Keajaiban Program Insting Seekor Kucing


Mama Odob bersama kedua anaknya, Kepo dan Kepi

Secara resmi sebenernya gue nggak pernah melihara kucing, tapi selalu ada aja kucing yang mampir di teras dan akhirnya memutuskan untuk ngekos (tentunya secara gratis). Setiap kali kucing yang ngekos di teras ngilang, nggak lama kemudian pasti muncul kucing penggantinya. Gue curiga ada sejenis yayasan di kalangan para kucing yang mengatur rotasi domisili para anggotanya. Mungkin secara berkala memang mereka perlu untuk ganti lokasi rumah, biar nggak bosen, gitu.

Salah satu kucing yang ngekos di teras gue kasih nama Si Odob, karena… yah, untuk ukuran kucing dia nampak bodo(h) banget. Pertama, dia nampak sangat mudah teralih perhatiannya. Kalo gue abis menuangkan makanan ke mangkoknya, dia buru-buru nyamperin. Tapi saat dia denger gue ngasih makan kucing lain, dia langsung berhenti makan, makanannya dia tinggal, dan buru-buru nyamperin mangkok yang barusan gue isi. Nanti kalo gue isi mangkok berikutnya lagi, dia begitu lagi. Dia ini short term memory loss kayak Dory apa gimana sih, bingung gue.

Di hari lainnya, dia melakukan hal kayak gini:

acara sarapan bersama para kucing, dan ada satu yang lagi asik nonton peti

Semua kucing udah punya jatah mangkok masing-masing, termasuk udah gue siapin untuk Si Odob, tapi saat yang lain makan dia malah asik nonton peti. Sesekali dia noleh ke arah gue dengan tatapan memelas seolah bilang, “Nggak papa kalo aku belum dikasih makan, nanti aja semoga masih ada sisa makanan dari yang lain…”

Berhubung dateng udah dalam keadaan hamil, bulan Maret 2021 Odob melahirkan 3 anak kucing, tapi yang satu nggak bertahan lama. Anaknya tinggal dua, gue kasih nama Kepo dan Kepi. Kepo, karena sejak bayi kucing ini nampak gede banget semangat eksplorasinya. Belum melek aja udah mau ngeluyur. Sedangkan Kepi, ya sebagai variasi dari Kepo, gitu doang sih.

Dari sekian banyak kucing yang numpang melahirkan di teras, baru Si Odob ini yang nggak nampak ada usaha apa pun untuk menyembunyikan anak-anaknya. Biasanya kucing kalo baru melahirkan akan cari tempat tersembunyi biar nggak terganggu orang lewat, ini Si Odob main geletakin aja bayi-bayinya di depan pintu depan. Kalo induk kucing lain kelihatan protektif kalo anaknya dideketin manusia, Si Odob mah santai aja anaknya dipegang-pegang. Mungkin karena dia percaya penuh pada kami. Mungkin juga akibat dia terlalu bodoh.

Karena Si Odob dan anak-anaknya ada di jalur mondar-mandir gue keluar masuk rumah, maka gue bisa mengamati perkembangan mereka sekeluarga. Harus diakui, sebagai ibu kucing Si Odob nampak cukup bertanggung jawab. Pertama, sejak melahirkan, dia mengusir semua kucing yang udah duluan ada di teras, sehingga area teras steril dari kehadiran kucing-kucing lain. Salah satu korban pengusiran adalah Nyingnying, yang notabene warga senior teras karena udah tinggal di teras lebih dari 5 tahun. Andai dia manusia, mungkin udah nuntut uang kerahiman. Tapi berhubung dia hanyalah seekor kucing, cuma bisa begini:

tatapan dengki Nyingnying kepada Odob yg telah mengusirnya secara biadab

Kedua, Odob nampak rajin membersihkan anak-anaknya. Kualitas tanggung jawab seekor mama kucing dapat dinilai dari kondisi anak-anaknya, percuma mamanya glowing kalo anaknya dekil (bukan nyindir lho ini).

Momen paling menakjubkan gue saksikan tadi malem. Setelah 2 bulan memberikan ASI (Air Susu Induk) eksklusif kepada anak-anaknya, insting Odob rupanya berpindah ke fase berikutnya, yaitu menyediakan MPASI (Makanan Pengganti ASI). Tadi malem Odob muncul menggondol sepotong bakso, entah ngembat dari mana, dan baru kali ini gue mengamati gimana proses seekor induk kucing ngasih MPASI buat anak-anaknya:

Bakso yang dia bawa digigit-gigit dulu sampai jadi potongan-potongan kecil, lalu dia panggil anak-anaknya untuk makan. Kalo dilihatnya anaknya susah memakan potongan yg terlalu besar, dia gigit-gigit lagi biar jadi lebih kecil, terus dia sodorin lagi ke anaknya.

Semua perilaku ini terjadi berdasarkan insting, terjadi secara otomatis, bukan karena mikir “anak gue masih kecil –> mulutnya masih kecil –> nggak bisa makan potongan yang terlalu besar –> maka makanan yang gue kasih ini harus dipotong-potong dulu”. Luar biasa, kan?

Buat para penggemar kucing, perilaku kucing apa yang pernah bikin kalian kagum?

Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. Observasi yang menarik. Aku gak suka kucing lagi, lebih prefer anjing. Anjingku lucu tapi rupanya masuk di list paling bawah kalau urusan kecerdasan. Hahahahaha…

    Suka

    Balas
    • nampaknya hewan2 yang lucu memang kurang merasa termotivasi untuk menjadi cerdas ya, krn kelucuannya udah cukup untuk menunjang kehidupannya

      Disukai oleh 1 orang

  1. Proyek 100 Posting 2021 | (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: