[review] Jalanan


Andaikan ada orang khilaf ngemodalin gue bikin film dokumenter tentang kehidupan pengamen jalanan Jakarta, maka kemungkinan besar hasilnya akan jadi sebagai berikut:

  • diiringi lagu sedih, kalau bisa solo piano
  • ada suara narator. Pilih naratornya yang bersuara ngebass kayak narator iklan rokok
  • ada banyak adegan-adegan memilukan, semisal dikejar-kejar kamtib, gitarnya rusak masuk got, pengamennya dipukulin, dsb
  • ada wawancara testimoni pengamen yang bersangkutan, dengan ekspresi sedih meratapi nasib dan/atau mengutuk ketidakadilan kehidupan ibu kota

Untunglah bukan gue pembuat film ini, sebab kalo iya hasilnya nggak akan sekeren ini.

“Jalanan” mengikuti kehidupan nyata 3 orang pengamen: Boni, Titi, dan Ho selama 7 tahun. Yak, 7 tahun Daniel Ziv, seorang bule, naik turun bis mengikuti kehidupan para pengamen ini. Nggak kebayang berapa kali tuh dia kena palak, sebab di Jakarta jangankan bawa kamera, bawa tas kresek aja lu bisa dianggap mengundang kriminalitas. Selain itu, gue juga nggak kebayang jenis dan ukuran kamera yang dipake, karena orang-orang yang berada di sekitar tokohnya nampak santai aja seolah nggak tertarik sama kehadiran si kamera. Dialog para tokoh juga terdengar jelas banget, walau pas pengambilan gambar pasti bising banget. Ini bagian tata suaranya pasti sekolahnya rajin dan gak pernah bolos.

Edannya, selama proses pembuata film, si Daniel Ziv ini sama sekali nggak mengarahkan ketiga tokoh utamanya. Mereka diumbar aja terserah mau ngapain. Jadi Danielnya sendiri juga nggak tahu jalan cerita filmnya akan mengarah ke mana. Baru saat terjadi 2 peristiwa penting dalam kehidupan 2 tokohnya tersebut, dia memutuskan filmnya bisa berakhir karena udah dapet adegan yang bisa dijadiin klimaks film. Bayangin pas lebaran (anggep aja Daniel Ziv lebaranan), 7  kali lebaran dia harus ketemu pertanyaan, “Gimana, filmnya udah jadi belum? Bikin film satu aja kok lama amat sih? Tetangga tante bikin sinetron seminggu bisa jadi 10 episode loh”.

Udah gitu, si Daniel ini kok ya nemu-nemunya 3 orang pengamen yang bukan aja punya suara bagus dan mampu bikin lagu sendiri, tapi juga punya karakter yang unik. Boni, misalnya, walaupun tinggal di kolong jembatan, tapi cinta kebersihan. Dia punya akses ke air PAM, raji mandi, dan kalo ada anak kecil main becekan dia tegur. Ho, pujangga jomblo yang sebenernya romantis, walau tongkrongannya mirip wewe. Titi, ibu 3 anak yang orangnya positif banget, selalu nampak riang gembira walau hidup susah.

Dan secara umum itulah warna utama film ini: bahwa ketiga tokohnya, walau hidup di jalanan, adalah orang-orang dengan kehidupan ‘normal’. Hidup di jalanan bukan berarti terus-menerus merana sedih, kok. Mereka bukan pengemis yang berharap belas kasihan orang, mereka adalah seniman-seniman yang butuh tempat berekspresi. Kebetulan aja tempat yang mereka pilih adalah jalanan.

Kesimpulannya, ini film super duper wajib tonton. Bukan demi “menggugah rasa kemanusiaan dan kepedulian” atau apalah, tapi biar kita bisa belajar bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang bisa diciptakan sendiri.

Walau di atas rumput plastik di kolong jembatan.

Iklan
Tinggalkan komentar

8 Komentar

  1. eh, ngikutinnya 7thn ya ? waktu itu denger di radio kaya’ 3thn ? *salah denger berarti*
    kata Daniel “kita sering bikin film tentang orang kaya pdhl yg nonton orang2 miskin, kenapa gak dibalik, bikin film tentang orang miskin, yg nonton orang2 kaya. dan saya terharu waktu liat yg nonton penuh dan mereka kasih apresiasi”.

    Suka

    Balas
    • Angkanya memang agak kurang jelas, tadi di radio bilangnya 5-6 th.
      Jadi pasnya berapa deh.

      Suka

  2. jadi film tanpa rekayasa yah?

    Suka

    Balas
  3. Nitip dvd aslinya kalau ada yg ke Indo…

    Suka

    Balas
  4. nunggu DVD aslinya ajah….

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: