Oksimoron


cover oksimoron isman h suryamanPeringatan buat para calon pembaca: AWAS, jangan sampai (merasa) tertipu!

Gue beruntung dapet kesempatan jadi salah satu orang pertama yang ketipu sama buku ini. Waktu diminta Isman baca draft novelnya, maka yang ada di kepala gue “Penulisnya Isman, pasti komedi ini. Pasti!”

Lalu mulailah gue membaca. Setelah beberapa halaman lewat, gue mulai berubah pikiran. “Oh, ini drama. Drama komedi, mungkin. Tapi drama lah.” Gue terus membaca. Eh tiba-tiba ceritanya jadi action.

Kalo dilihat di kamus daring, kata “oksimoron” berarti “penempatan dua antonim dl suatu hubungan sintaksis (dl koordinasi atau subordinasi)” atau gampangnya “frase yang terdiri atas dua unsur saling bertolak belakang”. Buku ini, adalah contoh yang paling pas untuk menggambarkan seperti apa itu oksimoron. Kalian akan menemukan tiba-tiba ada adegan konyol terselip di tengah situasi serius, atau sebaliknya: makna dalam di tengah rentetan peristiwa sableng.

Tokoh utamanya adalah pasangan penganten baru Rine dan Alan. Rine bekerja di perusahaan konsultan yang didirikannya sendiri, sementara Alan adalah kolumnis olah raga di koran lokal. Karakter mereka bertolak belakang. Rine memandang segala sesuatu secara ‘dingin’ dan logis, sementara Alan adalah pelawak kompulsif yang nggak bisa menahan dorongan ngelawak sekalipun di tengah situasi yang sangat nggak tepat. Mereka berdua punya ‘kesepakatan’ untuk tidak akan punya anak, yang tentunya bikin para orangtua mereka senewen setengah mati. Padahal, misi hidup Rine dan Alan cuma sederhana: membuktikan bahwa frase “perkawinan bahagia” bukanlah sebuah oksimoron.

Inti ceritanya hanya seperti itu, sebenernya. Tapi yang kemudian bikin buku ini susah ditaro adalah bagaimana sepotong demi sepotong informasi tentang latar belakang Rine, Alan, dan orang-orang di sekitarnya terkuak. Makin ke belakang, jalinan latar belakang para tokoh bikin cerita ini makin seru. Apalagi ditambah dengan adanya beberapa peristiwa yang muncul tanpa diduga. Untuk pembaca seperti gue, yang bikin penasaran adalah pemikiran, “OK, lu asik-asik bikin konfliknya jadi ruwet kaya gini, tapi coba lihat, solusi seperti apa yang bisa lu tawarkan di akhir cerita nanti? Awas aja kalo maksa!”

Dari segi teknik bercerita, buku ini istimewa karena sangat konsisten menggambarkan secara netral peristiwa-peristiwa di dalamnya. Jadi daripada nulis “dia berteriak marah” – misalnya, Isman memilih untuk nulis “Ia berteriak keras, wajahnya merah padam dan urat lehernya nongol”. Dia sekedar menggambarkan peristiwa, dan membiarkan para pembaca mengambil kesimpulan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Teknik ini sukses bikin buku ini terasa sangat hidup, sangat ‘visual’. Rasanya bukan seperti baca buku tapi seperti nonton film. Adegan demi adegan di dalamnya seolah terjadi di depan mata kita. Kalau suatu hari nanti buku ini diangkat jadi film, penulis skenarionya adalah manusia dengan pekerjaaan paling gampang sedunia.

Maka, pesan terakhir bagi para pembaca: nikmati buku ini tanpa harus memusingkan ceritanya masuk kategori apa. Karena saat kalian sibuk menebak-nebak kategori, awas, bisa-bisa ada nunchaku nyamber di tengah-tengah cerita yang entah drama entah komedi ini!

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

21 Komentar

  1. The Mirror Has Two Faces itu Jeff Bridges yg jadi aktor utamanya.
    Thanks reviewnya. Ntar deh gue coba baca kalo dikasi pinjem.

    Suka

    Balas
  2. udah baca.. lumayan.. tapi buatku kok rada mengingatkan sama buku Test Pack nya Ninit ya..

    Suka

    Balas
  3. Tadi lagi kebingungan di toko buku mau beli buku apa, lalu baca resensi ini. Jd beli deh…

    Suka

    Balas
  4. wikan said: jadi intinya drama komedi action?

    nanti kalo udah baca bisa menyimpulkan sendiri deh.

    Suka

    Balas
  5. thefool said: Makasih resensinya, Guuuung! 😀

    sama-sama Maaan….

    Suka

    Balas
  6. debapirez said: sepertinya menarik 😉

    memang kok. baca deh.

    Suka

    Balas
  7. jadi intinya drama komedi action?

    Suka

    Balas
  8. Makasih resensinya, Guuuung! 😀

    Suka

    Balas
  9. mbot said: the mirror has two faces

    oooh, iya, itu kyknyah..parah emang..

    Suka

    Balas
  10. sepertinya menarik 😉

    Suka

    Balas
  11. mbaknuri said: Endingnya jadi maksa apa nggak?

    nah, untuk tau soal itu harus baca langsung bukunya 🙂

    Suka

    Balas
  12. beautterfly said: Ada film jg yg bercerita ttg sepasang suami istri yg sepakat ga akan berhub badan.. Krn pernikhn bkn utk itu saja.. Pemeran istriny si barbara streissand. Lupa judul n pemeran suaminy..

    itu the mirror has two faces. tokoh cowoknya berkeyakinan seks akan merusak sebuah hubungan, maka dia mencari perempuan tanpa daya tarik seks untuk dikawini. maka dipilihlah barbara streissand. haha, jahat. uniknya, film ini disutradarai oleh barbara streissand sendiri.

    Suka

    Balas
  13. aghnellia said: Berapa harganya? Btw rafi msh penuh baterenya?:)

    kalo beli di inibuku.com cuma 45 ribu.

    Suka

    Balas
  14. Endingnya jadi maksa apa nggak?

    Suka

    Balas
  15. Ada film jg yg bercerita ttg sepasang suami istri yg sepakat ga akan berhub badan.. Krn pernikhn bkn utk itu saja.. Pemeran istriny si barbara streissand. Lupa judul n pemeran suaminy..

    Suka

    Balas
  16. Berapa harganya? Btw rafi msh penuh baterenya?:)

    Suka

    Balas
  17. aghnellia said: Udah terbit yah?

    udah, ayo beli

    Suka

    Balas
  18. Udah terbit yah?

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: