orangtua, seberapa konsistenkah kita?


Beberapa waktu yang lalu, gue melihat seorang ibu lagi menggandeng anaknya yang berumur sekitar 5 tahunan masuk ke dalam bis. Berhubung badannya masih kecil, tentu aja anak itu kesulitan menaiki tangga pintu bis.Nggak sabar karena anaknya nggak becus masuk ke bis, ibunya bilang, “Buruan dong! BEGO amat sih naik bis aja nggak bisa!”

Ngeliat kejadian ini gue jadi mikir; ternyata seringkali sebagai orangtua kita melakukan banyak hal yang nggak konsisten dengan apa yang kita inginkan untuk anak kita. Posting ini gue buat sekaligus sebagai reminder buat diri gue sendiri, biar nggak melakukan hal yang sama…

  • kita ingin anak-anak kita percaya diri, tapi sering mengata-ngatai mereka dengan cap yang merendahkan (bego, malas, nggak becus)
  • kita ingin punya anak-anak yang manis, tapi kita lebih sering memperhatikan mereka saat mereka lagi berantem, mecahin barang, atau bandel.
  • kita ingin anak-anak kita berani, tapi sering menakut-nakuti mereka dengan ancaman yang nggak masuk akal (“awas, kalo nggak mau makan nanti diculik wewe gombel”)
  • kita ingin anak-anak kita menghormati kedua orangtuanya, tapi sering menjatuhkan wibawa pasangan di depan mereka (“ooo… sayang, nggak boleh makan es krim sama mama? sini papa kasih es krim ya….”)
  • kita ingin dipercaya oleh anak-anak kita, tapi kita sering menipu mereka (“ah siapa bilang papa mau pergi? udah kamu duduk manis aja nonton tivi ya…” – habis itu minggat jalan-jalan)
  • kita ingin anak-anak kita menjadi orang yang sopan dan menghargai orang lain, tapi kita sering mencontohkan perilaku yang sebaliknya (“mbaaak… kopi saya mana nih, buruan dong, lemot banget sih!”)
  • kita ingin anak-anak kita menjadi orang yang sabar, tapi setiap hari kita membiarkan mereka menonton orangtuanya berperilaku brutal (“tuh metromini sialan ngapain sih ngetem di tikungan… WHOOOYY… maju dong bangs*t!”)
  • kita ingin anak-anak kita menjadi orang yang pintar, tapi kita sering menjawab pertanyaan mereka secara nggak logis (“kenapa kalo makan harus habis? sebab kalo tidak habis, nasinya bisa pada nangis…”)
  • kita ingin anak-anak kita belajar bertanggung jawab, tapi seringkali kita mengajarkan mereka untuk melemparkan tanggung jawab (“aduh kasihan sayang, jatuh ya? ih, ini lantainya yang nakal!)

Jadi, seberapa konsistenkah kita, wahai para orangtua?

Iklan
Tinggalkan komentar

46 Komentar

  1. btw, tulisan yang keren banget, mas!Sebuah angle lain dari puisinya Dorothy Law Nolte yang ngetop itu.*kayak gini kok selalu menolak disebut ‘dedengkot’. Tsk!

    Suka

    Balas
  2. kangbayu said: makanya posisi ibu rumah tangga itu sebenernya posisi mahal sekali ya? 🙂

    hikse …terharu denger statement ini, Kang.*halah, sentimentil amat

    Suka

    Balas
  3. iyak betul!!! profesi mahal dahsyat lah…. keren abis

    Suka

    Balas
  4. beautterfly said: hmmm.. kayaknya mahal tuh kalo mempekerjakan suster yg ngedidiknya setara dg ortu,….

    makanya posisi ibu rumah tangga itu sebenernya posisi mahal sekali ya? 🙂

    Suka

    Balas
  5. semuanya kembali ke bagaimana pendekatan (pendekatan utnuk memberi contoh yang baik & benar) orangtuanya terhadap anak itu sendiri (terutama ketika sedang di hadapan anak; kalau lagi dibelakang ya balik ke karakter asal … hehe).btw, thanks infonya kang ..

    Suka

    Balas
  6. hmmm.. kayaknya mahal tuh kalo mempekerjakan suster yg ngedidiknya setara dg ortu,….

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: