Mau hadiah menarik dari si mbot? Mau? Mau?


Apapun jadinya gue sekarang ini, semua berawal gara-gara keinjek ibu gue.

Kalo dirunut balik, gue adalah seorang anak kecil yang hampir secara konstan merasa kepanasan. Untuk mengatasinya, gue punya dua resep manjur, yaitu (1) buka pintu kulkas dan mematung dengan muka bego di depannya, atau (2) telungkup di lantai.

Resep pertama sering dikomplen oleh ibu gue, karena beresiko membuat makanan di kulkas jadi rusak. Karena itu, gue lebih sering ditemukan orang dalam keadaan telungkup di lantai seperti keset, dengan tujuan ngadem.

Waktu itu gue baru umur 4.5 tahun. Sehari-hari gue lebih sering cuma berdua sama ibu gue di rumah karena bapak gue ngantor dan kakak2 gue udah pada sekolah. Sampai tibalah hari yang bersejarah itu, di mana gue seperti biasa lagi jadi keset dan ibu sibuk ngepel. Sebagaimana layaknya orang ngepel, ibu berjalan mundur sehingga nggak ngeliat anaknya lagi terhampar di lantai. Hingga akhirnya… NGEEK…. gue keinjek ibu.

Ibu tentu menyesal telah menginjak anaknya yang tak berdosa ini. Sebagai kompensasinya, keesokan harinya ibu langsung membawa gue ke TK dekat rumah.

“Ibu, ini saya mau mendaftarkan anak saya sekolah di sini, biar dia ada kegiatan. Daripada dia di rumah keinjek-injek,” kata ibu kepada petugas pendaftaran.

Maka sejak hari itu gue resmi menjadi murid TK Ade Irma Suryani Nasution, yang beralamat di Jl. Pegangsaan Menteng (lokasinya sekarang udah jadi apartemen Menteng Park).

Sejak hari pertama sekolah, gue langsung membuat keputusan penting yang hingga hari ini masih gue pegang teguh: gue benci sekolah. Satu-satunya yang bisa membuat gue mau diajak (baca: diseret) ke sekolah adalah iming-iming akan dibeliin es krim Woody sepulang sekolah nanti.

Nggak banyak yang gue inget dari masa-masa sekolah di Ade Irma, kecuali bahwa guru-guru di sana nggak dipanggil ‘ibu guru’ melainkan ‘Cik’. Kebetulan, guru kelas gue di sana bernama Ida, sama seperti ibu guru TK yang gue kenal 26 tahun sesudahnya di Friendster.

Entah dengan pertimbangan apa, cuma 6 bulan gue sekolah di sana. Ibu lantas mencoba mendaftarkan gue di TK Perguruan Cikini (PerCik), Jl. Cikini Raya. Sebelum diterima, gue harus ikut psikotes berupa menyusun balok dan puzzle.

“Agung, sekarang agung susun ya puzzle ini…” demikian kata kakak psikolog yang mengetes gue.
“Nggak mau ah.”
“Nanti kalo puzzlenya jadi, kakak kasih coklat lho.”

Maka siang itu gue pulang dengan mengantongi beberapa cokelat payung dan status baru sebagai murid TK. Perguruan Cikini.

Berhubung Yayasan Perguruan Cikini punya sekolahan lengkap satu paket mulai dari TK sampe kuliahan, maka otomatis setelah lulus TK gue masuk SD Perguruan Cikini.

Dasar nggak niat sekolah, nilai gue ancur-ancuran. Gue inget, dari satu kelas dengan 32 murid, gue pernah menduduki ranking 30. Alhamdulillah, prestasi ini berhasil gue pertahankan sampe lulus SMA yaitu sama sekali nggak pernah masuk 10 besar di kelas. Seumur hidup gue baru menemukan 2 orang lain yang memiliki prestasi yang sama, salah satunya kebetulan ada di jagad MP ini.

Saking parahnya gue di sekolah, waktu kelas 3 ada pelajaran ulangan IPS dengan 100 soal di mana gue mendapat nilai 6. Artinya gue salah di 94 soal. Untungnya ada satu pelajaran di mana gue dapet nilai lumayan, yaitu… mengarang! Lumayan, daripada enggak ada sama sekali.

Lulus SD gue masih setia dengan Percik dan lanjut ke SMP Perguruan Cikini. Nilai-nilai gue masih aja parah, dan sialnya di SMP nggak ada lagi pelajaran mengarang. Berita baiknya, waktu itu ada bidang lain yang ternyata bisa gue kuasai dengan baik, yaitu mengetik. Kalo nggak salah gue dapet nilai B dengan kecepatan 40 kata per menit. Ibu gue mulai prihatin: anak SMP yang bisanya cuma mengarang dan mengetik, ntar gedenya mau jadi apa sih?

Lulus SMP gue nggak ngelanjutin ke SMA Percik karena kondisi keuangan keluarga waktu itu mulai rada ngos-ngosan sejak bapak gue meninggal. Maka gue sekolah di SMAN 4, Jl. Batu Gambir. Kurang apa, coba: uang sekolahnya cuma 1 / 5 uang sekolah di Percik, masih dapat bonus pelajaran keterampilan khusus yaitu tawuran.

Tentunya sebagai orang yang cinta damai gue nggak pernah ikutan tawuran, dan memilih untuk sibuk ngurus mainan baru yaitu majalah dinding. Gue aktif di seksi IBS (Ilmu Budaya Siswa) yang kegiatan utamanya adalah bikin majalah dinding dan buku tahunan. Sampe diangkat jadi ketua segala lho.

Gimana dengan nilai-nilai gue? Masih parah dong. Bahkan waktu mau naik ke kelas 2 gue bukan lagi dapet nilai merah di rapor, melainkan abu-abu.

“Kamu dapet nilai 4 untuk matematika, saya masih tulis pake pensil. Kalo kamu mau perbaiki nilai ini, saya kasih kesempatan ikut ujian tambahan 1 kali. Gimana, mau?” Guru matematika gue rupanya terenyuh melihat muridnya yang tanpa masa depan ini, dan mencoba memberikan kesempatan.
“Enggak pak, terima kasih. Paling kalo saya ikut ujian tambahan, nilainya 4 lagi. Jangan-jangan malah jadi 3,” jawab gue.

Prestasi lainnya yang berhasil gue raih selama SMA adalah gue berhasil mencetak rekor baru berupa nilai 2 untuk ulangan Seni Musik.

Menjelang lulus-lulusan, sekolah menggelar acara pengisian formulir UMPTN kolektif. Maksudnya biar para murid bisa mengisi formulir dengan baik dan benar, di bawah bimbingan para guru. Hari itu semua murid duduk manis di kelas, formulir dibagikan satu orang satu, dan ibu wali kelas memberikan sambutan, “Anak-anak, hari ini kita akan mengisi formulir UMPTN bersama-sama. Ibu ingatkan sekali lagi ya, kalian semua harus punya pensil 2B dan pas foto untuk ditempel di formulir…”

MATI DEH! Gue belum punya pas foto! Gue pun angkat tangan,

“BU, pas fotonya harus hari ini ya? Boleh disusulkan nggak?”
“Agung lagi, Agung lagi. Nggak boleh Agung, harus hari ini, karena formulirnya akan langsung dibawa.”
“Tapi saya nggak punya pas foto, bu…”
“Kamu mau kuliah atau enggak?”

Maka gue terbirit-birit ke Jalan Sabang untuk bikin pas foto kilat, yang waktu itu nggak kilat-kilat amat karena harus nunggu 1-2 jam baru jadi.

Setelah mengantongi pas foto, gue balik ke sekolah. Temen-temen gue udah pada ngumpulin formulir, tinggal gue doang yang belum. Maka sambil ngos-ngosan gue ngisi formulir di bawah teror ibu wali kelas, “Agung cepat sedikit, ini formulirnya udah mau dibawa!”

Sampai di bagian “Jurusan Pilihan”, gue rada bimbang. Enaknya kuliah di fakultas apa, ya? Bingung. Untung gue inget buku-buku Agatha Christie yang sering gue baca, yang tiap 2 halaman menyebut-nyebut soal ‘psikologi’. Ah, kalo gitu pilih Psikologi UI aja deh.

Setelah ujian akhir SMA, masa depan pendidikan gue masih belum jelas. Masa cuma daftar di Psikologi UI doang? Maka gue berangkat ke Bandung dalam rangka bimbingan tes masuk Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang seleksinya pake jalur khusus, nggak lewat UMPTN. Gue ikutan paket bimbingan 3 bulan di lembaga ‘Villa Merah’, Bandung. Tapi berhubung saat itu lagi menjelang lulus-lulusan SMA, periode 3 bulan itu gue lewati dengan lebih banyak bolos mondar-mandir ke Jakarta. Yang ngambil buku tahunan lah, perpisahan lah, sampe urusan yang kurang penting seperti bawa baju kotor pulang. Hasilnya, gue pun gagal total di tes masuk FSRD ITB. Diem-diem gue bersyukur juga sih gagal masuk sana, karena setelah menjalani kursus di Villa Merah ternyata nggambar setiap hari itu pegel dan membosankan.

Tanggal 3 Agustus 1991, beredar pengumuman UMPTN di koran. Sebagai orang yang tau diri, hari itu gue
tidur-tiduran aja di rumah karena merasa nggak mungkin tembus UMPTN. Taunya salah satu temen gue nelepon ke rumah dan dengan nada setengah nggak percaya mengabarkan bahwa gue diterima di Psikologi UI!

Satu hal yang gue inget bener dari periode itu adalah komentar sinis ibu guru seni musik waktu ketemu gue di sekolah, “Saya nggak ngerti Gung. Kenapa bisa kamu yang tembus UMPTN sih? Kenapa mesti kamu?” Mungkin karena pas foto saya paling gres di antara peserta lainnya, barangkali?

Semester pertama di Psikologi UI, Depok gue lewati dengan pola belajar yang sama seperti yang gue lakukan di SD sampe SMA. Hasilnya, IP semester 1 gue 1.26, dengan nilai B hanya untuk Bahasa Inggris. Enam SKS dapet E, enam SKS D. Bahkan mata kuliah ‘Pancasila’ yang didapat dari penataran P4, yang tinggal duduk dan nganga doang rata-rata orang dapet nilai B, gue dapet C. Untung gue cepet insyaf dan berhasil dapet IP lumayan di semester 2, sehingga bisa nutup batas minimal IPK 2 supaya nggak DO.

Di kampus ini gue menghabiskan umur selama 7 tahun, 1.5 tahun lebih lama dari seharusnya. Itu pun lulusnya pake diancem-ancem sama Pak Dekan; kalo molor 1 semester lagi, DO. Skripsi pun gue kebut dalam tempo kurang dari 4 bulan. Bikinnya penuh semangat, karena topik skripsi yang gue pilih adalah, “Korelasi antara mengikuti kegiatan cheerleader dengan tingkat self esteem di kalangan pelajar sekolah menengah Jakarta.” Bener-bener empat bulan yang sangat indah, dikelilingi adik-adik cheerleader yang manis-manis dan sehat-sehat karena sering loncat-loncat. Nilainya? A dong! 🙂

Nah demikianlah liku-liku hidup gue dalam rangka meraih selembar kertas nggak penting bernama ijazah. Pesan moral yang bisa disimpulkan: buat para orangtua yang saat ini lagi cemas mikirin anaknya yang nggak becus pelajaran apapun kecuali mengarang dan ngetik, nggak usah berkecil hati. Keliatannya dia berbakat jadi blogger! :-)))

———————
Nah terus, hadiahnya mana?
Berhubung ini adalah posting berantai sebagai ganjaran dari keisengan gue mampir-mampir di postingnya Alan yang ini, maka hadiahnya adalah kesempatan emas untuk meneruskannya! Sepuluh orang pertama akan mendapatkan kehormatan untuk gue timpuk… hahahaha… yak, sudah terlambat untuk kabur, nak. Daftar namanya akan gue tulis di sini setelah viewing history berhasil menangkap 10 orang.

Aturannya begini:

  • Tulisan boleh berjudul macam-macam. Kalau bisa dibuat semenarik mungkin, agar MP-ers yang lain mampir
  • Tuliskan jenjang pendidikan mulai Pre-School, TK, SD, SMP, SMA, PT dan harapan ke depannya.
  • Sertakan juga alamat singkat sekolah. Misalnya, jangan cuma ditulis SMA 4. SMA 4 kan banyak. SMA 4 mana? Jakarta? Atau di Manokwari? Jadi tolong ditulis alamat singkatnya, yaaah.
  • Tuliskan 10 MP-ers yang harus membuat postingan seperti ini. Yang beruntung mendapatkan tugas dari gue adalah :
    1. Cambai
    2. Merlitei
    3. Ti2n
    4. Mbonk
    5. Eddyjp
    6. Essymoestl
    7. Akunovi
    8. Fredys
    9. Yuridza
    10. Giok
  • Tuliskan aturan ini di posting lo. Boleh di atas atau di bawah tulisan.
  • Harus dikerjakan dalam waktu maksimal 10 hari sejak baca postingan ini!
Iklan
Tinggalkan komentar

51 Komentar

  1. Wkakakgak ngira sejarah mz Agung begitu…kirain bolak-balik juara kelas, spesies yang cuma kenal area 5 besar kalo ranking2an.Baca bukunya jg amat sangat mumpuni soal psikologi, eh..dirimu lulus pake ancaman DO ternyata, hehehehe. Tapi memang cerdas ya, topik skripsinya ok banget, pas ama kebutuhan, hihihi

    Suka

    Balas
  2. wahahaha!

    Suka

    Balas
  3. Hahahahha…ay rili2 kenot bilivitt..benar2 sejarah hidup yang kelam..hahhaha..kocak banget sih mas Agung..diksi2nya benar2 menggelitik..ternyata emang dari kecil udah eksentrik..kikikikik..

    Suka

    Balas
  4. mbonk said: Gag mau aah..

    kalo udahnya dikasih es krim mau?

    Suka

    Balas
  5. untung kemaren2 sibuk di kantor jadi gak kena hahahaha

    Suka

    Balas
  6. Tnyata ada juga yg bs sebel sama sekolah ya

    Suka

    Balas
  7. aduuuuhhhhhh…mas agung bikin ketawa2 nehlagi di warnet lagii…kan maluuuu….TFS…keren banget…di SD ak juga pernah hampir ga naek kelas, tapi, masuk SPMB juga,,,hahahha! guru SD ku juga ga percaya!!

    Suka

    Balas
  8. jahat, tapi maaf untuk sekarang ga bisa (hahahahaaaa)

    Suka

    Balas
  9. Gag mau aah..

    Suka

    Balas
  10. untung gw gak kena timpuk…..mulai harus hati2 melangkah nih di jagad MP hari2 ke depan…xixixixii

    Suka

    Balas
  11. mbot said: “Korelasi antara mengikuti kegiatan cheerleader dengan tingkat self esteem di kalangan pelajar sekolah menengah Jakarta.”

    eh…topik skripsi kita sama2 tentang self esteem….kalo gw “korelasi antara body image dengan self esteem pada model pemula di kota bandung”hasilnya…gw punya daftar telepon lengkap model2 cakep di bandung yang bikin gw di kejar2 ama teman2 yang ngeces pengen kenalan….hehehhehe

    Suka

    Balas

Ada komentar?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

  • Komentar Terbaru

    mbot di My Wonder Woman
    p3n1 di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
    enkoos di My Wonder Woman
    Rafi: manggung lagi,… di demi anak naik panggung…
    mbot di My Wonder Woman
    Johana Elizabeth di My Wonder Woman
    My Wonder Woman | (n… di Di rumah, ibu seperti wol…
    mbot di My Wonder Woman
    mbot di My Wonder Woman
  • Terfavorit

  • Terbanyak diklik

  • Masukin email lu di sini agar dapat notifikasi tiap kali ada tulisan baru

    Bergabunglah dengan 6.574 pengikut lainnya

  • Twitnya @mbot

  • Agung ‘si mbot’ Nugroho

  • Arsip

  • Penunggu blog ini

    mbot

    mbot

    Seorang pegawai biasa-biasa aja

    Tautan-tautan Pribadi

    Layanan Terverifikasi

    Tampilkan Profil Lengkap →

  • RSS Nonton Deh!

    • Hal yang Perlu Disiapin Sebelum Nonton "A Quiet Place" 15 April 2018
      Buat yang belum tau, "A Quiet Place" menceritakan kehidupan sebuah keluarga dengan 3 anak yang hidupnya sama sekali nggak boleh berisik, karena kalo bersuara dikit aja bisa diserang oleh 'sesuatu' (no spoiler ahead).Tentunya ini sedikit menimbulkan pertanyaan bagi gue, lantas gimana kalo mereka eek. Mungkin suara ngedennya bisa diredam, s […]
    • Benarkah Pacific Rim Uprising Jelek? 25 Maret 2018
      Soal keputusan untuk nonton atau nggak nonton sebuah film kadang cukup pelik. Di satu sisi, inginnya nonton semua film yang rilis. Di sisi lain, tiket bioskop deket rumah sekarang udah mencapai 60 ribu (harga weekend). Belum termasuk pop corn yang ukuran mediumnya 50 ribu dan air putih di botol 330 ml seharga 10 ribu*. Artinya: filmnya harus beneran dipilih […]
    • Review: Designated Survivor (Serial TV 2016) 15 Maret 2018
      Semua berawal gara-gara Netflix.Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.Ternyata […]
    • Review: Peter Rabbit (2018) Bikin Penonton Doain Tokoh Utama Celaka 11 Maret 2018
      Biasanya film kan dikemas sedemikian rupa biar penonton bersimpati pada tokoh utamanya, ya. Biar kalo tokoh utamanya dalam posisi terancam, penonton deg-degan, berdoa biar selamat sampai akhir film. Khusus untuk film ini, gue sih terus terang doain Peter Rabbit-nya cepetan mati. Digambarkan dalam film ini Peter Rabbit adalah kelinci yang sotoy, sangat iseng […]
    • Sensasi Nonton Pengabdi Setan Bareng Emak-Emak Setan 8 Oktober 2017
      Sejak lama, Joko Anwar terobsesi dengan film horor. Menurutnya, horor adalah genre film yang paling jujur. Tujuannya ya nakut-nakutin penonton, bukannya mau ceramah, motivasi, atau menyisipkan pesan moral. Di kesempatan berbeda, gue juga pernah denger dia bilang, secara komersial film horor lebih berpotensi laku. Alasannya sederhana: karena takut, orang cend […]
    • Parodi Film: Jailangkung (2017) 26 Juni 2017
      SPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTSPOILER ALERTFerdi (Lukman Sardi) diketemukan nggak sadar di sebuah rumah terpencil oleh pilot pesawat carterannya. Dia dirawat di ICU, tapi dokter nggak bisa menemukan apa penyakitnya.Anak Ferdi, Bella (Amanda Rawles), tentu kepikiran. Dia minta bantuan Rama (Jefri Nichol), seorang... yah, dib […]
    • Parodi Film: Suicide Squad (2016) 14 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Amanda Waller, pejabat intelijen, presentasi di depan sekumpulan pejabat militer. AMANDA: “Kita beruntung Superman yang barusan ini, yang sekarang lagi mati suri dan dipastikan akan hidup kembali dalam film berikut karena demikianlah pakem da […]
    • Parodi Film: Bangkit (2016) 12 Agustus 2016
      SPOILER ALERT!Jangan baca kalo masih ingin penasaran dengan cerita film ini.SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!SPOILER ALERT!Ada bus kejeblos jurang. Muncul sang pahlawan, anggota Basarnas, bernama Addri. Ya, dengan 2 huruf D. Addri: “Saya akan menyelamatkan Anda semua, satu per satu. Kita mulai dari wanita dan anak-anak!”Beberapa menit kemudian, hampir semua penum […]
    • Kalo Fans Turun Tangan Ngeberesin Trailer Film 15 Mei 2016
      Hari gini, jadi produsen film 'mainstream' itu semakin nggak gampang. Masalahnya, software pembuat film makin gampang didapat, film bisa dibikin secara "rumahan" dan akibatnya: penonton makin kritis. Sepuluh tahun lalu, saat produsen film melempar trailer promosi ke pasar, kemungkinannya cuma dua: orang tertarik atau nggak tertarik. Sekar […]
    • Review: My Stupid Boss (2016) 14 Mei 2016
      Nggak kerasa udah 7 tahun sejak gue pertama kali bikin review tentang buku My Stupid Boss. Dalam kurun waktu tersebut bukunya udah masuk jilid 5, plus sempet ada antologi cerita boss-boss bego kiriman pembaca juga, dan… difilmkan!Kemarin gue kembali beruntung dapet kesempatan nonton premiere film My Stupid Boss the Movie, sebagai (kalo nggak salah) premiere […]
  • RSS Bisnis bareng Ida Yuk!

    • Diamond Conference Tokyo 2018: Part 1-- Keberangkatan! 8 Mei 2018
      [Senin, 17 April 2018] Jalan-jalan Conference kali ini rasa excitednya agak sedikit beda karenaaaaa ini adalah DIAMOND CONFERENCE PERTAMA AKU... 😍😍😍😍😍😍 Selama ini aku pergi kan untuk Gold Conference, yaitu reward buat title Gold Director and up. Sedangkan seperti namanya, Diamond Conference ini adalah reward khusus buat yg titlenya Diamond and up! Selama ini […]
    • Seminar "Katakan TIDAK Pada Investasi Ilegal"-- MLM vs Money Game. 8 Mei 2018
      Diamond and up Oriflame bersama Top Management Oriflame foto bareng. Tanggal 2 Mei 2017 tahun lalu, sebagai salah satu Diamond Director-nya Oriflame, aku dapat sebuah undangan eksklusif untuk hadir ke acara Seminar Nasional yg diselenggarakan oleh Satuan Tugas Waspada Investasi dan APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Judul seminar ini adalah-- KATA […]
    • Sewa Modem Wifi Buat Ke jepang? Di HIS Travel Aja! 26 April 2018
      Ceritanyaaa.. aku dan agung baru aja pulang dari Diamond Conferencenya Oriflame di Tokyo.. Ada banyaaaaak banget yg pengen aku ceritain. Satu-satu deh ya nanti aku posting. Tapi aku mau mulai dari soal INTERNETAN selama di sana.. ahahahaha.. PENTING iniii! Untuk keperluan internetan di tokyo kemarin aku dan agung sempet galau. Mau pakai roaming kartu atau se […]
    • Penyebab Kapas Ini Kotor Adalah... 17 Maret 2018
      Kapas ini bekas aku bersihin muka tadi pagi bangun tidur.. Lhoo kok kotor?Emangnya gak bersihin muka pas tidur?Bersihin dong. Tuntas malahan dengan 2+1 langkah.Lalu pakai serum dan krim malam. Kok masih kotor? Naaah ini diaaaa.. Tahukah teman2 kalau kulit wajah kita itu saat malam hari salah satu tugasnya bekerja melakukan sekresi atau pembersihan?Jadi krim […]
    • Join Oriflame Hanya Sebagai Pemakai? Boleh! 16 Maret 2018
      Aku baru mendaftarkan seseorang yg bilang mau join oriflame karena mau jadi pemakai..Dengan senang hatiiii tentunyaaa aku daftarkan..😍😍😍 Mbak ini bilang kalau udah menghubungi beberapa orang ingin daftar oriflame tapi gak direspon karena dia hanya ingin jadi pemakai aja.. Lhoooooo.. Teman2 oriflamers..Member oriflame itu kan ada 3 tipe jenisnya--Ada yg join […]
    • Semua karena AKU MAU 16 Maret 2018
      Lihat deh foto ini..Foto rafi lagi asyik mainan keranjang orderan di Oriflame Bulungan dulu sebelum pindah ke Oriflame Sudirman sekarang. Tanggal 1 Juli 2010.Jam 00.20 tengah malam. Iya, itu aku posting langsung setelah aku foto.Dan jamnya gak salah.Jam setengah satu pagi. Hah?Masih di oriflame? IyaNgapain? Beresin tupo. Jadi ya teman2, jaman sistem belum se […]
    • Kerja Keras yang Penuh Kepastian... Aku Suka! 15 Maret 2018
      Dari club SBN--Simple Biznet, ada 3 orang yg lolos challenge umroh/uang tunai 40 juta.Sedangkan dari konsultan oriflame se-indonesia raya konon ada total sekitar 60-an orang yg dapat hadiah challenge ini. Inilah yg aku suka dari oriflame.Level, title, cash award, maupun hadiah challengenya gak pernah dibatasin jumlahnya! Mau berapapun jumlah orang yg lolos k […]
    • Tendercare Oriflame: Si Kecil Ajaib 14 Maret 2018
      Buat teman-teman yg pemakai oriflame, atau at least pernah liat katalognya, mungkin pernah dengar atau justru pemakai setia si Tender Care ini.Bentuknya keciiil, mungiiil, lha cuma 15 ml doang.. Eh tapi kecil-kecil gini khasiatnya luar biasa.Tender Care ini produk klasiknya oriflame, termasuk salah satu produk awal saat oriflame pertama kali mulai dagang di […]
    • Sharing di Dynamics Sunday Party 4 Maret 2018
      Agenda hari minggu ini berbagi ilmu dan sharing di acara bulanannya teh inett Inette Indri-- DSP, Dymamics Sunday Party! Yeaaaaay! Teh inet udah lama bilang kalau pengen undang aku kasih sharing di grupnya. Aku dengan senang hari meng-iya-kan. Karena buatku berbagi ilmu gak pernah rugi. Jadilah kebetulan wiken ini aku ke Bandung untuk kasih kelas buat team b […]
    • Kelas Bandung, Sabtu 3 Maret 2018 3 Maret 2018
      Ah senaaaang ketemuan lagi sama team bandungku tersayang..😍😍😍😍😍 Hari ini aku bawain materi tentang mengelola semangat.Ini materi sederhana tapi sangat amat POWERFULL.Karena betul2 bikin ngaca sama diri sendiri.Yang banyak dibahas adalah soal MINDSET. Kelas kali ini Agung Nugroho juga ikut berbagi ilmu..Bapak Diamond kasih kelas juga lhooo..😍😍😍😍😍 Seneng […]
  • Iklan
%d blogger menyukai ini: