merantau


Tiga bulan gue penasaran nunggu diputernya film ini, sejak Bayu mengiming-iming dengan trailer yang sangat menjanjikan di postingnya yang ini. Yang bikin gue penasaran adalah karena di trailernya nampak jelas bahwa adegan-adegan berantemnya dilakukan oleh bintangnya langsung, tanpa stuntman. Selain itu juga kayaknya gambarnya bagus dan artistik. Dengan kata lain, ekspektasi gue atas film ini lumayan tinggi.

Gimana kenyataan yang gue liat di layar?

Dari segi action, gue kasih bintang 5 deh. Walaupun ada satu – dua adegan yang rasanya udah pernah dilakukan di film action lain, misalnya adegan orang meloncati celah di antara dua bidang, dan sebelum nyampe ke tujuan udah keburu kena tonjok / tendang sehingga ahirnya jatuh setelah sebelumnya ngejedor pinggiran bidang pake jidat, atau jagoan bertangan kosong melawan penjahat bersenjata tajam dengan seutas tali, di mana tangan penjahat yang memegang senjata dicantol-cantolin ke benda lain. Tapi sebagian besar menampilkan adegan-adegan berantem yang terasa lebih ‘eksotis’ karena menampilkan jurus-jurus bela diri silat – sebuah aliran bela diri yang selama ini jarang; atau mungkin belum pernah, jadi sajian utama sebuah film action. Rasanya Gareth Evans yang di film ini bertugas sebagai sutradara, editor, sekaligus penulis naskah – pokoknya juragan – membuat keputusan yang sangat tepat untuk menyerahkan peran utama kepada Iko Uwais, yang emang beneran jago silat. Bukan cuma Iko, tapi juga ada Yayan Ruhian, yang kayaknya di kalangan para praktisi silat juga udah punya nama sebagai jagoan ‘Silek Harimau’ (waktu di film tokoh Eric yang diperankan si Yayan ini ngomong ‘silek’, gue kira dia salah ngomong. Taunya memang ada kalangan yang menyebut bela diri silat sebagai ‘silek’).

Film ini sedikit banyak mengubah persepsi gue tentang beladiri silat. Yang selama ini gue tangkep, silat adalah beladiri dengan gerakan aneh yang kebanyakan gaya dengan gerakan-gerakan kembangan yang kurang perlu. Tapi di film ini, silat nampak bener-bener anjrit, sangar, cool, sadis, nggak kalah sama muaythai atau tae-kwon-do. Coba aja simak adegan tokoh Eric waktu ngelawan mas-mas bertampang aneh di sebuah ajang pit-fighter, sangar banget, lawannya belum sempet gerak udah keburu patah tangan dan kaki.

Tapi itu adegan actionnya. Soal cerita, terus terang masih kedodoran banget – bahkan untuk ukuran sebuah film action. Maksud gue, adegan action sesangar apapun juga butuh cerita yang kuat sebagai latar belakang, minimal untuk membangkitkan ‘ikatan batin’ antara penonton dengan para tokoh yang bertarung. Cerita harus mampu bikin penonton bersimpati sama tokoh jagoannya, dan sebel setengah mati sama para penjahatnya, sedemikian rupa sehingga ketika mereka bertarung, penonton bisa ikut geregetan sambil duduk di ujung kursi. Sayangnya, faktor itu masih belum bisa disuguhkan oleh film ini.

Bagian awalnya, misalnya, terasa lamban banget dengan segala adegan petik tomat dan pengajian melepas tokoh utama Yuda pergi merantau. Kalo gue disuruh nulis cerita film ini, daripada bikin si jagoan silat metik tomat mendingan gue gambarkan kedekatan hubungannya dengan si tokoh ibu dan kakak, sedikit dramatisasi dengan fakta bahwa mereka sangat butuh duit sehingga si anak terpaksa pergi merantau, hingga tibalah saat merantau dan begitu dia naik bis, eh… ada copet. Jadi kan efisien, dramanya dapet, penonton juga nggak kelamaan nunggu adegan action dimulai.

Penggambaran kegiatan merantau si Yuda juga kurang realistis. Cuma digambarkan dia megang sebuah alamat di Jakarta yang ternyata udah nggak valid lagi, abis itu sehari-hari dia cuma kelayar-keluyur makan sate dan numpang tidur di sebuah proyek pembangunan. Menurut gue penokohan si Yuda akan lebih kuat kalo digambarkan dia sebagai orang yang bertekad kuat, karena alamat yang dituju udah nggak eksis ya trus dia kreatif kerja apa aja gitu. Jadi kuli di pasar, misalnya. Ntar kalo di pasar ketemu copet, kan bisa jadi alasan buat berantem lagi. Atau jadi kenek metromini, misalnya. Tentunya yang banyak copetnya. (Mohon maaf bagi para copet, posting ini tidak bermaksud diskriminatif terhadap profesi Anda sekalian).

Kelemahan lainnya adalah kurang kuatnya alasan mengapa para penjahat di film ini begitu tergila-gila sama tokoh Astri. Okelah, pertamanya dia mau diumpanin ke sindikat perdagangan perempuan, dan berhasil lolos. Tapi berikutnya, kenapa sindikat ini harus bersusah payah ngejar dia lagi? Kayak Jakarta kekurangan cewek aja. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, gue mesti bilang bahwa menilik dari tampilan layarnya, tokoh Astri ini rada kurang worthed untuk diperebutkan sampe segitu sengitnya.

Anyway, terlepas dari kekurangan di segi cerita, film ini sangat layak tonton untuk kalian para penggemar film action yang selama ini berpendapat bahwa film action lokal selalu katro. Ini buktinya, film action Indonesia juga bisa keren (walaupun sutradaranya bule, tapi… yah, minimal para pemainnya kan orang Indonesia asli).

Iklan
Tinggalkan komentar

42 Komentar

  1. film ini segmennya action-fans yang gak peduli plot.beberapa temen cewek yang perilakunya “halus” gak suka, karena bagbigbug mulu.aku sendiri sih suka.

    Suka

    Balas
  2. gue nonton. skor bintangnya…. mmmbintang berapa cocoknya untuk film bagus yang jelek?

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: