Tolong, beri kami film horror yang serem


Pada suatu weekend yang iseng, Bondan terdampar sesiangan di rumah gue dan ternyata kami menemukan kesamaan minat: film horror. Sesiangan itu kami nonton 2 film horror, yang satu film Thailand berjudul “Ghost Game” dan satunya film Hollywood berjudul “Unrest”.

Berhubung sama-sama udah kebanyakan nonton film horror, maka acara nonton siang itu malah diisi dengan tebak-tebakan, “abis ini pasti gini deh ceritanya…”. Dan sialnya, seringkali tebakan kami bener!

Setelah kenyang keseringan bener nebaknya, yang muncul berikutnya adalah pertanyaan: “Film horror seperti apa sih yang menarik buat orang-orang yang udah keseringan nonton film horror?”

Karena untuk menjawab pertanyaan barusan butuh tingkat kreativitas tinggi serta pemikiran yang mendalam, sedangkan penonton awam seperti kami kan bisanya cuma komentar dan complain, maka gue mengubah pertanyaannya menjadi “Elemen apa dari film horror yang nggak lagi ingin kami lihat karena udah basi?”

Berikut ini daftarnya:

    1. Hukum kemunculan 180o: Setan selalu muncul dari kanan kalo tokohnya noleh ke kiri, dari bawah kalo tokohnya nengok ke atas, dst. Pokoknya, selalu datang dari arah yang berlawanan dengan arah pandangan tokoh. Hukum standar ini bikin setan jadi mudah ditebak, nggak ngagetin lagi. Film Alien udah mencoba pendekatan yang lumayan menarik, yaitu monsternya muncrat dari dalam perut. Itu awal yang baik, nah sekarang coba cari kemunculan yang lebih kreatif.
  • Bayangan gelap melintas di kejauhan. Ini hampir pasti ada di semua film horror. Bosen.
  • Setan / monster yang nggak terlalu jelas kebisaannya. Ini meliputi kuntilanak, pocong dan suster ngesot. Ya, mereka bisa cekikikan, loncat-loncat dan ngesot… terus, kenapa? Penonton jaman sekarang butuh ancaman yang betul-betul serius. Freddie itu cukup keren, orang lagi tidur baik-baik aja bisa dia gorok dalam mimpi. Tapi setelah setengah lusin sequel, Freddie udah kaya mas-mas yang nganterin air galonan: nggak serem lagi karena keseringan ketemu.
  • Hambatan teknis. Ini meliputi mobil susah distarter, dan kunci pintu susah dibuka saat tokoh lagi diuber-uber setan.
  • “Tunggu dulu di sini ya.” Dalam situasi genting, tokoh yang tinggal berdua selalu memisahkan diri. Logisnya sih kalo udah tau lagi diuber setan, pepatah yang dijunjung “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Memisahkan diri adalah pilihan yang sangat nggak masuk akal.
  • Alat musik gesek. Musik film horror selalu dipenuhi dengan suara-suara biola, cello, dan sejenisnya. Bosen. Angklung kek sekali-sekali.
  • Bisik-bisik. Masalahnya adalah nggak semua orang nonton film horror di bioskop. Kadang kami nonton pake DVD bajakan, dan belum ori pula. Setan yang terlalu gemar bisik-bisik akan mengaburkan alur cerita, oleh karena itu sebaiknya dikurangi porsinya.
  • Jorok. Ada satu periode di mana para pembuat film horror nampak putus ada cari cara baru nakut-nakutin penonton, dan sebagai gantinya mereka bikin adegan yang super jorok. Adegan muntah lendir ijo di The Exorcist, misalnya. Mas sutradara horor, tolong deh: kami ingin merinding, bukan mual.
  • Tokoh-tokoh non setan yang bergaya kayak setan. Ini penyakit pada film horror dengan setting daerah terpencil: ada tokoh bapak-bapak tua dengan tampang misterius yang pelit omong mengendap-endap ke sana ke mari seolah-olah jadi bagian dari aktivitas setan di sana. Biasanya terbukti enggak, dan ini ganggu.
  • Tokoh-tokoh sok berani yang penakut. Udah jelas tempatnya rumah tua angker, bekas ada pembunuhan, terkenal ada setannya, eh didatengin juga. Giliran beneran ketemu sama setannya: jerit-jerit. Atau kalo lagi dalam posisi dikejar-kejar setan, selalu larinya ke tempat yang paling gelap, paling sepi, dan paling tidak kondusif untuk mengamankan diri. Terlalu gampang ditebak, nggak seru. (Sumbangan dari jmave).

Nah itu tadi daftar yang nggak ingin kami lihat lagi karena udah basi. Tapi ada juga elemn-elemen yang walau udah basi dan udah hampir pasti ada di film horror, nggak kami rasakan sebagai elemen yang mengganggu / membosankan, yaitu tokoh cewek selalu bertank-top, beradegan mandi, dan/atau nyebur-nyebur ke air. Untuk yang tiga itu, kami nggak keberatan.

Gambar gue ambil dari sini, yang kebetulan juga ngebahas tentang tipikal film horror.

Untuk baca posting-posting lainnya tentang film, silakan mampir ke blog gue yang ini ya! 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

31 Komentar

  1. hahahaha. biasanya gw ngga suka nonton filem horor, bikin serangan jantung. tapi kalo trik2 nya kaya gitu doang, hunt horror movies ah

    Suka

    Balas
  2. qiqiqqiqiq

    Suka

    Balas
  3. Ah, daripada film horor, lebih horor lagi aslinya *misuh2*

    Suka

    Balas
  4. nambahin…..Elemen CerminHampir semua filem horor selalu melibatkan cermin. entah, pas nyetir lihat di cermin spion tengah ternyata di jok belakang ada setan, pas gosok gigi di kamar mandi ada setan di cermin, etc.contoh paling jelas, adalah the ring. sadako yang terlihat muncul di cermin.

    Suka

    Balas
  5. Jadi ngakak ngebayangin yg Jadi actornya sule

    Suka

    Balas
  6. Sy penakut bgt..dr semua film horor yg pernah d tonton emg agak kurang greget..Tp menurut sy 4bia (dr thai kl ga salah) yg plg serem..terutama di cerita terakhir yg di pesawat paling amit2, hahaa..Salam kenal 🙂

    Suka

    Balas
  7. Males nonton horor semenjak suzana gak ada..pesen satenya seratus tusuk bang..

    Suka

    Balas
  8. Males nonton horor semenjak suzana gak ada..pesen satenya seratus tusuk bang..

    Suka

    Balas
  9. uuuntuuuuung…….selama 3 hari nginep, gak ada setan yang nakutin saya .. selamet.. selamet.. *ngelus dada*…..

    Suka

    Balas
  1. [review] The Cabin in the Woods « (new) Mbot's HQ

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: