong gitu dia pergi ke belakang menenteng sepatu pilihan Ida. Beberapa menit kemudian dia balik dengan tampang menyesal, “Bu, saya udah coba bersihin, tapi nodanya nggak mau hilang…maaf ya Bu… Ibu mau model lainnya?”

“Nggak mau, maunya yang itu aja… di toko lain ada nggak?”

“Sebentar ya Bu, saya coba telepon ke toko kami yang lain di Plaza Indonesia ya, siapa tau mereka masih punya stok sepatu ini.” Mbak Dhayu mencoba menelepon, tapi ternyata di cabang sana sepatu itu juga udah nggak tersedia.

“Ibu, mohon maaf sekali… ternyata di cabang lainnya juga nggak ada…” kata Mbak Dhayu.

“Yaaah….”sepatu skechers

“Iya, sayang sekali ya Bu…”

“Tapi… hmmm… ya udah deh kalo gitu, saya beli yang ini aja,” kata Ida.

Mbak Dhayu yang lagi sibuk membereskan kotak-kotak sepatu ternganga kaget. “Hah? Ibu mau? Tapi kan… sepatunya kotor gini, Bu… nggak papa?”

“Nggak papa deh, abis saya maunya yang ini. Lagian nodanya juga nggak terlalu keliatan kok.”

“Mohon maaf sekali ya bu, soalnya ini tinggal satu-satunya…”

“Iya, nggak papa,” kata Ida.

Di titik ini gue udah amat sangat terkesan dengan kesungguhan Mbak Dhayu melayani pembeli. Dia udah berusaha ngebersihin noda, nyariin ke toko lain, dan nampak bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik buat pembeli. Gue bisik-bisik ke Ida, “Luar biasa nih servisnya, oke banget… kasih tip gih…”

Ida juga terkesan banget, tapi dia ngerasa sungkan dan serba salah untuk ngasih tip. “Gimana ngasihnya, ntar diliat temen-temennya malah nggak enak lho..”

“Ya udah ntar abis bayar kita belaga liat-liat sepatu lainnya, nunggu sepi trus kasih tip ke dia… kan bisa.”

Tapi ternyata waktu mau bayar di kasir, kejutan lainnya menanti.

Kasirnya bilang, “Ibu, ini Dhayu merasa bersalah sekali karena sepatu yang ibu beli ada cacatnya, oleh karena itu ibu mendapat discount khusus sebesar sekian persen, yang diambil dari jatah discount karyawan milik Dhayu…”

Jadi rupanya para pegawai toko Planet Sports punya jatah discount khusus untuk karyawan. Setau gue, discount ini hanya bisa digunakan secara terbatas. Wajar aja kalo dibatasi, sebab kalo nggak ntar para pegawainya pada rame-rame jual sepatu di rumahnya masing-masing, kan? Toh dengan fasilitas discount yang sebenarnya terbatas itu, Mbak Dhayu merelakannya untuk digunakan oleh pembeli, yang bukan siapa-siapanya, bukan saudara, bukan temen, hanya karena dia mau memberikan pelayanan terbaik! Dan fakta bahwa ada noda nempel di sepatu itu kan sama sekali bukan kesalahan dia, lho. Orang dia bawa sepatu dari gudang, masih dalam kotak, tau-tau setelah dibuka ada nodanya. Gue dan Ida sampe speechless mendapat pelayanan seperti itu.

“Mbak, nggak usah begitu, istri saya juga nggak keberatan kok dengan noda itu, toh nggak terlalu kelihatan juga. Ntar kalo Mbak sendiri mau beli sepatu di sini gimana dong, jatah discountnya udah kita pake?”

“Nggak papa Pak, soalnya saya nggak enak banget, sepatu yang Ibu beli ada cacatnya…”

Seumur-umur belum pernah gue nemuin tingkat pelayanan setinggi ini di toko sepatu manapun. Yang lebih luar biasa lagi, ini dilakukan atas inisiatif seorang pegawai biasa, bukan supervisor apalagi owner.

Pulang dari toko itu, gue dan Ida nggak bisa berhenti ngomongin soal betapa luar biasanya pelayanan yang diberikan Mbak Dhayu. “Kalo begini urusannya, mending dibuatin kue aja deh, DCC Special! Besok pagi kita ke sini lagi ya suami, anterin kue!”

***

double chocolate cake kotakkue.comTadi pagi, gue, Ida dan Eriq yang seperti biasa selalu ngintil kemanapun kami pergi, dateng lagi ke Grand Indonesia dengan membawa sekotak DCC Special buat Mbak Dhayu. Di toko yang masih sepi pengunjung itu kami bertiga berbaris masuk. Kotak kue di tangan Ida, kamera siap di tangan gue dan Eriq. Kami langsung menemukan Mbak Dhayu lagi bertugas di bagian sepatu wanita.

Ida langsung menyodorkan kue sambil bilang, “Mbak Dhayu, saya sangat terkesan dengan bantuan Mbak Dhayu kemarin… jadi, ini saya bawakan kue untuk Mbak, terima kasih ya Mbak…”

Sekarang giliran Mbak Dhayu yang speechless. “Waduh ibu, nggak papa bu, itu kan barangnya udah reject sekali… saya… juga terkesan sekali ini…dapat kue begini…”

Eriq langsung mulai beraksi menjepretkan kamera, tapi karena umumnya di dalam toko kita nggak bisa seenaknya motret, maka buru-buru gue ajak Mbak Dhayu untuk berfoto bareng di depan toko. Jepret-jepret-jepret… beres, dan sebelum dia sepenuhnya sadar apa yang telah terjadi, kami langsung pamit pulang 🙂

ida dan kue ida menyerahkan kue ke dhayu ida dan dhayu

***

Buat para boss di PT.Mitra Adi Perkasa, pemilik jaringan Planet Sports, gue berharap ada apreasiasi lebih buat orang-orang seperti Mbak Dhayu. Dia membuktikan bahwa apapun pekerjaan kita, kalo dikerjakan dengan sepenuh hati dan nggak males berbuat lebih, maka efeknya juga akan sangat
luar biasa. Saat memberikan pelayanan ke Ida, gue yakin Mbak Dhayu nggak akan menyangka perbuatannya akan diketahui oleh ratusan orang lewat tulisan ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi rekan-rekannya di Planet Sports, atau para pekerja di manapun, untuk nggak tanggung-tanggung saat bekerja. Lucunya, saat kita main ‘hitung-hitungan’ di pekerjaan, maka yang kita terima biasanya jauh di bawah hitungan. Tapi sebaliknya, saat kita berhenti berhitung dan rela berbuat lebih, biasanya yang kita dapet malah jauh melebihi harapan!

Semoga Mbak Dhayu makin sukses, dan buat kalian yang berencana beli sepatu dalam waktu dekat, gue rekomendasikan beli di Planet Sports Grand Indonesia dan jangan lupa cari Mbak Dhayu ya!

**posting ini juga gue kirimkan ke beberapa alamat e-mail yang gue temukan di situs PT. Mitra Adi Perkasa. Mudah-mudahan ada respon positif dari para boss di sana untuk Mbak Dhayu.

***Buat yang gemar copy-paste, untuk posting yang satu ini gue merelakan kalian meng-copy-paste sepuasnya, sekalipun nggak disebut sumbernya juga nggak papa.Silakan sebar luaskan cerita ini, gue ikhlasin deh 🙂

[being nice for dummies] #0011: solusi terbaik buat kebohongan


Punya embel-embel ‘psikolog’ di belakang nama berarti harus siap dengan konsekuensi jadi ember curhat orang-orang di sekitar. Topik favorit: percintaan. Abis, apa lagi? Topik ‘keuangan’ jelas nggak masuk daftar keahlian gue… hehehe…

‘Psikolog’ tentunya cuma gelar, dan bukan jaminan bakal punya solusi buat semua masalah. Untungnya gue punya banyak temen yang mau berbagi pengalaman pribadi sebagai referensi.

Salah satu referensi yang baru-baru ini gue dapet adalah pengalaman ‘Bunga‘ (tentunya bukan nama sebenernya) yang cerita soal pengalamannya menyelesaikan sebuah cinta segi tiga. Solusi yang dia pilih, menurut gue, butuh sesuatu yang belum tentu semua orang punya.

Berikut gue tulis ulang penuturan langsung dari Bunga:

Aku dulu pernah pacaran lamaaa… banget dengan seorang cowok, sebutlah namanya Steven. Aku dan Steven sebenernya saling cocok, tapi sayang kami beda agama. Kami sama-sama tau, masa depan kami suram, tapi untuk pisah rasanya berat.

Pada suatu waktu, aku kenalan dengan cowok lain, katakanlah bernama Rudi. Perhatian Rudi ternyata nggak kalah besar dari Steven, ditambah satu faktor penting: dia seiman dengan aku. Nggak lama kemudian kami jadian. Kedua cowok itu nggak saling kenal, dan nggak tau kalo aku diam-diam menduakan mereka.

Dua tahun aku jalani hubungan rahasia dengan Steven dan Rudi, sampe pada suatu titik aku merasa kondisinya nggak bisa begini terus-terusan. Sebenernya aku takut kehilangan Steven maupun Rudi, tapi aku merasa hubungan ini nggak adil buat mereka berdua. Aku harus mengakhirinya segera.

Pada suatu hari, sengaja aku undang Steven dan Rudi ke rumahku pada jam yang sama. Sengaja aku biarin mereka ketemu di teras, saling kenalan dan ngobrol lumayan lama. Aku sendiri masih di dalam, berusaha menguatkan diri untuk menjalankan rencanaku.

Setelah merasa cukup kuat, aku keluar menemui mereka. Tanpa basa-basi, aku ngomong,

“Steven, kenalin, ini Rudi. Selama dua tahun terakhir, aku jadian sama dia tanpa sepengetahuan kamu. Rudi, kenalin, ini Steven. Sebelum kita kenal, aku udah jadian sama dia beberapa tahun, sampai sekarang. Aku nggak berani bilang bahwa aku udah punya Steven, karena aku takut kehilangan kamu. Begitu juga dengan kamu, Steven, aku nggak berani bilang bahwa aku sekarang juga punya Rudi, karena aku nggak mau kehilangan kamu.

Aku tahu, perbuatanku salah, makanya aku mau mengakhiri sekarang. Aku mohon maaf sama kalian… aku sayang sama kalian berdua, aku juga merasa kalian sayang sama aku… tapi aku nggak berhak menerima cinta kalian berdua seperti ini… aku pasrah, aku rela kalau kalian berdua mau ninggalin aku sekarang. Aku nggak pantas kalian cintai…”

Habis ngomong gitu, aku cuma nangis, sementara mereka berdua shock. Aku ngerti, mereka pasti marah besar sama aku. Aku udah pasrah, aku nggak berhak mempermainkan mereka. Kalo mereka mau ninggalin aku, aku terima – walau berat. Yang jelas, setelah ngomong terus terang, aku ngerasa lega banget.

Dengan berapi-api, Steven mengekspresikan kemarahan dan kekecewaannya. Habis itu dia pergi, dan bersumpah nggak mau ketemu aku lagi. Sementara Rudi tetap tinggal, dan akhirnya ngomong,

“Bunga, perbuatan kamu memang salah. Aku ngerti alasan kamu melakukan ini karena takut kehilangan kami, tapi tetep aja itu salah. Tapi aku menghargai kejujuran kamu, dan aku masih sayang sama kamu. Kalo kamu mau janji nggak akan ngulangin perbuatan kaya gini lagi, aku masih mau kita sama-sama terus… aku nggak akan ninggalin kamu…”

Akhirnya, aku nerusin pacaran sama Rudi, dan beberapa tahun kemudian kami menikah. Sekarang Rudi udah jadi suamiku.

Seandainya cerita Bunga ini pertunjukan teater, gue serasa mau ngasih standing ovation.

Saat orang-orang lain memilih jalan ‘damai’ (baca: diam-diam) untuk menyelesaikan hubungan segi tiga, Bunga justru memilih untuk berterus terang – dengan resiko kehilangan dua-duanya.
Tapi Bunga yakin, sebuah kebohongan nggak akan mungkin diselesaikan dengan kebohongan lain . Solusi terbaik adalah kejujuran – dan kadang untuk bersikap jujur butuh nyali yang besar. Salute, you’ve got the guts, girl!

Sekedar referensi, buat kalian yang mungkin punya masalah serupa…

Foto gue pinjem dari worth1000

membangun lingkaran rejeki pak supir


[sequel posting yang ini]

Hari ini gue tugas di luar kantor lagi. Berangkat pagi bareng-bareng temen gue dari kantor, dan alhamdulillah… supirnya bukan Kasirun.

Pak supir yang kali ini mengantar gue, sebut aja namanya Pak Wakidi (bukan nama sebenarnya juga). Di perjalanan pulang menuju kantor, gue cuma berdua aja sama dia sehingga bisa ngobrol2 banyak.

Beda banget dengan Pak Kasirun, Pak Wakidi ini murah senyum dan punya banyak bahan obrolan. apalagi dia udah lebih dari 10 tahun gabung di kantor gue.

“Saya kenal pak anu, pak anu dan pak anu sejak jaman mereka masih jadi staff marketing di cabang. Wah, sekarang udah pada jadi boss!” katanya.
“Wah Pak Wakidi banyak juga nih kenalannya. Trus gimana, sekarang masih suka nganter mereka pergi nggak?”
“Enggak, soalnya udah pada jadi boss jadi nggak pake mobil operasional lagi – udah dapet jatah mobil masing-masing. Tapi kemarin dulu saya ketemu pak anu di peresmian cabang, eh dia masih inget lho sama saya! Katanya, ‘wah, ini kawan lama ketemu lagi’. Trus tau-tau aja saya dikasih cepek (=seratus ribu). Lumayaaan… Boss-boss itu kalo ketemu saya pada baik-baik pak, ngasih duitnya gede-gede banget.”

Abis itu gue teringat Pak Kasirun yang marah-marah dan menolak nganter penumpang sampe ke rumah dengan alasan udah malem dan besokannya harus tugas pagi.
“Eh, Pak Wakidi kalo tugas malem, biasanya sampe jam berapa?”
“Ya nggak tentu, pernah sampe jam 2 pagi.”
“Trus penumpangnya ada yang minta anter pulang sampe rumah nggak pak?”
“Kalo udah malem banget gitu, dan penumpangnya cewek, biasanya minta anter sampe rumah.”
“Trus? Dianterin nggak?”
“Ya dianterin aja, kan kasihan cewek pulang malem sendirian. Biasanya nanti saya suka dikasih (uang) juga. Katanya daripada naik taksi belum terjamin keamanannya, mending dianter sama saya. Uang taksinya dikasih ke saya.”
“Trus kalo baru pulang jam 2 pagi gitu, Pak Wakidi pulang ke rumah atau enggak? kan besok paginya harus nganter orang lagi.”
“Ya pulang pak. Mobilnya saya bawa pulang aja sekalian ke rumah.”
“Loh, emangnya boleh pak, bawa mobil ke rumah? Bukannya mobil harus pulang kandang ke kantor?”
“Harusnya sih gitu. Tapi daripada mobil saya pulangin ke kantor, trus dari kantor saya pulang ke Bekasi naik motor, trus di jalan saya kenapa-napa, kan malah tambah repot pak. Besok paginya penumpang nggak ada yang nganter. Jadi ya saya minta pengertian aja sama RTK. Mereka kan bisa diajak ngomong baik-baik, kalo kondisinya kaya gitu juga mereka ngerti pak. Beres kan? Saya sih kalo bisa dibawa gampang ya cari yang gampangnya ajalah, hidup kok nyari repot.”

Menarik sekali…

Same office
Same job
+
Different approach and attitude
=
Different result
 

buat sirtub: ini bukan posting by email, tapi gue lagi buru2 jadi nggak sempet naro gambar

[being nice for dummies] #0010: surprisingly gentleman


Di kalangan temen-temen sekantornya, Alfian (nama fiktif tapi orangnya betulan) bukan sosok yang terlalu ‘populer’.

Kalo ditanya kenapa, mungkin setiap orang bisa mengajukan alasan yang berbeda. Ada yang sebel sama kebiasaannya nyetel lagu dangdut techno dengan volume pol di jam kerja. Ada yang nuduh dia haus pengakuan karena kalo lagi teleponan sama boss / orang penting lainnya suaranya bisa kedengeran sampe ke ujung ruangan. Ada yang diam-diam dongkol karena tanpa rasa sungkan setitikpun Alfian sering membanggakan prestasi kerjanya. Ada yang merasa dia gabungan dari semua atribut tersebut di atas karena karena kalo baca e-mail suka tiba-tiba teriak, “Holy Sh!t – mother F***ER!! Masa achievement gue yang tertinggi lagi di periode ini. KE MANA AJA YANG LAINNYA NIH, TIDUR??!!” – tentunya setelah mengecilkan sedikit volume dangdut technonya – untuk memastikan agar semua orang denger.

Tapi ternyata, di mata Indri (juga nama fiktif) Alfian adalah sosok yang berbeda.

Semuanya berawal waktu Indri dan timnya, termasuk Alfian, disuruh lembur oleh boss karena ada tugas urgent yang harus selesai malam itu juga. Satu tim kerja mati-matian, tapi sayangnya kerjaan baru selesai menjelang jam 12 malam.

Dasar sial si Indri, dia kebagian tugas merekap semua hasil kerja timnya, sehingga saat satu per satu rekan-rekan satu timnya beranjak pulang, dia malah baru mulai ribet di depan komputer. Yang tersisa cuma Alfian, nampak asik mendengarkan lagu-lagu dangdut techno kesukaannya.

Heran karena ngeliat Alfian masih terus bercokol, akhirnya Indri nanya, “Alfian, kok nggak pulang-pulang sih? Bagian lo kan udah beres?”
Indri surprise mendengar jawaban Alfian – yang diucapkan dengan nada kerasnya yang mirip orang membentak, “Ya nungguin elu selesai, lah! Ngapain lagi?”

Ternyata bukan cuma nungguin, tapi Alfian mengantar Indri sampai ke depan pagar rumahnya.
Padahal Indri udah menolak dengan, “Nggak usah sampe depan pager, gue turun di depan gang aja…”
“Kalo jam segini gue nganterin anak orang pulang, gue harus pastiin dia aman sampe rumah – sebab kalo ada apa-apa ntar gue yang harus tanggung jawab sama orang tuanya!”

Mengenang kejadian itu, Indri lantas mengambil sikap, “Sejak itu, kalo ada orang ngejelek-jelekin dia, gue nggak pernah ikutan nimbrung – karena di balik penampilannya yang ‘kayak begitu itulah’ ternyata dia berhati baik dan menghargai wanita.”


note:

buat yang berprasangka bahwa Alfian berbaik hati kepada Indri karena ‘ada maunya’, sampe hari ini mereka tetep temen biasa aja – malah udah jarang berinteraksi karena udah beda lokasi kerja. Alfian sendiri udah berkeluarga, punya anak istri dan umurnya terpaut cukup jauh dengan Indri.

gambar gue impor dari picturequest.com

Miracle Delivery (4/4) “ibu sudah siap?”


< < sebelumnya

17.00

Bukaannya melaju terus hingga lewat dari jam 17.00 udah mencapai bukaan 9. Dokter udah dihubungi, juga para mertua. Sekitar jam 17.20, Ida mulai didorong ke ruang bersalin. Ini pertama kali gue masuk ruang bersalin, dan gue nggak nyangka ruangannya sesempit ini. Di sudut ada sepasang tabung kaca raksasa – alat vacuum untuk membantu kalo bayinya mendadak macet di tengah jalan. Mudah-mudahan nggak perlu make benda itu, pikir gue dalam hati.

Ida makin rewel, “Dokternya mana suster, kok nggak dateng-dateng, sakit sekali ini…”
“Tenang Ibu, dokternya lagi di jalan, kan rumahnya dekat… sebentar lagi juga sampai. Tapi kita ini bukan nunggu dokter lho bu… kita nunggu bukaannya sempurna sampai bukaan 10. Kalaupun bukaannya sudah sempurna sebelum dokternya datang, ya kita semua di sini punya kualifikasi bidan untuk membantu kelahiran. Jadi ibu nggak perlu kuatir, ya…”

Excellent answer, bener-bener menenangkan perasaan. Buat para ibu yang masih bingung mau melahirkan di mana, gue highly recommend RS YPK deh.

Menjelang jam 17.30 ibunya Ida dateng dari hotel, ikutan masuk ke ruang bersalin untuk nengok anaknya.
“Mama… sini aja..” kata Ida.

Para suster saling berpandangan, rada sungkan untuk mengusir, tapi apa boleh buat.
“Maaf ibu, yang nungguin di dalam satu saja, sebab ruangannya sempit. Mau ditunggui ibunya atau suaminya?”

Sekarang giliran ibunya Ida yang liat-liatan sama gue. Nampaknya beliau belum siap mental untuk ikutan nonton proses kelahiran, sehingga akhirnya gue mengambil inisiatif, “Saya aja yang di dalam suster.”
Ibunya Ida segera menimpali dengan nada lega, “Iya suster, saya nunggu di luar aja deh.”

Beberapa menit kemudian, para suster yang berjaga dalam ruangan tiba-tiba berteriak, “Bukaannya udah sempurna ini! Ayo kita mulai aja.” Pas saat itu HP bunyi. Dari Bayu.

“Wah, Bay, sori banget ya gue belum bisa keluar sekarang, soalnya… ini udah di ruang bersalin. Bayinya udah mau keluar. Sori ya, tolong doain ya!” Nggak nyangka ternyata anak gue cinta banget sama Oom Bayu, lahirnya nunggu Oom Bayu dateng dulu. Sementara itu, dokternya belum juga dateng.

Para suster nampak udah mantap bersiap-siap, tiba-tiba jreng… datanglah sang dokter.

“Tahan… tahan dulu ya, dokternya udah datang,”

Dokter make baju operasi dan sarung tangan karet, lalu mengambil alih komando.

“Oke ibu, sekarang semuanya tergantung ibu ya, ini akan sepenuhnya mengandalkan tenaga ibu. Masih ingat senam hamilnya kan? Yak, kalau sudah siap ikuti aba-aba saya untuk mendorong ya bu…”

Nah, di titik inilah keyakinan gue dari tadi pagi sedikit-sedikit mulai luntur. Maksud gue, seluruh proses kehamilan Ida dari hari pertama hingga hari ini berjalan relatif tanpa gangguan. Memang bulan lalu sempet ada kontraksi dini, tapi bisa diatasi tanpa ada kebocoran air ketuban. Selama Ida hampir nggak pernah sakit, nggak pernah jatuh. Hari ini juga semuanya berjalan sesuai rencana dan prosesnya bisa dikontrol. Tapi justru di detik-detik menjelang kelahiran keadaan bisa berbalik 180o.

Sekarang gue ngerti kenapa banyak cerita tragis seputar proses kelahiran justru di detik2 terakhirnya: karena semuanya tergantung pada kekuatan si ibu. Sekalipun semuanya normal, dalam arti bayi nggak sungsang, bukaan sempurna dan jalan lahir memadai, kalo ibunya tiba-tiba kehabisan tenaga saat proses kelahiran akibatnya bisa fatal. Yang paling berbahaya adalah ketika bayi udah separuh jalan keluar, tiba-tiba ibunya nggak mampu lagi mendorong – bayi bisa kejepit di tengah-tengah, dan resikonya bisa aneka ragam mulai dari kelainan saraf hingga kematian karena nggak bisa nafas.

“Siap ibu? Yak dorong…!”

Ida mencoba mendorong tapi belum berhasil. Gue sibuk mengabadikan pake digicam. Huh, untung memory cardnya udah gue kosongin.

Rupanya patokan untuk mendorong keluarnya bayi adalah kontraksi di perut ibunya. Jadi para suster yang membantu selalu nanya “sakitnya masih nggak? Kalo sakitnya hilang berhenti dulu” Saat istirahat itu dipake untuk mengambil nafas dan menyusun tenaga sambil menunggu gelombang kontraksi berikutnya datang. Dan di saat bukaan udah sempurna begini, jeda waktu istirahatnya nggak akan terlalu lama – oleh karena itu managemen energi bener-bener penting dalam proses ini.

“Sudah terasa sakit lagi ibu? Oke, ayo dorong lagi. Nggak papa bu, tendang aja saya,” kata dokternya mempersilakan Ida menggunakan badannya sebagai pijakan kaki. Satu lagi hikmah yang gue temukan: untung dokternya gede dan kekar – Mayor Angkatan Darat pula. Coba kalo kurus kecil dan cungkring, bisa mental kali menahan tekanan segitu besarnya. FYI, tekanan mengejan pada saat melahirkan sedemikian besarnya sehingga para ibu dilarang untuk menutup mata (karena pembuluh darah mata bisa pecah), menggembungkan pipi (karena pembuluh darah pipi bisa pecah), maupun mengatupkan rahang (karena lehernya bisa jadi menggembung seperti kodok bangkong).

Beberapa kali Ida mencoba mendorong tanpa hasil sampe akhirnya… nah tuh, apaan tuh bulet-bulet berlendir nongol… eh ternyata kepala anak gue!

Memang luar biasa design Sang Pencipta bayi karena ternyata kepala bayi yang baru lahir itu sama sekali nggak terlihat seperti tulang. Di tangan dokter yang menyambutnya, kepala anak gue nampak lembek dan berdenyut seperti balon berisi air. Rupanya tulang tengkorak kita yang sekarang keras ini, dulunya lembek dan elastis supaya gampang melewati jalan lahir. Rupanya ini juga sebabnya kenapa para bayi yang lahir dengan divacuum kepalanya jadi memanjang, karena saat lahir tulangnya masih sangat lunak. Yah pikir2 tulang manapun kalo direndem air selama 9 bulan bisa jadi empuk juga kali nggak?

Saat kepala bayi udah keluar, dokter berhenti sebentar untuk melepaskan lilitan tali pusar di leher. Selama ini hasil USG menunjukkan adanya tali pusar melintang di leher, tapi nggak bisa memastikan apakah posisinya hanya sekedar numpang lewat atau betulan melilit seperti laso. Ternyata memang melilit. Kalo kata orang Jawa sih, bayi-bayi yang lahir dengan terlilit tali pusar nanti setelah besar akan pantes pake baju apa aja. Gue sih nggak terlalu setuju ya, secara ada beberapa orang yang gue tau lahir terlilit tali pusar suka aneh juga dandanannya.

Setelah lilitan tali pusar berhasil dilepaskan, proses kelahiran berlangsung lancar. Dalam beberapa menit aja seluruh badan bayi udah keluar sempurna. Sama sekali nggak kaya di film-film di mana bayi-bayi yang baru dilahirkan langsung bisa nangis kenceng, anak gue cuma teronggok tak berdaya di atas meja – keriput berlumuran lendir dan darah. Suster mengorek-ngorek mulutnya untuk mengeluarkan sisa lendir, lantas dipindahkan ke meja sebelah untuk dilap dan ditimbang. Baru setelah itu kedengeran tangisnya, itu juga dengan suara yang seperti tertahan. Keliatannya masih banyak lendir di saluran pernafasannya.

Waktu itu jam tangan menunjukkan angka 17.55. Waktu ini yang dipake sebagai catatan resmi waktu kelahiran bayi gue.

Aneh. Tiba-tiba aja hari ini gue udah jadi seorang bapak.

Epilog

Bayu dan Ade tercatat sebagai MPers pertama yang menyaksikan kehadiran anak gue ke dunia. Bayu malah mengabadikan proses gue mengadzani si bayi – sementara gue sendiri nggak kepikiran. Sedangkan Ai, sesama ibu guru di tempat ngajar Ida, ikutan jadi orang pertama yang nengok karena ‘kebetulan’ lagi lewat di deket RS. Malemnya, seluruh keluarga gue, minus ibu yang masih terikat di kursi roda dan kakak gue yang tinggal di Makassar, berbondong-bondong dateng ke RS. Lagi-lagi
‘kebetulan’, hari itu adalah ulang tahun kakak gue yang tertua, jadi semuanya lagi pada ngumpul di rumah. Seperti udah diatur dalam skenario maha besar, kelahirannya disambut oleh banyak orang.

Menjelang tengah malam, setelah semua tamu pulang, gue pulang sebentar untuk ngambil baju di rumah.

I looked up to the sky, and there it is… the full moon. My favourite celestial object is also coming to witness the birth of my son.

Nadiv Rafi Nugroho.

Terima kasih…

…buat para MPers yang udah repot-repot meluangkan waktu untuk kirim SMS, PM, nelepon, dan menengok, terima kasih banyak ya.

Posting-posting yang berkaitan dengan kelahiran bayi kami antara lain bisa diklik di:

(update: sayangnya album-album berikut ini udah broken link semua akibat tutupnya multiply)

  • Kangbayu’s journal: Welcome Rafi! (Agung & Ida’s)
  • Kangbayu’s photo album: Anggota baru keluarga Agung & Ida
  • Kangbayu’s video: Rafi: Sesaat setelah lahir
  • Kangbayu’s video: Rafi: Sesaat setelah lahir part.2
  • Tianarief’s journal: [kabar gembira] Baby Boy!
  • Menhariq’s photo album: Hello Rafi.. (mbot jr.) ^_^
  • Rauffy aka Alan’s photo album: Welcome to the world, Rafi
  • Trizyalempicka aka Tria aka Idunk’s journal: Agung’s Baby Boy
  • Prajuritkecil aka Ira’s photo album: Rafi-nya Ida dan Agung: NNaaaah… ini baru bayiiii…. 🙂
  • Ciput’s photo album: [Kopdar] Bezoek Mbot Jr. Tapi Teuteup Kendid & Narsis
  • Ciput’s photo album: [Anak] Pelajaran Jahil #1 Dito U/ ‘Adik’ Barunya
  • Nicelovelydentist aka Alya’s journal: Hari hari sebelum cuti 4 hari
  • Windageulis‘ photo album: Nadif Rafi Nugroho
  • Windageulis‘ photo album: Dede Rafi Digangguin Tante Diah

eh kalo ada yang kelewat mohon dikoreksi ya… maklum gue postingnya udah telat banget sih, huhuhu… kebiasaan buruk menunda pekerjaan :-p

Thanks again, guys. You’re the best!

Miracle Delivery (3/4) Ayah macam apa yang mondar-mandir di lorong?


<<sebelumnya

12.00
Orang tua Ida datang dari Bandung, diantar adiknya Ida (Novel). Lagi-lagi dilatarbelakangi sebuah peristiwa ‘kebetulan’. Weekend itu, sebenernya si Novel yang sekarang kerja di Jakarta nggak berencana pulang ke Bandung. Tapi karena mendengar ada promosi travel Cititrans “beli tiket one-way dapat tiket pp” maka Jumat malam berangkatlah dia ke Bandung. Eh… ternyata kepulangannya itu seperti disiapkan untuk mengantar kedua orangtua Ida berangkat ke Jakarta!

Yah namanya orang tua, ngeliat anaknya merintih-rintih gitu malah jadi ikutan bercucuran air mata. Merasa ditangisi, Ida jadi ikutan cengeng deh. Berantakan sudah semua upaya hiburan gue dari tadi, termasuk dongeng “kanguru dan buah nenas”.

Soal sakit menjelang melahirkan ini emang serba salah sih. Progres bukaan jalan lahir memang sakit, jadi sakit adalah baik – dalam arti prosesnya berjalan lancar. Tapi sakit kan juga nggak enak, dan nggak ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk meringankannya, maksud gue dibius, misalnya. Bius malah akan mematikan kontraksi otot yang mendorong bukaan jalan lahir.

15.00

Akhirnya proses bukaan mencapai kemajuan: bukaan 3. Nanin kirim SMS:

[gimana perasaannya menyambut kelahiran bayi, lo mondar-mandir di lorong nggak spt para ayah di film2?]

gue jawab dengan,

[oh enggak. hanya para ayah dungu yang melakukan hal seperti itu]

Dari tadi pagi gue liat pelayanan di RS ini cukup meyakinkan kok, jadi gue nggak (belum) punya alasan untuk kuatir. Detak jantung bayi diperiksa berulang-kali dan gue juga bisa denger sendiri keadaannya baik-baik aja. Dokter juga tadi udah menjelaskan bahwa proses dari bukaan 1 ke bukaan 5 memang lama, tapi dari bukaan 5 ke 10 akan cepet sekali. Sekarang udah bukaan 3, berarti ada kemajuan yang menggembirakan. Gue bahkan bisa dengan santainya meninggalkan RS sebentar, ngurus penginapan di hotel terdekat buat para mertua.

16.00

Bukaan 4. Latihan senam hamil selama ini ternyata membantu banget. Ida inget pesan instruktur senam hamilnya untuk nggak membuang banyak energi dengan berteriak-teriak. Kalaupun sakit, lebih baik mengatur nafas biar badan tetep dapet oksigen. SMS dan telepon terus bermunculan, antara lain dari Bayu dan Ade yang lagi nengok kelahiran Freya, putri Victor dan Lala. Katanya mereka mungkin akan mampir juga sepulang dari sana.

Kedua orangtua Ida memutuskan untuk mampir dulu ke hotel, mandi dan ganti baju.

bersambung>>

Miracle Delivery (2/4) kanguru dan buah nenas


<<sebelumnya

08.30
Ida udah ada di ruang observasi, udah ganti baju dan dipasangin alat2 pengukur kontraksi dan detak jantung bayi. Cairan yang keluar udah diperiksa, dan positif air ketuban. Ida dipasangin alat-alat untuk ngukur detak jantung bayi sekaligus kekuatan kontraksi. Udah terjadi bukaan 1. Via telepon, dokter menginstruksikan para suster untuk melakukan induksi (memasukkan obat pemicu kontraksi ke dalam cairan infus).

Berbekal pengalaman waktu kontraksi dini bulan lalu, proses pemasangan infus berjalan relatif lebih lancar. FYI, waktu masuk RS bulan lalu itu adalah saat pertama kali dalam sejarah hidup Ida merasakan yang namanya diinfus – sehingga hebohnya kaya orang mau dieksekusi. Waktu itu sampe terjadi dialog konyol sbb:
“SUSTEEEER… SAYA MAU DIAPAIN SUSTEEER….”
“Mau dipasangin infus, ibu tenang dulu ya….”
“SAKIT NGGAK SIH SUSTEEER… HIIY… JARUMNYA KOK GEDE AMAT GITUUUU…”
“Enggak… nggak sakit kok.. yang penting ibu tenang dulu ya… nih, saya pasang ya… ”
“ADUHADUHADUHHHH… SAKIIIIT SUSTERRRR… HIIII… SUSTER BOHONGGG.. TADI BILANGNYA NGGAK SAKIT… SUSTER BOHONGGGG…” dst dst dst.

Ternyata, hikmah kejadian waktu itu adalah untuk latihan mental buat Ida dalam menghadapi proses yang sebenarnya.

10.00
Dokternya datang. Dokter Finekri ini sebenarnya bukan dokter yang dulu menjadi pilihan kami. Dulu di awal masa kehamilan, kami memutuskan untuk mencari dokter yang prakteknya nggak jauh-jauh dari rumah DAN pasiennya nggak ngantri. Biasanya orang bela-belain ngantri untuk bisa ditangani oleh dokter terkenal, tapi pertimbangan kami adalah: semakin banyak pasien seorang dokter, semakin besar kemungkinan si dokter nggak available pada saat kelahiran karena waktunya bersamaan dengan kelahiran pasien yang lain. Waktu itu kami berkenalan dengan Dokter Fernandi Moegni, putra seorang dokter kandungan terkenal. Setelah mencoba beberapa kali sesi konsultasi kami merasa cocok dengan penanganan dokter Fernandi, tapi di tengah masa kehamilan mendadak dokter Fernandi mengabarkan bahwa dia harus PTT di luar kota. Dia menawarkan dokter pengganti, yaitu dokter Finekri. Tadinya kami sempet ragu karena harus beradaptasi lagi dengan dokter yang belum kami kenal, tapi ternyata penanganan dokter Finekri juga sama baiknya dengan dokter Fernandi – sehingga kami memutuskan untuk mempercayakan seluruh proses pemeriksaan kehamilan hingga waktunya melahirkan. Di hari H ini kami baru menemukan satu faktor plus lagi yang sebenernya bersifat non-teknis tapi bisa sangat menentukan yaitu… rumah dokter Finekri nggak jauh dari lokasi RS! Hmm… nemu satu lagi hikmah yang urun peran menciptakan takdir buat Ida…

Dokternya cuma meriksa sebentar, habis itu pergi lagi. Katanya, “Ibu tenang aja, ini baru bukaan 1. Prosesnya masih akan lama, bisa sampe 24 jam maksimal. Tapi baik dari posisi bayi, detak jantung, hingga kondisi saluran lahir semuanya dalam kondisi baik – insya Allah ibu bisa melahirkan normal.” Sepeninggal dokter, Ida mulai merasa kesakitan.
“Suster, habis diinfus kok perut saya jadi mules-mules ya? Tadi pagi kayaknya nggak gini deh.”
“Ya emang infusnya itu yang bikin sakit, supaya anaknya cepat lahir bu. Namanya juga diinduksi, ya pasti sakit,” jawab susternya santai.

Karena dari menit ke menit perutnya terasa makin sakit, akhirnya Ida mau juga dihibur dengan dongeng. Seperti pernah gue posting di sini, kalo Ida lagi kumat resek / cengengnya maka gue akan menghibur dengan dongeng. Selain dongeng “kancil dan pemburu”, gue juga punya dongeng “putri raja dan selendang sutera”, “supir bajaj dan kue cubit”, “7 kurcaci dan gajah ungu”, serta yang terbaru adalah dongeng “kangguru dan buah nenas”. Dulu waktu pertama kali gue menceritakan dongeng “kanguru dan buah nenas” Ida merasa dongeng tersebut terlalu garing sehingga distop sebelum selesai. Sekarang berhubung lagi mules akhirnya dia mau juga dengerin dongeng itu.

“Pada suatu hari, hiduplah sebuah buah nenas… eh.. kok kalimatnya nggak enak ya…”
“Aduuh…”
“Ya udah gini deh, nggak usah pake ‘pada suatu hari’ ya, langsung aja gini, Di sebuah dusun, buah nenas hidup serba kekurangan. Satu demi satu sanak keluarganya telah menjadi dipotong orang menjadi nenas kaleng. Akhirnya dia memutuskan untuk merantau ke kota…”
“Aduh… aduh… nggak jadi deh, nggak jadi minta dongeng deh, perutku tambah mules denger dongeng garing kamu itu. Udah sini pijitin aja! Nggak usah pake dongeng, ya!”

Lagi-lagi kreativitas seorang suami telah dihambat oleh istrinya.

bersambung>>

Miracle Delivery (1/4) “Kok nggak sakit ya?”


Prolog

Sebenernya udah lama banget gue ingin nulis journal ini, tapi nggak sempet-sempet karena kerjaan numpuk di kantor. Akhirnya baru bisa selesai ketulis setelah pake acara cuti 2 minggu dari kantor.

Pengalaman 1 hari bersejarah yang gue tuliskan di sini semakin memperkuat keyakinan gue bahwa segala sesuatu terjadi dalam rangkaian yang saling terkait satu dengan lainnya. Mungkin ini yang disebut ‘takdir’ – di mana peran masing-masing peristiwa baru bisa dipahami setelah peristiwa tsb lewat. Itulah sebabnya gue mengkategorikan posting-posting ini ke dalam tag ‘miracles’ – tag yang tadinya gue kira nggak akan gue gunakan lagi.

Biar nggak kepanjangan, cerita ini akan gue muat dalam 4 journal bersambung. Ini, adalah bagian pertamanya. Silakan dibaca semua kalo nggak bosen 🙂

Minggu 5 November 2006
06.45

Gue terbangun denger kesibukan Ida buka-tutup lemari pakaian.
“Istrinya mau ke mana?”
“Mau ke kawinan. Udah kamunya tidur lagi aja, kayaknya belum sehat abis sakit kemarin.”
“Ikut.”
“Nggak usaah…”
“Nanti kalo tau-tau mau melahirkan di sana siapa yang mau nolongin, hayo?”
“Ya kan di sana banyak orang, saudara2ku. Udah kamu nggak usah ikut aja.”
“Ya tapi kan orang-orang itu semuanya pada repot, nantinya malah panik ngurus ada orang mau melahirkan.”
“Ya enggak lah, gimana sih. Lagipula anaknya kayaknya belum mau keluar hari ini kok. Dari bangun tadi perutnya nggak sakit sama sekali. udah, suaminya di rumah aja, ya?”
“Istri macam apa mau bepergian tanpa ijin dan ridho suami….”
“HIIIIH… kenapa sih larinya harus ke situ lagi, ke situ lagi…!”
“Ya emang bener kok!”

Abis itu Ida masih sempet nerusin masak nasi tim di dapur, dan nggak lama kemudian masuk ke kamar lagi dengan tampang bingung.
“Kenapa aku kok basah2 gini ya? Tapi baru sedikit. Apa ini yang namanya pecah ketuban?”
“Waduh, nggak tau ya. Belum pernah sih. Coba tanya Ibu,”

Ida nanya Ibu dan mendapat jawaban, “ya mungkin aja air ketubannya keluar sedikit-sedikit. Biasanya sih campur darah juga.”

Ida balik ke kamar, “Iya tuh kata Ibu mungkin juga air ketuban keluarnya sedikit-sedikit campur darah. Tapi ini belum ada darahnya. Jadi gimana ya, iya atau bukan ya?”
“Sakit nggak?”
“Nggak.”
“Ya udah mending mandi aja dulu sana, sambil kita liat perkembangan.”

Habis itu kami bagi tugas. Ida mandi, sementara gue nungguin nasi tim mateng.

Keluar dari kamar mandi, Ida laporan lagi, “Kayaknya bener deh, ini air ketuban… keluarnya makin banyak, trus sekarang mulai campur darah.”
“Kalo gitu aku sekarang sarapan nasi tim dulu ya, sementara kamu nelepon dokter.”
“Kok nggak sakit sama sekali ya? Katanya orang kalo mau melahirkan sakit. Boong tuh.”

Nggak kaya penggambaran di film yang kayanya heboh banget menjelang proses kelahiran, pagi itu kami masih sempet sarapan tenang-tenang, bahkan milih2 baju dulu di lemarin. Sedangkan seluruh perlengkapan yang mungkin diperluin Ida kalo nginep di RS udah disiapin sejak kemarin-kemarin dalam satu tas khusus.

Sekitar jam 8 pagi, kami pamitan sama Ibu untuk berangkat ke RS

bersambung>>

  • Komentar Terbaru

    The making of mas ka… di Top Secret Mission: Mas K…
    Meyke Meray Wahyu di siapa yang sering kesetrum sep…
    Kiruu キルー di [2012-011] Ajaran ‘sesat…
    Tri Setyowati di siapa yang sering kesetrum sep…
    deehandut (@deehandu… di siapa yang sering kesetrum sep…
    Leones Henka Dewana di siapa yang sering kesetrum sep…
    Liya Kholida di siapa yang sering kesetrum sep…
    Lauw Christin di siapa yang sering kesetrum sep…
    Ryan Noor Arifin di siapa yang sering kesetrum sep…
    Riza Firli di Nostalgia Tentang Benda Ajaib…
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.167 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Jepret!

    Desain kekinian yang mengingatkan untuk terus istighfar Alhamdulillah kantor baru, mobil baru Foto keluarga pake baju baru, karena #kerenhaksegalabangsa #kerenhaksegalabangsa Ramayana challenge @kantanandana #kerenhaksegalabangsa Ramayana challenge, yay! Can you spot the difference? 
@sasha_sjam Bioskopnya dingin... #bioskop #sarung #dingin Jalur neraka
#macet #jakarta #casablanca #transjakarta Mungkin ini versi Iwan Fals yang lbh penyayang 
#mp3 #name #singer #iwanfals Pikachu versi haram, soalnya nampak blasteran sama babi
#pikachu #badut #babi #fail #bandung #gasibu
  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
    • Battle of Surabaya: Menikmati Seriusnya Proses Jualan Film 23 Maret 2015
      Seumur-umur jadi penggemar film Indonesia, baru kali ini gue ngelihat film yang upaya pemasarannya seserius ini. Bayangin aja, filmnya belum jadi, tapi trailernya udah didaftarin ikut lomba. Eh, masuk nominasi di Golden Trailer Award, bahkan menang di International Movie Trailer Festival. Ngomong-ngomong, baru sekarang loh gue tau ada festival untuk trailer […]
    • Preview: Tomorrowland (2015) 11 Maret 2015
      Gue pertama kali nonton teaser trailer film ini tahun lalu, dan langsung memutuskan akan nonton. Adegannya bikin penasaran banget: ada seorang cewek ABG yang mendadak bisa pindah lokasi saat menyentuh sebuah pin berlogo T. Pin apa itu? Kenapa dia bisa mindahin orang? Pindahnya ke mana? Sukses banget trailernya bikin orang penasaran ingin nonton film ini.Baru […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda.Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke se […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: