Asiknya Terbang Pake ‘Cashback’ dari Asuransi Keterlambatan


Akhir Februari, gue ada kerjaan hari Minggu di Solo. Berhubung cuma perlu beberapa jam doang di Solo, gue memutuskan untuk nggak nginep. Berangkat naik kereta Sabtu malam, sampe Solo Minggu pagi, kerjaan akan beres sekitar jam 14.00. Karena Seninnya masih harus ngantor, maka untuk pulang mau nggak mau harus naik pesawat. Di sinilah timbul ‘sedikit’ masalah.

Gue mau langsung pulang setelah kerjaan beres, dan pesawat yang berangkat di jam yang pas, yaitu jam 16.00 adalah pesawat dari maskapai berlogo merah yang selama ini langganan masuk berita karena berbagai kasus. Mulai dari telat yang bisa sampe berjam-jam, AC di kabin nggak nyala, sampe pilotnya keadapatan teler di bandara.

Selama ini gue udah menyatakan amit-amit banget terbang pake maskapai ini, masalahnya jadwal berikutnya kesorean bahkan kemaleman, dengan harga yang nyaris 2 kali lipat.

Tapi abis itu gue mikir, ini kan penerbangan pulang. Kalau pun telat, risikonya paling gue akan terdampar lamaan dikit aja di bandara, nggak akan mengganggu kerjaan. Maka dengan berat hati, gue putuskan beli tiket si maskapai merah.

Karena gue belinya pake Traveloka, muncul penawaran ‘asuransi keterlambatan’ yang akan membayar Rp600.000 kalo terjadi keterlambatan lebih dari 90 menit. Preminya cuma Rp65 ribu. Hm, menarik ini. Maskapainya terkenal sering telat, nggak ada salahnya beli asuransi keterlambatan, toh preminya murah.

Ternyata bener aja… Pas hari-H, gue udah baik-baik sampe di bandara sebelum jam 15.00, eh ada pengumuman penerbangan gue ditunda 120 menit! Yay! Orang-orang pada ngomel di counter maskapai, gue malah girang.

Ada seorang bapak-bapak dengan wajah kusut ngomong, “Gimana ini, nggak profesional banget, delay kok sampe 2 jam!”

Gue bisikin, “Makanya Pak, beli asuransi keterlambatan…”

Eh dia malah melotot. Aneh.

Gue buka Traveloka, salah satu persyaratan untuk klaim adalah surat pernyataan dari maskapai yang menerangkan bahwa terjadi keterlambatan lebih dari 90 menit. Maka gue menuju loket pemasaran maskapai di bandara, minta surat keterangan dengan menunjukkan boarding pass dan KTP. Suratnya jadi dalam 10 menit, trus gue duduk anteng di bandara sambil selonjoran.

Dua minggu berlalu sejak tanggal penerbangan, gue baru inget klaimnya belum gue urus. Maka gue download formulir klaim dari aplikasi Traveloka, gue isi dan gue jadiin pdf dengan lampiran boarding pass, e-tiket, dan KTP. Gue kirim ke e-mail yang tercantum di aplikasi. Abis itu gue lihat lagi, ada nomor WA dari pihak asuransinya. Gue chat nomor itu, bilang bahwa gue barusan kirim e-mail berkas klaim, tolong diurus.

Eh, jawaban petugasnya mengejutkan.

Petugas: Mohon dicek SMS dari kami, yang kami kirim di tanggal penerbangan. Silakan klik link di SMS tersebut.

Gue cek folder SMS, eh iya ada SMS dari pihak asuransi. Saking gue jarang buka-buka SMS, gue nggak ngeh ada SMS itu. Gue klik link di SMS itu, terbuka sebuah halaman web berisi 3 field: nama lengkap, nama bank dan nomor rekening. Gue isi lengkap, klik submit.

Itu kemarin.

Hari ini gue cek rekening, eh ya ampun, udah masuk uang penggantian keterlambatan sebesar Rp600 ribu! Yay! Ternyata SEMUDAH ITU klaim asuransi keterlambatan, nggak usah pake scan-scan berkas juga bisa! (Catatan: tapi kalo kalian beli asuransi keterlambatan, tetap lebih baik minta surat keterangan keterlambatan ya, untuk mengamankan klaim).

Pengalaman ini mengajarkan, mulai sekarang gue akan pilih si maskapai merah khusus untuk penerbangan pulang, sambil tentunya beli asuransi keterlambatan. Nggak ada ruginya: kalo pesawatnya terbang sesuai jadwal, cuma hilang duit Rp65 ribu, tapi kalo sampe delay, keluar jackpot Rp600 ribu, itung-itung cashback!

Malah gue mau usul ke maskapai itu, mending ‘fitur’ ini dimasukin ke iklan-iklan mereka, misalnya:

“Terbanglah bersama kami, dan raih keuntungan dari asuransi keterlambatan Anda!”

atau…

“Hanya kami yang memberikan KEPASTIAN premi asuransi keterlambatan Anda tidak akan mubazir”

atau…

“Nikmati kenyamanan bandara lebih lama DAN cashback dari asuransi keterlambatan Anda!”

Mulai sekarang, gue DEMEN delay!

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: