The Fighter


The Fighter Movie PosterCerita film ini berdasarkan kehidupan petinju Micky Ward, yang praktis cuma gue kenal kiprahnya dari game PS Fight Night. Yang menarik gue untuk nonton justru karena sebagai petinju, Micky Ward nggak kondang-kondang amat. Malah di Fight Night statistiknya nggak bagus-bagus amat. Setelah nonton filmnya, baru gue tau bahwa memang yang mau “dijual” bukanlah adegan tinju-tinjuannya.

Film dibuka dengan penggambaran bahwa Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah petinju yang rada telat memulai karirnya – karena di umur yang udah kepala tiga baru bertanding tiga kali dan kalah melulu. Dia dilatih oleh Dicky Ecklund (Christian Bale) kakak tirinya yang mantan petinju tapi sekarang udah jadi pengangguran pecandu narkoba. Selain kakak beradik ini, ada juga tokoh Alice (Melissa Leo) ibu Micky dan Dicky yang bertindak sebagai manager Micky, dan Charlene (Amy Adams) pramusaji bar yang kemudian pacaran dengan Micky.

Konflik mulai dibangun saat digambarkan Dicky terkesan asal-asalah melatih adiknya – maklum namanya juga orang teler – dan lagi-lagi membuat Micky kalah. Micky yang pada dasarnya kurang PeDe makin minder dengan kekalahannya itu. Charlene sebagai pacar terus memotivasi Micky, apalagi dengan adanya seorang promotor kaya yang bersedia membiayai Micky berlatih secara lebih profesional. Micky dihadapkan pada dilema: kalau ingin mengembangkan karirnya maka dia harus ‘tega’ meninggalkan manajemen keluarganya yang kacau balau itu. Di sisi lain, Dicky dengan caranya sendiri juga berusaha mendukung karir tinju adiknya dan ingin adiknya tetap berada di bawah manajemen keluarga.

Buat yang belum nonton film ini, gue sarankan mengatur ekspektasinya dulu. Film ini bukan film action, jadi jangan harap akan banyak adegan pukul-pukulan dramatis ala film Rocky. Malah mungkin porsi adegan tinju di film ini nggak sampe 10%. Yang jadi kekuatan film ini bukanlah adegan tinjunya, tapi penggambaran konflik berlapis yang meliputi para tokohnya. Micky: rendah diri, sayang keluarga tapi juga ingin karir tinjunya maju. Dicky: penderita post-power syndrome yang hidup di masa lalu, doyan mengulang-ulang kenangan manis waktu sempat menjatuhkan Sugar Ray Leonard tapi nggak berani menghadapi kenyataan, sayang keluarga, sayang adik, tapi pendek akal dan tukang bikin onar. Alice: ibu yang diam-diam pilih kasih pada anaknya, dan Charlene: pengidap rendah diri yang menemukan semangatnya pada orang lain. Saat terjadi perdebatan antar tokoh, dialog-dialognya terasa hidup karena masing-masing tokoh mengeluarkan argumen yang kuat mencerminkan sudut pandangnya. Selain itu, penggambaran tokohnya juga sangat manusiawi; nggak ada yang 100% jahat atau 100% baik.

Seperti dugaan gue, Christian Bale berhasil memenangkan Oscar dari perannya di film ini. Untuk memerankan seorang pecandu narkoba, Bale menurunkan berat secara ekstrim sampe tampangnya kayak orang sakit. Salah satu temen gue berkomentar, “Ya iyalah, dia kan dibayar mahal.” Nggak juga, ternyata. Sebagai film yang awalnya dianggap nggak akan terlalu sukses secara komersial, film ini nggak punya anggaran yang terlalu leluasa untuk menggaji para pemainnya. Bale ‘hanya’ dibayar 250.000 dolar saja. Bandingkan dengan waktu dia memainkan Batman – Dark Knight: bayarannya 38 juta dollar! Dari segi pemilihan pemain dan tata rias, film ini memang jeli. Coba liat dandanan Alice si ibu yang digambarkan agak sedikit kampungan, dan Ida pun berkomentar tega soal Charlene, “Hebat ya milih pemerannya, realistik, nggak milih pemeran yang cantik-cantik amat dan langsing-langsing amat…”

Faktor lain yang membuat film ini enak ditonton, bagi gue, adalah pemilihan tokoh Micky Ward sendiri. Dia adalah petinju yang cukup sukses, sempet jadi juara dunia, tapi nggak banyak orang kenal namanya dan tau cerita hidupnya. Maksud gue, beda dengan kalo kita nonton film tentang Muhammad Ali atau Mike Tyson; mungkin udah nggak akan terlalu seru lagi karena kita udah tau endingnya akan gimana. Film ini tetep mampu membuat penonton harap-harap cemas apakah tokoh utamanya akan memenangkan pertandingan.

Kesimpulannya: sebuah film sederhana yang menyajikan hubungan keluarga secara sangat realistis, dan tentunya menarik!

===

Kalo mau baca posting-posting terbaru gue soal film, silakan klik Nonton Deh!

Iklan
Tinggalkan komentar

10 Komentar

  1. Mas Agung, saya semangat nontonya karena udh baca review dari mas Agung…jadi seharusnya mas Agung mendapat sebagian royalti si pembuat film ini.. 😀

    Suka

    Balas
  2. memang film kelas oscar….

    Suka

    Balas
  3. Kenapa dibikin film ya, bukan sandiwara radio aja.

    Suka

    Balas
  4. Gak salah kalau jadi nominee Best Picture di AA 2011

    Suka

    Balas
  5. akhirnya review-nya muncul. thanks mbot!

    Suka

    Balas
  6. Bale emang edan. Mirip bgt sama aslinya waktu yg asli ngomong di akhir.

    Suka

    Balas
  7. Iya ini film keren banget, tadinya aku nolak2 nonton film ini, karena males liat tinju2an. Ternyata bagus!!!

    Suka

    Balas
  8. sempet juga berfikir kalo ini adalah ‘film tinju’ tapi akhirnya memang gak menyesal nonton film ini… 🙂

    Suka

    Balas
  9. yah…kirain pelem action.

    Suka

    Balas
  10. iya iya, keren banget!setuju sayah!

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: