dongeng-dongeng sinting


dragonMasih dalam rangka perjalanan panjang mengumpulkan dongeng yang mendidik buat Rafi, belakangan ini gue banyak nyari-nyari sumber literatur, baik buku maupun website yang memuat kumpulan dongeng. Ternyata, semakin banyak gue baca tentang dongeng dan legenda, gue malah semakin bingung dengan apa sih yang ada di pikiran orang-orang yang menciptakan cerita-cerita itu?

Cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari, misalnya. Jaka Tarub berburu di hutan, kesasar sampe nemu telaga ajaib tempat bidadari mandi. Jaka Tarub ngintip bidadari mandi, kesengsem, lantas nyolong salah satu selendangnya. Tentunya dia berani melakukan ini karena tujuh-tujuhnya bidadari. Comot selendang yang mana aja udah pasti pemiliknya bidadari, jaminan mutu. Coba kalo misalkan komposisinya 3 bidadari dan 4 pegulat sumo, mungkin dia agak berpikir ulang dengan probabilita di bawah 50% tersebut (terlepas dari kondisi bahwa umumnya pegulat sumo tidak berselendang).
Singkat cerita, bidadari yang kehilangan selendang nggak bisa terbang balik ke kahyangan, Jaka Tarub tampil sok pahlawan lantas berhasil mengawini sang bidadari malang.Dia lantas hidup enak dengan fasilitas nggak perlu lagi menumbuk padi untuk makan nasi. Berkat kesaktiannya, nyonya bidadari bisa masak nasi sepanci penuh cukup dengan menaruh sebutir beras. Tapi karena Jaka Tarub penasaran buka-buka panci, kesaktian itu luntur dan sang bidadari harus kembali menumbuk beras seperti ibu-ibu lainnya.
Akhir cerita, sang bidadari berhasil nemuin selendangnya yang diumpetin Jaka Tarub, dan buru-buru cabut balik ke kahyangan.

Coba, dengan cerita semacam ini, pesan moral apa yang bisa gue turunkan kepada si bocah Rafi? Apakah…

  • …hati-hatilah memilih tempat mandi, agar tidak jadi korban tindak voyeurisme dan pencurian?
  • …kalo ketemu cewek yang lo mau, gunakanlah segala tipu daya agar bisa dapet – urusan lainnya belakangan?
  • …kalo habis melakukan kejahatan, segera singkirkan barang bukti agar gak ketahuan?

Dongeng aneh lainnya adalah dongeng Putri yang Sempurna. Ceritanya, seperti biasa, sepasang raja dan ratu pusing nyari calon istri yang sempurna untuk sang pangeran tampan yang karena satu dan lain hal nampak kurang pergaulan sehingga udah capek-capek jadi pangeran tampan masih aja susah cari jodoh sementara di luar sana banyak abang bajaj berbini tiga.
Akhirnya datanglah seorang putri yang dites harus tidur di atas 20 lapis kasur yang di lapis terbawahnya diletakkan sebutir kacang polong. Ternyata putri itu kesulitan tidur karena dia masih mampu merasakan kehadiran si kacang polong, maka dengan demikian raja, ratu dan pangeran tampan berkesimpulan bahwa dia adalah putri yang sempurna yang layak untuk menjadi istri pangeran.

Pesan moral?

  • Hidup seorang pangeran mungkin terlalu mudah dan datar sehingga dia merasa perlu untuk memperistri perempuan yang mampu mendeteksi kacang polong di balik 20 lapis kasur. Bayangin kaya apa rewelnya perempuan itu saat AC mati.

 

  • Penentuan kriteria sebaiknya dilakukan secara ekstra hati-hati karena perlu dipertanyakan relevansi antara kemampuan mendeteksi kacang polong dengan kesempurnaan menjadi putri.
  • Akal sehat juga bermanfaat saat mencari jodoh. Kalo gue jadi putrinya, dan tiba-tiba disuruh tidur di atas tempat tidur aneh dengan 20 kasur, maka secara nalar sederhana gue akan langsung curiga, pasti ada apa-apanya nih. Jadi begitu besok paginya gue ditanya bisa tidur nyenyak atau enggak, gue bilang aja enggak bisa tidur sekalipun kenyataannya semalem gue tidur sampe ngorok – langsung deh dapet pangeran tampan.

 

Berikutnya, dongeng Lara Jonggrang. Intinya dia dilamar oleh Bandung Bondowoso, cowok yang menurut dia ‘enggak level banget’. Bukannya pilih cara simpel dengan bilang ‘enggak’, dia malah ngajuin syarat yang menurut dia mustahil yaitu menggali sumur Jalatunda dan membangun 1000 candi sebelum fajar. Saat syarat pertama berhasil terpenuhi dan syarat ke dua nyaris berhasil juga, Lara Jonggrang panik dan main curang dengan cara mengerahkan kroco-kroconya untuk mensimulasikan situasi fajar dengan menumbuk lesung dan membangunkan ayam. Saat itu sudah jadi 999 candi. Akibatnya Bandung Bondowoso marah dan mengutuk Lara Jonggrang jadi arca, melengkapi kompleks candi ciptaannya menjadi 1.000*.

Apa pesan moralnya?

  • Kejujuran itu berat, maka daripada repot berkata jujur, buatlah alasan yang mengada-ada?

 

  • Keselamatan yang utama, maka segala jalan boleh ditempuh asalkan selamat?
  • Kesaktian tanpa akal sehat tidak akan membawa hasil yang menggembirakan? Faktanya si Bandung ini cukup sakti, tapi bukannya menggunakan kesaktiannya untuk melet Roro Jonggrang, dia malah mengubahnya jadi arca. It’s a lose-lose solution, Man. Bandung, lu kelonin deh tuh arca.

 

Tapi semua cerita itu nggak bisa mengalahkan keanehan cerita berjudul Batu Panjang, dari Jambi. Ceritanya ada seorang putri yang tinggal bersama keluarga besarnya. Suatu malem, kakeknya pulang bawa ikan, dan si putri ini merengek minta ikan pada kakeknya. Kakeknya nyuruh dia minta sama neneknya. Neneknya nyuruh dia minta sama ayahnya, dan seterusnya hingga intinya si putri ini frustrasi karena cuma minta ikan sepotong aja birokrasinya berbelit amat.
Dia pergi ke luar rumah, naik ke atas batu, lantas nyanyi. Setiap kali selesai satu lagu, batunya terangkat dari tanah. Dia nyanyi lagi, batunya terangkat makin tinggi. Habis itu kayaknya dia nyanyi lagu yang cukup panjang, mungkin medley antara Bohemian Rhapsody dan November Rain, sehingga akhirnya batu itu sampai di bulan. Begitu sang putri berhasil mendarat di bulan, dia menendang batu itu balik ke bumi. Di bumi, batu itu nyangsang di sebuah bukit dan dikenal dengan nama “Batu Panjang”. Keluarga putri itu pun menyesal karena merasa kehilangan sang putri. Sedangkan sang putri nggak diceritakan, apakah dia senang atau enggak di bulan. Mungkin menyesal juga, karena di bulan mana ada ikan?

Apakah pesan moralnya?

  • Kalo anak minta ikan, udah lah kasih aja daripada dia nendang-nendang batu dari bulan. Iya kalo nyangsangnya di bukit kosong, kalo di komplek perumahan gimana? Bisa jadi urusan polisi.

 

  • Kalo mau tinggal di Indonesia, bersiaplah menghadapi birokrasi berbelit. Kalo nggak sudi, sono tinggal aja di bulan.

 

Kalo begini caranya, kayaknya memang bapaknya harus berupaya ekstra dengan bikin dongeng sendiri yang muatan pesannya lebih positif. Atau ada yang mau berbagi dongeng yang positif, tidak mengandung tipu-menipu maupun kutuk-mengutuk?

*Ngomong-ngomong, di Candi Sewu sebenernya cuma ada 250-an candi. Dekat pun enggak dengan angka 1.000. Pulau Seribu, ternyata cuma punya 11 pulau. Hewan berkaki 1.000 alias millipede (milli=1.000, pede=kaki) rata-rata cuma punya 36 – 400 kaki, walaupun ada satu spesies langka yang punya 750 kaki. Kesimpulannya? Sejak jaman dulu orang memang cenderung main mark-up, kalo ngeliat sesuatu yang rada banyak dikit langsung ambil angka gedean biar “bulet”. Makanya nggak usah banyak heran kalo denger orang bikin proyek senilai 250 juta, ngajuin anggarannya 1 miliar.

Referensi:

Gambar gue pinjem dari sini.

Tinggalkan komentar

74 Komentar

  1. kalau baca tulisan diatas beserta komennya. sepertinya dalem banget tapi yang jelas tidak usah diperdebatkan. orang tua tinggal meilah aja mana yang terbaik buat putra putrinya apakah itu pantas atau tidak. dan peran orang tua juga harus mampu menjelaskan makna dari sebuah cerita secara positif meskipun banyak hal-hal yang diluar nalar ambil yang positif aja. ga perlu mencerca cerita persi lama ataupun baru. atau memperdebatkan cara berpikir orang pendahulu kita dengan jaman moderen. masa kanak-kanak adalah masa bermain imajinasi arahkan saja imajinasinya ke hal positif tidak usah mencela. saya juga penulis dan saya juga sering didongegi waktu kecil. mungkin ketika dewasa saya banyak berpikir kejangalan-kejanggalan dalam sebuah dongeng tapi waktu kecil happy aja tuh berimajinasi, entah itu bertemu bidadari atau mahluk-mahluk dalam dongeng. tinggal bagai mana orang tua memberikan pemahaman ketika anak mulai keritis soal sebuah cerita. tapi melihat tulisan anda semua saya jadi lebih berhati-hati dalam membauat sebuah cerita. jangan-jangan dikeritik habis-habisan tapi ga apa-apa selama itu membangun bukan mencerca.

    Suka

    Balas
  2. bwahaha..another kocak, cerdas, nyinyir writing from mas Agung *thumbs up and down, and up, and down..🙂

    Suka

    Balas
  3. ini dongeng versi kilat..Pada jaman dahulu kalabelum ada hutan belum ada pohonbelum ada sungaibelum ada hewanbelum ada manusiajd belum ada apa apa sama sekalibelum ada dongeng jugayuk tidur aja…

    Suka

    Balas
  4. Hm… Abis baca ulasan Mbot jadi ragu2 mo ceritin dongeng lokal ke anak gw. Tapi gw juga mau dia kenal dongeng2 lokal. Gimana dong??

    Suka

    Balas
  5. mbot said: Akal sehat juga bermanfaat saat mencari jodoh. Kalo gue jadi putrinya, dan tiba-tiba disuruh tidur di atas tempat tidur aneh dengan 20 kasur, maka secara nalar sederhana gue akan langsung curiga, pasti ada apa-apanya nih. Jadi begitu besok paginya gue ditanya bisa tidur nyenyak atau enggak, gue bilang aja enggak bisa tidur sekalipun kenyataannya semalem gue tidur sampe ngorok – langsung deh dapet pangeran tampan.

    Ah. Kok nggak pernah mikir sampai sini, ya… Dulu cuma “ini dongeng kok aneh bener”. Waktu SD pernah baca salah satu versinya dalam kumpulan dongeng yang semua kisahnya dikasih ilustrasi hewan-hewan, jadinya tambah absurd melihat gambar kasur warna-warni ditumpuk tuinggiii dengan si putri (entah rubah entah beruang, lupa dia divisualisasikan sebagai hewan apa) bersiap naik ke atasnya.

    Suka

    Balas
  6. trus ada dongeng yang disarankan? mestinya sih dongengnya bisa sama, tapi dikondisikan sesuai dengan jaman terkini, misalnya bidadari-nya gak lagi mandi, tapi lagi Spa. Bukan ngintip, tapi browsing. Ada yang bisa me-modernisasi dongeng klasik?

    Suka

    Balas
  7. Aku pernah salah beli buku buat keponakan gara2 ga dibaca dulu isinya, ceritanya tentang monyet yg setia menjaga seorang raja hingga menghabisi nyamuk yg menghinggapi tuannya yg sedang terlelap dengan sebilah bedang, walhasil sang raja mati mengenaskan gara2 si monyet penjaga yg kesetiaannya lebay abis, ckckck.. Abis baca langsung ta’ suwek2 tuh buku, menyesatkan!

    Suka

    Balas
  8. Nih satu lagi informasi, gue dokumentasikan di sini.(tenang gung… setiap ada info yang nyantol akan gue tambahin di sini sampe mudah-mudahan nyampe 12 juta reply)Habis ngejawabin kang tian di catatan isengnya, gejala permisifnya masyarakat dulu sama dendam kesumat misalnya bisa dilihat di China.Cahkwe, (pernah makan kan?) yang artinya “hantu digoreng” asal muasalnya adalah dari nama Qin Kwai pengkhianat kerajaan china.Bentuknya yang sepasang terigu nempel ternyata melambangkan citra betapa horornya masyarakat jaman itu karena terigu tak berdosa itu merupakan perlambang Qin Kuai dan istrinya yang disatukan, digoreng dengan minyak panas… lalu dimakan.edan?

    Suka

    Balas
  9. mungkin ngga sesaklek spt itu. maksudnya pergeseran nilainya tidak harus berarti masy dulu emang doyan mengutuk dan mengumbar dendam kesumat. gw pikir lebih ke soal permisif. satu conto misal lagu ambilkan bulan bu. tau lagunya kan? salah satu syairnya bebunyi “di langit bulan benderang… cahyanya sampai ke bintang”mungkin jaman skrg nyanyiin utk anak lagu itu bisa menimbulkan pertanyaan yg sama. “yang nyiptain lagu ini mikirnya gimana sih..”gw sih yakin si pembuat lagu pasti juga tau kalo bukan bulan yang bersinar ~doi cuma mantulin sinar matahari~ dan sebaliknya justru bintang yg mengeluarkan cahaya. yakin dia tahu begitu, krn itu pengetahuan dasar ilmu alam. lalu kenapa kok masih bikin syair yg ga akurat begitu?di sini menurut gw mah bisa dilihat pergeseran nilainya.masy jaman dulu ngga terlalu menganggap penting akurasi sedetil itu.akibatnya si pembuat lagu yg hidup dalam konteks masy spt itu ya merasa cuek bebek menciptakan syair dg kebenaran yg ngawur.dan masy konsumen lagunya pun memang cukup permisif dg ketidak-akuratan. lagunya laku diapresiasi dan diterima baik.jaman skrg dg tingkat permisif masy yg makin kritis, seniman mungkin akan lebih hati2 kalo bikin syair ngawur.baca buku novel fiksi semacam triloginya dee atau imperianya akmal nasery basral, kita lihat gimana novel fiksi penuh dg catatan kaki berisi data fact dan literatur kayak skripsi.kenapa pengarang fiksi kok perlu2nya ngasi footnote begitu?jawabanya antara lain ya karena konsep berpikir masy jaman skrg mungkin makin kritis dan membutuhkan detil referensi spt itu. walau secara estetika halaman novelnya jadi aneh dan tak sedap dipandang apalagi dijilat.dalam soal kutuk mengutuk dan dendam kesumat, gw pikir soal permisif itu yg bermain jadi faktor besarnya.plus, spt disebut dlm salah satu reply di atas, konsep pendidikan anak masy dulu juga masih lekat dg pola nakut2in ala feodal. dan jangan lupa juga faktor lain, bahwa folklore atau cerita rakyat itu dulu diturunkan generasi demi generasi bukan liwat bahasa tulisan, tapi bahasa tutur. dalam penyampaian via bahasa lisan yang fleksibel selipan nasihat di antara alur cerita akan lebih luas kesempatannya dibanding bahasa tulisan yg lebih mementingkan alur cerita dulu dan selipan nasihatnya di bagian akhir cerita.bergeser jauh? tentu aja.tapi ngomong2 soal geser menggeser, reply gw yang cerdas tangkas ini sudah bisa menggeser citra gila dari sosok gw di benak elu belom?oh ya tambahan informasi,cerdas tangkas itu bukan sodaranya cerdas barus.yg terakhir itu nama pemain catur.ok boss?

    Suka

    Balas
  10. dbaonkagain said: Mbot menyesatkan orang nih.Membaca mbot mermang musti hati-hati. karena dibalik bahasa humornya, seringkali ia menyodorkan persoalan berat yang bukan cuma soalan haha dan hihihi belaka.Seperti kali ini, paling tidak ada dua point penting yang diajukan lewat jurnal dalam bahasa mbeling di atas.Yang pertama, soal pergeseran nilai dalam masyarakat, atau dalam bahasa panjangnya: pergeseran konsep berpikir dalam masyarakat.Dongeng-dongeng yang dibikin di masa lalu, memang pastinya dibuat sesuai dengan konteks masyarakat masa itu, dan karenanya sesuai dengan konsep berpikir yang mereka miliki.Akibatnya, ketika dongeng itu dibaca dan diinterpretasi ulang dengan konsep berpikir masa kini, tentu saja sering njomplang tatanan nilai yang terkandung di dalamnya.Tapi kalau kita menyadari bahwa pergeseran semacam itu memang terjadi, kita ndak perlu terlalu gelisah.Dalam dongeng yang lebih modern, semisal superman atau alur cerita komik misalnya, pergeseran itu juga tampak jelas. jaman dulu tokoh pakai celana dalem diluar terkesan citranya sungguh keren, tapi di jaman sekarang konsep seperti itu jadi bahan olok-olok sehingga tokoh-tokoh superhero (komikal) yangh diciptakan di masa sekarang sudah meninggalkan konsep celana dalam di luar.Dalam alur cerita pun demikian juga.Kalau dulu cerita komik selalu hitam putih, dan themanya melulu cerita soal si jahat lawan si pembela kebenaran, jaman sekarang warna hitam-putihnya semakin bias, dan akibatnya cerita yang dibuat juga bergeser dan merambah ke mana-mana : politik, atau hal-hal lain yang penuh intrik rumit.Dalam persoalan lain, hal seperti itu juga terjadi.Hal yang berat seperti hukum misalnya.Kalau kita baca-baca situs yang memuat tentang dumb law (silahkan rajin dikit ngegugel dengan kata kunci dumb law, weird law atau stupid law), maka kita bisa ketawa-ketiwi membaca bagaimana aturan-aturan hukum yang diciptakan di era-era lalu pun bisa jadi dangat ganjil dan menggelikan. Satu contoh, misalkan di Alabama, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, pernah ada aturan perundangan yang menyatakan sebagai sebuah pelanggaran hukum kalau anda memakai kumis palsu di gereja yang bisa membuat orang tertawa. Itu hanya satu contoh dan mungkin kurang tepat menjadi analogi dari premis “nilai” dongeng yang diajukan mbot. Tapi anda bisa cari-cari banyak klausul hukum/aturan perundangan yang dibuat di masa lalu begitu ajaib kalau kita interpretasikan dengan konsep berpikir di masa sekarang ini.Point kedua yang lebih penting diajukan mbot dalam jurnal di atas, adalah persoalan yang dihadapi kita sebagai orang tua untuk memperkenalkan nilai-nilai yang termuat dalam dongeng-dongeng kanak-kanak yang dibuat di masa lalu (yang dibuat dengan logika dan konsep berpikir masyarakat jadul itu) pada anak-anak kita, dan menselaraskannya dengan konsep yang berpikir dan logika yang hidup dimasa kini.Ini bukan persoalan enteng memang.Dan juga bukan cuma persoalan dongeng. Karena dalam konteks lain, upaya menginterpretasikan ulang nilai-nilai lama dan menyesuaikannnya dengan lingkup dunia masa kini terjadi dalam bidang-bidang lain, bahkan dalam soal yang sangat krusial seperti aturan agama. Gerakan Jaringan Islam Liberal yang digagas Ulil Abshar Abdala, misalnya, sesungguhnya bermain dengan konteks berpikir yang sama (dan kebanyakan ditentang karena satu dua alasan — berbeda dengan menginterpretasikan ulang “dongeng” biasanya lebih mudah diterima — tapi kita jangan bahas soal JIL nanti jadi pokok bahasan yang gawat).Persoalan penting dalam proyek “interpretasi ulang” dongeng kanak-kanak (apalagi legenda) adalah soal otentifikasi.Saya sendiri merasa mbot merasa sangat sayang kalau hanya karena alasan “menyesuaikan dengan konsep berpikir kekinian” kemudian mengubah detil jalan cerita legenda, atau memilih tidak menceritakannya sama sekali dan menggunakan cerita-cerita kontemporer yang lebih mudah diinterpretasi karena memang dibuat di masa kini yang sesuai dengan konsep pikir dan logika masa kini yang kita miliki (buktinya dalam jurnal ini mbot mengajukan cerita legenda rakyat).Mbot se[pertinya berpesan : Anak-anak kita harus tetap mengenal dongeng-dongen itu secara otentik. Apalagi soal cerita legenda, karena itu adalah bagian dari budaya kita. Mengubahnya karena alasan pragmatis, maka kita akan berhadapan dengan semakin menghilangnya cerita-cerita asli rakyat kita. Sungguh sayang bukan kalau seratus tahun lagi cucu-cucu kita tahunya Sangkuriang itu bukan mengidap oedipus kompleks tapi malah jadi hombreng. Ia nggak nendang perahu berubah jadi gunung tapi menggunakan meriam proton untuk membelah gungung dan memindahkannya ke bumi daerah bandung.Artinya, mbot secara cerdas dan tetap penuh humor sebenarnya sedang mengajarkan pada kita satu persoalan besar : Kita butuh kebijakan dan kecerdikan lebih untuk bisa mencapai win-win solution. Anak kita tetap mendapatkan nilai-nilai positif yang sesuai dengan logika dan konsep berpikir masa kini, tetapi juga tidak kehilangan akar budayanya.Bagaimana caranya? Justru itu yang diajukan mbot untuk anda pikirkan bersama-sama.Eniwe, jurnal ini membuktikan. Kita memang harus ekstra hati-hati membaca jurnalnya mbot. Meluputkan pesan-pesan dari kecerdasan mbot dengan mengira ia cuma gemar bercerita haha-hihi belaka, pastilah kita akan jadi orang yang merugi.Rugira kata orang Jepang yang nggak bisa melafalkan huruf L.:-p

    Standing applause …

    Suka

    Balas
  11. dbaonkagain said: Mbot menyesatkan orang nih.Membaca mbot mermang musti hati-hati. karena dibalik bahasa humornya, seringkali ia menyodorkan persoalan berat yang bukan cuma soalan haha dan hihihi belaka.Seperti kali ini, paling tidak ada dua point penting yang diajukan lewat jurnal dalam bahasa mbeling di atas.Yang pertama, soal pergeseran nilai dalam masyarakat, atau dalam bahasa panjangnya: pergeseran konsep berpikir dalam masyarakat.Dongeng-dongeng yang dibikin di masa lalu, memang pastinya dibuat sesuai dengan konteks masyarakat masa itu, dan karenanya sesuai dengan konsep berpikir yang mereka miliki.Akibatnya, ketika dongeng itu dibaca dan diinterpretasi ulang dengan konsep berpikir masa kini, tentu saja sering njomplang tatanan nilai yang terkandung di dalamnya.Tapi kalau kita menyadari bahwa pergeseran semacam itu memang terjadi, kita ndak perlu terlalu gelisah.Dalam dongeng yang lebih modern, semisal superman atau alur cerita komik misalnya, pergeseran itu juga tampak jelas. jaman dulu tokoh pakai celana dalem diluar terkesan citranya sungguh keren, tapi di jaman sekarang konsep seperti itu jadi bahan olok-olok sehingga tokoh-tokoh superhero (komikal) yangh diciptakan di masa sekarang sudah meninggalkan konsep celana dalam di luar.Dalam alur cerita pun demikian juga.Kalau dulu cerita komik selalu hitam putih, dan themanya melulu cerita soal si jahat lawan si pembela kebenaran, jaman sekarang warna hitam-putihnya semakin bias, dan akibatnya cerita yang dibuat juga bergeser dan merambah ke mana-mana : politik, atau hal-hal lain yang penuh intrik rumit.Dalam persoalan lain, hal seperti itu juga terjadi.Hal yang berat seperti hukum misalnya.Kalau kita baca-baca situs yang memuat tentang dumb law (silahkan rajin dikit ngegugel dengan kata kunci dumb law, weird law atau stupid law), maka kita bisa ketawa-ketiwi membaca bagaimana aturan-aturan hukum yang diciptakan di era-era lalu pun bisa jadi dangat ganjil dan menggelikan. Satu contoh, misalkan di Alabama, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, pernah ada aturan perundangan yang menyatakan sebagai sebuah pelanggaran hukum kalau anda memakai kumis palsu di gereja yang bisa membuat orang tertawa. Itu hanya satu contoh dan mungkin kurang tepat menjadi analogi dari premis “nilai” dongeng yang diajukan mbot. Tapi anda bisa cari-cari banyak klausul hukum/aturan perundangan yang dibuat di masa lalu begitu ajaib kalau kita interpretasikan dengan konsep berpikir di masa sekarang ini.Point kedua yang lebih penting diajukan mbot dalam jurnal di atas, adalah persoalan yang dihadapi kita sebagai orang tua untuk memperkenalkan nilai-nilai yang termuat dalam dongeng-dongeng kanak-kanak yang dibuat di masa lalu (yang dibuat dengan logika dan konsep berpikir masyarakat jadul itu) pada anak-anak kita, dan menselaraskannya dengan konsep yang berpikir dan logika yang hidup dimasa kini.Ini bukan persoalan enteng memang.Dan juga bukan cuma persoalan dongeng. Karena dalam konteks lain, upaya menginterpretasikan ulang nilai-nilai lama dan menyesuaikannnya dengan lingkup dunia masa kini terjadi dalam bidang-bidang lain, bahkan dalam soal yang sangat krusial seperti aturan agama. Gerakan Jaringan Islam Liberal yang digagas Ulil Abshar Abdala, misalnya, sesungguhnya bermain dengan konteks berpikir yang sama (dan kebanyakan ditentang karena satu dua alasan — berbeda dengan menginterpretasikan ulang “dongeng” biasanya lebih mudah diterima — tapi kita jangan bahas soal JIL nanti jadi pokok bahasan yang gawat).Persoalan penting dalam proyek “interpretasi ulang” dongeng kanak-kanak (apalagi legenda) adalah soal otentifikasi.Saya sendiri merasa mbot merasa sangat sayang kalau hanya karena alasan “menyesuaikan dengan konsep berpikir kekinian” kemudian mengubah detil jalan cerita legenda, atau memilih tidak menceritakannya sama sekali dan menggunakan cerita-cerita kontemporer yang lebih mudah diinterpretasi karena memang dibuat di masa kini yang sesuai dengan konsep pikir dan logika masa kini yang kita miliki (buktinya dalam jurnal ini mbot mengajukan cerita legenda rakyat).Mbot se[pertinya berpesan : Anak-anak kita harus tetap mengenal dongeng-dongen itu secara otentik. Apalagi soal cerita legenda, karena itu adalah bagian dari budaya kita. Mengubahnya karena alasan pragmatis, maka kita akan berhadapan dengan semakin menghilangnya cerita-cerita asli rakyat kita. Sungguh sayang bukan kalau seratus tahun lagi cucu-cucu kita tahunya Sangkuriang itu bukan mengidap oedipus kompleks tapi malah jadi hombreng. Ia nggak nendang perahu berubah jadi gunung tapi menggunakan meriam proton untuk membelah gungung dan memindahkannya ke bumi daerah bandung.Artinya, mbot secara cerdas dan tetap penuh humor sebenarnya sedang mengajarkan pada kita satu persoalan besar : Kita butuh kebijakan dan kecerdikan lebih untuk bisa mencapai win-win solution. Anak kita tetap mendapatkan nilai-nilai positif yang sesuai dengan logika dan konsep berpikir masa kini, tetapi juga tidak kehilangan akar budayanya.Bagaimana caranya? Justru itu yang diajukan mbot untuk anda pikirkan bersama-sama.Eniwe, jurnal ini membuktikan. Kita memang harus ekstra hati-hati membaca jurnalnya mbot. Meluputkan pesan-pesan dari kecerdasan mbot dengan mengira ia cuma gemar bercerita haha-hihi belaka, pastilah kita akan jadi orang yang merugi.Rugira kata orang Jepang yang nggak bisa melafalkan huruf L.:-p

    duh baonk… baru kali ini gue diinterpretasi kaya pergerakan harga saham.waktu nulis sih gue nggak mikir sejauh elu, tapi setelah baca reply lu ya… bener juga sih, udah terjadi pergeseran nilai sehingga dongeng-dongeng itu terdengar ajaib di kuping orang jaman sekarang. tapi artinya, pergeserannya lumayan jauh juga ya, kalo ngelihat betapa tindak kutuk-mengutuk dan dendam kesumat begitu mendapat tempat di kehidupan orang jaman dulu.

    Suka

    Balas
  12. marzland said: hahahahhahahha.. itu yg puteri ke bulan cuma gara2 ikan kok gue ngenesss banget ya.. mungkin harus dibikin spin off, gimana kehidupan puteri di bulan…😛

    mungkin setelah frustrasi karena di bulan juga nggak ada ikan, dia balik ke bumi dan menendang batu ke bulan – itulah asal-usul mengapa permukaan bulan bolong-bolong… (?)

    Suka

    Balas
  13. orinkeren said: hahahahaha ketawa dulu ah. lucu ya. bagus deh. artinya bukan gwe satu2nya orang yang “aneh” karena merasa janggal dengan cerita2 dongeng itu😀http://orinkeren.multiply.com/journal/item/619/IBU_KERBAUhttp://orinkeren.multiply.com/journal/item/618

    hehehe… iya, cerita kerbau itu sungguh anehhhh…

    Suka

    Balas
  14. trully said: emang ya byk dongeng yg sinting :pkalo dipikir2 ga layak diceritain ke anak2 :)Kayak temen di dongeng minggu, waktu itu dia mau dongeng Timun Mas ke anak2, ceritanya dia ubah, si timunmasnya dikejar2 raksasa bukan mo dikawinin sama raksasa, tapi diubah timunmas-nya mau disuruh kerja sama raksasa, hehe…Jadi emang pendongengnya yg kudu kreatif & selektif🙂

    jadi si raksasa di sini berperan sebagai calon majikan yang sangat ‘bersemangat’ ya? hehehe

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Komentar Terbaru

    apinn95 di [2012-003] Mau gampang? Ya jan…
    Sandra Buana Sari di Manusia Ibarat Kertas…
    ganganjanuar di Manusia Ibarat Kertas…
    mbot di Manusia Ibarat Kertas…
    mbot di Manusia Ibarat Kertas…
    ganganjanuar di Manusia Ibarat Kertas…
    omnduut di Manusia Ibarat Kertas…
    Rezky Yayang Yakhami… di Kenapa Orang Tersinggung?
    fe13bi di Kenapa Orang Tersinggung?
    mbot di Kenapa Orang Tersinggung?
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 4.158 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Jepret!

    Dia nggak bilang pejalan kakinya manusia kan... Siapa tau yang dimaksud tokek. 
#spanduk #koplak #superindo #tokek #pengumuman #tebet Hati2 kalo nanya sama psikolog asal jeplak gini

#whatsapp #psikolog #chat #konsultasi Kamu seperti... #jemuran #hujan #inget #gombal #meme Silakan add, @bangjoni udah live di Line! Pentingnya grammar
#stiker #sticker #grammar #fail #jakarta #traffic #car Bang Joni akan live di Line! 
#chat #bangjoni One question: HOW? 
#bajaj #jakarta #parkir #got #ajaib #koplak Psychology Class of 91 Silvery Reunion. 
Reunion, reunited. Today. 
#reunion #friends #ui #psikologiui #psikologi #silvery Simbol status
#rokok #cukai #50ribu #harga #meme
  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
    • Review: 5th Wave (2016) 17 Januari 2016
      Coba deh tonton trailer film ini:Action? Check.Alien? Check.Chloë Grace Moretz? Check.Jelas, gue langsung memutuskan nonton.Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.Begitu filmnya mulai, adegan dibuka den […]
    • Review: Ngenest: Kadang Hidup Perlu Ditertawakan (2015) 5 Januari 2016
      Tentang kenapa di sini kaum Cina ‘diperlakukan khusus’ adalah pertanyaan yang belum berhasil gue temuin jawabannya. Kenapa kita bisa santai bilang, “Si Joko Jawa, Si Tigor Batak, Si Asep orang Sunda,” tapi giliran “Si Ling Ling” mendadak kagok, lantas jadi nginggris: “Chinese”? Atau yang lebih absurd lagi: pencanangan sebutan Cina diganti jadi Tionghoa oleh […]
    • Obrolan Film Merangkap Ujian Kesabaran 9 April 2015
      Setiap orang punya penghayatan beda tentang film. Ada yang suka ngapalin berbagai detil tentang film favoritnya, ada juga yang bisa inget judul aja udah syukur. Sah-sah aja sih sebenernya. Yang bikin senewen adalah NGEDENGERIN orang-orang tipe terakhir saling ngobrol. Kemarin, karena udah kemaleman untuk jalan kaki, gue pulang naik angkot. Di dalemnya ada 2 […]
    • Review: Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) 6 April 2015
      Baru kali ini gue sampe merasa perlu "belajar" dulu sebelum nonton film. Ada dua pemicunya. Pengalaman nonton film Lincoln: udah mana pengetahuan gue tentang sejarah Amerika minim banget, cuma ngerti Lincoln itu anti perbudakan dan matinya ditembak, eh di filmnya muncul tokoh banyak banget yang mukanya nampak sama semua karena rata-rata berewokan.  […]
    • Battle of Surabaya: Menikmati Seriusnya Proses Jualan Film 23 Maret 2015
      Seumur-umur jadi penggemar film Indonesia, baru kali ini gue ngelihat film yang upaya pemasarannya seserius ini. Bayangin aja, filmnya belum jadi, tapi trailernya udah didaftarin ikut lomba. Eh, masuk nominasi di Golden Trailer Award, bahkan menang di International Movie Trailer Festival. Ngomong-ngomong, baru sekarang loh gue tau ada festival untuk trailer […]
    • Preview: Tomorrowland (2015) 11 Maret 2015
      Gue pertama kali nonton teaser trailer film ini tahun lalu, dan langsung memutuskan akan nonton. Adegannya bikin penasaran banget: ada seorang cewek ABG yang mendadak bisa pindah lokasi saat menyentuh sebuah pin berlogo T. Pin apa itu? Kenapa dia bisa mindahin orang? Pindahnya ke mana? Sukses banget trailernya bikin orang penasaran ingin nonton film ini.Baru […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Banyak orang gagal jalanin MLM? Bukan..mereka BERHENTI. 1 September 2016
      'Udah pernah join dulu mbak, tapi gagal….’ Pernah denger kalimat ini saat mengajak seseorang join oriflame? Saya sering..  Alasan ‘kegagalan’-nya macam-macam.. Ada yg karena modalnya mandeg gara-gara jualan produk oriflamenya sistem hutang maka menilai bisnisnya gagal , ada yg ditolak 10 orang lalu merasa gak bakat dan gagal, ada yg gak naik-naik level […]
    • Konsultan Oriflame seperti siapakah Anda: Neil Armstrong atau Lance Armstrong? 26 Agustus 2016
      Ada dua orang Armstrong yang menempati ruang khusus di hati rakyat Amerika. Keduanya berjasa, telah terbukti komitmennya, dan menunjukkan keberanian yang menginspirasi banyak orang. Namun, kisah mereka memiliki akhir yang berbeda.Yang pertama adalah Neil Armstrong, astronot Amerika. Sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di bulan, namanya kondang ke se […]
    • Bangga Jualan, Sekarang Juga! 25 Agustus 2016
      "Malu Jualan", barengan sama "Gampang Percaya Hoax" dan "Jam Karet"adalah kebiasaan-kebiasaan yang penting segera diberantas karena bikin Indonesia susah maju. Tapi "Malu Jualan" adalah yang paling parah. Beberapa waktu lalu, seorang teman yang lama nggak kedengeran kabarnya tiba-tiba muncul dengan pertanyaan, "Gu […]
    • Kerja Oriflame itu seperti apa sih? 24 Agustus 2016
      Dulu, waktu pertama kali baca tentang Oriflame, liat cerita sukses para top leader yang berhasil dapat penghasilan bulanan hingga puluhan juta, dapat mobil, jalan-jalan ke luar negeri, aku bertanya-tanya, "Ini kerjanya gimana sih sebenernya? Kok kayaknya seru banget. Nggak harus terikat jam kerja kayak kantoran tapi bisa pada punya uang jutaan!" Se […]
    • Skin Pro Oriflame, Membersihkan Wajah 5x Lebih Bersih 23 Agustus 2016
      Membersihkan wajah itu penting! Aku menyarankan metode 2 langkah untuk pembersihan wajah, yaitu: 1. Susu Pembersih 2. Toner Untuk menuntaskan pembersihan, kita mencuci muka menggunakan sabun muka yang sesuai dengan jenis kulit. Cuci muka pakai tangan saja hasilnya ternyata kurang maksimal, karena kotoran dalam pori-pori tidak bisa terangkat sepenuhnya. Orifl […]
    • Edukasi MLM untuk Abang Gojek 22 Agustus 2016
      Aku baru pulang dari training skin care di Oriflame Daan Mogot. Pulangnya seperti biasa panggil Gojek. Di jalan, abang Gojeknya tanya, kenapa ramai sekali kantor Oriflame Daan Mogot hari itu. Rupanya dia biasa mangkal di depan kantor Oriflame dan keramaian hari itu lebih dari biasanya. Aku bilang, habis ada training besar, yang pesertanya sampai 300 orang. T […]
    • Scrub Bibir ala Ida dengan Tendercare dari Oriflame 21 Agustus 2016
      Banyak downline dan pelanggan yang menanyakan, apakah Oriflame sudah mengeluarkan produk scrub untuk bibir. Sayangnya, sampai hari ini belum. Tapi kita bisa membuat scrub bibir sendiri lho, dengan memanfaatkan produk andalan Oriflame, si kecil mungil ajaib Tendercare. Silakan tonton videonya ya! Bonus: Di menit 4:55 ada kejutan khusus gara-gara shootingnya d […]
    • NovAge, Skin Care favorite aku! 19 Agustus 2016
      Soal urusan merawat wajah, aku udah buktiin sendiri deh pokoknya. Produk Oriflame yg sesuai kalau dipakainya secara KONSISTEN dan SABAR, hasilnya beneran NYATA. Sebagai yg kulit wajahnya cukup rewel--sensitif maksudnya, aku dulu takut sekali coba sembarang skin care. Soalnya salah-salah pakai produk pastiii jerawatan dan bruntusan. Ah sedih deh pokoknya. Mak […]
    • Oriflame bagi-bagi Tab Advan, ini pemenang dari teamkuu.. :-) 17 Agustus 2016
      Bulan April 2016 lalu Oriflame bikin challenge KEREN BANGET!Apalagi kalau gak bagi-bagi hadiah kan? Judul challenge-nya 'NOW OR NEVER'.Persyaratannya bisa dibilang MUDAH SEKALI lho. Para konsultan yang ingin dapat hadiah ini cukup meraih level baru 9% atau 12% atau 15% di bulan April 2016, lalu mempertahankannya di bulan berikutnya. Serta ada syara […]
    • Merawat wajah itu SABAR dan KONSISTEN. 20 Juni 2016
      Yang namanya perawatan kulit wajah itu BUTUH WAKTU ya teman2. Minimal banget hasil mulai terlihat nyata pada minggu ke 4 ya.. sekitar 28 hari, sesuai siklus pergantian kulit kita. Baca lagi, aku tulis-- 'MULAI terlihat nyata'. Bukan berarti langsung tau2 muka berubaaaaah gitu. Gak bisa. Tapi umumnya akan terlihat perbedaan pada minggu ke 4. Apalagi […]
%d blogger menyukai ini: