phobia 2


Nakut-nakutin orang lewat film itu bukan pekerjaan yang gampang, lho. Film horror yang sukses, menurut gue, minimal harus punya 2 elemen: (1) kejutan dan (2) keterkaitan dengan latar belakang penonton. Masalahnya, dengan semakin banyaknya film horror yang beredar, unsur kejutan semakin sulit dibuat karena penonton semakin pinter nebak adegan yang akan terjadi berikutnya. Misalnya, saat tokoh noleh ke kanan, penonton udah mengantisipasi bahwa setannya akan muncul dari kiri. Maka kalo tuh setan beneran muncul dari arah yang diduga penonton, kejutan jadi gagal. Para pembuat film horror jaman dulu sih enak, penontonnya masih gampang kagetan. Nah sekarang, setannya harus muncul dari mana lagi coba, untuk bikin penonton kaget?

Yang lebih repot lagi adalah bikin cerita yang punya keterkaitan dengan latar belakang penonton. Pembuat film horror harus muter otak sedemikian rupa sehingga yang mereka sajikan bener-bener universal, dalam arti punya efek yang sama menakutkan buat penonton di seluruh dunia. Dan itu nggak gampang. Sosok drakula yang berjubah panjang mungkin menakutkan buat penonton di Eropa dan Amerika, tapi kalah serem dibanding buntelan kain putih bernama pocong buat para penonton Indonesia.

Karena tau susahnya bikin film horror yang beneran serem, gue sangat mengapresiasi film-film horror Thailand dan Jepang karena usaha keras mereka untuk terus menemukan sesuatu yang baru buat menakut-nakuti penonton. Setan yang bisa keluar dari kaset video, atau yang merayap-rayap di loteng rumah kosong, atau yang nemplok di pundak orang, semuanya adalah ide yang cukup orisinal dari para pembuat film horror Thailand / Jepang. Ngeliat fenomena ini, para pembuat film Hollywood yang entah udah putus asa atau udah males mikir nyari ide baru, main comot dan bikin remake versi Hollywood – yang sebagian besar ternyata nggak sesukses versi aslinya.

Phobia 2, lagi-lagi membuktikan bahwa para pembuat film Thailand masih punya banyak ide segar untuk nakut-nakutin penonton. Film ini terdiri atas 5 film pendek, dari 5 sutradara yang berbeda, yang ‘hampir’ semuanya bertema horror, dan ‘hampir’ semuanya orisinal. Berhubung ceritanya beda-beda, review ini gue buat terpisah untuk masing-masing ceritanya.

Novice

Segmen ini bercerita tentang seorang anak muda yang ‘diasingkan’ ibunya ke tengah sekumpulan biarawan setelah dia melakukan sebuah tindak kriminal. Ibunya berharap di sana anaknya bisa jadi lebih alim dan terhindar dari karma perbuatan jahatnya.

Dasar anak kurang ajar, di pengasingan dia malah bikin ulah yang enggak-enggak. Akibatnya, tentu aja dia dikejar-kejar setan.

Komentar gue:

Walaupun permainan kamera dan pemandangan yang disuguhkan di segmen ini cukup keren, tapi alur ceritanya terlalu datar. Satu-satunya kejutan buat penonton adalah tentang tindak kriminal apa yang sebenarnya telah dilakukan bocah ini.

Kesimpulan: starstar

Ward

Gara-gara patah kaki, seorang anak muda harus masuk rumah sakit. Tadinya sih dia minta ditempatkan di kamar VIP, tapi karena rumah sakitnya penuh, dia ditaro di kamar dengan dua tempat tidur. Room matenya adalah seorang kakek tua yang udah lama koma, jadi kata susternya “dia nggak pernah bangun, jadi di kamar ini sama aja seperti tidur sendiri.”

Tentu aja si suster itu keliru.

Komentar gue:

Daya tarik film rada terangkat di segmen yang ini, karena ada unsur komedi ngeliat tampang konyol pemerannya yang awalnya penuh rasa ingin tahu dan belakangan berubah total jadi ngeri setengah mampus. Tapi resep kaget-kagetannya terhitung standar, udah ketebak dari mana si ‘setan’ akan datang dan apa yang akan dilakukan berikutnya.

Kesimpulan: star star star

Backpackers

Dua orang turis Jepang ber-backpack di Thailand dan kesulitan menemukan kendaraan yang sudi ditebengi. Akhirnya mereka diangkut oleh sebuah truk dengan muatan misterius.

Komentar gue:

Buat gue, ini adalah segmen terlemah dari kelima cerita yang ada. Kurang kuat penjelasan tentang asal – usul para makhluk yang menyerang para turis. Udah gitu settingnya siang hari bolong sehingga mengurangi elemen horror. Dan yang lebih parah, pentunjuk tentang endingnya udah dibocorin duluan saat segmen baru berjalan kurang lebih 80%-nya.

Kesimpulan: star star

Salvage

Seorang ibu penjual mobil bekas punya kebiasaan buruk, yaitu ‘menipu’ para calon pembeli dengan bilang bahwa mobil yang dijualnya dalam kondisi prima – padahal sebenernya hasil rekondisi dari mobil-mobil yang ringsek abis kecelakaan. Pada suatu malam, anaknya yang lagi main-main di deket mobil-mobil dagangannya tiba-tiba menghilang.

Komentar gue:

Segmen yang ini lumayan kreatif dengan mengambil tema dasar tentang mobil bekas dan riwayat mengerikan di belakangnya. Setting lokasi penjualan mobil yang lumayan gede dan penuh mobil juga cukup menunjang penggambaran rasa frustrasi si ibu saat berusaha menemukan anaknya. Tapi feel-nya rada nge-drop waktu di salah satu adegan muncul setan kebakaran yang nampak sangat jelas dibuat dengan animasi komputer. Selain itu, endingnya rada ketebak di saat si ibu berusaha menstarter mobil untuk terakhir kalinya.

Kesimpulan: star star star

In the End

Empat orang anak muda yang pernah muncul di 4bia kali ini berperan sebagai anggota crew film horror ‘Alone 2’. Di tengah-tengah shooting, salah satu pemeran hantu mendadak sakit dan meninggal. Mereka akhirnya harus berusaha melanjutkan shooting dengan hantu beneran.

Komentar gue:

Segmen yang luar biasa kreatifnya. Satu-satunya segmen yang mencampuradukkan antara horror dan komedi, dengan kejutan yang sangat ‘meledak’ di akhir cerita.

Menariknya, sutradara segmen ini adalah Banjong Pisanthanakun , sutradara film ‘Alone’ dan ‘Shutter’. Dengan kata lain, dia memparodikan film karyanya sendiri, antara lain dengan komentar sinis tokoh Marsha (diperankan oleh Marsha Wattanapanich, pemeran asli film ‘Alone’) yang kurang lebih bilang, “gimana sih ceritanya bisa ada film ‘alone 2’, padahal kan udah jelas-jelas di akhir film pertama semua pemerannya mati!”.

Dan perlu gue tekankan di sini bahwa untuk ukuran seseorang yang tahun ini menginjak usia 39, Marsha Wattanapanich is definitely in a good shape. Gue belum pernah ngeliat ada perempuan berumur 39 tahun bisa tampil begitu menggemaskan:

Memang rada sedikit ilfeel kalo denger dia ngomong bahasa Thailand yang kedengerannya seperti orang lagi dijepit hidungnya, tapi… gak papa deh, karena kita kan harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya, bukan?

Kesimpulan: star star star star star plus bonus star star star star star untuk Marsha… 🙂

Oh iya, satu hal yang perlu dicatat dari film-film Thailand adalah, entah disengaja atau enggak, tapi mereka kayaknya sangat aktif memasukkan unsur budaya dan pariwisata Thailand ke dalam filmnya. Kalo nggak pemandangan alamnya yang keren, atau sekilas tentang kebiasaan khas orang Thailand. Pendeknya, film Thailand selalu terasa ‘Thailand banget’. Menurut gue ini taktik yang sangat jitu buat mendukung bisnis pariwisata mereka, karena film-film ini pastinya akan ditonton oleh orang dari berbagai penjuru dunia. Mudah-mudahan segera bisa diikuti oleh para pembuat film Indonesia ya, yang terkadang malah berusaha bikin filmnya nampak sangat Amerika / Eropa…

Akhir kata, mari sekali lagi kita renungkan wajah Marsha Wattanapanich :

Nggak pepaya, nggak beras, nggak orang, apapun kalo labelnya “BANGKOK” memang selalu kualitas ekspor!

 

Untuk baca posting terbaru gue yang terkait film, silakan mampir ke Nonton Deh ya!

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

20 Komentar

  1. Satu lagi, jejadiannya juga kualitas ekspor!

    Suka

    Balas
  2. mbot said: Nggak pepaya, nggak beras, nggak orang, apapun kalo labelnya “BANGKOK” memang selalu kualitas ekspor!

    ending review yang menarik… =)

    Suka

    Balas
  3. mantap di endingnya Mas hehehehe

    Suka

    Balas
  4. thailand n jepang emang jagonya hororendingnya mbot banget… ck

    Suka

    Balas
  5. hihihihihi…lucu juga nih ending hasil dari review ya

    Suka

    Balas
  6. Mas Agung, ending postingan ini rasanya cukup horor bagi Ida Hiahahhhhhhhhahahahaha

    Suka

    Balas
  7. huahaha… bangkok bangkok… 🙂

    Suka

    Balas
  8. Maksudnya, dengan kata lain, dada si Marsha kayak pepaya bangkok gitu maaassss???!!!

    Suka

    Balas
  9. thanks reviewnya mas. saya jadi tertarik nonton.cara review anda juga keren lho. salam.

    Suka

    Balas
  10. wah review yg mantap….sip ntar kapan2 tak tonton

    Suka

    Balas
  11. wah mas, top resensinya…jadi tertarik nonton terutama krn si marsha itu…hehe…

    Suka

    Balas
  12. Hehehehehehehe…sukses bikin guwe ngakak. Ditambahin dong: warianya juga kualitas tinggi 🙂

    Suka

    Balas
  13. dari covernya aku kirain yang main Ramon Y Tungka san Maudy K:)

    Suka

    Balas
  14. setuju bangetttsayanga banget banyak film Indonesia yang justru kadang gak Indonesia banget

    Suka

    Balas
  15. review film horor yg tidak menakutkan sama sekali, berarti yg ngereview gagal bikin review….. hehehe..:))

    Suka

    Balas
  16. huahhaahaha …endingnya merenungkan si Marsha :))

    Suka

    Balas
  17. hah, kok banyak ceritanya, berapa menitan tuh masing2? *iseng.com*

    Suka

    Balas
  18. bagian penutupnya keren,mas agung, bikin saya mikir “sempat2nya mikir bgini”. hehehe

    Suka

    Balas
  19. mbot said: Nggak pepaya, nggak beras, nggak orang, apapun kalo labelnya “BANGKOK” memang selalu kualitas ekspor!

    gyahahaha…gw suka bagian ini :Danyway, film ini out from my listga suka film horor…dah bayar, ditakut2in pula….

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: