Kunjungan ke Kantor Mulpid: “Copy Blog? Nggak Bisa!”


Jum’at 7 September 2012, perwakilan blogger Multiply mampir ke kantor Multiply Indonesia (Mulpid) di Gandaria City lantai 23 dengan agenda:

  1. Menanyakan kesiapan tool migrasi
  2. Meminta kesempatan untuk mengcopy isi blog ke dalam DVD

Kunjungan ini diprakarsai oleh Wib, dan disambut baik oleh sejumlah blogger yang rame-rame nitip minta dicopy-in juga ke DVD. Gue sendiri sebenernya pesimis mereka akan memenuhi permintaan kita, tapi karena kayaknya seru maka hari ini gue bela-belain cuti dari kantor untuk menyaksikan langsung peristiwanya.

Ini adalah laporan pandangan mata gue, yang ditulis dengan ingatan yang ala kadarnya akibat faktor usia plus kurang nyimak 100% karena disambi update Twitter. Laporan ini akan gue kelompokkan berdasarkan topiknya karena kalo berdasarkan kronologi udah lupa-lupa inget urutannya gimana.

Selamat menikmati.

Prolog:

Dalam personal message yang dikirimkan Wib kepada pihak Mulpid yaitu Stefan, Daniel, dan Nirmala, Wib bilang akan sampai di kantor Mulpid tanggal 7 September jam 2 siang. Gue, Wib, Arni (itsmearni), dan Tyas (mbaktyas) udah ngumpul di Gancit jam 2 kurang seperempat. Tapi karena masih ada beberapa blogger lain yang belum dateng dan minta ditungguin, akhirnya kami baru naik ke lantai 23 jam 3 lewat. Padahal jam 3 kurang seperempat Nirmala udah bales PM dari Wib menanyakan apakah jadi dateng atau enggak karena beliau masih banyak kesibukan yang lain.

Tentu aja dengan prakondisi seperti itu, kami disambut dengan wajah jutek oleh Nirmala. Apalagi hari itu nampaknya beliau sedang kurang sehat, batuk nggak berhenti-berhenti. Saking parahnya batuk beliau sampai beliau sulit menyelesaikan satu kalimat tanpa diseling batuk.

Rombongan kami dipersilakan masuk ke ruang meeting. Saat baru masuk ruang meeting, Ari (srisariningdiyah) yang baru pulang dari Jogja menyodorkan sekotak bakpia. Fetry (Fetryz) menyambut dengan candaan, “Ayo silakan dimakan hidangannya”. Candaan ini didengar oleh Nirmala, yang udah dasarnya bete karena tamunya telat, badan kurang sehat, rupanya jadi sensi. Beliau menyahut, “Maaf ya, kami nggak punya hidangan apa-apa. Adanya cuma apel. Mau?”

Tentu aja rombongan menolak, kalo nggak salah seseorang sempet bilang, “Nggak usah, ini udah ada minuman kok…” sambil nunjuk deretan botol Aqua di atas meja. Nirmala menyahut lagi, “Nggak papa kalo mau apelnya. Mau? Kalo mau saya ambilin.”

Abis itu suasana hening, nampaknya rombongan MP bingung gimana caranya menjawab tawaran apel yang disampaikan secara segitu sewotnya.

Krik-krik-krik.

That’s totally awkward.

Untunglah urusan apel segera terlupakan dan kami mulai masuk ke bahasan utama. Wib udah menyiapkan catatan tertulis agenda kunjungannya dan mulai membahas topik pertama, exporting tool. O iya, sebelumnya Nirmala juga berpesan agar pertemuan ini tidak direkam. Boleh dicatat dan ditulis di blog, tapi jangan direkam.

Nirmala mencoba menjawab, sambil terbatuk-batuk tanpa henti. Inti jawabannya ya kurang lebih harap sabar dan harap tunggu. Tiba-tiba muncul dua orang Mulpid lainnya, namanya Andi dan Tika. Tadi di twit gue sempet salah tulis jadi Mita. Entah kenapa kok salahnya jauh amat, dari Tika jadi Mita. Mungkin lagi-lagi karena faktor usia.

Begitu Andi muncul, beliau yang lebih aktif menjawab pertanyaan dari kami. Dan ajaibnya, begitu ada Andi yang mengambil alih pembicaraan, batuk Nirmala mendadak sembuh! Andi, nama panjang kamu pasti Konandin, karena kehadiranmu bisa menyembuhkan batuk seperti Konidin. Krik.

Sebagai pendahuluan, Andi menyatakan bahwa apapun yang disampaikannya dalam pertemuan ini BUKAN pernyataan resmi dari pihak Mulpid. Sebenernya beliau tidak berwenang menyampaikan informasi resmi, namun atas nama pribadi yang mencoba menghargai kehadiran para tamu, beliau mencoba menjawab. Akibat lainnya adalah, akan ada banyak informasi yang tidak bisa beliau jawab karena hanya diketahui jajaran elit Mulpid, dalam hal ini Stefan dan Daniel.

PENDEK cerita, ini dia ringkasan hasil pertemuan antara blogger dan Mulpid. Sekali lagi, mohon maaf kalo secara kronologis kurang urut, atau gue lupa persisnya siapa yang nanya dan siapa yang jawab. Bagi sesama anggota rombongan yang tadi hadir, silakan ditambahkan dan dikoreksi ya.

Exporting Tool

Exporting tool saat ini sedang digarap oleh Peter (Pez) dan Dave di Amerika sono. Buat yang nggak tau, Peter adalah pendiri Multiply yang kemudian menjual Multiply kepada Naspers. Naspers yang kemudian memutuskan untuk mengubah platform Multiply menjadi e-commerce dan berakibat terusirnya para blogger. Peter sendiri walaupun secara resmi udah nggak mengelola Multiply lagi, tapi dalam masa transisi ini masih bantu-bantu sampe Multiply sepenuhnya berubah jadi situs e-commerce.

Menurut Andi, baru 4 hari yang lalu versi beta Exporting Tool dikirim dari tim di Amerika untuk dicoba oleh staf Mulpid di Indonesia. Ternyata masih ada bug, sehingga masih perlu dibetulin lagi. Tapi ada 2 hal penting yang perlu kalian ketahui terkait Exporting Tool ini, yaitu:

1. Setting versi beta Exporting Tool yang ada sekarang baru mampu mengekspor blog MP ke Tumblr dan Blogspot.

Saat ditanya ‘kenapa pilihannya hanya 2 layanan itu?’ lagi-lagi Andi mengelak dengan bilang bahwa beliau tidak tahu-menahu pertimbangan tim perancang. Tapi dugaan Andi yang 2 itu dipilih karena dianggap platform yang paling populer. Andi bilang, mungkin kalo pilihannya baru dua itu dianggap kurang, tapi menurut dia lebih baik Exporting Tool jadi dulu dengan baru 2 pilihan platform tujuan daripada bikin terlalu banyak pilihan tapi nggak jadi-jadi.

Gue tadi ngasih tanggapan: kondisi Blogspot sama sekali nggak memungkinkan untuk menerima pindahan sebuah blog MP secara utuh, karena ada keterbatasan penampungan media.

Catatan: saat pertemuan gue sempet salah inget dengan bilang Blogspot ngelink dengan Flickr, ternyata setelah barusan gue cek ngelinknya sama Picassa. Ini bahkan lebih buruk lagi. Mengapa? Baca terus.

Yang gue sampaikan tadi:

Setiap akun Blogspot ngelink ke Flickr untuk penyimpanan fotonya. Jadi setiap posting blog yang disertai foto, fotonya akan disimpan di akun Flickr. Flickr tidak punya batasan jumlah maupun besaran byte foto yang bisa disimpan di dalam sebuah akun, tapi ada pembatasan besaran byte foto yang dapat diupload per bulan. Tadi gue ingetnya 100 MB, tapi barusan gue cek ternyata hanya 30 MB. Maksudnya gini: setiap bulannya kita hanya bisa mengupload foto sebesar total 30 MB ke sebuah akun Flickr. Kalo baru tengah bulan kita udah mengupload sebesar 30 MB, maka sampe akhir bulan kita nggak bisa mengupload foto lagi. Setelah ganti bulan, bisa lagi. Tapi nggak ada batasan total byte foto yang dapat disimpan dalam sebuah album.

Setelah barusan gue cek:

Ternyata Blogspot ngelink dengan Picassa, dan ternyata satu akun Picassa hanya mampu menampung foto sebesar 1 GB! Ini jelas nggak akan cukup nampung koleksi foto sebagian besar MPer yang banci foto dan bisa ngupload ratusan foto per album.

Sedangkan pilihan yang satunya, Tumblr, lebih nggak masuk akal lagi. Tumblr itu kan mini blog. Didesain untuk nampung posting-posting pendek atau 1 foto per posting. Jadi kayak apa bentuknya kalo kemasukan isi sebuah blog MP dengan ratusan tulisan yang masing-masing berisi beberapa foto, atau kemasukan album foto Multiply yang berisi ratusan foto?

Munculnya pilihan Tumblr dalam Exporting Tool Multiply menunjukkan mereka mengerjakan ini secara asal-asalan dan nggak melalui pertimbangan masak untuk memudahkan para blogger melanjutkan aktivitas ngeblognya di platform baru. Yang penting ada Export Tool, selesai urusan.

Gue tadi usul, gimana kalo Exporting Toolnya dirancang untuk bisa mengupload ke Photobucket juga. Seperti pernah gue bilang di posting yang ini, Photobucket nggak menetapkan batasan total byte yang bisa disimpan dalam satu akun. Batasannya cuma transaksi download per bulan maksimal 10 GB – angka yang lebih dari cukup untuk sebuah blog pribadi.

Yang gue bayangin, Exporting Tool ini bisa ngelink ke Blogspot dan Photobucket sekaligus. Waktu baru dijalanin user akan dimintan masukin username dan password untuk Blogspot dan Photobucket, lalu klik ‘Ok’. Exporting Tool secara otomatis akan memindahkan tulisan-tulisan di journal, review, recipe, dan market ke Blogspot, termasuk juga uraian pengantar untuk album foto, sedangkan fotonya sendiri diupload ke Photobucket.

Andi sih iya-iya aja dengan usul gue ini, serta berjanji akan menyampaikannya kepada Peter dan Dave. Amiiin.

2. Prioritas Fungsi Exporting Tool adalah Memindahkan Isi Blog MP ke… Harddisk!

Mungkin guenya yang terlalu banyak berharap, tapi selama ini gue ngira yang dimaksud dengan Exporting Tool adalah aplikasi untuk mindahin blog di MP ke blog di platform lain seperti Blogspot atau WordPress. Cukup jalanin aplikasinya, klik beberapa tombol, simsalabim kita punya blog baru di platform lain yang 100% sama dengan blog di MP.

Ternyata berdasarkan penjelasan Andi, kelihatannya Exporting Tool yang lagi dibuat ini diarahkan untuk sekedar mendownload blog ke harddisk. Sedangkan proses pemindahannya ke platform lain silakan urus sendiri-sendiri. Kalopun ada fungsi untuk mindahin ke Blogspot atau Tumblr seperti dijelasin sebelumnya, sifatnya hanya ‘bonus’ karena fungsi utama yang dikejar hanyalah sebagai downloader.

Jelas ini mengkhawatirkan banget, tapi lagi-lagi Andi hanya memposisikan diri sebagai penampung saran yang akan beliau teruskan kepada Peter dan Dave di Amerika.

Rekan-rekan MP yang hadir tadi juga menitip request agar Exporting Toolnya juga bisa mengeksport blog ke WordPress, Posterous, dan Xanga.

“Mengapa Stefan terlalu terburu-buru mengumumkan penghapusan blogger padahal Export Tool belum dibuat? Mengapa tidak tunggu Export Tool jadi baru bikin pengumuman?”

Andi: “Justru Stefan bermaksud baik dengan mengumumkan rencana ini sedini mungkin, sehingga orang bisa siap-siap lebih lama.”

“Kenapa kesannya terburu-buru sekali untuk menutup blogger? Apakah tidak bisa diundur?”

Andi: “Tidak bisa, kami harus sesuai jadwal tanggal 1 Desember karena terkait biaya server. Semakin lama kami mempertahankan social networking, semakin besar biaya yang harus kami bayarkan, khususnya untuk menampung foto. Tapi user di Indonesia bukan pengupload foto terbesar kok. Yang terbesar masih dari user-user di negara barat, Amerika, misalnya.”

Opsi Download Foto lebih Cepat: Mempremiumkan Seluruh Member Multiply

Sebagaimana pernah gue temukan bahwa para member premium punya kemudahan mendownload foto lewat media locker, gue usul agar menjelang 1 Desember fungsi tersebut dapat dinikmati oleh seluruh member, bukan hanya yang premium.

Andi: “Daripada begitu akan lebih mudah bagi kami untuk mempremiumkan seluruh member (mengubah status seluruh user dari reguler ke premium secara gratis). Usulnya kelihatannya bisa dijalankan, saya akan coba teruskan ke Stefan.”

Aaamiiin.

Apa dan Mengapa: Multiply Versi e-Commerce

Ketika ditanya seperti apa bentuk Multiply pasca 1 Desember 2012, Nirmala nggak bisa jawab karena beliau juga belum pernah lihat prototipnya. Yang jelas, per 1 Desember 2012 semua akun yang statusnya bukan online seller aktif akan dihapus.

Rupanya udah jadi ‘signature’ alias ciri khas dari Nirmala untuk memberikan penjelasan yang mengundang orang untuk bertanya lebih lanjut. Ini sungguh aneh mengingat jabatan beliau adalah sebagai Humas di Multiply. Berikut ini pertanyaan-pertanyaan susulan yang muncul akibat jawaban Nirmala di atas:

“…jadi, semua akun yang statusnya online seller nggak akan dihapus ya?”

Nirmala: “Ya dilihat dulu, aktif atau enggak.”

“Gimana cara menilai sebuah akun online seller aktif atau enggak?”

Nirmala: “Minimal punya dagangan di product listing, bukan cuma jualan di album foto atau jurnal.”

“Kalo sekarang, hari ini juga, saya ubah status akun saya jadi online seller, dan saya pasang dagangan di product listing, akun saya akan dihapus nggak per 1 Desember?”

Nirmala: “Emangnya mau jualan apa?”

Eeee… malah balik nanya.

Pertanyaan-pertanyaan lainnya yang diajukan kepada Nirmala antara lain:

“Bagaimana bentuk akun para online seller setelah 1 Desember? Apakah masih punya fitur journal, album photo dan lainnya seperti yang ada di akun Multiply sekarang?”

Nirmala: “Nggak tahu, karena saya juga belum lihat bentuknya.”

Keputusan Mengubah Multiply ke e-Commerce dan Menghilangkan Fungsi Social Networking

Penjelasan dari Andi:

Keputusan untuk mengubah bentuk Multiply menjadi e-Commerce datang dari Naspers sebagai pemilik baru yang tergiur melihat pangsa pasar Indonesia yang masih besar. Jadi tidak benar kalau rencana perubahan Multiply ke e-Commerce sudah ada sejak pembentukan kantor Multiply di Indonesia.

“Jadi saat Multiply baru masuk ke Indonesia, masih belum ada niatan mengusir blogger? Masih ingin mengelola social networking?”

Andi: “Betul. Cuma memang ada semacam pembagian tugas. Tim yang di Indonesia khusus bertugas mengembangkan e-Commerce, sedangkan untuk urusan terkait social networking dipegang tim di Amerika. Itu sebabnya kalo ada protes-protes dari blogger, tim di Indonesia terkesan kurang responsif karena memang diset itu bukan kerjaan kami. Kerjaan kami seharusnya cuma ngurusin perkembangan e-commerce. Masalah social networking seharusnya diurus oleh Peter di Amerika. Kalau ada pertanyaan terkait social networking seharusnya tim dari Amerika yang jawab.  Tapi buntut-buntutnya larinya ke kami juga sih.”

Perasaan dulu waktu perkenalan pertama dengan tim Multiply Indonesia ngomongnya gak gitu deh. Waktu itu seinget gue bilangnya blogger maupun seller akan dilayani oleh tim Multiply di Indonesia, dan sama-sama dikembangkan. Ah tapi mungkin guenya yang salah inget. Maklum, umur.

“Apakah keputusan untuk menghapus fungsi social networking sudah dipikirkan dari berbagai sudut oleh manajemen? Yang belum masuk akal bagi kami adalah: Multiply ini kan sebuah komunitas besar, ada pedagang dan ada pembeli. Pembelinya udah punya pedagang langganan masing-masing dan para pedagang juga merasa lebih nyaman jualan kepada pembeli yang udah dikenal, yang jelas identitasnya. Kenapa tiba-tiba pembeli potensialnya justru dihapus, yang sedikit banyak juga akan mempengaruhi para pedagangnya? Bukankah tugas kalian membantu para pedagang berjualan sebanyak-banyaknya?”

Andi: “Saya nggak tahu. Keputusan itu diambil di tingkat yang lebih tinggi dari saya, di tingkat Stefan dan Daniel dan mungkin Peter.”

“Tolong konfirmasi benar / tidaknya  dugaan berikut:

Selama ini para online seller nyaman bertransaksi menggunakan album foto dan berkirim personal message dengan para calon pembeli. Padahal kalian mengharapkan mereka bertransaksi lewat product listing, agar kalian bisa mengutip fee sebesar 3,9% Untuk memaksa para online seller bertransaksi lewat product listing, maka kalian menghapus seluruh fungsi social networking dengan konsekuensi mengusir para blogger. Benarkah demikian?”

Andi: “Tidak benar kami menghapus blogger karena ingin mengamankan fee yang 3,9%. Sampai saat ini fee 3,9% belum diberlakukan, dan tidak akan langsung diberlakukan pasca 1 Desember. Bahkan mungkin aja sampai 2 – 3 tahun ke depan fee 3,9% itu masih belum akan berlaku. Online seller masih tetap bisa memanfaatkan product listing secara gratis.”

“Kalau memang belum ada keuntungan langsung yang bisa didapat dengan memindahkan transaksi para online seller ke product listing, lantas kenapa kalian ngotot amat mendorong para online seller berjualan lewat product listing secepat mungkin? Apa untungnya buat Multiply?”

Andi: “Karena kami butuh data transaksi riil yang terjadi di Multiply ada berapa. Selama ini kalau online seller hanya bertransaksi di album foto, kami nggak tahu berapa nilainya. Yang bisa kami dapat hanya jumlah kunjungan ke album-album itu. Tapi kami nggak tahu berapa transaksi yang terjadi. Lalu bagaimana kami dapat mengembangkan bisnis Multiply kalau tingkat bisnis yang ada sekarang aja kami nggak tahu? Oleh karena itu kami perlu mendorong para online seller bertransaksi lewat product listing.”

“Ada sejumlah online seller yang merasa kurang nyaman menggunakan product listing dan lebih suka berjualan lewat album foto seperti dulu. Itu bagaimana mengatasinya?”

Andi: “Kami menemukan bahwa online seller yang lama memang sulit diajak berubah. Tapi di sisi yang bersamaan terus bermunculan online seller baru yang mau mengikuti ketentuan kami. Untuk kondisi seperti itu, artinya online seller yang nggak mau pakai product listing memang kurang cocok jualan di Multiply, silakan berjualan di tempat lain.

Kalo bayangan gue (bukan berdasarkan keterangan dari pihak Mulpid) Multiply pasca 1 Desember akan sangat mirip dengan Tokobagus.com. Jadi yang ada hanyalah product listing dan informasi akun-akun penjual barang di sana. Kalau kita klik nama akun penjualnya, kita akan sampai di ‘warung’ akun tersebut dan ngelihat barang-barang yang dia jual saja. Nggak ada fungsi kirim-kiriman message, yang ada hanya tombol untuk klik barang mana yang akan dibeli dan berapa jumlahnya. 

“Saat kantor Multiply di Indonesia, Anda dan Daniel sempat melontarkan ide kerja sama antara blogger dan online seller dalam bentuk blogger memberikan rating / review kepada para online seller langganannya. Review ini bisa menambah kredibilitas online seller, jadi sebagai alternatif sarana beriklan. Mengapa program itu tidak jadi dijalankan? Bukankah itu bisa jadi salah satu bentuk kerja sama yang saling menguntungkan antara online seller dan blogger?”

Andi: “Ya justru itu, kami tunggu-tunggu kenapa tidak ada blogger yang memulai?”

“Loh, kok jadi blogger yang harus memulai? Bukannya waktu itu bilangnya pihak Multiply yang akan menggodok bentuk kerja samanya? Mengapa bentuk kerja sama seperti ini tidak dicoba dulu sebelum memutuskan untuk menghapus para blogger?”

Andi: “Ya silakan aja kalau mau dicoba, kami tidak keberatan.”

“…” – pada diem, bingung ini tulalitnya di sebelah mana sik.

Pembagian Kewenangan Komunikasi dan Pakde Sumitro

“Tolong konfirmasikan dugaan kami berikut:

Kalian di Multiply ini punya aturan yang sangat ketat tentang pemberian pernyataan kepada publik. Akibatnya kalau ada pertanyaan dari member, kalian sering tidak menjawab – atau jawabannya muncul terlambat. Ketidakjelasan ini bikin para blogger kesal dan akhirnya bikin rusuh di jurnal. Betul demikian?”

Andi: “Bukan begitu. Ibaratnya Anda kerja di bank, divisi kartu kredit. Tiba-tiba ditanya orang tentang produk tabungan. Tentunya Anda nggak akan berani terlalu banyak bicara karena takut salah, kan? Kami juga begitu. Karena tugas kami di sini hanya mengembangkan e-commerce, maka kami nggak berani terlalu banyak jawab pertanyaan terkait social networking. Lagipula kalau ada pertanyaan kan kami sudah siapkan tim support.”

“Maksud kami reply-reply kami di jurnal, mengapa sering lambat di jawab?”

Andi: “Oh, maksudnya seperti kasus jurnal Darth Vader dulu itu ya, yang sampai ada yang pasang gambar pocong, juga muncul Pakde Sumitro segala…”

“Wah, kebetulan Anda menyebut soal Pakde Sumitro. Jadi benar ya, Pakde Sumitro itu orang Multiply?”

Andi: “Tolong hargai situasi dan kondisi kita sekarang ini. Anda sekalian berada di lingkungan kantor Multiply, di jam kantor pula. Saya sendiri harus memutus tele-conference dengan pihak Multiply Filipina demi menemui Anda sekalian. Tolong hargai itu dengan tidak bergosip atau membahas hal-hal yang kurang jelas. Kalau mau bahas itu, nantilah di luar jam kantor, kita nongkrong bareng, boleh bahas apa saja. Tapi sekarang, lebih baik membahas yang lebih penting saja.”

Catatan: Sebenernya kurang tepat kalo Andi menganalogikan pertanyaan dari blogger seperti orang kartu kredit ditanya soal tabungan, karena sebenarnya yang dipertanyakan para blogger dalam berbagai peristiwa ‘rusuh’ itu justru program-program pengembangan e-commerce. Misalnya, mengapa para pemenang lomba tertentu nampak seperti akun yang baru dibuat, mengapa hadiah untuk lomba tertentu tidak sesuai dengan yang dijanjikan, dan sebagainya. Itu ada dalam kewenagan dia untuk menjawab. Tapi ya sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, masih ada hal penting di depan yang perlu kita urus.

Ancaman Anonim terhadap Multiply

“Belakangan beredar ancaman yang bilang akan menyerang server Multiply tanggal 27 Oktober nanti. Bagaimana persiapan Anda menghadapinya?

Andi: “Saya yakin tidak akan ada masalah. Kami sering kok diserang. Server kami ada 500 lebih, tersebar di seluruh dunia. Nggak mungkin ada orang dari luar Multiply yang, mampu merusak semuanya sekaligus. Yang bisa menghancurkan semuanya sekaligus harus orang dalam, misalnya Peter.” (sambil ketawa)

Mengcopy Blog ke DVD

“Kami membawa amanat dari teman-teman untuk mencopy blog mereka ke dalam DVD. Ini kami juga bawa DVD kosongnya.”

Andi: “Tidak bisa, Mas. Kami tidak punya akses untuk mencopy konten langsung dari server. Kami mengakses konten di Multiply dengan cara yang sama dengan Anda kok, lewat browser.”

Kesimpulan:

Posisi tawar para blogger sangat lemah karena Mulpid nggak melihat adanya manfaat dari para blogger. Dengan demikian, jangan terlalu berharap segala protes / masukan / pertanyaan kita akan digubris.

Buat yang bercita-cita menyelamatkan konten blognya, selamat bekerja keras. Jangan terlalu berharap pada Exporter Tool yg masih belum jelas itu.

Kesimpulan utama:

…fiuh, akhirnya selesai juga. Ini tulisan terpanjang gue di tahun 2011. 2012

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

116 Komentar

  1. laporan pertemuan yang sangat panjang. dan saya sangat menikmatinya. 😀
    setelah membaca postingan ini, kok saya jadi merasa kalau MP itu jahat sekali dan sangat tamak ya? 😀

    tapi sudahlah. setidaknya MP pernah menjadi bagian yang menyenangkan dalam perjalanan hidupku…mereka pernah memberikan layanan blog gratis…saya mengapresiasi itu.

    mereka sudah cukup baik kok, krn membuat sarana export tool. ada banyak situs yang justru tidak menyediakannya…seperti Friendster dulu. saya tidak ingat kalau pernah diwadahi dengan fasilitas export tool…

    Suka

    Balas
    • Friendster kalo nggak salah bikin juga kok exporting toolnya, tapi berhubung saat dia tutup penggunanya udah tinggal dikit jadi kayaknya orang nggak terlalu peduli juga.

      Suka

  2. Semoga teman2 bisa segera menyelamatkan harta mereka yang berharga di MP sebelum hangus terbakar…:)

    Suka

    Balas
  3. Andi: “Tidak benar kami menghapus blogger karena ingin mengamankan fee yang 3,9%. Sampai saat ini fee 3,9% belum diberlakukan, dan tidak akan langsung diberlakukan pasca 1 Desember. Bahkan mungkin aja sampai 2 – 3 tahun ke depan fee 3,9% itu masih belum akan berlaku. Online seller masih tetap bisa memanfaatkan product listing secara gratis.”

    –> hihihi.. jelas2 orang idiot pun tau arahnya ke mana….makanya buru2. LOL.
    Dia bilang 3,9 persen tidak diberlakukan sampe 2 tahun. Ya itu kan hny pernyataan seorang andi. Yg balik lagi katanya “cuma” pendapat atas nama pribadi.. Bukan pernyataan resmi. Yang percaya ya monggo…cm siap2 aja utk gigit jari 😀

    Andi: “Kami menemukan bahwa online seller yang lama memang sulit diajak berubah.”

    —> Koreksi, sulit diajak berubah = sulit dipaksa mengikuti aturan sepihak.
    bukan manawarkan bentuk kerja sama dan tidak menyelesaikan masalah

    Andi: “di sisi yang bersamaan terus bermunculan online seller baru yang mau mengikuti ketentuan kami. ”

    –> Oh ya? good luck with that. *GRIN*

    Andi: ” Untuk kondisi seperti itu, artinya online seller yang nggak mau pakai product listing memang kurang cocok jualan di Multiply, silakan berjualan di tempat lain.”

    –> mojokoe memakai produk listing. tapi Saya juga tidak akan sudi bayar 3,9% terhadap perusahaan yang tidak bisa MENGHARGAI user nya. Silahkan jika memang banyak toko online store baru yang mau and good luck with that. Semoga setimpal dng apa yg sudah kalian korbankan semua. “Thank you very much, I’m sory goodbye – KD”

    Suka

    Balas
    • kayaknya mereka menunda 3,9% ini untuk menciptakan ketergantungan para online seller dulu. Kalo para OS udah merasa nyaman jualan di sistem MP baru, mereka mungkin nggak akan pindah walau aturan 3,9% diberlakukan.
      Pihak MP nampaknya menunggu tingkat ketergantungan ini semakin besar dulu

      Suka

  4. Nirmala: “Ya dilihat dulu, aktif atau enggak.”
    “Gimana cara menilai sebuah akun online seller aktif atau enggak?”
    Nirmala: “Minimal punya dagangan di product listing, bukan cuma jualan di album foto atau jurnal.”

    –> arti Akun seller “aktif” itu beneran cukup pny dagangan di Prod Listing? ? Atau yg sudah melakukan transkasksi di marketplace, yg dianggep seller yg aktif?
    Intinya kan yg 3,9 persen itu kan? LOL

    Suka

    Balas
  5. Andi: “Bukan begitu. Ibaratnya Anda kerja di bank, divisi kartu kredit. Tiba-tiba ditanya orang tentang produk tabungan. Tentunya Anda nggak akan berani terlalu banyak bicara karena takut salah, kan? Kami juga begitu. Karena tugas kami di sini hanya mengembangkan e-commerce, maka kami nggak berani terlalu banyak jawab pertanyaan terkait social networking. Lagipula kalau ada pertanyaan kan kami sudah siapkan tim support.”

    —> SETIAP pd permasalahan hny pd dng entengnya cuci tny aja…”Oh ini bukan tugas saya….itu bukan kapasitas saya.. ” dll Apa gunanya pny kantor yg megah di gandaria city dng puluhan karyawannya yg digaji oleh mp? Apa hny pd makan gaji buta saja? LOL

    Walo kata dia fungsi mp indo itu hanya khusus menangani e-commerce bla blabla..
    Tetap saja, MUltiply indonesia itu adalah perwakilan resmi dr multiply. lucu.. jelas2 indo sudah jadi kantor pusat multiply skrg. Jd apapun kendala yg dihadapi oleh para mpers yg di indo baik yg berhub ecommerce ato socmed nya, sudah SEWAJARNYA ditangani oleh kantor di multiply indo.

    Suka

    Balas
  6. lalu, apelnya jadi disuguhin nggak tuh? :))))

    Suka

    Balas
  7. meski jarang buka mp karena jaman diblok kominfo itu lho, sudah gurusan ke wp; tapi tetap gemes baca tulisannya mas mbot ini *nyomot apel, gigit gigit pereda kekesalan*. pemisahan e-commerce dan blog kata saya tidak sesuai dengan konsep penjualan di indonesia. wong kita jual beli kan biasanya lebih ke sesama yang kenal (lebih trust), dan biar kenal ya sharing kisah (blog) terus komen2an. ato itu mah nepotisme ya. ah mbot ah, eh mboh ah. jadi exporting tools bisa di download di mana? trims tulisannya.

    Suka

    Balas
    • export toolnya udah bisa dicoba dari link di bawah headshot di site multiply kita masing-masing. Tapi memang masih jauuuh dari harapan.

      Suka

  8. Reblogged this on Catatan Hidup and commented:
    catatannya lengkap puoll. keren mas mbot ulasannya.

    Suka

    Balas
  9. tulisannya lengkap. panjang kali lebar. jadi ngerti banyak.
    mp bisa kuwalat ama bloger.

    Suka

    Balas
  10. Mas mbot, mantap bener laporannya
    bagian yang paling aku inget adalah ketika Andi bilang, jangan sampe user yang di Amrik jadi ikutan datang ke Gancit, karena tau user Indonesia rame2 kesana
    Yang lalu diceletukin “khan bagus nambah wisatawan mancanegara”

    Lha itu artinya, mereka takut ya didatangi user, takut ya digeruduk ………………..

    Suka

    Balas
  11. dari dulu MP emang banyak gonjang ganjing [tp itu yg dr dulu jadi seru dan -secara ga langsung- bikin kita jadi terus ngempi].. tapi yg kali ini.. udah parah.. ancaman pemusnahan massal yak,,

    Suka

    Balas
    • Kl dulu gonjang-ganjingnya cm di tingkat user. Kl skrg udah di tingkat pengelola sih.

      Suka

  12. amariny

     /  10 September 2012

    Ingin tahu, apakah ID-blogger-MP setelah 1 dec apakah akan diberikan kepada OSeller?

    Suka

    Balas
  13. wah.. mulpid memang bikin sumpek.. -__-

    Suka

    Balas
  1. Kalau Saya Pekerja di Multiply | Ahmad Abdul Haq
  2. [review] Red Lights « (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: