The Adventures of Johnny Bunko


Adalah Sigit yang memperkenalkan gue dengan komik unik ini. Dia sendiri nemunya waktu lagi browsing ngelantur sana-sini dan terjerumus ke sebuah halaman yang memuat cuplikan komik ini dalam format flash.

Waktu itu kami mencoba mendownloadnya tapi gagal, dan cuplikannya hanya sampe bab 1. Kan bikin penasaran. Makanya pas hari ini nemu versi bahasa Indonesianya di Gramedia Plangi, langsung gue beli!

Komik ini unik dari berbagai segi.

Pertama, tentu aja, dari ceritanya. Johnny Bunko, tokoh utamanya, adalah seorang pegawai biasa-biasa aja yang kerja di tengah labirin kubikel. Sebenernya, dia berminat pada seni dan hobi nggambar, tapi orang-orang di sekitarnya mengarahkannya untuk sekolah dan bekerja di bidang akuntansi. Maka di sanalah dia sekarang, terjebak di tengah kubikel, mengerjakan pekerjaan yang nggak dia minati, dan mengalami krisis identitas karena merasa karirnya stuck dan masa depannya suram.

Pada suatu malam, bossnya yang sadis ngasih setumpuk kerjaan yang mengharuskan Johnny untuk nginep semaleman di kantor. Tengah malem dia kelaparan, lalu pergi ke kedai makanan Jepang nggak jauh dari kantornya. Makanan yang dia beli dibungkus dan dibawa balik ke kantor. Sebelumnya nggak lupa dia nyomot beberapa sumpit bambu sekali pakai.

Di kantor, Johnny mau mulai makann dan mengambil salah satu sumpitnya. Begitu sumpit itu dia pisahkan, tiba-tiba muncullah seorang peri! Peri bernama Diana ini bukan peri sembarang peri, tapi peri konsultan karir yang kemudian menjadi penasehat karir buat Johnny. Peri ini hanya akan muncul setiap kali Johnny memisahkan sumpit yang diambilnya dari kedai makanan Jepang malam itu.

Ide untuk menyampaikan pesan ‘serius’ lewat media komik memang bukan hal baru. Tapi yang menarik dari komik ini adalah bagaimana penulisnya merangkai kisah hidup Johnny sehingga pas dengan poin-poin penting yang hendak disampaikannya. Selain itu, komik ini juga nggak terjebak menjadi sekedar ilustrasi dari teori yang ‘kering’; karena unsur cerita dan hiburannya juga nggak diabaikan. Nggak mudah lho, untuk menyampaikan pesan serius dengan gaya yang seolah-olah bercanda dan enak dibaca seperti ini.

Keunikan yang ke dua adalah bagaimana Rob Ten Pas, ilustrator komik ini, menggunakan gaya manga yang sangat kental, padahal dia sendiri adalah seorang bule dari Amerika! Walaupun memang kalo diperhatiin, gaya manganya relatif lebih proporsional ketimbang manga Jepang, maksud gue nggak ada tokoh yang matanya segede apem atau kakinya sepanjang galah, tapi selebihnya bisa dibilang komik ini adalah manga. Mudah-mudahan aja nggak ada ABG penggemar manga yang salah comot dan misuh-misuh pas tahu isinya pelajaran manajemen karir, ya!

Intinya, hari ini gue senang karena penasaran bertahun-tahun yang lalu terbayarkan sudah. Gue rekomendasikan buku ini buat para pegawai biasa-biasa aja seperti gue yang mungkin lagi putus asa dan bingung menentukan arah karirnya.

Referensi:

Iklan
Tinggalkan komentar

4 Komentar

  1. sarahutami said: Bisa aja mas agung nemu barang bagus.

    kalo yang ini mah penemunya adalah Sigit 🙂

    Suka

    Balas
  2. Bisa aja mas agung nemu barang bagus.

    Suka

    Balas
  3. Sip. Dicari. Secara juga lagi nganggur hihi

    Suka

    Balas
  4. gw pernah liat komik yg mirip2 ini. tentang pekerja kantoran juga. judulnya working man..

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: