Manusia Ibarat Kertas…


kertas-lecek

Bukan, bukan.

Gue bukan mau bilang manusia ibarat kertas putih polos, lahir tak bernoda, siap dibentuk menjadi apa aja.

Bukan yang itu.

Tapi pagi ini gue baru dapet inspirasi, bahwa jenis-jenis manusia itu banyak yang bisa diibaratkan seperti kertas.

Ada manusia yang seperti KERTAS TISU: selalu siap membantu, khususnya dalam keadaan-keadaan darurat seperti ada cairan yang muncul tak selayaknya. Nggak pernah pilih-pilih urusan, semua masalah akan dia coba beresin sebisa mungkin. Tapi sayangnya, manusia-manusia jenis ini jarang diingat di luar keadaan darurat. Kalau urusan udah beres, dia dibuang. Kasihan…

Sebaliknya, ada juga manusia yang seperti KERTAS BERHARGA: kurang jelas manfaatnya, buat kipas-kipas sayang, buat ngelap apa lagi. Jarang kelihatan juga, tapi selalu menuntut diperlakukan istimewa karena kalo sampe ilang bikin panik dan repot.

Yang sering mengecoh adalah manusia jenis KERTAS KADO: kalo baru kenal nampak seru dan menarik, tapi setelah dilihat isinya seringkali mengecewakan.

Ada juga manusia yang selalu siap beralih fungsi, yaitu jenis KERTAS ULANGAN: setelah menunaikan tugas sebagai sarana mencerdaskan bangsa, dia rela beralih fungsi sebagai bungkus gorengan. Nggak mengeluh, nggak menuntut, yang selalu mengutamakan faedah.

Yang kasihan adalah manusia jenis KERTAS SELEBARAN: jumlahnya paling banyak, ada di mana-mana, tapi jarang ada yang memperhatikan. Kadang belum dibaca juga udah masuk tong sampah.

Tapi yang paling ngeselin adalah manusia jenis KERTAS BAKPAO: udah bentuknya nggak menarik, nggak jelas fungsinya, dilepasnya susah, kadang suka ikut-ikutan masuk mulut, padahal nggak diinginkan!

(Posting ini terinspirasi gara-gara lagi asik sarapan bapau, kertasnya kemakan)

 

Gambar gue pinjem dari sini

 

 

 

Kenapa Orang Tersinggung?


sepatu-tersinggung

Belakangan ini, gue lagi nemu banyak banget orang tersinggung. Kadang, tersinggungnya untuk urusan yang nggak terlintas di benak gue sebelumnya.

Misal:

“Gue kesel banget sama si X… masa pas kemarin ke rumah gue, dia kipas-kipas melulu! Ya deh gue tau rumah gue panas nggak pake AC, nggak kayak rumah dia, gedongan!”

Atau:

“Gue lagi bawa mobil, trus gue lihat si Z lagi di halte. Gue tawarin nebeng, eh dia nggak mau! Kurang ajar banget, masa dia lebih milih naik angkot daripada mobil gue?!”

Atau yang paling aneh:

“Gue kemarin di angkot ketemu sama Si Y. Nggak sopan banget dia, masa sepanjang jalan dia tidur, nggak ada basa-basinya banget! Harusnya kan udah tau ada gue, dia ngobrol atau apa kek!”

(lebih…)

Imbuhan Rancu yang Bikin Gawat


bahasa

Beda dengan bahasa Inggris, bahasa Indonesia punya banyak imbuhan.

Sebuah kata dasar, dikasih imbuhan, maknanya bisa berubah. Imbuhannya diganti, maknanya bisa bertolak belakang.

Contohnya imbuhan di-kan dan di-i.

Dua-duanya kata kerja pasif, bedanya: kalo di-kan subyeknya bergerak, dan di-i subyeknya nggak bergerak.

Contoh:

Batu dilemparkan oleh Budi. – Batunya gerak.
Rumah dilempari Batu (oleh Budi). – Rumahnya nggak gerak.

Mobil dijalankan. – Mobilnya gerak.
Jalan setapak dijalani. – Jalan setapaknya nggak gerak.

Permasalahan timbul kala bahasa Indonesia dicampur dialek Betawi, dan muncullah imbuhan di-in. Ini bikin pusing bener, karena di-in bermakna ganda, bisa berarti di-kan, bisa juga di-i. Ini kan jadi nggak jelas, yang mana yang gerak, mana yang gak gerak.

Contoh:

“Gila, batu yang dilemparin sekolah lawan gede-gede banget!” – ini maksudnya ‘dilemparkan’.
“Ancur dah sekolah gue dilemparin batu segede-gede gitu!” – ini maksudnya ‘dilempari’.

“Mobil gue tiap kali dijalanin kok bunyinya aneh, ya?” – ini maksudnya ‘dijalankan’.
“Udah lah, yang penting dijalanin aja dulu, kita lihat nantinya gimana.” – ini maksudnya modus, eh maksudnya ‘dijalani’.

Kalo kata dasarnya cuma ‘lempar’ dan ‘jalan’ masih enak. Jadi runyam kalo udah mulai melibatkan kata-kata tertentu.

Contoh:

“Sari nggak mau dimasukin,soalnya masih capek, mau ngaso dulu.” (Maksudnya
dimasukkan ke daftar peserta piknik).

“Pantesan kok lu kelihatannya lemes banget, rupanya tadi abis dikeluarin ya?” (Maksudnya dikeluarkan dari daftar calon penerima bonus).

Dan…

“Adik meronta-ronta waktu mau dinaikin.”(Maksudnya dinaikkan ke mobil untuk
dibawa ke mantri sunat.)

Demikian kajian bahasa kita kali ini, semoga (walaupun kecil kemungkinan) bermanfaat.

Gambar gue pinjem dari sini.

Menjadi Hebat itu Kewajiban, Bukan Pilihan


boy-catching-a-fish

“Bapak, apakah semua orang punya hobi?”

Berhubung seminggu ini gue cuti, tadi siang gue jemput Rafi dari sekolah dan di jalan muncullah pertanyaan itu.

(lebih…)

Begini Caranya Pindahan Video dari FB ke Youtube


Salah satu fitur baru FB yang menurut gue OK adalah Go Live.

Dengan fitur ini, pengguna aplikasi mobile FB bisa bikin siaran langsung kapan pun, dan bisa tanya jawab langsung dengan para penontonnya. Fitur ini bermanfaat banget buat:

(lebih…)

Di Balik Jempol Para Om


Awalnya, seorang temen mengomentari suaminya yang lagi berpose untuk difoto, “Nggak usah ngasih jempol, kayak om-om!” Sejak itu gue lantas memerhatikan foto-foto para om-om, dan ternyata bener: banyak om-om, termasuk gue, yang ngacungin jempol kalo disuruh berpose. Yah, mungkin nggak sampe melebihi 50% populasi om -om sih, tapi porsinya cukup signifikan, lah. Maka lahirlah meme ini:

(lebih…)

Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

(lebih…)

Ingin Banget Nanya Kepo? Coba Jurus Baru Ini!


pertanyaankepo

Lebaran!

Artinya, waktu untuk bersilaturahim. 

Bersilaturahim, artinya ngobrol-ngobrol. 

Dan buat kita, insan kepo nusantara, ngobrol-ngobrol artinya nanya. 

Celakanya, belakangan makin susah untuk nanya. Liat aja di medsos, orang pada nge-meme-in jawaban nyeleneh untuk pertanyaan favorit Lebaran, seperti ini: 

(lebih…)

Rahasia Bukber Sukses


IMG20160623194551

Salah satu acara khas bulan puasa adalah buka bersama, alias bukber. Hanya di bulan inilah orang-orang yang tadinya jarang ketemu bisa ngumpul bareng, cerita-cerita, foto-foto bareng, ketawa-ketawa bodoh, yang kalo belakangan diinget masih bisa bikin senyum-senyum sendiri . Tapi ada kalanya bukbernya garing: obrolannya bikin nyolot, joke-nya joke om-om, ketawanya basa-basi, dan fotonya ala kadarnya.

Realistis aja deh: Jakarta makin macet, hidup di kantor udah nyapein, di jalan banyak kriminalitas, nggak perlu lagi diperberat dengan harus menghadiri bukber garing. Artinya, kita harus pinter memilah dan memilih, acara bukber mana yang layak didatengin dan mana yang penting dihindari. Atau sebaliknya, sebagai penyelenggara bukber kita harus jeli, apakah rencana bukber akan terlaksana atau enggak. Maka, inilah dia: rahasia bukber sukses.

(lebih…)

Jadi, Masalahnya Di Mana?


han solo what problem

 

Beberapa dialog yang gue alami akhir-akhir ini kebetulan punya tema yang sama.

 

Dialog 1

“Gue sedih deh. Si A yang di depan gue baik, ternyata di belakang suka ngomongin yang jelek-jelek.”

“Dari mana lu tau kalo dia suka ngomong jelek di belakang?”

“Si B yang cerita.”

“Dari mana lu tau bahwa omongan si B bener?”

“Karena… B temen gue.”

“Dan A bukan?”

“Juga, sih.”

“Antara A dan B, mana yang lebih lu percaya?”

“Gue nggak tau. Dua-duanya nggak terlalu deket juga, sih.”

“Mereka penting buat kehidupan lu?”

“Nggak juga, sih.”

“Jadi, masalahnya di mana?”

(lebih…)

Kenapa Lu Bakal Kecewa Saat Sedekah Sambil Berharap Balasan Berlipat


sedekah-ilustrasi-_120814161235-689

“Mau dapet rezeki berlimpah? Sedekah aja! Tuhan akan membalas 700 kali lipat! Mau punya uang 700 juta? Cukup sedekah 1 juta! Mau punya uang 7 miliar? Sedekah aja 10 juta!”

Pernah denger ajakan kayak gitu? Atau elu malah lagi pikir-pikir untuk nyoba? Sebelum nyoba, baca dulu deh tulisan ini.

Bukan, gue bukan mau mempermasalahkan ‘sedekah itu harusnya ikhlas, nggak mengharap imbalan’. Ada pemuka agama yang bilang, justru kita hanya boleh mengharap kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Itu gue setuju 100%. Masalahnya, saat lu menyedekahkan duit dengan berharap dapet imbalan duit berkali-kali lipat, ada dua faktor yang berpotensi bikin lu kecewa.

(lebih…)

Kalau Kucing Lu Cuek, Mungkin Ini Penyebabnya


Beberapa bulan yang lalu, Rafi (lagi-lagi) nemu seekor kucing liar yang memutuskan untuk bersarang di rumah gue. Berhubung warna bulunya coklat, maka kucing itu dia kasih nama… *drum rolls*… Choco. Ini dia penampakannya:

Choco si kucing

Sama seperti waktu punya piaraan si belek dulu, Rafi sayang sekali sama si Choco ini. Sampai tibalah saatnya… musim kawin.

(lebih…)

Selamat Hari Film Nasional!


Lebih dr setengah responden jajak pendapat Kompas bilang bahwa mrk lbh sering nonton film Indonesia dan yakin film Indonesia bisa bersaing dengan film asing. Selamat hari film nasional!

View on Path

Nostalgia 90-an: Peliknya Lirik Lagu


memorize lyrics of a song

Weekend kemarin gue nyetir ke Jawa Tengah, nganter istri Oriflame-an. Biar nggak ngantuk, gue membekali diri dengan flashdisk berisi lagu-lagu favorit, yang sebagian besar tentunya berasal dari era 90-an.

Lagu demi lagu mengalun, dan gue hampir selalu ikut nyanyi. Soal kesesuaian nada belakangan, yang penting kan nggak ngantuk. Sambil nyanyi gue ngeliatin layar music player, tertulis ada lebih dari 400 lagu dalam flashdisk gue. Saat itulah gue sadar: sekitar 70% dari 400-an lagu itu, gue apal liriknya. Kok bisa ya? *kagum sendiri*

Tapi gue pikir-pikir, memang segala sesuatu yang didapet dengan susah payah, biasanya nggak gampang dilupakan.

Sebagai perbandingan, di era Google ini, nyari lirik lagu tuh gampang buwanget. Tinggal ketik judul lagu di browser, langsung dapet. Nggak tau judul lagunya? Tinggal ketik sebaris bait yang kita tau, juga bisa ketemu. Di Youtube juga banyak video klip yang memuat lirik lagunya. Bisa dengerin lagunya, nonton video klipnya, sambil ikutan nyanyi. Gampang segampang-gampangnya.

Di era 90-an, perjuangan untuk dapet lirik lagu itu keras, Bruh.

(lebih…)

Mau Berhenti Ngerokok? Gampang, Ini Caranya!


Kalo elu adalah perokok yang lagi nyari cara untuk berhenti, lu sampe di halaman yang tepat. Di posting ini, gue akan cerita tentang apa aja yang gue pelajari dari pengalaman gue berhenti ngerokok, bukan cuma sekali, tapi DUA kali!

Ya, seperti pernah gue ceritain di posting yang ini, gue pernah sukses berhenti ngerokok selama sekitar 11 bulan dari tahun 2011 sampe 2012. Tapi karena sotoy, sok merasa jago udah berhasil ngalahin rokok, gue iseng-iseng ngerokok lagi dan akhirnya… kumat. Tanggal 17 November 2014 gue memulai percobaan kedua untuk berhenti ngerokok, dan sampe sampe posting ini ditulis, hampir 12 bulan kemudian, masih sukses bertahan nggak ngerokok.

Karena berhenti ngerokok itu bikin hidup gue jauh lebih baik, maka di sini gue mencoba berbagi  pengalaman. Kali aja ada yang tertarik nyoba dan merasakan manfaat yang sama. Silakan ditiru kalo merasa cocok! (lebih…)

%d blogger menyukai ini: