Pelajaran Hidup dari Monopoli


monopoli

Sebelum masuk SD, Rafi udah menemukan, dan memutuskan, bahwa hobinya adalah menggambar. Di satu sisi itu bagus, karena banyak orang yang sampe tua bangka juga nggak tahu hobinya apaan. Selain itu, menekuni hobi menggambar nampak jauh lebih jelas manfaatnya ketimbang main Angry Birds. 

Jeleknya, dia lantas menganggap pelajaran sekolah, khususnya aritmatika, nggak penting. 

I’m going to be an artist, I don’t need arithmatics,” katanya sotoy. 

Of course you need arithmatics. Sekalipun kamu bisa menggambar bagus sekali, tapi kamu nggak bisa ngitung, kamu akan ditipu orang waktu jualan gambar kamu.”

“Ah enggak. Kan tinggal aku sebutin aja harganya, gambar aku harganya segini, terus terima uangnya.”

“Gimana kalo gini: kamu jual gambar, harganya 10 juta. Terus ada orang dateng, bilangnya mau beli. Orangnya bilang, ‘Hari ini saya bayar 6 juta dulu, besok saya bayar kekurangannya yang 2 juta. Cukup ya?’”

“Err…”

“Cukup nggak?”

“Berarti dia bayar 6 juta tambah 2 juta ya Bapak?”

“Iya, itu jumlahnya 10 juta bukan?”

“Kayaknya iya.”

“Nah, kamu udah rugi 2 juta.”

Tapi berhubung anak kecil, susah untuk ngebayangin kalo nggak ngerasain dalam wujud nyata. Untunglah ada orang jenius yang menciptakan permainan bernama Monopoli. 

Setelah gue jelasin aturan mainnya, gue bilang, “Pokoknya, kalo Bapak harus bayar ke Rafi, Rafi yang harus hitung uangnya. Kalo sampe hitungannya salah, dan Bapak dirugikan, Bapak akan protes. Tapi kalo hitungannya salah, dan Bapak diuntungkan, Bapak akan diem aja.”

“Ih kok gitu, Bapak curang!”

“Karena itu yang akan terjadi di dunia nyata; kalo kamu salah hitung, kamu akan rugi. Makanya hitung yang bener.”

Permainan berjalan, sampe akhirnya dia harus bayar sewa 14.000 ke gue. Gue dikasih duit 20.000. 

“Kembaliannya berapa?”

“Hitung dong.”

Dia ngitung sambil ribet, sampe akhirnya menemukan hasil, “Kembaliannya 6.”

“Enam apa?”

“Enam… ratus?”

“OK, ini kembaliannya.” Beneran gue kasih 600. 

 Permainan berjalan lagi, dan dia lagi-lagi mendarat di tanah yang sama, harus bayar 14.000 lagi. Dia bayar 20.000 lagi. 

“Hitung kembaliannya,” kata gue. 

Setelah ngitung, dia menemukan hasil, kali ini bener. “Enam… ribu ya Bapak?”

“Betul.”

“Jadi, tadi aku ngitung 600 itu kurang?”

“Iya. Salah sendiri ngitungnya nggak bener kan?”

Dia nampak nyolot. Tapi mudah-mudahan belajar, bahwa kehidupan nyata nggak akan berbaik hati pada orang yang nggak bisa ngitung. 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. Hi..hi…aku juga gak suka Matematika kok..Tapi tetap harus belajar Matematika sampai SMU…Dan untungnya pas kuliah benar-benar bebas dari yang namanya Matematika dan pelajaran berhitung lainnya karena masuk Sastra 🙂

    Suka

    Balas
    • Tadinya sempet berencana gitu dengan masuk psikologi. Eh ternyata di psikologi itungannya banyak banget.

      Suka

  2. Nurun dari siapa tuh..?? haha

    Suka

    Balas
  3. Rafiiiii! Lucu banget sih kamuuuu naaak! 😀

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: