Mau hadiah menarik dari si mbot? Mau? Mau?


Apapun jadinya gue sekarang ini, semua berawal gara-gara keinjek ibu gue.

Kalo dirunut balik, gue adalah seorang anak kecil yang hampir secara konstan merasa kepanasan. Untuk mengatasinya, gue punya dua resep manjur, yaitu (1) buka pintu kulkas dan mematung dengan muka bego di depannya, atau (2) telungkup di lantai.

Resep pertama sering dikomplen oleh ibu gue, karena beresiko membuat makanan di kulkas jadi rusak. Karena itu, gue lebih sering ditemukan orang dalam keadaan telungkup di lantai seperti keset, dengan tujuan ngadem.

Waktu itu gue baru umur 4.5 tahun. Sehari-hari gue lebih sering cuma berdua sama ibu gue di rumah karena bapak gue ngantor dan kakak2 gue udah pada sekolah. Sampai tibalah hari yang bersejarah itu, di mana gue seperti biasa lagi jadi keset dan ibu sibuk ngepel. Sebagaimana layaknya orang ngepel, ibu berjalan mundur sehingga nggak ngeliat anaknya lagi terhampar di lantai. Hingga akhirnya… NGEEK…. gue keinjek ibu.

Ibu tentu menyesal telah menginjak anaknya yang tak berdosa ini. Sebagai kompensasinya, keesokan harinya ibu langsung membawa gue ke TK dekat rumah.

“Ibu, ini saya mau mendaftarkan anak saya sekolah di sini, biar dia ada kegiatan. Daripada dia di rumah keinjek-injek,” kata ibu kepada petugas pendaftaran.

Maka sejak hari itu gue resmi menjadi murid TK Ade Irma Suryani Nasution, yang beralamat di Jl. Pegangsaan Menteng (lokasinya sekarang udah jadi apartemen Menteng Park).

Sejak hari pertama sekolah, gue langsung membuat keputusan penting yang hingga hari ini masih gue pegang teguh: gue benci sekolah. Satu-satunya yang bisa membuat gue mau diajak (baca: diseret) ke sekolah adalah iming-iming akan dibeliin es krim Woody sepulang sekolah nanti.

Nggak banyak yang gue inget dari masa-masa sekolah di Ade Irma, kecuali bahwa guru-guru di sana nggak dipanggil ‘ibu guru’ melainkan ‘Cik’. Kebetulan, guru kelas gue di sana bernama Ida, sama seperti ibu guru TK yang gue kenal 26 tahun sesudahnya di Friendster.

Entah dengan pertimbangan apa, cuma 6 bulan gue sekolah di sana. Ibu lantas mencoba mendaftarkan gue di TK Perguruan Cikini (PerCik), Jl. Cikini Raya. Sebelum diterima, gue harus ikut psikotes berupa menyusun balok dan puzzle.

“Agung, sekarang agung susun ya puzzle ini…” demikian kata kakak psikolog yang mengetes gue.
“Nggak mau ah.”
“Nanti kalo puzzlenya jadi, kakak kasih coklat lho.”

Maka siang itu gue pulang dengan mengantongi beberapa cokelat payung dan status baru sebagai murid TK. Perguruan Cikini.

Berhubung Yayasan Perguruan Cikini punya sekolahan lengkap satu paket mulai dari TK sampe kuliahan, maka otomatis setelah lulus TK gue masuk SD Perguruan Cikini.

Dasar nggak niat sekolah, nilai gue ancur-ancuran. Gue inget, dari satu kelas dengan 32 murid, gue pernah menduduki ranking 30. Alhamdulillah, prestasi ini berhasil gue pertahankan sampe lulus SMA yaitu sama sekali nggak pernah masuk 10 besar di kelas. Seumur hidup gue baru menemukan 2 orang lain yang memiliki prestasi yang sama, salah satunya kebetulan ada di jagad MP ini.

Saking parahnya gue di sekolah, waktu kelas 3 ada pelajaran ulangan IPS dengan 100 soal di mana gue mendapat nilai 6. Artinya gue salah di 94 soal. Untungnya ada satu pelajaran di mana gue dapet nilai lumayan, yaitu… mengarang! Lumayan, daripada enggak ada sama sekali.

Lulus SD gue masih setia dengan Percik dan lanjut ke SMP Perguruan Cikini. Nilai-nilai gue masih aja parah, dan sialnya di SMP nggak ada lagi pelajaran mengarang. Berita baiknya, waktu itu ada bidang lain yang ternyata bisa gue kuasai dengan baik, yaitu mengetik. Kalo nggak salah gue dapet nilai B dengan kecepatan 40 kata per menit. Ibu gue mulai prihatin: anak SMP yang bisanya cuma mengarang dan mengetik, ntar gedenya mau jadi apa sih?

Lulus SMP gue nggak ngelanjutin ke SMA Percik karena kondisi keuangan keluarga waktu itu mulai rada ngos-ngosan sejak bapak gue meninggal. Maka gue sekolah di SMAN 4, Jl. Batu Gambir. Kurang apa, coba: uang sekolahnya cuma 1 / 5 uang sekolah di Percik, masih dapat bonus pelajaran keterampilan khusus yaitu tawuran.

Tentunya sebagai orang yang cinta damai gue nggak pernah ikutan tawuran, dan memilih untuk sibuk ngurus mainan baru yaitu majalah dinding. Gue aktif di seksi IBS (Ilmu Budaya Siswa) yang kegiatan utamanya adalah bikin majalah dinding dan buku tahunan. Sampe diangkat jadi ketua segala lho.

Gimana dengan nilai-nilai gue? Masih parah dong. Bahkan waktu mau naik ke kelas 2 gue bukan lagi dapet nilai merah di rapor, melainkan abu-abu.

“Kamu dapet nilai 4 untuk matematika, saya masih tulis pake pensil. Kalo kamu mau perbaiki nilai ini, saya kasih kesempatan ikut ujian tambahan 1 kali. Gimana, mau?” Guru matematika gue rupanya terenyuh melihat muridnya yang tanpa masa depan ini, dan mencoba memberikan kesempatan.
“Enggak pak, terima kasih. Paling kalo saya ikut ujian tambahan, nilainya 4 lagi. Jangan-jangan malah jadi 3,” jawab gue.

Prestasi lainnya yang berhasil gue raih selama SMA adalah gue berhasil mencetak rekor baru berupa nilai 2 untuk ulangan Seni Musik.

Menjelang lulus-lulusan, sekolah menggelar acara pengisian formulir UMPTN kolektif. Maksudnya biar para murid bisa mengisi formulir dengan baik dan benar, di bawah bimbingan para guru. Hari itu semua murid duduk manis di kelas, formulir dibagikan satu orang satu, dan ibu wali kelas memberikan sambutan, “Anak-anak, hari ini kita akan mengisi formulir UMPTN bersama-sama. Ibu ingatkan sekali lagi ya, kalian semua harus punya pensil 2B dan pas foto untuk ditempel di formulir…”

MATI DEH! Gue belum punya pas foto! Gue pun angkat tangan,

“BU, pas fotonya harus hari ini ya? Boleh disusulkan nggak?”
“Agung lagi, Agung lagi. Nggak boleh Agung, harus hari ini, karena formulirnya akan langsung dibawa.”
“Tapi saya nggak punya pas foto, bu…”
“Kamu mau kuliah atau enggak?”

Maka gue terbirit-birit ke Jalan Sabang untuk bikin pas foto kilat, yang waktu itu nggak kilat-kilat amat karena harus nunggu 1-2 jam baru jadi.

Setelah mengantongi pas foto, gue balik ke sekolah. Temen-temen gue udah pada ngumpulin formulir, tinggal gue doang yang belum. Maka sambil ngos-ngosan gue ngisi formulir di bawah teror ibu wali kelas, “Agung cepat sedikit, ini formulirnya udah mau dibawa!”

Sampai di bagian “Jurusan Pilihan”, gue rada bimbang. Enaknya kuliah di fakultas apa, ya? Bingung. Untung gue inget buku-buku Agatha Christie yang sering gue baca, yang tiap 2 halaman menyebut-nyebut soal ‘psikologi’. Ah, kalo gitu pilih Psikologi UI aja deh.

Setelah ujian akhir SMA, masa depan pendidikan gue masih belum jelas. Masa cuma daftar di Psikologi UI doang? Maka gue berangkat ke Bandung dalam rangka bimbingan tes masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang seleksinya pake jalur khusus, nggak lewat UMPTN. Gue ikutan paket bimbingan 3 bulan di lembaga ‘Villa Merah’, Bandung. Tapi berhubung saat itu lagi menjelang lulus-lulusan SMA, periode 3 bulan itu gue lewati dengan lebih banyak bolos mondar-mandir ke Jakarta. Yang ngambil buku tahunan lah, perpisahan lah, sampe urusan yang kurang penting seperti bawa baju kotor pulang. Hasilnya, gue pun gagal total di tes masuk FSRD ITB. Diem-diem gue bersyukur juga sih gagal masuk sana, karena setelah menjalani kursus di Villa Merah ternyata nggambar setiap hari itu pegel dan membosankan.

Tanggal 3 Agustus 1991, beredar pengumuman UMPTN di koran. Sebagai orang yang tau diri, hari itu gue
tidur-tiduran aja di rumah karena merasa nggak mungkin tembus UMPTN. Taunya salah satu temen gue nelepon ke rumah dan dengan nada setengah nggak percaya mengabarkan bahwa gue diterima di Psikologi UI!

Satu hal yang gue inget bener dari periode itu adalah komentar sinis ibu guru seni musik waktu ketemu gue di sekolah, “Saya nggak ngerti Gung. Kenapa bisa kamu yang tembus UMPTN sih? Kenapa mesti kamu?” Mungkin karena pas foto saya paling gres di antara peserta lainnya, barangkali?

Semester pertama di Psikologi UI, Depok gue lewati dengan pola belajar yang sama seperti yang gue lakukan di SD sampe SMA. Hasilnya, IP semester 1 gue 1.26, dengan nilai B hanya untuk Bahasa Inggris. Enam SKS dapet E, enam SKS D. Bahkan mata kuliah ‘Pancasila’ yang didapat dari penataran P4, yang tinggal duduk dan nganga doang rata-rata orang dapet nilai B, gue dapet C. Untung gue cepet insyaf dan berhasil dapet IP lumayan di semester 2, sehingga bisa nutup batas minimal IPK 2 supaya nggak DO.

Di kampus ini gue menghabiskan umur selama 7 tahun, 1.5 tahun lebih lama dari seharusnya. Itu pun lulusnya pake diancem-ancem sama Pak Dekan; kalo molor 1 semester lagi, DO. Skripsi pun gue kebut dalam tempo kurang dari 4 bulan. Bikinnya penuh semangat, karena topik skripsi yang gue pilih adalah, “Korelasi antara mengikuti kegiatan cheerleader dengan tingkat self esteem di kalangan pelajar sekolah menengah Jakarta.” Bener-bener empat bulan yang sangat indah, dikelilingi adik-adik cheerleader yang manis-manis dan sehat-sehat karena sering loncat-loncat. Nilainya? A dong! 🙂

Nah demikianlah liku-liku hidup gue dalam rangka meraih selembar kertas nggak penting bernama ijazah. Pesan moral yang bisa disimpulkan: buat para orangtua yang saat ini lagi cemas mikirin anaknya yang nggak becus pelajaran apapun kecuali mengarang dan ngetik, nggak usah berkecil hati. Keliatannya dia berbakat jadi blogger! :-)))

———————
Nah terus, hadiahnya mana?
Berhubung ini adalah posting berantai sebagai ganjaran dari keisengan gue mampir-mampir di postingnya Alan yang ini, maka hadiahnya adalah kesempatan emas untuk meneruskannya! Sepuluh orang pertama akan mendapatkan kehormatan untuk gue timpuk… hahahaha… yak, sudah terlambat untuk kabur, nak. Daftar namanya akan gue tulis di sini setelah viewing history berhasil menangkap 10 orang.

Aturannya begini:

  • Tulisan boleh berjudul macam-macam. Kalau bisa dibuat semenarik mungkin, agar MP-ers yang lain mampir
  • Tuliskan jenjang pendidikan mulai Pre-School, TK, SD, SMP, SMA, PT dan harapan ke depannya.
  • Sertakan juga alamat singkat sekolah. Misalnya, jangan cuma ditulis SMA 4. SMA 4 kan banyak. SMA 4 mana? Jakarta? Atau di Manokwari? Jadi tolong ditulis alamat singkatnya, yaaah.
  • Tuliskan 10 MP-ers yang harus membuat postingan seperti ini. Yang beruntung mendapatkan tugas dari gue adalah :
    1. Cambai
    2. Merlitei
    3. Ti2n
    4. Mbonk
    5. Eddyjp
    6. Essymoestl
    7. Akunovi
    8. Fredys
    9. Yuridza
    10. Giok
  • Tuliskan aturan ini di posting lo. Boleh di atas atau di bawah tulisan.
  • Harus dikerjakan dalam waktu maksimal 10 hari sejak baca postingan ini!
Iklan
Tinggalkan komentar

51 Komentar

  1. Wkakakgak ngira sejarah mz Agung begitu…kirain bolak-balik juara kelas, spesies yang cuma kenal area 5 besar kalo ranking2an.Baca bukunya jg amat sangat mumpuni soal psikologi, eh..dirimu lulus pake ancaman DO ternyata, hehehehe. Tapi memang cerdas ya, topik skripsinya ok banget, pas ama kebutuhan, hihihi

    Suka

    Balas
  2. wahahaha!

    Suka

    Balas
  3. Hahahahha…ay rili2 kenot bilivitt..benar2 sejarah hidup yang kelam..hahhaha..kocak banget sih mas Agung..diksi2nya benar2 menggelitik..ternyata emang dari kecil udah eksentrik..kikikikik..

    Suka

    Balas
  4. mbonk said: Gag mau aah..

    kalo udahnya dikasih es krim mau?

    Suka

    Balas
  5. untung kemaren2 sibuk di kantor jadi gak kena hahahaha

    Suka

    Balas
  6. Tnyata ada juga yg bs sebel sama sekolah ya

    Suka

    Balas
  7. aduuuuhhhhhh…mas agung bikin ketawa2 nehlagi di warnet lagii…kan maluuuu….TFS…keren banget…di SD ak juga pernah hampir ga naek kelas, tapi, masuk SPMB juga,,,hahahha! guru SD ku juga ga percaya!!

    Suka

    Balas
  8. jahat, tapi maaf untuk sekarang ga bisa (hahahahaaaa)

    Suka

    Balas
  9. Gag mau aah..

    Suka

    Balas
  10. untung gw gak kena timpuk…..mulai harus hati2 melangkah nih di jagad MP hari2 ke depan…xixixixii

    Suka

    Balas
  11. mbot said: “Korelasi antara mengikuti kegiatan cheerleader dengan tingkat self esteem di kalangan pelajar sekolah menengah Jakarta.”

    eh…topik skripsi kita sama2 tentang self esteem….kalo gw “korelasi antara body image dengan self esteem pada model pemula di kota bandung”hasilnya…gw punya daftar telepon lengkap model2 cakep di bandung yang bikin gw di kejar2 ama teman2 yang ngeces pengen kenalan….hehehhehe

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: