surrogates


Kadang di sebuah hari Senin pagi yang mendung, udara adem sepoi-sepoi, mata masih berat karena semalem keasikan ngeMPi sampe jam 2 pagi, acara perpisahan dengan tempat tidur menjadi sebuah peristiwa yang mengharukan. Apalagi kalo tau pagi ini agenda di kantor adalah “meeting koordinasi lintas tim” (yang artinya presentase topik bahasan yang nggak relevan dengan urusan lo dalam meeting sejenis adalah sama dengan jumlah peserta dikurangi satu, dibagi jumlah peserta, dikalikan 100%), nggak jarang gue mikir, “Andaikan gue punya robot yang bisa gue suruh-suruh menjalani hari ini sementara gue bisa tidur lagi di rumah…”

Film ini adalah realisasi dari khayalan gue. Digambarkan saat teknologi udah sedemikian canggihnya, sebagian besar orang punya “surrogate” alias robot yang bisa mewakili diri mereka beraktivitas. Pemiliknya tinggal santai-santai pake sarung dan singlet di rumah, sementara cukup surrogatenya yang sibuk macet-macetan di jalan, ngantor, dan ikutan meeting koordinasi lintas tim. Teknologi surrogate membuat semua orang bahagia, tingkat kejahatan dan rasialisme menurun. Tentu aja, misalkan ada perampokan, paling yang kena tembak surrogate-nya doang sementara manusianya aman tenteram di rumah. Diskriminasi warna kulit juga jadi nggak relevan lagi, karena setiap orang bebas-bebas aja menciptakan tampilan surrogate-nya sesuai selera.

Tapi tentunya kalo semua orang dalam era surrogate itu hidup bahagia, film ini nggak akan pernah ada. Cerita dimulai ketika polisi menemukan dua orang pemilik surrogate tewas saat surrogatenya diserang dengan sebuah senjata misterius. Kalo bocor ke kuping masyarakat, urusan ini bisa menimbulkan keresahan nasional karena membuktikan bahwa menggunakan surrogate nggak akan menjamin seseorang 100% bebas dari resiko. Maka diutuslah dua orang agen FBI, Tom Greer (Bruce Willis) dan Jennifer Peters (Radha Mitchell) untuk mengusut kasus ini.

Berkat kecanggihan teknologi, Greer mulai menemukan identitas tersangka pelaku pembunuhan. Dalam sebuah aksi pengejaran menggunakan helikopter, surrogate Greer masuk ke kawasan manusia anti surrogate yang dipimpin oleh seseorang yang dijuluki The Prophet. Di sana, surrogate Greer diserang massa dan rusak parah. Greer diskors oleh atasannya karena melanggar perjanjian wilayah anti surrogate, penugasannya dicabut, dan dilarang membeli surrogate baru untuk menggantikan surrogate-nya yang rusak. Untuk pertama kali setelah sekian tahun hidup tenteram di rumah, Greer harus terjun langsung ke dunia nyata untuk menuntaskan rasa penasarannya atas misteri pembunuhan lewat surrogate.

Komentar gue:

Gue selalu suka sama film-film bertema “what-if”; apa yang bakal terjadi kalo ada suatu elemen mendasar dalam kehidupan kita yang berubah. Seperti misalnya film “I, Robot”-nya Will Smith, yang menggambarkan dunia di mana manusia sangat tergantung pada para asisten robot, atau yang paling radikal mungkin adalah “The Matrix” yang berandai-andai bila dunia yang kita liat sebenernya nggak lebih dari ilusi virtual, buat gue menjadi pemikiran yang asik untuk diutak-utik. Iya, ya… gimana kalo situasi seperti itu beneran terjadi? Kalo gue beneran hidup dalam jaman seperti itu, apa yang akan gue lakukan?

Lewat serpihan-serpihan adegan yang rada komikal, film ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan kehadiran para surrogate, maka bisnis salon kecantikan, misalnya, berubah total. Kalo nggak suka dengan muka surrogatenya, nggak perlu resah atau repot, dateng aja ke salon, mukanya dikletek, lantas diganti yang baru. Atau adegan yang menggambarkan gimana para surrogate ‘mabok-mabokan’ dengan alat yang mirip pistol setrum, ajaib banget! Secara umum, menurut gue film ini cukup berhasil menggambarkan situasi “what-if” di mana dunia dipenuhi oleh para surrogates.

Tapi… boleh dibilang nggak ada kejutan di film ini. Identitas pembunuh para surrogate terlalu cepet ketahuan, dan secara logis dalang yang mengutusnya juga gampang ditebak. Entahlah, mungkin karena film ini diangkat dari komik sehingga sutradaranya nggak berani terlalu jauh mengutak-atik elemen cerita – takut para pembaca komiknya protes, kali. Tapi kalo ngeliat riwayat karya sang sutradara, Jonathan Mostow, dia memang bukan tipe sutradara yang gemar mengejut-ngejutkan penonton. Salah satu karyanya yang gue sebelin setengah mati adalah “Terminator 3: Rise of the Machines” yang ceritanya terlalu lempeng tanpa kontribusi yang berarti buat pakem Terminator secara keseluruhan. Untunglah “Surrogates” masih lebih bagus dari “T3”.

Bruce Willis seperti biasa bermain bagus membawakan tipe karakter yang entah udah berapa kali dia peranin. Digambarkan kehidupan pribadi tokoh Greer lagi diganggu masalah dengan istrinya, di mana Greer merasa kehilangan istrinya karena tiap kali cuma bisa berinteraksi dengan surrogate-nya. Hmmm… kayaknya tiap kali para pembuat film mau cari pemeran untuk “karakter yang hidupnya berantakan gara-gara bermasalah dengan istrinya” maka nama Bruce Willis muncul paling atas di phone book mereka. Terbukti dengan perannya di “Die Hard”. Atau “Hostage”. Atau “Sixth Sense”.

Hal lain yang gue kagumi dari film ini adalah teknik make-upnya, di mana surrogate Bruce Willis bisa tampil muda, kurus, berambut, dan berkulit mulus bebas kerutan sementara di adegan berikutnya muncul wajah asli Bruce Willis yang tua, bongsor, botak, dan keriput. Konon teknologi yang dipake di film ini mirip dengan yang ada di film “The Curious Case of Benjamin Button” di mana Brad Pitt muncul sebagai kakek tua bangka yang semakin lama semakin muda. Kalo yang gue baca di majalah Cinemags sih wajah yang muncul di layar adalah hasil gabungan digital antara ekspresi Brad Pitt dengan wajah pemeran yang kebetulan beneran udah kakek-kakek. Canggih, lah pokoknya.

Akhir kata, terlepas dari alur cerita yang relatif gampang ditebak, film ini cukup menghibur dan cukup berhasil bikin penonton bertanya-tanya”what if…”

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

23 Komentar

  1. iya lu kan agung. itu yg ngapus author. kayaknya nama petinju author sembiring. dan kayaknya doyan denger radio. itu mau ngapus pake request segala.

    Suka

    Balas
  2. dbaonkagain said: kok naek lagi ini jurnaltapi replynya di apuswah mencurigakan sekali inilapor polisi ah

    yang jelas bukan gue yang ngapus lho…

    Suka

    Balas
  3. kok naek lagi ini jurnaltapi replynya di apuswah mencurigakan sekali inilapor polisi ah

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: