[review] Evil Dead


Sejujurnya gue nggak terlalu tertarik sama film ini, tapi tetep gue tulis review-nya sebagai penyeimbang bahwa nggak bener semua film Hollywood itu bagus. Ini, adalah salah satu yang culun – dan sangat nggak kreatif.

Pertama-tama, ini adalah remake dari film berjudul sama keluaran tahun 1981, alias bukti lain dari penurunan kreativitas sineas Hollywood yang gue tulis di posting yang ini. Gue belum nonton film yang dulunya kayak apa, jadi gue nonton film ini tanpa pembanding. Dan karena dia digadang-gadang sebagai “The Most Terrifying Film You Will Ever Experience”, maka cukup tinggi lah harapan gue atas film ini.

Ceritanya ternyata sangat standar: 5 anak muda nginep di gubuk kayu terpencil di tengah hutan, kemudian mereka dimangsa iblis.

Kelemahan utama film ini buat gue adalah: dia melupakan esensi utama film horror, yaitu seberapa jauh penonton sudi untuk TAKUT bagi tokoh-tokoh dalam film tersebut. Maksud gue gini: penonton akan deg-degan, jerit-jerit, cemas, ngelihat tokoh-tokoh dalam film dimangsa iblis satu per satu HANYA kalo penonton PEDULI sama tokoh-tokoh tersebut. Dan, seperti kata pepatah, “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, kalo sutradara nggak menginvestasikan cukup waktu untuk memperkenalkan para tokoh, dan membuat penonton bersimpati kepada mereka, maka ketegangan filmnya nggak akan maksimal.

Sebagai perbandingan, coba tengok film Mama yang dirilis awal tahun ini. Tokoh yang dipasang adalah 2 gadis kecil lucu menggemaskan, di bawah asuhan sepasang tante dan oom yang baik hati dan rela berkorban bagi mereka. Sebuah komposisi yang membuat penonton jatuh hati, bukan? Maka saat keluarga tersebut terancam dicaplok setan, penonton ikutan cemas. Penonton nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga tersebut.

Di film Evil Dead ini gue nggak menangkap kesan yang sama. Mungkin karena kejar setoran untuk jadi film paling menakutkan dalam sejarah, adegan awalnya udah dibuat super sadis dan mencekam. Habis itu muncul 5 tokoh utama, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, iblis pun mulai mengejar-ngejar mereka. Dan terus terang, karena nggak merasakan ikatan batin dengan para tokoh tersebut, gue pun nggak terlalu peduli apakah mereka akan dicaplok iblis atau enggak. Tangannya putus? Sukur! Kepalanya pecah? Rasain!

Kelemahan berikutnya adalah, bahkan untuk sebuah film horror seharusnya ada satu aturan logika yang berlaku umum. Maksud gue, tolong perjelas dong, gimana cara kerja iblisnya. Awalnya terkesan bahwa iblis ini hanya akan merasuk ke satu orang, lalu orang itu akan mulai bertindak aneh dan membunuhi orang lainnya. Tapi ternyata di tengah film iblisnya bisa merasuk ke 2 orang sekaligus. Kalau memang bisa merasuk ke lebih dari 1 orang, kenapa nggak langsung merasuk ke lima-limanya aja sekaligus? Bukankah itu lebih praktis? Tentunya gue nggak lagi berharap bahwa sebuah film horror akan berjalan dalam runutan logika, tapi minimal kalo mereka udah menentukan sebuah aturan main periblisan, harusnya konsisten.

Itu bukan satu-satunya aturan yang dilanggar lho. Ada beberapa aturan lainnya, tapi kalo gue ceritain semua di sini entar dibilang spoiler, lagi.

Yang bikin gue terganggu juga adalah naskahnya. Memang ini film horror, tapi tolong dong, minimal bikin dialognya jangan yang mengundang penonton ingin nyeletuk.

Contoh:

Akibat kerasukan iblis, salah satu tokoh menancapkan sejumlah paku DI MUKANYA SENDIRI. Ya, itu nampak cukup ngilu, memang. Tapi rasa ngilu itu langsung lenyap kala si tokoh itu berujar, “Why does my face hurt?”

Kalo gue jadi tokoh lawan mainnya, mungkin akan jawab, “YA MENURUT NGANA?”

Gangguan lainnya adalah betapa banyak adegan basi film horror seperti mobil sulit distarter saat lagi diuber iblis, plus udah tau lagi ada bahaya tapi tokoh-tokohnya pada mencar-mencar sendiri-sendiri, atau mengumbar janji palsu, “Wait here, I’ll be right back.” Trus sedetik kemudian kepalanya belah.

Intinya, buat kalian yang terhibur kalo nonton adegan sadis, iris-mengiris daging manusia hidup, anggota tubuh copot, kepala pecah, muntahan muncrat, dan kulit meleleh, tanpa terganggu dengan runutan cerita yang kopong, silakan nonton film ini. Kalian akan puas sekali.

Untuk posting-posting terbaru gue seputar film, silakan klik Nonton Deh ya!

Iklan
Tinggalkan komentar

14 Komentar

  1. bapak rafi udah nonton film Hansel & Gretel belum ya, kan ada tokoh idolanya tuh. Pengen baca review versi mbotnya 😀

    Suka

    Balas
    • Udah dong! Hehe kok inget sih bahwa beliau adalah tokoh idola sayah

      Suka

    • inget soalnya di review terdahulu ada kata2 ajaib soal gemma, yg masalah baju kaya lap itu lah.
      Ayo direview filmnya, udah nonton tapi biar banyak fakta yg terlewat mesti kalo ga baca review mbot hihihi

      Suka

    • Kalo filmnya udah gak diputer di bioskop rada kurang semangat nulis reviewnya soalnya merasa kurang bermanfaat untuk calon penonton. Tapi boleh deh kapan2 kalo iseng. 🙂

      Suka

  2. hahahaha….bodo amat sama pilemnya, pokoknya aku suka baca review2nya, ini Iyog aja sampe’ ikutan ngikik2 :)))

    Suka

    Balas
    • Udah nonton film ini belum? Kalo udah, perhatikan proses gimana orang pertama kerasukan. Itu adalah pesan layanan masyarakat agar cewe-cewe tidak alpa memakai celana dalam saat bepergian.

      Suka

    • heavendrive

       /  18 Mei 2013

      Untung saya g suka lupa pake celana dalem…

      Suka

    • Bagus, pertahankan ya

      Suka

  3. ternyata nga sehebat review yang ada di yahoo, jadi males nonton deh kalo gitu *lebih percaya Mas Mbot daripada yahoo* 😀

    Suka

    Balas
  4. myfickleboon

     /  16 Mei 2013

    hahahahahahaha…

    Mas, gak minat bikin pelem Mas?

    Suka

    Balas
  5. hahaha baca reviewnya kog kaya film comedy alihalih horor..
    kalu mama udah nonton, yang ini belom.. ntar aja dah abis baca review ini jadi mikir nonton apa engganya.. nonton “what they dont talk about when they talk about love” dulu kali ya..

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: