shrek forever after


Setelah hidup tenang bersama Fiona dan tiga anak kembarnya, Shrek mulai merasa hidupnya membosankan. Setiap hari berjalan dengan pola yang sama, hingga puncaknya di pesta ulang tahun pertama anak-anaknya, Shrek ‘meledak’ dan jadi tontonan para tamu.

Sementara itu, diam-diam ada orang yang dendam kesumat terhadap Shrek, yaitu Rumpelstiltskin. Rupanya dia pernah nyaris mendapatkan kontrak untuk merebut tahta kerajaan Far Far Away, andaikan aja Shrek nggak muncul menyelamatkan Fiona dari tawanan naga.

Nasib mempertemukan Shrek dan Rumpelstiltskin, dan Rumpelstiltskin berhasil menjebak Shrek untuk menandatangani kontrak “Being Ogre for a Day”. Dalam kontrak itu, Shrek boleh menikmati kehidupan bebas merdeka sebagai Ogre lajang selama sehari. Sebagai imbalannya, Rumpelstiltskin boleh mengambil satu hari dalam kehidupan Shrek.

Ternyata hari yang diambil oleh Rumpelstiltskin adalah hari kelahiran Shrek. Sebagai akibatnya, Shrek terjebak dalam kehidupan ‘dimensi alternatif’ di mana dirinya nggak pernah dilahirkan di dunia, nggak pernah menyelamatkan Fiona dan nggak pernah berkenalan dengan Puss dan Donkey.

Satu-satunya hal yang bisa membatalkan perjanjian sihir itu adalah apabila di akhir hari Shrek bisa mendapatkan ciuman dari cinta sejatinya, Fiona. Padahal boro-boro kasih ciuman, Fiona yang di dunia alternatif itu udah jadi dedengkot pemimpin gerakan pemberontakan para Ogre nampak sama sekali nggak tertarik dengan urusan cinta-cintaan.

Komentar gue:

Tema “nyebur ke dimensi lain” boleh dibilang adalah tema yang paling basi di kancah perfilman Holywood. Biasanya tema ini dipake kalo kisah sebuah film udah mentok dan sulit dikembangin ke arah manapun, sehingga dibuatlah suatu kondisi di mana para tokohnya berada dalam konteks yang sama sekali baru. Ibarat komputer, di-reset dan diformat ulang. Jadi, dari tema cerita, film Shrek ke empat ini adalah yang paling maksa dan paling nggak penting, menurut gue.

Tapi untunglah dari segi penggarapan, Shrek FA masih jauh lebih baik daripada Shrek the Third. Inget nggak, yang terakhirnya ada adegan tokoh Arthur pidato panjang lebar di panggung dan semua orang jahat menjadi sadar – mirip tokoh pak RT menyadarkan para pemuda berandalan di fragmen TVRI tahun 80-an? Nah, Shrek FA untungnya nggak separah itu.

Masih ada celotehan cerewet si donkey, masih ada plesetan dongeng-dongeng terkenal (walaupun porsinya jauh lebih sedikit ketimbang yang ada di Shrek 1 dan 2, yang terbaik dari 4 film Shrek yang pernah dibuat menurut gue), dan yang paling kocak adalah kondisi si Puss di dimensi alternatif yang jauh berbeda dari biasanya. Bahkan di beberapa adegan ada dialog-dialog yang cukup ‘cerdas’ dan menyentuh, seperti misalnya waktu Fiona bicara 4 mata dengan Shrek di pesta ulang tahun anak-anaknya. Cuma secara umum banyak adegan yang mau nggak mau seperti mengulang Shrek pertama, karena di dimensi alternatif ini semua tokohnya belum saling mengenal.

Walaupun begitu, jelas bahwa serial Shrek udah kehabisan bensin, dan untunglah pihak studio di akhir tahun 2009 kemarin mengumumkan pembatalan Shrek ke 5.

Iklan
Tinggalkan komentar

8 Komentar

  1. untung blom nonton. thX 4 the review.

    Suka

    Balas
  2. iya lumayan lahh.. daripada yg ketiga garing & boring banget… ini masih enak diliat & diikutin. gw suka bagian si cat & donkey ngobrolDonkey: Man, you are a cat-tastrophe.Puss in Boots: And you, are ri-donk-ulous.cerdas! =))

    Suka

    Balas
  3. disini belum main filmnya…*selalu deh ketinggalan*

    Suka

    Balas
  4. Kalo dibandingin sama Shrek 3, yang ini jauh lebih baik. Dialognya banyak yang lucu. Tapi yang paling juara waktu si Puss merosot dengan perut buncit nya =)

    Suka

    Balas
  5. Horeeee.. keluar juga reviewnya.. rencana nonton klw sudah keluar disini..

    Suka

    Balas
  6. sangat tidak shrek ini film…maksa abis

    Suka

    Balas
  7. ailtje said: Berencana menonton, hmmmm…jadi mikir-mikir kalau reviewannya jelek gini.

    nggak jelek2 amat kok, minimal lebih baik dari yang nomer 3

    Suka

    Balas
  8. Berencana menonton, hmmmm…jadi mikir-mikir kalau reviewannya jelek gini.

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: