Menjadi Hebat itu Kewajiban, Bukan Pilihan


boy-catching-a-fish

“Bapak, apakah semua orang punya hobi?”

Berhubung seminggu ini gue cuti, tadi siang gue jemput Rafi dari sekolah dan di jalan muncullah pertanyaan itu.

“Enggak semua orang punya hobi. Ada orang-orang yang udah setua bapak masih bingung apa hobinya.”

“Kenapa? Bukannya hobi itu sesuatu yang paling sering kita lakukan? Ya dia tinggal lihat aja, apa hal yang paling sering dia lakukan, maka itulah hobinya.”

“Bukan. Hobi BELUM TENTU apa yang paling sering kita lakukan. Hobi itu kegiatan yang sangat kita sukai, sehingga saat kita selesai melakukannya, kita mau mengulanginya lagi dan lagi.

Rafi setiap hari pergi ke sekolah, tapi ‘pergi ke sekolah’ bukan hobi Rafi. Buktinya, kalau libur, nggak usah sekolah, Rafi senang. Kalau pagi-pagi dibangunkan untuk sekolah, kadang Rafi malas. Jadi, ‘pergi ke sekolah’, walaupun sering Rafi lakukan, bukan hobi.

Hobi Rafi tuh misalnya main Minecraft dan Roblox. Walaupun hanya boleh seminggu sekali, tapi kalau disuruh main Minecraft dan Roblox, Rafi senang dan mau melakukannya berulang-ulang.”

Gue sengaja nggak menyebut “menggambar” sebagai hobinya, karena walaupun kalo ditanya dia sering menyebut “menggambar” sebagai hobi, kenyataannya belakangan dia jarang berlatih menggambar.

“Kenapa sih orang harus punya hobi?”

“Yang pertama, untuk menghibur dirinya. Orang-orang yang punya hobi pasti lebih bahagia daripada mereka yang nggak tau hobinya apaan.

Yang kedua, hobi itu jalan untuk menjadi hebat dalam sesuatu. Kalau kita suka melakukan sesuatu, mau melakukannya berulang-ulang, artinya kita akan berlatih di bidang tersebut kan? Kalau kita sering berlatih, lama-lama kita akan menjadi hebat.”

“Memangnya kita harus ya, menjadi hebat dalam sesuatu?”

“Harus dong. Karena Tuhan udah menciptakan kita dengan bakat masing-masing. Tugas kita adalah berlatih agar bakat itu menjadi hebat. Setiap orang pasti akan hebat dalam sesuatu. Jadi kalau ada orang yang tidak hebat dalam apapun, Tuhan mungkin kesal.”

“Lho kenapa?”

“Bayangin Rafi lagi jalan di pinggir sungai, tiba-tiba ketemu seseorang. Orang itu bilang, ‘tolong kasihani saya, saya nggak punya makanan.’

Kebetulan Rafi punya pancing. Rafi kasih pancingnya ke orang itu, sambil bilang, ‘ini, kalau kamu lapar, kamu bisa nangkap ikan pakai ini. Ikannya bisa dimakan, atau dijual untuk beli makanan.’ Rafi ajarin cara make pancingnya sampai orang itu bisa, habis itu Rafi pergi.

Sebulan kemudian Rafi lewat situ lagi, ketemu sama orang itu lagi, dan ternyata dia sedang minta-minta lagi. Pancingnya dibiarkan begitu aja, nggak dipake. Gimana perasaan Rafi?”

“Kesal.”

“Apakah Rafi masih mau membantu dia, ngasih makanan ke dia?”

“Enggak.”

“Begitulah, kenapa kita perlu menjadi hebat dalam sesuatu. Karena kita sudah dikasih Tuhan sesuatu untuk menjadi hebat, dan kita bertanggung jawab memanfaatkannya.”

Sesampainya di rumah, Rafi langsung ambil kertas dan mulai menggambar lagi.


Foto gue pinjem dari Twisted Sifter. Banyak foto-foto keren di sana!

Iklan
Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. jleb lagi…. XD

    Suka

    Balas
  2. Kalau aku hobinya ngeblog, sama baca2 artikel gan,

    Disukai oleh 1 orang

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: