Bawahan Resign? Begini Lho Cara Nanganinnya


Bayangin di sebuah hari yang indah, di mana semua kerjaan lancar, masa depan cerah, tiba-tiba muncul seorang bawahan yang selama ini lu andalkan banget, bilang bahwa dia mau resign. Apa reaksi lu? Ngamuk? Maki-maki? Ngancem?

Kalo lu jawab ‘ya’ untuk minimal salah satu dari tiga pilhan tadi, SELAMAT, lu udah sukses menambah satu lagi alasan buat bawahan lu segera resign. Saat dia melaporkan rencananya untuk resign, 99% kemungkinan dia udah tanda tangan kontrak kerja di perusahaan yang baru. Trus lu bisa apa?

Lu coba nahan ijazah? Duh, itu kan tinggal bikin surat kehilangan dari kepolisian, trus urus ulang di kampus. Paling dia cuma rugi beberapa ratus ribu doang. Lagian saat merekrut calon pegawai yang udah punya pengalaman kerja, perusahaan biasanya nggak terlalu peduli dengan ijazah.

Lu coba nahan surat keterangan kerja? Biasanya perusahaan mensyaratkan pemberitahuan minimal 1 bulan sebelum tanggal efektif resign, dengan iming-iming akan dapet surat keterangan kerja. Apa pentingnya surat keterangan kerja? Supaya riwayat kerjanya tercatat resmi, sehingga bisa ‘dijual’ saat kelak mau pindah lagi ke kantor lain. Kalo lu ngancem nahan surat keterangan kerja, nggak pake nunggu sebulan dia akan langsung ngilang dari kantor hari itu juga. Buat apa, toh nggak akan dapet surat keterangan kerja juga!

Bawahan lu punya pinjaman di kantor? Kantor barunya pasti udah siap ambil alih, kalo enggak mana berani dia tanda tangan kontrak.

Intinya, andaikan bisa, bawahan lu akan ngomong gini:

Jadi gimana? Begini:

Terima Kenyataan Bahwa Tersangka Utamanya adalah Elu

Ada orang bernama Leigh Branham yang menyurvei 20.000 responden menemukan bahwa alasan nomor satu orang resign adalah karena kehilangan kepercayaan pada atasan. Jadi… ya, kalo bawahan resign, kemungkinan besar elu-lah biang keladinya.

Kabar buruknya lagi, lu nggak akan tau apa penyebab sebenarnya. Kalo lu tanya, “Jadi apa yang harus saya perbaiki?”maka kemungkinan besar bawahan lu akan menghindar dengan bilang:

“Ah Bapak baik-baik aja kok, cuma kebetulan ini dapat tawaran yang menarik…”

atau ngasih jawaban normatif seperti:

“Sebenernya Bapak udah baik sekali, cuma mungkin kalau bisa diperbanyak meluangkan waktu bersama kami-kami ini…”

atau

“Saya harus pergi karena Bapak terlalu baik untuk saya.”

Padahal mungkin alasan yang tak terucap adalah

“…karena lu tolol dan gue capek ngebenahin rentetan kekacauan yang lu bikin.”

atau

“…karena lu si culas yang suka ngaku-ngaku hasil kerja bawahan dan gue ingin lihat lu bisa apa kalo gue pergi.”

atau

“…semuanya lu atur, takutnya lama-lama otak gue laku mahal kalo dijual karena masih orisinil jarang dipake.”

Walau pahit, telen aja kemungkinan bahwa bawahan lu nggak secinta itu terhadap lu, sehingga lu bisa melakukan kedua hal berikut, yaitu:

  1. Terhindar dari membuang energi mencoba mempromosikan kedekatan lu dengan dia. Maksudnya gini: beberapa atasan yang kurang mawas diri menyikapi bawahan resign dengan mencoba mempromosikan betapa beruntungnya orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Ini sia-sia, karena kemungkinan besar si bawahan nggak merasa demikian. Itulah sebabnya dia resign, bukan?
  2. Fokus pada hal yang punya peluang lebih besar untuk ditangani, yaitu…

 

Bantu Cari Solusi untuk Masalah Lainnya (Di Luar Elu)

Kalo elu jadi alasan utama, mungkin ada alasan lain yang bikin bawahan lu resign. Temukan alasan itu, dan bantu cari solusinya.

Misal:

  • dia ingin pindah karena tertarik dengan fasilitas KPR di kantor lain, coba usahain KPR di tempat lu
  • dia ingin pindah karena ingin punya tambahan duit buat bayar utang yang numpuk, coba bantu usahain pinjaman lunak dari kantor dan sekalian bantu restruktur keuangannya
  • dia ingin pindah biar deket sama istri/suaminya yang tinggal di kota lain, coba cari peluang untuk mindahin istri/suaminya ke kota lu

Intinya, di detik-detik terakhir masa kerjanya ini coba tunjukin bahwa elu beneran peduli sama dia dan lu cukup ada gunanya untuk hidup dia. Kalo dia bisa ngelihat itu, mungkin, MUNGKIN, dia akan berubah pikiran. Tapi kalo enggak…

 

Nggak Usah Drama dan Lanjutkan Hidup

Ditinggal bawahan, apalagi bawahan yang jadi andalan, memang sakit. Apalagi, nggak semua bawahan diciptakan sama. Ada beberapa yang nggak akan pernah bisa terganti. Tapi itu bagian dari hidup, jadi… santai aja lah.

Nggak usah baper, nggak usah curhat sana-sini, apalagi ngejelek-jelekin mereka yang udah pergi. Kenapa? Karena bawahan yang BELUM resign akan mengamati tingkah polah lu. Semakin norak tingkah lu, semakin yakin mereka bahwa elu atasan yang layak segera ditinggalkan.

Jadi… bawahan resign? Santai!

Gambar utama gue pinjem dari sini.

Iklan
Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. Gua juga udah di zona nyaman, 5 tahun. Nggak nyaman banget sih, tapi dinyamanin aja lah. Mau resign juga pikir-pikir dulu.

    Suka

    Balas
  2. Sebagai mantan bawahan dan mantan pekerja, tulisan ini sangat mewakilkan hahahaha

    Suka

    Balas
  3. Bahan Pembelajaran Gung … ngukur diri sudah memberikan yang terbaik untuk teman2 yang membantu sesuai skala tempat kita kerja …

    Suka

    Balas
  4. Postingan ini jadi mengingatkan mengapa saya stay di kantor sebelumnya sampai lebih dari 4 tahun (dalam catatan kerja saya, ini rekor). Kuncinya satu: bosnya buaaaaaek banget. Gaji abis dinaikin, 2 hari kemudian mau dinaikin. Diberi banyak kesempatan maju, tantangan menarik serta tugas-tugas berbobot.

    Boss does matter, a lot.

    Suka

    Balas
  5. sankerenti

     /  1 Agustus 2016

    Mas agung ini seru bgt ni. Kalo bawahannya maunya kerja di negri? Dan perusahaannnyanga ada fasilitas itu. Susahbjuga kan ya bantuin. Brati itu bukan karna atasannya kan…hmm hmm hmm

    Suka

    Balas
    • Iya, bisa aja ada penyebab lain yang bukan karena atasan. Memang berdasarkan survei atasan jadi alasan momor 1 tapi bukan satu2nya.

      Suka

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: