siapa bilang kerja di rumah itu enak?


Karena gue adalah seorang pegawai yang berdedikasi tinggi terhadap perusahaan (ehm), gue berencana menghabiskan hari Minggu siang untuk menyelesaikan sebuah tugas mengedit video training. Tapi kayaknya, gue memilih hari yang salah.

Hari ini, Ida harus pergi sesiangan karena ada janji ketemu dengan beberapa calon downline oriflamenya. Sedangkan kedua orang mbak asisten rumah tangga sejak kemarin udah minta ijin untuk pergi jalan-jalan ke bonbin Ragunan. Tinggal gue berdua dengan Rafi si bocah keriting di rumah.

Sebelum mulai gue berpesan kepada Rafi, “Rafi, bapak mau kerja ketik-ketik di komputer. Rafi nonton Playhouse Disney aja ya, mau?”
“Iya bapak,” jawabnya manis.
Lima menit kemudian dia menyatroni gue di kamar kerja.

“Bapak, ini piala apa?”
“Itu piala dari bunda.”
“Kenapa bunda kasih piala ke bapak?”
“Karena bunda sayang sama bapak.”
“Trus, pialanya buat apa?”
“Ya ditaro aja di situ. Udah sana, Rafi nonton Playhouse ya.”

Dia pergi, dan lima menit kemudian datang lagi.
“Bapak, ini piala apa?”

Pikir-pikir, seharusnya perusahaan-perusahaan asuransi atau kartu kredit mempekerjakan bocah-bocah balita untuk jadi tenaga sales. Mereka punya kemampuan luar biasa untuk nanya hal yang sama berulang-ulang, tanpa sedikitpun ada tanda-tanda sungkan atau bosan.

“Rafi, sekarang bapak mau kerja ketik-ketik. Rafi main sendiri ya.”
“Iya bapak. Tapi… Rafi kehausan. Mau minum air putih, bapak.”
“Itu di meja ada air putih.”
“Nggak mau, itu air putihnya udah lama, udah kotor.”
Maka pergilah gue mengambilkan air putih.

Baru lima menit masa tenang berlalu, kembali terdengar langkah kaki-kaki empuk itu mengendap-endap di belakang gue.
“Kenapa lagi, Rafi?”
“Rafi ingin menggambar, bapak. Minta kertas.”
Gue bangun lagi, ngambil kertas.

Baru semenit duduk…
“Bapak, ini piala apa?”

OK, ini video nggak akan mungkin beres kalo bocah ini nggak dibungkam. Playhouse Disney kurang mujarab, maka satu-satunya cara adalah: tidur siang.

“Rafi, gimana kalo sekarang Rafi tidur dulu. Nanti kalo Rafi udah tidur, kita pergi ke rumah eyang. Mau?”
“Mau! Mau! Tapi sekarang Rafi diceritain Bapak dulu?”
“Iya.”
Maka pergilah kami ke kamar. Setelah ritual rutin cuci kaki dan pipis dulu, gue membacakan buku cerita Thomas si kereta. Nggak tanggung-tanggung, 6 buku sekaligus gue bacain. Ada cerita Thomas mengantar ikan, Toby mengantar susu, James mengantar batu bara, dan lain-lain.

Setelah selesai membacakan 6 buku, gue bilang, “Nah, udah diceritain Bapak, sekarang Rafi tidur ya.”
“Mau dipijetin dulu, Bapak.”
Dasar bocah ajaib, kecil-kecil doyan pijet. Sambil tidur-tiduran gue pijetin punggungnya, dan… lama-lama kok ikutan ngantuk ya…

Sial, GUE KETIDURAN! Begitu bangun gue nyari HP untuk ngeliat jam, damn, udah jam setengah 6 sore! Gue noleh ke sebelah, si bocah nampak masih pules tidur. Lega. Masih ada waktu untuk kerja tanpa gangguan. Buru-buru gue berdiri untuk nerusin ngedit video.Tapi, paaas baru mau buka pintu kamar terdengar suara di belakang gue, “Bapak… Rafi udah tidur, sekarang kita pergi ke rumah eyang ya?”

Hmm… siapa bilang kerja di rumah itu enak?

Iklan
Tinggalkan komentar

23 Komentar

  1. rirhikyu

     /  13 Agustus 2012

    Wkwkwkwk, makanya, minggu tuh hari keluarga, jangan bawa kerjaan ke rumah :)))

    Suka

    Balas
  2. Semoga deh bisnis si bunda nggak sia2.

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: