Pijat Urut Saat Keseleo, Kenapa Diketawain Sih?


Buat kalian yang udah baca blog ini sejak awal pasti tau bahwa gue punya 6 keponakan. Dulu sering gue cetitain keajaiban ulah mereka masing-masing, kalo mau baca -baca lagi silakan klik tag keponakan.

Lima belas tahun telah berlalu sejak posting pertama di blog ini terbit, anak-anak gila itu sekarang udah dewasa, dan udah pada ngantor, termasuk Dian (cowok, nama lengkapnya Rahadian).

Dari kecil si Dian ini yang paling manis, baik penampilannya maupun tingkahnya. Dia yang paling anteng, nggak banyak ulah anehnya. Malah dia yang sering jadi korban kejailan sepupu-sepupunya yang cenderung liar.

Suatu hari, Dian pulang kemalaman dari kantor dan hari itu pas kebetulan nggak bawa kunci pager. Dia coba ketok-ketok pager, nggak ada yang bukain. Akhirnya dia nekad manjat pager. Berhasil, tapi… salah mendarat, yang berakibat kakinya keseleo.

Berhubung setiap harinya Dian ngantor naik kendaraan umum yang harus jalan kaki dulu, maka besoknya pasti kaki keseleo ini akan jadi masalah. Lantas dia inget-inget, deket rumahnya ada beberapa rumah petak yang memajang tulisan “Pijat Urut”. Maka setelah Dian berhasil masuk rumah, naro tas dan ganti baju, dia keluar lagi dengan tujuan ke tempat “Pijat Urut” tadi.

Dengan terpincang-pincang Dian berhasil sampai ke tempat “Pijat Urut”. Dian senang sekali, karena walaupun udah jam 12 lewat, tempat itu masih buka. “Mungkin untuk menangani pasien-pasien gawat darurat,” pikir Dian.

Dian disambut ramah oleh beberapa orang mbak-mbak yang sedang duduk berjejer di sebuah ruang tamu sempit, “Hai Mas, duh, malem banget nih datengnya…”

“Iya Mbak,” jawab Dian, lalu menunjuk ke bawah, ke arah kakinya, “Ini saya sakit.”

“Oh ITUnya sakit…” kata salah satu mbak sambil cekikikan. Dian sedikit heran karena si mbak nampak terlalu geli menyikapi sebuah kondisi medis yang menurut Dian sama sekali nggak lucu. “Sini deh diurut ya. Mau sama siapa?”

“Siapa aja boleh. Saya belum pernah ke sini,” jawab Dian lagi.

Salah satu mbak bangkit dan menggiring Dian ke salah satu bilik di belakang. “Silakan Mas,” kata Si Mbak.

Dian duduk di atas dipan, dan mulai menggulung celananya. Dia menunjuk ke pergelangan kakinya yang keseleo. “Ini Mbak, tadi saya lompat pager, terus mendaratnya salah posisi. Sekarang jadi sakit, padahal besok masih harus ngantor,” Dian menjelaskan panjang lebar.

Mbaknya bengong.

“Jadi, ini BENERAN KESELEO?”

Gantian Dian yang bengong.

“Ya iyalah Mbak, kalo enggak ngapain saya ke sini?” Jawab Dian, sama sekali nggak menyadari ironi yang terjadi akibat kata-katanya sendiri, (((kalo enggak ngapain saya ke sini))).

Setelah percakapan singkat yang canggung itu Si Mbak mulai mengurut kaki Dian, dan Dian agak bingung kenapa wajah Si Mbak nggak seceria tadi. Setelah selesai…

“Udah, Mas? Nggak ada lagi nih yang mau DIURUT?” Tanya Si Mbak dengan nada aneh.

“Nggak ada Mbak, terima kasih ya.”

Lalu Dian membayar ongkos yang menurut Dian kemahalan untuk sebuah layanan urut keseleo, pulang, dan sesampainya di rumah dia bingung setengah mati kenapa dia diketawain abis-abisan saat menceritakan pengalaman itu kepada kakak-kakaknya.

Ada yang bisa bantu ngasih penjelasan kepada Dian, kira-kira kenapa dia diketawain?

Tinggalkan komentar

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: