Kalo Amanah Dijagah Membabih Butah


Alkisah hiduplah seorang satpam bernama Dudung. Dia bekerja di sebuah pabrik yang lokasinya berbatasan langsung dengan perkampungan warga.
Sebagai satpam, Dudung memiliki reputasi baik. Dia sangat berdisiplin dan teguh memegang amanah. Malam ini tak terkecuali. Dia dapat giliran jaga selama 5 jam, jam 12 malam sampai jam 5 pagi. Saat serah terima shift seperti biasa dia membacakan ikrar satpam,

“…saya bersumpah menjaga keamanan dan keselamatan pabrik ini dengan tidak meninggalkan lokasi sebelum shift berakhir!”

Jam 1.30, baru satu setengah jam bertugas, seorang warga kampung datang tergopoh-gopoh.
“Bang Dudung, tolong Bang, ada kebakaran!”
“Di mana?”
“Di kampung belakang, Bang! Kami udah telepon Pemadam Kebakaran, tapi kami butuh bantuan abang!”
“Bantuan saya? Lah, saya pan satpam, bukan pemadam kebakaran!”
“Iya Bang, tapi abang kan seenggaknya pernah dilatih cara madamin api. Jadi kami mau minta tolong, abang pimpin tuh warga biar nggak salah caranya! Sambil nunggu pemadamnya dateng, Bang!”
“Oh, begitu… tapi maaf, saya terikat sumpah untuk menjaga pabrik ini. Saya sudah DIAMANAHKAN untuk tidak meninggalkan pos hingga jam 5 nanti. Jadi… sekali lagi mohon maaf, saya tidak bisa bantu. Tapi saya janji, nanti setelah shift saya selesai jam 5, saya akan bantu warga memadamkan api…”
“Yaelah Bang, kalo nunggu jam 5 sih keburu abis! Lagian Bang, saya kasih tau aja ya, anginnnya ngarah ke pabrik ini! Kalo apinya tambah gede, ni pabrik bisa kesamber juga Bang! Kalo abang mau jaga keselamatan pabrik, ya harusnya ikut juga bantuin warga bantuin warga madamin api di belakang! Pabrik ini kan bagian dari lingkungan sini juga Bang!”
“Maaf, nggak bisa. Saya juga sudah berikrar tidak meninggalkan lokasi pabrik ini sebelum jam 5…”

Setengah jam kemudian, api menyambar atap pabrik. Dudung berusaha keras memadamkannya, tapi terlambat. Api sudah terlanjur besar. Tepat jam 4.50, api menghanguskan seluruh pabrik. Saat pemilik pabrik datang meninjau ke lokasi, ia disambut Dudung yang berdiri tegap sambil berkata,

“Siap Boss! Saya telah menjalankan tugas dan MENJAGA AMANAH sesuai komitmen!”

Di belakangnga puing-puing pabrik mengepulkan asap berbau sangit…

Dua pertanyaan untuk kalian:
1. Apakah Dudung udah menjaga amanah?
2. Apakah keputusannya adalah keputusan terbaik untuk pabrik dan masyarakat sekitar?

*kisah ini hanya fiktif belaka. Segala keterkaitan dengan peristiwa nyata hanyalah hasil interpretasi kalian.

Iklan
Tinggalkan komentar

19 Komentar

  1. Sukaaa… analoginya bisa diterima.. 🙂

    Suka

    Balas
  2. Kalau dimaksudkan untuk menjabarkan konteks amanah Jokowi, analoginya kurang pas sih.

    Tapi dalam konteks amanah bener. Mudah dipahami menjaga amanah ndak selingkup letterlijk thok.

    Suka

    Balas
    • Iya, gitu poinnya. “Menjaga amanah” bisa jadi perdebatan panjang lebar tergantung persepsi apa dan bagaimana yang dijaga

      Suka

    • Jaga aminah juga susah sekarang. Apalagi setelah Wolly Sutinah sudah ngga ada. #mulaingawur

      Suka

  3. Baguuuus deh analoginya. SUKA! 😀

    Suka

    Balas
  4. hmmm… jadi gini, ya, interpretasi “menjaga amanah” berdasarkan teks yang sudah diikrarkan…

    Suka

    Balas
  5. Untuk menjaga amanah, Dudung harus ikut padamkan api tetapi dalam kapasitasnya sebagai satpam, bukan alih profesi jadi anggota pemadam kebakaran.

    Suka

    Balas
    • jadi sebaiknya dia melanggar sumpah untuk tidak meninggalkan pos sebelum jam 5 guna membantu warga memadamkan api, ya?

      Suka

  6. Tergantung. Kalau loe tanya sama pengikut taklid buta, ya jawabnya ini amanah. Kalau loe tanya sama gw, ini namanya mengartikan amanah selebar daun kelor doang ;-).

    BTW, gw share ya 🙂

    Suka

    Balas
    • iya, “menjaga amanah” ternyata melibatkan proses berpikir kritis juga.
      terima kasih udah share 🙂

      Suka

  7. kisah ini hanya fiktif belaka. Segala keterkaitan dengan peristiwa nyata hanyalah hasil interpretasi kalian. –> suka deh dengan yang ini.

    Suka

    Balas
  8. menjaga amanah yang salah kaprah 🙂

    Suka

    Balas
  9. gw setuju sama ades, kenapa nggak yang langsung “dikunyah” aja sih? make suruh mikir 2 pertanyaan.

    Suka

    Balas
    • Tujuannya emang sekedar ngajak mikir aja kok tom, bukan argumentatif. Kalo argumen berpotensi mengundang respon yang cuma ngajak ribut. Kalo cuma ngajak mikir ya silakan dijawab di dalam hati masing-masing.

      Suka

    • Ya biar jadi orang sehat bos…masak mau makanan yang selalu sudah “dikunyahkan” orang lain…lebih sehat mengunyah sendiri 😉

      Suka

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: