Momen Pengubah Hidup


Kalo lagi nonton film, kadang gue suka skeptis kalo ngelihat adegan seseorang yang hidupnya berubah total hanya karena omongan orang lain. Misalnya, ada atlet yang males latihan, dimotivasi pelatihnya, langsung bangkit semangatnya dan jadi juara. Anak bengal nggak tahu diri, diomelin orang tua, langsung insyaf dan besoknya jadi ketua karang taruna. Preman suka mabuk-mabukan, diceramahin Pak Kiai, langsung sadar dan ujug-ujug jadi pimpinan koperasi.

Ya pokoknya gitu-gitu deh, kebayang kan.

Hari ini, di sebuah sesi ngobrol-ngobrol dengan dua orang teman lama, gue baru sadar: ternyata gue sendiri pernah mengalaminya. Sebuah pesan yang disampaikan secara sangat datar nyaris tanpa ekspresi, telah berhasil mengubah total cara gue memandang, dan menyikapi hidup.

Kita balik ke akhir tahun 1991.

Waktu itu gue baru menyelesaikan semester pertama di Fakultas Psikologi UI secara sangat ancur-ancuran. Dari 21 SKS yang gue ambil, 6 SKS dapet nilai E (termasuk 2 SKS untuk Bahasa Indonesia), 6 SKS dapet nilai D, dan sisanya deretan C dengan kalo nggak salah cuma satu atau dua B. IPK gue mentok di angka 1,29. Padahal, di akhir semester 2 nanti, gue harus punya IPK minimum 2 kalo masih mau kuliah di kampus berlogo biru ben hur ini.

Waktu abis nerima nilai di Sub Bagian Akademik, gue masih tenang-tenang aja. “Pasti banyak temen-temen yang IPK-nya senasib,” pikir gue. Ternyata, dari 110 mahasiswa psikologi seangkatan, yang IPK-nya di bawah 1,5 cuma… 4 orang! Di momen itulah gue mulai merasa mules, apa lagi saat gue dapet panggilan untuk menghadap PUDEK (Pembantu Dekan) I, yang waktu itu dijabat seorang dosen senior bernama Bu Bernadette N Setiadi.

Di semester 1, Bu Bernadette ngajar Statistik. Sebagai orang yang seumur-umur nggak pernah dapet nilai bagus untuk pelajaran matematika, tentunya mata kuliah ini terasa horor banget. Apalagi, di mata gue waktu itu, Bu Bernadette ini nampak seperti manusia berdarah dingin: ekpresinya datar, nggak pernah bercanda di kelas, udah mana mata kuliahnya bikin rambut rontok. Nilai Statistik gue? Ya E, lah. Lalu sekarang gue harus menghadap beliau pula, mempertanggungjawabkan IPK busuk. Pol dah.

Gue lupa apakah waktu itu gue menghadap Bu Bernadette sendirian atau bareng ketiga mahasiswa cupu lainnya yang sama-sama ber-IPK tiarap, yang gue inget dengan sangat jelas adalah bagaimana cara beliau menyampaikan pesan dan isi pesannya yang masih terngiang sampe sekarang.

Beliau membuka dengan pertanyaan, “Menurut kamu, kenapa kamu bisa sampai dapet IPK serendah ini?” Tentunya, seperti biasa, disampaikan dengan ekspresi datar tanpa senyum dan sorot mata yang sulit ditebak maknanya.

“Err… karena nggak ngerti pelajarannya, Bu,” kata gue jujur.

Dasar dosen statistik, pertanyaan berikutnya langsung main angka, “Kamu tahu kan, berapa rasio penerimaan mahasiswa baru di fakultas kita?”

Rasio penerimaan adalah perbandingan antara calon mahasiswa yang mendaftar dengan daya tampung fakultas. Rasio ini dicantumkan di petunjuk pengisian formulir pendaftaran UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), jadi calon mahasiswa bisa dapet gambaran seberapa sengit persaingan untuk masuk ke fakultas pilihannya. Kalo nggak salah tahun itu rasio penerimaan Fakultas Psikologi UI sekitar 1:40-an.

“Satu banding empat puluh, Bu.”

“Artinya, bangku yang kamu duduki di kelas itu diperebutkan oleh 40 orang, dan nilai UMPTN kamu membuktikan bahwa kapasitas mental kamu memenuhi syarat untuk belajar di sini, dan lebih baik dari 39 orang lainnya. Sampai sini jelas ya?”

“Jelas Bu.”

“Sebagai orang yang kapasitas mentalnya memenuhi syarat, harusnya kamu bisa dapat IPK minimum 2. Tapi kenyataannya, IPK kamu… yah… segini,” Bu Bernadette melirik tajam ke arah lembar kartu hasil studi gue yang tergeletak pasrah di atas meja, dengan angka 1,29 tercetak megah di atasnya, “Satu-satunya penjelasan kenapa IPK kamu segini adalah, karena kamu nggak cukup berusaha. Nilai kamu nggak menggambarkan kemampuan kamu yang sebenarnya. Bukan kamu nggak mampu, tapi nggak mau.”

“Kamu udah kenal temen-temen seangkatan kamu selama 1 semester. Kasih tahu saya, apakah kamu percaya, betul-betul percaya, bahwa kemampuan kamu memang ada di batas terbawah dari mereka? Sama sekali tidak ada di antara mereka yang kemampuannya di bawah kamu?”

Gue mulai mengingat-ingat. Sebenernya ada beberapa yang kelakuannya memang nampak nggak terlalu cerdas sih. Tapi faktanya IPK mereka lebih bagus dari gue, jadi…

“Kayaknya sih… ada beberapa yang lebih minus dari saya sih, Bu.”

“Nah. Sebenarnya, soal apakah kamu mau serius belajar di sini atau enggak, itu terserah kamu. Saya nggak akan maksa. Tapi ingat, kamu sudah telanjur menduduki bangku yang diperebutkan 40 orang lho. Dengan diterimanya kamu, maka tertutup sudah harapan untuk 39 orang lain. Jadi, kalau kamu asal-asalan belajar, maka kamu telah menyia-nyiakan sebuah kesempatan yang sebenarnya sangat berharga, yang diidam-idamkan oleh 39 orang lainnya. Apa kamu… nggak merasa bersalah?”

“Errr…” Gue beneran bingung musti jawab apa.

“Satu lagi. Kamu kuliah di sini, cukup bayar 210 ribu per semester. Angka itu tetap, sampai kamu lulus nanti nggak akan naik, berapa pun jumlah SKS yang kamu ambil di semester itu. Kamu tau berapa uang kuliah di universitas swasta?”

“Mahal, Bu.”

“Kamu tahu kenapa uang kuliah kamu bisa murah?”

“Disubsidi pemerintah, Bu.”

“Betul. Jadi sebenarnya, biaya mendidik kamu di sini jauh lebih mahal daripada 210 ribu. Tapi karena para pembayar pajak di Indonesia urunan membantu biaya kuliah kamu, maka kamu cukup bayar 210 ribu per semester. Saya tanya lagi, kalau kamu sudah diterima di sini, dibantu biaya pendidikannya oleh rakyat banyak supaya terjangkau, lalu kamu kuliah asal-asalan, apa kamu nggak merasa bersalah?”

Di momen itulah gue merasakan JLEB yang paling JLEB. Selama ini gue cuma mikir kuliah ya kuliah aja, gue udah bayar, ya terserah gue mau rajin atau males. Gue nggak pernah kepikiran bahwa di balik keberhasilan gue keterima di kampus ini harus ada sekian puluh orang yang gagal, dan di balik uang kuliah yang murah ada tanggung jawab moral kepada jutaan pembayar pajak.

Di semester 2 gue belajar mati-matian, dan berhasil dapet 6 SKS bernilai A plus 6 SKS bernilai B, cukup untuk mengompensasi 6 SKS E plus 6 SKS D di semester 1. Di semester 3 gue ngulang mata kuliah Statistik 1 dan dapet nilai A.

Nggak berhenti sampai di situ.

Sejak dapet momen pencerahan dari Bu Bernadette, setiap kali gue menemukan sebuah bidang yang susah gue kuasai, gue akan mikir, “Apa iya, kemampuan gue berada di batas bawah kemampuan seluruh manusia di dunia untuk menguasai bidang ini?”

Saat main video game, mentok di level tertentu, gue mikir, “Di luar sana, pasti ada bocah umur 10 tahun yang bisa menamatkan game ini. Masa iya gue nggak bisa.” Maka gue akan mencoba lagi dan lagi, sampe berhasil.

Waktu belajar BSMR dan berhadapan dengan aneka jargon ajaib yang belum pernah gue denger sebelumnya, gue mikir, “Di luar sana, pasti ada seorang mas-mas pegawai bank di pedalaman Indonesia yang sehari-hari jarang ketemu internet, sinyal susah, tapi bisa lulus BSMR, masa iya gue nggak lulus.” Pikiran ini memotivasi gue, dan akhirnya lulus.

Pokoknya setiap kali gue ketemu sesuatu yang rasanya “susah”, pasti gue inget Bu Bernadette, dan mikir, “Masa iya, gue jadi satu-satunya orang di dunia yang nggak bisa melakukan ini?”

Bu Bernadette, dengan wajah datarnya, telah menyalakan motivasi dalam diri gue, jauh lebih ‘dalem’ daripada omongan motivator yang suka menggebu-gebu tapi palsu.

Terima kasih ya, Bu Bernadette. Saya harap tulisan ini sampai ke Ibu, biar Ibu tahu bahwa sebuah momen singkat di akhir 1991 telah mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik, selamanya.

Gimana dengan kalian, momen apa yang kalian rasa udah mengubah hidup? Tulis di komen, ya!

Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. Rizal Sofyan Gueci

     /  12 Mei 2020

    Sangat menginspirasi, artinya ada kejadian/peristiwa yang memicu sso untuk berubah. Maaf kelahiran tahun berapa bu Bernadet itu. Sepertinya saya kenal, saya teman alm. Feriyanto Chaidir, dosen FTUI dan istri beliau dosen F.Psy UI ibu Ratna Djuwita. Pertama kali saya kursus jurnalistik waktu mhs fh 1975, tapi sayang materinya tidak diamalkan. Guru latih waktu itu a.l. mahasiswa FPsy UI, mas Riwanto Tirtosudarmo. 45 th kemudian karena covid-19 Warta kota salah satu koran langganan saya menawarkan kursus jurnalistik (3x), sengaja saya ikut supaya anak saya juga ikut dengar, ternyata tidak ikut. Artinya nanti ada suatu peristiwa yang akan memicu anak saya untuk jadi penulis. Namun saya tidak mengalah begitu saja, kalau bukan anak sendiri, tentu anak orang lain mungkin bisa dipicu untuk menjadi penulis. Prinsip saya memicu/mengajarkan orang untuk menulis belum tentu seorang penulis. Seorang pengamat belum tentu menjadi pemain. Maka tertarik dengan pandangan dunia pak Simbot saya ingin undang bapak untuk menyelenggarkan kursus jurnalistik bersama di kantor saya di Serpong. Walaupun saya bukan penulis, tapi saya merasa sanggup mengajar dan memicu orang untuk menjadi penulis dengan stok 1975 dan 2000 diatas. Tentu kalau ada tim teachingnya seorang penulis seperti pak Agung akan lebih menarik. Semoga terjadi.

    Suka

    Balas
  2. Langsung google nama ibu Bernadette di google sesuai saran mas Mbot :-0

    Suka

    Balas
  3. Nita Prihartini

     /  9 September 2019

    foto ibu Bernadette dong plis

    Suka

    Balas
    • Masukin aja nama lengkapnya ke Google, ketemu deh. Beliau terpandang banget di bidang psikologi.

      Suka

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: